𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟕𝟏

 

Pagi masih gelap ketika Irwan membuka matanya. Di sampingnya, Maya masih tertidur lelap, rambut hitamnya tergerai di bantal. Sinar bulan yang menembus tirai jendela menciptakan siluet lembut pada wajahnya yang damai. Irwan tersenyum, mengamati istrinya dengan penuh kasih sayang—bibirnya yang sedikit terbuka, kelopak mata yang bergerak-gerak halus, dan napas teratur yang membuat dadanya naik turun dengan lembut.

Dengan perlahan, Irwan menggeser tubuhnya ke bawah, mendekatkan wajahnya ke perut Maya yang masih rata. Ini sudah menjadi rutinitas barunya sejak tes kehamilan menunjukkan hasil positif seminggu yang lalu. Dia mengusap lembut perut istrinya dari balik kain tipis piyama.

"Hey little one, Daddy's here," bisiknya pelan, berusaha tidak membangunkan Maya. "Kamu masih kecil banget ya di sana. Tapi Papa udah sayang banget sama kamu."

Irwan terus berbisik, bercerita tentang hal-hal yang akan mereka lakukan bersama suatu hari nanti—mengajari naik sepeda, membawa ke kebun binatang, membacakan dongeng sebelum tidur. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Enam tahun penantian, kekecewaan demi kekecewaan, dan akhirnya keajaiban ini terjadi. Sebuah kehidupan kecil tumbuh dalam rahim istrinya. Anak mereka.

"Apa yang kamu ceritain ke perutku?"

Suara lembut Maya mengejutkan Irwan. Dia mendongak dan mendapati istrinya menatapnya dengan mata yang masih mengantuk tapi penuh kelembutan.

"Eh, udah bangun?" Irwan tersenyum malu, seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan. "Aku cuma... ngobrol dikit sama anak kita."

Maya tersenyum, tangannya bergerak mengusap rambut Irwan dengan lembut. "Kamu lucu deh. Ngomong apa aja sama perutku?"

"Banyak," Irwan kembali naik, wajahnya kini berhadapan dengan Maya. "Cerita tentang apa aja yang bakal kita lakuin bareng nanti. Aku bilang kalau kita bakal jadi orangtua terbaik buat dia."

"Mmm," Maya mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Irwan lembut. "Pasti. Kamu bakal jadi papa yang keren."

Mereka berbaring berdampingan dalam keheningan yang nyaman, hanya ditemani suara detik jam dinding dan sesekali kendaraan yang lewat di jalan depan rumah. Irwan mengelus rambut Maya, sementara Maya menaruh kepalanya di dada Irwan, mendengarkan detak jantungnya yang teratur.

"Aneh nggak sih?" tanya Maya tiba-tiba.

"Apanya yang aneh?"

"Semuanya," Maya mendesah pelan. "Sebulan lalu kita masih stres mikirin program kehamilan. Sekarang... aku beneran hamil. Kadang masih kerasa kayak mimpi."

Irwan mencium kening Maya. "Bukan mimpi kok. Ini nyata. Kita akan jadi orangtua."

Aroma masakan mulai tercium dari arah dapur, menandakan Pak Karyo sudah mulai aktivitas paginya. Maya melirik jam di meja samping tempat tidur—05.32.

"Pak Karyo rajin banget ya," gumam Maya. "Masih pagi udah masak aja."

"Dia memang selalu bangun paling pagi," jawab Irwan. "Tapi belakangan dia kayaknya lebih... perhatian?"

Maya mengangguk pelan. "Iya, sejak tau aku hamil. Tiap pagi dia bikin teh khusus dari resep desanya."

"Yuk bangun," Irwan mendorong tubuhnya untuk duduk.

Mereka berjalan beriringan menuju dapur, masih dengan piyama tidur. Di sana, Pak Karyo sedang mengaduk sesuatu dalam panci kecil, punggungnya yang lebar terlihat dari belakang. Dia langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki Maya dan Irwan.

"Selamat pagi, Pak, Bu," sapanya dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Dia membungkuk sedikit, sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang meski sudah empat tahun bekerja di rumah ini.

