𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟖𝟕

 


Ruangan itu terasa semakin panas, meski AC berdengung pelan di sudut. Maya merasakan tubuhnya semakin rileks sekaligus semakin waspada pada setiap sentuhan Pak Karyo. Jantungnya berdegup kencang, dan dia yakin Pak Karyo bisa merasakannya di bawah telapak tangannya.

"Bu," Pak Karyo bersuara setelah beberapa saat hening, "untuk menyelesaikan urut ini dengan benar, saya perlu mengurut... area lain juga."

"Area lain?" Maya bertanya, berpura-pura polos.

"Iya, Bu. Kaki dan... paha. Karena semua otot tubuh saling terhubung. Rasa sakit di punggung bawah sering kali berasal dari ketegangan di bagian lain."

Maya berdiam sejenak, pura-pura mempertimbangkan. "Hmm, itu aman buat bayinya kan?"

"Sangat aman, Bu," Pak Karyo meyakinkan. "Justru baik untuk sirkulasi darah ke area panggul. Bagus untuk ibu dan bayi."

Maya melirik sekilas ke arah tempat dia tahu kamera tersembunyi dipasang, hampir seperti mencari persetujuan. Dia bisa membayangkan Irwan di seberang sana, menatap layar dengan napas tertahan.

"Ya udah kalo gitu," Maya akhirnya berkata. "Aku percaya sama Pak Karyo."

Kalimat itu menggantung di udara dengan bobot tersendiri. Pak Karyo mengangguk pelan, tangannya mulai bergerak ke bawah, ke arah kaki Maya.

"Mungkin lebih baik Ibu telentang sekarang," usul Pak Karyo.

Maya menurut, membalikkan tubuhnya perlahan. Sekarang dia berbaring telentang, matanya menatap langsung ke mata Pak Karyo. Sarung yang dikenakannya sedikit tersingkap saat dia bergerak, memperlihatkan sebagian paha mulusnya.

"Aku... sedikit khawatir, Pak," Maya berkata lembut.

"Kenapa, Bu?" Pak Karyo bertanya, tangannya berhenti sejenak.

"Aku... agak malu sama badanku sekarang. Udah mulai berubah gara-gara hamil," Maya mengakui, matanya sedikit menunduk.

Ekspresi Pak Karyo melembut, matanya menatap Maya dengan cara yang membuat jantung wanita itu berdebar lebih kencang.

"Ibu jangan khawatir," katanya dengan suara tenang. "Tubuh wanita hamil itu... indah. Perubahan-perubahan ini justru menunjukkan kehidupan yang sedang tumbuh."

"Beneran?" Maya berbisik.

"Beneran," jawab Pak Karyo, matanya menyiratkan kekaguman tulus. "Ibu... sangat cantik."

Pujian sederhana itu terasa berbeda dari mulut Pak Karyo—lebih jujur, lebih mentah. Wajah Maya memerah, kepercayaan dirinya yang sempat goyah mulai kembali.

"Makasih, Pak," Maya tersenyum, merasakan kehangatan yang tak hanya berasal dari minyak kelapa di tubuhnya.

Pak Karyo mulai memijat kaki Maya, dimulai dari pergelangan kaki, naik perlahan ke betis, kemudian ke lutut. Tangannya bergerak dengan ketegasan seorang ahli, tapi ada kehati-hatian baru dalam sentuhannya. Maya menutup matanya, menikmati sensasi tangan kasar Pak Karyo di kulitnya yang halus.

"Punggungnya udah nggak sakit lagi, Bu?" tanya Pak Karyo sambil tangannya mulai bergerak di atas lutut Maya.

"Mmm, udah enakan," Maya bergumam. "Justru sekarang rasanya tubuhku jadi rileks banget di bagian lain juga."

"Bagus," Pak Karyo mengangguk, tangannya perlahan naik ke paha Maya.

Tangan besar Pak Karyo kini bekerja di paha Maya, memijat otot-otot dengan tekanan yang tepat. Setiap kali jarinya bergerak ke bagian dalam paha, napas Maya sedikit tertahan. Pak Karyo tampaknya menyadari ini, karena gerakannya menjadi sedikit lebih berani, bergerak semakin ke atas dan semakin ke dalam.

"Bu," Pak Karyo berkata pelan, "ada area di paha dalam yang terhubung langsung dengan otot-otot panggul. Kalau Ibu mengizinkan, saya perlu memijat bagian itu juga."

Maya membuka matanya, menatap Pak Karyo lekat-lekat. "Itu... perlu ya?"

"Untuk hasil terbaik, perlu, Bu," jawab Pak Karyo, matanya tak lepas dari Maya.

Maya menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Oke."

