𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟗𝟑

Matahari masih tinggi ketika Maya keluar dari gudang taman, pipinya merona merah. Dia merapikan blouse-nya dengan tangan gemetar, matanya sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Pak Karyo masih di dalam.

Astaga, ini makin lama makin parah. Dia udah nggak kayak pembantu lagi.

Meski begitu, sesuatu dalam dirinya merasakan antisipasi menggelitik. Hari ini Irwan masih "pergi"—masih ada waktu seharian penuh sebelum besok suaminya kembali. Dan tubuhnya, entah kenapa, menginginkan lebih banyak momen dengan Pak Karyo.

Maya masuk ke dalam rumah, langkahnya ringan meski pikirannya berkecamuk. Apa yang terjadi di gudang tadi—Pak Karyo yang begitu berani menyentuh dan menciumnya—seharusnya membuatnya marah. Tapi yang ada justru gelenyar yang tak bisa dijelaskan.


Maya baru selesai mandi ketika melewati dapur dan melihat Pak Karyo sedang menyiapkan makan siang. Tanpa sadar, langkahnya melambat. Dapur adalah area Pak Karyo, tempat pria itu paling percaya diri dan nyaman. Dan sekarang, melihatnya mengaduk sesuatu di panci dengan konsentrasi penuh, Maya merasakan sesuatu berdesir dalam dirinya.

Jangan Maya, ini masih siang. Irwan pasti lagi nonton.

Pikiran bahwa Irwan mungkin sedang mengawasi justru memberikan sensasi tersendiri. Maya berdehem pelan, menarik perhatian Pak Karyo.

"Bu Maya," sapa Pak Karyo, matanya langsung menyapu tubuh Maya yang kini hanya berbalut daster tipis pasca mandi. "Makan siangnya bentar lagi siap."

Maya mengangguk, sengaja melangkah masuk ke dapur. "Masak apa, Pak?" tanyanya, berdiri lebih dekat dari yang seharusnya perlu.

"Sup ayam, Bu. Katanya bagus buat ibu hamil."

Tangannya yang masih mengaduk sup tak menghalanginya untuk memperhatikan Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya berhenti di perut Maya yang mulai membuncit.

"Boleh saya pegang, Bu?" tanyanya tiba-tiba, mengejutkan Maya dengan keberaniannya.

Dulu, Pak Karyo takkan berani bertanya seperti itu di tengah hari bolong. Tapi sekarang, setelah apa yang terjadi di gudang tadi pagi, batas-batas itu semakin kabur.

Maya mengangguk pelan, menggeser posisinya sedikit agar menghadap ke arah yang dia tahu ada kamera tersembunyi—tempat Irwan bisa melihat dengan jelas.

Pak Karyo meletakkan sendok kayu, mengelap tangannya di celemek, lalu berlutut di hadapan Maya. Posisi ini membuat kepalanya sejajar dengan perut Maya.

"Tambah gede ya, Bu," bisiknya, tangannya dengan lembut menyentuh perut Maya melalui kain tipis. "Bayinya sehat."

Ada kebanggaan dalam suaranya—bukan kebanggaan seorang pembantu pada majikannya yang hamil, tapi kebanggaan seorang... ayah.

"Iya, Pak. Tumbuh sehat," jawab Maya, tangannya tanpa sadar menyentuh tangan Pak Karyo di perutnya.

Pak Karyo menatap ke atas, matanya bertemu dengan mata Maya. Ada intensitas di sana yang membuat napas Maya tercekat. Tanpa memutus kontak mata, Pak Karyo perlahan mengusap perut Maya dengan gerakan melingkar, sesekali jarinya menyentuh bagian bawah payudara Maya.

"Pak Karyo..." Maya berbisik, setengah peringatan, setengah undangan.

Alih-alih berhenti, Pak Karyo justru semakin berani. Tangannya naik, dengan sengaja menyentuh sisi payudara Maya. Napas Maya tertahan.

"Bu Maya tambah cantik pas hamil," gumam Pak Karyo, tangannya masih bergerak. "Aura ibu hamil beda."

Maya ingin protes, tapi tubuhnya mengkhianati. Dia justru sedikit mencondongkan dada, memberikan akses lebih.

