𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟖𝟓

 

Cahaya matahari pagi menerobos sela-sela tirai, jatuh tepat di wajah Maya. Dia mengerang pelan, tangannya dengan cepat menutupi mata. Tak hanya silau yang mengganggunya, tapi juga sensasi familiar yang mulai mengaduk perutnya.

"Ughh..." Maya mengeluh, bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi.

Dari bawah selimut, Irwan mengintip jam digital di samping tempat tidur: 06:30. Dia mendengarkan suara muntahan istrinya dari kamar mandi, suara yang semakin akrab dalam beberapa minggu terakhir. Morning sickness Maya semakin parah—tepat seperti prediksi dokter kandungannya tentang memasuki minggu kesepuluh kehamilan.

Ini beneran nggak fair, batin Irwan sambil beranjak bangun, justru pas kita udah mutusin mau "main" lagi sama Pak Karyo, morning sickness Maya malah makin parah.

Sesampainya di ambang pintu kamar mandi, Irwan melihat Maya terduduk lemas di lantai, bersandar pada dinding di samping toilet. Wajahnya pucat, rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian wajah.

"Parah banget ya Say, pagi ini?" tanya Irwan lembut.

Maya hanya mengangguk lemah. "Kayaknya makin lama makin parah deh," jawabnya dengan suara serak. "Dokter Ratna bilang minggu sepuluh sampai dua belas memang puncaknya morning sickness."

Irwan berlutut di sampingnya, berniat membelai rambut Maya, tapi istrinya langsung memalingkan wajah.

"Jangan dulu... baunya..." Maya menutup hidungnya. "Maaf, Say..."

Irwan mundur, tangannya terangkat dalam gestur menyerah. "Nggak apa-apa kok. Mau aku bikinin sarapan nggak? Toast sama teh chamomile aja kali ya?"

Maya mengangguk lemah. "Boleh, tapi jangan pake parfum atau deodoran dulu ya. Aku serius nggak tahan baunya."

"Sip. Aku mandi air dingin aja biar nggak bau," Irwan tersenyum, berusaha mencairkan suasana. "Aku turun duluan ya."


Di dapur, Irwan sibuk menyiapkan roti panggang dan teh chamomile saat mendengar langkah kaki dari pintu belakang. Pak Karyo masuk dengan keranjang berisi sayuran segar.

"Selamat pagi, Pak," sapa Pak Karyo sopan seperti biasa.

"Pagi, Pak Karyo," jawab Irwan, matanya melirik jam dinding. Masih jam 7 pagi, tapi Pak Karyo sudah rapi dan sepertinya baru kembali dari pasar.

"Ibu sudah bangun, Pak?" tanya Pak Karyo sambil meletakkan keranjang di meja dapur.

"Udah sih, tapi lagi nggak enak badan banget. Morning sickness-nya makin parah aja."

Pak Karyo mengangguk penuh pengertian. "Memang biasanya begitu, Pak. Istri saya dulu juga sama waktu hamil anak kedua. Tiga bulan pertama susah makan."

Irwan terdiam sejenak, menatap roti panggang yang sedang dia siapkan. Topik kehamilan selalu menciptakan momen canggung antara mereka—pengetahuan tak terucapkan bahwa bayi dalam kandungan Maya adalah hasil benih Pak Karyo, meski secara hukum dan sosial akan menjadi anak Irwan.

"Bapak mau saya bantu siapkan sarapan untuk Ibu?" tawar Pak Karyo.

"Boleh, tapi dia kayaknya nggak nafsu makan. Tiga hari terakhir sarapannya hampir nggak disentuh."

Pak Karyo terlihat berpikir sejenak, lalu berkata, "Saya punya resep jamu dari nenek saya dulu, Pak. Khusus untuk ibu hamil yang mual. Kebetulan tadi saya ke pasar dan beli bahan-bahannya."

"Jamu?" Irwan mengangkat alis.

"Iya, Pak. Jahe merah, kencur, kunyit, asam jawa, sama gula aren. Aman untuk ibu hamil, Pak. Istri saya dulu minum ini waktu hamil anak-anak kami, langsung enakan."

Irwan menimbang sejenak. Maya selalu skeptis dengan pengobatan tradisional, lebih percaya pada medis modern. Tapi melihat kondisinya yang semakin memburuk...

