Cahaya fajar merayap masuk melalui celah tirai kamar Maya dan Irwan. Maya mengerjap bangun, merasakan kehangatan tubuh suaminya yang masih memeluknya dari belakang. Untuk beberapa saat, dia hanya berbaring diam, menikmati momen tenang ini.
Perut Maya bergetar kecil—bukan gerakan bayi, tapi sensasi familiar yang menandakan mual pagi akan segera datang. Dengan hati-hati, Maya melepaskan diri dari pelukan Irwan, bergerak perlahan turun dari tempat tidur. Dia melirik jam di dinding—6:15.
Pak Karyo pasti sudah bangun.
Pikiran itu datang begitu saja, diikuti antisipasi yang tidak seharusnya dia rasakan. Maya berhenti di depan cermin besar di kamarnya, memperhatikan pantulan tubuhnya yang hanya dibalut kamisol tipis. Perutnya yang mulai membuncit terlihat jelas, dan payudaranya terasa lebih penuh, efek kehamilan yang mulai terlihat.
Apa yang Pak Karyo pikirkan saat melihatku seperti ini?
Maya menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Tapi bayangan tangan kasar Pak Karyo di tubuhnya, bibirnya yang hangat, dan tatapannya yang lapar membuat jantung Maya berdebar lebih kencang.
Suara ketukan halus di pintu mengejutkannya. "Bu Maya? Sudah bangun?"
Suara Pak Karyo.
Maya menelan ludah, tiba-tiba sadar bahwa dia hanya mengenakan kamisol tipis. "Iya, Pak. Sebentar."
Maya meraih kimono sutra dari kursi terdekat, mengenakannya dengan cepat tapi tidak mengikatnya rapat. Setelah merapikan rambutnya sekilas, dia membuka pintu.
Pak Karyo berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja sederhana dan celana kain. Matanya langsung tertuju pada celah kimono Maya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Untuk sesaat, dia hanya menatap, sebelum ingat posisinya dan menundukkan pandangan.
"Maaf mengganggu pagi-pagi, Bu," ucapnya, suaranya rendah. "Saya mau tanya, Bapak sudah bangun? Soalnya saya mau siapkan sarapan."
Maya melirik ke arah tempat tidur, di mana Irwan masih tertidur pulas. "Belum, Pak. Biarkan dia istirahat dulu. Perjalanan kemarin pasti melelahkan."
Pak Karyo mengangguk, tapi tidak beranjak. Matanya kembali menatap Maya, kali ini lebih berani. "Ibu... bagaimana hasil dari dokter kemarin?"
Jantung Maya berdebar lebih kencang. Ini pertanyaan yang dia tahu akan datang. Pertanyaan yang semalam sudah dia dan Irwan antisipasi.
"Baik," jawab Maya singkat. "Semuanya baik-baik saja."
"Maksud saya..." Pak Karyo melangkah sedikit lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan, "apa dokter bilang sesuatu soal... aktivitas tertentu?"
Maya menggigit bibirnya, berpura-pura tidak mengerti. "Aktivitas apa, Pak?"
Mata Pak Karyo menggelap, berubah pekat seperti kolam dalam yang menyimpan hasrat tak terucap. Tangannya dengan berani menyentuh sisi pinggul Maya, jari-jari kasarnya menemukan celah di antara kimono dan kulit Maya yang hangat. Sentuhan itu tersembunyi dari pandangan siapa pun yang mungkin melihat mereka dari koridor.
"Aktivitas yang bisa bantu bayi tumbuh lebih kuat, Bu," bisik Pak Karyo, suaranya turun satu oktaf, lebih dalam, lebih intim. Jari-jarinya bergerak perlahan—satu sentimeter, dua sentimeter—menemukan kulit telanjang di bawah kimono tipis Maya.
"Ahhh..." Maya tak bisa menahan desahan pelan yang lolos dari bibirnya. Tubuhnya langsung bereaksi seketika—puting di balik kamisolnya mengeras, napasnya tertahan di tenggorokan, pipinya merona merah jambu. Sensasi hangat menjalar dari titik sentuhan Pak Karyo, menyebar ke perut bagian bawahnya, menciptakan gelenyar yang terlalu familiar.
"Ssst... Pak," Maya mencoba menjauh, tapi tubuhnya malah condong ke arah sentuhan Pak Karyo. "Ini... ini nggak bener."
