Maya terbangun oleh kicauan burung yang bersahut-sahutan di pepohonan sekitar rumah. Cahaya matahari sudah menerobos masuk dari jendela yang tirainya sengaja dia biarkan terbuka semalam. Udara Sabtu pagi terasa berbeda—lebih ringan, tanpa beban jadwal meeting atau deadline laporan yang menunggunya di kantor.
Dia melirik ke samping tempat tidur. Irwan masih terlelap, napasnya teratur dan dalam. Pembicaraan mereka semalam berakhir hingga larut, membahas rencana Maya untuk pendekatan kedua pada Pak Karyo. Sembari merenggangkan tubuhnya yang kaku, Maya berpikir tentang hari ini. Hari ini harus berbeda.
Mual paginya datang seperti biasa—gelombang tidak nyaman yang membuatnya harus duduk diam beberapa menit di pinggir tempat tidur sebelum memberanikan diri berdiri. Minggu kesembilan kehamilannya membawa sedikit perubahan; mual masih ada tapi tidak seintens minggu sebelumnya. Dokter kandungannya mengatakan ini normal—beberapa gejala mulai mereda seiring tubuhnya beradaptasi.
Maya melangkah ke jendela, menatap taman belakang yang masih basah oleh embun pagi. Dari kejauhan, dia bisa melihat Pak Karyo yang sudah mulai bekerja—sosoknya yang kokoh bergerak di antara tanaman, dengan gestur efisien yang sudah sangat dia kenal. Pak Karyo selalu bangun sebelum kami, pikirnya.
Pemandangan pria itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Hari ini. Ya, hari ini dia akan mencoba lagi, dengan pendekatan yang berbeda.
"Kamu beneran mau ke taman, Sayang?" tanya Irwan, mengunyah roti panggangnya sambil menatap Maya yang menyesap teh jahe hangatnya. "Cuacanya agak panas banget hari ini."
Maya mengangkat bahu. "Justru itu. Alasan sempurna buat pake..." Dia tidak melanjutkan, tapi matanya melirik ke arah kamar, di mana pakaian yang sudah dia pilih menunggu.
Irwan tersenyum kecil. "Kamu udah punya rencana ya."
"Ya gitu deh," jawab Maya, tangannya menyentuh perutnya yang masih rata. "Anehnya, aku lebih gugup sekarang dibanding waktu 'program' dulu. Padahal waktu itu kita kan—"
"Soalnya konteksnya beda," Irwan menyela lembut. "Dulu ada tujuan jelas, alasan praktis. Sekarang ini..."
"Murni karena kita... pengen gitu?" Maya menyelesaikan kalimatnya, setengah bertanya.
Irwan mengangguk, matanya bertemu dengan mata Maya. Ada sesuatu yang menggelitik di perut Maya—campuran kegelisahan dan antisipasi.
"Kamu mau ngapain aja hari ini?" tanya Maya, mengalihkan pembicaraan.
"Ada beberapa laporan yang harus aku beresin," jawab Irwan, menggigit rotinya lagi. "Tapi aku bisa kerjain di ruang kerja kok. Siapa tau kamu butuh... bantuan."
Maya tersenyum tipis. Mereka berdua tahu 'bantuan' yang dimaksud Irwan bukanlah intervensi, melainkan kehadirannya yang tetap di rumah, sebagai jaring pengaman emosional Maya.
"Makasih, Sayang."
Irwan bangkit dari kursinya, membawa piring kosongnya ke wastafel. Dia berhenti di belakang Maya, tangannya dengan lembut menyentuh pundak istrinya. "Hey."
Maya mendongak, menatapnya.
"Apapun yang terjadi, atau nggak terjadi... nggak apa-apa kok," kata Irwan lembut. "Kita lagi ngeksplor aja. Nggak ada jawaban bener atau salah. Oke?"
"Oke."
Butuh hampir satu jam bagi Maya untuk bersiap. Bukan karena dia memerlukan waktu selama itu untuk berdandan—rutinitas perawatan kulit dan riasannya efisien dan minimal—tapi karena dia menghabiskan waktu cukup lama berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya yang mulai berubah.
