𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟖𝟔

 

Maya mengerjapkan mata, perlahan bangun dari tidur siangnya. Rasa pusing yang tadi menderanya sudah hilang, berganti dengan perasaan segar yang nyaman. Aroma minyak aromaterapi masih samar tercium di udara.

"Udah bangun, Say?" suara Irwan terdengar dari arah dapur.

Maya menegakkan badannya, merapikan kimono yang sedikit berantakan. "Udah," jawabnya, suaranya masih serak. "Kamu kok udah pulang?"

Irwan muncul dari dapur dengan segelas air di tangannya. "Meeting sore dibatalin, jadi aku pulang aja. Nih, minum dulu."

Maya menerima gelas itu dengan senyum tipis. "Makasih."

Irwan duduk di sofa seberang, mengendurkan dasinya. "Tadi aku liat kamu tidur pules banget. Pak Karyo bilang dia mijit kamu terus kamu ketiduran."

"Iya," Maya mengangguk, menyesap airnya perlahan. "Pijatannya... enak banget. Bikin semua capeknya ilang."

Irwan mengamati istrinya dengan seksama. Ada semburat merah samar di pipi Maya saat membahas pijatan Pak Karyo. "Pak Karyo emang jago ya mijitnya?" Irwan bertanya, nada suaranya ringan tapi penuh arti.

Maya menatap Irwan sesaat, mencoba menebak apa yang ada di benak suaminya. "Jago banget," jawabnya akhirnya. "Tau semua titik yang bikin... rileks."

"Hmm," Irwan mengangguk, matanya tak lepas dari Maya. "Kayaknya kamu harus sering-sering minta pijat sama dia deh. Apalagi nanti kalo udah masuk trimester kedua, katanya punggungnya tambah sakit."

Maya tertegun. Meski mereka sudah membicarakan tentang "melanjutkan" dengan Pak Karyo, tetap saja mendengar Irwan terang-terangan mendorongnya terasa aneh. "Kamu... beneran nggak masalah?"

"Kenapa harus masalah? Ini kan buat kebaikan kamu juga," Irwan tersenyum. "Lagian, aku juga suka liat kamu... diperhatiin."

Maya menggigit bibir bawahnya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Kamu aneh, tau nggak?"

"Kita berdua aneh," Irwan tertawa kecil. "Tapi kita jujur sama perasaan kita, itu yang penting."


Hari-hari berlalu tanpa terasa. Maya semakin sering meminta bantuan Pak Karyo—baik untuk menyiapkan jamu anti mual, memijat punggungnya yang semakin nyeri, atau sekedar menemaninya saat Irwan lembur di kantor.

Maya mulai masuk minggu ke-11 kehamilannya. Perutnya mulai terlihat lebih membuncit, dan beberapa pakaiannya sudah mulai terasa sempit. Pagi itu, dia berdiri di depan cermin kamar tidur, mengamati tubuhnya dengan seksama. Tangan Maya bergerak mengelus perut mungilnya yang mulai tampak. Ada rasa bangga sekaligus khawatir yang bercampur aduk.

Apa Pak Karyo masih bakal tertarik sama aku dengan badan kayak gini? Pikiran itu tiba-tiba muncul, mengejutkan Maya sendiri. Sejak kapan dia peduli apakah Pak Karyo tertarik padanya atau tidak?

Lamunannya terhenti oleh suara ketukan di pintu kamar.

"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya," Irwan muncul, sudah rapi dengan setelan kerjanya. Melihat ekspresi Maya, dia menambahkan, "Kenapa? Ada yang sakit?"

Maya menggeleng. "Nggak, aku cuma... liatin perut aku yang makin gede."

Irwan mendekatinya, tapi tetap menjaga jarak—kebiasaan baru sejak aroma tubuhnya mulai membuat Maya mual. "Kamu cantik kok," ujarnya tulus. "Tapi aku tau apa yang bakal bikin kamu lebih baik. Kenapa nggak minta Pak Karyo mijit kamu lagi aja? Kayaknya belakangan punggung kamu sakit terus kan?"

"Hmm, kayaknya bener juga," Maya mengangguk, melirik jam dinding. "Kamu pulang jam berapa hari ini?"

"Mungkin agak malem. Ada meeting sama klien dari Singapura." Irwan meraih tas kerjanya. "Oh iya, gimana kalo nanti malem kamu minta Pak Karyo untuk ngurut kamu? Bukan cuma pijat biasa, tapi yang tradisional itu lho."

Maya mengangkat alisnya. "Ngurut?"

"Iya, pijat tradisional yang lebih... intensif. Kayaknya bagus buat otot-otot kamu yang tegang."

