Maya berjalan menaiki tangga menuju kamar utama, tangannya menyeka sudut bibirnya sekali lagi. Perasaan aneh masih menyelimuti dirinya—campuran kepuasan, keheranan, dan sedikit rasa bersalah. Dia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya: menelan cairan Pak Karyo tanpa sedikitpun rasa jijik atau mual.
Aneh banget, pikirnya sambil masuk ke kamar. Parfum Irwan aja kadang bikin aku mual, tapi sama Pak Karyo...
Maya langsung menuju kamar mandi, melepaskan sarungnya dan masuk ke bawah pancuran. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi pikirannya masih tertuju pada apa yang baru saja terjadi. Bagaimana tubuhnya bereaksi begitu kuat terhadap sentuhan Pak Karyo. Bagaimana mulutnya dengan sukarela menerima dan menelan... semuanya. Dan yang paling aneh—tidak ada sedikitpun rasa mual yang biasanya selalu menghantuinya selama kehamilan ini.
"Irwan pasti udah liat semuanya," gumamnya pada diri sendiri, membayangkan suaminya di kantor, mata terpaku pada layar yang menampilkan aksi intimnya dengan Pak Karyo. Entah bagaimana, pikiran itu justru membuatnya lebih bergairah.
Dan tebakannya tepat. Jauh di gedung kantornya, Irwan memang masih terpaku di kursinya. Napasnya berat, jantungnya berdebar kencang. Dia baru saja menyaksikan sesuatu yang tak pernah dia bayangkan—Maya, istrinya, begitu bergairah dan penuh semangat dengan pria lain. Dan yang lebih mengejutkan, menelan semuanya tanpa ragu. Perasaan cemburu dan sakit hati bergolak dalam dirinya, namun anehnya, di bawah semua itu, gairah yang luar biasa kuat mulai membara.
Irwan meraih ponselnya dengan tangan gemetar, ingin menghubungi Maya, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Dia perlu waktu untuk mencerna semua ini. Dia perlu waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
"Nanti malam," bisiknya pada diri sendiri. "Nanti malam aku tanya semuanya." Dengan keputusan itu, Irwan mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi konsentrasinya berantakan, dokumen di hadapannya hanya buram tak terbaca.
Sementara itu, di rumah mereka, Maya menghabiskan sisa sore dengan bekerja dari rumah, menyelesaikan beberapa laporan sambil sesekali menyentuh perutnya yang mulai membulat. Keanehan tubuhnya masih terasa—tidak ada morning sickness yang biasanya menyerang, tidak ada mual yang biasa dia rasakan. Sebaliknya, dia merasa... luar biasa baik.
Saat makan siang, Maya bertemu Pak Karyo di dapur. Tatapan mereka bertemu sejenak, dan ada pengertian tak terucap yang melintas di antara mereka. Pak Karyo tersenyum kecil, sedikit menunduk dengan hormat, tapi matanya menyimpan kilat kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
"Jamu untuk Bu Maya," katanya, menyodorkan secangkir cairan hangat yang berbau rempah. "Bagus untuk... stamina."
Maya menerima cangkir itu, jari mereka bersentuhan sekilas. "Makasih, Pak," balasnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Kontak singkat itu meninggalkan jejak hangat di kulitnya.
Sepanjang sore, rumah itu dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Maya berusaha konsentrasi pada pekerjaannya, Pak Karyo pada tugas-tugas rumah tangganya, tapi setiap kali mereka berpapasan, ada kilatan yang sulit dijelaskan. Ketika langit mulai gelap dan jam menunjukkan pukul enam, Maya baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi panjang, mengenakan gaun tidur tipis yang melekat di tubuhnya yang masih lembab. Irwan sudah pulang dari kantor sekitar satu jam yang lalu, langsung naik ke kamar tanpa banyak bicara, hanya memberikan kecupan singkat di kening Maya.
Saat Maya masuk ke kamar tidur, Irwan duduk bersandar di kepala tempat tidur, berpura-pura membaca buku meski matanya jelas tidak fokus pada kata-kata di hadapannya. Dia mendongak ketika mendengar pintu terbuka, dan tatapan mereka langsung bertemu.
"Hey," sapa Maya, menutup pintu di belakangnya.
"Hey," balas Irwan, menutup bukunya tanpa menandai halaman yang dibacanya—bukti nyata dia memang tidak benar-benar membaca.