Payudaranya terasa lebih penuh, lebih sensitif. Pinggangnya sedikit lebih tebal. Dan di bawah pusarnya, ada lengkungan halus yang nyaris tidak terlihat kecuali jika dia berdiri menyamping dan memperhatikan dengan seksama. Delapan—hampir sembilan—minggu kehamilannya belum menunjukkan perubahan drastis, tapi sebagai seorang wanita yang selalu bangga dengan tubuh langsingnya, Maya sangat menyadari setiap perubahan kecil.
Apa dia akan melihatku berbeda? Maya bertanya-tanya, mengelus perutnya perlahan. Apa dia akan menganggapku kurang menarik?
Pertanyaan itu membuatnya tertegun. Kenapa dia peduli apa yang dipikirkan Pak Karyo? Tapi jauh di lubuk hatinya, Maya tahu jawabannya. Ada sesuatu yang memuaskan dalam tatapan apresiasi Pak Karyo—cara matanya melebar saat melihat tubuhnya, bagaimana dia menelan ludah saat Maya bergerak dengan cara tertentu. Konfirmasi bahwa dia masih menarik, masih diinginkan, meski tubuhnya mulai berubah.
Dengan keputusan mendadak, Maya meraih kaos tanpa lengan berwarna putih yang sudah lama tidak dia pakai—terlalu casual untuk standarnya sehari-hari. Bahannya tipis, hampir transparan jika terkena cahaya langsung. Dia memasangkannya dengan celana pendek katun berwarna khaki yang memamerkan kakinya. Pakaian yang tampak tidak dipikirkan matang, tapi sebenarnya dipilih dengan sangat hati-hati.
Setelah menyemprotkan sedikit parfum—aroma ringan dengan sentuhan bunga—Maya menatap refleksinya sekali lagi. Rambut digerai, wajah hanya dengan pelembab dan sedikit lip balm, dan pakaian yang tampak kasual tapi strategis. Sempurna untuk seorang istri yang ingin menghabiskan Sabtu pagi yang cerah di taman belakang rumahnya sendiri.
Ini akan berhasil, Maya meyakinkan dirinya. Harus berhasil.
"Pak Karyo, maaf ganggu."
Maya berdiri di pinggir taman, satu tangan memegang gelas berisi jus jeruk dingin, satunya lagi bernaung di atas dahi untuk menghalangi sinar matahari yang semakin terik. Pukul 10 pagi, dan matahari Jakarta sudah terasa seperti menembus kulit.
Pak Karyo menghentikan kegiatannya—memangkas semak bunga melati yang tumbuh terlalu liar—dan berbalik. "Bu Maya," sapanya, mengangguk hormat. "Ada apa ya, Bu? Ada yang bisa saya bantuin?"
Maya memperhatikan bagaimana mata Pak Karyo sekilas menyapu tubuhnya—dari atas ke bawah, begitu cepat hingga hampir tidak terlihat, tapi cukup lama untuk membuat hangat menjalar di wajah Maya.
"Saya bawain jus nih," kata Maya, mengangkat gelasnya. "Panasnya minta ampun ya."
Pak Karyo tersenyum, menerima gelas yang ditawarkan Maya. "Wah, terima kasih banyak, Bu Maya."
Maya melihat leher Pak Karyo bergerak saat menelan jus jeruk itu, setetes cairan lolos dan mengalir di dagunya yang kasar oleh janggut tipis. Entah mengapa, pemandangan itu membuat sesuatu berdesir di perut bawah Maya.
"Pak Karyo lagi ngapain nih?" tanya Maya, berjalan mendekat ke area tempat Pak Karyo bekerja. Suara kakinya yang beralaskan sandal rumah menimbulkan suara lembut di rumput yang baru dipotong.
"Lagi motong-motong tanaman melati ini, Bu," jawab Pak Karyo, meletakkan gelas yang sudah kosong di atas bangku kayu. "Kalau ndak diatur rapi, nanti malah manjat sana-sini."
"Kayaknya asyik," komentar Maya. Dia berjalan lebih dekat, berdiri di samping Pak Karyo, cukup dekat untuk mencium aroma khasnya—campuran keringat, matahari, dan sesuatu yang maskulin yang sulit dijabarkan. "Saya boleh bantuin nggak?"
