masih lanjutan dari blog yg terhapus kemarin hehe
Malam terasa panjang bagi Maya. Setelah video call dengan Irwan, dia berbaring menatap langit-langit kamar, tangannya bergerak tanpa sadar mengelus perut yang semakin membuncit. Besok Irwan pulang, dan besok juga mereka akan ke dokter—momen yang dia nantikan sekaligus cemaskan.
Apa yang akan dokter katakan? Apa tubuhku benar-benar punya... preferensi biologis?
Pikiran itu menghantuinya sampai pagi menjelang. Ketika alarm berbunyi, Maya sudah setengah terjaga. Dia meraih ponselnya, mengecek pesan dari Irwan.
Irwan: Pesawat landing jam 10:15. Jemput, ya? Kangen.
Maya tersenyum, mengetik balasan singkat menyanggupi. Senyumnya bertahan saat dia merasakan pergerakan samar di perutnya. Bukan tendangan, tapi seperti gelembung kecil yang bergerak. Untuk pertama kalinya, Maya merasakan kehadiran nyata bayi dalam kandungannya.
"Kamu bangun, ya?" bisiknya, mengelus perutnya lembut. "Ayah pulang hari ini."
Tapi ayah yang mana? Pertanyaan itu muncul tanpa diminta, membuat Maya tertegun.
Ketukan di pintu menariknya kembali ke realitas. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka dan Pak Karyo masuk membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring kue kecil.
"Selamat pagi, Bu," sapanya, tatapannya langsung tertuju pada perut Maya yang terekspos di balik selimut tipis. "Sarapan pagi sudah siap."
Maya menarik selimut menutupi tubuhnya, tapi gerakan itu terasa setengah hati. Semalam, tubuhnya sudah terbuka sepenuhnya untuk Pak Karyo. Pagi ini, rasa malu itu terasa aneh dan hampir tidak relevan.
"Makasih, Pak," jawab Maya, duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Pak Irwan pulang hari ini. Nanti saya jemput ke bandara."
Pak Karyo mengangguk, meletakkan nampan di nakas. "Saya sudah siap-siap mobilnya, Bu. Perlu saya yang antarkan?"
"Nggak usah, Pak. Saya bisa sendiri."
Pak Karyo tidak langsung pergi. Dia berdiri di samping tempat tidur, tatapannya tertuju pada perut Maya. Ada kerinduan dan kebanggaan yang tidak disembunyikan dalam tatapan itu.
"Boleh saya...?" tanyanya, tangannya terangkat ragu.
Maya menghela napas, lalu mengangguk pelan. Dia menurunkan selimut, mengekspos perutnya yang membuncit di balik kamisol tipis. Pak Karyo duduk di tepi tempat tidur, tangannya dengan lembut menyentuh perut Maya.
"Tambah besar ya, Bu," gumamnya dengan nada bangga. "Sehat."
"Tadi... tadi aku ngerasain dia gerak, Pak," bisik Maya, entah mengapa ingin berbagi momen itu dengan Pak Karyo.
Mata pria itu melebar dengan takjub. "Beneran, Bu? Udah bisa nendang?"
"Belum nendang, cuma kayak... gelembung kecil gitu. Mungkin dia lagi balik posisi."
Pak Karyo tersenyum lebar, tangannya masih mengelus perut Maya dengan gerakan melingkar yang lembut. "Di desa, orang bilang kalau bayinya aktif, artinya sehat dan kuat."
Maya tersenyum. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam, terhubung oleh sentuhan sederhana itu. Jendela kamar yang setengah terbuka membiarkan cahaya pagi masuk, menciptakan atmosfer hampir sakral.
"Pak," Maya akhirnya berbicara, "nanti kita ke dokter. Periksa kandungan."
Pak Karyo mengangguk, tangannya masih di perut Maya. "Semoga semuanya baik-baik saja, Bu."
"Mungkin... mungkin dokter bakal kasih izin untuk..." Maya tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tatapan mereka bertemu, saling memahami.
"Untuk...?" Pak Karyo menggoda, matanya berkilat dengan antisipasi yang tidak disembunyikan.
Maya mendorong bahunya main-main. "Jangan nakal, ah. Nanti Pak Irwan pulang."
"Justru itu, Bu," Pak Karyo berani mengelus paha Maya. "Mumpung masih ada waktu."
