Jari-jari kasar Pak Karyo bergerak perlahan di punggung Maya. Ruang keluarga sudah sepi, tidak ada lagi keramaian pesta keluarga yang baru saja usai. Maya berbaring tengkurap di sofa, mendesah lega saat tekanan di otot-otot tegangnya mulai terlepas.
"Mmm... enak, Pak," gumam Maya, matanya terpejam. "Punggung rasanya pegel banget habis berdiri seharian."
Pak Karyo mengangguk, tangannya bergerak metodis menekan titik-titik tegang. Kulite Bu Maya alus tenan. Saiki iki wetenge wis ono bayine, bayiku. (Kulitnya Bu Maya halus sekali. Sekarang perutnya sudah ada bayinya, bayiku.)
Pak Karyo sedikit menunduk, menghirup aroma shampo Maya. Rambute wangi koyok biasane. Aku kangen nyiumine rambut kuwi. (Rambutnya wangi seperti biasanya. Aku kangen mencium rambut itu.)
"Turun sedikit, Pak," Maya bergumam. "Pinggang bawah paling pegel."
"Baik, Bu," Pak Karyo menurunkan tangannya, memijat area pinggang Maya dengan lebih intens.
Di ruang kerjanya, Irwan bukannya membuka laptop, malah mengambil tablet dari laci meja. Dengan jantung berdebar, dia menyalakan perangkat itu dan membuka aplikasi kamera tersembunyi. Layarnya menampilkan pemandangan jelas—Maya berbaring dengan Pak Karyo di sampingnya.
Apa yang aku lakukan? Ini gila. Tapi dia tetap memperhatikan.
"Ahh..." Maya mendesah saat jempol Pak Karyo menekan titik yang tepat di bawah tulang belakangnya. "Di situ sakit banget."
"Tenang, Bu. Saya tau cara mengatasinya," Pak Karyo meningkatkan tekanan, jari-jarinya bergerak melingkar. Dhisik aku iso mayokke wetengku neng punggunge, saiki ora iso. Wetenge wis ana isine, ora mungkin. (Dulu aku bisa menempelkan perutku di punggungnya, sekarang tidak bisa. Perutnya sudah ada isinya, tidak mungkin.)
Tangannya perlahan turun, sedikit lebih rendah dari biasanya, hampir mencapai garis pantat Maya. Keberanian ini baru—sejak program kehamilan berakhir, Pak Karyo selalu menjaga jarak profesional, tak ingin melewati batas. Tapi malam ini, setelah melihat Maya begitu memesona sepanjang pesta, pertahanannya melemah.
"Ibu tegang di bagian sini juga," gumamnya, tangannya bergerak ke sisi tubuh Maya, jarinya sengaja menyapu sisi payudara Maya saat memijat area di bawah ketiaknya.
Maya tersentak kecil, tapi tidak protes. Bahkan matanya tetap terpejam. "Mmm... iya, pegel semua."
Jantung Pak Karyo berdetak kencang. Dhisik aku iso ndemek susune kanthi bebas, saiki mung bisa nyenggol nganggo pawadan mijeti. (Dulu aku bisa menyentuh payudaranya dengan bebas, sekarang hanya bisa menyenggol dengan alasan memijat.)
Irwan mengamati dengan napas tertahan. Setiap sentuhan tangan Pak Karyo yang semakin menjelajah, setiap desahan pelan Maya, membuat darahnya berdesir. Tangannya tanpa sadar bergerak ke selangkangannya sendiri.
"Bu, coba miring dikit," Pak Karyo mengarahkan dengan lembut. "Biar saya bisa mijat bagian samping."
Maya menurut, setengah berbaring miring, memberi akses lebih ke tubuhnya. Pak Karyo memanfaatkan kesempatan ini untuk merambah ke area yang lebih berani—paha bagian dalam Maya.
"Di sini juga tegang, Bu," katanya, suaranya sedikit serak. "Kalau hamil, peredaran darah di kaki sering tidak lancar."
