๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐š๐› ๐Ÿ–๐Ÿ–

 

Wajah Pak Karyo menunjukkan pertempuran batin—antara hasrat fisiknya yang memuncak dan kekhawatiran untuk keselamatan bayinya. Kekhawatiran itu akhirnya menang, dia mengangguk dengan berat.

"Saya ngerti," katanya, bahasanya kini sepenuhnya informal. "Kesehatan Bu Maya sama bayi jauh lebih penting."

Meski begitu, tubuhnya jelas masih dalam kondisi yang sangat terangsang. Pak Karyo beringsut mundur, berusaha meredam hasratnya.

"Maaf ya," gumamnya, tampak malu dengan kondisinya yang sulit disembunyikan.

Maya hanya menatapnya dengan mata setengah terpejam, napasnya masih tidak teratur. Tubuhnya masih bergetar lembut dari sensasi kenikmatan yang baru saja dirasakannya.

Pak Karyo menggelengkan kepala, berusaha mengendalikan diri. Tapi hasratnya yang tertahan terlalu lama, ditambah aroma tubuh Maya dan ingatan akan desahannya, membuat pengendalian diri terasa mustahil.

"Bu Maya..." dia berbisik, kini sepenuhnya menggunakan bahasa informal. "Saya ndak bisa... maksudnya..." Pak Karyo menelan ludah, menunjuk keadaan tubuhnya yang jelas sangat terangsang. "Bu Maya liat sendiri kan keadaan saya?"

Maya mengangguk pelan, matanya tertuju pada tubuh Pak Karyo yang telanjang di hadapannya.

"Saya tau kita ndak bisa... sampe selesai," Pak Karyo melanjutkan, suaranya serak dan rendah. "Tapi mungkin... bisa... pake cara lain? Seperti... waktu program dulu?"

Kalimatnya berakhir dengan nada tanya, penuh kehati-hatian. Dia mengingat bagaimana Maya menggunakan mulutnya selama program kehamilan mereka—sebuah sensasi yang tak pernah bisa dia lupakan meski saat itu dia tidak pernah diizinkan untuk menyelesaikannya di sana.

"Cara yang mana?" Maya bertanya pelan, matanya menatap langsung ke mata Pak Karyo. "Pak Karyo mau aku pake mulut lagi?"

Pak Karyo menelan ludah dengan keras, matanya tertuju ke arah tubuhnya sendiri yang jelas menunjukkan gairah yang tak bisa disembunyikan. "Bu Maya," dia mulai bicara dengan suara rendah, tangannya bergerak canggung menutupi tonjolan di celananya. "Maaf kalau saya lancang... tapi... Bu Maya bisa lihat sendiri kondisi saya."

Maya mengikuti arah pandangan Pak Karyo, wajahnya tetap tenang meski menyadari situasinya.

"Saya... saya ndak bisa nahan," Pak Karyo melanjutkan, napasnya mulai tidak beraturan. "Apa... apa Bu Maya bisa... bantu? Seperti... waktu program dulu."

Maya hanya menatapnya, menunggu Pak Karyo memperjelas maksudnya.

Keringat mulai mengalir di pelipis Pak Karyo. "Maksud saya... dengan... dengan mulut Bu Maya." Dia mengatakannya dengan suara yang hampir berbisik, campuran antara malu dan harapan terlihat jelas di wajahnya.

Maya masih diam, sengaja memberi ruang agar Pak Karyo menyelesaikan permintaannya.

Pak Karyo menelan ludah lagi, kemudian dengan keberanian yang terkumpul, dia melanjutkan. "Tapi... tidak seperti program dulu. Waktu itu, selalu harus berhenti dan... masuk ke..." Dia tergagap, mencari kata yang tepat. "Tapi sekarang Bu Maya sudah hamil, jadi... kalau boleh... saya ingin... selesai di..." Pak Karyo tidak sanggup melanjutkan, wajahnya merah padam.

