Kaki telanjang Maya terasa dingin menyentuh lantai kamar mandi saat dia bangun lebih pagi dari biasanya. Pukul lima tiga puluh, masih gelap di luar. Bayangan semalam masih menghantuinya—bagaimana tubuhnya bereaksi berbeda pada Irwan dibanding Pak Karyo, bagaimana dia harus menahan mual saat menelan cairan Irwan.
Aneh banget. Kenapa tubuhku kayak... milih?
Saat bercermin, Maya memperhatikan perutnya yang mulai jelas membulat, menandakan kehamilan yang kini memasuki minggu kesebelas. Jarinya menyusuri lekuk perut itu, membayangkan bayi di dalamnya—bayi yang secara biologis adalah anak Pak Karyo.
"Ini beneran terjadi," bisiknya pada pantulan di cermin. "Irwan tau... dan dia malah suka."
Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, Maya berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana. Pagi-pagi begini, perutnya masih bisa menerima oatmeal tawar—salah satu dari sedikit makanan yang konsisten bisa dia cerna tanpa masalah.
Pagi itu, dapur rumah mewah itu, Maya berdiri di depan kompor, mengaduk oatmeal di panci kecil. Rambutnya diikat asal, tubuhnya hanya dibalut gaun tidur tipis dan kimono sutra. Wajahnya masih kusut bekas tidur, tapi ada sesuatu yang berbeda—percaya diri yang lebih nyata, langkah yang lebih ringan.
Irwan masuk ke dapur, masih mengenakan celana piyama dan kaos oblong. Dia mendekati Maya dari belakang, tangannya hampir meraih pinggang istrinya, tapi kemudian ragu dan berhenti.
"Pagi, Sayang," sapanya, suaranya masih serak.
Maya menoleh, tersenyum kecil. "Pagi. Tumben bangun pagi."
"Iya, nggak bisa tidur lagi," Irwan mengambil jarak, bersandar di konter seberang. Matanya tak lepas dari Maya, mengamati setiap gerak-geriknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Maya merasakan tatapan Irwan, tapi juga menyadari jarak yang sengaja dia ciptakan. Dia ingat obrolanku semalam. Dia tau parfumnya bikin aku mual.
"Oatmeal?" tanya Irwan, berusaha membuka percakapan biasa.
Maya mengangguk. "Iya, cuma ini yang bisa masuk pagi-pagi."
"Mau aku bikinin kopi?"
"Jangan," Maya menggeleng cepat. "Bau kopinya... masih bikin mual."
Irwan mengangguk paham, matanya menangkap kilatan ketidaknyamanan di wajah Maya saat dia mendekat. Dia mundur sedikit, menciptakan jarak yang lebih nyaman.
"Kamu tidur nyenyak?" tanya Irwan, mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan," jawab Maya pendek, fokus pada oatmealnya yang mulai mengental.
Keheningan canggung merayap di antara mereka, dipenuhi dengan kata-kata tak terucap dan pengakuan semalam yang masih mengambang di udara.
Suara langkah dari lorong mengalihkan perhatian mereka. Pak Karyo muncul di ambang pintu dapur, membawa nampan dengan dua cangkir—satu kopi untuk Irwan, satu teh herbal untuk Maya.
"Selamat pagi, Pak, Bu," sapanya hormat, tapi matanya langsung tertuju pada Maya, sebuah kilatan yang tak terlewatkan oleh Irwan.
"Pagi, Pak Karyo," balas Maya, suaranya sedikit berbeda—lebih lembut, hampir bernada intim yang tak disadarinya.
"Ini kopi buat Pak Irwan, dan teh kunir asem buat Bu Maya," Pak Karyo meletakkan cangkir-cangkir itu di meja. Dia berdiri sangat dekat dengan Maya, jauh lebih dekat dari yang diperlukan.
"Teh kunir asem?" tanya Maya, mengambil cangkir itu.
"Iya, Bu. Saya tambahin kunyit asem, ngurangin mual sama buat stamina," jawab Pak Karyo, suaranya sedikit lebih rendah, lebih intim. "Kunir asem baik buat ibu hamil. Ngurangin mual dan buat stamina."
Maya mengangkat cangkir, menghirup aromanya. Alih-alih mual, dia merasakan perutnya tenang. Aroma rempah dan sedikit asam dari teh itu justru menenangkan.