Tatapan mereka bertemu, ketegangan seksual mengental di udara. Maya hampir menyerah pada godaan itu ketika ponselnya berdering. Pesan dari Irwan.
Irwan: Pesawat boarding. See you soon. Jangan lupa kita ke Dr. Ratna jam 1.
Momen itu buyar. Maya mendorong tangan Pak Karyo menjauh, tersadar dari trans sesaat mereka.
"Udah, Pak. Saya mau siap-siap jemput Pak Irwan."
Pak Karyo bangkit dengan enggan. Di ambang pintu, dia berbalik. "Bu Maya," panggilnya pelan. "Kalau dokter udah kasih izin..." Dia tidak melanjutkan, tapi tatapannya menyampaikan segalanya.
Maya tidak menjawab, hanya mengangguk samar. Setelah Pak Karyo pergi, dia duduk diam beberapa saat, tangannya kembali ke perutnya.
"Kayaknya hidup kita bakal tambah rumit, ya," bisiknya pada bayi dalam kandungan.
Terminal kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dipenuhi orang-orang yang menunggu. Maya berdiri dengan gelisah, sesekali mengecek papan informasi yang menunjukkan pesawat Irwan sudah mendarat lima menit lalu. Tangannya tanpa sadar mengelus perutnya—kebiasaan baru yang muncul tanpa disadari.
Tubuhnya terasa aneh—campuran kelelahan dari kehamilan dan sisa-sisa sensasi dari kejadian semalam dengan Pak Karyo. Bahkan sekarang, berdiri di tengah keramaian bandara, tubuhnya masih mengingat sentuhan tangan kasar pria itu, cara mulutnya menikmati tubuhnya, dan bagaimana rasanya berada dalam posisi intim itu.
Fokus, Maya. Suamimu sebentar lagi datang.
Lamunannya terpotong saat melihat sosok Irwan di antara kerumunan penumpang yang keluar. Jantungnya berdebar lebih kencang—campuran rasa rindu dan... rasa bersalah? Irwan melambai, senyumnya lebar saat mata mereka bertemu. Maya berjalan cepat ke arahnya.
"Hei," sapa Irwan, matanya langsung turun ke perut Maya yang kini lebih terlihat di balik blouse semi-formalnya. "Kamu... tambah cantik."
Maya tersenyum, merasakan pipinya menghangat. Mereka berhadapan canggung sejenak, seperti remaja di kencan pertama, sebelum Irwan menariknya dalam pelukan erat.
"Kangen banget," bisik Irwan di telinganya.
Ketika Irwan menciumnya, Maya terkejut dengan intensitasnya—jauh lebih dalam dan panas dari yang pantas di tempat umum. Tangan Irwan di pinggangnya terasa posesif, menariknya mendekat hingga perut mereka bersentuhan.
"Irwan... ini di bandara," Maya berbisik, setengah protes meski tidak sungguh-sungguh menolak.
Irwan menjauhkan wajahnya sedikit, tapi tangannya tetap melingkari pinggang Maya. "Nggak bisa nahan," bisiknya, matanya gelap oleh gairah. "Aku nggak bisa berhenti nonton, Maya. Nonton kamu sama dia... berulang-ulang."
Maya tersentak, tatapannya refleks menyapu sekitar, takut ada yang mendengar. "Jangan di sini," desisnya.
Irwan tersenyum, mencium pipinya sekali lagi sebelum melepaskan pelukannya untuk mengambil koper. "Kamu bawa mobil kan? Kita langsung ke dokter aja atau mau makan dulu?"
"Langsung pulang aja," jawab Maya. "Kamu pasti capek. Janji dengan dokter jam 1, masih ada waktu."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, Irwan sesekali mencuri pandang ke arah Maya. Ada sesuatu dalam tatapannya—campuran posesif dan... izin? Seperti bangga sekaligus memberikan persetujuan.
Dalam perjalanan ke mobil, Irwan bercerita singkat tentang "perjalanan bisnisnya" di Surabaya, tapi Maya tahu itu hanya topeng belaka. Irwan tidak benar-benar pergi ke Surabaya. Dia menginap di hotel di Jakarta, menghabiskan hari-harinya mengawasi Maya dan Pak Karyo melalui kamera tersembunyi.
