𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟗𝟏

Matahari baru saja mengintip di cakrawala saat Pak Karyo kembali dari bandara. Rumah mewah itu terasa hening tanpa kehadiran Irwan. Di dapur, Pak Karyo langsung menyibukkan diri menyiapkan teh herbal khusus untuk Maya—ramuan yang kini menjadi ritual paginya.

"Bu Maya pasti masih tidur," gumamnya pada diri sendiri, menyeduh campuran rempah dengan hati-hati.

Tangannya bergerak dengan percaya diri, tak lagi gugup seperti dulu. Sesekali dia tersenyum kecil, mengingat perkembangan hubungannya dengan majikan perempuannya itu.

Saiki wektune nuduhke yen aku biso nggawe Bu Maya luwih kepenak. Ora mung kanggo bayiku, nanging kanggo Bu Maya dewe. (Sekarang waktunya menunjukkan kalau aku bisa membuat Bu Maya lebih nyaman. Bukan hanya untuk bayiku, tapi untuk Bu Maya sendiri.)

Dengan nampan berisi secangkir teh herbal mengepul, Pak Karyo menaiki tangga menuju kamar utama. Langkahnya mantap, tidak lagi ragu seperti saat pertama kali dia memasuki area pribadi majikannya.


Maya terjaga lebih awal pagi itu, kepalanya pusing. Dia duduk di tepi ranjang, mengusap pelipis dengan jari-jarinya.

"Aduh," gumamnya pelan. "Pusing banget."

Dengan langkah sedikit terhuyung, Maya berjalan ke lemari pakaian. Dia berniat bersiap ke kantor lebih awal hari ini—rapat penting dengan klien potensial menunggunya. Membuka pintu lemari, Maya berdiri menatap deretan pakaian kerjanya, bimbang memilih setelan yang nyaman untuk tubuhnya yang kini mulai menunjukkan perubahan.

Tanpa banyak berpikir, Maya melepas piyamanya, membiarkan tubuhnya hanya terbalut kimono sutra tipis yang tidak diikat rapat. Perutnya yang mulai membulat terlihat jelas saat dia bergerak.

Aneh banget rasanya badan berubah begini, pikirnya, memperhatikan payudaranya yang semakin penuh dan sensitif.

Ketukan halus di pintu mengalihkan perhatiannya.

"Bu Maya? Boleh saya masuk?" suara Pak Karyo terdengar dari balik pintu.

Maya menoleh, kesadarannya langsung terarah pada keadaan tubuhnya yang setengah terekspos. Bayangan Irwan yang mungkin sedang mengamati dari kejauhan membuat bibirnya menyunggingkan senyuman kecil.

Ini yang Irwan mau. Yang kita berdua mau.

"Masuk aja, Pak," jawab Maya, sengaja tidak bergegas menutupi tubuhnya.

Pintu terbuka dan Pak Karyo melangkah masuk dengan nampan teh. Langkahnya terhenti sejenak melihat Maya yang hanya mengenakan kimono tipis. Matanya melebar, tapi tidak dialihkan—tidak seperti dulu saat dia akan langsung menunduk malu.

"Permisi, Bu, ini tehnya," ujarnya, suaranya sedikit lebih dalam. "Kata Pak Irwan saya suruh pastikan Bu Maya minum."

Maya berpura-pura terkejut, tangannya bergerak lambat menutupi bagian depan kimononya—gerakan yang jelas dibuat-buat. "Oh, makasih Pak. Taruh aja di meja itu."

Alih-alih segera meletakkan teh dan keluar seperti biasa, Pak Karyo malah melangkah lebih dalam ke kamar. Matanya tak beralih dari tubuh Maya, mengagumi setiap lekuknya yang kini semakin feminin dengan kehamilan.

"Bu Maya tambah cantik sekarang," ucapnya terus terang. "Aura ibu hamil beda. Lebih... bersinar."

Maya merasa pipinya memanas, bukan hanya karena pujian itu tapi juga karena tatapan Pak Karyo yang begitu intens dan penuh kekaguman. Berada di bawah tatapan itu membuatnya merasa... diinginkan. Sangat diinginkan.