"Sudah hamil?" Maya melengkapi, menikmati kegugupan Pak Karyo. "Jadi maksudnya...?"

"Saya... boleh minta... Bu Maya mau... kayak dulu?" Pak Karyo akhirnya berhasil merangkai kalimatnya, wajahnya menunjukkan kombinasi antara harapan dan ketakutan akan penolakan.

Maya menatapnya dengan mata setengah terpejam, sengaja mempermainkannya. "Hmm, kayak dulu gimana ya? Pak Karyo mesti lebih jelas."

Pak Karyo menelan ludah lagi. "Bu Maya... pake mulut... kayak waktu program, tapi saya… nggak pindah"

Maya mengangguk perlahan, ekspresinya terkontrol meski jantungnya berdetak lebih cepat. "Jadi maksud Pak Karyo..."

"Di mulut Bu Maya," Pak Karyo akhirnya mampu mengucapkannya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kalau boleh... saya ingin... selesai di mulut Bu Maya.

Di kantornya, Irwan menahan napas menyaksikan adegan ini melalui kamera tersembunyi. Tangannya menggenggam telepon genggamnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak melewatkan sedetik pun meski pandangannya mulai kabur oleh nafsu.

Pak Karyo, dengan keberanian yang terkumpul, melanjutkan. "Dan kalau... kalau Bu Maya tidak keberatan... tidak seperti waktu program dulu..." Dia menelan ludah dengan kesulitan. "Saya ingin Bu Maya... menelannya."

Kata-kata terakhirnya nyaris tak terdengar, diucapkan dengan campuran rasa malu dan harapan yang intens. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah, matanya menunduk tidak berani menatap langsung ke mata Maya.

"Tapi kalau Bu Maya keberatan, saya mengerti," tambah Pak Karyo cepat, takut permintaannya terlalu lancang. "Saya hanya... tidak bisa berhenti memikirkannya sejak... sejak program selesai."

Pak Karyo menelan ludah keras, tidak menyangka Maya akan berbicara sefrontal itu. "K-kalau... Bu Maya mau..." jawabnya dengan suara tercekat.

"Dulu kan nggak boleh," Maya melanjutkan, jarinya menyusuri rahang Pak Karyo dengan gerakan ringan. "Semua harus masuk ke rahim, buat program. Tapi sekarang udah beda ya?"

"Iya, Bu," Pak Karyo berbisik dengan suara penuh harap.

Tanpa kata lagi, Maya berlutut di hadapan Pak Karyo, matanya menatap ke atas dengan sorot menggoda. Jari-jarinya yang lentik mulai meraba bagian depan celana Pak Karyo, merasakan tonjolan keras di baliknya.

"Bu Maya..." Pak Karyo menahan napas, tubuhnya menegang merasakan sentuhan Maya.

Maya tersenyum tipis. "Kangen, Pak?" bisiknya sambil perlahan menurunkan resleting celana Pak Karyo. "Lama nggak ngelakuin ini ya?"

Pak Karyo mengangguk, napasnya mulai tidak beraturan saat Maya menarik turun celananya. "Aduh, Bu..." dia mengerang pelan ketika kejantanannya yang sudah sepenuhnya tegang terbebaskan dari kain yang mengurungnya.

"Wah... tetep gede ya," komentar Maya dengan nada menggoda, tangannya kini menggenggam kejantanan Pak Karyo, menggerakkannya perlahan. "Kangen sama mulut saya?"

"Iya, Bu," Pak Karyo berbisik. "Saya sering... ngayal... waktu sendirian..."

Maya terkekeh pelan. Dia menjilat bibirnya, membuat mereka basah dan mengkilap, lalu mendekatkan wajahnya. Lidahnya terjulur, memberikan jilatan panjang dari pangkal hingga ujung, membuat Pak Karyo menggigit bibir bawahnya.

"Ahh... Bu..." Pak Karyo mendesis. Tangannya bergerak gugup, tidak tahu harus ditempatkan di mana.