"Masih mual?" tanya Irwan ketika mereka sampai di mobil, tangannya yang membantu Maya masuk ke kursi pengemudi seolah mencari alasan untuk menyentuhnya.
"Lumayan," jawab Maya jujur. Tepat saat itu, aroma parfum Irwan menyerang indera penciumannya, memicu gelombang mual yang mendadak. Maya memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan reaksinya.
Terlambat. Irwan melihatnya.
"Masih nggak tahan sama parfum aku ya?" tanyanya, dan anehnya, dia tidak terdengar tersinggung. Malah, ada nada tertarik dalam suaranya.
Maya mengangguk lemah. "Maaf. Aku nggak bermaksud..."
"Nggak apa-apa," potong Irwan, tangannya meremas paha Maya lembut. "Itu... menarik."
Menarik? Maya menatapnya bingung, tapi kemudian menangkap kilat di mata Irwan. Suaminya tidak terganggu—dia justru terangsang oleh fakta ini. Oleh bukti biologis bahwa tubuh Maya, dan mungkin juga bayi mereka, lebih "menerima" Pak Karyo.
"Ceritain," pinta Irwan saat Maya mulai mengemudi keluar dari area parkir bandara. "Ceritain semuanya yang terjadi selama aku pergi. Yang nggak keliatan kamera."
Maya menelan ludah, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Irwan, aku lagi nyetir."
"Sambil nyetir juga bisa cerita," Irwan bersikeras, tangannya kini bergerak lebih tinggi di paha Maya. "Aku mau tau semuanya."
Dengan napas tercekat, Maya mulai bercerita—bagaimana Pak Karyo menyentuhnya di dapur, di gudang, di ruang tamu. Bagaimana tubuhnya bereaksi begitu responsif pada setiap sentuhan pria itu. Bagaimana jamu herbal buatan Pak Karyo adalah satu-satunya yang bisa meredakan mualnya.
"Aneh ya," gumam Maya, "teh buatan Pak Karyo selalu bikin aku enakan. Nggak cuma itu, tapi semua yang dia kasih ke aku... tubuhku kayak... menerimanya gitu aja."
Tatapan Irwan menggelap dengan pemahaman. "Termasuk... cairannya?"
Maya mengangguk, pipinya memanas. "Iya. Aku bisa... menelan semuanya tanpa masalah. Tapi parfum kamu aja udah bikin aku mual."
"Teori dia mungkin bener," gumam Irwan, lebih pada dirinya sendiri. "Tentang bayi yang 'tau' siapa ayah biologisnya."
Maya melirik Irwan sekilas. Wajah suaminya menunjukkan ekspresi kompleks—ada kecemburuan, tapi juga gairah yang tak terbantahkan. Campuran emosi yang aneh tapi nyata.
Mereka sampai di rumah dalam keheningan yang penuh makna. Saat Maya memarkirkan mobil, Pak Karyo sudah menunggu di teras, siap membantu dengan bagasi. Mata pria itu segera mencari Maya, kilat pengakuan dan kepemilikan terlintas sebelum dia dengan cepat memasang ekspresi hormat pada Irwan.
"Selamat datang, Pak," sapa Pak Karyo, menundukkan kepalanya sedikit pada Irwan. "Perjalanannya lancar?"
"Lancar, Pak," jawab Irwan, tatapannya sekilas beralih ke Maya yang keluar dari sisi pengemudi.
Saat Pak Karyo mengambil koper Irwan dari bagasi, tangannya "tidak sengaja" menyentuh pinggang Maya ketika Irwan sedang memunggungi mereka. Sentuhan singkat itu membuat Maya tersentak pelan, napasnya tertahan saat merasakan jari kasar Pak Karyo menekan titik sensitif di pinggangnya.
Mata mereka bertemu selama sedetik—pandangan Pak Karyo penuh dengan janji terselubung, sama sekali berbeda dari kepatuhan yang dia tunjukkan pada Irwan. Maya menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdebar kencang.
"Bu Maya mau saya siapin teh? Perjalanan dari bandara pasti melelahkan," tawar Pak Karyo, suaranya normal namun matanya menyiratkan makna lain.
"Boleh, Pak," Maya menjawab, suaranya sedikit bergetar. "Yang biasa aja."
