𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟐

Keesokan paginya, suara muntahan membangunkan Irwan dari tidurnya. Maya tidak ada di sampingnya. Suara itu berasal dari kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.

"Sayang?" Irwan melompat dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi.

Di sana, Maya berlutut di depan toilet, wajahnya pucat dan berkeringat. Dia baru saja muntah untuk yang ketiga kalinya pagi itu. Irwan langsung berlutut di sampingnya, memegang rambutnya ke belakang dan mengusap punggungnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.

"Huek!" Maya kembali muntah, tubuhnya terguncang. "Nggak... nggak enak banget, Yang," keluhnya di sela napas yang terengah.

"Morning sickness ya?" Irwan bertanya, meski jawabannya sudah jelas. "Bentar, aku ambil air."

Irwan berlari ke dapur untuk mengambil air dan bertemu Pak Karyo yang sedang menyiapkan sarapan.

"Bu Maya kenapa, Pak?" tanya Pak Karyo, mendengar suara muntahan dari kamar mandi.

"Morning sickness, Pak. Muntah-muntah. Parah banget," jawab Irwan, mengisi gelas dengan air putih. "Saya harus cari cara untuk membantu dia."

"Saya bisa buatkan minuman khusus untuk mengurangi mual, Pak," tawar Pak Karyo. "Dulu istri saya juga sering mual hebat saat hamil muda."

"Tolong ya, Pak," Irwan mengangguk cepat. "Saya panik banget nih. Nggak tega lihat Maya kayak gitu."

Irwan bergegas kembali ke kamar mandi dengan segelas air. Maya masih terduduk di lantai, bersandar lemah pada dinding keramik dingin. Wajahnya pucat pasi dengan peluh membasahi dahinya.

"Minum dulu, sayang," Irwan menyodorkan gelas dengan hati-hati.

Maya mengambil gelas dengan tangan gemetar dan menyesap air perlahan. "Makasih." Suaranya lemah dan serak. "Aku nggak pernah ngerasain mual separah ini."

"Pak Karyo lagi bikin minuman buat ngurangin mual," Irwan mengelus rambut Maya yang basah oleh keringat. "Katanya resep tradisional yang dia kasih ke istrinya dulu."

Maya mengangguk lemah. Irwan membantunya berdiri dan perlahan-lahan membimbingnya kembali ke tempat tidur. Baru saja Maya berbaring, Irwan sudah sibuk dengan ponselnya, mencari informasi online tentang morning sickness.

"Di sini ditulis kamu harus makan biskuit asin sebelum bangun tidur," ucapnya sambil menggulir layar. "Terus hindari bau-bauan yang bikin mual. Gimana kalau aku beliin gelang akupresur? Katanya ampuh buat mual."

"Aku mau pil anti mual aja, Yang," Maya mengeluh, menarik selimut hingga dagu.

"Kamu yakin mau itu aja?" Irwan menatapnya khawatir. "Kondisi kamu gini..."

Ketukan pelan di pintu memotong ucapan Irwan. Pak Karyo berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi minuman beruap dan sepiring roti panggang tipis.

"Maaf mengganggu," ucapnya sopan. "Ini minuman untuk Bu Maya. Jahe merah, madu, dan beberapa rempah. Bisa membantu mengurangi mual."

Irwan langsung mengambil gelas dari nampan dan membantunya kepada Maya yang masih terlihat menderita. "Coba minum, sayang."

Maya meneguk minuman itu perlahan. Rasanya hangat, sedikit pedas dari jahe, dengan manis alami dari madu. Sensasi hangat itu seolah langsung menjalar ke perutnya yang tegang, memberikan ketenangan yang cepat. Dia meneguk lagi, lebih banyak kali ini.

"Enak," Maya bergumam, suaranya lebih kuat dari sebelumnya. "Dan... mualnya mulai berkurang."

Irwan menatap Pak Karyo dengan ekspresi lega dan takjub. "Minuman apa ini, Pak? Kok bisa secepat itu efeknya?"

"Hanya resep desa, Pak," Pak Karyo tersenyum tipis. "Nenek saya dulu dukun beranak. Beliau mengajarkan cara membuat ini untuk membantu ibu hamil yang mual."