Irwan mengamati dari kejauhan, matanya menangkap perubahan nyata di wajah Maya—bagaimana ketegangan menghilang, napasnya menjadi lebih dalam dan rileks saat Pak Karyo mendekat. Tangannya menggenggam cangkir kopi erat hingga buku-buku jarinya memutih, campuran emosi bergolak di dadanya.
"Makasi, Pak," ucap Maya, menyesap tehnya perlahan. Matanya sekilas bertemu dengan mata Pak Karyo, pertukaran tatapan singkat yang sarat makna.
"Sama-sama, Bu," balas Pak Karyo, matanya masih belum beranjak dari wajah Maya. "Kalau perlu tambahan teh, tinggal bilang aja, Bu."
Maya mengangguk kecil, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Saat Pak Karyo berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya, Maya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik tubuh tegapnya—bagaimana otot-otot punggungnya bergerak di balik kemeja kerjanya, bagaimana tangannya yang kasar namun lembut itu bergerak dengan percaya diri.
Irwan melihat semua itu. Dia melihat bagaimana istrinya menatap Pak Karyo, bagaimana tubuhnya sedikit condong ke arah pria itu, bagaimana napasnya berubah lebih dalam. Dan anehnya, alih-alih cemburu yang menghancurkan, yang dia rasakan adalah gelombang gairah yang semakin kuat.
"Aku ke ruang kerja dulu," ucap Irwan, mengambil kopinya. "Ada beberapa email yang harus aku bales."
Maya mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan, matanya masih mengikuti Pak Karyo yang kini membuka kulkas, mengambil beberapa bahan untuk sarapan.
Setelah Irwan meninggalkan dapur, suasana berubah. Ketegangan jenis lain menggantung di udara—ketegangan yang sarat dengan antisipasi dan gairah yang ditahan.
Maya berdiri di dekat konter, mengaduk oatmealnya yang kini sudah siap di mangkuk. Dia merasakan kehadiran Pak Karyo di belakangnya sebelum pria itu bahkan mendekat. Aroma maskulinnya—campuran keringat alami, sabun sederhana, dan sesuatu yang hanya bisa didefinisikan sebagai 'Pak Karyo'—membuat perutnya bergejolak, tapi bukan karena mual.
Pak Karyo mendekat, tangannya dengan berani melingkari pinggang Maya, menariknya lebih dekat. Napasnya panas di leher Maya.
"Semalem... saya nggak bisa lupain rasa Bu Maya," bisiknya, suaranya serak dan langsung di telinga Maya. "Manis sekali."
Maya merasakan seluruh tubuhnya bereaksi pada kata-kata itu, pada ingatan eksplisit tentang dia menelan cairan Pak Karyo kemarin. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat.
"Pak Karyo..." Maya berbisik, setengah protes setengah undangan.
Tangan Pak Karyo bergerak naik, nyaris menyentuh payudara Maya dari luar kimononya. "Bu Maya nggak muntah sama sekali kemarin. Itu artinya tubuh Bu Maya... nerima saya."
Maya tidak menjawab, tubuhnya tegang namun tidak menjauh. Bagian dari dirinya masih sadar bahwa Irwan mungkin mengamati mereka, bahwa semua ini adalah bagian dari fantasi Irwan, tapi bagian lain—bagian yang lebih primitif—hanya ingin merasakan tangan kasar Pak Karyo di tubuhnya lagi.
"Pak..." Maya akhirnya bersuara, berpura-pura kesulitan. "Tolong ambilin stoples di atas itu dong. Aduh, kok susah ya ngambilnya..."
Maya sengaja menjinjitkan kaki, mengulurkan tangan ke rak tinggi, membuat kimononya terangkat, mengekspos bagian bawah celana dalamnya. Tubuhnya dengan sengaja menyenggol Pak Karyo.
Reaksi Pak Karyo langsung dan percaya diri. Dia menekan tubuhnya erat ke punggung Maya, menjebaknya di antara tubuhnya dan konter dapur. "Biar saya yang bantu, Bu."
Satu tangannya meraih ke atas, sementara tangan lainnya dengan berani memegang pinggul Maya, jari-jarinya sedikit menggali ke dalam dagingnya.
Bibirnya menyentuh bahu Maya yang terekspos, meninggalkan ciuman yang sengaja. "Bu Maya wangi sekali pagi ini... wangi khas ibu hamil ya?"