Irwan, yang kini berbalik menghadap mereka, tidak melewatkan interaksi halus ini. Tatapannya bergerak antara Maya dan Pak Karyo, mengamati ketegangan tak kasat mata di antara keduanya. Alih-alih cemburu, ekspresinya justru menunjukkan ketertarikan yang aneh.
"Ayo masuk," Irwan menggandeng pinggang Maya posesif, menuntunnya ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Irwan menarik Maya ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang mengejutkan.
"Irwan..." Maya terkesiap di antara ciuman. "Kenapa tiba-tiba...?"
"Aku nggak tahan," bisik Irwan, tangannya menelusuri tubuh Maya dengan tidak sabar. "Ngeliat kamu sama dia... ngeliat bagaimana dia natap kamu... itu bikin aku gila, Maya."
Irwan menarik Maya ke kamar mereka, hampir menyeretnya dalam kebutuhan yang mendesak. Begitu pintu kamar tertutup, tangannya dengan cepat membuka kancing blouse Maya.
"Yang... kita punya janji dengan dokter..." Maya memprotes lemah, meski tubuhnya merespons sentuhan Irwan.
"Masih ada waktu," gumam Irwan, mendorong Maya ke tempat tidur. "Aku cuma mau... merasakan kamu lagi."
Tapi ketika wajah Irwan mendekat, aroma parfumnya kembali menyerang indera penciuman Maya. Gelombang mual mendadak muncul, membuat Maya refleks mendorong dada Irwan dan berguling ke samping.
"Maaf," Maya terbatuk pelan, menutup mulutnya. "Aku nggak bisa... parfum kamu..."
Irwan membeku, tangannya masih di pinggang Maya. Alih-alih kecewa, matanya justru berkilat dengan semacam konfirmasi. "Bahkan sekarang juga? Setelah dua hari aku pergi?"
Maya mengangguk lemah, rasa bersalah memenuhi dadanya. "Maaf, Yang. Aku nggak tau kenapa..."
"Tapi sama Pak Karyo nggak, kan?" tanya Irwan, suaranya rendah dan intens. "Tubuh kamu nggak menolak dia?"
"Nggak," Maya mengakui pelan, matanya tidak berani menatap Irwan. "Malah... tubuhku kayak... menerimanya."
Irwan menghela napas panjang, mundur sedikit untuk memberi Maya ruang. Ekspresinya campuran kecemburuan dan... gairah? "Ini makin menarik," gumamnya.
Ketukan di pintu menginterupsi momen itu. "Bu, Pak, tehnya sudah siap," suara Pak Karyo terdengar dari luar.
"Kita keluar aja," Maya bangkit, mengancingkan kembali blousenya. "Masih harus siap-siap ke dokter."
Di ruang keluarga, Pak Karyo telah menyiapkan teh dan beberapa kue kecil. Maya duduk di sofa, bergeser sedikit ketika Irwan duduk di sampingnya. Pak Karyo menyodorkan cangkir teh herbal khusus untuk Maya.
"Ini teh spesial untuk Ibu," ujarnya dengan senyum tipis. "Bagus untuk mengurangi mual."
Maya menerima cangkir itu, jarinya sekilas bersentuhan dengan jari Pak Karyo. Sensasi hangat menjalar dari titik kontak itu. "Makasih, Pak."
Irwan mengamati interaksi ini dengan seksama, matanya tak lepas dari wajah Maya saat dia menyesap teh buatan Pak Karyo. Reaksi tubuh Maya langsung terlihat—bahunya yang tegang perlahan rileks, wajahnya yang pucat berangsur merona sehat, dan napasnya yang pendek-pendek menjadi lebih teratur.
"Enak," komentar Maya, tersenyum pada Pak Karyo. "Selalu enak."
"Senang bisa membantu, Bu," Pak Karyo menunduk sedikit, tapi matanya menatap Maya dengan intensitas yang tidak disembunyikan.
Irwan berdehem. "Pak, tolong siapkan mobil sekitar setengah jam lagi. Kami ada janji dengan dokter."
"Baik, Pak," Pak Karyo mengangguk hormat, tapi sebelum berbalik, matanya sekali lagi bertemu dengan Maya. Ada pertanyaan tak terucap di sana, yang hanya Maya pahami.
Setelah Pak Karyo keluar, Irwan menarik napas panjang. "Jadi... teh buatannya juga bikin kamu enakan?"
