𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟒

Setelah Irwan berangkat, Maya mengikuti Pak Karyo ke ruang keluarga yang sudah disiapkan dengan bantal-bantal nyaman di sofa.

"Silakan berbaring, Bu," Pak Karyo mempersilakan dengan sopan.

Maya menurut, berbaring tengkurap dengan hati-hati, bantal kecil menopang perutnya. Tangan Pak Karyo mulai bekerja di punggungnya, lebih percaya diri dari sebelumnya.

"Bagian mana yang sakit, Bu?" tanyanya.

"Di sini," Maya menunjuk area pinggang bawahnya. "Kursi rumah sakitnya keras banget."

Pak Karyo mengangguk, tangannya bergerak ke area yang ditunjuk. "Saya mengerti. Dulu istri saya selalu mengeluh tentang kursi rumah sakit setiap habis periksa."

"Pak Karyo seneng ya lihat foto USG tadi?" Maya bertanya, matanya terpejam menikmati pijatan.

Ada jeda sejenak sebelum Pak Karyo menjawab, "Tentu, Bu. Saya ikut bahagia melihat bayi Bapak dan Ibu sehat."

"Bapak sempet lihat detak jantungnya tadi?" Maya melanjutkan dengan nada kasual. "Kecil tapi kuat, kayak..." dia berhenti, hampir kelepasan mengatakan 'seperti ayahnya'.

"Kayak apa, Bu?" Pak Karyo bertanya, tangannya masih bergerak metodis.

"Kayak... harapan baru," Maya meralat cepat. "Kecil tapi penuh harapan."

Pak Karyo hanya mengangguk. Pijatan berlanjut dalam keheningan yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Maya tentang kebahagiaan melihat bayinya untuk pertama kali, dan Pak Karyo... entah apa yang dia pikirkan saat melihat foto USG bayi yang secara biologis adalah anaknya, tapi tidak akan pernah bisa dia akui.

"Pak Karyo?" Maya memecah keheningan.

"Ya, Bu?"

"Makasih ya," ucapnya tulus. "Buat semuanya. Teh herbal, pijatan, bahkan kedondong tengah malam."

Tangan Pak Karyo berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan lebih lembut. "Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu."

Jari-jari kokohnya bekerja dengan terampil di sekitar tulang ekor Maya, menekan titik-titik yang tegang dengan tekanan yang tepat. Maya mendesah pelan, merasakan kelegaan dari nyeri yang sudah mengganggunya seharian.

"Bagus, Pak," gumam Maya, matanya terpejam. "Emang bener-bener pegel banget di situ."

Saat konsentrasi Pak Karyo semakin dalam pada pekerjaannya, tangannya perlahan bergerak turun. Tanpa sengaja, jemarinya menekan lembut area pantat Maya. Dia hampir menarik tangannya, tapi Maya tidak bereaksi negatif—justru mendesah lega.

"Terusin, Pak," ucap Maya tanpa membuka mata. "Bagian situ juga sakit gara-gara duduk kelamaan."

Ragu sejenak, Pak Karyo akhirnya melanjutkan, mengurut dengan hati-hati bagian yang lebih rendah. Tangannya yang kasar kini memijat lembut bagian pantat Maya, tetap profesional meski jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Dia menelan ludah saat Maya sesekali mengerang kecil.

"Udah jarang pegel-pegel seperti ini ya, Bu?" Pak Karyo bertanya, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.

"Hmm... sejak hamil malah lebih sering," jawab Maya, suaranya mengantuk. "Apalagi pinggang sama pantat. Nggak tahu kenapa."

Setiap gerakan jarinya di pantat Maya memicu ingatan yang bikin tubuh Pak Karyo memanas. Bokong yang sama yang dulu dia remas, tampari, dan pegangi erat saat menggenjot Bu Maya dari belakang berjam-jam. Bokong yang montok itu, yang dulu bikin dia gila, yang sering dia cium dan jilat sampai Bu Maya menjerit-jerit.

Kepadatannya masih seperti yang dia ingat. Bedanya dulu dia bisa menikmati tanpa batas, sekarang cuma bisa nyentuh dengan alasan pijat. Pak Karyo menelan ludah saat ingatan Bu Maya nungging di depannya, bokongnya terbuka lebar, memohon untuk diisi muncul jelas di benaknya.

"Ahh, enak Pak," desah Maya pelan, bikin selangkangan Pak Karyo langsung bereaksi.