Suaranya tebal dengan hasrat saat tangannya turun lebih rendah, membelai bagian luar celana dalam Maya.
"Pak Karyo..." suara Maya tersendat dengan gairah. "Kita nggak seharusnya..."
Tapi tubuhnya justru melengkung ke belakang, menekan ke arah Pak Karyo, bertentangan dengan kata-katanya.
"Nggak ada yang salah, Bu," bisik Pak Karyo, mulutnya menyusuri leher Maya. "Saya tau Bu Maya suka. Kemarin Bu Maya bilang sendiri."
Tangannya semakin berani, jari-jarinya kini menelusup di bawah karet celana dalam Maya, menemukan kelembapan yang sudah menunggunya.
"Pak... aahh..." Maya mendesah, kepalanya jatuh ke belakang bersandar di bahu Pak Karyo. Napasnya kini pendek-pendek saat jari-jari Pak Karyo bekerja di luar, menggoda untuk masuk ke dalam.
"Seperti semalem, Bu? Mau saya bantu lagi?" bisik Pak Karyo, jarinya semakin intens.
Maya hampir menjawab, tubuhnya semakin tegang menuju pelepasan, ketika suara BRAK keras dari ruang kerja Irwan mengejutkan mereka—bunyi buku-buku jatuh ke lantai. Pak Karyo segera menarik tangannya, keduanya membeku, tiba-tiba teringat bahwa Irwan masih di rumah.
Maya menoleh ke arah sudut langit-langit dapur—lokasi kamera tersembunyi—kilatan tantangan atau kegembiraan berkilat di matanya.
Irwan melihat semua ini. Karyo jadi jauh lebih berani... kata-katanya... Ya Tuhan, dia ingat rasaku, dia suka wangiku. Dan tubuhku... seperti terbakar saat dia sedekat ini. Ini jauh lebih dari sekedar permainan sekarang... atau memang begitu?
Di ruang kerjanya, Irwan duduk terpaku di mejanya, matanya terpaku pada tablet yang menampilkan tayangan dapur. Napasnya semakin berat saat dia menyaksikan tangan Pak Karyo pada istrinya, melihat tubuh Maya merespon. Pemandangan bibir Pak Karyo di bahu Maya, tangannya bergerak di antara kaki Maya—hampir terlalu banyak. Ereksi Irwan menekan celana piyamanya saat dia membungkuk ke depan, menyesuaikan volume untuk menangkap setiap desahan.
"Ya Tuhan..." bisiknya, tangannya tanpa sadar mengusap dirinya sendiri melalui celana. Kegembiraan memuncak saat dia melihat Maya melengkung ke arah Pak Karyo, jelas mendekati klimaks.
Dalam keserakahan untuk mendapat pandangan lebih baik, siku Irwan menyenggol tumpukan buku di mejanya. Buku-buku itu jatuh berantakan ke lantai dengan suara keras.
"Sial!" desisnya, langsung menyesali kecerobohannya. "Bodoh banget!" Dia buru-buru mengecilkan volume tablet, malu kalau-kalau dia telah merusak momen itu, namun sekaligus lega bahwa istrinya tidak tertangkap dalam posisi kompromitif yang akan sulit dijelaskan jika dia masuk "tanpa mengetahui apa-apa."
Irwan mematikan tablet dengan cepat, bersiap kalau-kalau Maya atau Pak Karyo datang untuk memeriksa suara itu. Tapi setelah beberapa menit, tidak ada yang muncul. Dia menghela napas panjang, antara kecewa dan lega.
"Hampir aja," gumamnya, menyusun kembali buku-bukunya.
Sepuluh menit kemudian, setelah berhasil menenangkan gairahnya, Irwan berjalan kembali ke dapur dengan ekspresi tenang yang dipaksakan. Maya sudah duduk di meja makan, menyantap oatmealnya. Pipinya masih sedikit memerah, rambutnya sedikit berantakan—bukti nyata kegiatan yang baru saja terhenti.
"Tadi ada suara apa, Sayang?" tanya Maya santai, tapi matanya menatap Irwan dengan kilatan nakal yang tak bisa disembunyikan.
"Oh, cuma buku jatuh," jawab Irwan, mengambil tempat di seberang Maya. "Aku nggak sengaja nyenggol tumpukan di meja."