"Ini ampuh banget, Pak," Maya duduk lebih tegak, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. "Kalau ibu-ibu di desa Bapak minum ini selama hamil, pasti mereka nggak sesusah aku."

"Oh, tetap susah, Bu," Pak Karyo tertawa kecil. "Istri pertama saya muntah terus sampai bulan keempat dengan anak pertama kami. Dengan anak kedua lebih baik. Tapi istri kedua saya, Ratih, justru muntah sampai tujuh bulan."

Maya dan Irwan bertukar pandang, sedikit terkejut mendengar Pak Karyo berbicara tentang keluarganya. Selama ini dia jarang sekali menceritakan kehidupan pribadinya.

"Tapi minuman ini bisa membantu?" tanya Irwan, matanya penuh harap.

"Ya, Pak. Tidak langsung sembuh, tapi lumayan membantu meringankan," Pak Karyo menjawab. "Saya bisa buatkan setiap pagi untuk Bu Maya."

"Terima kasih, Pak," Maya tersenyum tulus. "Saya sangat menghargai—" Ucapannya terhenti saat dia tiba-tiba meringis, tangannya memegang bagian bawah punggungnya.

"Kenapa, sayang?" Irwan bertanya cemas.

"Punggung aku sakit," Maya mengadu. "Kebanyakan ngebungkuk waktu muntah tadi."

Pak Karyo yang sudah akan meninggalkan kamar berhenti dan berbalik perlahan. Dia tampak ragu sejenak sebelum bicara, "Maaf, Bu... saya juga tahu teknik pijat tradisional untuk ibu hamil. Bisa membantu dengan sakit punggung."

"Teknik pijat?" Irwan menaikkan alisnya.

"Ya, Pak. Saya pernah diajari cara memijat istri selama kehamilan. Ada titik-titik tertentu yang bisa meredakan mual dan sakit punggung," Pak Karyo menjelaskan dengan hati-hati, seolah takut melewati batas.

Maya menatap Irwan penuh harap. Rasa sakit di punggungnya semakin mengganggu.

"Kamu harus ke kantor kan, Yang?" Maya bertanya pelan.

Irwan melihat jam tangannya dan menghela napas. "Iya, ada meeting yang nggak bisa aku tinggal." Dia menatap Pak Karyo, mengukur pria itu dari ujung kepala sampai kaki. "Apa... apa nggak apa-apa kalo Pak Karyo yang mijit kamu?"

Maya mengangguk lemah. "Kalau bisa mengurangi sakitnya, kenapa enggak?"

Irwan tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk pada Pak Karyo. "Tolong ya, Pak. Bantu istri saya. Saya akan segera kembali setelah meeting."

"Baik, Pak," Pak Karyo membungkuk hormat. "Saya akan sangat hati-hati. Ini hanya pijatan terapeutik."

Setelah Irwan berangkat ke kantor dengan berat hati, Pak Karyo membantu Maya ke ruang keluarga dimana ada sofa panjang yang lebih nyaman untuk pijatan. Maya duduk tegang, masih tidak yakin dengan keputusannya. Bagaimana pun, ini pertama kalinya dia akan disentuh oleh Pak Karyo sejak... program kehamilan mereka.

"Ibu bisa berbaring miring, lebih nyaman," Pak Karyo menyarankan, suaranya profesional dan sopan.

Maya menurut, berbaring miring di sofa. Pak Karyo mengambil bantal kecil dan menaruhnya di bawah perut Maya untuk menopang.

"Saya akan mulai dari bahu turun ke punggung bawah, Bu," Pak Karyo menjelaskan. "Kalau ada yang tidak nyaman, Ibu langsung bilang."

Tangan besar Pak Karyo mulai bergerak di bahu Maya, menekan titik-titik tertentu dengan ibu jarinya. Sentuhannya terasa berbeda—tidak intim seperti dulu, tapi murni terapeutik. Maya merasakan ketegangan di tubuhnya perlahan mencair.

"Bagian bawah punggung Ibu tegang sekali," Pak Karyo berkomentar saat tangannya bergerak ke area tersebut. "Ini wajar untuk ibu hamil, terutama setelah episode mual."