Tapi Pak Karyo menangkap gerak tubuh Maya yang kontradiktif. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya saat tangan satunya kini berani menyentuh bagian depan kimono Maya, tepat di garis pinggang.
"Mmh," Maya mengerang pelan, sebuah protes lemah yang malah terdengar seperti undangan. Matanya melirik ke arah tempat tidur, di mana suaminya masih terlelap.
"Pak Karyo," bisiknya lagi, suaranya bergetar, berusaha terdengar tegas meski tubuhnya berkhianat, "ini masih pagi banget. Dan Irwan... dia ada di dalam."
Tangan Pak Karyo tidak berhenti. Malah, jemari kasarnya kini menelusuri bagian dalam paha Maya, berhenti tepat di bawah pinggulnya, begitu dekat dengan pusat kewanitaannya yang mulai basah.
"Nnnghh," Maya menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan desahan yang hampir lepas.
"Saya ngerti, Bu," Pak Karyo menjawab, suaranya tenang tapi penuh tekad. Ibu jarinya kini membuat gerakan melingkar kecil di kulit paha dalam Maya, menghasilkan getaran yang membuat lutut Maya lemas. "Tapi saya udah nahan diri terlalu lama. Saya kangen... kangen banget sama rasanya Bu Maya."
Maya merasakan lututnya melemah. Butiran keringat kecil muncul di pelipisnya.
"Pak... nngh..." dia berbisik terputus, berusaha menelan ludah tapi tenggorokannya terasa kering, "k-kita... nggak boleh... sekarang."
"Saya cuma mau tau," Pak Karyo melanjutkan, jari-jarinya sekarang bergerak ke atas, menyusuri garis kimono Maya, berhenti tepat di payudaranya yang membesar akibat kehamilan. "Apa dokter udah ngasih... jadwal? Kapan kita bisa... lanjutin?"
Suaranya mengucapkan kata terakhir dengan penekanan khusus, sementara ibu jarinya dengan lembut tapi tegas mengusap puting Maya dari luar kamisol tipisnya.
"Ahh!" Maya mengerang tertahan, kepalanya refleks mendongak ke belakang. "Pak... jangan... di sini..."
Tapi tangannya, alih-alih mendorong Pak Karyo menjauh, justru mencengkeram kemeja pria itu, mencari tumpuan.
Lanjutin. Kata itu bergema dalam pikiran Maya, mengandung begitu banyak makna tersembunyi. Maya tahu persis apa yang Pak Karyo maksud—sentuhan-sentuhan intim yang lebih dari sekadar pijatan, desahan-desahan yang lebih dari sekadar ekspresi rileks, dan kenikmatan yang jauh melampaui batas program kehamilan mereka.
"Dok-dokter bilang..." Maya tergagap saat jari Pak Karyo bergerak turun lagi, kini menyusuri lengkungan perutnya yang mulai membuncit, "kita masih... harus nunggu... kondisi yang tepat."
Maya mencoba mundur, tapi punggungnya sudah menempel di pintu kamar. Pak Karyo memanfaatkan momen ini untuk mendekat, tubuhnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari Maya. Aroma maskulinnya—campuran tanah, keringat samar, dan minyak kayu—menyerang indra penciuman Maya, membuatnya malah ingin mendekat, bukan menjauh.
"Kondisi yang tepat?" Pak Karyo berbisik, hembusan napasnya hangat di telinga Maya. "Maksudnya... kapan bayi kita boleh ngerasain... aktivitas orang tuanya?"
Maya tersentak mendengar kata 'bayi kita'. Tubuhnya bereaksi dengan cara yang aneh—gabungan antara penolakan mental dan ketertarikan fisik yang kuat.
"Bu-bukan bayi kita," Maya menegaskan dengan suara lemah, "tapi... tapi..."
Pak Karyo tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimat. Bibirnya kini begitu dekat dengan telinga Maya, dan tangannya bergerak nakal ke bawah, menemukan celah di antara kedua paha Maya.
"Ibu tau kok yang bener," bisiknya tepat di telinga Maya. "Bayi ini tau siapa bapaknya yang asli."