"Mmm... iya..." Maya bergumam, matanya masih terpejam. Tapi tubuhnya mulai bereaksi pada sentuhan Pak Karyo—nipple-nya mengeras, terlihat jelas dari baju tidurnya yang tipis.
Koyo jaman semono, susune dadi atos nek takdemek. (Seperti waktu itu, payudaranya jadi keras kalau kusentuh.)
Di ruang kerjanya, Irwan semakin tidak bisa menahan diri melihat reaksi tubuh istrinya. Dengan tangan gemetar, dia menurunkan resleting celana, membebaskan kejantanannya yang sudah mengeras.
"Ahh..." Maya mendesah lagi, kali ini lebih dalam, saat Pak Karyo memijat paha dalamnya semakin tinggi. "Pak... mungkin sudah... cukup..."
Suaranya terdengar ragu, seolah dia sendiri tidak yakin ingin pijatan berhenti.
"Maaf, Bu," Pak Karyo menjauhkan tangannya sedikit. "Apa terlalu sakit?"
"Bukan, bukan sakit..." Maya membuka mata, menatap Pak Karyo. Ada sesuatu dalam tatapannya—kebingungan, gairah yang tidak pada tempatnya. "Cuma... cukup untuk malam ini."
Pak Karyo mengangguk, menarik tangannya. "Baik, Bu. Memang sudah cukup lama. Nanti terlalu capek tidak baik untuk..." dia melirik perut Maya, "...untuk bayinya."
Maya perlahan bangkit, merapikan bajunya yang sedikit tersingkap. "Makasih ya, Pak."
"Sama-sama, Bu," Pak Karyo mengangguk hormat, meski matanya dengan lapar mengikuti setiap gerakan Maya. Dheweke tetep ayu, luwih ayu malah saiki. Wetenge sing mblendhuk dadi bukti yen aku tau nduweni dheweke. (Dia tetap cantik, lebih cantik malah sekarang. Perutnya yang membuncit jadi bukti kalau aku pernah memiliki dia.)
Begitu Maya meninggalkan ruangan, Pak Karyo menghela napas berat, mengusap wajahnya kasar. Ora bisa ngene terus. Kabeh wis rampung. Bu Maya dudu duwekku. (Tidak bisa begini terus. Semua sudah selesai. Bu Maya bukan milikku.)
Di ruang kerjanya, Irwan buru-buru mematikan tablet saat mendengar langkah Maya mendekat. Dengan tangan gemetar, dia merapikan pakaiannya, menekan gairah yang belum tersalurkan.
Maya masuk sambil menguap. "Udah selesai emailnya, Yang?"
"Belum... masih banyak," Irwan berusaha terdengar normal. "Kamu tidur duluan aja."
"Oke," Maya mengangguk, tapi tidak beranjak. "Yang..."
"Kenapa?"
"Nggak... nggak jadi," Maya tersenyum tipis. "Cuma mau bilang jangan begadang. Kamu juga capek habis pesta."
Setelah Maya keluar, Irwan kembali menyalakan tablet. Bukan untuk melihat live feed, tapi untuk membuka rekaman yang sudah dia simpan—saat Maya dan Pak Karyo bercinta di kamar tamu beberapa minggu lalu. Dengan napas memburu, dia kembali menurunkan resleting celananya.
Wangi kopi mengisi dapur saat Maya melangkah masuk dengan langkah pelan. Semalam dia tidur gelisah, mimpi-mimpi aneh tentang tangan kasar yang menjelajahi tubuhnya membuatnya terbangun beberapa kali. Dia melihat Pak Karyo sudah sibuk menyiapkan sarapan, sementara Irwan duduk di meja makan membaca berita di tabletnya.
"Pagi, Yang," Maya mencium pipi Irwan sebelum duduk.
"Pagi, Sayang." Irwan tersenyum, tapi matanya cepat kembali ke tablet. "Tidur nyenyak?"
Maya melirik sekilas ke arah Pak Karyo yang sedang memotong buah. "Lumayan," dustanya.