"Mmm," Maya hanya bergumam, matanya terpejam menikmati sensasi lega yang menjalar dari titik-titik yang dipijat. Tanpa sadar, dia mendesah pelan saat Pak Karyo menemukan satu titik yang sangat tegang.

"Di sini, Bu?" tanya Pak Karyo, menekan titik itu lagi.

"Iya, tepat di situ," Maya menjawab. "Sakit tapi enak."

Pak Karyo tersenyum kecil, melanjutkan pijatannya dengan lebih percaya diri. "Istri saya selalu bilang begitu. Sakit tapi enak."

Maya membuka matanya, menatap Pak Karyo dari posisinya. "Bapak sering mijit istri Bapak waktu hamil?"

"Setiap hari, Bu," jawab Pak Karyo sambil terus memijat. "Rutinitas pagi kami. Saya sebelum kerja, pijat istri dulu."

Ada keheningan nyaman yang meyelimuti mereka saat Pak Karyo melanjutkan pijatannya. Maya merasakan dirinya rileks sepenuhnya, sakit punggungnya hampir lenyap.

"Terima kasih ya, Pak," Maya bergumam, hampir tertidur karena kenyamanan pijatan itu. "Bapak benar-benar tahu cara membantu ibu hamil."

"Pengalaman, Bu," jawab Pak Karyo rendah hati. "Lima anak banyak mengajarkan banyak pengalaman."

Pijatan berakhir setelah sekitar dua puluh menit. Maya merasa jauh lebih baik, mualnya hilang dan punggungnya tidak lagi sakit. Dia duduk dengan segar, meregangkan tubuhnya.

"Luar biasa, Pak. Saya seperti orang baru," pujinya tulus.

"Senang bisa membantu, Bu," Pak Karyo mengangguk, kembali ke sikap formalnya. "Kalau nanti sakit lagi, saya siap membantu."

Maya tersenyum, "Saya akan ingat itu."


Ketika Irwan pulang sore itu dan mendapati Maya segar dan bahkan sedang memasak di dapur, dia tampak takjub.

"Lho? Bukannya tadi pagi kamu sakit banget?" tanyanya heran.

"Minuman Pak Karyo ampuh banget," Maya tersenyum, mengaduk sup ayam di panci. "Terus pijatannya juga ngebantu, Yang. Aku langsung seger lagi."

Irwan melingkarkan tangannya di pinggang Maya dari belakang, mencium pipinya. "Syukurlah. Aku khawatir banget tadi."

"Kamu lebay deh," Maya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke bahu Irwan. "Cuma morning sickness biasa kok."

"Biasa gimana? Kamu muntah-muntah kayak kesurupan gitu," Irwan menggeleng. "Untung ada Pak Karyo."

Maya terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam cara Irwan menyebut nama Pak Karyo yang membuatnya menoleh. "Kenapa? Kamu... nggak nyaman Pak Karyo bantuin aku?"

"Bukan gitu," Irwan menggeleng cepat. "Aku malah bersyukur ada dia. Aku nggak tau harus ngapain tadi pagi."

Maya mengangguk pelan dan kembali fokus pada sup yang hampir matang. Irwan melepaskan pelukannya, bersandar pada konter dapur.

"Jadi... pijatan Pak Karyo membantu?" tanyanya dengan nada yang berusaha terdengar kasual.

"Banget," Maya menjawab tanpa menoleh. "Dia tau persis titik-titik yang bikin nyaman. Katanya pengalaman dari mijit istri-istrinya waktu hamil."

"Hmm." Hanya itu respon Irwan, tapi matanya tidak lepas dari Maya. "Kamu nyaman dipijit dia?"

Maya menoleh, alisnya terangkat. "Maksudnya?"

"Ya, maksudnya... kamu nggak risih gitu?"

Maya mematikan kompor dan berbalik menghadap Irwan sepenuhnya. "Kenapa harus risih? Dia cuma bantuin aku waktu sakit."

"Iya sih," Irwan menggaruk belakang kepalanya. "Cuma... kalau kamu butuh pijat lagi, mungkin aku bisa belajar dari dia. Jadi aku yang mijit kamu."

Maya tersenyum, mengelus pipi Irwan lembut. "Kamu cemburu ya?"