Keringatnya udah bukan cuma di dahi, tapi mengucur di punggung. Celananya mulai terasa sempit, dan dia harus berjuang keras nyembunyiin tonjolan yang makin membesar. Tiap kali jarinya menekan dan memijat pantat Maya, ingatan tentang pantat itu bergerak naik turun di pangkuannya bikin napasnya makin berat.

Setelah lima belas menit yang terasa seperti siksaan, Pak Karyo sengaja mengakhiri pijatannya. "Sepertinya sudah cukup, Bu," suaranya sedikit serak. "Nanti kalau dipijat terlalu lama bisa bahaya untuk kandungan." Pak Karyo terpaksa berbohong, yang bahaya sebenernya buat dirinya sendiri—takut nggak bisa nahan diri buat nggak nindih Bu Maya saat itu juga.

Maya membuka mata dan tersenyum. "Nggak apa-apa, pasti kamu juga capek. Makasih ya, Pak." Dia perlahan bangkit, merapikan bajunya yang sedikit tersingkap.

"Sama-sama, Bu. Saya... permisi dulu," Pak Karyo bergegas menuju kamarnya di bagian belakang rumah.

Begitu pintu tertutup, Pak Karyo duduk di tepi ranjang, napasnya berat. Celananya terasa sempit, reaksi tubuhnya sulit dikendalikan. Dia mengusap wajahnya kasar, merasa bersalah sekaligus frustasi.

"Astaghfirullah," bisiknya pada diri sendiri.

Bokong e Bu Maya kok iso alus banget, lan montok e ra karuan. Awakku dadi panas kabeh. (Bokong Bu Maya kok bisa halus banget, dan montoknya nggak karuan. Badanku jadi panas semua.)

Jarinya yang kasar masih terasa panas setelah menyentuh bagian tubuh majikannya yang tak seharusnya dia sentuh. Otaknya terus mengulang reaksi Maya yang tak menolak, malah memintanya meneruskan.

Setan! Iki mesti ditekan! Nek ora, mengko aku malah nggawe masalah. (Setan! Ini mesti ditekan! Kalau nggak, nanti aku malah bikin masalah.)

Malam semakin larut. Dengan tangan masih gemetar, Pak Karyo mengeluarkan ponsel dari laci dan mengirim pesan pada istrinya. Dia butuh pelampiasan sebelum nafsunya menguasai akal sehatnya. Tak lama, panggilan video masuk.

"Mas?" Wajah Ratih muncul di layar, tersenyum melihat suaminya. "Kok durung turu?" (Kok belum tidur?)

"Kangen," jawab Pak Karyo singkat, suaranya sedikit serak. "Dani wis turu?" (Dani sudah tidur?)

"Wis kawit mau. Ana apa ta, Mas? Kok raine aneh?" (Sudah dari tadi. Kenapa, Mas? Kok wajahnya aneh?)

Pak Karyo menggeleng pelan. Awakku panas, tapi aku ora iso ngomong nek iki mergo bokong e Bu Maya. (Badanku panas, tapi aku nggak bisa ngomong kalau ini gara-gara bokongnya Bu Maya.)

"Ratih... aku... kangen banget karo kowe." (Ratih... aku... kangen banget sama kamu.)

Ratih tersenyum malu, mengerti maksud tersirat suaminya. "Aku ya kangen, Mas," bisiknya. "Dani wis turu angler kok." (Dani sudah tidur pulas kok.)

Pak Karyo mengunci pintu kamarnya dan duduk di tepi ranjang sempit. Ponsel digenggam erat, jantungnya berdebar.

"Ratih, Dani tenan wis turu angler?" tanyanya, suara makin serak. (Ratih, Dani beneran sudah tidur pulas?)

"Wis tenan kok, Mas. Wis turu angler." (Udah beneran kok, Mas. Udah tidur pulas.)

Pak Karyo menelan ludah. "Awakmu iso bukak klambimu saiki?" (Kamu bisa buka bajumu sekarang?)

Ratih terkikik malu. "Mas nakal ah. Tapi iya wis, sebentar." (Mas nakal ah. Tapi iya deh, sebentar.)

Layar bergoyang saat Ratih meletakkan ponsel. Samar-samar Pak Karyo bisa melihat kamar sederhana mereka di desa. Ratih kembali ke layar, kini hanya mengenakan kain jarik yang dililitkan di dada.

"Kangen banget karo awakmu, Nduk," bisik Pak Karyo. (Kangen banget sama kamu, Sayang.)

"Aku yo kangen, Mas," jawab Ratih, pipinya merona. (Aku juga kangen, Mas.)