Maya menangkap kilatan di mata Irwan. Dia sengaja, batinnya. "Hmm, boleh dicoba sih. Emangnya beda ya sama pijat biasa?"

"Katanya lebih manjur," Irwan mengedikkan bahu dengan sikap pura-pura tidak tahu. "Tanya aja langsung sama Pak Karyo. Dia pasti tau."

Setelah Irwan pergi, Maya duduk di tepi tempat tidur, memikirkan saran suaminya. Permainan apa yang sedang mereka mainkan sebenarnya? Tapi Maya tak bisa menyangkal, ada bagian dalam dirinya yang berdebar menantikan interaksi berikutnya dengan Pak Karyo.


Sore itu, Maya pulang lebih awal dari kantor, tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Nyeri di punggung bawahnya semakin parah, membuatnya sulit berkonsentrasi seharian di kantor. Begitu sampai rumah, dia langsung mencari Pak Karyo.

"Pak Karyo," Maya memanggilnya saat melihat pria itu sedang menyiram tanaman di halaman belakang.

Pak Karyo berbalik, sedikit terkejut melihat Maya sudah pulang. "Selamat sore, Bu. Pulang cepat hari ini?"

"Iya," Maya mengangguk, satu tangannya menopang punggung bawahnya. "Punggungku sakit banget. Kayaknya butuh bantuan Bapak lagi."

Mata Pak Karyo turun ke tangan Maya yang menopang punggungnya. "Tentu, Bu. Mari saya bantu." Dia meletakkan selang air dan dengan sigap menghampiri Maya.

Di ruang keluarga, Maya duduk di sofa panjang sementara Pak Karyo membawakan air hangat dan handuk kecil untuknya.

"Mungkin Ibu mau ganti baju dulu biar lebih nyaman?" saran Pak Karyo.

Maya mengangguk. "Iya, tunggu sebentar ya." Dia beranjak ke kamar, mengganti blazer dan rok kantor dengan kaos longgar dan celana pendek. Saat kembali ke ruang keluarga, dia melihat Pak Karyo sudah menyiapkan bantal dan minyak pijat.

"Mari, Bu," Pak Karyo menunjuk sofa yang sudah dilapisi handuk. "Tiduran aja."

Maya menurut, berbaring tengkurap di sofa. Segera setelah jari-jari Pak Karyo menyentuh punggungnya, dia merasakan sedikit kelegaan. Pak Karyo mulai memijat dengan tekanan yang tepat, dari bahu turun ke punggung atas.

"Mmm," Maya mendesah pelan. "Enak banget, Pak."

Pak Karyo melanjutkan pijatannya dalam diam, tangannya bergerak terampil di atas punggung Maya. Ketika tangannya mencapai area punggung bawah, tepat di atas tulang ekor, Maya tiba-tiba tersentak dan mengerang keras.

"Aduh!" jeritnya, tubuhnya menegang.

Pak Karyo segera menghentikan gerakan tangannya. "Maaf, Bu. Sakit ya?"

"Iya," Maya mengangguk, napasnya terengah. "Di situ... kayaknya ada yang salah. Padahal sebelumnya nggak pernah sesakit ini."

Pak Karyo mengerutkan keningnya. "Sepertinya ada kram otot yang parah. Ijinkan saya periksa?"

Maya mengangguk, dan Pak Karyo kembali menyentuh area tersebut dengan lebih hati-hati. Meski begitu, Maya tetap mengerang kesakitan, bahkan sedikit lebih keras dari sebelumnya.

"ADUH!" Maya meringis, tangannya mencengkeram bantal sofa. "Sakit banget, Pak."

Pak Karyo terlihat khawatir. "Ini nggak normal, Bu. Mungkin ada hubungannya dengan kehamilan Ibu. Otot-otot punggung bawah bekerja lebih keras karena harus menyangga berat tambahan."

Maya menggigit bibirnya. "Terus gimana dong? Aku nggak tahan kalo harus ngerasain sakit kayak gini terus."

Pak Karyo tampak ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Saya... bisa ngelakuin pijat yang lebih intensif, Bu. Tapi..."

"Tapi apa?" Maya bertanya cepat, berbalik sedikit untuk bisa melihat wajah Pak Karyo.

"Itu teknik tradisional, namanya urut. Lebih... mendalam dari pijat biasa."

"Oh!" Maya teringat pembicaraannya dengan Irwan pagi tadi. "Urut itu ya yang Irwan maksud tadi pagi."

"Pak Irwan... menyarankan itu?" tanya Pak Karyo hati-hati.