Suara air mendidih memecah momen tersebut. Pak Karyo terpaksa bangkit dan kembali ke kompor, tapi matanya tak lepas dari Maya.

"Nanti..." bisiknya penuh janji, "kita lanjut lagi, Bu."

Maya hanya bisa mengangguk, tubuhnya masih bergetar dari sentuhan singkat namun intens barusan.


Sore itu, Maya duduk di ruang tamu, pura-pura membaca buku tapi pikirannya melayang. Sejak kejadian di dapur tadi siang, Pak Karyo seperti sengaja menciptakan momen-momen singkat namun intens di seluruh penjuru rumah.

Di lorong, dia "tak sengaja" berpapasan dengan Maya, tangannya dengan cepat meremas pinggang Maya sebelum berlalu.

Di taman belakang, saat Maya mengecek tanaman, Pak Karyo tiba-tiba muncul di belakangnya, bibirnya mengecup tengkuk Maya sekilas, lalu menghilang sebelum Maya sempat bereaksi.

Di ruang laundry, dia mencuri ciuman singkat saat Maya sedang memeriksa pakaian, tangannya dengan cepat meremas payudara Maya sebelum kembali bersikap profesional.

Setiap sentuhan singkat, setiap tatapan intens, membangun ketegangan yang perlahan memuncak. Maya sadar Pak Karyo sedang memainkan semacam permainan—menguji seberapa jauh dia bisa mendorong batas.

Dan aku... aku membiarkannya.

Maya sadar dia bisa menghentikan semua ini dengan satu kata tegas. Tapi tubuhnya menginginkan lebih—setiap sentuhan Pak Karyo membuatnya merasa hidup, diinginkan, dipuja. Terutama dengan tubuhnya yang berubah karena kehamilan, pujian dan sentuhan Pak Karyo yang begitu mengagumi perubahan itu memberikan validasi yang tak terduga.

Suara langkah terdengar mendekat. Maya mendongak dari bukunya dan melihat Pak Karyo berdiri di ambang pintu ruang tamu, tatapannya intens.

"Bu Maya lagi sibuk?" tanyanya, suaranya rendah dan dalam.

Maya menggeleng pelan, menutup bukunya. "Nggak, Pak. Kenapa?"

Pak Karyo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya—tindakan yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Jantung Maya berdebar kencang, sadar bahwa ini adalah eskalasi dari permainan sentuh-singkat sepanjang hari.

"Saya kepikiran terus soal tadi pagi, Bu," ujar Pak Karyo, kini berdiri tepat di hadapan Maya. "Di gudang."

Maya menelan ludah, matanya secara otomatis mencari kamera tersembunyi yang dia tahu dipasang di sudut ruangan. Dengan gerakan halus, dia menggeser posisi duduknya, memastikan apa pun yang terjadi akan terlihat jelas oleh Irwan.

"Pak Karyo, ini udah sore," Maya mencoba terdengar keberatan, meski tubuhnya mengkhianati dengan posisi yang justru lebih terbuka.

"Justru itu, Bu. Pak Irwan baru pulang besok malam."

Ada keberanian baru dalam suaranya—keberanian yang membuat perut Maya menegang dengan antisipasi.

Tanpa menunggu jawaban, Pak Karyo duduk di samping Maya di sofa. Tangan kasarnya langsung meraih paha Maya, naik perlahan ke pinggul.

"Pak..." Maya berbisik, sengaja terdengar ragu meski matanya menatap dengan hasrat yang tak disembunyikan.

Pak Karyo semakin berani, tangannya naik ke dada Maya, meremas payudaranya melalui kain tipis blouse yang dia kenakan.

"Ibu nggak tau gimana perasaan saya tiap hari liat Ibu," bisik Pak Karyo, bibirnya kini dekat dengan telinga Maya. "Liat perut Ibu yang tambah besar, liat Ibu jalan sambil ngelus perut... rasanya saya pengen..."

Kata-katanya terhenti, digantikan dengan tindakan. Pak Karyo mendorong Maya hingga berbaring di sofa, tangannya mulai membuka kancing blouse Maya dengan tak sabar.