Jari-jari Pak Karyo mulai membuka kancing celananya. "Deloken aku, Nduk. Awakku wis ora kuwat." (Lihat aku, Sayang. Badanku udah nggak kuat.)

Ratih menutup mulutnya, tertawa kecil melihat Pak Karyo mengeluarkan kejantanannya yang sudah mengeras. "Mas, iku wis gedhe banget." (Mas, itu udah gede banget.)

"Mergo awakmu, Nduk. Delok awakmu..." (Gara-gara kamu, Sayang. Lihat badanmu...)

Dengan malu-malu Ratih menurunkan jariknya, menampakkan dadanya yang kecil namun kencang. Pak Karyo mengerang pelan, tangannya mulai bergerak naik turun.

"Buka kabeh, Nduk. Aku pengen weruh kabeh." (Buka semua, Sayang. Aku pengen lihat semua.)

Ratih menuruti permintaan suaminya, kini sepenuhnya telanjang di depan kamera. Dia duduk dengan kaki terbuka lebar, memperlihatkan kewanitaannya yang basah.

"Mas, mau tak keloni ngene." (Mas, mau aku belai begini.) Tangannya turun menyentuh bagian sensitifnya. "Rasane koyo iki lho, Mas." (Rasanya kayak gini lho, Mas.)

"Iya... teruske... oyee... awakmu apik tenan." (Iya... terusin... oyee... badanmu bagus banget.)

Gerakan tangan Pak Karyo semakin cepat, matanya tak lepas dari layar di mana Ratih juga semakin cepat menggerakkan jarinya. Desahan mereka bersahut-sahutan.

"Nduk... deloken... iki mergo awakmu." (Sayang... lihat... ini gara-gara kamu.) Pak Karyo semakin dekat dengan klimaksnya.

"Mas, aku melu, Mas... ahh..." (Mas, aku ikut, Mas... ahh...) Ratih menggelinjang, tubuhnya melengkung.

Dalam kepalanya, bayangan Ratih tiba-tiba berganti dengan Maya yang tadi mengerang di bawah pijatannya. Pak Karyo menutup mata, nafasnya semakin cepat.

"Ratih... ahhh!"

Cairan putih menyembur ke tangannya, sebagian mengenai seprai. Pak Karyo terengah-engah, perlahan membuka mata. Di layar ponsel, Ratih tersenyum puas.

"Mas... wis suwe ora koyo ngene." (Mas... udah lama nggak kayak gini.)

Pak Karyo tersenyum lelah. "Iya, Nduk. Aku tresno kowe tenan." (Iya, Sayang. Aku cinta kamu beneran.)

Setelah berbisik-bisik beberapa menit, mereka mengakhiri panggilan dengan janji akan segera bertemu. Pak Karyo membersihkan diri dengan tisu, lalu berbaring menatap langit-langit.

Perasaan bersalah menghinggapinya. Bukan karena apa yang baru saja dia lakukan dengan istrinya, tapi karena saat klimaks tadi, yang ada di benaknya adalah wajah Maya, bukan Ratih.

"Gusti, ampunilah hamba," bisiknya sebelum memejamkan mata.


Malam itu, ketika Irwan pulang, Maya dengan antusias menceritakan ulang pengalaman USG mereka. Dia memberikan rekaman yang diputar di laptop, dan mereka berdua duduk terpesona mendengarkan detak jantung bayi mereka.

"Ini keajaiban, Yang," bisik Maya, matanya berkaca-kaca lagi. "Setelah semua yang kita lalui...akhirnya..."

Irwan mengangguk, merangkul bahu Maya erat. "Kita akan jadi orangtua terbaik untuknya."

"Kamu nggak keberatan kan tadi Pak Karyo mijitin aku lagi?" Maya bertanya hati-hati.

"Nggak," jawab Irwan, ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Tekniknya emang bagus. Bikin kamu nyaman."

"Kamu...aneh akhir-akhir ini," Maya menelengkan kepalanya. "Beberapa hari lalu kamu cemburu, sekarang malah kamu sendiri yang nyuruh Pak Karyo mijit aku. Aku jadi bingung."

Irwan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala di kejauhan. "Aku... cuma nggak mau egois aja."

"Maksudnya?" Maya mengerutkan kening.

"Ya, aku sadar kalau teknik pijatnya emang bikin kamu nyaman," Irwan mengedikkan bahu, berusaha terdengar kasual meski jantungnya berdebar kencang. "Daripada kamu kesakitan, mending ada yang bisa bantu. Buat kebaikan kamu dan bayi kita juga."