"Nggak lah," Irwan menjawab terlalu cepat. "Aku cuma pengen lebih terlibat. Ini kehamilan kita kan."

"Iya sayang," Maya mencium bibir Irwan singkat. "Kamu boleh belajar mijit dari Pak Karyo kalau mau. Tapi jangan dipaksain juga. Kamu udah sibuk banget dengan kerjaan."

Makan malam berlangsung dengan tenang. Pak Karyo sudah kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah setelah membereskan dapur. Maya dan Irwan duduk berhadapan, membicarakan perkembangan bayi dan rencana check-up pertama minggu depan. Malam itu, mereka tidur dengan nyaman, Maya terlelap dalam pelukan Irwan.

Jam digital di nakas menunjukkan pukul 02:47 ketika Maya terbangun dengan mata terbuka lebar. Perutnya tidak terasa mual, tapi ada sensasi aneh yang mendera—sebuah keinginan kuat akan rasa tertentu.

"Yang," Maya mengguncang bahu suaminya. "Sayang, bangun."

Irwan menggeliat, matanya terbuka sedikit. "Mmm? Kenapa sayang? Kamu mual lagi?"

"Nggak," Maya duduk di tepi tempat tidur. "Aku... aku pengen makan sesuatu."

"Hah?" Irwan memaksakan matanya terbuka lebih lebar, melirik jam. "Jam tiga pagi?"

"Aku nggak bisa tidur kalau nggak makan itu sekarang," Maya berkata, suaranya serius.

Irwan menguap, tapi kemudian duduk juga. "Oke, oke. Kamu mau apa? Ada roti di dapur. Atau mau aku hangetin sup tadi?"

"Bukan," Maya menggeleng kuat. "Aku mau kedondong muda pake bumbu rujak."

Irwan mengerjap beberapa kali, yakin dia salah dengar. "Kamu mau apa?"

"Kedondong muda pake bumbu rujak," ulang Maya dengan ekspresi serius. "Yang masih hijau, asem-asem seger itu."

"Sayang," Irwan menghela napas panjang. "Ini jam tiga pagi. Dari mana aku bisa dapetin kedondong muda? Apalagi pake bumbu rujak?"

"Aku butuh itu, Yang," Maya merengek, tangannya mengelus perutnya. "Kayaknya si kecil pengen itu banget."

"Si kecil baru segede kacang polong, sayang," Irwan tertawa lelah. "Belum bisa pengen-pengen makanan."

"Pokoknya aku mau itu sekarang," Maya bersikeras, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku BUTUH itu. Bayinya butuh!"

Irwan meraih ponselnya, membuka aplikasi ojek online. "Coba aku cek dulu ada nggak yang masih buka—"

"Harus yang masih muda banget," Maya menambahkan. "Yang kayak dijual sama ibu-ibu di pasar tradisional. Bukan yang di supermarket."

Irwan mengusap wajahnya frustasi. "Sayang, nggak bakal ada yang jual kedondong jam segini. Apalagi yang spesifik muda banget."

"Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak makan itu," Maya mulai terisak. "Rasanya perut aku kayak kosong banget kalau nggak makan itu sekarang."

Irwan mencoba beberapa aplikasi pengiriman makanan, tapi tidak ada yang menawarkan buah itu, apalagi di jam selarut ini. "Coba kamu makan yang lain dulu? Besok pagi baru aku cariin kedondong."

"Kamu nggak ngerti!" suara Maya meninggi, air matanya kini mengalir bebas. "Kamu nggak ngerti apa yang aku butuhin!"

Tangisan Maya semakin kencang, membuat Irwan panik. Suara ketukan halus di pintu mengalihkan perhatian mereka.

"Maaf, Pak, Bu," suara Pak Karyo terdengar dari balik pintu. "Saya dengar Ibu menangis. Ada yang bisa saya bantu?"

Irwan menghela napas dan membuka pintu. Pak Karyo berdiri di sana dengan kaos oblong dan sarung, jelas baru bangun tidur.

"Bu Maya tiba-tiba pengen makan kedondong muda pake bumbu rujak, Pak," jelas Irwan lelah. "Dan harus sekarang juga."

Pak Karyo mengangguk paham. "Ah, ngidam." Dia tersenyum kecil. "Dulu istri kedua saya juga begitu, Pak. Tengah malam minta dicarikan mangga muda pake garam."