"Ah, Pak Karyo bisa aja," Maya tertawa kecil, tangannya masih pura-pura merapatkan kimono meski gerakannya justru membuat pembukaan di bagian dada semakin melebar. "Saya malah ngerasa aneh dengan badan yang berubah begini."

Pak Karyo meletakkan nampan teh di meja rias, lalu dengan keberanian baru, dia mendekat ke arah Maya. "Nggak aneh sama sekali, Bu. Justru cantik banget."

Maya diam-diam menggeser posisinya sedikit ke arah meja rias di mana dia tahu kamera tersembunyi terpasang. Dia ingin memastikan Irwan mendapatkan sudut pandang terbaik.

"Aduh," Maya mengeluh pelan, tangannya ke kepala. "Pusing banget rasanya pagi ini."

Tanpa diminta, Pak Karyo langsung bergerak mendekat. "Bu Maya nggak apa-apa? Sini, duduk dulu."

Dia membantu Maya duduk di tepi ranjang, tangannya dengan lembut memegang lengan Maya. Sentuhan itu membuat kulit Maya seolah tersengat listrik kecil.

"Mual lagi, Bu?" tanya Pak Karyo penuh perhatian.

Maya mengangguk lemah. "Iya, kayaknya. Ditambah pusing juga."

Pak Karyo berlutut di hadapan Maya, posisinya kini setinggi perut Maya. Tanpa ragu, tangannya terangkat dan menyentuh perut Maya yang mulai membulat.

"Boleh, Bu?" tanyanya, meski tangannya sudah lebih dulu bergerak.

Kulite Bu Maya alus tenan. Wetenge iki... ono anakku. Aku kudu jogo. (Kulit Bu Maya sangat halus. Perut ini... ada anakku. Aku harus menjaganya.)

Maya terkesiap pelan merasakan tangan kasar namun hangat Pak Karyo di perutnya. Matanya bertemu dengan mata Pak Karyo, dan sesuatu yang dalam dan primitif terjalin di antara mereka. Tangannya bergerak, menutupi tangan Pak Karyo di perutnya.

"Kata dokter bayinya sehat, Pak," kata Maya lembut. "Berkembang baik."

Tatapan Pak Karyo melembut, bergerak dari perut Maya ke wajahnya, lalu menelusuri tubuh berbalut sutra itu. "Bu Maya tambah ayu pas ngandut ngeten niki. Auranya beda. Lebih... bersinar."

Pujian itu terasa jauh lebih tulus dan intim sekarang. Maya merasakan gelombang kehangatan menjalar di dadanya. Setelah berbulan-bulan mengalami penolakan dari tubuhnya sendiri, pujian Pak Karyo terasa seperti air di padang pasir.

Ketika Maya tidak menolak sentuhan yang terus berlanjut, tangan Pak Karyo mulai berani menjelajah. Jari-jarinya yang kasar namun lembut menelusuri lekuk pinggang Maya, meraba sisi payudaranya dari luar kimono. Setiap sentuhan penuh penghargaan, seolah dia menyentuh sesuatu yang sakral.

"Pak Karyo..." bisik Maya, nadanya seperti protes lemah, tapi tubuhnya justru condong ke arah sentuhan itu.

"Bu Maya tidak menolak," balas Pak Karyo, suaranya rendah dan yakin. "Tubuh Bu Maya... jujur."

Tangannya semakin berani, kini menemukan simpul kimono Maya dan perlahan melonggarkannya. Sutra itu merosot terbuka, mengekspos lebih banyak kulit Maya yang bersemu hangat.

"Cantik sekali," bisik Pak Karyo, matanya menggelap oleh hasrat. "Bu Maya hamil malah lebih seksi."

Tangannya kini menelusuri perut Maya, naik ke payudaranya yang membengkak karena kehamilan. Dengan sentuhan lembut yang mengejutkan dari tangan seorang pekerja kasar, dia membelai payudara Maya, membuat napas wanita itu tercekat.

"Pak... kita nggak seharusnya..." Maya berusaha memprotes, tapi suaranya lemah dan tubuhnya justru merespon positif.

Jari-jari Pak Karyo turun ke bawah, menemukan pinggiran celana dalam Maya. "Tubuh Bu Maya lebih jujur dari kata-kata."