"Iya," Maya menjawab jujur. "Entah apa yang dia campurkan, tapi selalu berhasil meredakan mual."
"Dan parfumku bikin kamu mual," Irwan mengulang fakta itu, tangannya mengelus perut Maya dengan lembut. "Ini... ini bukan sekadar perasaan ya, Maya? Ini benar-benar respons biologis."
Maya mengangguk pelan. "Kayaknya gitu. Aku nggak bisa ngejelasin, tapi tubuhku... punya pilihan sendiri."
"Dan pilihannya adalah dia," Irwan menyelesaikan dengan suara rendah. "Ayah biologis dari bayi kita."
Kata-kata itu menggantung di udara, berat oleh implikasi. Maya tidak menjawab, hanya menatap tehnya dengan pikiran berkecamuk.
"Aku penasaran apa kata dokter soal ini," gumam Irwan, tangannya masih di perut Maya. "Mungkin ada penjelasan medis."
Ruang tunggu di klinik Dr. Ratna hampir penuh saat Maya dan Irwan tiba. Beberapa wanita hamil dengan ukuran perut berbeda-beda duduk bersama pasangan mereka, berbicara pelan atau membaca majalah. Maya memilih kursi di sudut, sedikit menjauh dari yang lain.
Begitu duduk, gelombang mual kembali menyerang. Maya meringis, tangannya secara otomatis menutup mulut.
"Kenapa?" tanya Irwan khawatir, mendekat untuk memegang bahunya.
"Mual lagi," Maya berbisik, menjauhkan diri sedikit dari Irwan. "Mungkin parfum kamu..."
Irwan mengangguk paham, bergeser memberi ruang. "Kamu mau ke toilet dulu?"
Maya mengangguk lemah, bangkit dengan hati-hati. Di toilet, dia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menenangkan perutnya yang bergejolak. Saat membuka tas untuk mengambil tisu, matanya menangkap termos kecil.
Teh dari Pak Karyo.
Maya tidak ingat memasukkannya ke dalam tas. Pasti Pak Karyo yang diam-diam menyelipkannya sebelum mereka berangkat. Dengan tangan gemetar, Maya membuka termos itu. Aroma hangat menguar, menenangkan indera penciumannya seketika.
Ada secarik kertas kecil terselip di tutup termos: "Untuk ibu dan bayi kita."
Jantung Maya berdebar kencang membaca kata-kata itu. Bayi kita. Begitu eksplisit, begitu berani. Tanpa ragu, Maya meneguk teh itu, merasakan kehangatan menyebar ke seluruh tubuhnya, meredakan mual hampir seketika.
Bagaimana bisa? Bagaimana dia selalu tau apa yang tubuhku butuhkan?
Maya kembali ke ruang tunggu dengan wajah lebih segar. Irwan, yang sedang membolak-balik majalah kehamilan, mendongak dengan ekspresi lega.
"Udah enakan?" tanyanya.
Maya mengangguk, duduk di sebelahnya tapi menjaga jarak cukup. "Aku... aku minum teh dari Pak Karyo. Dia nyelipin ke tasku."
Alis Irwan terangkat. "Dia ngerti banget ya kebutuhan kamu."
"Iya," Maya mengakui pelan. "Kadang aku merasa dia lebih paham tubuhku daripada aku sendiri."
Irwan terdiam sejenak, lalu dengan suara rendah bertanya, "Dia ninggalin pesan?"
Maya ragu sejenak, tapi kemudian mengangguk. "Dia tulis 'Untuk ibu dan bayi kita'."
"'Bayi kita'?" Irwan mengulang, matanya menggelap. "Dia semakin berani ya."
Sebelum Maya sempat menjawab, nama mereka dipanggil. Dr. Ratna menunggu dengan senyum hangat saat mereka memasuki ruang periksa.
"Maya, Irwan," sapanya ramah. "Bagaimana kabarnya? Sudah masuk trimester kedua ya sekarang?"
"Baik, Dok," Maya menjawab, duduk di kursi yang disediakan. "Iya, minggu ke-14 sekarang."
"Bagus, bagus," Dr. Ratna mengangguk, membuka file di komputernya. "Ada keluhan?"
"Morning sickness masih lumayan parah," Maya menjelaskan. "Tapi ada yang aneh, Dok. Saya... sangat sensitif terhadap beberapa bau. Terutama parfum suami saya."
