๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐š๐› ๐Ÿ•๐Ÿ”

 

Maya menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Rambutnya yang masih lembap mengilap di bawah cahaya lampu, meninggalkan jejak basah di kerah kimono mandinya. Berendam selama satu jam tidak cukup untuk menjernihkan pikirannya. Tangannya perlahan menyusuri perut yang mulai sedikit membuncit—lima minggu, dan bayinya tumbuh sehat di dalam sana. Bayi Pak Karyo.

Kenapa aku masih memikirkannya seperti itu? Ini bayi kami—aku dan Irwan.

Tapi pikiran itu tak mau pergi. Setiap gerakan kecil dalam perutnya, setiap perubahan tubuhnya, semua mengingatkan pada momen-momen intim dengan Pak Karyo. Pada tangan kasarnya yang dulu menjelajahi setiap inci kulitnya.

Membuka lemari pakaian, Maya terdiam sejenak. Jarinya menyentuh lingerie sutra merah yang pernah dia kenakan selama "program"—hadiah dari Irwan yang ironis, mengingat dia memakainya bukan untuk suaminya. Di sampingnya, beberapa daster rumahan menggantung sederhana. Tangannya bergerak ragu antara dua pilihan itu.

Apa yang coba kau buktikan, Maya?

Dia akhirnya memilih daster katun berwarna biru muda—tidak terlalu menggoda, tapi juga tidak menutup segalanya. Daster itu menonjolkan payudaranya yang membesar akibat kehamilan dan cukup tipis untuk memperlihatkan siluet tubuhnya bila terkena cahaya yang tepat.

Ponselnya terasa dingin di tangannya. Maya menimbang-nimbang, jemarinya mengetuk layar dengan gelisah. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Dia sudah memiliki segalanya—suami yang mencintainya, kehamilan yang didambakan selama bertahun-tahun, karier sukses. Kenapa gerangan dia masih merasa kurang?

"Ini cuma eksperimen," bisiknya pada diri sendiri, suaranya begitu pelan seakan takut kata-kata itu terdengar hingga ke luar kamar. "Hanya untuk memastikan."

Dengan napas tertahan, Maya mengetik pesan ke Pak Karyo:

"Pak, bisa ke ruang keluarga sebentar? Punggung saya masih pegel."

Jempolnya melayang di atas tombol kirim. Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik. Seperti penerjun yang ragu di tepi tebing, Maya menghitung dalam kepalanya, mempertimbangkan konsekuensi. Akhirnya, seperti orang yang menyerah pada gravitasi, dia menekan tombol itu.

Sudah terlambat untuk mundur.

Ruang keluarga masih menyimpan kehangatan sore ketika Maya berbaring tengkurap di sofa. Jendela besar di sisi ruangan membingkai langit Jakarta yang mulai memerah, pertanda matahari akan segera tenggelam. Maya menyalakan televisi dengan volume rendah—sinetron sore yang biasanya dia tonton bersama Pak Karyo saat Irwan kerja lembur.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara dialog samar dari televisi. Maya hampir saja membatalkan niatnya ketika derap langkah Pak Karyo akhirnya terdengar mendekat.

"Ibu memanggil saya?" Pak Karyo berdiri di ambang pintu, tangannya sedikit basah seolah baru saja menyiram tanaman atau mencuci piring.

"Iya, Pak," Maya menjawab, merasakan mulutnya mendadak kering. "Bisa pijat lagi? Masih pegel semua setelah pesta kemarin."

Pak Karyo mengangguk, matanya bergerak sekilas menyusuri tubuh Maya yang terbaring. Dia tak menyadari lensa kecil yang tersembunyi di dalam ventilasi AC, yang dengan sempurna menangkap area sofa dari sudut yang ideal.

Seribasane ora usah. Iki ora bener. Nanging tangane iki pengen ndemek kulite maneh. (Seharusnya tidak usah. Ini tidak benar. Tapi tanganku ini ingin menyentuh kulitnya lagi.)

Pak Karyo mengambil minyak kelapa dari rak TV sebelum berlutut di samping sofa. Tangannya yang besar menuangkan sedikit minyak, menggosokkannya untuk menghangatkan sebelum menyentuh punggung Maya.

"Minyaknya mungkin dingin, Bu," dia memperingatkan, suaranya lebih serak dari biasanya.

"Mmm, nggak apa-apa," Maya menjawab, memejamkan mata.