Dengan keberanian yang dibangun dari pengalaman pijat yang berakhir dengan oral dari Maya dan tiadanya penolakan saat di dapur beberapa hari lalu, Pak Karyo menyusupkan tangannya ke balik kain tipis itu. Maya mendesah tajam merasakan jari-jari kasar Pak Karyo bersentuhan dengan area sensitifnya.

"Pak Karyo... aahh..." Maya mendesah, kepalanya jatuh ke belakang.

Pak Karyo semakin berani, jarinya bergerak masuk ke dalam kehangatan Maya. Dengan terampil, dia menstimulasi titik-titik sensitif Maya. Maya sedikit menggeser posisinya, memastikan kamera tersembunyi mendapatkan pandangan yang jelas—sebuah pertunjukan untuk Irwan.

"Basah sekali, Bu," bisik Pak Karyo, matanya tak lepas dari wajah Maya yang kini memerah penuh gairah. "Bu Maya memang cantik banget waktu lagi nikmat."

Maya menggigit bibir, berusaha menahan desahannya. "Pak... tolong... saya bisa telat kerja..."

Pak Karyo memahami permintaan itu bukan sebagai penolakan, tapi permintaan untuk mempercepat gerakan. Jari-jarinya bergerak lebih cepat, lebih dalam, membuat Maya terengah. Dengan tangan satunya, Pak Karyo membuka kimono Maya sepenuhnya, mengekspos tubuhnya yang kini semakin berisi.

"Bu Maya benar-benar indah," pujinya tulus, matanya menatap kagum pada perubahan tubuh Maya. "Hamil malah bikin Bu Maya semakin menarik."

Pujian itu menambah kepercayaan diri Maya. Alih-alih malu dengan tubuhnya yang berubah, dia justru merasa cantik di bawah tatapan Pak Karyo. Tubuhnya merespon lebih kuat, bergerak seirama dengan gerakan jari Pak Karyo.

"Pak... Pak Karyo... ah... saya mau..." Maya terengah, hampir mencapai puncak.

Pak Karyo menambah kecepatan dan tekanan, jari-jarinya menari dengan presisi yang mengejutkan. "Iya, Bu... nikmatilah."

Maya mencapai klimaks dengan desahan panjang, tubuhnya mengejang dalam gelombang kenikmatan. Matanya sengaja bertemu dengan kamera tersembunyi pada momen pelepasan—pesan jelas untuk Irwan yang dia tahu sedang menonton.

Irwan pasti nonton ini. Dia pasti suka banget Karyo sejauh ini.

Napas Maya masih tersengal saat dia mulai sadar kembali. Pak Karyo perlahan menarik tangannya, wajahnya menunjukkan kepuasan dan kebanggaan.

"Bu Maya semakin responsif," ujarnya, bangga. "Saya senang bisa bantu meringankan stress Bu."

Maya mengangguk lemah, masih menikmati sisa-sisa sensasi. "Makasih, Pak. Sekarang saya harus siap-siap ke kantor."

Pak Karyo bangkit berdiri, mengambil nampan teh yang belum tersentuh. "Tehnya diminum dulu, Bu. Biar nggak pusing lagi."

Maya meraih cangkir teh itu, menyesapnya perlahan. Aroma dan rasa rempah yang khas langsung menenangkan sistem tubuhnya. Pusingnya berangsur mereda.

Aneh, sama dia, pusingku langsung mendingan.

"Enak tehnya, Pak," puji Maya tulus. "Selalu pas."

Pak Karyo tersenyum bangga. "Resep khusus buat Bu Maya. Saya tambahin jahe merah sama madu hutan. Bagus buat ibu hamil."

Maya menyesap tehnya lagi, merasakan hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. "Emang beda rasanya. Makasih ya, Pak."

"Sama-sama, Bu. Sekarang Bu Maya mau siap-siap kerja?" tanya Pak Karyo, tatapannya masih mengagumi tubuh Maya yang setengah terekspos.

Maya mengangguk, melirik jam dinding. "Iya, ada meeting penting jam 9. Harus bergegas nih."

Pak Karyo mundur perlahan, walau jelas enggan. "Kalau begitu saya siapkan sarapan ringan, Bu. Nanti saya bawakan ke bawah."

"Makasih, Pak," balas Maya sambil berdiri, merapikan kimononya tanpa terburu-buru—memberikan Pak Karyo waktu untuk menikmati pemandangan sebelum akhirnya keluar ruangan.