"Pegang rambut saya, Pak," instruksi Maya. "Kayak dulu. Jangan ragu-ragu."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Pak Karyo menyisipkan jarinya ke helaian rambut Maya, menggenggamnya lembut pada awalnya. Maya tersenyum puas, kemudian tanpa peringatan, dia membuka mulutnya lebar dan memasukkan kejantanan Pak Karyo sepenuhnya.

"Sssshhh!" Pak Karyo mendesis tajam, pinggulnya refleks bergerak maju. "Ya Tuhan, Bu Maya..."

Suara becek yang khas terdengar saat Maya mulai menggerakkan kepalanya naik turun. "Mmmm... slurp... mmmmph..." Suara-suara itu bercampur dengan erangan tertahan Pak Karyo, menciptakan simfoni erotis yang memenuhi ruangan.

"Bu Maya masih... pinter banget..." Pak Karyo mengerang, genggaman di rambut Maya kini menguat. "Lebih pinter dari... waktu program..."

Maya menggunakan semua teknik yang telah dia sempurnakan selama program kehamilan mereka—mengubah kecepatan secara tiba-tiba, memainkan lidahnya dengan gerakan memutar, dan sesekali melakukan deepthroat yang membuat Pak Karyo hampir kehilangan keseimbangan.

"Gglkk... gglkk..." Suara tersedak terdengar ketika Maya menerima Pak Karyo hingga ke tenggorokannya, matanya berair namun tetap menatap ke atas, menikmati ekspresi kenikmatan di wajah pria itu.

Salah satu tangan Maya bergerak naik, menyusuri paha kekar Pak Karyo hingga mencapai pinggangnya. Jarinya menelusup ke balik kaos yang dikenakan, merasakan otot perut Pak Karyo yang keras dan menantang.

"Bu Maya..." Pak Karyo berbisik, matanya setengah terpejam. "Boleh saya... pegang Bu Maya juga?"

Maya mengangguk tanpa melepaskan bibirnya, mengeluarkan suara "Mmm-hmm" sebagai persetujuan. Tangan besar dan kasar Pak Karyo yang biasa mengurus tanaman perlahan turun, menyentuh sisi wajah Maya dengan kelembutan yang kontras dengan penampilannya, kemudian bergerak ke leher jenjang Maya.

"Mmmmm..." Maya mendesah ketika tangan Pak Karyo menyusup ke dalam bajunya, menyentuh payudaranya yang sensitif karena kehamilan.

"Maaf, Bu," Pak Karyo berbisik, merasakan perubahan pada tubuh Maya. "Beda ya... jadi lebih... gede?"

Maya melepaskan bibirnya sejenak, napasnya terengah. "Iya... jadi lebih sensitif juga," jawabnya dengan suara serak. "Pelan-pelan aja, Pak."

Pak Karyo mengangguk, jari-jarinya kini bergerak lembut membelai puting Maya. Reaksinya luar biasa—Maya merintih pelan dan tubuhnya bergetar.

"Bu Maya suka?" Pak Karyo bertanya, suaranya rendah dan penuh gairah.

"Mmm... suka..." Maya menjawab, matanya terpejam menikmati sentuhan Pak Karyo. "Tapi sekarang... mau fokus ke Pak Karyo dulu."

Maya kembali melanjutkan aktivitas oralnya, kali ini dengan intensitas yang meningkat. Suara-suara basah semakin jelas terdengar—"Slurp... mmm... gluk... slurp..."—sementara tangan Pak Karyo masih aktif membelai payudara Maya.

"Bu, bisa... berdiri sebentar?" Pak Karyo tiba-tiba meminta di tengah desahan.

Maya melepaskan bibirnya, menatap heran. "Kenapa, Pak?"

"Saya mau... Bu Maya juga... merasakan," Pak Karyo menjawab dengan canggung.

