Cahaya matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Maya membuka mata perlahan, merasakan mual yang sudah menjadi rutinitas setiap paginya. Delapan minggu, pikirnya sambil mengelus perutnya yang masih rata namun terasa berbeda. Keajaiban kecil yang tumbuh di dalamnya adalah hasil dari hari-hari paling membingungkan dalam hidupnya.
Maya melirik ponsel di nakas. Notifications email dan pesan dari tim di kantornya sudah memenuhi layar. Dia menghela napas, memutuskan untuk mengambil cuti hari ini. Mual paginya semakin intens, dan setelah percakapan semalam, fokusnya tidak mungkin ada di pekerjaan.
"Pagi, sayang."
Suara Irwan membuatnya menoleh. Suaminya sudah berpakaian rapi—kemeja biru muda yang disetrika sempurna, dasi gelap, dan celana bahan yang pas di tubuhnya. Siap untuk berangkat ke kantor. Tapi matanya, mata Irwan masih menyimpan jejak percakapan semalam. Pengakuan yang mengubah segalanya.
"Pagi," balas Maya pelan, berusaha menahan gelombang mual yang mulai naik ke tenggorokannya. Dia memalingkan wajah saat Irwan mendekat untuk mencium keningnya. Bukan karena tak ingin, tapi karena—
"Parfum aku ya?" tanya Irwan, mundur dengan pengertian. "Maaf ya, sayang."
Maya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk merasa bersalah. Ini bukan salahnya. Dokter kandungan sudah menjelaskan bahwa aversions—penolakan terhadap bau tertentu—adalah normal selama kehamilan. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang menyakitkan melihat suaminya harus menjaga jarak.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Irwan, melihat Maya masih berbaring.
"Aku ambil cuti," jawab Maya, menunjukkan ponselnya yang bergetar dengan notifikasi. "Udah email tim pagi ini."
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Irwan, duduk di tepi tempat tidur dengan jarak aman dari istrinya. "Kita nggak usah bahas yang semalem kalau—"
"Aku masih mikirin," potong Maya, matanya menatap langit-langit. Bukan hanya mual yang membuatnya gelisah pagi ini, tapi beban percakapan semalam. Pengakuan Irwan tentang kamera tersembunyi yang dia pasang. Rekaman-rekaman sesi Maya dengan Pak Karyo. Dan keinginan barunya—melihat Maya dan Pak Karyo bersama lagi.
"Aku bakal kasih kamu waktu," kata Irwan lembut, tangannya menyentuh seprai, dekat tapi tidak menyentuh tubuh Maya. "Tapi... kamu bilang kamu—"
"Iya," bisik Maya, masih berusaha mencerna semuanya. "Aku udah setuju. Tapi aku nggak tau caranya. Gimana mulainya. Apa yang harus aku lakuin."
Matanya bertemu dengan mata Irwan. Semalaman mereka bicara—tentang rekaman-rekaman itu, tentang bagaimana Irwan merasa saat menonton Maya bersama Pak Karyo, tentang keinginannya untuk melihat mereka bersama lagi. Bukan lagi untuk program kehamilan. Hanya untuk... apa? Kesenangan? Fantasi?
"Kita udah bahas ini semalem," Irwan mengambil tasnya yang terletak di samping tempat tidur. "Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa yang bikin kamu nggak nyaman. Batas-batasnya udah jelas. Ini cuma... ekstensi dari program kita."
Maya menahan keinginan untuk tertawa pahit. 'Program' yang seharusnya sudah berakhir. Program yang berhasil—buktinya tumbuh di dalam rahimnya sekarang.
"Tapi aku nggak tau harus mulai dari mana," Maya akhirnya berkata. "Terakhir kali... aku kabur. Waktu dia—" Dia menutup mata, teringat sensasi jari Pak Karyo yang nyaris memasukinya saat pijatan terakhir mereka. Bagaimana dia panik dan lari. Bagaimana dia, meski sudah hamil anaknya, masih merasa malu dan bingung.
Irwan mengangguk pelan. "Mungkin mulai dari yang simpel aja. Minta dia pijat, kayak biasa. Tapi kali ini... biarkan aja."
"Dia pasti kaget," gumam Maya. "Abis aku kabur waktu itu."
"Kamu cuma perlu ngasih sinyal yang lebih jelas," kata Irwan, matanya kini berkilat dengan sesuatu yang Maya kenali—gairah yang muncul setiap kali mereka membahas topik ini.
