𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟑

 

Keesokan harinya, matahari sudah tinggi ketika Maya terbangun. Irwan sudah pergi ke kantor, meninggalkan catatan kecil di nakas: "Meeting pagi, nggak mau ganggu tidur kamu. Istirahat yang cukup ya. Love you."

Maya tersenyum membaca pesan itu, merasa bersalah karena membuat Irwan terbangun tengah malam. Dia beranjak ke kamar mandi, mencuci muka, dan turun ke dapur. Pak Karyo sedang merapikan halaman belakang, terlihat dari jendela dapur.

Di meja makan sudah tersedia sarapan ringan dan segelas teh herbal yang masih hangat. Ada catatan kecil di sebelahnya: "Untuk Bu Maya. Teh hal untuk energi. - Pak Karyo."

Maya menyesap teh itu perlahan, merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Punggungnya masih terasa sedikit nyeri. Tanpa pikir panjang, dia berjalan ke halaman belakang.

"Pagi, Pak," sapanya pada Pak Karyo yang sedang menyapu dedaunan kering.

Pak Karyo menoleh, langsung berhenti bekerja dan membungkuk sopan. "Selamat pagi, Bu. Ibu sudah merasa lebih baik?"

"Lumayan," Maya tersenyum. "Terima kasih untuk tehnya. Dan untuk kedondong semalam."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo mengangguk. "Saya senang bisa membantu."

Maya mengusap pinggangnya yang masih terasa nyeri. "Pak Karyo, punggung saya masih agak sakit. Apa... apa Bapak bisa pijat seperti kemarin?"

Ada keraguan sekilas di mata Pak Karyo sebelum dia menjawab, "Tentu, Bu. Tapi... apa Pak Irwan tidak keberatan?"

"Oh, dia sudah berangkat kerja," Maya menjawab cepat. "Dia bahkan bilang mau belajar teknik pijat dari Bapak."

Pak Karyo tampak lega. "Baik, Bu. Saya akan siapkan ruang keluarga untuk pijatnya. Saya cuci tangan dulu."

Lima belas menit kemudian, Maya berbaring tengkurap di sofa ruang keluarga, dengan bantal kecil menyangga perutnya. Pak Karyo mulai memijat bahunya dengan gerakan profesional namun percaya diri. Tangannya yang kasar dari kerja fisik bertahun-tahun bergerak terampil, menemukan titik-titik ketegangan di tubuh Maya.

"Mm, enak banget," Maya bergumam, merasakan otot-ototnya melemas di bawah tekanan tangan Pak Karyo. "Bapak bener-bener berbakat."

"Hanya pengalaman, Bu," Pak Karyo menjawab rendah hati. "Titik di pinggang bawah ini yang bikin Ibu nggak nyaman ya?"

Ketika ibu jari Pak Karyo menekan satu titik di pinggang bawahnya, Maya tak bisa menahan desahan lega. "Iya, tepat di situ. Rasanya nyeri banget dari tadi pagi."

"Ini titik yang sering bermasalah untuk ibu hamil," Pak Karyo menjelaskan, tangannya terus bergerak metodis. "Tubuh mulai menyesuaikan diri dengan kehamilan, meskipun masih sangat awal."

Maya hanya mengangguk, terlalu nyaman untuk bicara. Tangan Pak Karyo bergerak dengan percaya diri, berbeda dengan sentuhan ragu-ragu Irwan semalam. Tanpa sadar, Maya membandingkan keduanya—bagaimana Irwan selalu terlalu lembut, takut menyakitinya, sementara Pak Karyo tahu persis berapa banyak tekanan yang dibutuhkan.

"Pak Irwan sangat perhatian ya, Bu," Pak Karyo berkomentar tiba-tiba.

"Hmm? Kenapa Bapak bilang begitu?" Maya bertanya tanpa membuka mata.

"Semalam. Beliau sangat khawatir saat Ibu ngidam. Langsung mencoba berbagai cara untuk memenuhi keinginan Ibu," Pak Karyo menjawab sambil memijat area bahu Maya. "Itu tanda suami yang baik."

Maya tersenyum. "Iya, dia selalu begitu. Kadang terlalu khawatir malah."

"Wajar, Bu. Ini kehamilan pertama setelah menunggu lama. Pasti Pak Irwan sangat bahagia dan ingin semuanya sempurna."

Maya terdiam, merenungkan kata-kata Pak Karyo. Ada perasaan hangat menyelimuti hatinya, mengingat betapa Irwan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya, meski kadang tidak berhasil.

Pijatan berlanjut dalam keheningan yang nyaman. Maya hampir tertidur ketika suara ketukan di pintu depan mengejutkannya. Pak Karyo langsung menghentikan pijatannya.

