𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟗𝟐

Cahaya matahari pagi menembus celah-celah gorden kamar Maya, menciptakan pola-pola emas di lantai marmer. Di hadapan cermin besar di sudut kamar, Maya berdiri dalam keheningan, kedua tangannya menyentuh perutnya yang kini terlihat jelas membulat.

Tiga bulan.

Seminggu terakhir ini... tiap hari pasti ada aja yang terjadi sama Pak Karyo. Maya mengamati refleksinya dengan perasaan campur aduk. Cuma dia doang yang bisa bikin mualku ilang total.

Tubuhnya berubah drastis. Payudara terasa lebih berat, pinggul melebar, ada kelembutan baru di wajahnya. Tapi yang paling aneh—hanya dengan Pak Karyo, semua gejala kehamilan yang menyiksa hilang sepenuhnya.

Kenapa sih? Kenapa cuma sama dia aku bisa normal?

Ketukan di pintu. Tapi tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Pak Karyo masuk dengan nampan teh kunir asem yang mengepul, langkahnya mantap—bukan lagi langkah pembantu yang hati-hati.

Maya nggak bergerak menutupi tubuhnya yang cuma terbalut bra dan camisole tipis. Entah sejak kapan, rasa malu itu menguap di hadapan Pak Karyo.

"Pagi, Bu Maya."

Suaranya berbeda. Nggak lagi hormat dan menjaga jarak. Ada kehangatan, keakraban... bahkan rasa memiliki yang samar.

Mata Pak Karyo nggak langsung menunduk seperti dulu. Justru dia menatap Maya dengan tatapan yang terang-terangan mengagumi—mulai dari wajah yang sedikit berisi, turun ke payudara yang membesar, lalu berhenti di perut yang membulat.

"Teh kunir asemnya, Bu. Masih anget."

Maya mengangguk tapi tetap di tempatnya. Ada sesuatu di udara pagi itu—ketegangan yang udah mereka berdua rasakan seminggu terakhir.

Pak Karyo melangkah mendekat. Ketika berdiri tepat di belakang Maya, bayangannya menutupi sebagian tubuh Maya di cermin.

"Semakin cantik," bisiknya, tangan kasar menyentuh bahu Maya. "Ibu makin cantik tiap hari."

Maya merasakan napas Pak Karyo di tengkuknya. Hangat. Familiar. Tangannya yang besar bergerak turun dari bahu ke lengan, lalu dengan gerakan yang udah terbiasa, melingkari perutnya dari belakang.

Astaga. Dia udah nggak takut lagi.

"Pak Karyo..." suaranya keluar sebagai bisikan.

Melalui cermin, mata mereka bertemu. Pak Karyo nggak menunduk. Justru dia menatap Maya dengan intensitas yang bikin perut Maya bergetar.

"Perutnya udah keliatan banget, Bu," kata Pak Karyo sambil mengusap perut Maya dengan gerakan memutar. "Bayinya pasti sehat. Pasti kuat."

Ada nada bangga di suaranya. Bukan bangga seorang pembantu yang senang majikannya hamil. Tapi bangga seorang... ayah.

Pak Karyo memutar tubuh Maya. Jarak mereka cuma beberapa senti. Maya bisa mencium aroma sabun mandi sederhana, bercampur keringat yang anehnya nggak bikin mual.

"Bu Maya," Pak Karyo menatap langsung ke matanya. "Boleh nggak saya...?"

Pertanyaannya menggantung, tapi Maya udah ngerti. Tanpa menunggu jawaban verbal, Pak Karyo menuntun Maya ke kursi rias.

Kali ini bukan dengan sikap meminta izin. Ada otoritas lembut di gerakannya.

Maya duduk, napasnya mulai nggak teratur. Pak Karyo berlutut di hadapannya, mata mereka sejajar. Tangannya bergerak ke sabuk kimono tipis Maya.

"Duduk yang nyaman, Bu," bisiknya sambil membuka ikatan dengan gerakan yang udah sangat terlatih. "Biar saya yang urus."