Di kantornya, Irwan menyaksikan seluruh adegan dengan napas tertahan. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia telah melepas dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Matanya tak berkedip menatap layar ponselnya.

Tangan Pak Karyo mulai bergerak lebih ke dalam, ke bagian paha Maya yang biasanya tak pernah tersentuh dalam sesi pijat normal. Maya merasakan jantungnya berdegup semakin kencang saat jari Pak Karyo semakin mendekati area pribadinya.

"A-aahh," Maya tak bisa menahan desahan ketika ibu jari Pak Karyo menekan titik tertentu di paha dalamnya, hanya beberapa sentimeter dari celana dalamnya. "Di situ..."

"Sakit, Bu?" tanya Pak Karyo, meski dari nadanya jelas dia tahu itu bukan kesakitan.

"Nggak," Maya menggeleng, matanya setengah terpejam. "Enak..."

Pak Karyo melanjutkan memijat area tersebut, tekanannya bertambah sedikit. Maya bergerak-gerak gelisah, sarungnya tersingkap semakin tinggi tanpa dia sadari.

"Bu," Pak Karyo berkata dengan suara yang lebih berat dari biasanya. "Apa... apa Ibu merasa lebih baik sekarang?"

"Iya," Maya mengangguk, suaranya nyaris berbisik. "Tapi... aku rasa masih ada yang... perlu diatasi."

Mata mereka bertemu, komunikasi tanpa kata terjadi antara keduanya. Maya hanya mengalihkan pandangannya, menggigit bibir bawahnya dengan gugup, menggeser posisinya sedikit—gestur halus yang menciptakan kesempatan tanpa meminta secara langsung.

Keheningan yang penuh tegangan menyelimuti ruangan. Maya bisa merasakan tatapan Pak Karyo pada tubuhnya, tatapan yang berbeda dari biasanya—bukan lagi pandangan seorang pelayan pada majikannya, tapi pandangan seorang pria pada wanita yang diinginkannya.

Pak Karyo menelan ludah, tampak bergulat dengan batinnya sendiri. Tangannya bergerak sedikit ragu, lalu dengan keberanian yang tiba-tiba, jarinya bergerak lebih tinggi, menyentuh tepian celana dalam Maya.

Maya menahan napas, tapi tidak menarik diri. Dia hanya memejamkan mata, ekspresinya campuran antara keterkejutan dan kenikmatan—reaksi yang memberikan izin tanpa kata-kata.

Melihat Maya tidak menolak, jari Pak Karyo sedikit menekan area tersebut, menciptakan gelombang sensasi yang membuat Maya mengerang pelan. Sarungnya kini sudah tersingkap hingga ke pinggangnya, tapi Maya seolah tak menyadarinya.

"Pak," Maya berbisik, matanya setengah terpejam. Suaranya hanya itu, tanpa kelanjutan—seperti pengakuan atas apa yang terjadi, bukan permintaan untuk melanjutkan.

Pak Karyo menatap wajah Maya lekat-lekat, mencari tanda penolakan. Tidak menemukannya, dia memberanikan diri melangkah lebih jauh. Ibu jarinya mulai bergerak dalam pola melingkar di atas kain tipis celana dalam Maya.

"Ahh," Maya mendesah, tubuhnya bereaksi di luar kendalinya. Pinggulnya sedikit terangkat, seolah mencari sentuhan lebih, gerakan naluriah yang tak bisa ditahannya.

Keberanian Pak Karyo tumbuh melihat respons Maya. Tangannya yang tadinya ragu kini bergerak dengan lebih percaya diri. Jari-jarinya menyusup di bawah tepian celana dalam Maya, langsung menyentuh kulit sensitif di bawahnya.

"Nnnhh!" Maya mengerang lebih keras, matanya terbuka lebar dengan keterkejutan. Napasnya terputus-putus, dadanya naik turun cepat.

Di kantornya, Irwan menyaksikan seluruh adegan dengan tubuh menegang. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia telah melepas dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Matanya tak berkedip menatap layar ponselnya, menyaksikan istrinya merespons sentuhan pria lain.

Kembali di ruang keluarga, Pak Karyo semakin berani. Tangannya kini bergerak dengan tujuan yang jelas, tidak lagi berpura-pura ini bagian dari urut tradisional. Maya hanya bisa menerima, tubuhnya bergetar dengan setiap sentuhan.

"Bu Maya..." Pak Karyo berbisik, suaranya dalam dan penuh hasrat.

Maya membuka matanya, menatap Pak Karyo dengan pandangan berkabut. Dalam matanya ada izin diam, pengakuan atas keinginan yang sama. Tanpa kata-kata lagi, Pak Karyo melanjutkan eksplorasinya, jari-jarinya bergerak lebih dalam, menemukan area yang telah lembab dengan gairah.