"Saya akan lihat siapa, Bu," katanya, buru-buru berdiri.

Maya duduk dengan enggan, merasa kecewa pijatan menyenangkan itu harus terhenti. Dia bisa mendengar Pak Karyo membuka pintu dan berbicara dengan seseorang. Tak lama, Pak Karyo kembali dengan ekspresi sedikit tegang.

"Pak Irwan pulang, Bu," dia memberitahu dengan suara pelan.

Belum sempat Maya merespon, Irwan muncul di ambang pintu ruang keluarga. Dia terdiam sejenak, matanya bergerak dari Maya ke Pak Karyo, lalu kembali ke Maya.

"Oh, hai sayang," Maya menyapa, berusaha terdengar kasual. "Kok pulang jam segini?"

"Meeting-nya batal," Irwan menjawab, masih berdiri di ambang pintu. "Jadi aku pikir mending pulang, ngecek keadaan kamu."

"Aku baik-baik aja kok," Maya tersenyum, menepuk sofa di sampingnya. "Sini."

Irwan melangkah masuk, duduk di samping Maya. Matanya melirik Pak Karyo yang masih berdiri dengan sikap formal.

"Pak Karyo lagi mijitin punggung aku," Maya menjelaskan, merasa perlu mengklarifikasi situasi. "Masih sakit dari semalam."

Irwan mengangguk pelan. "Oh." Hanya itu responnya, tapi Maya bisa merasakan ada sesuatu di balik kata singkat itu.

"Saya permisi dulu, Bu, Pak," Pak Karyo membungkuk sopan. "Masih ada pekerjaan di halaman belakang."

"Jangan berhenti karena saya, Pak," kata Irwan tiba-tiba, mengejutkan baik Maya maupun Pak Karyo. "Saya lihat istri saya menikmati pijatan Bapak. Teruskan saja."

Maya menatap Irwan dengan campuran bingung dan terkejut. "Kamu... yakin?"

"Tentu," Irwan mengangguk, senyum tipis di bibirnya. "Aku lihat kamu kesakitan tadi malam, dan aku nggak bisa banyak bantu. Kalau Pak Karyo bisa bikin kamu nyaman, kenapa enggak?"

Pak Karyo masih berdiri ragu, matanya berpindah antara Maya dan Irwan. "Saya bisa lanjutkan nanti saja, Pak."

"Nggak apa-apa, Pak," Irwan bersikeras. "Saya justru mau lihat tekniknya, biar saya bisa belajar juga. Buat jaga-jaga kalau saya sendirian dengan istri saya."

Dengan canggung, Pak Karyo kembali ke posisinya. Maya berbaring tengkurap lagi, sementara Irwan duduk di kursi tunggal di dekat sofa, mengamati dengan seksama. Atmosfer ruangan terasa berbeda—ada ketegangan halus yang sebelumnya tidak ada.

Tangan Pak Karyo mulai bergerak lagi di punggung Maya, meski gerakannya terlihat lebih hati-hati dan formal sekarang. Maya sendiri juga tidak serileks sebelumnya, sadar akan tatapan Irwan yang tidak lepas dari mereka.

"Jadi tekniknya seperti itu, Pak?" Irwan bertanya, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Pak Karyo. "Menarik."

"Ini hanya pijat tradisional untuk ibu hamil, Pak," Pak Karyo menjawab sopan. "Titik-titik tertentu yang membantu meredakan ketidaknyamanan."

Irwan mengangguk, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat lebih jelas. "Apa itu juga yang Bapak lakukan untuk istri-istri Bapak?"

"Iya, Pak," Pak Karyo menjawab, tangannya terus bergerak metodis. "Terutama Ratih, istri kedua saya. Dia sering sakit punggung selama hamil."

Maya memejamkan mata, berusaha menikmati pijatan meski situasinya kini terasa aneh. Dia bisa mendengar Irwan bergeser di kursinya, sekali-sekali mendehem atau berkomentar, "Oh, jadi di situ titiknya," atau "Ah, saya mengerti sekarang."

Setelah lima belas menit yang terasa panjang, Pak Karyo akhirnya selesai. "Sudah, Bu. Semoga Ibu merasa lebih baik."

Maya duduk, mengangguk pada Pak Karyo. "Terima kasih, Pak. Jauh lebih nyaman sekarang."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo membungkuk, lalu beralih ke Irwan. "Ada yang ingin Bapak tanyakan tentang tekniknya?"

"Tidak sekarang, Pak," Irwan tersenyum tipis. "Saya perhatikan dengan baik tadi. Mungkin lain kali saya akan mencoba sendiri."

Setelah Pak Karyo kembali ke pekerjaannya, Maya mengamati Irwan yang kini duduk di sampingnya di sofa. Ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresinya—sebuah campuran emosi yang sulit dibaca.