"Iya, dia bilang mungkin aku butuh yang lebih intensif dari pijat biasa," Maya menjelaskan, sengaja membuat suaranya terdengar polos. "Emang beda ya sama pijat biasa?"

Pak Karyo bergeser sedikit, jelas tak nyaman. "Berbeda, Bu. Urut itu lebih... intim. Melibatkan tekanan yang lebih dalam dan kadang perlu... lebih banyak sentuhan langsung ke kulit."

Maya tampak berpikir. "Itu aman buat kehamilanku kan?"

"Selama dilakukan dengan benar, aman, Bu," Pak Karyo meyakinkan. "Nenek saya dulu tukang urut, saya belajar banyak dari beliau. Saya juga sering melakukannya untuk istri saya waktu hamil dulu."

"Hmm," Maya menggumam, pura-pura mempertimbangkan. "Kalo emang bisa ngilangin sakitnya, aku mau kok. Tapi..." dia menatap Pak Karyo ragu, "kalo emang harus lebih... intim, apa nggak apa-apa? Maksudku, apa Pak Karyo nggak keberatan?"

"Saya..." Pak Karyo menelan ludah, "saya nggak keberatan sama sekali jika itu membantu Ibu."

Maya menatap Pak Karyo beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk. "Oke, aku percaya sama Pak Karyo. Kita coba ya."

"Baik, Bu. Tapi untuk urut yang benar, kita perlu alas yang lebih keras dari sofa. Biasanya di lantai dengan kasur tipis. Dan..." Pak Karyo terlihat ragu, "Ibu perlu mengenakan pakaian yang lebih... longgar. Seperti sarung, supaya saya bisa mengakses otot-otot dengan lebih baik."

"Oh," Maya mengerjap, berusaha terlihat terkejut. "Aku harus ganti baju lagi dong? Ada sarung di lemari Irwan kayaknya."

"Kalau Ibu tidak keberatan," Pak Karyo mengangguk.

"Nggak apa-apa kok," Maya tersenyum tipis. "Asal bisa ngilangin sakitnya, aku mau."

Maya beranjak ke kamar, meninggalkan Pak Karyo yang terlihat tegang. Saat sendirian di kamar, dia mengambil sarung dari lemari Irwan, lalu melirik ke arah kamera tersembunyi yang dipasang Irwan di sudut kamar. Maya memberikan senyum samar ke arah kamera, tahu persis bahwa suaminya sedang menonton atau akan menonton rekaman ini nanti.

Dia mengganti pakaiannya dengan sarung yang diikat di bawah ketiaknya, menutupi dari dada hingga mata kaki, namun membiarkan bahu dan sebagian punggungnya terbuka. Maya juga melepas branya, menyisakan hanya celana dalam di balik sarung tersebut.

Oke, ayo kita lihat seberapa profesional Pak Karyo bisa bertahan, pikirnya sambil tersenyum kecil.

Kembali ke ruang keluarga, Maya melihat Pak Karyo sudah menyiapkan matras tipis di lantai, lengkap dengan bantal kecil. Dia juga menyiapkan sebotol minyak kelapa yang tampak berbeda dari minyak pijat biasa.

"Sudah siap, Bu," Pak Karyo berkata, tapi napasnya tertahan saat melihat Maya kembali dalam balutan sarung yang diikat di bawah ketiaknya.

Maya menangkap reaksi Pak Karyo dan merasa percaya dirinya kembali sedikit. Setidaknya dia masih bisa membuat pria itu terpesona, meski perutnya mulai membuncit.

"Ini... udah bener kan pakainya?" tanya Maya, sengaja menarik-narik sedikit sarungnya seolah memastikan.

"Su-sudah benar, Bu," jawab Pak Karyo, berusaha keras menjaga matanya tetap pada wajah Maya. "Silakan berbaring tengkurap di matras."

Maya menurut, perlahan memposisikan diri di matras. Sarung yang dia kenakan sedikit tersingkap, memperlihatkan sebagian pahanya saat dia bergerak. Pak Karyo menelan ludah, lalu berdeham untuk menjernihkan tenggorokannya.

"Saya akan mulai dengan minyak kelapa hangat, Bu," Pak Karyo menjelaskan sambil menuangkan minyak ke telapak tangannya. "Minyak ini bagus untuk mengendurkan otot dan melancarkan peredaran darah."

"Mmm," Maya mengangguk, menaruh kepalanya di bantal. "Kedengarannya enak."