"Ahhh... nggak..." Maya mendesah tertahan. Tangannya mencengkeram kemeja Pak Karyo lebih kuat, matanya terpejam merasakan jari kasar pria itu menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif, hanya terhalang kain tipis celana dalamnya yang kini terasa lembab. "Kita... nggak boleh... mmhh..."
"Ibu bisa jawab pertanyaan saya?" Pak Karyo menekan sedikit lebih kuat, membuat Maya menggigit bibirnya sampai hampir berdarah untuk menahan erangan. "Kapan kita bisa lanjutin... yang kemarin? Kapan dokter ngizinin kita... bantu bayi kita tumbuh lebih sehat?"
Jari Pak Karyo bergerak dalam ritme lambat tapi pasti, membuat Maya nyaris kehilangan akal sehatnya. Dia tahu Irwan bisa bangun kapan saja, tahu ini sangat berbahaya, tapi tubuhnya menolak perintah otaknya untuk berhenti.
"Mungkin..." Maya menelan ludah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Napasnya terputus-putus saat jari Pak Karyo bergerak lebih berani. "Mungkin... tiga hari lagi... ahhh… Pas Irwan pergi lagi…"
Pinggul Maya bergerak tanpa sadar, mencari tekanan lebih dari jari Pak Karyo.
"Minggu depan?" Pak Karyo mendekatkan bibirnya ke leher Maya, hembusan napasnya terasa panas di kulit sensitif wanita itu. "Pak Irwan mau pergi lagi?"
Maya mengangguk cepat, matanya masih terpejam rapat. "I-iya... dia... ada urusan bisnis... di Bandung... dua hari satu malam..."
"Mmm..." Pak Karyo bergumam rendah, seperti geraman halus seekor predator yang menemukan mangsanya. "dua hari berdua aja sama Ibu? Kayaknya kita bisa... puas, ya Bu?"
Jarinya kini bergerak dalam gerakan melingkar yang tepat sasaran, semakin cepat dan tepat menggesek bagian paling sensitif Maya.
"Pak... ah... cukup..." Maya berbisik panik, tubuhnya mulai bergetar tak terkendali. "Irwan... bisa... bangun..."
Tapi jari Pak Karyo justru menekan lebih kuat, dengan ritme yang semakin intens. Tubuh Maya menegang, pinggulnya bergerak melawan keinginannya sendiri.
"Ahhh... jangan... aku... ahh..." Maya mencengkeram kemeja Pak Karyo kuat-kuat saat gelombang kenikmatan mulai menyapu tubuhnya.
"Ibu udah dekat ya?" Pak Karyo berbisik panas di telinganya. "Ayo, Bu... keluarin aja... saya pengen liat..."
"Ngghhh... ahh!" Maya menggigit bibir kuat-kuat, meredam jeritan yang nyaris lolos saat orgasme kecil menyapu tubuhnya. Tubuhnya bergetar, kakinya lemas, dan napasnya terputus-putus sementara jari Pak Karyo masih bergerak, memperpanjang sensasi yang membuatnya pusing.
Mata Pak Karyo berkilat puas melihat ekspresi Maya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Saya akan tunggu dengan sabar, Bu," bisiknya, suaranya serak. Jarinya perlahan mundur, membuat Maya mendesah pelan saat sensitivitas pasca-klimaksnya bereaksi. "Tapi Bu Maya juga nggak sabar, kan? Badan Ibu nggak pernah bisa bohong..."
Dia menarik tangannya, sengaja menyapu bagian dalam paha Maya, menciptakan jejak panas di kulit wanita itu.
"Ngghhh..." Maya mengerang lemah, tubuhnya masih gemetar dari sisa-sisa kenikmatan kecil yang baru saja dia alami. Pikirannya berkabut, campuran antara kepuasan, rasa bersalah, dan kelegaan bahwa situasi ini segera berakhir.
Pak Karyo mundur selangkah, tapi matanya tetap menatap lapar tubuh Maya. Tangannya—tangan yang baru saja menyentuh bagian paling intim Maya—kini dia angkat ke hidungnya. Dengan gerakan lambat penuh makna, dia menghirup jarinya dalam-dalam, matanya tidak lepas dari Maya.
"Wangi Ibu... makin enak sekarang," ujarnya dengan senyum menggoda. "Kehamilan bikin Ibu makin... manis."
Wajah Maya terbakar mendengar komentar vulgar itu. Dia merapatkan kimononya, mengikat talinya lebih erat meski rasanya percuma—Pak Karyo sudah melihat dan merasakan segalanya.