Maya menatap Irwan dengan penuh tanya, masih belum sepenuhnya yakin. "Jadi kamu beneran nggak keberatan?"

"Nggak," Irwan tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang aneh dalam senyumnya. "Tekniknya ngebantuin kamu. Itu yang penting. Lagi pula, ini kan cuma pijat terapeutik."

"Hmm," Maya mengangguk pelan, masih merasa ada yang tidak dia pahami dari perubahan sikap suaminya.

"Lagian," Irwan menambahkan sambil merangkul bahu Maya, "aku mau kamu nyaman selama hamil. Ini kehamilan yang kita tunggu-tunggu bertahun-tahun. Aku nggak mau kamu stress atau nggak nyaman cuma gara-gara... gara-gara aku nggak bisa mijit dengan teknik yang tepat."

Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan, merasa lega namun tetap bingung. "Aku cuma nggak mau bikin kamu nggak nyaman, Yang. Kalau kamu keberatan, bilang aja."

"Tenang aja," Irwan mencium puncak kepala Maya, berusaha menyembunyikan gejolak aneh dalam dadanya. "Aku baik-baik aja."

Malam itu, saat Maya tertidur pulas, Irwan diam-diam menyelinap ke ruang kerjanya. Irwan diam-diam bangun dari tempat tidur. Dari laci meja kerjanya, dia mengeluarkan dua kamera mini yang dibeli secara online minggu lalu. Dengan langkah tanpa suara, dia menuju ruang keluarga tempat Maya biasa dipijat.

Tangannya gemetar ketika memanjat kursi dan membuka penutup ventilasi. Dengan hati-hati, dia memasang kamera pertama, mengarahkan lensanya tepat ke sofa. Kamera kedua dipasang di sudut berbeda untuk mendapatkan angle lebih lengkap. Setelah mengecek koneksi ke tabletnya dan memastikan semua berfungsi, Irwan menutup kembali ventilasi.

"Sempurna," bisiknya, menelan ludah. Campuran rasa bersalah dan antisipasi aneh membuatnya mual sekaligus berdebar.

Ia kemudian kembali ke ruang kerjanya. Dengan tangan sedikit gemetar, dia menyalakan tablet dan membuka folder tersembunyi yang berisi rekaman saat hari terakhir Maya bersetubuh dengan Pak Karyo.

Dengan gerak yang terbiasa, ia kembali meraih resletingnya dan…


Akhir pekan tiba dengan cepat. Keluarga besar mereka berkumpul untuk makan malam spesial merayakan kehamilan Maya. Rumah penuh dengan suara obrolan dan tawa. Orangtua Irwan, orangtua Maya, beberapa sepupu dan bibi dari kedua belah pihak datang dengan hadiah dan ucapan selamat.

"Akhirnya!" ibu Maya memeluk putrinya erat. "Tujuh tahun menunggu, akhirnya Mama bakal punya cucu."

"Enam tahun, Ma," Maya mengoreksi dengan senyum, "kami baru nikah enam tahun."

"Tetep aja lama," ibu Irwan ikut menimpali. "Adikmu yang baru nikah dua tahun aja udah mau punya anak kedua."

Maya dan Irwan bertukar pandang, keduanya tersenyum tipis mendengar komentar yang dulu selalu menyakitkan tapi kini tidak lagi terasa menyengat. Mereka sudah berhasil—Maya hamil, dan itu yang terpenting.

"Gimana rasanya, War?" ayah Irwan menepuk bahu putranya. "Jadi calon ayah?"

"Seneng banget, Pah," Irwan menjawab tulus. "Kayak... mimpi jadi kenyataan."

"Udah USG kan? Sehat?" tanya salah satu bibi.

"Udah, sehat sekali," Maya tersenyum bangga, mengeluarkan foto USG dari dompetnya. "Detak jantungnya kuat."

Foto itu berpindah tangan, diikuti dengan "oooh" dan "aaah" dari para tamu. Di sudut ruangan, Pak Karyo bergerak tenang menyajikan minuman untuk para tamu. Matanya sesekali melirik ke arah foto USG yang kini dipegang oleh ibu Maya.

Saat hidangan penutup disajikan, Andi, sepupu Maya, menariknya ke sudut ruangan yang lebih sepi.

"Jadi..." Andi berbisik, matanya penuh rasa ingin tahu, "kalian akhirnya jadi pakai donor?"