"Boleh dicoba," Irwan akhirnya mengangguk. "Tolong buatin ya, Pak."

"Baik, Pak. Sebentar saja."

Pak Karyo membalikkan badan dan tertegun melihat Maya sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Maya cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Beberapa menit kemudian, aroma hangat dan sedikit pedas mengisi dapur. Pak Karyo menuangkan cairan berwarna kuning kemerahan ke dalam gelas kecil.

"Ini sudah jadi, Pak. Lebih baik diminum selagi hangat."

Maya muncul di ambang pintu dapur, masih lemas dalam balutan kimono satin birunya. "Pagi semuanya," sapa Maya lemah, menyelipkan sejumput rambut di belakang telinganya dengan gerakan yang entah mengapa membuat Pak Karyo menelan ludah.

"Pagi, Bu," Pak Karyo menunduk hormat.

"Kamu udah kuat turun?" tanya Irwan khawatir, mendekati Maya tapi berhenti beberapa langkah darinya, ingat masalah sensitivitas bau.

"Ya mau gimana lagi. Nggak tahan rasanya terus-terusan di kamar mandi," Maya menghela napas, matanya menangkap gelas berisi cairan kuning keemasan di tangan Pak Karyo. "Itu apa?"

"Jamu untuk mual, Bu," jawab Pak Karyo. "Resep nenek saya dulu, khusus untuk ibu hamil."

Maya menatap gelas itu ragu. Sejujurnya, dia tidak pernah suka jamu—rasanya yang pahit dan teksturnya yang kasar selalu membuatnya mual. Tapi dalam kondisinya sekarang, apa saja yang bisa membantu patut dicoba.

"Boleh aku coba?" Maya mengulurkan tangannya.

Pak Karyo menyerahkan gelas kecil itu. Tangan mereka bersentuhan sekilas—kontras antara telapak tangan Maya yang halus dan tangan Pak Karyo yang kasar menciptakan sensasi aneh yang mengalir dari ujung jari ke sekujur tubuh Maya.

Sentuhan yang hanya sedetik itu membangkitkan ingatan tentang bagaimana tangan yang sama pernah menjelajahi setiap inci tubuhnya, menekan titik-titik yang bahkan Maya sendiri tak tahu bisa memberinya kenikmatan. Pipi Maya merona tanpa bisa dicegah.

Maya mengangkat gelas ke hidungnya, mencium aromanya. Hangat, sedikit pedas, tapi tidak terlalu menyengat. Dengan ragu, dia meneguk sedikit.

"Hmm," Maya mengernyit, menyiapkan diri untuk rasa pahit yang biasa ditemukan dalam jamu. Tapi alih-alih pahit, yang dia rasakan adalah campuran manis gula aren dan hangat jahe yang menenangkan. "Enak..."

"Habiskan, Bu," dorong Pak Karyo. "Nanti efeknya lebih terasa."

Maya menurut, meneguk habis jamu tersebut. Kehangatan langsung menyebar dari tenggorokannya ke seluruh tubuh. Yang mengejutkan, sensasi mual yang sejak pagi mengganggunya mulai mereda.

"Wow," Maya bergumam, matanya terbuka lebar dengan keterkejutan. "Ini... ngaruh banget."

"Beneran?" Irwan terdengar tak percaya.

"Iya," Maya mengangguk, menyentuh perutnya. "Rasanya... lebih tenang."

Maya menyapu sisa jamu di sudut bibirnya dengan jempolnya, lalu tanpa sadar menjilatnya. Matanya menatap langsung mata Pak Karyo saat melakukannya. Sesuatu dalam tatapan itu membuat Pak Karyo membeku di tempatnya. Bahkan Irwan sempat menangkap momen singkat ini, alisnya terangkat sedikit.

Pak Karyo tersenyum, jelas puas dengan hasil kerja tangannya. "Syukurlah kalau membantu, Bu. Kalau Ibu mau, bisa saya buatkan setiap pagi."

"Itu akan sangat membantu, Pak Karyo," Maya tersenyum tulus. "Makasih banyak."