"Saya... saya mandi dulu, Pak," Maya berkata terbata, masih berusaha mengatur napasnya. "Tolong... siapkan sarapan seperti biasa."
Pak Karyo mengangguk, tapi tangannya masih bergerak menyisir rambut Maya yang sedikit berantakan karena aktivitas mereka.
"Tentu, Bu," dia menjawab, nada suaranya kembali seperti pembantu yang sopan, meski tangannya masih berani merapikan kerah kimono Maya. "Oh iya, saya udah siapin jamu spesial buat pagi ini. Pake jahe dan kunyit, bagus buat ngurangin mual Ibu."
Jari-jarinya secara "tidak sengaja" menyentuh lekukan leher Maya saat merapikan kerahnya.
"Sssh..." Maya mendesis pelan, sensitivitas tubuhnya masih tinggi pasca sentuhan intim tadi.
"Dan ada... ramuan khusus buat bikin Ibu lebih... rileks," tambah Pak Karyo, senyumnya penuh arti. "Biar Ibu dan bayi kita makin sehat."
"Terima kasih, Pak," Maya menjawab, berusaha terdengar normal meski jantungnya masih berdentum kencang. Dia melirik ke dalam kamar, memastikan Irwan masih tidur. "Nanti... nanti saya turun."
"Saya tunggu di bawah," Pak Karyo membungkuk sedikit, matanya masih menelusuri tubuh Maya sekali lagi sebelum berbalik. Saat hendak pergi, dia menambahkan dengan suara sangat pelan, "Saya juga udah kangen sama... rasa Ibu."
Tanpa menunggu reaksi Maya, Pak Karyo berbalik dan berjalan menuruni tangga, langkahnya ringan seolah baru saja memenangkan sesuatu.
Maya menutup pintu kamar, bersandar lemas di sana. Jantungnya masih berdebar kencang. Seluruh tubuhnya gemetar—campuran gairah yang tidak terpuaskan dan adrenalin dari risiko hampir tertangkap basah.
"Ya Tuhan..." bisiknya pada diri sendiri, tangannya tanpa sadar turun menyentuh area yang baru saja disentuh Pak Karyo. Masih terasa basah, masih berdenyut menginginkan lebih.
Dia semakin berani. Semakin posesif. Dan aku... aku semakin lemah.
Maya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia berjalan perlahan ke tempat tidur, duduk di tepinya. Irwan masih tertidur pulas, napasnya teratur dan dalam, tidak menyadari bahwa istrinya baru saja nyaris klimaks oleh sentuhan pria lain tepat di depan pintu kamar mereka.
Maya mengulurkan tangan, membelai lembut rambut suaminya. Rasa bersalah dan antisipasi bercampur dalam dadanya.
Apa yang sedang kita lakukan, Irwan? Apa kita mengacaukan segalanya?
Tapi Maya tahu mereka sudah terlalu jauh untuk mundur. Semalam mereka telah menetapkan batasan, aturan main untuk permainan berbahaya ini. Dan Irwan, dengan caranya yang aneh, justru mendorong Maya untuk melangkah lebih jauh.
Maya beranjak ke kamar mandi, melepas kimono dan kamisolnya. Di bawah pancuran air hangat, dia membayangkan apa yang akan terjadi minggu depan saat Irwan "pergi" lagi. Dengan izin dokter, dengan persetujuan terselubung Irwan, dan dengan keinginan Pak Karyo yang semakin berani, Maya tahu mereka akan memasuki teritori baru yang tak pernah dia bayangkan.
Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak bisa membilas kegelisahan yang menyelimuti pikirannya. Maya mengelus perutnya yang basah.
"Maafin mama," bisiknya pada bayi dalam kandungan. "Situasi kita... rumit."
Setelah mengantar Irwan dan Maya berangkat ke kantor, Pak Karyo kembali ke rumah dengan langkah ringan. Rumah besar itu terasa sunyi, tapi pikiran Pak Karyo penuh dengan gema percakapan singkatnya dengan Bu Maya tadi pagi.
Minggu depan. Pak Irwan pergi lagi.