Setelah Pak Karyo menutup pintu, Maya berdiri sejenak, menatap ke arah kamera tersembunyi. Dia tersenyum kecil, puas dengan "pertunjukan" paginya.

Irwan pasti lagi nonton rekaman ini sambil gila-gilaan di Surabaya sana.


Senja sudah turun saat Maya membuka pintu rumah. Wajahnya pucat, langkahnya gontai. Hari di kantor telah menguras seluruh energinya. Mual dan pusing yang dia rasakan pagi tadi kembali menyerang sepanjang hari—terutama saat meeting dengan klien yang parfumnya terlalu menyengat untuk penciumannya yang sensitif.

"Selamat datang, Bu," suara Pak Karyo menyambut dari arah dapur. Dia segera menghampiri Maya, tangannya sigap mengambil tas kerja dari tangan Maya yang lemas.

Maya menatapnya dengan mata sayu. "Di kantor mualku parah lagi, Pak. Nggak ada sampeyan sih."

Kalimat itu setengah kebenaran, setengah provokasi. Maya memang benar-benar menderita sepanjang hari, tapi caranya mengatakannya sengaja dibuat untuk memancing Pak Karyo.

Mata Pak Karyo langsung dipenuhi kekhawatiran. "Bu Maya pucat sekali. Sini, Bu, duduk dulu." Dia membantu Maya ke sofa terdekat, tangannya yang kuat dan stabil menjadi penopang yang Maya butuhkan.

"Bu Maya harus banyak istirahat, demi jabang bayi," tambahnya, tangannya tak sengaja—atau mungkin sengaja—menyentuh perut Maya saat membantu wanita itu duduk.

Maya menutup matanya sejenak, merasakan kelegaan aneh saat berada di dekat Pak Karyo. "Nggak tau kenapa, Pak, tapi kalau ada kamu, mualnya langsung berkurang."

Pak Karyo tersenyum penuh arti. "Mungkin bayinya tau siapa bapaknya, Bu." Kalimat itu diucapkan dengan lembut tapi penuh keyakinan.

Maya membuka matanya, menatap Pak Karyo. Ada sesuatu yang berubah dalam dinamika mereka—sebuah pengakuan tak terucap tentang situasi mereka.

"Pak Karyo bisa pijitin saya? Punggung rasanya sakit banget," pinta Maya, suaranya lemah tapi tatapannya penuh makna.

"Tentu saja, Bu," jawab Pak Karyo cepat. "Di sini atau... di kamar aja, Bu? Lebih nyaman."

Maya menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Di kamar aja, Pak."

Pak Karyo membantu Maya berdiri dan membimbingnya menaiki tangga menuju kamar utama. Tangannya melingkar di pinggang Maya, memberikan dukungan yang mungkin lebih dari sekadar bantuan fisik.

Di kamar, Maya duduk di tepi ranjang sementara Pak Karyo mengambil minyak pijat dari laci—seolah dia sudah tahu di mana menemukannya.

"Buka blazernya dulu, Bu," saran Pak Karyo, suaranya profesional tapi matanya berkilat.

Maya menurut, melepas blazer kerjanya perlahan. Dia hanya mengenakan kemeja tipis di dalamnya, cukup transparan untuk memperlihatkan bra-nya.

"Pak Karyo bisa mulai dari bahu," Maya berbaring tengkurap di ranjang, menyingkap sedikit kemejanya untuk memberi akses.

Tangan Pak Karyo yang kuat mulai memijat bahunya, menekan titik-titik tegang dengan presisi yang mengejutkan. Maya mendesah lega merasakan ketegangan mulai mencair di bawah sentuhan Pak Karyo.

"Enak, Bu?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah.

"Mmm, enak banget, Pak," Maya bergumam, matanya tertutup menikmati.

Tangan Pak Karyo bergerak turun, menelusuri punggung Maya. Dengan sedikit keberanian, dia menyingkap kemeja Maya lebih tinggi, mengekspos lebih banyak kulit.

"Otot di sini tegang sekali, Bu," jari Pak Karyo menekan area di dekat tulang punggung bawah Maya, sangat dekat dengan pinggangnya. "Apa karena semalam?"