Maya melangkah ke tempat tidur, duduk di tepi dekat Irwan. Keheningan menggantung di antara mereka untuk beberapa saat, hanya suara detik jam yang terdengar.
"Jadi..." Irwan akhirnya memecah keheningan, "soal tadi siang."
Maya mengangguk perlahan, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Kamu liat semuanya?"
"Iya," Irwan mengakui, matanya tak lepas dari wajah Maya. "Dari awal sampai... akhir."
Maya menelan ludah, menunggu reaksi Irwan selanjutnya.
"Aku mau tau semuanya, Say," Irwan melanjutkan, suaranya rendah dan intens. "Apa yang nggak keliatan di kamera. Apa yang kamu... rasain."
Maya mengambil napas dalam. "Oke. Jadi... semuanya dimulai dengan pijatan biasa. Tapi entah kenapa... tubuhku bereaksi beda hari ini."
"Beda gimana?"
"Lebih sensitif. Lebih... responsif," Maya menjelaskan, tangannya memainkan ujung gaun tidurnya. "Terus tangannya mulai... kamu tau, bergerak naik. Ke tempat-tempat yang harusnya nggak dia sentuh."
Irwan mengangguk, matanya menggelap, dipenuhi emosi yang sulit diuraikan. "Dan kamu... suka?"
"Iya," Maya mengakui jujur. "Aku suka banget, Yang. Dia tau cara nyentuh aku... dengan tepat."
"Terus?" Irwan mendesak.
"Terus dia..." Maya menarik napas, "...dia bikin aku klimaks. Cuma pake jari. Tapi itu... luar biasa."
Irwan menelan ludah, tangannya tanpa sadar meremas selimut di sampingnya. "Dan kemudian?"
"Kemudian dia bilang dia nggak bisa nahan," Maya melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Dia minta aku... pake mulut."
"Seperti waktu program dulu?"
Maya mengangguk. "lya, tapi kali ini dia minta... yang beda." Dia menatap langsung ke mata Irwan. "Dia minta aku... nelen semuanya."
Irwan tersentak kecil, napasnya sedikit tertahan. "Dan kamu mau?"
"Iya," Maya menjawab, tatapannya tak lepas dari Irwan. "Entah kenapa, aku... penasaran."
"Lalu?" Irwan bertanya, suaranya semakin serak.
"Aku nelen semuanya," Maya mengakui. "Dan yang paling aneh, Yang... aku sama sekali nggak mual."
"Sama sekali?" Irwan menekankan, matanya melebar.
"Sama sekali nggak," Maya menegaskan. "Padahal selama hamil ini, bau parfum kamu aja kadang bikin aku mual. Tapi sama dia... tubuhku kayak... nerima gitu aja."
Irwan terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Menurutmu... kenapa bisa gitu?" Maya mengangkat bahu, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya. "Nggak tau. Tapi mungkin... mungkin ada hubungannya sama..."
"Sama bayinya?" Irwan melengkapi, kilatan aneh di matanya tak lagi menunjukkan sakit atau marah, melainkan gairah yang sulit ditutupi.
Maya mengangguk pelan, takut menyakiti perasaan Irwan. "Mungkin. Secara biologis... tubuhku tau."
Irwan menarik napas panjang.
"Rasanya gimana?" tanya Irwan tiba-tiba, membuat Maya mengerjap kaget.
"Rasanya?"
"Iya. Rasanya... dia. Di mulut kamu."
Maya tertegun sejenak. Selama ini, Irwan memang sudah mengakui fetish cuckold-nya, tapi tetap saja... intensitas keingintahuannya selalu mengejutkan Maya.
"Agak asin," Maya mulai menjelaskan, merasakan wajahnya memanas. "Hangat. Teksturnya... aneh. Nggak kayak yang aku bayangin. Lebih encer, tapi tetep... kental?"
"Dan kamu suka?" Irwan mendesak, tubuhnya condong ke arah Maya.
"Aku... nggak tau," Maya menjawab jujur. "Bukan soal suka atau nggak. Tapi... aku nggak jijik. Sama sekali nggak."
Irwan mengangguk, matanya tak lepas dari Maya. "Pak Karyo bilang apa?"
"Dia kaget," Maya tersenyum kecil. "Dia nggak nyangka aku bakal nelen. Dia juga bingung kenapa aku nggak mual, padahal dia tau aku sering mual selama hamil ini."
"Dan dia... puas?" Irwan bertanya, suaranya semakin rendah.
Maya mengangguk. "Banget. Dia bilang... itu luar biasa."