"Tapi dari mana kita bisa dapat kedondong jam segini?" Irwan menggaruk kepalanya frustasi.

"Saya tau tempat, Pak," Pak Karyo menjawab, mengejutkan keduanya. "Ada pasar tradisional 24 jam di Pasar Minggu. Ibu-ibu desa saya banyak yang jualan buah di sana."

Maya langsung menyeka air matanya, wajahnya berbinar. "Beneran, Pak? Ada yang jual kedondong muda? Yang masih hijau itu?"

"Ada, Bu," Pak Karyo mengangguk yakin. "Dan bumbu rujaknya juga bisa dapat di sana. Banyak ibu-ibu desa yang jual bumbu rujak khusus."

"Tapi Pasar Minggu jauh, Pak," Irwan mengerutkan kening. "Dari sini butuh hampir satu jam kalau lancar."

"Tidak apa-apa, Pak. Jam segini jalanan sepi. Paling setengah jam sampai," Pak Karyo meyakinkan. "Saya bisa pergi sekarang kalau Bapak izinkan."

Irwan menatap Maya yang kini penuh harap, lalu kembali ke Pak Karyo. Ada rasa tidak enak membiarkan pembantu mereka pergi tengah malam begini, tapi juga lega ada solusi untuk keinginan mendadak istrinya.

"Saya akan ikut, Pak Karyo," Irwan memutuskan.

"Tidak perlu, Pak," Pak Karyo menolak sopan. "Bapak temani saja Bu Maya. Saya sudah biasa keluar malam. Lagi pula, saya kenal baik dengan penjual-penjual di sana."

Irwan ragu sejenak, tapi Maya menarik tangannya. "Udah, biarin Pak Karyo aja, Yang. Kamu nemenin aku di sini."

"Baiklah," Irwan akhirnya menyerah. Dia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu. "Ini, Pak. Untuk beli kedondong dan ongkos taksi pulang pergi."

Pak Karyo menerima uang itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Pak. Saya akan segera kembali."

Setelah Pak Karyo pergi, Maya kembali berbaring di tempat tidur, tangannya masih mengelus-elus perut. "Makasih ya, Yang."

"Untuk apa?" Irwan ikut berbaring di sampingnya.

"Untuk nggak marah waktu aku minta yang aneh-aneh," Maya tersenyum kecil. "Dan untuk staying here with me."

Irwan mengangguk, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Rasa tidak nyaman saat menyadari dia tidak bisa memenuhi keinginan Maya, tapi Pak Karyo bisa. Dia mengelus rambut Maya perlahan.

"Punggung kamu masih sakit?" tanyanya, mencoba mengalihkan pikiran.

"Udah mendingan," Maya menjawab. "Pijatan Pak Karyo ampuh banget. Dia ngerti persis titik-titik yang bikin nyaman."

Irwan terdiam sejenak. "Ajarin aku dong, biar aku juga bisa mijit kamu kayak dia."

Maya tertawa kecil. "Boleh. Tapi kamu sering salah tempat waktu mijit aku. Tanganmu nggak sekuat Pak Karyo."

Ucapan itu terasa seperti tamparan kecil bagi Irwan. "Maksudnya aku kurang kuat?"

"Bukan gitu," Maya menggeleng, tidak menyadari perubahan nada Irwan. "Kamu terlalu lembut. Kadang mijit tuh butuh tenaga juga. Pak Karyo kan terbiasa kerja fisik, jadi tangannya lebih kuat dan terampil."

Irwan mengangguk pelan, matanya menatap langit-langit. Ada campuran emosi yang rumit dalam dadanya—kecemburuan, ketidakberdayaan, dan anehnya, sedikit rasa... terangsang? Dia menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu.

"Kamu kenapa? Sakit?" Maya bertanya, melihat Irwan menggeleng.

"Nggak, cuma agak pusing," Irwan berbohong. "Efek bangun tiba-tiba."

Hampir satu jam kemudian, suara mobil taksi terdengar berhenti di depan rumah. Tak lama, Pak Karyo masuk dengan kantong plastik berisi kedondong muda hijau dan wadah kecil bumbu rujak.