"Pagi, Pak," balas Maya, mencium aroma yang menguar dari panci. "Wangi banget. Bikin apa pagi-pagi gini?"

"Teh spesial untuk ibu hamil, Bu," jawab Pak Karyo, menuangkan cairan kecoklatan ke cangkir keramik. "Dari resep nenek saya di desa. Bagus untuk kesehatan ibu dan bayinya."

Irwan mengintip ke dalam panci. "Wah, repot-repot lagi nih Pak Karyo."

"Nggak repot kok, Pak," Pak Karyo menyerahkan cangkir ke Maya dengan hati-hati. "Dulu istri-istri saya selalu minum ini waktu hamil. Bikin mual berkurang dan bikin bayi sehat."

Maya menyesap teh perlahan, merasakan sensasi hangat dan rempah yang kompleks di lidahnya. "Mmm, enak. Makasih ya, Pak."

"Sama-sama, Bu," Pak Karyo mengangguk. "Saya bisa buatin setiap pagi kalau Ibu suka."

Irwan melingkarkan tangannya di pinggang Maya dari belakang, sementara dia masih menikmati teh buatan Pak Karyo. Ada kebanggaan yang jelas terpancar di wajahnya ketika dia berkata, "Kita akan jadi orangtua, Pak."

Kata-kata itu terlontar begitu saja, dengan penekanan pada "kita" yang entah disadari atau tidak oleh Irwan, seolah mengikutsertakan Pak Karyo dalam momen bahagia ini. Hening sejenak. Pak Karyo menatap Irwan, lalu Maya, sebelum menunduk sopan.

"Ya, Pak. Selamat untuk Bapak dan Ibu," ucapnya dengan suara tenang, meski ada kilatan aneh di matanya. "Semoga bayinya sehat selalu."

Maya merasakan tangan Irwan sedikit mengencang di pinggangnya. Suasana dapur mendadak terasa berbeda—ada ketegangan halus yang tak terjelaskan. Maya berdeham pelan, menjauhkan diri dari pelukan Irwan.

"Aku mau siap-siap dulu ya. Ada janji jam sembilan," katanya, berusaha mencairkan suasana.

Setelah Maya meninggalkan dapur, Irwan dan Pak Karyo terdiam dalam keheningan yang terasa berat. Pak Karyo kembali sibuk membersihkan kompor dan peralatan masak, sementara Irwan menyesap kopi yang sudah disiapkan, pandangannya menerawang ke luar jendela. Ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, tapi tak satu pun yang bisa diucapkan.

Jam demi jam berlalu dengan cepat, dan sebelum Irwan menyadarinya, sudah waktunya untuk sesi terapinya dengan Dr. Andy. Kantor psikolog itu memiliki ruang tunggu yang nyaman dan pencahayaan yang tenang. Irwan duduk gelisah di sofa kulit, jari-jarinya mengetuk-ngetuk pegangan sofa. Ini adalah sesi kedua mereka, dan dia masih belum terbiasa membuka diri.

"Silakan masuk, Pak Irwan," sekretaris Dr. Andy mempersilakannya masuk ke ruangan dalam.

Ruangan Dr. Andy bernuansa netral dengan cat krem dan furnitur kayu berwarna gelap. Jendela besar menghadap ke panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Dr. Andy, pria dalam usia empat puluhan dengan kacamata tipis, tersenyum ramah menyambut Irwan.

"Selamat siang, Pak Irwan. Bagaimana kabar Anda minggu ini?" tanyanya sambil menjabat tangan Irwan.

"Baik," Irwan menjawab singkat, duduk di sofa yang sama seperti minggu lalu. "Maya positif hamil."

"Ah, selamat! Itu kabar yang sangat baik," Dr. Andy tersenyum tulus. "Bagaimana perasaan Anda?"

Irwan terdiam sejenak, matanya menatap tangannya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Itulah kenapa saya di sini. Saya... masih menonton videonya."

Dr. Andy menaikkan alisnya sedikit. "Video apa tepatnya, Pak Irwan?"

"Video Maya dan Pak Karyo," suara Irwan hampir seperti bisikan. "Rekaman dari... program kehamilan kami."