Irwan melirik jam tangannya. "Aku harus berangkat," katanya, berdiri dari tempat tidur. "Tapi aku bisa pulang lebih awal kalau—"
"Jangan," kata Maya cepat. "Kalau... kalau aku mau coba, hari ini, aku nggak mau ngerasa diawasi. Belum."
Irwan terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Oke." Dia mengambil koper kerjanya. "Kamu yang nentuin kecepatannya. Tapi sayang..."
Maya menatapnya dengan pertanyaan di matanya.
"Aku sayang kamu. Apapun yang terjadi, itu nggak pernah berubah."
Maya merasakan matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tau," bisiknya. "Aku juga sayang kamu."
Irwan mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan meninggalkan kamar. Maya mendengar langkahnya menuruni tangga, suara pintu depan yang terbuka dan tertutup, dan akhirnya, deru mesin mobil yang menjauh.
Sendirian, Maya menghela napas panjang. Apa yang akan kulakukan hari ini?
Dua jam kemudian, Maya menemukan dirinya duduk di sofa ruang keluarga. Dia sudah mandi, mengenakan dress rumahan sutra tipis berwarna biru muda. Pilihan pakaian yang disengaja—cukup sopan untuk dipakai di rumah, tapi cukup tipis untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya saat terkena cahaya. Rambutnya yang basah terurai di bahunya, meninggalkan bercak lembap pada sutra.
Laptop terbuka di meja depannya, beberapa email pekerjaan yang mendesak sudah dibalas, tapi fokusnya terus menerus terganggu. Jauh dari efisiensi yang biasanya menjadi ciri khasnya di kantor.
Mual paginya sudah mereda setelah segelas teh jahe yang dibuatkan Pak Karyo. Pria itu selalu tau apa yang dibutuhkannya, bahkan sebelum Maya meminta.
Apa aku benar-benar akan melakukan ini?
Maya menelan ludah, tangannya meraih remote TV tapi tidak menyalakannya. Matanya menatap taman belakang melalui pintu kaca. Pak Karyo sedang bekerja di sana, memotong tanaman yang tumbuh terlalu tinggi. Gerakannya efisien, kuat, dan terlatih.
Aku bahkan nggak tau cara memulainya.
Maya meletakkan remote dan mencoba mengatur napasnya. Ini bukan pertama kalinya dia bersama Pak Karyo. Mereka pernah jauh lebih intim dari sekadar pijatan. Tapi konteksnya berbeda. Dulu itu 'program'—tujuannya jelas, perannya sudah ditentukan.
Ini berbeda. Ini murni untuk... kesenangan? Keinginan Irwan? Keinginannya juga? Maya tidak yakin.
"Pak Karyo!" Maya mendengar suaranya sendiri memanggil sebelum dia sempat berpikir lebih jauh.
Melalui pintu kaca, dia melihat Pak Karyo menghentikan pekerjaannya, melihat ke arah rumah, lalu meletakkan gunting tanaman dan berjalan masuk.
"Ada napa, Bu?" tanyanya saat membuka pintu, tangannya yang besar dan kasar masih memegang kain lap untuk membersihkan keringat.
Maya merasakan tenggorokannya mengering. Ini lebih sulit dari yang kubayangkan.
"Saya..." Maya menelan ludah, mencoba mencari alasan yang tidak terlalu jelas. "Punggung saya agak sakit. Apa Pak Karyo bisa..."
Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Pak Karyo mengangguk dengan pengertian. "Bisa, Bu. Mau di sini atau di kamar?"
"Di sini aja," kata Maya cepat. Sofa di ruang keluarga memberinya rasa aman yang tidak akan dia dapatkan jika mereka berdua di kamar. "Saya duduk aja."
Pak Karyo tampak ragu sejenak. "Kalau duduk, ndak begitu manjur, Bu. Biasane lebih enak kalau—"
"Iya, tapi saya lagi nggak enak badan," potong Maya, tangannya subconsciously menyentuh perutnya. Delapan minggu, belum ada tanda-tanda yang terlihat, tapi mereka berdua tau apa yang tumbuh di sana. "Mual kalau berbaring."
Pak Karyo mengangguk dengan pengertian. "Saya ambil minyak dulu."
Dia menghilang ke arah dapur, meninggalkan Maya sendirian dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Apa yang aku lakukan? Ini konyol.
Tapi sebelum Maya sempat berubah pikiran, Pak Karyo sudah kembali dengan sebotol kecil minyak kelapa yang diberi campuran rempah. Aroma khas minyak itu—hangat, bumi, dan sedikit manis—entah bagaimana menenangkan mual Maya alih-alih memperburuknya.
"Silakan duduk miring sedikit, Bu," instruksi Pak Karyo.