Maya menatap sepupunya dengan hati-hati. Andi adalah satu-satunya anggota keluarga yang tahu tentang rencana donor karena Maya pernah memintanya untuk menjadi donor, sebelum ditolak oleh Andi – dan semua calon donor yang mereka approach – sehingga akhirnya Pak Karyo mengajukan diri beberapa bulan lalu.

"Ya," jawab Maya singkat, matanya memastikan tidak ada yang mendengar.

Andi tersenyum, "Aku ikut seneng. Setelah semua yang kalian lewatin..."

"Makasih," Maya mengangguk.

"Jadi..." Andi melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, "kalian jadi pake donor? Siapa? Bukannya waktu itu kalian minta sama aku?"

Maya langsung mencengkeram lengan sepupunya, matanya waspada mengawasi tamu lain. "Ssst! Kamu gila ya ngomong begitu di sini?"

"Santai, nggak ada yang denger kok." Andi melirik ke sekeliling. "Tapi donor dari mana? Klinik? Atau... temen kalian yang lain?"

Wajah Maya memucat. "Andi, please. Jangan bahas ini lagi, ya? Dan jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia aku dan Irwan. Kamu satu-satunya keluarga yang tahu soal... metodenya."

"Ya iyalah aku nggak akan bilang siapa-siapa," Andi mendengus pelan. "Tapi aku penasaran banget. Jadi siapa? Orang yang aku kenal?"

"Andi," suara Maya bergetar, tangannya meremas lengan sepupunya lebih kuat, "aku mohon, ini rahasia kita. Aku nggak bisa kasih tahu siapa orangnya. Kalo sampe ketahuan keluarga... entah gimana nasib pernikahan aku sama Irwan."

Andi menatap Maya lama, kemudian menghela napas. "Oke, oke. Rahasia kita. Tapi metodenya pakai... um... cara medis atau...?"

Maya melepaskan genggamannya, wajahnya menegang. "Udah, ya. Jangan dibahas lagi. Yang penting sekarang aku hamil. Tolong rahasiakan ini dari siapapun."

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Suara percakapan yang tadinya riuh kini mereda. Ibu Irwan menguap diam-diam di balik telapak tangannya.

"Kita pamit dulu ya, Maya, Irwan," ujar ayah Maya sambil merangkul istrinya. "Besok masih ada acara di rumah Tante Siska."

Satu persatu kerabat mengikuti, pelukan dan kecupan pipi bertukar dengan janji akan bertemu lagi segera. Pintu depan terus terbuka dan tertutup, suara-suara pamitan bergema di teras depan.

Maya tersenyum dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum pintu tertutup. Begitu sendirian, senyumnya langsung luntur. Dia meregangkan leher yang kaku, lalu menghempaskan diri ke sofa. Jari-jarinya dengan susah payah melepas sepatu hak 7 cm yang sudah menyiksa kakinya selama berjam-jam. Dia mengerang lega saat kaki telanjangnya akhirnya menyentuh lantai dingin.

"Capek?" tanya Irwan, duduk di sampingnya.

"Banget," Maya mendesah. "Tapi seneng."

Pak Karyo sudah mulai membersihkan sisa-sisa pesta, mengumpulkan gelas-gelas kosong dengan gerakan efisien. Maya mengamatinya sejenak, lalu tanpa sadar mengusap pinggangnya yang terasa nyeri.

"Punggung sakit lagi?" tanya Irwan, mengikuti arah pandang Maya.

"Iya," Maya mengangguk. "Kebanyakan berdiri tadi."

Irwan melirik Pak Karyo, lalu kembali ke Maya. "Pak Karyo," panggilnya, "sepertinya istri saya butuh pijatan rutin Bapak lagi."

Pak Karyo menoleh, mengangguk sopan. "Baik, Pak. Saya siapkan tempatnya dulu."

Maya menatap Irwan dengan alis terangkat. "Kamu yakin? Kamu nggak perlu... apa... berusaha mijit sendiri?"

"Tekniknya lebih bagus dari aku," Irwan tersenyum, mengusap rambut Maya lembut. "Lagian, aku mau beresin beberapa email dulu. Ada yang urgent dari kantor."

Irwan menuju ruang kerjanya, sementara Maya mengikuti Pak Karyo ke ruang keluarga yang sudah disiapkan untuk pijatan. Tanpa dia sadari, Irwan telah memasang kamera tersembunyi, dengan sudut yang jelas menangkap seluruh aktivitas di sofa.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com