"Pak... nanti ketahuan..." protes Maya lemah, matanya melirik ke arah kamera tersembunyi.

"Nggak akan, Bu. Pak Irwan masih di luar kota," jawab Pak Karyo, tangannya kini berhasil membuka blouse Maya, mengekspos bra tipis yang menutupi payudaranya yang membengkak.

"Cantik banget," bisik Pak Karyo, matanya menggelap dengan hasrat. "Hamil bikin Ibu tambah cantik."

Tangannya dengan terampil menurunkan cup bra Maya, membebaskan payudaranya yang kini lebih penuh dan sensitif. Tanpa ragu, Pak Karyo menurunkan kepalanya, mulutnya meraup puting Maya dengan lapar.

"Aah... Pak..." Maya mengerang, tangannya otomatis menekan kepala Pak Karyo lebih dalam.

Pak Karyo menghisap dengan lapar, lidahnya bermain di ujung yang sensitif, sesekali giginya menggesek lembut, menciptakan sensasi yang membuat Maya menggelinjang.

"Enak, Bu?" tanya Pak Karyo di sela kegiatannya.

"Mmmh... iya... enak..." Maya menjawab jujur, matanya terpejam menikmati.

Tangan Pak Karyo tidak tinggal diam. Sementara mulutnya sibuk dengan payudara Maya, tangannya menjelajah ke bawah, menyingkap rok Maya hingga ke pinggang.

"Pak..." Maya tersentak ketika merasakan tangan kasar itu menyentuh bagian dalamnya yang sudah basah.

"Udah basah banget, Bu," gumam Pak Karyo, jarinya dengan lihai menyusup ke balik celana dalam Maya. "Ibu suka ya?"

Maya tak mampu berbohong, tubuhnya bereaksi terlalu jujur. "Iya... suka..."

Pengakuan itu seperti membakar semangat Pak Karyo. Dengan gerakan tiba-tiba, dia bangkit dan memposisikan tubuhnya terbalik, kepalanya kini berada di antara paha Maya sementara bagian bawahnya menghadap ke wajah Maya.

"Pak... apa yang—" Maya terhenti ketika menyadari posisi apa yang Pak Karyo inginkan.

"Saya pengen nyobain, Bu," bisik Pak Karyo, tangannya sudah menurunkan celana dalamnya sendiri, membebaskan kejantanannya yang sudah keras. "Kayak yang di film."

Maya tersentak. Posisi 69—sesuatu yang bahkan dengan Irwan pun tak pernah dia lakukan. Tapi sebelum dia sempat protes lebih jauh, Pak Karyo sudah menurunkan kepalanya, lidahnya menjilat bagian tersensitif Maya.

"Aaahh!" Maya menjerit tertahan, tubuhnya melengkung menerima sensasi itu.

"Nikmatin aja, Bu," bisik Pak Karyo di sela kegiatannya. "Ibu juga bisa... kalo mau."

Kejantanan Pak Karyo kini tepat di depan wajah Maya. Meski ragu, tubuh Maya bergerak sendiri. Tangannya meraih, mulutnya terbuka, dan dalam sekejap dia menemukan dirinya dalam posisi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya—memberikan dan menerima kenikmatan secara bersamaan.

Pikiran Maya berkabut, hanya ada sensasi dan kenikmatan. Lidah Pak Karyo bekerja dengan keahlian yang mengejutkan, sementara Maya berusaha memberikan yang terbaik dengan mulutnya.

"Mmmh... Bu Maya... enak banget," desah Pak Karyo, napasnya hangat di kulit sensitif Maya.

Maya tak bisa menjawab, mulutnya penuh, tapi matanya secara sadar melirik ke arah kamera tersembunyi—memberikan pertunjukan untuk Irwan yang dia tahu sedang menonton.

Sensasi ganda ini—tubuhnya dinikmati Pak Karyo sementara dia tahu Irwan menyaksikan—menciptakan level kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Bu... saya mau..." Pak Karyo terengah, tubuhnya menegang.