Maya menggeser posisinya di sofa, memberikan akses ke punggungnya. Dia merasakan jantungnya berdegup saat tangan besar Pak Karyo mulai bekerja di punggungnya, menembus kain sutra tipis dress yang dipakainya.
"Tegang sekali, Bu," komentar Pak Karyo, suaranya profesional.
Ya, tentu saja tegang, pikir Maya. Aku sedang mencoba mencari cara untuk membuatmu menyentuhku secara tidak profesional.
"Mmm," hanya itu yang bisa Maya katakan saat jari-jari terampil itu menemukan titik tegang di bahu dan punggungnya.
Maya menutup mata, membiarkan sensasi pijatan mengambil alih kesadarannya sejenak. Tidak sulit untuk melepaskan diri dalam kenikmatan sederhana ini—tekanan yang tepat, kehangatan yang menjalar dari tangan Pak Karyo, aroma minyak yang menenangkan.
Tanpa sadar, Maya mengeluarkan desahan kecil saat Pak Karyo menemukan titik kaku di tengah punggungnya.
"Di situ, ya, Bu?" tanya Pak Karyo, suaranya masih sama—sopan, profesional, terlatih.
"Ya," bisik Maya. "Terusin aja, Pak."
Dia membiarkan tubuhnya merespons lebih terbuka pada sentuhan Pak Karyo, tidak menahan desahan atau gerakan tubuhnya saat pijatan terasa baik. Maya bergeser sedikit, menyandarkan tubuhnya lebih dekat ke Pak Karyo.
"Bu Maya ndak apa-apa?" tanya Pak Karyo, tangannya sedikit ragu.
"Mmm," gumam Maya. "Enak. Lanjutin aja, Pak."
Jari-jari Pak Karyo bergerak ke bagian bawah punggungnya, mendekati area pinggang. Maya dengan sengaja bergeser sedikit, membuat dress sutranya tersingkap di bagian bawah, mengekspos lebih banyak kulit.
"Bu..." Pak Karyo berdeham, tangannya berhenti sejenak.
Maya membuka mata, menoleh sedikit. "Kenapa, Pak?"
"Ndak apa-apa, Bu." Pak Karyo melanjutkan pijatannya, tapi Maya bisa merasakan perubahan dalam sentuhannya—lebih hati-hati, lebih terkendali.
Maya menghela napas frustrasi yang tertahan. Ini tidak berhasil. Dia perlu lebih jelas, lebih langsung. Tapi bagaimana? Dulu, selama program, Irwan yang menyetup semuanya. Maya hanya perlu mengikuti alur.
Maya dengan sengaja mengeluarkan desahan lebih keras saat tangan Pak Karyo bergerak ke bagian bawah punggungnya. Dia menggeser tubuhnya, sedikit melengkungkan punggung agar dress sutranya menempel lebih ketat pada lekuk tubuhnya.
"Pak Karyo," Maya berkata dengan suara yang dibuat sedikit terengah. "Di bagian bawah lagi dong? Di situ banyak tegang..."
Dia merasakan tangan Pak Karyo bergerak ke area yang ditunjukkan, tapi sentuhannya tetap terukur dan profesional. Maya semakin frustasi. Apa yang harus dia lakukan untuk membuat pria ini menangkap sinyalnya?
"Mmm... iya di situ," desah Maya, sengaja membuat suaranya terdengar menggoda. Dia bergerak sedikit, membuat tubuhnya merapat pada tangan Pak Karyo.
Namun alih-alih merespons dengan mendekat, Pak Karyo justru mundur satu langkah kecil.
"Bu Maya sepertinya sudah cukup rileks," kata Pak Karyo, nadanya profesional. "Punggungnya sudah ndak terlalu tegang."
"Tapi masih sakit loh, Pak," protes Maya.
"Mungkin Bu Maya perlu istirahat sebentar," saran Pak Karyo sambil menutup botol minyaknya. "Atau mau saya buatkan teh jahe lagi?"
Maya menatapnya tidak percaya. Apa Pak Karyo benar-benar tidak menangkap sinyalnya, atau dengan sengaja mengabaikannya? Mengingat sejarah mereka, kemungkinan kedua tampaknya lebih masuk akal.
"Nggak usah deh," jawab Maya, tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya. "Saya... mau tidur sebentar aja."
Pak Karyo mengangguk sopan. "Istirahat memang baik untuk ibu hamil. Saya permisi dulu."
Dia mengambil botol minyaknya dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Maya sendirian di sofa dengan perasaan campur aduk—malu, frustasi, dan bingung.
Ini akan lebih sulit dari yang kubayangkan.