Irwan memperhatikan interaksi ini dengan seksama. Sesuatu dalam cara Maya menatap Pak Karyo menarik perhatiannya—ada rasa terima kasih yang tulus, tapi juga sesuatu yang lebih... sebuah pengakuan tak terucap. Lebih mengejutkan lagi, Maya tampak nyaman berada di dekat Pak Karyo, tidak seperti reaksinya terhadap Irwan beberapa menit lalu.

"Say, nih makan roti panggang dulu deh," Irwan menyodorkan piring berisi toast yang sudah dia siapkan. "Selagi perutmu lagi nggak mual."

Maya mengangguk, duduk di meja makan dan mulai menggigit roti tersebut perlahan. "Ini pertama kalinya dalam tiga hari aku nggak langsung mual waktu nyium makanan," akunya.

"Pak Karyo," Irwan memulai, suaranya tenang tapi tegas. "Sepertinya istri saya sangat terbantu dengan jamu buatan Bapak. Selama masa kehamilan ini, mungkin Bapak bisa... lebih banyak membantu kami?"

Mata Pak Karyo melebar sedikit—menangkap implikasi dalam kata-kata Irwan. "Tentu saja, Pak. Saya siap membantu apa saja yang Bapak dan Ibu perlukan."

"Bagus," Irwan mengangguk. "Karena sepertinya..." dia melirik Maya yang masih makan dengan tenang, "istri saya nyaman dengan bantuan Bapak."

Maya mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan Irwan. Dalam tatapan itu ada pemahaman tanpa kata—pengakuan atas apa yang baru saja dimulai oleh Irwan.

"Iya," Maya akhirnya berkata, matanya kini beralih ke Pak Karyo. "Pak Karyo jangan sungkan bantuin aku yaa."

Kalimat itu menggantung di udara, sarat makna.

Kimono Maya sedikit tersingkap saat dia menggeser posisi duduknya, memperlihatkan sebagian pahanya. Pak Karyo berusaha keras mempertahankan tatapannya pada wajah Maya, tapi gagal sedetik terlalu lama. Maya menangkap perubahan arah pandangan Pak Karyo dan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya sebelum dia perlahan-lahan merapikan kimononya, gerakan yang justru menarik perhatian lebih.

Opo iki artine aku ono kesempatan maneh? (Apakah ini artinya aku punya kesempatan lagi?) Pak Karyo bertanya dalam hati, berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap profesional dan hormat.

"Saya senang bisa membantu, Bu," jawabnya sederhana, meski jantungnya berdegup kencang.

Irwan berdiri, meregangkan tubuhnya dengan gerakan yang terlihat santai meski situasinya jauh dari itu. "Saya harus siap-siap ke kantor," ujarnya. "Pak Karyo, tolong jaga istri saya ya. Apapun yang dia butuhkan."

"Baik, Pak. Serahkan pada saya."

Setelah Irwan naik ke lantai atas untuk bersiap, Maya dan Pak Karyo tertinggal berdua di dapur. Keheningan canggung menyelimuti mereka untuk beberapa saat.

Maya bergumam pelan. "Pak Karyo…. pasti pengalaman banget soal kehamilan ya."

"Ya lumayan lah, Bu," Pak Karyo tertawa kecil, suara yang jarang Maya dengar. "Saya menemani dua istri saya melalui lima kehamilan. Jadi ya... tau banyak hal kecil yang membantu."

Maya tertarik mendengar tawa Pak Karyo, suara bass rendah yang menggetarkan sesuatu dalam dirinya. Dia menyadari betapa jarang melihat sisi Pak Karyo yang lebih santai ini.

"Kayak apa misalnya?" tanya Maya, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Pak Karyo, kimononya kembali tersingkap sedikit.

Pak Karyo menelan ludah sebelum menjawab, "Banyak hal, Bu. Pijatan di kaki untuk mengurangi bengkak, mengusap punggung dengan minyak hangat untuk nyeri, jamu-jamu untuk berbagai keluhan..." Suaranya sedikit bergetar saat mata Maya tak lepas menatapnya.

Maya menatap pria setengah baya di hadapannya. "Aku... mungkin bakal sering minta tolong Pak Karyo selama hamil ini," Maya mengaku, tangannya tanpa sadar mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Nggak nyangka bakal sesulit ini."