Dia bilang 'biar saya yang urus.' Nggak lagi 'bantu.' Dia udah merasa... punya hak.

Kimono Maya terbuka. Pak Karyo memandang tubuh yang berubah akibat kehamilan dengan mata berkilat—campuran gairah, kebanggaan, dan sesuatu yang lebih dalam.

"Cantik banget," bisiknya sambil menyentuh paha Maya dengan ujung jari. "Makin cantik karena hamil."

Sentuhan Pak Karyo mulai eksploratif. Jari-jari kasar tapi terlatih bergerak dengan pasti, mencari titik yang udah dia hafal. Maya merasakan tubuhnya merespon cepat—terlalu cepat untuk ukuran orang yang seharusnya masih merasa bersalah.

"Pak Karyo... oohh..." Maya nggak bisa nahan desahan ketika jari Pak Karyo menemukan titik yang tepat.

"Iya, Bu. Nikmatin aja," bisik Pak Karyo sambil memperdalam gerakan. "Ini juga buat bayinya. Kalau Ibunya tenang, bayinya juga sehat."

Pembenaran. Tapi kenapa rasanya... bener ya?

Pak Karyo mengganti teknik. Mulutnya bergabung dengan jari-jarinya, menciptakan sensasi yang bikin Maya melengkung di kursi. Tangan Maya mencengkeram sandaran, kaki tanpa sadar membuka lebih lebar.

"Pak Karyo... iya... iya..." Maya udah nggak bisa mikir jernih. Cuma sensasi dan kenikmatan yang membangun cepat.

Pak Karyo tau persis kapan harus mempercepat dan melambat. Dia udah mempelajari tubuh Maya seperti musisi yang menguasai alat musiknya. Ketika Maya mencapai puncak, suara desahannya bergema di kamar sepi.

"Pak Karyo... aaahh..."

Tubuh Maya bergetar, tangannya tanpa sadar menekan kepala Pak Karyo lebih dalam.

Setelah Maya tenang, Pak Karyo bangkit. Ada kepuasan di matanya, tapi juga hasrat yang belum terpuaskan. Tangannya bergerak ke resleting celana.

Maya masih dalam efek orgasme, menatap Pak Karyo dengan mata sayu.

"Bu Maya," kata Pak Karyo pelan, tangannya berhenti di resleting. "Kemarin... waktu Bu Maya... pakai mulut..." Dia terdiam sejenak, seolah mencari kata yang tepat. "Saya nggak pernah ngerasain yang kayak gitu, Bu."

Maya merasakan pipinya memanas.

"Pak Karyo..."

"Tolong ya, Bu," suaranya jadi lebih lembut, hampir memohon. "Cuma sekali lagi. Saya... saya nggak bisa lupa gimana rasanya kemarin."

Ada kerentanan di matanya yang bikin Maya tersentuh. Pak Karyo yang biasanya dominan, sekarang justru memohon dengan tulus.

Kemarin aku melakukannya karena... karena tubuhku bereaksi. Tapi sekarang...

Maya menatap wajah Pak Karyo yang penuh harap. Tanpa kata, dia memposisikan dirinya.

"Saya janji nggak lama, Bu," bisik Pak Karyo sambil membuka celana sepenuhnya. "Dan... Bu Maya nggak usah dipaksa kalau nggak mau."

Tapi Maya udah bergerak. Dengan gerakan yang udah terlatih, Maya mulai memberikan apa yang Pak Karyo inginkan. Kali ini, nggak ada rasa mual sama sekali. Malah ada kenikmatan aneh dalam memberikan kepuasan buat pria yang udah kasih orgasme intens.

Pak Karyo memegang kepala Maya dengan lembut tapi tegas.

"Bu Maya... ini... saya nggak pernah ngerasain kayak gini," desahnya, kehilangan kontrol kata-kata. "Sama Ibu... rasanya beda banget."