Pak Karyo terlihat terkejut dengan tawaran itu. Dahinya berkerut sedikit. "Aduh, ndak usah repot-repot, Bu. Nanti tangan Bu Maya kotor lho."
"Nggak apa-apa kok," Maya bersikeras. "Saya bosen di dalam rumah terus. Katanya ibu hamil tuh perlu banyak gerak." Dia sengaja menekankan kata "hamil", mengamati reaksi Pak Karyo.
Sekelebat sesuatu—entah apa—melintas di mata pria itu. Kebanggan? Kekhawatiran? Maya tidak yakin.
"Ya sudah kalau begitu..." Pak Karyo akhirnya mengalah, mengambil gunting tanaman yang lebih kecil dari kotak peralatannya. "Bu Maya bisa bantu potong yang bagian sini aja." Dia menunjuk area semak yang lebih rendah.
Maya menerima gunting itu, sengaja membiarkan jarinya menyentuh tangan Pak Karyo sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Kontras kulit mereka begitu jelas—tangan Maya yang lembut, terawat, melawan tangan Pak Karyo yang besar, kasar, dan dipenuhi kapalan.
"Jadi gini ya caranya?" Maya bertanya, memposisikan diri di depan semak, sedikit membungkuk.
"Iya, tapi..." Pak Karyo bergerak ke belakang Maya, terlalu dekat hingga Maya bisa merasakan panas tubuhnya. "Pegang guntingnya begini, Bu."
Tangan besar Pak Karyo menyelimuti tangan Maya, membenarkan posisi jarinya pada gunting. Napasnya terasa hangat di leher Maya, membuat bulu kuduknya meremang.
"Gini... ya?" tanya Maya, suaranya sedikit bergetar. Dia sengaja mundur sedikit, tubuhnya menekan dada bidang Pak Karyo.
"I-Iya, bener," jawab Pak Karyo, cepat-cepat mundur, menciptakan jarak di antara mereka. "Potong aja yang keliatan kepanjangan."
Maya tersenyum kecil, mulai memotong ranting dengan hati-hati. Rasa puas merayapi dadanya saat menyadari suara Pak Karyo yang sedikit berubah. Dia merasakannya juga.
Mereka bekerja dalam diam beberapa menit—Pak Karyo di satu sisi semak, Maya di sisi lain. Sesekali pandangan mereka bertemu di atas tanaman, dan Maya bersumpah dia melihat kilatan yang sama di mata Pak Karyo seperti yang pernah dia lihat selama "program" mereka dulu.
"Panas banget ya," komentar Maya, menyeka keringat yang mulai muncul di dahinya.
"Memang, Bu. Mungkin Bu Maya mending masuk aja? Ndak baik kelamaan di bawah matahari begini."
"Bentar lagi deh," Maya bersikeras. "Saya suka di sini kok. Di luar. Sama... taneman-taneman ini."
Maya meletakkan guntingnya, mengangkat lengan untuk menguncir rambutnya yang mulai lengket oleh keringat. Gerakan ini sengaja dibuat lambat, membuat kaos tipisnya terangkat sedikit, mengekspos sekilas kulit perutnya. Dari sudut matanya, dia melihat Pak Karyo mematung, matanya terpaku pada strip kulit yang terekspos.
"Pak Karyo?" panggil Maya lembut.
Pak Karyo tersentak, seolah baru tersadar. "Iya, Bu?"
"Semak ini perlu disiram habis dipangkas nggak?"
"N-Ndak usah, Bu. Nanti sore aja, kalau matahari udah ndak terlalu panas."
Maya mengangguk, pura-pura tertarik pada informasi itu. Dia membungkuk untuk mengambil beberapa potongan ranting yang jatuh ke tanah, sengaja memposisikan diri sehingga Pak Karyo bisa melihat ke bawah kaosnya yang longgar di bagian leher.
Jantung Maya berdebar kencang. Dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya—menggoda secara terang-terangan, menggunakan tubuhnya dengan cara ini. Selama "program" dulu, Maya lebih pasif, menunggu Pak Karyo mengambil inisiatif. Sekarang, dia yang memimpin permainan ini. Dan entah bagaimana, ada sesuatu yang membebaskan dalam peran barunya.