Irwan menarik napas tajam, tangannya bergerak meraih tangan Maya. "Ceritain lebih banyak. Apa yang dia bilang waktu... proses?"
Maya menggigit bibir, mengingat kembali. "Dia bilang aku pinter banget. Lebih pinter dari waktu program dulu."
"Dan?"
"Dia bilang dia sering... ngayal tentang aku. Waktu sendirian," Maya melanjutkan, suaranya sedikit berbisik. "Dia bilang dia nggak bisa lupain rasa aku."
Irwan menelan ludah, tubuhnya semakin condong ke arah Maya. "Dia... ngomong gitu? Dia inget rasamu?"
"Iya," Maya mengangguk, pipinya semakin memerah. "Aneh ya, soalnya program itu kan udah lama."
"Terus dia ngomong apa lagi?" desak Irwan, suaranya semakin serak.
Maya mengambil napas dalam. "Dia bilang... waktu aku nelen, dia ngerasa... tersambung sama aku. Dia bilang itu bukti aku nerima dia sepenuhnya."
Irwan mengerang pelan, tangannya meremas tangan Maya lebih kuat. "Dan waktu dia liat kamu nggak mual sama sekali..."
"Dia kaget," Maya melanjutkan. "Dia nanya, 'Bu Maya nggak muntah? Bukannya selama hamil Bu Maya jadi gampang mual sama bau dan rasa?' Dan jujur, Yang, aku juga bingung."
"Apa yang kamu jawab?"
"Aku bilang itu aneh banget. Aku nggak tau kenapa," Maya menatap Irwan dengan sorot kebingungan yang tulus. "Aku bilang mungkin karena dia nggak pake parfum atau bahan kimia, jadi tubuhku lebih cocok sama yang alami."
Irwan terdiam sejenak, memproses informasi ini. Kilatan di matanya kini merupakan perpaduan yang membingungkan antara rasa sakit yang menusuk, kecemburuan yang membakar, dan gairah yang semakin tak terkendali.
"Yang, menurutmu kenapa ya?" tanya Maya hati-hati. "Maksudku, secara biologis harusnya nggak ada bedanya. Tapi tubuhku... bereaksi beda sama dia."
Irwan menatap Maya lekat-lekat, ada sengatan rasa sakit di matanya, tapi dia tetap menjawab. "Mungkin karena... bayi ini mengidentifikasi DNA-nya."
Kata-kata itu menggantung berat di udara di antara mereka. Pengakuan yang tak terucapkan bahwa pada level paling dasar, tubuh Maya mengenali Pak Karyo sebagai ayah biologis dari bayi dalam kandungannya.
"Mungkin," bisik Maya, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang mulai membulat. "Tapi Yang, itu nggak berarti..."
"Aku tau," potong Irwan, suaranya lebih lembut dari yang Maya duga. "Aku tau, Say." Mereka terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Maya memperhatikan ekspresi Irwan yang terus berubah—ada jejak luka, tapi juga sesuatu yang lain, semacam kepuasan ganjil, seolah dia mendapatkan bukti nyata dari sesuatu yang selama ini dia fantasikan.
"Kamu..." Maya memulai dengan hati-hati, "kamu nggak marah?"
Irwan menggeleng pelan. "Nggak. Aneh ya? Aku harusnya marah. Tapi yang aku rasain malah..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Malah apa?" tanya Maya lembut.
"Malah... terangsang," Irwan mengaku, wajahnya memerah. "Ngebayangin kamu sama dia, gimana dia nyentuh kamu, gimana tubuh kamu nerima dia sepenuhnya... itu bikin aku... gila, Say."
Untuk membuktikan kata-katanya, Irwan meraih tangan Maya dan menariknya ke pangkuannya, membiarkan Maya merasakan bukti fisik dari gairahnya yang memuncak.
"Oh," Maya berbisik, matanya melebar. Meski sudah mengetahui fetish Irwan, intensitas reaksi fisiknya tetap mengejutkan.
"Ceritain lebih banyak," pinta Irwan, suaranya rendah dan mendesak. "Apa yang dia bilang tentang bayinya? Tentang kamu hamil?"
Maya terdiam sejenak, mengingat kembali. "Dia nggak bilang langsung. Tapi..." Maya berhenti, mengingat momen setelah klimaksnya. "Waktu aku udah selesai... nelen, dia bilang terima kasih. Terus aku tanya 'buat apa?' dan dia bilang 'untuk... kali ini. Untuk ndak berhenti di tengah jalan.'"