Maya merasakan tubuh Pak Karyo menegang. Ketika saatnya tiba, Maya nggak ragu menelan semuanya—bahkan dengan sedikit kenikmatan yang bikin dia sendiri kaget.

Keduanya terdiam. Cuma suara napas tersengal yang memenuhi ruangan.

Pak Karyo berlutut lagi di hadapan Maya, matanya menatap langsung.

"Bu," kata Pak Karyo dengan suara bergetar. "Kenapa sama saya, Ibu nggak mual sama sekali?"

Pertanyaan yang udah menggelayut di pikiran Maya seminggu terakhir.

"Aku... aku juga bingung, Pak Karyo," Maya berkata jujur. "Sama yang lain, aku langsung mual. Bahkan parfum Irwan aja bikin mual. Tapi sama Bapak..."

Pak Karyo tersenyum—bukan senyum pembantu yang hormat, tapi senyum laki-laki yang bangga.

"Mungkin," katanya pelan tapi dengan keyakinan mengejutkan, "bayinya tau siapa bapaknya yang asli."

Maya tertegun. Kalimat itu seperti petir di siang bolong.

"Pak Karyo... Bapak ngomong apa?"

"Maaf, Bu. Saya cuma... rasanya aneh aja. Kenapa cuma sama saya, tubuh Ibu cocok banget? Kayak... kayak udah jodoh."

Pak Karyo nggak menunduk. Mata Javanya menatap Maya dengan keberanian yang nggak pernah ada sebelumnya.

Maya nggak bisa jawab. Dalam hati, dia juga bertanya hal yang sama.

Kenapa tubuhku bereaksi seolah Pak Karyo adalah... pasangan yang tepat?

Pak Karyo bangkit dan mulai rapiin pakaian. Tapi sebelum pergi, dia berhenti.

"Bu Maya," katanya dengan suara lebih rendah. "Sebentar lagi kan... dokter bakal bilang boleh... yang lebih dari ini?"

Maya merasakan perutnya bergetar—entah karena bayi atau antisipasi.

"Iya. Minggu depan kontrol. Kalau udah stabil di trimester kedua..."

Pak Karyo mengangguk, matanya berkilat dengan antisipasi yang nggak disembunyikan lagi.

"Saya... nunggu kabar baiknya, Bu."

Setelah Pak Karyo keluar, Maya duduk terdiam. Tubuhnya masih bergetar dari sisa kenikmatan, tapi pikiran dipenuhi pertanyaan yang nggak bisa dijawab.

Pak Karyo udah berubah total. Dia nggak lagi bersikap kayak pembantu. Dia bersikap kayak... suami kedua.

Maya meraih ponsel dengan tangan gemetar.

Maya: Say, aku harus cerita sesuatu. Pak Karyo makin berani. Dia bilang... mungkin bayi ini tau siapa bapaknya yang asli.

Irwan: Serius? Berani banget dia. Gimana reaksi kamu?

Maya: Aku kaget. Tapi... aku nggak marahin dia. Bahkan aku nggak bisa bantah.

Irwan: Astaga Maya. Susah fokus kerja nih gara-gara mikirin kalian. Besok aku pulang.

Maya: Kamu nggak marah kan? Dia makin... posesif. Kayak dia yang punya hak atas aku.

Irwan: Marah? Maya, aku justru penasaran seberapa berani dia kalau aku ada tapi pura-pura nggak tau. Aku pengen liat sejauh mana dia berani 'ngeklaim' istriku.

Maya merasakan perut bergejolak. Besok Irwan pulang. Dan dari nada pesannya, Maya tau suaminya udah punya rencana.


Ribuan kilometer dari Jakarta, di hotel steril Surabaya yang mewah tapi dingin, Irwan duduk dalam kegelapan kamarnya. Laptop terbuka menampilkan feed kamera keamanan rumahnya.

Segelas whisky Macallan 18 tahun duduk di meja samping, hampir nggak tersentuh—fokusnya sepenuhnya pada layar.

Besok aku 'pulang'. Tapi sekarang... aku mau tau sejauh mana mereka berani.

