Sinar matahari Jakarta yang menusuk telah membuat gudang belakang terasa seperti oven. Pak Karyo telah menyelesaikan tugasnya membersihkan peralatan, tapi belum meninggalkan tempat itu. Alih-alih kembali ke rumah utama—menghadapi kemungkinan bertemu Bu Maya lagi—dia memilih berlindung di kamarnya yang sempit.
Kamar itu begitu sederhana dibandingkan bagian lain rumah majikannya. Ranjang tunggal sempit dengan seprai bersih tapi sudah memudar warnanya. Kursi kayu sederhana. Meja kecil tempat menaruh beberapa bingkai foto anak-anaknya. Radio tua yang hanya dinyalakan pada hari Minggu. Seluruh hidupnya di kota besar ini terkandung dalam ruangan tidak lebih dari tiga kali empat meter.
Pak Karyo mondar-mandir di ruang sempit itu, langkahnya terbatas oleh dinding-dinding yang seolah mendekat. Tubuhnya masih bergetar dengan energi yang tak tersalurkan dari pertemuan di taman—hasrat tertahan yang bahkan air dingin dari kamar mandi pembantu tak mampu memadamkannya.
"Awakku isih kroso anget." (Tubuhku masih terasa panas) pikirnya, duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. "Rasane koyo naliko aku kelaran Bu Maya nang program wingi kae." (Rasanya seperti ketika aku bersama Bu Maya dalam program waktu itu)
Bayangan-bayangan dari enam hari "program" kehamilan dengan Bu Maya berkelebat dalam pikirannya. Kulit halus Bu Maya di bawah telapak tangannya yang kasar. Napasnya yang terengah. Namanya—"Pak Karyo"—yang diucapkan dengan cara yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Belum lagi kenangan hari ini—Bu Maya dalam kaos putih tipis, kulitnya yang lembab oleh keringat, matanya yang menatap dengan cara yang membuat darahnya berdesir.
"Aku kudu njogo tangganku. Ora entuk nyenggol maneh." (Aku harus menjaga tanganku. Tidak boleh menyentuh lagi) Dia menggelengkan kepala keras-keras, berusaha mengusir bayangan Bu Maya dari pikirannya. "Iki ora penak kanggo kabeh wong. Ora kanggo Bu Maya, ora kanggo Pak Irwan, ora kanggo Ratih lan anakku." (Ini tidak baik untuk semua orang. Tidak untuk Bu Maya, tidak untuk Pak Irwan, tidak untuk Ratih dan anakku)
Tapi selama dia berusaha mengenyahkan godaan, pikirannya melayang kembali ke taman, menciptakan versi baru dari pertemuan mereka—versi yang dikaburkan oleh gairah dan fantasi liarnya.
Bu Maya dalam kaos putih tipis itu. Bayangan puting kecokelatannya samar-samar terlihat dari balik kain tipis yang hampir transparan saat terkena sinar matahari. Tak ada penghalang kain bra, hanya lapisan tipis katun yang membungkus payudaranya yang semakin membesar karena kehamilan. Kehamilan berkat benihnya.
Pak Karyo mengelus keningnya yang berkeringat. Kenapa wanita sekelas Bu Maya pakai baju kaya gitu kalau bukan buat menggoda? Dalam lamunannya, kaos itu menjadi semakin transparan, semakin basah oleh keringat di bagian dada... memperlihatkan bayangan gelap putingnya yang mengeras.
"Wedok kok gatel tenan..." (Perempuan kok gatal sekali...) pikiran liar itu muncul dalam benaknya. Tapi dia tak menolaknya. Bayangan Bu Maya yang sengaja membungkuk di depannya, gerakan menguncir rambut yang dibuat-buat itu... semuanya terasa seperti undangan.
Wangi tubuhnya... aroma mahal campur keringat tipis yang menggelitik sesuatu yang primitif dalam dirinya. Pak Karyo menutup mata, menghirup dalam-dalam sisa aroma parfum Bu Maya yang masih menempel di tangannya.