Irwan mengangguk perlahan, matanya tak lepas dari wajah Maya. "Dia pasti mikir bayinya... anaknya."
"Pasti," Maya setuju. "Meski dia nggak bilang langsung. Tapi aku bisa liat dari cara dia mandang perutku. Cara dia nyentuh..." Maya berhenti, menggigit bibir.
"Nyentuh apa?" Irwan mendesak.
"Perutku," Maya melanjutkan. "Waktu kita... selesai, dia sempet nyentuh perutku. Lembut banget. Kayak... ngusap. Kayak nyapa bayinya."
Irwan menarik napas tajam, tangannya kini bergerak ke perut Maya, mengikuti jalur yang mungkin dilalui tangan Pak Karyo sebelumnya. "Kayak gini?"
"Iya," Maya berbisik. "Tapi tangannya lebih... kasar. Lebih besar. Lebih hangat."
Pengakuan jujur itu membuat Irwan mengerang pelan. "Kamu... suka tangannya?"
Maya menatap Irwan, ragu untuk menjawab jujur, tapi kemudian melihat kilatan gairah di mata suaminya. "lya," bisiknya. "Aku suka. Tangannya kasar tapi... lembut. Gimana ya ngejelasinnya."
"Dan tangannya bikin kamu... puas?" Irwan bertanya, kini tangannya bergerak lebih berani, menyusup ke bawah gaun tidur Maya.
"Iya," Maya mengakui, napasnya mulai tidak teratur merasakan sentuhan Irwan. "Dia tau... cara nyentuh aku."
"Kamu... bilang apa ke dia waktu... klimaks?" Irwan bertanya lagi, jarinya kini menemukan kelembapan di antara paha Maya.
"Aku... aku manggil namanya," Maya mengaku, matanya setengah terpejam. "Aku bilang... 'Pak Karyo... aku mau... aaahh...'"
Pengakuan itu membuat Irwan semakin terangsang. Dia mendorong Maya hingga berbaring di tempat tidur, tubuhnya menindih Maya dengan lembut, berhati-hati dengan perut Maya yang mulai membulat.
"Kamu tau apa yang paling bikin aku gila?" bisik Irwan di telinga Maya. "Fakta bahwa tubuh kamu... milih dia. Secara biologis."
Maya mengerang pelan, terkejut tapi juga terangsang oleh kejujuran Irwan. "Aku nggak ngerti kenapa, Yang. Tapi iya... tubuhku nerima dia. Sepenuhnya."
"Semua ini... bikin aku mikir," Irwan berbisik, tangannya masih aktif menjelajahi tubuh Maya. "Mungkin... mungkin dia bisa bantu kamu lebih banyak selama kehamilan ini."
Maya mengerjap, menatap Irwan dengan bingung. "Maksudnya?"
"Maksudnya..." Irwan menghentikan gerakannya sejenak, menatap langsung ke mata Maya. "Kalau kamu nggak mual sama sekali waktu sama dia... mungkin dia bisa... membantu dengan cara lain. Untuk mengurangi mual kamu."
Maya tertegun, mencoba memproses implikasi dari kata-kata Irwan. "Kamu... kamu mau aku lebih sering... kayak gitu sama dia?"
"Nggak harus selalu kayak tadi," Irwan melanjutkan, suaranya rendah dan intens. "Tapi... tubuh kamu jelas nerima dia. Jadi mungkin... lebih banyak kontak fisik sama dia bisa bantu kamu."
"Dan kamu... mau liat itu?" Maya bertanya hati-hati.
"Sangat mau," Irwan mengaku, matanya berkilat oleh gairah yang tak disembunyikan. "Aku mau liat tubuh kamu... memilih dia. Lagi dan lagi."
Maya menelan ludah, tubuhnya sudah panas akibat semua pengakuan mereka. Dia menatap Irwan yang kini mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang basah dan lapar.
"Mmhh..." Maya mendesah saat Irwan menekan tubuhnya ke kasur. Aroma parfum Irwan tiba-tiba tercium tajam, membuat Maya sedikit mengernyit.
"Yang, ah... pelan-pelan," Maya berbisik di telinga Irwan, tangannya meremas rambut suaminya. "Jangan sampe masuk ya... dokter bilang nggak boleh."
"Iya, Say," balas Irwan, suaranya serak menahan nafsu. "Aku tau kok. Kita nggak usah sampe masuk."