"Dengan senang hati, Bu," Pak Karyo mengangguk. "Hamil memang nggak gampang."

Maya menggigit bibir bawahnya, tatapannya melembut. "Kalo Pak Karyo nggak keberatan... aku mau minta pijat punggung nanti sore. Rasanya sakit banget belakangan ini. Sampe aku harus izin wfh hari ini."

Gerakan Pak Karyo terhenti sejenak, bahunya menegang. "Tentu, Bu."

Keheningan yang mengikuti terasa berbeda—bukan lagi canggung, tapi penuh antisipasi.

Langkah kaki terdengar menuruni tangga, dan Irwan muncul di dapur, sudah berpakaian rapi untuk bekerja. Maya secara otomatis menjauh sedikit, tangannya refleks menutup hidung.

"Sorry, Say," kata Maya dengan suara teredam dari balik tangannya. "Parfumnya..."

"Oh, sori," Irwan mengambil jarak, tampak kecewa tapi berusaha memahami. "Aku lupa kamu sensitif banget sekarang."

"Saya permisi dulu, Pak, Bu," Pak Karyo berkata sopan, bersiap meninggalkan dapur.

"Sebentar, Pak Karyo," Irwan menghentikannya. "Saya mau bicara sebentar sebelum berangkat." Dia menoleh pada Maya, "Sayang, sepertinya untuk beberapa minggu ke depan, Pak Karyo yang lebih cocok ngurusin kamu. Kamu nggak keganggu sama baunya, kan?"

Maya menggeleng. "Nggak sama sekali. Aneh ya, aku malah nyaman sama Pak Karyo."

"Baguslah," Irwan mengangguk, lalu beralih ke Pak Karyo. "Pak, tolong jaga istri saya ya. Terutama soal makan dan minum. Dan lanjutkan pijatnya juga, kelihatannya membantu banget."

"Siap, Pak," Pak Karyo mengangguk hormat. "Saya akan lakukan yang terbaik."

"Dan saya minta Bapak jangan sungkan... berbagi pengetahuan dari pengalaman Bapak. Soal kehamilan, maksud saya," tambah Irwan, matanya menatap langsung mata Pak Karyo, menyampaikan pesan tersembunyi.

Pak Karyo menelan ludah, ragu terhadap implikasi dalam kata-kata Irwan. "Baik, Pak. Saya mengerti."

"Bagus," Irwan tersenyum, lalu menoleh ke Maya. "Aku berangkat dulu ya, Yang. Kayaknya minggu ini bakal sibuk banget, jadi kayaknya bakal sering pulang malem." Dia melangkah mendekat, tapi berhenti ketika melihat Maya kembali refleks mundur.

"Maaf," Maya berbisik, merasa bersalah. "Bukan maksudku gitu..."

"Aku ngerti," Irwan tersenyum, meski ada kilat kecewa di matanya. "Istirahat yang cukup ya. Aku pergi dulu."

Setelah Irwan pergi, keheningan kembali menyelimuti dapur. Pak Karyo bergerak membersihkan sisa sarapan, sementara Maya kembali ke kamarnya.

Sanajan mung dadi "bantuan", rasane tetep seneng iso ngrawat Bu Maya lan... anakku. (Meskipun cuma jadi "bantuan", rasanya tetap senang bisa merawat Bu Maya dan... anakku.), pikir Pak Karyo, senyum kecil tersungging di bibirnya yang biasanya kaku.


Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang semakin mantap. Setiap pagi, Pak Karyo menyiapkan jamu untuk Maya, yang selalu diminum dengan rasa terima kasih yang tulus. Meskipun morning sickness-nya masih muncul, intensitasnya berkurang berkat ramuan tradisional tersebut.

Sore itu, Maya sedang berbaring di sofa ruang keluarga, mencoba mengerjakan beberapa dokumen kantor di laptopnya. Meski sudah minum jamu pagi tadi, tubuhnya terasa lelah dan kepalanya mulai berdenyut nyeri.

"Permisi, Bu," Pak Karyo muncul di ambang pintu dengan secangkir teh hangat. "Saya bawain teh jahe sama kue kering. Udah waktunya Ibu makan dikit."

Maya tersenyum lemah. "Makasih, Pak. Bapak selalu tau ya kapan aku butuh apa."