Maya mengangguk dan berdiri perlahan. Pak Karyo mengubah posisi mereka, kini Maya berdiri bersandar ke dinding dengan Pak Karyo berlutut di hadapannya.

"Pak Karyo... mau ngapain?" Maya bertanya, napasnya masih tidak beraturan.

"Bu Maya duluan," Pak Karyo menjawab sambil mendorong sarung yang dikenakan Maya ke atas, mengekspos bagian bawah tubuhnya yang tidak tertutup apapun.

"Aahhh..." Maya mendesah panjang ketika merasakan lidah Pak Karyo menyentuh bagian intimnya. Tangannya refleks meremas rambut Pak Karyo, pinggulnya bergerak maju mencari lebih banyak kontak.

Pak Karyo menggunakan teknik yang mengejutkan Maya—lidahnya bergerak dengan presisi, bergantian antara gerakan cepat dan lambat, sesekali menghisap dengan lembut bagian sensitif Maya.

"Ya Tuhan, Pak... gimana bisa... aaahh..." Maya mendesah, kakinya mulai gemetar. Kenikmatan yang diberikan Pak Karyo membuatnya kehilangan kontrol, tubuhnya bergetar dan pinggulnya bergerak tidak beraturan.

"Pak... saya mau... aaahh..." Maya memperingatkan, merasakan gelombang kenikmatan mulai membangun di dalam tubuhnya.

Pak Karyo justru meningkatkan intensitasnya, tangannya kini meremas bokong Maya dengan kuat, mendorong wajahnya semakin dalam.

"AAHH!" Maya menjerit tertahan, tubuhnya mengejang saat klimaks menerjangnya. Tangan Pak Karyo menahannya agar tidak jatuh, sementara mulutnya terus memberikan stimulasi hingga gelombang terakhir surut.

"Pak Karyo..." Maya berbisik lemah, matanya berkabut oleh kenikmatan. "Itu... luar biasa..."

Pak Karyo berdiri perlahan, mencium lembut leher Maya. "Sekarang... giliran saya?"

Maya mengangguk, masih terengah. Mereka mengubah posisi lagi, kini dengan Maya kembali berlutut dan Pak Karyo berdiri tegak.

"Kali ini... mau di mana?" Maya bertanya menggoda.

"Seperti yang Bu Maya bilang tadi," Pak Karyo menjawab dengan suara serak. "Di mulut Bu Maya."

Maya mengangguk dan kembali memulai aktivitasnya, kali ini dengan tempo yang lebih cepat dari awal. Suara-suara basah bergema di ruangan—"Shlurp... mmmm... gllkkk... shlurp..."—sementara tangan Maya aktif membelai bagian lain tubuh Pak Karyo.

"Bu Maya... saya mau..." Pak Karyo memperingatkan setelah beberapa menit, tubuhnya menegang. Tangannya menggenggam erat rambut Maya, napasnya pendek dan cepat.

Namun tidak seperti saat program dulu, Maya tidak berhenti. Dia justru menatap ke atas, matanya bertemu dengan mata Pak Karyo, memberikan persetujuan tanpa kata-kata. Tangannya menggenggam pinggang Pak Karyo, menariknya lebih dekat dan menerima kejantanannya lebih dalam.

Maya tidak berhenti. Alih-alih mundur seperti yang selalu dilakukannya selama program, dia justru semakin dalam menerimanya. Pak Karyo mengerang keras saat mencapai puncaknya, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Untuk pertama kalinya, Maya merasakan sensasi baru itu—hangat, sedikit asin, dengan tekstur yang tidak seperti yang dia bayangkan. Dia menelan semuanya tanpa ragu, matanya tidak lepas dari wajah Pak Karyo yang dipenuhi ekstasi.

"Bu Maya..." Pak Karyo berbisik setelah napasnya mulai teratur. "Itu... luar biasa sekali."

Maya tersenyum kecil, menyeka sudut bibirnya. "Rasanya nggak kayak yang aku bayangin," komentarnya.