Dr. Ratna tersenyum maklum. "Itu normal dalam kehamilan. Indera penciuman menjadi sangat sensitif. Biasanya akan berkurang memasuki trimester kedua."
"Tapi anehnya," Maya melanjutkan, melirik Irwan sekilas, "saya baik-baik saja dengan... bau tertentu. Seperti teh herbal tradisional yang dibuat pembantu kami."
Dr. Ratna mengerutkan dahi sedikit. "Hmm, itu juga bisa terjadi. Tubuh ibu hamil kadang punya preferensi yang sulit dijelaskan secara medis. Mungkin ada kandungan tertentu dalam teh itu yang memang bagus untuk mengatasi mual."
Maya dan Irwan bertukar pandang penuh arti. Keduanya tahu ini lebih dari sekadar kandungan teh.
"Mari kita periksa kondisi bayinya sekarang," Dr. Ratna mengalihkan pembicaraan, mengarahkan Maya ke ranjang periksa.
Pemeriksaan berjalan lancar. Detak jantung bayi kuat dan stabil, ukuran janin sesuai dengan usia kehamilan, dan semua parameter vital menunjukkan kehamilan yang sehat.
"Semuanya berkembang sangat baik," Dr. Ratna tersenyum puas, mengelap gel dari perut Maya. "Bayinya sehat dan kuat."
"Dok," Irwan angkat bicara, "untuk aktivitas... maksud saya, hubungan intim... apa sudah aman?"
Dr. Ratna menatap pasangan itu dengan senyum maklum. "Ah, pertanyaan yang sering sekali ditanyakan." Dia kembali ke kursinya, melepas sarung tangan. "Pada kehamilan normal seperti Maya, hubungan intim sudah aman dilakukan, asal dengan beberapa catatan."
Maya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Di sampingnya, tangan Irwan menggenggam tangannya lebih erat.
"Catatan apa, Dok?" tanya Maya.
"Pertama, kelembutan sangat penting," Dr. Ratna menjelaskan dengan tenang. "Hindari gerakan yang terlalu kasar atau dalam. Kedua, posisi harus diperhatikan—yang tidak menekan perut tentunya. Ketiga, jika ada perdarahan atau nyeri, harus segera berhenti dan konsultasi."
Dr. Ratna menatap mereka bergantian. "Tapi secara umum, hubungan intim justru baik untuk ibu hamil. Bisa meredakan stres, meningkatkan sirkulasi darah, dan bahkan mempersiapkan tubuh untuk persalinan nanti. Yang penting, bayi sangat terlindungi di dalam rahim. Cairan ketuban dan otot rahim memberikan perlindungan sempurna."
"Jadi... aman untuk... melakukannya?" Irwan mengkonfirmasi, suaranya sedikit tegang.
"Tentu saja," Dr. Ratna mengangguk yakin. "Selama tidak ada komplikasi atau kondisi khusus, hubungan intim aman dilakukan. Bayi sangat terlindungi di dalam rahim."
Maya merasakan genggaman tangan Irwan mengerat sedikit, dan ketika dia melirik suaminya, dia menangkap kilatan aneh di matanya—campuran lega dan... antisipasi? Pikiran yang sama jelas melintas di benak mereka: izin dokter ini bukan hanya untuk hubungan mereka berdua.
"Mempertahankan intimasi sangat penting untuk kedua orangtua," lanjut Dr. Ratna, matanya bergantian menatap Maya dan Irwan.
Orangtua. Kata sederhana itu mengandung makna kompleks yang hanya mereka bertiga pahami. Maya dan Irwan bertukar pandang sekilas—tidak ada yang benar-benar "orangtua" dalam arti konvensional di situasi mereka.
"Ada pertanyaan lain?" tanya Dr. Ratna, menutup file di komputernya.
"Soal morning sickness, Dok," Maya bertanya. "Kapan biasanya mulai berkurang? Dan... kenapa tubuh saya sepertinya punya 'preferensi' tertentu? Maksud saya, beberapa bau membuat saya mual parah, tapi yang lain justru menenangkan."
Dr. Ratna tersenyum. "Morning sickness biasanya mulai berkurang di trimester kedua, yang sekarang sudah kamu masuki. Soal preferensi itu..." dia berpikir sejenak, "tubuh wanita hamil memang misterius. Ada yang menyebutnya 'kecerdasan biologis'—tubuh secara naluriah memilih apa yang baik untuk janin dan menolak yang dianggap berpotensi berbahaya."