"Ah!" Maya tersentak, pinggulnya refleks bergerak mengikuti irama jari Pak Karyo. "Ahh... Pak..."

Sentuhan Pak Karyo terampil dan tepat sasaran, seperti tahu persis apa yang dibutuhkan Maya. Berbeda dengan sentuhan Irwan yang selalu terlalu lembut, terlalu hati-hati, jari Pak Karyo bergerak dengan keyakinan seorang pria yang memahami tubuh wanita.

Maya merasakan gelombang kenikmatan mulai membangun dalam dirinya, lebih cepat dan lebih intens dari yang pernah dia rasakan. Entah karena hormon kehamilan atau karena situasi yang terlarang ini, sensasinya jauh melampaui pengalamannya selama ini.

"Pak... Karyo..." Maya mendesah, tangannya mencengkeram matras di bawahnya, tubuhnya mulai bergetar.

Pak Karyo mempercepat gerakannya, matanya tak lepas dari wajah Maya yang kini memerah dengan gairah. Dia merasakan tubuh Maya mulai menegang, tanda kenikmatan yang semakin dekat.

"Terusin..." bisik Maya di antara napasnya yang terengah-engah, kata pertama yang benar-benar terdengar seperti permintaan langsung.

Dorongan terakhir dari jari Pak Karyo membawa Maya ke puncak kenikmatan yang meledak. Tubuhnya melengkung, kepalanya terlempar ke belakang, dan jeritan tertahan lolos dari bibirnya. Seluruh tubuhnya bergetar dalam gelombang kenikmatan yang berkepanjangan, intensitasnya dipertinggi oleh hormon kehamilan yang mengalir deras dalam tubuhnya.

Saat tubuhnya mulai tenang, Maya membuka matanya perlahan. Tatapannya bertemu dengan Pak Karyo, yang menatapnya dengan campuran kekaguman dan hasrat yang belum terpuaskan. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap, napas keduanya masih terengah.

"Bu..." Pak Karyo akhirnya bersuara, suaranya serak. "Saya..."

Tatapannya intens, penuh keraguan dan hasrat yang tertahan terlalu lama. Maya hanya menatapnya balik, napasnya masih tidak teratur, tidak mendorong tapi juga tidak menolak.

Keheningan itu menjadi jawaban yang Pak Karyo butuhkan. Perlahan, dengan gerakan yang masih ragu-ragu, dia bergeser mendekati Maya. Tangannya yang besar meraih bahu telanjang Maya, menyentuhnya dengan kehati-hatian seolah Maya adalah barang antik yang rapuh.

"Ini... beneran terjadi?" bisiknya, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.

Maya tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menutup matanya dan sedikit memiringkan kepalanya, ekspos lehernya yang jenjang. Gerakan tubuh yang menjadi undangan tanpa suara.

Pak Karyo menelan ludah, lalu memberanikan diri menunduk, bibirnya menyentuh lembut pundak Maya. Ciuman pertama itu singkat, hampir seperti uji coba. Ketika Maya tidak menarik diri, Pak Karyo menjadi lebih berani. Bibirnya kembali menekan kulit Maya, kali ini lebih lama, lebih mantap.

"Mmm," Maya mendesah pelan, suara yang memberi Pak Karyo keberanian lebih.

Ciuman Pak Karyo mulai menjalar naik ke leher Maya, lalu ke belakang telinganya. Tangannya yang semula hanya menyentuh bahu kini mulai bergerak. Telapak tangannya yang kasar menelusuri punggung telanjang Maya, perlahan turun ke pinggangnya.

Maya merasakan kulit kasarnya menggesek kulitnya sendiri yang halus, menciptakan sensasi yang membuat seluruh tubuhnya merinding. Berbeda dengan sentuhan Irwan yang selalu terlalu lembut, tangan Pak Karyo membawa kenikmatan yang berbeda—lebih kasar, lebih menuntut, lebih jantan.

"Kulit Ibu... halus sekali," Pak Karyo berbisik di telinga Maya, napasnya hangat dan berat.

Tangan Pak Karyo bergerak ke depan, awalnya ragu-ragu, lalu dengan keyakinan yang bertambah, mulai menangkup payudara Maya dari luar sarungnya. Maya tersentak, mengeluarkan desahan yang lebih keras dari sebelumnya.

"Maaf," Pak Karyo cepat-cepat menarik tangannya.

"Jangan," Maya menahan tangan Pak Karyo, mengembalikannya ke tempat semula. "Jangan berhenti..."

Kata-kata itu menjadi pemicu. Seolah bendungan yang menahan hasratnya selama berbulan-bulan akhirnya jebol, Pak Karyo menarik Maya ke dalam pelukannya. Bibirnya menemukan bibir Maya, menciumnya dengan intensitas yang membuat Maya terengah.