Jam menunjukkan 6:47 pagi. Sebentar lagi Maya bangun. Irwan udah hafal rutinitas istrinya—terlebih sejak kehamilan bikin jadwal Maya lebih teratur.

Di layar, pintu kamar Maya terbuka. Maya muncul pakai daster putih tipis yang hampir tembus pandang—pilihan yang jelas disengaja. Bahkan dari kamera keamanan, Irwan bisa lihat siluet tubuh istrinya yang berubah.

Astaga, Maya. Kamu emang tau caranya bikin aku gila.

Maya bergerak ke dapur dengan langkah yang terlihat sengaja—dia tau Irwan lagi nonton. Setiap gerakan diperhitungkan untuk angle kamera terbaik.

Pak Karyo muncul dari koridor. Tapi bukan dengan langkah hati-hati kayak pembantu. Dia bergerak seperti... pemilik rumah.

Irwan meneguk whiskynya sambil mengamati. Pak Karyo langsung mendekati Maya, tangannya menyentuh pinggang Maya dari belakang tanpa ragu.

"Pagi, Bu," kata Pak Karyo di layar, suaranya terdengar melalui audio feed.

Maya berbalik. Irwan bisa lihat ekspresi wajahnya—campuran pura-pura terkejut dan... antisipasi.

"Pak Karyo," bisik Maya, tapi tubuhnya nggak menjauh.

Tangan Pak Karyo bergerak naik ke payudara Maya yang terlihat jelas bentuknya lewat daster tipis. Maya melenguh pelan, matanya melirik ke arah kamera tersembunyi sekilas—sinyal halus buat Irwan.

Dia tau aku nonton. Dan dia suka aku nonton.

Pak Karyo mulai meremas dengan gerakan yang udah terbiasa. Maya malah menyandarkan tubuhnya ke counter, memberikan angle yang pas buat kamera.

"Bu Maya cantik banget pagi-pagi," bisik Pak Karyo sambil mencium leher Maya.

Irwan merasakan celana dalamnya ketat. Dia bisa lihat dengan jelas gimana Maya merespon—tubuh istrinya yang udah dia kenal 6 tahun bereaksi dengan cara yang nggak pernah dia lihat.

Pak Karyo menurunkan tangan ke selangkangan Maya, jari-jarinya bergerak dengan gerakan memutar di atas kain tipis. Maya menggigit bibir, tangannya mencari sesuatu buat dipegang.

"Pak Karyo... nanti ketahuan..." bisik Maya, tapi nggak ada usaha buat ngehentiin.

"Nggak bakal, Bu. Pak Irwan kan lagi di Surabaya," jawab Pak Karyo dengan percaya diri yang bikin Irwan ngilu.

Kalau dia tau aku lagi nonton...

Maya meraih tangan Pak Karyo dan menuntunnya masuk ke dalam dasternya. Irwan bisa lihat gerakan tangan Pak Karyo di bawah kain, dan ekspresi Maya yang makin terengah.

Kemudian Maya melakukan sesuatu yang bikin Irwan hampir jatuh dari kursi—dia meraih selangkangan Pak Karyo dan mulai memijatnya melalui celana.

Astaga, Maya...

Keduanya saling menyentuh di dapur—tempat Irwan biasa sarapan tiap pagi. Maya bahkan sampai buka resleting celana Pak Karyo, tangannya bergerak dengan gerakan naik-turun yang bikin Pak Karyo mendesah.

"Bu Maya... enak banget..." desah Pak Karyo.

Maya mempercepat gerakannya, dan Pak Karyo juga makin agresif dengan jari-jarinya. Keduanya mencapai puncak hampir bersamaan—Maya dengan desahan yang ditahan, Pak Karyo dengan erangan rendah.

Setelahnya, Maya mengusap tangannya pake tissue, sementara Pak Karyo rapiin celananya. Keduanya tersenyum dengan kepuasan yang obvious.

Pak Karyo mencium pipi Maya sebelum pergi, dan Maya melirik ke arah kamera dengan senyum tipis—seolah bilang "gimana, Say?"