"Kecerdasan biologis," Irwan mengulang kata-kata itu pelan, matanya melirik Maya dengan tatapan penuh arti.
"Yap. Seperti teh herbal yang kamu sebut tadi," Dr. Ratna menjelaskan. "Mungkin mengandung sesuatu yang tubuhmu kenali sebagai 'baik' untuk bayi. Itu sebabnya kamu tidak mual, bahkan merasa lebih baik setelah meminumnya."
Atau tubuhku mengenali DNA si pembuat teh, pikir Maya, tapi tentu saja dia tidak mengucapkannya.
"Baiklah, sepertinya semuanya berjalan sangat baik," Dr. Ratna bangkit dari kursinya. "Kontrol rutin satu bulan lagi, tapi jika ada keluhan apapun, langsung hubungi saya, ya?"
Mereka mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan dokter. Di koridor klinik, Irwan meletakkan tangannya di pinggang bawah Maya, menariknya mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Maya.
"Jadi," bisiknya, "dokter udah kasih izin."
Maya mengangguk, pipinya merona. "Iya."
"Jadi… gimana? Lanjut explorasi kita?" Irwan melanjutkan, suaranya rendah dan intim.
Jantung Maya berdegup kencang. Mereka berdiri di koridor yang cukup ramai, tapi pembicaraan mereka terasa sangat privat dan intim.
"Kamu serius mau..." Maya tidak melanjutkan kalimatnya.
"Sangat serius," Irwan menjawab, tangannya kini turun sedikit, nyaris menyentuh pantat Maya. "Aku ingin tau... sejauh mana tubuhmu bereaksi berbeda. Dan sekarang kita punya izin dokter."
Maya menelan ludah, campuran gugup dan antisipasi membuatnya pusing. "Kita perlu... bicarain batas-batasnya."
"Nanti malam," janji Irwan, mencium pipi Maya lembut sebelum melepaskan pelukannya. "Kita diskusikan semua detailnya."
Di luar klinik, sinar matahari sore menyambut mereka. Maya mengambil napas dalam-dalam, udara segar membantu menjernihkan pikirannya yang berkabut. Saat mereka berjalan menuju parkiran, ponsel Maya bergetar di dalam tas.
Maya mengeluarkan ponselnya. Pesan dari nomor yang tidak terdaftar, tapi dia langsung tahu siapa pengirimnya.
Sudah siap untuk Bu Maya kapan saja.
Di bawah teks itu, ada foto bahan-bahan jamu segar tertata rapi di atas meja dapur—jahe, kunyit, kencur, daun-daunan yang Maya tidak kenali, dan beberapa rempah lain. Jamu khusus untuk ibu hamil, Maya yakin itu.
"Dari siapa?" tanya Irwan, mengintip layar ponsel Maya.
Maya dengan cepat memperlihatkan pesan itu. Alih-alih cemburu, mata Irwan justru berkilat dengan semacam kepuasan.
"Dia benar-benar serius, ya," komentar Irwan, membukakan pintu mobil untuk Maya. "Merawat ibu hamil anaknya."
"Irwan..." Maya memperingatkan, khawatir ada yang mendengar.
"Tenang aja," Irwan tersenyum, mengecup kening Maya sebelum menutup pintu. "Kita aman."
Dalam perjalanan pulang, Maya menatap keluar jendela, pikirannya berkecamuk. Semua ini terasa tidak nyata—dokter baru saja memberi izin untuk hubungan intim, Irwan merencanakan "perjalanan bisnis" lain untuk memfasilitasi hubungannya dengan Pak Karyo, dan Pak Karyo sendiri semakin berani mengklaim bayi dalam kandungannya sebagai "milik mereka".
Apa yang sebenarnya kita lakukan? Maya bertanya pada dirinya sendiri, tangannya secara tidak sadar mengelus perutnya. Dan apa kamu benar-benar tahu siapa ayahmu yang sebenarnya?
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban saat mobil mereka membelah jalanan Jakarta yang padat, membawa mereka kembali ke rumah di mana Pak Karyo menunggu—dengan jamu segar dan tatapan yang semakin hari semakin posesif.