Bohong. Aku hampir nggak bisa tidur semalam. Pijatan itu... kenapa tubuhku bereaksi seperti itu?
"Saya buatkan teh khusus untuk Ibu," Pak Karyo mendekat, meletakkan secangkir teh berwarna kecoklatan di hadapan Maya. "Teh jahe, kunyit, dan sedikit kayu manis. Bagus untuk ibu hamil."
"Makasih, Pak," Maya tersenyum tipis, berusaha menghindari kontak mata.
"Dulu istri saya selalu minum ini waktu hamil," Pak Karyo menambahkan, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Membantu mengurangi mual dan memberi energi."
Maya hanya mengangguk, tangannya terulur mengambil cangkir. Pada saat yang sama, Pak Karyo menyesuaikan posisi cangkir, dan jari-jari mereka bersentuhan.
Hanya sentuhan ringan, tidak lebih dari sedetik, tapi rasanya seperti aliran listrik menjalar di tubuh Maya. Dia cepat-cepat menarik tangannya, sedikit teh tumpah ke meja.
"Maaf, Bu," Pak Karyo buru-buru mengambil lap.
"Nggak apa-apa," Maya menjawab terlalu cepat, suaranya sedikit bergetar.
Kenapa? Kenapa hanya sentuhan biasa bisa bikin tubuhku bereaksi begini? Ini tidak normal.
Irwan mengangkat pandangan dari tabletnya, matanya tajam mengamati interaksi itu. Di bawah meja, kakinya bergerak gelisah. Dia melihat bagaimana Maya tersentak saat Pak Karyo menyentuhnya, bagaimana wajah istrinya sedikit memerah.
Menarik... reaksinya semakin intens dibanding sebelumnya.
"Kamu keliatannya lelah," Irwan berkata sambil meletakkan tabletnya. Maya tidak menyadari bahwa layarnya menampilkan gambar dari kamera tersembunyi, bukan berita seperti yang dia kira.
"Iya, pesta semalam bikin capek," Maya mengusap pelipisnya. "Kayaknya aku mau kerja dari rumah aja hari ini."
"Ide bagus," Irwan mengangguk, mengambil sepotong roti. "Aku ada meeting sampai malam nanti. Kemungkinan pulang telat."
"Meeting apa lagi?" tanya Maya, mengernyit.
"Presentasi untuk klien baru," jawab Irwan sambil mengunyah. "Kalau kamu perlu pijat lagi, minta aja sama Pak Karyo. Nggak perlu nunggu aku pulang."
Maya hampir tersedak tehnya. "Apa?"
Apa maksudnya? Setelah yang terjadi semalam?
"Pijatan kan bagus buat ibu hamil," Irwan melanjutkan santai. "Dan Pak Karyo jelas tau caranya. Kemarin kelihatannya kamu nikmatin banget."
Maya menatap suaminya, mencari tanda-tanda kecurigaan atau kemarahan, tapi yang dilihatnya hanya ketulusan. Atau setidaknya, apa yang tampak seperti ketulusan.
"Benar kan Pak?" Irwan menoleh ke arah Pak Karyo yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.
"Iya, Pak," Pak Karyo mengangguk sopan. "Pijat bisa melancarkan peredaran darah dan mengurangi bengkak yang sering dialami ibu hamil."
Kendhel tenan Pak Irwan iki. Apa dheweke ora ngerti aku seneng banget mijeti bojone? (Berani benar Pak Irwan ini. Apa dia tidak tahu aku sangat suka memijat istrinya?)
"Tuh kan yang? Pak Karyo paham betul," Irwan tersenyum, kembali pada sarapannya.
Maya memandang kedua pria itu bergantian, kebingungan. Apakah Irwan benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi semalam? Atau mungkin dia melihat sesuatu tapi menafsirkannya berbeda?
"Mungkin lain kali," Maya akhirnya berkata pelan.