"Bu Maya," kata Pak Karyo dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. "Mending istirahat dulu kali ya. Matahari makin terik nih."
Maya mengangkat wajahnya, melihat tatapan Pak Karyo yang kini tertuju padanya dengan intensitas berbeda. Pandangan yang membuat tengkuknya terasa hangat, bukan karena matahari.
"Ya udah deh," jawab Maya, menegakkan tubuhnya perlahan. "Kita bisa teduhan di bawah pohon mangga itu."
Pohon mangga tua di sudut taman menawarkan naungan sempurna dari sinar matahari. Maya berjalan menuju bangku kayu di bawahnya, sangat menyadari langkah Pak Karyo yang mengikuti di belakangnya. Dia sengaja memperlambat jalannya, membiarkan pinggulnya bergerak sedikit lebih bebas dari biasanya.
Udara terasa lebih sejuk di bawah kanopi daun yang rimbun. Maya menghela napas panjang, meregangkan lengannya ke atas dengan gerakan santai yang membuat kaosnya terangkat, memperlihatkan sekilas kulit perutnya yang halus.
"Ah, seger banget," desahnya, pura-pura tidak menyadari tatapan Pak Karyo yang mengikuti gerakan tubuhnya.
Pak Karyo berdiri canggung beberapa langkah dari bangku, tangannya masih memegang gunting tanaman, seolah tidak yakin apakah dia seharusnya duduk atau kembali bekerja.
"Pak Karyo nggak duduk?" tanya Maya, menepuk bagian kosong bangku di sampingnya. "Istirahat dulu bentar."
Maya melihat keraguan di mata Pak Karyo—pertarungan internal yang hampir bisa dia rasakan. Akhirnya, dengan gerakan kaku, pria itu mengangguk dan duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang Maya anggap terlalu sopan.
"Saya suka banget taman ini," kata Maya, memecah keheningan. "Pak Karyo ngrawatnya bagus banget."
"Makasih banyak, Bu," jawab Pak Karyo. "Taneman-taneman gini butuh diperhatiin tiap hari. Kaya... kaya bayi gitu."
Kata terakhir itu menggantung di udara. Maya merasakan perubahan atmosfer di antara mereka. Kata 'bayi' membawa dimensi baru dalam percakapan mereka—pengingat akan hubungan unik yang terjalin tanpa pernah mereka bicarakan secara terbuka.
"Iya," bisik Maya, tangannya tanpa sadar bergerak ke perutnya. "Kaya bayi."
Mata Pak Karyo mengikuti gerakan tangan Maya, terpaku pada area di mana tumbuh kehidupan yang mereka berdua tahu adalah hasil dari pertemuan mereka.
"Bu Maya... gimana kabarnya?" tanya Pak Karyo hati-hati, suaranya hampir tidak terdengar.
Maya tahu persis apa—siapa—yang Pak Karyo maksud. "Baik kok," jawabnya lembut. "Dokter bilang semuanya berkembang normal. Sehat-sehat aja."
Sesuatu melintas di wajah Pak Karyo—campuran kelegaan, kebanggaan, dan sesuatu yang lebih kompleks yang tidak bisa Maya baca.
"Syukurlah kalau begitu," kata Pak Karyo, matanya kini menatap tanah.
Keheningan yang mengikuti terasa intim, penuh dengan kata-kata yang tidak terucap. Maya menggeser posisinya sedikit, mendekat ke arah Pak Karyo. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa sentimeter.
"Akhir-akhir ini saya ngerasa... beda," kata Maya, memecah keheningan. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Pak Karyo dari sudut yang memperlihatkan lekuk lehernya. "Badan saya berubah."
Pak Karyo menelan ludah, gerakannya terlihat jelas di lehernya yang kuat. "Itu... itu wajar untuk ibu hamil, Bu."
"Tapi kadang saya ngerasa aneh sama badan sendiri," lanjut Maya, suaranya sengaja dibuat sedikit lebih rendah. "Semuanya kerasa lebih... sensitif."