"Kamu nggak keberatan?" tanya Maya hati-hati, masih bingung dengan sikap Irwan yang tidak biasa. "Tadi...maksud aku soal pijatan Pak Karyo."

Irwan menggeleng pelan, matanya masih menerawang. "Nggak. Kenapa harus keberatan? Dia bantu mengurangi sakitmu, itu yang penting."

"Tapi kamu...aneh," Maya menggeser duduknya menghadap Irwan sepenuhnya. "Biasanya kamu nggak gitu. Ada apa sih?"

Irwan menghela napas panjang, akhirnya menatap Maya. "Aku cuma...baru sadar aja kalau ada banyak hal yang nggak bisa aku kasih ke kamu langsung."

"Maksudnya?"

"Teh herbal, pijatan yang bikin nyaman, bahkan kedondong tengah malam," Irwan tersenyum tipis, ada kesedihan dalam senyumnya. "Pak Karyo tau semua itu dari pengalaman. Lima kali jadi ayah. Sementara aku..."

"Hey," Maya menggenggam tangan Irwan. "Itu semua hal sepele. Yang penting itu kamu, Yang. Aku nggak peduli siapa yang ngasih pijatan atau nyariin kedondong, selama kamu tetap di sampingku."

Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat ada sesuatu yang masih mengganjal di benaknya. Namun, alih-alih mendesak lebih jauh, Maya memilih mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Irwan.

"Aku seneng kamu pulang," bisiknya. "Kangen."

Irwan melingkarkan tangannya di bahu Maya, mencium puncak kepalanya. "Aku juga."

Mereka duduk seperti itu beberapa saat, menikmati keheningan yang nyaman. Dari jendela, mereka bisa melihat Pak Karyo yang sibuk membersihkan kolam ikan kecil di sudut taman, punggungnya yang lebar dan kokoh bergerak teratur saat dia bekerja.

"Besok jadwal USG pertama kita ya?" tanya Irwan tiba-tiba.

"Iya," Maya tersenyum lebar, tangannya bergerak ke perutnya yang masih rata. "Aku nggak sabar banget. Katanya kita udah bisa denger detak jantungnya lho."

"Beneran?" mata Irwan melebar, ekspresinya berubah jadi kegembiraan murni. "Secepat itu?"

"Iya, aku baca di buku kehamilan yang kamu beliin. Di minggu keenam atau ketujuh, jantung bayi udah mulai berdetak."

Irwan mengusap perut Maya dengan lembut. "Halo jagoan, besok Papa sama Mama mau dengerin detak jantung kamu ya."

Maya tertawa kecil. "Dasar. Baru tau jenis kelaminnya aja belum."

"Feeling Papa sih cowok," Irwan nyengir. "Tapi Papa tetep sayang kalau ternyata cewek cantik kayak Mama juga."

Malam itu, mereka tidur dengan perasaan antisipasi yang menggebu-gebu. Besok akan jadi hari besar—hari pertama mereka melihat bukti nyata kehidupan kecil yang tumbuh dalam rahim Maya. Pertama kalinya bayi mereka terlihat sebagai lebih dari sekadar garis pada test pack.

Keesokan paginya, Maya bangun lebih awal dari biasanya, terlalu bersemangat untuk bisa tidur lebih lama. Dia menemukan Irwan sudah duduk di tepi tempat tidur, tampak rapi dengan kemeja biru muda kesukaannya.

"Udah siap dari tadi?" Maya tersenyum geli.

"Meeting jam sebelas," Irwan mengusap rambutnya yang masih basah. "Tapi lebih penting nemenin kamu USG dulu."

Suasana sarapan pagi itu lebih ceria dari biasanya. Pak Karyo menyiapkan menu spesial—bubur ayam dengan kuning telur setengah matang dan teh herbal yang kini menjadi rutinitas Maya. Bahkan Pak Karyo pun terlihat tersenyum lebih lebar saat Maya memberitahunya tentang janji USG hari ini.

"Semoga bayinya sehat, Bu, Pak," ucap Pak Karyo dengan tulus saat mereka bersiap berangkat.

"Makasih, Pak," Irwan menepuk bahu Pak Karyo singkat. "Doain aja semua lancar."

Di rumah sakit, Maya dan Irwan duduk berdampingan di ruang tunggu, jari-jari mereka bertaut. Ada kegembiraan sekaligus kegugupan yang jelas terlihat di wajah keduanya.

"Bu Maya?" seorang perawat memanggil dari pintu.

Mereka berjalan beriringan ke ruang USG, hati berdebar kencang. Dr. Ratna menyambut dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Maya, Irwan. Hari besar ya?" sapanya ramah. "Hari ini kita akan coba lihat si kecil untuk pertama kalinya."