Maya mengangguk, menyuapkan oatmeal ke mulutnya. "Hmm, oatmealnya enak banget pagi ini. Entah kenapa nafsu makanku tiba-tiba membaik."
Irwan tersenyum kecil, menangkap sindiran halus istrinya. "Iya? Syukurlah kalau gitu."
Pak Karyo muncul dengan sepiring roti panggang untuk Irwan. "Silakan, Pak."
"Makasi, Pak Karyo," balas Irwan, matanya bertemu dengan mata pembantu rumah tangganya. Ada pengertian tak terucap yang melintas di antara mereka—Pak Karyo yang sedikit gugup tapi tidak menyesal, Irwan yang tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Sarapan berlanjut dalam keheningan yang sarat makna. Maya sesekali melirik Irwan, tersenyum kecil setiap kali mata mereka bertemu. Irwan balas tersenyum, pikiran mereka terhubung oleh rahasia intim yang kini semakin dalam.
Sore itu, ruang kerja sebuah gedung bertingkat di kawasan perkantoran elit. Irwan duduk di depan kalendernya, menatap tanggal-tanggal dengan tatapan menerawang. Pikirannya masih dipenuhi bayangan pagi tadi—Maya dan Pak Karyo di dapur, hampir mencapai sesuatu yang baru sebelum dia mengacaukannya dengan kecerobohannya.
Maya dan Karyo hampir sampai ke tahap baru tadi. Kalau aku nggak di rumah... nggak ada gangguan... Aku bisa liat sejauh mana mereka…
Sebuah ide terbentuk dalam pikirannya. Dia meraih ponselnya dan menghubungi asistennya.
"Tyas, tolong arrange business trip fiktif untuk minggu depan. Beberapa malam," ujarnya saat sambungan terjawab.
"Baik, Pak. Ada preferensi tanggal dan tujuan?" tanya Tyas dari seberang.
"Hari Rabu. Bilang aja ke Surabaya, meeting dengan klien baru," jawab Irwan. "Pastikan juga booking hotel yang bagus. Aku akan benar-benar ke Surabaya, tapi bukan untuk meeting."
"Siap, Pak. Ada lagi yang perlu disiapkan?"
"Itu aja, Tyas. Makasi."
Setelah menutup telepon, Irwan membuka aplikasi keamanan rumah di laptopnya. Dengan cermat, dia mengkonfigurasi sistem untuk merekam terus-menerus selama dia pergi, membuat peringatan khusus untuk kamar utama dan dapur.
Jantungnya berdebar lebih kencang membayangkan kembali ke rumah untuk menonton berjam-jam rekaman. Tubuhnya bereaksi hanya dengan memikirkannya.
"Ini kesempatan," gumamnya pada diri sendiri, tersenyum kecil. "Kesempatan untuk ngeliat sejauh mana mereka akan lanjut."
Malam itu, ruang keluarga.
Maya berbaring di sofa, kompres hangat di punggung bawahnya untuk meredakan ketidaknyamanan kehamilan. Di tangannya ada majalah kehamilan yang dia baca tanpa benar-benar fokus.
Irwan masuk ke ruangan, duduk di sofa seberang. Wajahnya tampak serius tapi ada kegembiraan yang dia coba sembunyikan.
"Sayang," panggilnya, menarik perhatian Maya.
"Hmm?" Maya menurunkan majalahnya, menatap suaminya.
"Aku ada business trip mendadak minggu depan. Cuma semalam," Irwan mengumumkan, hati-hati menutupi semangatnya dengan ekspresi khawatir.
"Oh ya? Ke mana?" tanya Maya, sedikit terkejut.
"Surabaya. Meeting dengan klien baru," Irwan menjawab lancar. Dia menambahkan, "Aku khawatir kamu sendirian, apalagi mualmu parah kalau nggak ada... bantuan."
Maya menangkap nada dan maksud tersembunyi dalam kata "bantuan" itu. Dia tersenyum kecil, mendadak paham.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ada Pak Karyo," Maya meyakinkan dengan senyum penuh arti. "Jamu dan perhatiannya sangat ngebantu akhir-akhir ini."
Irwan dan Maya bertukar pandangan, saling memahami makna tersembunyi di balik kata-kata sederhana mereka.
"Kamu nggak akan kesepian?" tanya Irwan, nada suaranya menggoda. "Atau... mungkin malah lebih nyaman?"