Dia membersihkan meja makan sisa sarapan, tersenyum mengingat bagaimana Bu Maya dengan lahap menikmati jamu buatannya. Tidak ada tanda-tanda mual seperti biasanya saat makan pagi. Pak Karyo yakin itu pertanda baik—tubuh Bu Maya, dan bayinya, menerima apa yang dia berikan.
Di dapur, sambil mencuci piring, Pak Karyo membayangkan kemungkinan minggu depan. Bu Maya bilang dokter masih menyuruh menunggu "kondisi yang tepat", tapi instingnya mengatakan itu hanya dalih. Cara Bu Maya menatapnya, bagaimana tubuhnya bereaksi pada sentuhan ringannya tadi pagi—Pak Karyo yakin dokter sudah memberi izin.
Wis kesuwen aku ngenteni, pikirnya. (Aku sudah terlalu lama menunggu.)
Tangannya berhenti sejenak, menatap ke arah kalender yang tergantung di dinding dapur. Dia menghitung dalam hati—Bu Maya sekarang masuk minggu keempat belas kehamilannya. Hampir empat bulan.
Bayiku saiki wis gedhe, dia tersenyum. (Bayiku sekarang sudah besar.)
Pak Karyo menyelesaikan pekerjaan dapurnya lalu bergerak ke ruang keluarga untuk menyapu. Di sana, matanya tertuju pada sofa—tempat dia dan Bu Maya melakukan aktivitas intim kemarin. Ingatannya kembali pada rasa manis Bu Maya di lidahnya, desahannya yang tertahan, dan bagaimana tubuh wanita itu bergetar dalam kenikmatan.
Pak Karyo tahu dia sudah melanggar batas sebagai seorang pembantu rumah tangga. Tapi dia tidak lagi peduli. Dalam pikirannya, hubungannya dengan Bu Maya sudah melampaui status majikan-pembantu. Mereka terhubung dengan cara yang lebih dalam, lebih primitif—melalui bayi yang tumbuh dalam rahim Bu Maya.
Bayiku butuh bapakne sing sejati, dia bergumam pada dirinya sendiri. (Bayiku membutuhkan ayahnya yang sejati.)
Suara ponsel mengalihkan perhatian Pak Karyo. Sebuah pesan dari istrinya di desa.
Ratih: Kapan pulang, Pak? Dani kangen.
Pak Karyo menatap pesan itu dengan perasaan bercampur. Ratih, istrinya yang lebih muda dua puluh tahun darinya, jarang mengirim pesan jika tidak benar-benar perlu. Di desa, pulsa masih dihitung setiap rupiah.
Iki masalah, pikirnya. (Ini masalah.)
Dengan jari-jari kasar, dia mengetik balasan:
Pak Karyo:Durung ngerti, Bu. Isih akeh gawean nang kene. Bu Maya lagi meteng, butuh bantuanku. (Belum tahu, Bu. Masih banyak kerjaan di sini. Bu Maya lagi hamil, butuh bantuanku.)
Dia menatap pesan itu sebelum mengirim. Meteng, butuh bantuanku. Kalimat sederhana yang menyembunyikan begitu banyak makna.
Tak lama, ponselnya bergetar lagi.
Ratih:Meteng? Alhamdulillah. Tapi Dani yo butuh bapakne, Pak. (Hamil? Alhamdulillah. Tapi Dani juga butuh bapaknya, Pak.)
Pak Karyo menghela napas panjang. Dani, putra bungsunya yang baru berusia empat tahun, memang sangat dekat dengannya. Terakhir kali pulang ke desa tiga bulan lalu, Dani menangis tidak mau ditinggal.
Pak Karyo:Iyo, mengko tak usahake mulih sedhela. Tapi Bu Maya lagi butuh banget. (Iya, nanti aku usahain pulang sebentar. Tapi Bu Maya lagi butuh banget.)
Ratih:Lha Bu Maya opo ora duwe bojo? (Emang Bu Maya nggak punya suami?)
Pertanyaan sederhana itu menusuk tepat ke jantung situasi. Pak Karyo hampir tertawa pahit. Ya, Bu Maya punya suami. Suami yang mandul dan membiarkannya menghamili istrinya.
Dudu suami sing bener, pikirnya getir. (Bukan suami yang benar.)
Pak Karyo:Duwe. Tapi dheweke sibuk nyambut gawe. (Ada. Tapi dia sibuk kerja.)