Sarapan berlanjut dalam keheningan canggung. Maya lebih banyak mengaduk-aduk makanannya daripada makan, sementara Pak Karyo mondar-mandir di dapur dengan gerakan yang tampak lebih waspada dari biasanya. Beberapa kali Maya menangkap Pak Karyo melirik ke arahnya, tatapannya sulit diartikan.
Irwan berpaling pada Maya. "Kamu istirahat saja hari ini, jangan terlalu dipaksain kerjanya."
"Aku cuma perlu review beberapa proposal," Maya menjawab. "Nggak terlalu berat."
Irwan bangkit, menghabiskan kopinya dengan cepat. "Aku mandi dulu."
Begitu Irwan menghilang ke lantai atas, atmosfer di dapur berubah. Maya bisa merasakan Pak Karyo mendekat, membersihkan meja di dekatnya.
"Ibu perlu sesuatu lagi?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah.
"Nggak, makasih," Maya menjawab cepat, hampir defensif.
Pak Karyo mengangguk, tapi tidak beranjak. "Maaf soal semalam, Bu. Saya... terlalu lama mijatnya."
Maya mendongak, menatap mata Pak Karyo untuk pertama kalinya pagi itu. Ada sesuatu di sana—pengakuan tak terucap tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam.
"Nggak apa-apa, Pak," Maya akhirnya berkata. "Kita semua capek semalam."
"Benar, Bu," Pak Karyo menyetujui, tapi mereka berdua tahu percakapan ini tentang sesuatu yang lebih dalam.
Dheweke isih mikir soal program biyen, ketok saka matane. Aku yo ora bisa lali. (Dia masih memikirkan program dulu, terlihat dari matanya. Aku juga tidak bisa lupa.)
Maya beranjak dari kursinya. "Aku mau siap-siap dulu."
Saat melewati Pak Karyo, aroma tubuhnya—campuran minyak kelapa dan keringat samar yang maskulin—membuat perut Maya seolah jungkir balik. Napasnya tertahan tanpa sengaja.
Ya Tuhan, kenapa? Aku sudah hamil. Program itu selesai. Seharusnya perasaan ini juga selesai.
Siang menjelang, dan rumah terasa sepi setelah Irwan berangkat kerja. Maya duduk di ruang kerjanya, laptop terbuka menampilkan spreadsheet yang sama selama satu jam terakhir tanpa kemajuan berarti. Konsentrasinya buyar, pikirannya terus kembali pada interaksi pagi tadi.
Suara mesin pemotong rumput dari halaman belakang mengalihkan perhatiannya. Maya berjalan ke jendela, menyibak tirai. Dari sini dia bisa melihat Pak Karyo sedang membersihkan halaman, punggungnya membelakangi rumah.
Irwan memang selalu meminta Pak Karyo bekerja tanpa baju saat merawat kebun. Alasannya praktis—agar tidak perlu mencuci baju kotor. Tapi sekarang, saat Maya memperhatikan otot-otot punggung Pak Karyo yang bergerak di bawah sinar matahari, dia tahu alasan lain Irwan mungkin meminta itu.
Apa yang terjadi pada kami? Pada pernikahan kami?
Maya menyentuh perutnya yang mulai membuncit sedikit. Lima minggu kehamilannya terasa seperti mimpi. Kadang dia masih tidak percaya program itu benar-benar berhasil.
"Program," bisiknya pada diri sendiri. Kata itu seharusnya klinis, steril. Tapi kenyataannya penuh dengan kenangan yang jauh dari klinis—desahan, sentuhan, dan momen-momen intim yang tidak seharusnya terjadi dengan pria selain suaminya.
Pak Karyo berbalik, dan untuk sesaat Maya yakin dia menatap langsung ke jendela tempatnya berdiri. Dia cepat-cepat mundur, jantungnya berdebar tak beraturan.
Aku harus bicara dengan Irwan. Semua ini... tidak sehat.
Maya kembali ke mejanya, menutup laptop. Dia tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti ini. Mungkin berendam air hangat bisa membantunya menjernihkan pikiran.