Tangan Pak Karyo mulai bergerak di punggung Maya, awalnya dengan tekanan ringan, kemudian makin dalam. Minyak kelapa membuat gerakan tangannya lebih mulus, meninggalkan jejak mengkilap di daster tipis Maya yang mulai menyerap cairan itu.

"Mmm... enak," Maya mendesah pelan, merasakan ketegangan mulai mencair di bawah sentuhan Pak Karyo.

Di ruang meeting lantai 27, ponsel Irwan bergetar dalam saku. Dia melirik sekilas di bawah meja—notifikasi dari kamera tersembunyi di rumah. Dengan gerakan halus, dia meletakkan ponsel di pangkuan, tersembunyi di balik meja kayu besar saat presenter menjelaskan proyeksi kuartal mendatang.

"...dan grafik menunjukkan peningkatan signifikan di sektor..."

Irwan nyaris tersedak saat layar menampilkan Maya tengkurap di sofa dengan Pak Karyo berlutut di sampingnya. Jari-jari Irwan berkeringat, mengetuk layar untuk memperbesar gambar. Dia bisa melihat ekspresi Maya yang terbuai, matanya terpejam menerima pijatan.

"Pak Irwan, setuju dengan analisis ini?" suara direktur keuangan menarik perhatiannya.

"Ya, ehm... teruskan," jawab Irwan tanpa mengangkat wajah, matanya tak bisa lepas dari layar ponsel.

Saat perhatian kembali ke presenter, Irwan menyaksikan Pak Karyo mengubah posisi. Daripada tetap berlutut di samping sofa, dia bergeser ke belakang Maya, berdiri membungkuk. Posisi ini membuat selangkangannya berada tepat di belakang pantat Maya.

"Di sini juga tegang, Bu," Pak Karyo berkata, tangannya kini bergerak ke punggung tengah, di sisi tulang belakang.

Maya hanya menggumam, terlalu terbuai dalam sensasi pijatan untuk menyadari perubahan posisi Pak Karyo. Yang tidak dia ketahui, posisi ini sengaja dipilih agar Pak Karyo bisa sesekali menyentuhkan selangkangannya ke pantat Maya dengan dalih gerakan memijat.

Wetengku panas. Koyo biyen, nalika program. Kaya-kaya dasterรฉ kuwi njaluk dibukak maneh. (Perutku panas. Seperti dulu, waktu program. Seakan-akan dasternya itu minta dibuka lagi.)

Saat menekan satu titik tegang di bawah tulang belikat Maya, Pak Karyo sengaja membungkuk lebih dalam, membuat selangkangannya menyentuh pantat Maya dengan lembut. Sentuhan itu hanya sedetik, tapi cukup untuk membuat Maya sedikit tersentak—bukan karena terkejut, tapi karena sensasi akrab yang mendadak muncul.

"Maaf, Bu," Pak Karyo berkata, berpura-pura tidak sengaja, meski tidak ada penyesalan dalam suaranya. "Saya harus menekan kuat di titik ini."

"Mmm... nggak apa-apa," Maya menjawab, suaranya terdengar lebih serak. "Teruskan aja."

Dorongan itu seperti lampu hijau bagi Pak Karyo. Saat memijat area punggung bawah, dia kembali membungkuk, kali ini sengaja menempelkan selangkangannya lebih lama ke pantat Maya, bergerak sedikit seolah mencari posisi yang nyaman untuk memijat. Kejantanannya mulai mengeras, dan dia yakin Maya bisa merasakannya.


Di kantornya, Irwan duduk tegang di meja kerjanya di lantai 27. Presentasi masih berlangsung di depannya, namun perhatiannya tertuju pada tablet yang tersembunyi di balik laptop. Kamera tersembunyi yang dia pasang pagi tadi menangkap setiap detail dengan sempurna—bagaimana Pak Karyo kini berdiri membungkuk di belakang Maya, bagaimana dia sesekali menekankan selangkangannya ke pantat istrinya.

"...dan dengan strategi pemasaran ini, kami yakin bisa meningkatkan penjualan hingga 15% di kuartal berikutnya," suara presenter terdengar jauh, kalah dengan desahan pelan Maya yang tertangkap mikrofon tersembunyi.

Irwan menekan tablet lebih dekat, memastikan dia tidak salah lihat. Memang benar—Pak Karyo sengaja memposisikan dirinya untuk bersentuhan dengan Maya, dan yang lebih mengejutkan, Maya sama sekali tidak protes.

Apa yang terjadi di rumahku?

Tubuh Irwan bereaksi aneh. Dia seharusnya marah, seharusnya langsung menelepon Maya dan menghentikan semua ini. Tapi alih-alih marah, dia merasakan gelombang gairah aneh, campuran cemburu dan... ketertarikan yang tak bisa dijelaskan.