Di kantornya, Irwan menyaksikan ciuman itu dengan mata terbelalak, tangannya meremas tepian meja. Getaran aneh yang merupakan campuran cemburu dan gairah menjalar di tubuhnya.

Tangan Pak Karyo semakin berani, kini menyelinap di bawah sarung Maya, langsung menyentuh payudaranya yang telanjang. Jarinya bermain di puncak payudara Maya yang menegang, menciptakan sensasi yang membuat Maya mengerang dalam ciuman mereka.

"Aaahhh... Pak..." Maya mendesah saat bibir mereka terpisah untuk mengambil napas.

"Maya..." Pak Karyo berbisik, kali pertama menyebut nama depan Maya tanpa embel-embel "Bu".

Mendengar namanya disebut begitu intim, Maya merasakan gelombang hasrat baru menyapu tubuhnya. Tangannya melingkar di leher Pak Karyo, menariknya untuk ciuman lain yang lebih dalam.

Pak Karyo kini sepenuhnya menindih Maya, tubuh besar dan kuatnya mendominasi tubuh Maya yang lebih kecil. Tangannya tak pernah diam, menjelajahi setiap inci tubuh Maya yang bisa dijangkaunya—dari payudara turun ke perut, lalu ke pinggul dan paha. Gerakannya seperti pria yang kelaparan, akhirnya diberi kesempatan untuk menikmati hidangan yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jauh.

"Maya cantik sekali," bisik Pak Karyo, bahasa formalnya perlahan luntur seiring hasratnya yang memuncak. "Saya udah kepengen ini... dari lama banget..."

Maya hanya bisa mengerang sebagai jawaban, tubuhnya bereaksi liar pada setiap sentuhan Pak Karyo. Tangannya sendiri mulai bergerak, meraba dada bidang Pak Karyo dari luar kemejanya.

Dengan gerakan cepat, Pak Karyo melepas kemejanya, mengekspos tubuh yang berotot. Kulitnya yang kecoklatan dan keras oleh kerja fisik bertahun-tahun menciptakan kontras tajam dengan kulit Maya yang putih dan lembut.

"Pak Karyo..." Maya berbisik, tangannya menelusuri otot-otot dada Pak Karyo dengan takjub.

Pak Karyo kembali mencium Maya, lebih dalam dan lebih menuntut. Tangannya turun ke bawah, kembali menemukan area sensitif yang telah basah. Jarinya melanjutkan eksplorasinya, kali ini dengan intensitas yang membuat Maya tersentak berkali-kali.

"Ahhh! Ahh!" Maya mengerang, pinggulnya bergerak liar mengikuti irama jari Pak Karyo.

Pak Karyo membawa Maya ke puncak kenikmatannya yang kedua, lebih intens dari yang pertama. Tubuh Maya mengejang hebat, punggungnya melengkung, dan jeritan tertahan lolos dari bibirnya. Jarinya mencengkeram bahu Pak Karyo, meninggalkan bekas kuku di kulit kecoklatan itu.

Saat tubuh Maya mulai tenang dari gelombang kenikmatannya, Pak Karyo melepas sarungnya sendiri, mengekspos tubuh bagian bawahnya yang telah menegang sempurna. Maya menatapnya dengan mata setengah terpejam, napasnya masih tidak teratur.

Pak Karyo memposisikan dirinya di antara kaki Maya, bersiap untuk menyatukan tubuh mereka. Tangannya memegang pinggul Maya dengan lembut namun mantap.

"Maya..." dia berbisik, meminta izin terakhir.

Kesadaran tiba-tiba menyentak Maya. "Bentar," dia berkata cepat, tangannya menahan dada Pak Karyo. "Aku... belum boleh."

Pak Karyo berhenti, kebingungan terpancar di wajahnya. "Belum boleh gimana, Bu?"

"Dokter kandunganku," Maya menjelaskan, napasnya masih terengah. "Dia bilang aku belum boleh... ngelakuin itu sampe minggu depan. Buat jaga... bayi kita."

Frase "bayi kita" membuat Pak Karyo tersentak. Matanya melebar, menyadari arti dari kata-kata tersebut. Ini pertama kalinya Maya secara verbal mengakui bahwa bayi dalam kandungannya adalah anak Pak Karyo juga.

"Bayi... kita?" Pak Karyo mengulang, suaranya penuh emosi.

Maya mengangguk pelan, tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Iya. Tapi aku mesti jaga... keselamatannya."

Di kantornya, Irwan bergetar mendengar pengakuan itu. Alih-alih cemburu, dia merasakan gelombang gairah aneh yang semakin intens.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com