Saat melangkah ke kamar mandi, dia berpapasan dengan Pak Karyo di koridor. Lelaki itu baru masuk dari halaman, tubuhnya berkilau oleh keringat, handuk kecil tersampir di bahunya.
"Maaf, Bu," Pak Karyo menepi, memberi jalan.
"Nggak apa-apa, Pak," Maya menjawab, matanya tanpa sengaja menelusuri dada Pak Karyo yang telanjang. Bekas luka di sana mengingatkannya pada malam-malam "program"—bagaimana jarinya pernah menelusuri luka itu, bagaimana Pak Karyo bercerita mendapatkannya saat bekerja di perkebunan dulu.
Kenapa aku masih ingat detailnya?
"Ada yang Ibu perlukan?" suara Pak Karyo membuyarkan lamunannya.
"Ah, nggak," Maya menggeleng cepat. "Aku mau berendam sebentar."
"Kalau perlu pijat punggung lagi setelah mandi, Ibu bisa panggil saya."
Tawarannya terdengar profesional, tapi mata mereka bertemu dan ada kilatan di sana—pengingat akan keintiman yang pernah mereka bagi.
"Liat nanti ya," jawab Maya pelan, tangannya mencengkeram handuk dengan lebih erat dari yang seharusnya.
Aku harus bicara sama Irwan, pikir Maya sambil membuka keran, membiarkan uap air hangat memenuhi kamar mandi. Ini nggak sehat.
Maya melepaskan pakaiannya perlahan, matanya menangkap bayangannya di cermin—perut yang mulai membuncit, payudara yang membesar dan lebih sensitif sejak kehamilan. Tangannya bergerak menyentuh perutnya.
Di dalam sini... ada anak Pak Karyo.
Pikiran itu membuat tubuhnya merinding aneh. Maya cepat-cepat masuk ke bathtub, berusaha menenggelamkan pikiran-pikiran itu bersama tubuhnya.
Air hangat membantu menenangkan pikirannya, tapi hanya sebentar. Begitu dia memejamkan mata, bayangan tangan kasar Pak Karyo kembali menghantuinya—bagaimana tangan itu menjelajahi tubuhnya dulu, bagaimana tangan itu semalam menyentuh paha dalamnya dengan dalih pijatan.
"Cukup!" Maya membuka mata, menenggelamkan wajahnya ke air sejenak.
Setelah hampir satu jam berendam, Maya akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan kimono mandi, rambutnya masih lembap. Dia duduk di tepi ranjang, memandangi ponselnya. Haruskah dia menghubungi Irwan sekarang?
Tapi apa yang mau aku katakan? 'Yang, tolong suruh Pak Karyo berhenti mijat aku karena aku takut masih suka sama dia?' Konyol.
Maya menghela napas panjang. Mungkin dia hanya terlalu sensitif. Kehamilan memang membuat hormonnya kacau. Mungkin apa yang dia rasakan saat dipijat semalam hanya reaksi normal tubuh hamil yang sensitif.
Atau mungkin... aku masih punya perasaan untuknya?
Pikiran itu menakutkan. Maya menggelengkan kepala kuat-kuat.
Satu-satunya cara memastikan... adalah dengan mengulang situasi semalam.
Maya mengambil ponselnya, mengetik pesan untuk Irwan: "Meeting sampai jam berapa? Miss you."
Balasan datang beberapa menit kemudian: "Paling cepat jam 9. Miss you too. Jaga bayinya ya."
Maya menelan ludah, meletakkan ponsel. Keputusannya sudah bulat. Dia akan meminta Pak Karyo memijatnya sekali lagi—hanya untuk memastikan. Jika dia tidak merasakan apa-apa, berarti semalam hanya kebetulan, hanya reaksi fisik biasa. Tapi jika ternyata masih ada... sesuatu, maka dia harus benar-benar bicara dengan Irwan.
"Ini cuma eksperimen," Maya bergumam pada dirinya sendiri sambil mengeringkan rambut. "Cuma buat mastiin."