Maya paham, tapi alih-alih menjauh, dia justru mengintensifkan gerakannya. Saat Pak Karyo mencapai puncak, Maya menelan semuanya tanpa ragu—sama sekali tak merasakan mual yang biasanya muncul dengan makanan atau minuman tertentu selama kehamilannya.

Tubuhku... memilih dia.

Pikiran itu melintas begitu saja, tapi terasa begitu benar. Tubuhnya menerima Pak Karyo pada level yang bahkan dia sendiri tak pahami.

Pak Karyo, meski sudah mencapai pelepasan, tidak berhenti. Lidah dan jarinya terus bekerja hingga Maya merasakan gelombang kenikmatan memuncak.

"Pak... aku mau... aaahhh!" Maya mencapai puncak dengan jeritan tertahan, tubuhnya bergetar hebat dalam gelombang kenikmatan yang intens. Jari-jarinya mencengkeram sofa dengan kuat, punggungnya melengkung sempurna.

Pak Karyo tetap meneruskan, memperpanjang kenikmatan Maya hingga akhirnya tubuh wanita itu melemas sepenuhnya, terengah dan penuh kepuasan.

"Pak... udah... nggak kuat lagi..." bisik Maya di sela napasnya yang masih tak beraturan.

Pak Karyo akhirnya mengangkat kepalanya, bibirnya basah dan tersenyum puas. Dia membalikkan posisinya, kini menghadap Maya dengan tatapan yang penuh kepuasan dan kebanggaan.

"Bu Maya enak banget rasanya," ujarnya tanpa malu, jarinya dengan lembut menyeka keringat di dahi Maya. "Beda dari yang lain."

Maya masih berusaha mengatur napas, matanya setengah terpejam menikmati sisa-sisa sensasi yang masih bergelenyar di tubuhnya. Ada sesuatu yang berbeda kali ini—sensasi yang jauh lebih intens dari yang pernah dia rasakan sebelumnya.

"Pak Karyo..." Maya akhirnya bersuara, tatapannya bertemu dengan mata pria itu. "Kenapa... kenapa sama Bapak tubuhku bisa kayak gini?"

Ada kerentanan dalam pertanyaan itu—sebuah pengakuan jujur yang tak pernah dia rencanakan.

Pak Karyo tersenyum, tangannya kini mengelus perut Maya yang membuncit dengan gerakan protektif. "Mungkin karena bayi ini tau," ujarnya dengan keyakinan yang mengejutkan. "Dia tau siapa bapaknya yang beneran."

Kata-kata itu seharusnya membuat Maya marah atau tersinggung. Tapi yang ada justru sensasi aneh—seperti kebenaran yang tak ingin dia akui tapi tubuhnya sudah menerima.

"Saya perhatiin," lanjut Pak Karyo, suaranya lebih lembut, "Bu Maya nggak pernah mual sama saya. Bahkan tadi... Ibu telan semuanya tanpa masalah."

Maya tidak menyangkal. Memang benar, tubuhnya seperti memiliki kecerdasan sendiri—menolak beberapa makanan, parfum Irwan, bahkan cairan Irwan, tapi sepenuhnya menerima Pak Karyo.

"Ini gila," bisik Maya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Gila tapi enak, kan Bu?" goda Pak Karyo, tangannya masih tak berhenti mengelus perut Maya.

Maya tak bisa menahan senyum. "Iya," akunya jujur. "Enak banget."

Sejenak mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman, hanya terdengar napas yang perlahan kembali normal. Pak Karyo masih mengelus perut Maya dengan gerakan yang hampir meditasi.

"Besok Pak Irwan pulang," Maya akhirnya memecah keheningan.

Pak Karyo mengangguk, tatapannya menerawang. "Terus besok juga ke dokter, kan?"

Maya menoleh, terkejut Pak Karyo tahu jadwalnya. "Kok Bapak tau?"

"Saya denger Ibu telponan kemarin," jawabnya jujur. "Dokter bakal bilang kapan boleh... yang lebih dari ini, kan?"

Ada antisipasi dalam suaranya yang membuat perut Maya bergejolak—campuran gugup dan gairah.

"Iya," jawab Maya singkat. "Kalau masuk trimester kedua dengan stabil, biasanya dokter udah kasih izin."