Pertanyaan itu penuh makna tersembunyi. Maya hanya bergumam tak jelas, tapi tubuhnya sedikit menggeliat di bawah sentuhan Pak Karyo.

Melihat respons positif itu, tangan Pak Karyo semakin berani. Jarinya bergerak ke samping, menyusuri sisi tubuh Maya, nyaris menyentuh sisi payudaranya.

"Di sini juga tegang, Bu," bisiknya, suaranya serak.

"Pak Karyo..." Maya berbisik, tapi tidak menolak.

Tangan Pak Karyo kini bergerak lebih rendah, memijat area pinggang dan pinggul Maya. Jarinya sesekali "tidak sengaja" menyentuh area yang lebih sensitif.

Maya berbalik, kini terlentang menatap Pak Karyo. Matanya berkabut oleh hasrat yang tak lagi disembunyikan.

"Pak Karyo tau tepat di mana saya tegang," bisik Maya.

Tangan Pak Karyo dengan yakin bergerak ke paha dalam Maya, memijat dengan gerakan melingkar yang semakin mendekati area sensitifnya.

"Saya selalu tau apa yang Bu Maya butuhkan," balasnya, matanya tak lepas dari wajah Maya yang kini memerah.

Maya menggeliat, tubuhnya secara naluriah mencari sentuhan lebih. "Pak..." desahnya pelan.

Tangannya mulai bergerak turun, dari pinggang ke paha Maya. Dengan keberanian yang semakin meningkat, jari-jarinya menelusuri kain celana kerja Maya yang tipis.

"Pak..." Maya berbisik, tapi suaranya tidak menolak.

"Bu Maya lelah banget hari ini," kata Pak Karyo pelan, jarinya mulai menyentuh area sensitif Maya melalui kain. "Biar saya bantuin."

Maya menggigit bibir bawah, tubuhnya sudah mulai bereaksi. "Pak Karyo... nggak seharusnya..."

Tapi protesan itu terdengar setengah hati. Pak Karyo merasakan kehangatan melalui kain tipis itu. "Tubuh Bu Maya jujur," bisiknya. "Udah basah."

Dengan gerakan perlahan, Pak Karyo mulai menurunkan celana kerja Maya. Maya mengangkat pinggulnya sedikit—gerakan halus tapi jelas memberikan izin. Celana itu turun hingga ke lutut Maya, mengekspos celana dalam hitam berbahan renda.

"Cantik," gumam Pak Karyo, matanya memandang kagum. "Bu Maya selalu cantik."

Jari-jarinya menyusup ke balik kain renda itu, langsung menemukan kehangatan dan kelembaban Maya. Maya mendesah tajam.

"Ahhh... Pak..."

"Basah banget, Bu," bisik Pak Karyo, jarinya mulai bergerak melingkar di area sensitif Maya. "Lebih basah dari pagi tadi."

Maya menutup mata, tubuhnya menyerah pada sensasi. "Pak Karyo... jari kamu... ahh..."

Pak Karyo menyusupkan satu jari ke dalam kehangatan Maya, membuatnya melengkung. "Dalemnya hangat banget, Bu. Ketat."

"Pak... pelan-pelan..." Maya terengah, tangannya mencengkeram seprai.

Tapi Pak Karyo justru menambah satu jari lagi, bergerak dengan ritme yang membuat Maya semakin kehilangan kontrol. "Bu Maya suka gitu, kan? Saya tau Bu Maya suka yang sedikit kasar."

Benar. Maya merasakan tubuhnya merespon lebih kuat pada sentuhan tegas Pak Karyo dibanding kelembutan Irwan. "Iya... iya Pak... kayak gitu..."

Jari-jari kasar itu bergerak masuk keluar dengan ritme yang semakin cepat, sementara ibu jarinya menekan titik sensitif Maya. Kombinasi itu membuat Maya semakin liar.

"Pak Karyo... cepetan... aku mau..." Maya terengah, pinggulnya bergerak mencari lebih banyak tekanan.

"Belum, Bu," kata Pak Karyo, memperlambat gerakannya. "Saya mau Bu Maya benar-benar nikmat."

Maya frustasi, tubuhnya sudah sangat dekat dengan pelepasan. "Pak... kumohon..."