Irwan menggeser tubuhnya ke samping, mulai menciumi leher Maya. Tangannya aktif membelai paha dalam Maya, semakin dekat ke area sensitifnya. Tapi gerakannya terlalu lembut, hampir seperti meraba dengan ragu-ragu.
"Ceritain lagi, Say," bisik Irwan, jarinya kini menyentuh area basah Maya. "Gimana rasanya tangannya Pak Karyo..."
"Lebih kasar, Yang," Maya memejamkan mata, merasa sentuhan Irwan kurang memuaskan. "Jarinya nggak selembut kamu. Dia... uhm... coba sini."
Maya meraih tangan Irwan, mengarahkannya. "Tekan di sini, Yang. Lebih kuat. Ya, kayak gitu."
Irwan mencoba mengikuti instruksi Maya, tapi masih canggung. "Gini?"
"Hmm, nggak gitu..." Maya sedikit frustrasi. "Pak Karyo tuh langsung tau spot yang bener. Dia nggak ragu-ragu kayak kamu."
Menyadari kata-katanya mungkin melukai Irwan, Maya cepat-cepat menambahkan, "Tapi aku suka kok tangan kamu. Cuma beda aja."
Irwan, alih-alih tersinggung, justru semakin terangsang. "Panggil namanya," perintah Irwan tiba-tiba. "Kayak tadi siang."
Maya membuka mata, terkejut tapi juga terangsang oleh permintaan Irwan. "Nggak apa-apa?"
"Panggil," Irwan menggeram, tangannya berusaha lebih intens.
"Ahh... Pak Karyo..." Maya memanggil, membayangkan tangan kasar yang tadi menyentuhnya. "Pak Karyo... aahh..."
Tubuh Maya akhirnya mencapai klimaks, meski tidak seintens dengan Pak Karyo. Irwan terus memainkan jarinya, mencoba memperpanjang kenikmatan Maya.
"Ssshh... gitu ya kamu sama dia?" bisik Irwan, matanya gelap oleh gairah.
Maya mengangguk lemah, napasnya masih terengah. Setelah pulih, dia meraih Irwan dan berbisik, "Sekarang gantian..."
Tangan Maya bergerak turun, menemukan kejantanan Irwan yang sudah keras. Dia mulai menggerakkan tangannya naik turun.
"Kalau aku nelen punya Pak Karyo..." Maya berbisik nakal, "...kamu mau aku nelen punya kamu juga?"
"Oh shit..." Irwan mengerang. "Iya, Say... iya..."
Maya menurunkan tubuhnya, mulai menggunakan mulutnya pada Irwan. Bau khas Irwan membuat perutnya sedikit bergolak—sensasi mual yang mulai familiar selama kehamilannya. Tapi dia mendorong perasaan itu, memfokuskan diri pada kenikmatan yang sedang dia berikan.
"Fuck..." Irwan mengumpat. "Maya... ahh..."
"Mmhh..." Maya berusaha mendesah meski perutnya mulai tidak nyaman. Dia mencoba menggunakan teknik yang dia pelajari dari Pak Karyo, tapi harus beberapa kali berhenti sebentar untuk menelan ludah dan mengontrol mualnya.
"Say, aku... aku mau keluar..." Irwan memperingatkan, tangannya mencengkeram rambut Maya.
Maya ragu sejenak, perutnya sudah mulai berontak. Tapi sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk melanjutkan—rasa penasaran, mungkin kompetisi, entah dengan dirinya sendiri atau dengan bayangan Pak Karyo.
"Aaahhh... Maya!" Irwan berteriak tertahan saat mencapai klimaksnya.
Maya menelan semuanya, tapi tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak nyaman di wajahnya. Perutnya terasa mual, dan dia harus beberapa kali menelan dengan paksa.
Setelah yakin sudah menelan semuanya, Maya mengangkat wajahnya dan berbaring di samping Irwan. Dia menahan napas, mencoba mengendalikan mualnya.
"Kamu mual ya?" tanya Irwan, menyadari ekspresi Maya.
"Lumayan mual," akui Maya. "Nggak tau kenapa, rasanya... beda."
"Beda gimana?" Irwan bertanya, matanya penasaran.
"Punya kamu... bikin aku mual," Maya menjawab jujur. "Tapi sama Pak Karyo... tadi siang aku bisa nelen semuanya tanpa masalah. Aneh ya?"