"Badan saya berubah..." suara Bu Maya berbisik di telinganya dalam bayangan. "Semuanya kerasa lebih... sensitif."
Kata-kata itu terus berputar dalam benaknya. Sensitif. Sensitif di mana? Apakah di puting payudaranya yang kini membengkak? Apakah di antara kedua kakinya yang pernah dia nikmati selama program dulu?
Pak Karyo merasakan ereksinya mengeras lagi. Dia tak melawan. Dalam kamar sempit ini, dia bisa membayangkan segalanya. Bagaimana wajah Bu Maya memerah ketika dia duduk terlalu dekat. Bagaimana napasnya tertahan ketika Pak Karyo tak sengaja menyentuh tangannya. Bagaimana matanya setengah terpejam saat mereka duduk berdampingan di bangku...
Dalam lamunannya, kurir paket itu tak pernah datang. Dalam versi liar di kepalanya, tangan Bu Maya benar-benar menyentuh lengannya. Lalu lebih jauh lagi. Naik ke bahunya yang kekar. Bu Maya berbisik, "Kangen sentuhan kamu," lalu menciumnya tepat di bawah pohon mangga itu.
Dalam fantasi liarnya, tangannya meremas payudara Bu Maya yang tak terbungkus bra, merasakannya lebih besar, lebih penuh, puting lebih gelap dan sensitif dari yang dia ingat selama program dulu. Bayangan Bu Maya mendesah saat jarinya menelusuri perut yang mulai membuncit—tempat anaknya tumbuh.
"Kuwi anakku ning kono," (Itu anakku di sana) pikiran posesif itu muncul lagi, membuatnya semakin terangsang. Dia membayangkan mendorong Bu Maya ke rerumputan, mengangkat kaos tipisnya, menjilati pusarnya, terus naik ke payudaranya yang sensitif...
"Astagfirullah!" Pak Karyo tersentak, terkejut oleh intensitas fantasinya sendiri. Celananya telah basah oleh precum, tubuhnya gemetar dengan gairah yang nyaris tak tertahankan.
Belum pernah Bu Maya terlihat seseksi itu—bahkan selama program kehamilan dulu. Ada aura baru padanya sekarang, campuran kerentanan dan kekuatan. Ada sesuatu tentang wanita hamil yang membangkitkan insting paling dasar dalam dirinya. Insting untuk menyentuh, memiliki, melindungi... dan menguasai.
"Bu Maya wis dadi bojone wong liyo," (Bu Maya sudah jadi istri orang lain) Pak Karyo berbisik pada dirinya sendiri, berusaha menyadarkan diri dari fantasi liarnya. "Lan anake kuwi bakal dadi anake Pak Irwan..." (Dan anaknya itu akan jadi anaknya Pak Irwan...)
Tapi hati kecilnya memberontak. Bu Maya jelas-jelas menggodanya tadi. Dan tubuhnya—tubuh yang pernah dia kuasai sepenuhnya selama enam hari program itu—jelas masih menginginkannya.
"Geneya dheweke isih butuh aku? Programรฉ wis rampung. Wis kasil. Dheweke wis meteng anakku." (Mengapa dia masih membutuhkan aku? Programnya sudah selesai. Sudah berhasil. Dia sudah hamil anakku) Kata terakhir membuat jantungnya berdenyut aneh. Anakku. Anak yang tidak akan pernah memanggil dirinya "Bapak". Anak yang akan tumbuh dalam kemewahan, tanpa tahu bahwa darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah seorang pelayan sederhana dari desa di Jawa Tengah.
Pak Karyo bangkit dan berjalan ke jendela kecil yang menghadap halaman belakang. Dari sini dia bisa melihat bangku taman di bawah pohon mangga—tempat dimana, beberapa jam lalu, dia hampir kehilangan kendali. Tempat dimana, jika bukan karena interupsi dari kurir paket, dia mungkin akan...