Dr. Andy mengangguk tanpa menunjukkan penilaian apa pun. Dia membuat catatan kecil di notesnya. "Dan bagaimana perasaan Anda saat menonton video itu?"

"Itulah masalahnya," Irwan mengusap wajahnya dengan frustasi. "Saya pikir setelah Maya hamil, perasaan-perasaan aneh ini akan berhenti. Tapi justru semakin kuat. Saya menonton video itu hampir setiap malam sejak tahu Maya hamil."

"Saya penasaran, Pak Irwan," Dr. Andy mengetuk pensilnya pelan, "kenapa Anda masih menonton video itu walaupun Maya udah hamil? Apa yang membuat Anda sulit berhenti?"

Irwan mengusap wajahnya, terlihat frustrasi. "Saya pikir semuanya bakal berakhir begitu Maya hamil, Dok. Bahwa perasaan... aneh ini bakal hilang dengan sendirinya. Tapi nggak. Malah makin parah."

"Anda mengira fetish ini hanya sementara?" Dr. Andy bertanya, nadanya penuh pengertian.

"Ya! Saya kira program ini selesai, video itu bakal terlupakan, dan kita semua lanjut hidup," Irwan menghela napas panjang. "Tapi videonya... Ada di sana. Menggoda. Seperti pengingat terus-menerus yang nggak bisa saya hindari.

"Dan Anda nggak bisa menolak untuk menontonnya," Dr. Andy melanjutkan.

"Hampir tiap malam," Irwan mengakui, suaranya penuh rasa malu. "Bahkan setelah tau Maya hamil anak kita... anak saya."

"Tapi ini tidak normal, kan?" Irwan bertanya, nadanya putus asa. "Maksud saya, saya mencintai bayi ini dengan segenap hati saya. Ini anak SAYA. Tapi setiap kali saya memikirkan bayi ini, saya teringat BAGAIMANA dia dikandung... dan itu... membuat saya terangsang."

Dr. Andy meletakkan penanya. "Anda telah menciptakan koneksi psikologis antara kebahagiaan menjadi ayah dengan rangsangan dari proses pembuahan. Ini mekanisme psikologis yang kompleks."

"Apakah normal merasa seperti ini? Teringat pada pemandangan istri Anda dengan pria lain setiap kali Anda memikirkan anak Anda?" tanya Irwan, matanya menatap Dr. Andy dengan putus asa.

"Normal adalah kata yang relatif," Dr. Andy menjawab dengan tenang. "Yang lebih penting adalah bagaimana Anda mengelola perasaan ini dan memastikan itu tidak mengganggu hubungan Anda dengan Maya atau peran Anda sebagai ayah nantinya."

Sesi berlanjut dengan diskusi mendalam tentang perasaan kompleks Irwan. Dr. Andy mendengarkan dengan penuh perhatian, memberi Irwan ruang untuk mengeksplorasi emosinya yang bertentangan. Setelah hampir satu jam, Dr. Andy duduk lebih tegak.

"Pak Irwan, situasi yang Anda hadapi membutuhkan keputusan," ujar Dr. Andy tegas. "Dan hanya Anda yang bisa memutuskan."

"Apa maksud Anda?" Irwan bertanya, gugup.

"Ada tiga jalan di depan Anda," Dr. Andy menjelaskan. "Pertama, Anda bisa terus masturbasi sembunyi-sembunyi dengan video itu. Tapi saya harus ingatkan, ini bisa menciptakan pola adiksi dan jarak emosional dengan Maya.

Irwan menatap lantai, jari-jarinya saling bertaut.

"Kedua, Anda bisa jujur sama Maya tentang fetish Anda. Ini berisiko—dia mungkin shock, marah, atau bahkan merasa dikhianati. Tapi juga berpotensi menciptakan kejujuran baru dalam hubungan kalian."

"Dan pilihan ketiga?"

"Anda bisa memutuskan meninggalkan fetish ini sepenuhnya. Hapus videonya, fokus jadi calon ayah. Tapi ini nggak gampang. Represi bisa muncul dalam bentuk lain."

Irwan menarik napas dalam. "Nggak ada pilihan yang gampang ya, Dok?"