Ketika tangan besar Pak Karyo pertama kali menyentuh punggung telanjangnya, Maya tak bisa menahan desahan pelan. Minyak kelapa yang hangat memberikan sensasi menenangkan sekaligus menggetarkan. Aroma manis kelapa bercampur dengan aroma natural tubuh Pak Karyo – kombinasi yang anehnya tidak membuat Maya mual, tidak seperti parfum Irwan.

"Ibu rileks aja ya," Pak Karyo berkata sambil mulai menggerakkan tangannya dalam pola melingkar di punggung atas Maya.

"Iya," Maya memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi.

Pak Karyo bekerja dalam diam, tangannya bergerak dari bahu turun ke punggung tengah. Teknik urutnya jauh berbeda dari pijatan biasa – tekanannya lebih dalam, lebih menyeluruh, seolah meresap jauh ke dalam otot dan tulang. Maya bisa merasakan jari-jari kuat Pak Karyo menekan titik-titik tertentu di tulang belakangnya, mengirimkan gelombang kelegaan ke seluruh tubuhnya.

Saat tangan Pak Karyo mendekati area punggung bawah yang sensitif, Maya refleks menegangkan tubuhnya.

"Saya akan lebih hati-hati di bagian ini, Bu," Pak Karyo meyakinkan. "Bilang kalau terlalu sakit ya."

"Oke," Maya menjawab, bersiap merasakan sakit seperti sebelumnya.

Tapi kali ini, Pak Karyo menggunakan teknik berbeda. Tangannya bergerak dengan tekanan bertahap, mengurai simpul otot dengan gerakan halus namun efektif. Saat jarinya menekan titik sensitif di punggung bawah Maya, dia segera mengerang—tapi bukan karena sakit seperti sebelumnya.

"Ahhh!" Maya tersentak, lebih keras dari yang dia perkirakan. "Di situ..."

"Sakit, Bu?" Pak Karyo bertanya khawatir.

"Nggak... nggak sakit," Maya menggeleng, wajahnya memanas. "Malah... enak."

Pak Karyo diam sejenak, jelas menangkap nada dalam suara Maya. Tangannya melanjutkan dengan tekanan yang sama pada titik tersebut, membuat Maya mengerang lagi.

"Memang itu titik penting, Bu," Pak Karyo berkata, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Bisa meredakan banyak masalah di area panggul juga, yang penting untuk ibu hamil."

Maya merasakan tangannya yang berminyak bergerak sedikit lebih rendah dari sebelumnya, hampir menyentuh tulang ekornya. Sensasi hangat menjalar dari titik tersebut ke area intim di bawahnya.

"Selama hamil," Maya berkata tiba-tiba, suaranya sedikit terputus-putus, "kayaknya... tubuhku lebih sensitif dari biasanya."

"Itu normal, Bu," Pak Karyo menjelaskan, jarinya masih bekerja di titik yang sama. "Darah mengalir lebih banyak ke semua bagian tubuh, terutama... area-area sensitif."

Irwan, yang sedang duduk di kantornya dengan telepon genggam menempel di telinga, menyaksikan seluruh adegan ini melalui kamera tersembunyi. Tubuhnya menegang melihat interaksi intim antara istrinya dan Pak Karyo. Dia melonggarkan dasinya, napasnya mulai tidak teratur.

Kembali di ruang keluarga, Maya merasakan tangan Pak Karyo perlahan turun ke area pinggang dan pinggulnya. Kulit kasar dengan kapalan di telapak tangannya menciptakan friksi yang menyenangkan di kulit Maya.

"Aku baru tau kalo urut beda banget sama pijat biasa," Maya berkomentar, suaranya lebih dalam dari biasanya.

"Memang beda, Bu," jawab Pak Karyo. "Urut lebih fokus untuk... menyelesaikan masalah dari dalamnya."

Maya tersenyum kecil mendengar pilihan kata Pak Karyo, ada makna ganda yang tidak luput dari perhatiannya. "Dari dalamnya ya?" gumamnya. "Emang kadang-kadang... yang di dalam perlu... diurus juga."

Tangan Pak Karyo sedikit terhenti mendengar komentar itu, sebelum melanjutkan dengan gerakan yang sedikit lebih lambat. "Benar, Bu," jawabnya hati-hati.

Saat tangan Pak Karyo bergerak ke sisi tubuhnya untuk mengurut area rusuk, jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh sisi payudara Maya. Maya tersentak kecil, tapi tidak menegur atau mundur.

Dia sengaja atau nggak ya? Maya bertanya-tanya, tapi tidak menyuarakan pikirannya.

"Maaf, Bu," Pak Karyo cepat-cepat berkata.

"Nggak apa-apa kok," Maya menjawab santai. "Namanya juga lagi diurut."

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com