Maya terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya. "Jujur ya, Sayang... mungkin mualku berkurang kalau kamu nggak di rumah sebentar. Hormon ini aneh banget."
Pengakuan itu menusuk Irwan tajam, tapi secara bersamaan memicu gairah intens. Fetishnya dipuaskan secara langsung.
"Maaf ya, Sayang," Maya meraih tangan Irwan, merasa bersalah. "Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Kata dokter ini biasa."
Ekspresi Irwan berubah dari sedikit terluka menjadi bersemangat. "Ini kesempatan, Sayang! Kesempatan kamu... dan Karyo... untuk lebih... 'akrab' tanpa aku 'ngeganggu'. Dan aku bisa liat hasilnya nanti."
"Maksudnya?" tanya Maya, pura-pura tidak mengerti meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Maksudku," Irwan mendekat, suaranya rendah dan intim, "kamu bisa manfaatin ketidakhadiranku untuk ngeliat apakah Karyo bisa ngurangin gejala-gejalamu dengan... kontak yang lebih dekat."
Maya menggigit bibir, berpura-pura khawatir. "Tapi apa nggak bahaya buat bayi, Sayang? Maksudku, terlalu intim..."
"Selama nggak penetrasi sampai dokter bilang boleh, semua aman," Irwan meyakinkan, matanya berkilat. "Cara lain kan banyak."
Maya mengangguk pelan, jantungnya berdebar kencang membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang menanti. "Oke deh, Sayang. Kalau itu maumu."
"Yang kamu mau juga, kan?" Irwan balik bertanya, tatapannya menyelidik.
Maya tersenyum malu-malu. "Aku... penasaran, sih. Gimana rasanya tubuhku kalau lebih lama bersama dia tanpa... gangguan."
Irwan mengangguk puas, gairahnya semakin memuncak mendengar pengakuan jujur istrinya. Dia mencondongkan tubuh, mencium Maya lembut di bibir.
"Aku sayang kamu," bisiknya. "Makasi sudah jujur."
"Aku juga sayang kamu," balas Maya, tangannya membelai pipi Irwan. "Kamu yakin ini yang kamu mau?"
"Sangat yakin," Irwan menegaskan. "Aku ingin liat... semuanya."
Di hari keberangkatan Irwan, Pak Karyo sibuk menyiapkan mobil untuk mengantar Irwan ke bandara. Tangannya bekerja menyeka kaca dan memeriksa tekanan ban, tapi pikirannya jauh melayang.
Pak Irwan lungo. Bu Maya nang omah dhewekan karo aku. Dheweke wis ora nolak aku maneh. Wingi bengi malah... Ah, iki kesempatanku. Aku kudu iso nggawe Bu Maya luwih nyaman, luwih seneng karo aku. Kanggo bayiku. (Pak Irwan pergi. Bu Maya di rumah sendirian denganku. Dia tidak menolakku lagi. Kemarin malam bahkan... Ah, ini kesempatanku. Aku harus bisa membuat Bu Maya lebih nyaman, lebih senang denganku. Untuk bayiku.)
Dia menyelesaikan tugasnya dengan lebih cepat dari biasanya, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan ramuan khusus. Tangannya dengan terampil mencampur berbagai rempah—kunyit, temulawak, asam jawa, dan beberapa bumbu rahasia lainnya. Wajahnya serius tapi ada senyum kecil yang tak bisa disembunyikan.
"Ini harus sempurna," gumamnya pada diri sendiri. "Bu Maya perlu lebih kuat. Untuk bayiku."
Di lantai atas, Maya membantu Irwan mengepak tas kecilnya. Gerakan mereka santai tapi ada ketegangan halus dalam setiap interaksi—antisipasi yang tak terucapkan.
"Jangan lupa minum jamu dari Pak Karyo," Irwan mengingatkan, menutup tasnya. "Kayaknya itu benar-benar ngebantu mualmu."
"Iya, Sayang," Maya mengangguk. "Nggak tau kenapa tapi memang ngaruh banget."
Irwan mengecup kening Maya lembut. "Kalau ada apa-apa langsung telepon ya."
"Pasti," Maya tersenyum. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan."
Beberapa saat kemudian, Irwan sudah dalam perjalanan ke bandara dengan Pak Karyo sebagai sopir.
BERSAMBUNG ...