Tangannya gemetar saat menggeser posisi duduknya, berusaha menyembunyikan reaksi tubuhnya dari rekan kerja. Di layar, Pak Karyo kini memijat lebih rendah, hampir mencapai pinggul Maya. Setiap gerakan membuatnya membungkuk, selangkangannya yang jelas terlihat mengeras berulang kali menyentuh pantat Maya.

Dia sengaja. Dan Maya... Maya menikmatinya.

"Pak Irwan? Ada masukan?" suara direktur utama menariknya kembali ke realitas ruang rapat.

"Maaf, saya... sedang mencerna data terakhir," jawab Irwan asal, berharap wajahnya tidak menunjukkan apa yang baru saja dia saksikan.


"Turun sedikit lagi, Pak," Maya berbisik, matanya masih terpejam. "Di pinggang bawah... paling pegel."

Pak Karyo menurut, tangannya bergerak turun ke lekukan pinggang Maya. Posisinya membuat dia harus membungkuk lebih dalam, selangkangannya kini hampir konstan bersentuhan dengan pantat Maya. Tak butuh seorang jenius untuk menyadari bahwa dia sudah sepenuhnya ereksi.

"Di sini, Bu?" tanya Pak Karyo, suaranya semakin berat saat jempolnya menekan keras lekukan di atas pantat Maya.

"Aahh... iya," Maya mendesah, tubuhnya bergerak sedikit mengikuti tekanan tangan Pak Karyo. Gerakan itu membuat pantatnya bergesek langsung dengan kejantanan Pak Karyo yang mengeras.

Juancuk, sengaja tenan iki. Mosok ora krasa koyone. (Sial, sengaja benar ini. Masa tidak terasa kemaluanku.)

Bukannya menjauh, Pak Karyo justru sengaja memperbanyak kontak. Saat memijat sisi pinggang Maya, dia bergeser posisi berkali-kali, setiap gerakan membuat selangkangannya menekan dan menggesek pantat Maya dengan cara yang tak bisa lagi disebut kebetulan.

Maya jelas menyadari apa yang terjadi. Napasnya semakin cepat, dan semburat merah mulai menjalar dari leher hingga ke wajahnya. Tapi alih-alih protes, tubuhnya justru bergerak kecil, menerima dan bahkan mencari kontak itu.

"Paha juga, Pak," Maya berbisik, suaranya serak oleh gairah. "Pegal semua."

Pak Karyo beralih ke paha Maya, memijatnya dari betis perlahan naik. Setiap gerakan tangannya kini disertai dengan sentuhan selangkangannya yang makin agresif ke pantat Maya. Dia bahkan tak lagi berpura-pura tidak sengaja—gerakan pinggulnya jelas menunjukkan niat.

"Bu, miring sedikit," Pak Karyo mengarahkan, tangannya mendorong pinggul Maya. "Biar saya bisa mijat bagian dalam paha juga."

Maya menurut, berguling setengah miring. Posisi ini membuat payudaranya yang membesar terlihat jelas menekan daster tipis, nipple-nya yang mengeras menonjol di balik kain. Pahanya sedikit terbuka, dasternya tersingkap hingga pertengahan paha.

Pak Karyo menelan ludah melihat pemandangan ini, kejantanannya berdenyut di balik celana. Susunรฉ tambah gedhe saiki wetengรฉ bobot. Dhisik aku kerep ndemek, nyusu, nyedot susune. Pengen tak garap maneh. (Payudaranya tambah besar sekarang perutnya hamil. Dulu aku sering memegang, mengisap, menyedot putingnya. Ingin kugarap lagi.)

Tangannya kini memijat paha luar Maya, perlahan bergerak ke sisi dalam. Dia kembali mengubah posisi, kini berlutut di antara kaki Maya yang sedikit terbuka. Dari posisi ini, dia bisa melihat kilasan celana dalam Maya di balik daster yang tersingkap.

"Di sini tegang, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya naik lebih tinggi di paha dalam Maya, hampir mencapai pangkal paha.

"Mmm... iya," Maya mendesah, matanya masih terpejam, tapi tubuhnya bereaksi jelas—pinggulnya sedikit bergerak, mencari sentuhan itu. Tubuhnya mengkhianati akal sehatnya.

Pak Karyo semakin berani. Saat memijat paha dalam Maya, dia sengaja menyapu selangkangan Maya sekilas, berpura-pura tidak sengaja. Tapi kemudian, saat melihat tidak ada protes, sentuhannya menjadi lebih lama, lebih sengaja.