Jari-jari Maya bergerak perlahan menyusuri lengannya sendiri, dari bahu turun ke pergelangan tangan. Kulitnya yang terkena sinar matahari terasa hangat di bawah sentuhannya sendiri. "Kaya kulit saya lebih... sadar gitu. Lebih berasa sama sentuhan."
Maya bisa merasakan tatapan Pak Karyo pada tubuhnya. Mata pria itu, biasanya selalu tertunduk hormat, kini mengikuti gerakan tangannya dengan intensitas yang membuat tengkuk Maya menghangat. Napas Pak Karyo berubah—lebih cepat, lebih dangkal—seirama dengan detak jantung Maya yang mulai tidak beraturan.
"Bu Maya..." hanya itu yang keluar dari mulut Pak Karyo. Suaranya terdengar berat, parau, seperti pasir yang bergesekan.
Keberanian Maya tumbuh melihat reaksi ini. Dia bergeser sedikit, mengurangi jarak di antara mereka hingga hanya tersisa sejengkal udara panas yang bergetar dengan ketegangan. Aroma maskulin Pak Karyo—campuran keringat, tanah, dan sesuatu yang sangat pria—menyerang indra penciuman Maya, membuatnya tanpa sadar menarik napas lebih dalam.
"Pak Karyo merhatiin nggak?" tanya Maya lembut, matanya mencari mata Pak Karyo yang kini bergerak gelisah. "Perubahan-perubahan di... badan saya?"
Pak Karyo menelan ludah. Maya bisa melihat gerakan naik-turun di lehernya yang berotot dan digelapkan matahari. Tangannya yang masih memegang gunting bergetar sedikit. Napasnya semakin tidak beraturan, mengembun di udara pagi yang mulai menghangat.
Maya menggerakkan tangannya ke arah perut, tempat kehidupan baru tumbuh di dalamnya. "Di sini," bisiknya, hampir tidak terdengar. "Dan di sini." Tangannya naik sedikit lebih tinggi, nyaris menyentuh payudaranya yang terasa lebih penuh dari biasanya.
Pak Karyo tidak menjawab dengan kata-kata, tapi matanya berbicara. Pupilnya melebar, dadanya naik turun lebih cepat, dan Maya bisa melihat perubahan halus pada postur tubuhnya—sedikit mencondong ke arah Maya, seperti tanaman merindukan matahari.
"Saya liat kok," akhirnya Pak Karyo berbisik, suaranya begitu rendah hingga Maya harus mendekat untuk mendengarnya. "Bu Maya... tambah..." Dia berhenti, seperti mencari kata yang tepat.
"Tambah apa?" desak Maya, berani bergerak semakin dekat hingga aroma tubuh mereka bercampur di udara pagi. Keringat tipis mulai muncul di dahinya, entah dari panas matahari atau dari panas lain yang tumbuh di perutnya.
Maya mengangkat tangannya perlahan, jari-jarinya hampir menyentuh lengan Pak Karyo yang terlihat begitu kuat dan kokoh di bawah kemeja kerjanya yang kusut. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan. Satu sentuhan, pikirnya. Hanya satu sentuhan dan—
"Permisi! Ada paket!"
Suara lantang pemuda pengantar paket memecah ketegangan seperti kaca yang pecah. Maya tersentak mundur, seolah baru tersadar dari trans. Pak Karyo hampir menjatuhkan gunting di tangannya, tubuhnya berubah kaku dalam sekejap.
Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri diam, terenggah-enggah, tidak berani menatap satu sama lain. Rona merah menjalar di wajah Maya, perasaan bersalah dan malu bercampur dengan kekecewaan yang tidak seharusnya dia rasakan.
"Saya... saya liat dulu ya," kata Pak Karyo akhirnya, suaranya telah kembali normal, professional, meski napasnya masih tidak beraturan. "Permisi dulu, Bu."
Pak Karyo bergegas menyusuri jalan setapak taman menuju bagian depan rumah, langkahnya cepat dan kaku, seperti seseorang yang baru lolos dari situasi berbahaya. Bahunya tegang, punggungnya lurus—semua bahasa tubuhnya berteriak lega telah diselamatkan dari situasi yang hampir tidak bisa dia kendalikan.