Pak Karyo menarik jari-jarinya keluar, membuat Maya mengerang kecewa. Tapi kemudian dia melihat Pak Karyo menurunkan kepalanya.

"Pak... apaan—ahhhhh!"

Lidah Pak Karyo menyentuh titik tersentral Maya, membuatnya hampir melompat dari ranjang. Tak ada yang pernah melakukan ini padanya—bahkan Irwan tak pernah.

"Pak Karyo... itu... aku nggak bisa... ahhhhh..."

Lidah itu bergerak dengan keahlian mengejutkan, bergantian menjilat dan mengisap. Pak Karyo memegang paha Maya tetap terbuka saat tubuhnya menggeliat tak terkendali.

"Enak, Bu?" tanya Pak Karyo sebentar, napasnya hangat di kulit sensitif Maya.

"Enak... enak banget... Pak... jangan berhenti..." Maya hampir menjerit.

Pak Karyo kembali bekerja dengan lidahnya, kali ini sambil menyusupkan dua jarinya lagi. Kombinasi stimulasi ganda itu terlalu intens untuk ditahan Maya.

"Pak Karyo... aku... aku mau... ahhhhh... nggak bisa tahan lagi..."

"Keluar aja, Bu," bisik Pak Karyo di antara jilatan. "Biar Saya cicip seberapa nikmat Bu Maya."

Jari-jarinya bergerak lebih cepat sementara lidahnya terus bekerja. Maya merasakan tubuhnya mulai tegang, hampir mencapai puncak.

"Pak... Pak Karyo... ahhh... aku... aku mau keluar... ahhhhh..."

Tubuh Maya mengejang dalam klimaks yang intens, lebih kuat dari yang pernah dia alami. Pak Karyo terus bergerak, memperpanjang sensasi hingga Maya benar-benar lemas.

"Pak... cukup... nggak kuat lagi..." Maya terengah, tubuhnya masih bergetar.

Pak Karyo perlahan mengangkat kepala, bibirnya basah. Dia menjilat bibir dengan puas. "Bu Maya rasanya manis," katanya dengan senyum bangga.

Saat napasnya mulai teratur, Maya membuka matanya dan menatap Pak Karyo yang kini tersenyum puas.

"Hati-hati ya, Pak..." Maya memperingatkan lemah, entah apa maksud sebenarnya.

Pak Karyo tersenyum penuh arti, matanya gelap. "Saya selalu hati-hati demi Bu Maya dan... anak kita." Tangannya dengan lembut menyentuh perut Maya, menekankan kata-katanya.

Maya terdiam, tidak menyangkal klaim tersebut. Ada sesuatu yang berubah dalam dinamika mereka—sebuah pengakuan tak terucap.


Malam itu, setelah mandi dan makan malam ringan, Maya duduk di ranjangnya, mengecek ponsel. Ada beberapa pesan dari Irwan.

Irwan: "Pertunjukan hari ini luar biasa, Sayang. Karyo semakin berani. Ulangi besok, tapi coba minta dia cium lehermu."

Maya tersenyum kecil, jarinya mengetik balasan:

Maya: "Mualku langsung hilang begitu dia pijat tadi. Tubuhku kayaknya udah milih 'obat'-nya sendiri, Yang."

Beberapa detik kemudian, balasan Irwan masuk:

Irwan: "Aku tahu. Itu yang bikin aku makin gila. Lanjutkan."

Maya menatap pesan itu lama. Dia bisa membayangkan Irwan di kamar hotelnya di Surabaya, menatap rekaman kamera pengintai, tubuhnya bereaksi terhadap apa yang dia lihat. Anehnya, bayangan itu memberinya kepuasan tersendiri.

Dia mematikan lampu, berbaring dalam kegelapan. Besok akan menjadi hari yang menarik, pikirnya, sambil mengelus perutnya yang mulai membulat. Dia hampir bisa merasakan bibir Pak Karyo di lehernya, dan tubuhnya sudah mulai bereaksi terhadap bayangan itu.

Irwan ingin ngeliat sampai mana Pak Karyo berani. Aku juga penasaran... sejauh mana dia bisa membuatku gak ngerasa bersalah dengan semua ini.

Dengan pikiran itu, Maya memejamkan mata, tertidur dengan senyum kecil di bibirnya.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com