Maya merasakan jari Pak Karyo semakin dekat dengan selangkangannya. Setiap pijatan di paha dalamnya kini hampir menyentuh area kewanitaannya, dan tubuhnya bereaksi tanpa kendali—kulitnya memanas, jantungnya berdebar, dan celana dalamnya terasa semakin basah. Seharusnya dia menghentikan ini, tapi sesuatu dalam dirinya justru mendamba sentuhan itu.

"Tegang sekali di sini, Bu," suara Pak Karyo semakin dalam, jari-jarinya memijat paha dalam Maya, hanya beberapa sentimeter dari area kewanitaannya. "Ibu hamil memang sering kram di bagian paha."

Maya hanya mampu menggumam pelan. Kepalanya dipenuhi ingatan tentang tangan yang sama menjelajahi tubuhnya selama "program"—bagaimana jari-jari kasar itu dulu memuaskannya, membawanya ke puncak kenikmatan berulang kali.

Ini salah. Tapi kenapa tubuhku menginginkannya?

Pak Karyo bisa merasakan gairah Maya—dari napasnya yang memburu, dari pinggulnya yang sesekali bergerak kecil mencari sentuhan. Dheweke pengen. Kaya biyen. Opo aku wani? (Dia mau. Seperti dulu. Apa aku berani?)

Saat memijat titik tinggi di paha dalam Maya, jari Pak Karyo dengan sengaja menyapu area intimnya, sangat singkat tapi cukup untuk membuat Maya tersentak.

"Ah!" Maya terkesiap, tapi tidak protes.

Melihat reaksinya, Pak Karyo semakin berani. Jarinya kembali memijat paha dalam, setiap gerakan membawa tangannya semakin dekat dengan area sensitif Maya. Kali ini, dia membiarkan jempolnya menekan lebih lama, hampir-hampir menyeruak masuk pusat kenikmatan Maya.

Tubuh Maya bereaksi di luar kendalinya. Tepat saat ibu jari Pak Karyo begitu dekat dengan lipatan kewanitaannya, pinggulnya bergerak sendiri—sengaja menurunkan posisinya dan mendorong ke belakang.

Ya Tuhan, apa yang kulakukan? pikir Maya. Tapi tubuhnya tak mau dengar. Bagian bawahnya bergerak sendiri, mencari sentuhan itu.

Ibu jari Pak Karyo kini menekan kuat ke lipatan sensitifnya yang sudah basah di balik celana dalam. Tekanan itu membuat ibu jari Pak Karyo beserta kain celana dalamnya sedikit masuk ke dalam.

"Aaahhh!" Maya mengerang keras, tidak mampu menahan diri. Tubuhnya bergetar, matanya terpejam rapat menikmati sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan. Pikiran liarnya berlarian. Semua pikiran rasional tentang "ini salah" lenyap begitu saja.

Pak Karyo tersentak kaget saat merasakan Maya mendorong ke arahnya, membuat ibu jarinya mendesak masuk. Gusti Allah... dheweke pancen pengen (Ya Allah, dianya juga pengen). Dia bisa merasakan kehangatan dan kelembapan di balik kain tipis itu. Setelah Maya bergerak, Pak Karyo memberanikan diri menggerakkan ibu jarinya dengan pelan—mundur sedikit, lalu maju lagi, sedikit memutar.

Pikiran Pak Karyo berkecamuk. Iki ra patut. Nanging dheweke sing mulai. (Ini tidak pantas. Tapi dia yang memulai.)

"Uhhh..." Maya mengerang lagi, lebih pelan tapi lebih dalam. Getaran di tubuhnya semakin hebat saat ibu jari Pak Karyo mulai bergerak dengan ritme pelan. Setiap sentuhan mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuatnya mabuk.

Maya secara tidak sadar mulai menggerakkan pinggulnya, mengikuti irama jari Pak Karyo, mencari kenikmatan yang lebih. Jemarinya mencengkeram pinggiran sofa, napasnya kini pendek-pendek dan tak beraturan.

Pak Karyo semakin berani, menekan lebih dalam dan menggerakkan jarinya lebih cepat. Dia bisa merasakan Maya semakin basah, celananya sendiri terasa sesak oleh hasrat yang memuncak.