Irwan menatap Maya, ekspresinya kini menunjukkan luka yang tak terhindarkan, namun tetap diwarnai oleh gairah yang tak kunjung surut mendengar pengakuan ini. "Aneh banget. Mungkin karena... kamu hamil anak dia?"
Maya menelan ludah, pertanyaan itu menggantung di antara mereka. "Mungkin," bisiknya. "Tubuhku kayak... mengenali dia."
"Terus rasanya gimana?" Irwan bertanya lagi, tangannya mengusap rambut Maya. "Punya dia... dibanding punya aku?"
"Seperti yang kubilang, punya dia lebih kental, dan lebih banyak," Maya menjawab dengan pipi memerah. "Rasanya lebih asin, tapi entah kenapa aku nggak jijik sama sekali."
Irwan mengangguk perlahan, tubuhnya kembali bereaksi mendengar pengakuan vulgar Maya. "Dan kamu suka?"
"Aku..." Maya terdiam sejenak. "Nggak tau itu 'suka' atau nggak. Tapi aku nggak keberatan. Sama sekali nggak."
Pembicaraan itu berlanjut hingga larut malam. Maya menceritakan setiap detail, setiap sentuhan, setiap kata yang diucapkan Pak Karyo. Irwan menanggapi dengan badai emosi yang kompleks—kecemburuan yang menusuk, rasa sakit yang merayap, namun didominasi oleh gairah yang terus memuncak. Mereka bercinta dengan intensitas yang jarang mereka alami selama enam tahun pernikahan, tubuh yang menyatu namun pikiran yang dipenuhi bayangan pria ketiga di antara mereka.
Setelah Maya tertidur pulas di pelukannya, napasnya teratur dan wajahnya damai, Irwan masih terjaga. Perlahan dia melepaskan diri, bergerak hati-hati agar tidak membangunkannya, lalu mengambil laptop dari meja kerja di sudut kamar. Beberapa jam kemudian, laptop itu menyala redup di pangkuannya, menampilkan hasil pencarian Google: "Pica dalam kehamilan", "Preferensi rasa aneh selama hamil", "Pengenalan biologis DNA ayah oleh janin".
Jarinya bergerak ke tab lain: "Ikatan emosional melalui ingesti sperma", "Reaksi kimia tubuh terhadap cairan pasangan biologis".
Irwan menatap layar, wajahnya mencerminkan obsesi yang mendalam, sedikit kekhawatiran, dan gairah yang tak kunjung padam. Sesuatu dalam dirinya terpuaskan oleh bukti ilmiah bahwa tubuh Maya, pada level yang paling primitif dan biologis, mengenali dan memilih Pak Karyo—ayah biologis dari bayi mereka.
Dia menutup laptop dan menoleh ke arah Maya yang terlelap. Tangannya bergerak menyentuh perut Maya yang mulai membulat, membayangkan bayi di dalamnya—bayi yang membawa DNA Pak Karyo, bukan miliknya.
"Apa yang terjadi sama kita, Say?" bisiknya pelan, tapi tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya keingintahuan yang mendalam, dan anehnya... antisipasi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
Fajar baru saja menyingsing ketika Pak Karyo terbangun di kamarnya yang sederhana. Dia berbaring sejenak, menatap langit-langit, mengingat kembali kejadian kemarin. Sensasi mulut Maya di tubuhnya, bagaimana dia menelan semuanya tanpa ragu, bagaimana tubuhnya bereaksi begitu positif terhadap sentuhannya.
Wingi Bu Maya... nganti ngulu. Ora muntah. Malah ketoke seneng. Dheweke wis ora wedi karo aku maneh. Iki pertanda. Bayiku nang njero wetenge yo butuh aku. Mengko nek ketemu Bu Maya, aku kudu luwih wani sithik. Dheweke wis menehi lampu ijo. (Kemarin Bu Maya... bahkan menelan. Tidak muntah. Malah kelihatannya senang. Dia sudah tidak takut dengan aku lagi. Ini pertanda. Bayiku di dalam perutnya juga membutuhkan aku. Nanti kalau ketemu Bu Maya, aku harus lebih berani sedikit. Dia sudah memberi lampu hijau.)
Pak Karyo bangkit dari tempat tidurnya, bersiap memulai hari dengan semangat baru. Ada sesuatu yang berbeda dalam langkahnya pagi ini—kepercayaan diri yang lebih besar, keyakinan yang lebih kuat. Bu Maya telah memberikan tanda yang jelas. Dan Pak Karyo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