Mata Pak Karyo berkilat. "Saya tunggu kabar baiknya, Bu."

Dengan itu, dia bangkit dan mulai merapikan pakaiannya. Maya juga bangkit, merapikan blouse dan roknya yang berantakan. Keduanya bergerak dalam keheningan yang penuh makna—tidak canggung, tapi seperti dua orang yang baru berbagi rahasia mendalam.

Sebelum keluar ruangan, Pak Karyo berhenti sejenak. "Makasih, Bu," ujarnya tulus.

Maya hanya mengangguk, tak yakin harus berkata apa. Setelah Pak Karyo pergi, Maya meraih ponselnya dari meja. Layarnya berkedip—ada notifikasi pesan masuk dari Irwan.

Irwan: Gila Maya. Aku nggak percaya apa yang baru aja aku liat.

Jantung Maya berdebar kencang. Irwan memang menonton. Dengan jari gemetar, dia mengetik balasan.

Maya: Kamu marah?

Balasan datang hampir seketika.

Irwan: Marah? Maya, aku hampir gila. Itu tadi... paling hot yang pernah aku liat.

Maya merasa pipinya memanas, campuran malu dan bangga yang aneh.

Maya: Kamu liat semuanya?

Irwan: Semuanya. Dari awal sampe akhir. Aku nggak tahan nggak masturbasi ngeliatnya.

Maya: Jadi... kamu suka?

Irwan: Lebih dari suka. Aku belum pernah segini terangsangnya. Kamu harus ceritain semua detailnya nanti malem.

Maya tersenyum, perasaan lega dan sesuatu seperti kemenangan membanjiri dadanya. Dia mengetik balasan terakhir sebelum beranjak ke kamar mandi.

Maya: Siap, Yang. Nanti malem aku ceritain. Tapi sebenernya... ada yang lebih gila lagi yang harus aku ceritain.

Maya meletakkan ponselnya, lalu beranjak ke kamar mandi. Di depan cermin, dia menatap refleksi dirinya—pipi merona, bibir bengkak, rambut berantakan, dan mata yang berbinar dengan kepuasan. Tangannya menyentuh perutnya yang membuncit.

"Apa bener ya?" bisiknya pelan pada bayi dalam kandungannya. "Apa kamu tau siapa bapakmu yang beneran?"


Malam itu, Maya duduk di depan laptop, menunggu panggilan video dari Irwan. Seharian dia sibuk dengan pekerjaan, tapi pikirannya terus melayang ke kejadian di ruang tamu tadi.

Tepat pukul 8 malam, laptop berdering. Wajah Irwan muncul di layar, senyumnya lebar tapi matanya terlihat lelah.

"Hai, Sayang," sapa Maya, sengaja menggigit bibir bawahnya dengan cara yang dia tahu Irwan suka.

"Hai," balas Irwan, suaranya dalam dan serak. "Gila, aku nggak bisa konsen seharian gara-gara mikirin kamu."

Maya tersenyum, menyibakkan rambutnya dengan gerakan yang disengaja. "Kamu nggak marah kan, Yang?"

"Marah? Maya, aku belum pernah segini terangsangnya," jawab Irwan jujur. "Ceritain dong, gimana rasanya?"

Maya mendekatkan wajahnya ke kamera, suaranya sengaja dibuat lebih rendah dan intim. "Besok kamu pulang kan, Yang? Terus... besok juga ke dokter."

"Iya," Irwan mengangguk, matanya menggelap. "Akhirnya kita tau kapan boleh..."

"Iya," Maya mengangguk, menggigit bibir lagi. "Akhirnya tau kapan kita 'diizinkan' untuk... lebih jauh."

Irwan terdiam sejenak, matanya menatap Maya lekat-lekat melalui layar. "Sekarang ceritain," desaknya, suaranya menegang. "Ceritain apa yang terjadi di gudang tadi. Yang nggak keliatan kamera."

Maya menarik napas dalam, lalu mulai bercerita dengan suara husky. "Di gudang... dia langsung nyium aku, Wan. Bukan di pipi, tapi di bibir, leher..." Maya berhenti sejenak, menikmati ekspresi Irwan yang semakin tegang. "Terus... dia buka blouse-ku. Mulutnya... di sini..." Maya menyentuh payudaranya sendiri.