Akhirnya, Maya membuka mata—pandangan mereka bertemu. Mata Maya berkabut oleh gairah dan mata Pak Karyo terbakar hasrat. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap, waktu seolah membeku. Ibu jari Pak Karyo masih bergerak pelan di lipatan sensitifnya dengan celana dalam yang tertekan masuk, dan tubuh Maya masih bergetar merespons friksi yang membuatnya gila.

Seribasanรฉ iki ora oleh. Nanging dhewรฉkรฉ sing obah dhรฉwรฉ. Dhewรฉkรฉ sing pengen. (Seharusnya ini tidak boleh. Tapi dia yang bergerak sendiri. Dia yang mau.)

Kesadaran mendadak menghantam Maya seperti ember air dingin. Apa yang baru saja dia lakukan? Dia sengaja mencari sentuhan itu. Dia mengerang di bawah sentuhan pria yang bukan suaminya, di rumahnya sendiri.

"Pak—" Maya menarik diri dengan tiba-tiba, duduk dan merapikan dasternya dengan tangan gemetar. "Sudah cukup."

Pak Karyo tetap berlutut, napasnya berat, kejantanannya jelas terlihat mengeras di balik celana kainnya. "Bu Maya, saya—"

"Nggak, Pak," Maya memotong, suaranya bergetar. "Aku... saya rasa cukup. Terima kasih pijatannya."

Tanpa menunggu jawaban, Maya bangkit dengan tergesa, hampir tersandung kakinya sendiri saat bergegas meninggalkan ruangan. "Saya mau siap-siap, Irwan sebentar lagi pulang."

Pak Karyo masih berlutut di dekat sofa, tangannya yang tadi menyentuh area intim Maya kini terkepal erat. Wajahnya menampakkan campuran keinginan yang tidak tersalurkan dan penyesalan. Mesthine ora nyekel ngono. Ora ngembug tekan nggone kono. (Seharusnya tidak memegang begitu. Tidak menyentuh sampai ke tempat itu.)

Dengan napas berat, dia akhirnya bangkit, mencoba menyembunyikan ereksinya yang masih jelas terlihat saat beranjak ke dapur.


Di ruang meeting kantor, Irwan terpaku menatap layar tabletnya. Dia baru saja menyaksikan istrinya mengerang di bawah sentuhan Pak Karyo, melihat dengan jelas bagaimana Maya sengaja menggerakkan pinggulnya untuk mendapatkan sentuhan itu. Kemudian mata mereka bertemu, sebelum Maya tiba-tiba panik dan meninggalkan ruangan.

"Sial!" Irwan mengumpat pelan, frustasi karena adegan berakhir begitu cepat. Jantungnya berdebar kencang, celananya terasa sesak oleh ereksi yang tak bisa dia selesaikan di ruang rapat.

"Maaf mengganggu, Pak Irwan," seorang rekan kerja menyentuh bahunya. "Kita akan lanjut sebentar lagi."

"Ya, tentu," Irwan cepat-cepat mematikan layar tablet, meski pikirannya masih penuh dengan apa yang baru saja dia saksikan.

Sepanjang sisa presentasi, Irwan tak bisa fokus. Setiap beberapa menit, dia diam-diam mengecek tabletnya, berharap melihat Maya atau Pak Karyo kembali ke ruang keluarga. Tapi ruangan itu tetap kosong.

Kenapa dia berhenti? Mereka jelas sama-sama menginginkan.

Yang lebih mengganggunya, kenapa dia sendiri kecewa pertemuan itu berakhir? Seharusnya dia lega, bukan frustrasi seperti ini.

Presentasi berakhir, tapi Irwan masih harus menghadiri dua meeting lainnya. Sepanjang sore, dia berkali-kali mengecek tablet, melihat rekaman berulang-ulang. Sofa kosong di ruang keluarga. Maya yang terkadang melintas tapi tak pernah berhenti. Pak Karyo yang sibuk di dapur, wajahnya tegang.

Rekan-rekan kerja mulai memperhatikan keterdistrakannya. "Pak Irwan, Anda baik-baik saja? Tampaknya ada masalah penting."

"Ya, maaf. Ada... masalah lain yang harus saya pantau," jawab Irwan setengah jujur.

Saat jam akhirnya menunjukkan pukul enam sore, Irwan bergegas membereskan barang-barangnya. Namun, alih-alih pulang langsung, dia mampir ke toilet kantor, mengunci diri di bilik, dan kembali memutar rekaman Maya dan Pak Karyo. Dengan napas tertahan, dia melepaskan ketegangan yang telah mengganggunya sepanjang hari, membayangkan bagaimana seandainya pertemuan itu tak berakhir tiba-tiba.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com