Maya berbaring di ranjang pemeriksaan, mengangkat blus bagian bawahnya sementara dokter mengoleskan gel dingin di perutnya. Irwan berdiri tegang di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Maya erat.

"Nah, kita mulai ya," Dr. Ratna menggerakkan alat di perut Maya, matanya fokus pada layar monitor.

Beberapa detik berlalu dalam ketegangan. Kemudian, suara itu terdengar—detak cepat dan teratur, seperti kuda kecil yang berlari.

"Itu dia!" Dr. Ratna tersenyum, menunjuk titik kecil yang berkedip di layar. "Detak jantung bayinya. Bagus dan kuat."

Mata Maya langsung berkaca-kaca. "Oh Tuhan...itu..."

"Anak kita," Irwan berbisik, suaranya tercekat oleh emosi. Tangannya yang menggenggam tangan Maya semakin erat.

"Detak jantungnya sekitar 140 kali per menit, normal untuk usia kehamilan ini," jelas Dr. Ratna. "Semuanya tampak baik. Perkembangannya tepat waktu."

Mereka menghabiskan sepuluh menit penuh keajaiban itu—memandangi titik kecil yang berkedip, mendengarkan detak jantung yang kini menjadi suara paling indah di dunia mereka. Dr. Ratna memberikan beberapa cetakan gambar USG dan rekaman untuk dibawa pulang.

"Terima kasih, Dok," Maya mengusap air mata harunya saat pemeriksaan selesai. "Ini... hari terbaik dalam hidup kami."

Sepanjang perjalanan pulang, Maya terus menggenggam amplop berisi foto USG. Dia membukanya berulang kali, memandangi titik kecil yang baru saja mereka lihat di layar monitor.

"Kecil banget ya," gumamnya takjub. "Tapi udah punya detak jantung sendiri."

Irwan mengangguk, masih terlalu terharu untuk bicara banyak. Tangannya yang memegang kemudi sesekali mengusap air mata yang hendak jatuh.

Sampai di rumah, Pak Karyo menyambut mereka di teras. Dia cepat-cepat menghampiri saat melihat Maya turun dari mobil.

"Bagaimana, Bu?" tanyanya, matanya memancarkan kekhawatiran dan antisipasi.

Maya tersenyum lebar, mengeluarkan foto USG dari amplop. "Lihat, Pak. Bayinya."

Tangan Pak Karyo sedikit gemetar saat menerima foto itu. Dia menatapnya lama, matanya bergerak menelusuri gambar hitam putih dengan titik kecil di tengahnya. Ada emosi mendalam yang sulit dijelaskan di wajahnya.

"Sehat?" tanyanya pelan.

"Sangat sehat," Irwan yang menjawab, menepuk bahu Pak Karyo. "Detak jantungnya kuat. Dokter bilang perkembangannya sempurna."

Pak Karyo mengangguk, masih memandangi foto itu. "Syukurlah." Hanya itu yang dia ucapkan, tapi suaranya sarat makna.

Maya menyadari perubahan sikap Pak Karyo. Ada sesuatu yang berbeda dalam caranya memandang foto USG itu—sebuah kelembutan dan kebanggaan yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Untuk sesaat, Maya hampir bisa melihat sosok ayah dalam diri Pak Karyo, bukan sekadar pembantu rumah tangga mereka.

"Aku capek," Maya bergumam, sengaja memecah momen itu. "Punggungku mulai sakit lagi gara-gara kursi rumah sakit yang keras."

Irwan melirik Pak Karyo, lalu kembali ke Maya. "Kenapa nggak minta Pak Karyo pijitin kamu lagi? Kursi-kursi di rumah sakit emang nggak nyaman."

Maya menatap Irwan dengan terkejut. "Kamu... nggak keberatan?"

"Kenapa harus keberatan?" Irwan tersenyum tipis. "Teknik pijatnya bagus. Bikin kamu nyaman."

Maya masih ragu, tapi punggungnya memang terasa nyeri. "Bapak nggak keberatan?" tanyanya pada Pak Karyo.

"Sama sekali tidak, Bu," Pak Karyo menjawab sopan, mengembalikan foto USG pada Maya. "Saya bisa siapkan tempat pijatnya sekarang."

"Saya tinggal dulu ke kantor ya," Irwan mencium kening Maya. "Meeting nggak bisa ditunda. Nanti sore aku pulang."

"Tapi..." Maya menatap Irwan penuh tanda tanya.

"Nggak apa-apa," Irwan tersenyum meyakinkan. "Mumpung ada Pak Karyo yang bisa bantu. Aku nggak mau kamu kesakitan nungguin aku pulang."


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com