Maya menatap sosoknya yang menjauh, menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya. Momen itu—apapun itu—telah hilang. Tangan Maya jatuh ke samping tubuhnya, kosong, dingin. Dia belum sempat menyentuhnya.
Beberapa menit kemudian, Maya mendengar langkah kaki mendekati taman kembali. Tapi alih-alih kembali ke bangku tempat Maya menunggu, Pak Karyo hanya muncul sebentar di ujung jalan setapak.
"Bu Maya," panggilnya, menjaga jarak yang Maya sadari sangat disengaja. "Ada kiriman buat Pak Irwan. Udah saya taro di meja depan. Saya... saya mau beresin gudang belakang dulu, kalau Bu Maya ndak keberatan."
Bahkan dari kejauhan, Maya bisa melihat usaha keras Pak Karyo untuk terdengar normal, profesional. Tapi ada getaran dalam suaranya, dan matanya menolak bertemu dengan mata Maya.
"Iya," jawab Maya, menyembunyikan kekecewaannya. "Makasih, Pak Karyo."
Pak Karyo mengangguk sekali, lalu berbalik dan bergegas menuju bangunan kecil yang merupakan bagian dari rumah pembantu di belakang. Maya mengamati punggungnya yang menjauh—tegap tapi tegang, langkahnya terburu-buru seperti seseorang yang melarikan diri.
Maya duduk sendirian di bawah pohon mangga, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang mulai membuncit samar. Perasaannya campur aduk—kecewa karena interupsi di saat kritis, tapi puas melihat reaksi Pak Karyo yang jelas terguncang oleh kedekatannya. Apakah karena tubuhnya yang berubah? Apakah Pak Karyo menganggapnya kurang menarik sekarang?
Maya menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran negatif itu. Tidak, reaksi Pak Karyo tadi bukanlah reaksi seseorang yang tidak tertarik. Sebaliknya, itu adalah reaksi seseorang yang terlalu tertarik hingga membuatnya takut.
Dengan helaan napas panjang, Maya bangkit dari bangku, memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Matahari semakin tinggi, dan meskipun berada di bawah naungan pohon, panasnya mulai terasa menusuk kulit. Selain itu, Maya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, menyusun pikiran, dan mungkin... merencanakan pendekatan berikutnya.
Maya melangkah masuk ke dalam rumah, tubuhnya masih memancarkan panas dari pertemuan yang terpotong di taman. Dari jendela ruang keluarga, dia melihat Pak Karyo bergegas menuju gudang belakang—langkahnya cepat dan tegas, seperti orang yang melarikan diri dari bahaya. Senyum tipis terbentuk di bibir Maya. Dia merasakan sesuatu. Aku yakin itu.
Irwan muncul dari ruang kerjanya, alis terangkat penuh tanya melihat ekspresi Maya.
"Gimana?" tanyanya langsung. "Berhasil nggak?"
Maya menggeleng pelan. "Nggak sempet. Ada kurir dateng di saat yang paling nggak tepat." Dia berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan diri di atasnya, lengannya menutupi wajah. "Padahal udah deket banget."
"Deket gimana?"
"Kita duduk di bangku taman. Aku ngomong ke dia soal tubuhku yang berubah, jadi lebih sensitif." Maya merendahkan suaranya. "Kamu harus liat reaksinya, Yang. Napasnya berubah. Matanya nggak lepas dari tanganku waktu aku nyentuh... di sini." Jarinya menelusuri garis leher, turun ke dadanya.
Irwan duduk di sampingnya, matanya mengikuti gerakan tangan Maya dengan intensitas yang membuat pipi Maya menghangat.
"Aku coba pegang tangannya, tapi..." Maya menghela napas. "Tiba-tiba ada kurir. Abis itu dia langsung kabur ke gudang belakang."
"Kamu kecewa ya?" tanya Irwan lembut, jarinya menyentuh rambut Maya yang masih lembap oleh keringat.
Maya terdiam sejenak, tidak yakin harus menjawab apa. "Aneh ya? Aku harusnya lega dia kabur. Tapi..." Dia berhenti, matanya menatap langit-langit. "Sebagian dari aku emang kecewa."