Irwan menutup laptop dengan tangan gemetar.

Ini udah melampaui semua fantasiku.


Sore itu udara terasa lembab, membuat pakaian menempel di kulit. Maya keluar ke taman belakang setelah melihat Pak Karyo sedang berkebun dari jendela kamar. Namun ketika sampai di taman, sosok Pak Karyo tidak terlihat di mana-mana.

Malam nanti aku harus ceritakan semua ke Irwan.

Maya berjalan mengelilingi taman, mencari di antara tanaman tomat dan cabai yang rimbun. Suara samar terdengar dari arah gudang tua di pojok taman—tempat Pak Karyo biasanya menyimpan alat-alat berkebun.

"Bu Maya."

Maya menoleh dan melihat Pak Karyo muncul dari balik gudang, tangannya kotor tanah, kaus dalam putihnya berkeringat. Tanpa banyak bicara, dia mendekati Maya dengan langkah yang mantap.

"Saya lagi benerin rak di dalem," katanya sambil menunjuk ke arah gudang. "Ibu cari saya?"

"Iya, tadi lihat Bapak di taman tapi..." Maya tidak melanjutkan kalimatnya saat Pak Karyo melangkah lebih dekat, matanya menatap dengan intensitas yang sudah familiar.

"Masuk sebentar, Bu," kata Pak Karyo. "Ada yang mau saya tunjukin."

Tanpa menunggu jawaban, Pak Karyo menarik tangan Maya masuk ke dalam gudang yang gelap, beraroma kayu dan tanah basah. Begitu pintu tertutup, dia langsung memeluk Maya dan menciumnya dengan lapar.

Astaga, dia udah beda banget.

Maya membalas ciumannya, tangannya meraba punggung Pak Karyo yang berkeringat. Pak Karyo mulai membuka kancing blouse Maya dengan gerakan terburu-buru.

"Dari tadi pagi saya mikirin Ibu terus," bisiknya sambil mencium leher Maya. "Tidak bisa fokus ngapa-ngapain."

Blouse Maya terbuka, dan Pak Karyo langsung melahap payudaranya dengan mulut yang lapar. Maya melengkung, tangannya menekan kepala Pak Karyo lebih dalam.

"Oohh... Pak Karyo..."

Pak Karyo menghisap dan menjilati dengan gerakan yang sudah terlatih, sesekali menggigit pelan yang membuat Maya merinding. Tangannya yang bebas mulai meraba-raba bagian bawah, mencari kancing celana Maya.

"Pak Karyo, tunggu," bisik Maya sambil menahan tangannya.

Maya melirik sekeliling gudang—lantai berdebu, tumpukan karung pupuk, alat-alat berkebun yang kotor bertebaran di mana-mana.

"Tempatnya kotor banget," lanjut Maya. "Aku takut kena infeksi atau gimana. Buat kehamilanku berbahaya."

Pak Karyo berhenti, matanya menatap Maya dengan campuran kekecewaan dan pengertian. Tapi kemudian dia tersenyum.

"Ya udah, Bu. Yang ini aja dulu," katanya sambil kembali focus pada payudara Maya. "Tapi besok... kalau Pak Irwan udah pulang... kita cari tempat yang lebih bersih."

Maya merasakan tubuhnya bergetar mendengar kalimat terakhir Pak Karyo. Ada ancaman sekaligus janji di sana.

"Bu Maya... payudara Ibu makin enak," bisiknya di sela-sela jilatan. "Makin penuh... makin lembut karena hamil..."

Maya hanya bisa mendesah, tubuhnya bereaksi dengan cepat terhadap perlakuan Pak Karyo. Di ruang sempit yang beraroma tanah itu, mereka larut dalam hasrat yang terbatas namun intens.

Ketika akhirnya mereka terpisah, keduanya tersengal-sengal. Pak Karyo menatap Maya dengan mata yang berkilat kepuasan, meskipun juga ada rasa tidak puas.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com