"Opo sing mesthi kedadeyan nek kurir mau ora teko?" (Apa yang akan terjadi jika kurir tadi tidak datang?) Pak Karyo mengepalkan tangannya erat. "Aku mungkin nyenggol tanganรฉ. Mungkin ngrangkul pundhake. Mungkin... wis ora iso mandeg maneh." (Aku mungkin menyentuh tangannya. Mungkin merangkul pundaknya. Mungkin... sudah tidak bisa berhenti lagi)
Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja. Dani, anak bungsunya, tersenyum lebar dengan gigi depan yang tanggal satu. Di sebelahnya, foto yang lebih besar menampilkan keempat anak tertuanya—semuanya sudah dewasa dengan keluarga masing-masing. Lima bukti kesuburannya. Lima alasan dia dipilih untuk "program" itu.
"Opo iki pancen mergo aku subur? Utowo ono alasan liyanรฉ?" (Apakah ini memang karena aku subur? Atau ada alasan lainnya?) Pak Karyo bertanya-tanya, tangannya menyisir rambutnya yang mulai beruban di beberapa bagian. "Ono gegayutan liyane? Opo dheweke seneng karo... awakku?" (Ada hubungan lainnya? Apakah dia menyukai... tubuhku?)
Pikiran itu membuat wajahnya memanas. Dia, Karyo, pembantu berusia 54 tahun, memikirkan kemungkinan bahwa majikannya yang cantik dan terpelajar mungkin tertarik padanya bukan hanya karena kesuburannya. Konyol. Mustahil. Tapi...
"Awakku isih rosa. Isih kuwat. Ora koyo Pak Irwan sing lembut." (Tubuhku masih kuat. Masih kekar. Tidak seperti Pak Irwan yang lembut) Dia secara tidak sadar menegakkan bahunya, merasakan otot-otot yang terbentuk dari bertahun-tahun kerja fisik. "Kathik Bu Maya tau ngomong yen tangganku keroso apik. Nyaman, jarenรฉ." (Bahkan Bu Maya pernah bilang kalau tanganku terasa bagus. Nyaman, katanya)
Memori itu—Bu Maya memuji tangannya selama sesi pijat—membawa kembali perasaan yang berusaha dia kubur. Rasa bangga. Rasa diakui sebagai pria. Sensasi aneh yang muncul setiap dia sadar bahwa di mata Bu Maya, dia lebih dari sekedar "Pak Karyo sang pembantu".
"Nek aku iso duwe Bu Maya dadi bojoku..." (Jika aku bisa memiliki Bu Maya menjadi istriku...) Fantasi itu muncul lagi—semakin jelas, semakin menggoda. "Bu Maya dadi bojoku kapindho... urip nang omah gedhe iki." (Bu Maya menjadi istri keduaku... hidup di rumah besar ini)
Pak Karyo membiarkan dirinya tenggelam dalam bayangan panas itu. Matanya terpejam, keringat mengalir di pelipisnya sementara tangannya bergerak turun, menyentuh ereksinya sendiri tanpa sadar.
Dalam fantasi liarnya, Bu Maya berlutut di hadapannya—bukan sebagai majikan tapi sebagai wanita yang memohon. Kaos putih tipisnya basah oleh keringat, menempel pada kulit, memamerkan bentuk payudaranya yang semakin membesar. Putingnya yang gelap terlihat jelas di balik kain tipis itu.
"Pak Karyo..." Bu Maya berbisik dengan suara yang tak pernah didengarnya di luar kamar tidur selama program dulu. "Gak bisa tidur kalo gak ada kamu..." Tangannya yang lentik dengan kuku merah bergerak nakal di dada Pak Karyo, turun ke perutnya, lalu lebih bawah lagi.