"Dia bilang apa?" tanya Irwan, suaranya semakin dalam.

"Dia bilang... payudaraku tambah enak karena hamil. Tambah lembut," Maya menjawab jujur. "Dan Wan... dia bener. Rasanya beda banget. Lebih sensitif, lebih..."

"Terus?" desak Irwan, napasnya mulai tak beraturan.

"Panas banget di sana, Wan. Gudangnya sempit, beraroma tanah dan kayu. Tiap dia sentuh, rasanya kayak... api. Berbeda dari di tempat lain yang keliatan kamera."

"Berbeda gimana?" Irwan semakin penasaran.

"Lebih... mentah. Lebih... nyata," Maya berusaha menjelaskan. "Di sana nggak ada kamera, nggak ada yang ngawasin. Cuma aku dan dia. Mungkin itu yang bikin beda."

Irwan menelan ludah. "Dan... kamu suka?"

Maya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya, Wan. Aku nggak bisa bohong. Tubuhku... ngerespon dia. Seperti punya pikiran sendiri."

"Seperti tadi di sofa?" tanya Irwan.

"Iya, tapi di gudang lebih... bebas. Karena tau nggak ada yang liat."

Irwan tampak berpikir. "Maya, aku mau pasang kamera di gudang juga."

Maya tersenyum tipis. "Buat apa, Yang? Biar bisa liat semuanya?"

"Iya," jawab Irwan tanpa ragu. "Aku mau liat semuanya."

Mereka terdiam sejenak, hanya saling menatap melalui layar.

"Wan," Maya akhirnya berbicara lagi. "Ada yang lebih gila lagi yang harus aku ceritain."

"Apa?" Irwan terdengar sangat penasaran.

"Tadi... pas di sofa... pas aku..." Maya berhenti, mencari kata yang tepat. "Pas aku pake mulut sama dia... aku nelen semuanya."

"Iya, aku liat," jawab Irwan, matanya menggelap.

"Dan aku nggak mual sama sekali, Wan," lanjut Maya, suaranya penuh keheranan. "Padahal aku mual sama hampir semua makanan. Bahkan parfum kamu aja bikin aku mual. Tapi sama dia... tubuhku kayak... menerima gitu aja."

Irwan terdiam, ekspresinya campuran terkejut dan terangsang. "Teori dia bener kali ya?"

"Teori apa?"

"Kalau bayinya 'tau' siapa bapaknya yang beneran," jawab Irwan, suaranya aneh—seperti cemburu tapi juga tertarik. "Mungkin ada semacam... koneksi biologis."

Maya mengusap perutnya yang membuncit. "Aku juga nggak ngerti, Wan. Tapi ini aneh banget. Kenapa cuma sama dia tubuhku nyaman?"

"Besok," kata Irwan, suaranya penuh tekad. "Besok kita ke dokter, terus kita coba... eksperimen."

"Eksperimen apa?" tanya Maya, meski dia punya firasat.

"Kita coba liat, apa reaksi tubuh kamu beda ke aku dan ke dia," jawab Irwan. "Aku pengen tau... apa bener ini soal biologis."

Maya mengangguk pelan. "Oke."

Setelah beberapa saat berbincang tentang hal-hal lain—jadwal besok, persiapan ke dokter—mereka mengakhiri panggilan. Maya menutup laptop, perasaannya campur aduk.

Di satu sisi, dia lega Irwan tidak marah. Di sisi lain, ada kegelisahan aneh tentang "eksperimen" yang Irwan usulkan. Apa yang akan terjadi besok? Apa yang akan dokter katakan? Dan yang paling mengganggu—kenapa tubuhnya memilih Pak Karyo?

Maya berbaring di ranjang, tangannya mengelus perut dengan gerakan melingkar. Besok. Besok semuanya akan berubah lagi. Dengan pikiran itu, dia memejamkan mata, tubuhnya masih mengingat sensasi dari tangan kasar Pak Karyo, dan tidur dengan senyuman samar di bibirnya.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com