"Ini, Bu," Pak Karyo menyerahkan bawaannya pada Maya yang kini duduk bersemangat di tepi tempat tidur. "Kedondong muda pilihan. Ibu penjualnya bilang ini yang paling bagus untuk ibu hamil. Dan bumbu rujaknya spesial, tidak terlalu pedas."

Maya menerima kantong itu dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang baru diberi mainan. "Makasih banyak, Pak Karyo! Bapak penyelamat banget!"

Pak Karyo tersenyum, membungkuk sedikit. "Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu."

"Terima kasih, Pak," Irwan mengangguk, menyerahkan beberapa lembar uang lagi. "Ini untuk Bapak. Maaf merepotkan tengah malam begini."

"Tidak merepotkan, Pak," Pak Karyo menolak sopan tambahan uang itu. "Ini sudah kewajiban saya membantu Bapak dan Ibu."

Setelah Pak Karyo kembali ke kamarnya, Maya langsung memotong kedondong hijau itu menjadi irisan tipis dan mencelupkannya ke dalam bumbu rujak. Wajahnya memancarkan kenikmatan luar biasa saat gigitan pertama.

"Mmm, enak banget," desahnya tertahan. "Ini persis yang aku mau, Yang. Asem, manis, pedes, asin... sempurna."

Irwan mengamati istrinya menikmati makanan tengah malamnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kebahagiaan melihat Maya senang, tapi juga ada sesuatu yang mengganjal—kenyataan bahwa bukan dia yang berhasil memenuhi keinginan istrinya.

"Kamu mau coba?" Maya menawarkan sepotong kedondong yang sudah dicelup bumbu rujak.

Irwan menggeleng pelan. "Aku pass. Asem-asem gitu nggak enak dimakan tengah malam."

"Lebih enak dari yang aku bayangin," Maya melanjutkan makannya dengan nikmat. "Emang bener ya kata orang, ngidam tuh nggak bisa ditahan."

Irwan hanya tersenyum tipis, memperhatikan Maya yang dengan lahap memakan buah dan bumbu yang baru saja dibawakan Pak Karyo. Ada sesuatu yang aneh dalam perasaannya—campuran antara lega melihat istrinya bahagia dan kecewa karena bukan dia yang bisa memenuhi keinginan Maya.

"Aah!" Maya tiba-tiba meringis, tangannya memegang pinggang bawah.

"Kenapa?" Irwan langsung bergeser mendekatinya.

"Pinggang aku sakit lagi," Maya mengeluh. "Kayaknya gara-gara duduk tegang waktu nungguin kedondong tadi."

"Sini, aku pijitin," Irwan menawarkan, mengarahkan tangannya ke pinggang Maya.

Maya mengangguk, membiarkan Irwan memijat pinggangnya. Tapi setelah beberapa saat, dia meringis ketika jari Irwan menekan satu titik.

"Aduh, jangan di situ," Maya menarik diri sedikit. "Sakit."

"Maaf," Irwan menjauhkan tangannya. "Aku nggak tau harus mijit di mana."

Maya menghela napas. "Bukan gitu, Yang. Tapi... nggak kayak gitu caranya. Pak Karyo nunjukin titik tekanan yang bener, yang bikin rileks bukan tambah sakit."

Irwan terdiam, raut wajahnya menunjukkan campuran rasa terluka dan cemburu, meski dia berusaha menyembunyikannya. "Oh... maaf, aku nggak sepengalaman dia."

"Eh, aku nggak maksud nyakitin kamu," Maya cepat-cepat menambahkan, menyadari perubahan ekspresi suaminya. "Cuma... aku lagi sensitif banget. Maaf ya?"

Irwan mengangguk, tapi hatinya masih terasa tidak nyaman. "Nggak apa-apa. Mungkin besok aku bisa minta Pak Karyo ngajarin cara mijit yang bener."

"Itu ide bagus," Maya tersenyum, lega Irwan tidak marah. Dia melanjutkan makan kedondongnya.

Keduanya terjaga sampai jam empat pagi—Maya menghabiskan kedondongnya sementara Irwan berbaring di sampingnya, pikirannya berkecamuk dengan berbagai emosi yang tidak bisa dia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.

BERSAMBUNG ...

 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com