"Bu Maya... nggak boleh gini..." Pak Karyo mencoba berkata, tapi tangannya mengkhianati kata-katanya, menarik pinggang Bu Maya mendekat.
"Kamu pikir buat apa aku minta kamu jadi donor?" Bu Maya tertawa kecil, napasnya hangat di telinga Pak Karyo. "Karena aku mau kamu. Udah lama. Irwan cuma alesan..."
Dalam fantasinya, Bu Maya menarik lepas kaos tipisnya. Tubuhnya yang setengah telanjang berkilau oleh keringat tipis di bawah cahaya kamar. Perutnya mulai membuncit, membawa anaknya—anak mereka.
"Lihat..." Bu Maya mengambil tangan Pak Karyo, meletakkannya di perut buncitnya. "Ini anak kita, Mas Karyo..."
Panggilan itu—"Mas Karyo", bukan "Pak Karyo"—membuat darahnya berdesir. Dalam fantasi ini, dia bukan lagi pembantu. Dia adalah laki-laki Bu Maya.
"Irwan gak akan pernah tau rasanya jadi bapak beneran..." Bu Maya berbisik nakal sambil mendorong Pak Karyo ke ranjang—ranjang besar di kamar utama, bukan kasur tipis di kamar sempit belakang. "Dia cuma jadi bapak di kertas... tapi kamu..." jarinya menelusuri dada bidang Pak Karyo, "kamu yang bikin aku hamil. Kamu yang bikin aku puas..."
Bayangan itu berubah. Kini Bu Maya telentang di ranjang mewah dengan sprei sutra, kakinya terbuka lebar. Tidak ada lagi sikap malu-malu atau keraguan yang dia tunjukkan selama program dulu. Matanya berkabut oleh nafsu, bibirnya basah, tangannya menyentuh payudaranya sendiri.
"Mas Karyo..." dia melenguh. "Aku udah gak tahan..."
Pak Karyo membayangkan dirinya menindih Bu Maya, merasakan kelembutan tubuhnya, mencium aroma parfum mahalnya yang bercampur keringat. Payudara Bu Maya yang kini lebih besar dan lebih sensitif karena kehamilan terasa hangat di telapak tangannya yang kasar.
"Aku mau nyusuin kamu, Mas..." Bu Maya berbisik di telinganya dalam fantasi itu, kata-kata yang tak pernah dibayangkannya akan keluar dari mulut wanita terpelajar seperti Bu Maya. "Minum susu aku... udah mulai keluar dikit..."
Dalam imajinasinya, Pak Karyo menunduk, mengecup puting kecoklatan yang membengkak itu, merasakan tetesan pertama cairan manis dari payudara Bu Maya. Tubuh Bu Maya menggelinjang di bawahnya, punggungnya melengkung.
"Ahh... Mas Karyo... enak... enak banget..."
Pak Karyo menggeram, imajinasinya semakin liar. Dia membayangkan mendorong masuk ke dalam Bu Maya, merasakan kehangatan dan kelembaban yang lebih intens dari yang dia ingat selama program. Sesuatu tentang tubuh hamil Bu Maya membuatnya semakin bergairah—sensasi memiliki wanita yang membawa anaknya.
"Punya kamu... lebih gede... dari Pak Irwan..." Bu Maya mendesah dalam fantasinya, kata-kata yang membuat egonya membumbung. "Lebih keras... lebih enak... ahh..."
Fantasi itu mengalir ke adegan berikutnya. Bu Maya telah resmi menjadi miliknya. Pak Irwan pergi—atau mungkin masih di rumah tapi tak lagi memiliki kuasa, hanya menonton dari jauh seperti bayangan. Anak dalam kandungan Bu Maya lahir—bayi lelaki yang kuat dengan kulit kecoklatan seperti miliknya, bukan putih pucat seperti Pak Irwan.