"Ibu dari tadi megang perut," Pak Karyo menjelaskan, meletakkan nampan di meja samping. "Biasanya itu tanda lapar, tapi takut mual."

Maya tertegun dengan observasi tajam Pak Karyo. "Bapak perhatian banget ya." Ada keteduhan dalam cara Pak Karyo memperhatikannya yang membuat Maya merasa dilindungi.

Pak Karyo hanya tersenyum tipis, lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan.

"Pak Karyo," Maya memanggilnya. "Pijat lagi, ya? Kepalaku pusing banget hari ini."

Pak Karyo mengangguk. "Tentu, Bu. Saya ambil minyak dulu."

Maya meletakkan laptopnya di meja, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, menunggu dengan mata tertutup.

Pak Karyo kembali dengan minyak aromaterapi, aromanya lembut dan tidak menyengat—sempurna untuk sensitivitas penciumannya yang meningkat.

"Mmm," Maya mendesah pelan saat jari-jari Pak Karyo mulai menekan lembut pelipisnya. "Ini... enak banget."

Jari-jari Pak Karyo bergerak terampil, menekan titik-titik tertentu di kepala Maya, menyisir rambutnya dengan gerakan menenangkan. Aromaterapi dari minyak bercampur dengan sensasi pijatan lembut menciptakan efek yang luar biasa menenangkan.

Maya merasakan sensasi panas menjalar dari titik-titik yang disentuh Pak Karyo, turun ke lehernya, bahunya, dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar, desahan lembut lolos dari bibirnya, suara yang terlalu familiar bagi mereka berdua.

Gerakan jari Pak Karyo terhenti sejenak mendengar suara itu, sebelum melanjutkan dengan tekanan yang sedikit lebih dalam. Maya bisa merasakan perubahan halus dalam ritme napas Pak Karyo di belakangnya.

"Punggung Ibu masih tegang?" tanya Pak Karyo, tangannya kini turun ke bahu Maya.

"Iya, banget," Maya mengangguk pelan. "Kayaknya makin banyak aja simpul ototnya nih."

Pak Karyo mendorong lembut bahunya. "Tiduran aja, Bu, biar lebih enak pijatnya."

Maya menurut, berbaring menyamping menghadap sandaran sofa, memberikan akses penuh pada Pak Karyo untuk memijat punggungnya. Jari-jari kuat Pak Karyo menemukan dengan tepat titik-titik ketegangan di sepanjang tulang punggungnya.

"Ah!" Maya tersentak sedikit saat Pak Karyo menekan satu area yang sangat tegang.

"Maaf, Bu," Pak Karyo sedikit melonggarkan tekanannya.

"Nggak, nggak apa-apa kok," Maya cepat-cepat menjawab. "Justru enak. Terusin aja."

Kata-kata itu menggema di ruangan, mengingatkan keduanya pada frasa yang sama yang pernah Maya ucapkan dalam konteks sangat berbeda selama "program" mereka. Keheningan yang mengikuti terasa sarat dengan ingatan.

Pak Karyo melanjutkan dengan tekanan yang tepat, tangan besarnya memancarkan kehangatan yang meresap ke dalam otot-otot tegang Maya. Tanpa sadar, Maya menggeser posisinya, memberi akses lebih baik pada Pak Karyo.

"Ibu sangat tegang," komentar Pak Karyo, jarinya menemukan simpul keras di bahu Maya. "Ini tidak baik untuk bayi."

"Mmm," Maya bergumam setuju. "Kerja... stres..." Kata-katanya terpotong desahan lega saat Pak Karyo berhasil mengurai satu simpul otot di pundaknya.

Saat tangan Pak Karyo bergerak lebih rendah ke punggung bawahnya, kimono Maya tersingkap sedikit, mengekspos sebagian kulitnya. Jari Pak Karyo bersentuhan dengan kulit telanjang Maya, menciptakan kejutan listrik yang membuat keduanya terkesiap. Alih-alih menarik tangannya, Pak Karyo melanjutkan dengan gerakan yang kini lebih lambat, lebih disengaja.

Tanpa sadar, Maya mencondongkan tubuhnya ke arah Pak Karyo, mencari lebih banyak sentuhan yang menenangkan. Pak Karyo, dengan penuh keahlian, memijat titik-titik tegang di punggung atas Maya.