Ratih:Bapak yo sibuk "nyambut gawe" yo? Nganti lali duwe bojo anak dhewe? (Bapak juga sibuk "kerja" ya? Sampai lupa punya istri anak sendiri?)
Sindiran itu membuat Pak Karyo terdiam. Ada kecurigaan dalam kata-kata Ratih. Wanita sederhana dari desa itu mungkin tidak berpendidikan tinggi, tapi instingnya tajam.
Opo dheweke ngerti? Pak Karyo bertanya-tanya dengan cemas. (Apa dia tahu?)
Pak Karyo:Ngomong opo to, Bu? Yo pancen gaweanku nang kene, ngurus omahe wong-wong kuwi. (Ngomong apa sih, Bu? Ya kerjaku emang di sini, ngurus rumah mereka.)
Ratih:Yo wis. Dani pengin ngomong. (Ya sudah. Dani mau ngomong.)
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan suara masuk. Pak Karyo menekan tombol putar.
"Bapaaaaak... Kapan mulih? Dani kangen. Dolanan robot soko Bapak wis rusak..." (Bapak... Kapan pulang? Dani kangen. Mainan robot dari Bapak sudah rusak...)
Suara cempreng anak kecil itu membuat dada Pak Karyo sesak. Dia memejamkan mata, membayangkan wajah polos putra bungsunya.
Aku duwe tanggung jawab karo dheweke, pikirnya dengan berat. (Aku punya tanggung jawab dengan dia.)
Tapi kemudian bayangan lain muncul—bayi dalam kandungan Bu Maya. Darah dagingnya juga. Anak yang akan lahir dengan status sosial jauh lebih baik, dengan masa depan terjamin, dan—mungkin—dengan pengakuan darinya sebagai ayah, meski tersembunyi.
Nanging anak sing neng wetenge Bu Maya yo anakku, batinnya, merasakan gelombang posesif yang kuat. (Tapi anak yang di perut Bu Maya juga anakku.)
Dia merekam pesan suara balasan:
"Bapak yo kangen Dani. Mengko Bapak tukokke robot anyar sing luwih apik. Bapak isih kudu nyambut gawe dhisik nang kene. Bu Maya lagi meteng, Bapak kudu ngewangi..." (Bapak juga kangen Dani. Nanti Bapak belikan robot baru yang lebih bagus. Bapak masih harus kerja dulu di sini. Bu Maya lagi hamil, Bapak harus bantuin...)
Dia berhenti sejenak, hampir keceplosan mengatakan "ngewangi njaga anake Bapak."
"...ngewangi njaga omahe. Dani ojo nakal yo, manut karo Ibu." (...bantuin jaga rumahnya. Dani jangan nakal ya, nurut sama Ibu.)
Pak Karyo mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di meja. Dia berjalan ke jendela besar di ruang keluarga, menatap halaman rumah mewah yang dia rawat setiap hari.
Di sini, dia hanya pembantu. Di desa, dia seorang bapak, kepala keluarga.
Tapi sekarang, di rumah ini juga tumbuh anaknya. Anak yang secara biologis adalah darah dagingnya, meski akan lahir dengan nama keluarga orang lain.
Urip pancen ora adil, dia tersenyum pahit. (Hidup memang tidak adil.)
Pak Karyo berbalik, melihat foto keluarga Maya dan Irwan di dinding. Foto pernikahan mereka enam tahun lalu—Maya tampak cantik dalam balutan kebaya putih, Irwan gagah dengan beskap Jawa. Mereka tersenyum bahagia, tidak tahu bahwa enam tahun kemudian, pembantu mereka akan menghamili sang istri.
Nanging saiki, ana bagianku neng keluarga iki, Pak Karyo menegaskan dalam hati dengan keyakinan baru. (Tapi sekarang, ada bagianku dalam keluarga ini.)
Dia kembali ke ponselnya, melihat jadwal di kalender. Tiga hari lagi, Pak Irwan akan "pergi" lagi. Dua hari. Dua hari berdua saja dengan Bu Maya.
Dan kali ini, dengan izin dokter yang Bu Maya sembunyikan, tapi dia yakin sudah diberikan.
Wis kesuwen aku ngenteni. Bayiku butuh bapakne sing sejati. (Aku sudah terlalu lama menunggu. Bayiku membutuhkan ayahnya yang sejati.)