Bu Maya duduk di beranda belakang, menggendong bayi mereka. Dani, anak bungsunya dari istri di desa, bermain di halaman dengan pakaian bagus dan tas sekolah mahal. Tidak lagi sekolah di desa dengan bangunan reot, tapi sekolah internasional dengan masa depan cerah.
"Dani, sini Nak," panggil Bu Maya dengan lembut dalam fantasinya. Dani berlari ke arah Bu Maya—bukan lagi "Bu Maya majikan Bapak" tapi "Bu Maya ibu barunya."
"Adik bayi mau minum susu dulu," Bu Maya tersenyum, menyusui bayi mereka sementara tangannya yang lain mengusap kepala Dani dengan sayang. "Nanti kita jemput Bapak di kantor sama-sama, ya?"
Kantor. Dalam fantasi liarnya, dia bukan lagi tukang kebun dan pembantu. Pak Irwan telah memberikannya posisi di perusahaan—mungkin karena takut, mungkin karena pasrah, atau mungkin ini semua kesepakatan mereka. Yang penting, dalam fantasi ini, statusnya terangkat. Mobilnya sendiri. Kartu nama dengan embos emas. Dompet tebal untuk menafkahi dua keluarga.
"Karo bandha lan pangkatรฉ Bu Maya, Dani ora bakalan kekurangan." Dengan harta dan kedudukan Bu Maya, Dani tidak akan kekurangan. "Lan aku bakal dadi wong penting—dudu babu maneh." Dan aku akan jadi orang penting—bukan pembantu lagi.
Adegan dalam kepalanya berubah lagi. Malam hari di kamar utama. Bu Maya mengenakan lingerie tipis yang memamerkan tubuhnya pasca melahirkan—lebih berisi, lebih matang, lebih menggairahkan. Di lantai berserakan amplop-amplop berisi uang kiriman untuk keluarganya di desa.
"Ratih udah nerima transferannya, Mas?" Bu Maya bertanya sambil merangkak di atas ranjang ke arahnya dengan gerakan menggoda.
"Udah, Dik..." Pak Karyo menjawab dalam fantasinya, jarinya menelusuri paha mulus Bu Maya. "Aku udah kirim lebih dari cukup buat dia dan anak-anak."
Bu Maya tersenyum puas. "Bagus... sekarang, aku mau bayaran aku..." Tangannya dengan berani menyentuh selangkangan Pak Karyo, meremas ereksinya dengan gerakan ahli.
"Sayangku pinter banget..." Pak Karyo menggeram dalam fantasinya, mendorong Bu Maya ke kasur. "Mas punya hadiah spesial buat kamu malam ini..."
Dalam imajinasi liarnya, Bu Maya menatapnya dengan mata sayu penuh pemujaan. "Mas Karyo... aku cinta banget sama kamu... nikahi aku..."
"Sempurna!" Pak Karyo berbisik dalam kepalanya, tangannya semakin cepat mengusap ereksinya sendiri. "Bu Maya duwe aku sing iso muasake dheweke, lan aku duwe dheweke kanggo njogo masa depan Dani." (Sempurna! Bu Maya punya aku yang bisa memuaskannya, dan aku punya dia untuk menjaga masa depan Dani.)
Pak Karyo merasakan desiran aneh di dadanya. Fantasi ini lebih dari sekedar pemikiran sesaat—ini adalah hasrat terpendam yang semakin sulit dia kendalikan. Dan hari ini, dengan cara Bu Maya menatapnya di taman, dengan kata-kata dan gerakan tubuhnya yang terasa seperti undangan... fantasi itu semakin terasa mungkin.
Tangannya bergetar saat meraih ponsel dari bawah bantal. Hampir tengah malam di Jakarta, tapi di desa mungkin Ratih masih terbangun—menyusui Dani atau hanya menatap langit-langit kamar seperti yang sering dia lakukan saat merindukannya. Jari-jarinya yang kasar mencari kontak "Dik Ratih" di ponsel jadulnya.