"Aneh ya," Pak Karyo tiba-tiba berkata, "Bu Maya ndak muntah? Bukannya selama hamil Bu Maya jadi gampang mual sama bau dan rasa?"

Maya tertegun. Selama kehamilan, hampir semua bau dan rasa membuat perutnya bergolak—parfum Irwan, makanan tertentu, bahkan sabun mandi. Tapi entah bagaimana, tubuh dan aroma Pak Karyo, bahkan rasanya, tidak membuatnya mual sedikitpun.

"Aneh banget," Maya mengakui. "Aku nggak tau kenapa. Mungkin gara-gara..." kata-katanya terhenti, tidak berani mengucapkan pikiran yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Mungkin karena tubuhku tau siapa ayah dari bayi ini, pikir Maya, tapi tentu saja dia tidak mengucapkannya.

"Mungkin gara-gara apa, Bu?" Pak Karyo bertanya, matanya menatap Maya dengan intens.

"Mungkin soalnya Pak Karyo nggak pake parfum atau bahan kimia," Maya menjawab cepat. "Tubuhku kayaknya lebih cocok sama yang alami."

Pak Karyo mengangguk, menerima penjelasan itu. Dia meraih tangan Maya, menggenggamnya dengan lembut. "Terima kasih," bisiknya tulus.

"Buat apa?"

"Untuk... kali ini," Pak Karyo menjawab jujur. "Untuk ndak berhenti di tengah jalan."

Maya tersenyum. "Aku juga... penasaran sih," akunya.

Mereka terdiam beberapa saat, menikmati keintiman momen itu.

"Aku mesti mandi nih," Maya akhirnya berkata, mencairkan suasana.

"Saya juga," Pak Karyo tertawa kecil.

Maya berdiri, merapikan sarungnya yang berantakan. Pak Karyo juga bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Untuk sesaat, mereka hanya berdiri berhadapan, tidak yakin bagaimana mengakhiri momen ini.

"Sampai... nanti, Pak Karyo," Maya akhirnya berkata, kembali ke formalitas.

Pak Karyo mengangguk, memahami kebutuhan untuk kembali ke peran semula. "Sampai nanti, Bu Maya."

Maya berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Langkahnya ringan, tubuhnya rileks dan puas. Tapi pikirannya dipenuhi pertanyaan baru—kenapa tubuhnya sangat kompatibel dengan Pak Karyo? Kenapa dia tidak merasakan mual sedikitpun saat begitu dekat dengan pria itu, bahkan saat menelan sesuatu yang seharusnya membuatnya muntah di kondisi kehamilannya?

Di kamar mandi kamarnya, Maya melihat pantulan dirinya di cermin. Ada kilau baru di matanya, rona cerah di pipinya. Ini bukan hanya efek kehamilan—ini adalah efek dari apa yang baru saja terjadi di bawah.

Apa yang akan terjadi minggu depan, Maya bertanya-tanya, saat dokter bilang aku sudah boleh berhubungan intim lagi?

Pikiran itu membuat darahnya berdesir kembali.

Sementara itu, di kantornya, Irwan bergegas ke kamar mandi pribadinya, mengunci pintu di belakangnya. Dengan napas terengah dan tangan gemetar, dia membuka kemejanya, masih sambil memegang ponsel yang menampilkan rekaman tadi. Bayangan Maya dan Pak Karyo terus memenuhi benaknya saat dia mencapai pelepasannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Irwan berdiri di bawah shower, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Sensasi air yang mengalir di kulitnya membangkitkan bayangan tangan Maya di tubuh Pak Karyo, bibir Maya di tubuh Pak Karyo. Alih-alih muak, dia justru merasakan gelombang kenikmatan baru.

Apa yang terjadi padaku? Irwan bertanya-tanya, bingung dengan reaksi tubuhnya sendiri. Tapi meski dia tidak sepenuhnya memahami, dia tahu satu hal dengan pasti—dia tidak ingin ini berhenti.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com