"Kalau boleh saran, Bu," Pak Karyo berkata hati-hati, "Ibu sebaiknya kurangi kerja di depan laptop. Tidak baik untuk punggung dan mata."

"Mmm, iya sih bener. Tapi gimana ya, kerjaan kantor numpuk banget nih," Maya mengeluh.

"Mungkin Ibu bisa kerja sedikit-sedikit, diselingi istirahat," saran Pak Karyo.

"Atau mungkin," Maya berkata dengan suara yang mendadak lebih rendah, "aku bisa minta Pak Karyo pijat setiap kali aku capek kerja."

Gerakan Pak Karyo terhenti sejenak. "Tentu saja, Bu. Kapanpun Ibu butuh."

Maya memutar kepalanya sedikit, cukup untuk bisa melihat wajah Pak Karyo dari sudut matanya. "Beneran ya? Kapanpun?"

Tatapan mereka bertemu, sarat dengan makna tersirat yang tak perlu diucapkan. "Ya, Bu. Kapanpun," jawab Pak Karyo, suaranya lebih berat dari biasanya.

Maya mengangguk, mulai merasa benar-benar rileks. "Ternyata hamil beneran nggak semudah yang aku bayangin dulu," gumamnya setengah mengantuk.

"Memang tidak, Bu. Tapi semua pengorbanan itu sepadan nantinya."

Keheningan nyaman menyelimuti mereka sementara Pak Karyo melanjutkan pijatannya, kini bergerak lebih ke bawah, ke area pinggang Maya.

"Saya rasa Ibu butuh istirahat sebentar," Pak Karyo berkata lembut saat melihat mata Maya yang semakin berat.

"Mmm," Maya bergumam, nyaris tertidur. "Kayaknya iya..."

Tanpa diminta, Pak Karyo mengambil selimut tipis dari kursi seberang dan menyelimuti Maya dengan hati-hati.

"Istirahat yang cukup, Bu," bisik Pak Karyo, memastikan Maya nyaman.

"Makasih, Pak Karyo," Maya bergumam di ambang tidur. "Entah kenapa... aku selalu merasa lebih baik... kalo ada Bapak..."

Kalimat itu terucap begitu saja, jujur dan tanpa filter—sesuatu yang mungkin tidak akan Maya katakan jika dia sepenuhnya sadar. Tapi sebelum Pak Karyo bisa merespons, napas Maya berubah teratur, menandakan dia telah tertidur.

Pak Karyo berdiri diam, menatap wanita yang kini tertidur pulas di hadapannya. Tangannya yang biasa tegas dan cekatan kini terangkat dengan ragu, lalu dengan sangat lembut, menyibakkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajah Maya.

Jemarinya tanpa sengaja menyentuh pipi Maya, merasakan kelembutan kulitnya. Maya mendesah dalam tidurnya, bergeser sedikit hingga kimononya tersingkap, memperlihatkan sebagian paha mulusnya. Pak Karyo menatap pemandangan itu lebih lama dari yang seharusnya, sebelum dengan lembut merapikan kembali kimono Maya. Tangannya bergetar saat melakukannya.

Wong ayu tenan. Anak kita mesti bakal ayu kaya ibune. (Cantik sekali. Anak kita pasti akan cantik seperti ibunya), pikir Pak Karyo, hatinya terasa hangat dan penuh.

Dia baru saja akan berbalik meninggalkan ruangan ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Irwan pulang lebih awal dari yang dijadwalkan.

Pak Karyo berdiri tegak, kembali ke posturnya yang formal dan profesional saat mendengar langkah kaki mendekat.

Irwan muncul di ambang pintu, tas kerjanya di tangan. Matanya langsung tertuju pada Maya yang tertidur, lalu beralih ke Pak Karyo yang berdiri di sampingnya.

"Selamat sore, Pak," Pak Karyo menyapa dengan suara pelan.

"Sore, Pak Karyo," balas Irwan, matanya masih mengamati situasi di hadapannya. "Istri saya tidur?"

"Iya, Pak. Tadi Ibu mengeluh pusing, saya pijat sedikit. Lalu Ibu tertidur."

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com