"Memang nggak ada," Dr. Andy tersenyum tipis. "Tapi Anda nggak perlu memutuskan sekarang. Saya sarankan kita ketemu lagi dua minggu dari sekarang. Gunakan waktu ini untuk merenungkan ketiga pilihan tadi dan konsekuensinya."

Saat sesi berakhir, Irwan merasa sedikit lebih ringan meski masih banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya. Setidaknya sekarang dia melihat pilihan-pilihan di depannya dengan lebih jelas.

"Sampai dua minggu lagi, Pak Irwan," Dr. Andy mengantar Irwan ke pintu ruangannya. "Dan ingat, tidak ada keputusan yang harus dibuat sekarang. Berikan diri Anda waktu."

Irwan mengangguk, menjabat tangan psikolog itu. "Terima kasih, Dok."

Langit Jakarta sudah berubah jingga ketika Irwan keluar dari gedung. Hari Sabtu yang seharusnya tenang justru terasa berat dengan beban pikiran. Dia berdiri sejenak di lobi, menatap layar ponselnya. Dua panggilan tak terjawab dari Maya dan satu pesan: "Sayang, kamu pulang jam berapa? Aku ngerasa nggak enak badan nih."

Irwan langsung menelepon balik. Maya mengangkat pada dering ketiga.

"Halo?" suara Maya terdengar lemah.

"Maya? Kamu kenapa? Nggak enak badan gimana?" Irwan bertanya cepat, khawatir membuncah.

"Cuma pusing aja, sama mual dikit. Mungkin kecapekan atau masuk angin."

"Aku pulang sekarang ya? Kamu udah makan?"

"Belum... nggak nafsu. Perutku rasanya aneh banget."

"Jangan gitu, ntar kamu tambah sakit. Aku mampir beli bubur ayam dulu. Setengah jam lagi sampai."

Jalanan Jakarta pada Sabtu sore tidak sepadat hari kerja, tapi tetap saja butuh waktu untuk Irwan mencapai rumah mereka di kawasan Kemang. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terbagi antara kekhawatiran pada Maya dan percakapannya dengan Dr. Andy. Fetish, cuckolding, represi—semua istilah itu berputar-putar di kepalanya.

Irwan mampir di kedai bubur langganan mereka di Jalan Kemang Raya. "Bang, bubur ayam satu, nggak pake cakwe, kuahnya dikit aja, terus kecapnya dikit juga ya," pesannya, mengingat persis bagaimana Maya suka bubur ketika sedang tidak enak badan.

Sampai di rumah, Irwan menemukan Maya terbaring di sofa ruang keluarga, sebuah wadah plastik di samping sofa—jaga-jaga kalau dia muntah. Wajahnya pucat, dan selembar handuk basah terlipat di dahinya.

"Sayang?" Irwan berlutut di samping sofa, menyentuh pipi Maya lembut. "Aku bawain bubur nih."

Maya membuka mata, tersenyum lemah. "Hai... sesi terapinya gimana?"

"Kok malah nanyain itu sih? Kamu yang penting sekarang," Irwan mengusap rambut Maya yang basah oleh keringat. "Sejak kapan mualnya mulai?"

"Habis kamu berangkat tadi... awalnya cuma pusing biasa. Terus makin lama kok mual. Dua jam terakhir rasanya perut aku kayak diaduk-aduk," Maya menelan ludah dengan susah payah. "Tadi udah coba browsing simptom-simptomnya."

"Terus?"

Maya menarik napas pelan. "Banyak yang bilang ini normal... buat awal-awal kehamilan. Morning sickness nggak cuma datang pagi hari."

Irwan mengelus tangan istrinya. "Tapi kan masih enam minggu? Dr. Ratna bilang biasanya morning sickness mulai minggu keenam atau ketujuh."

"Setiap orang beda-beda, Yang. Ada yang mulai lebih awal," Maya tiba-tiba menutup mulutnya. "Hmmpf... mual lagi."

Irwan cepat-cepat membantu Maya duduk dan mendekatkan wadah plastik. Maya hanya terbatuk-batuk, tidak ada yang keluar. Keringat dingin membasahi keningnya.

"Kita telpon Dr. Ratna aja yuk?" Irwan menawarkan, mengusap punggung Maya lembut.

"Nggak usah... ini normal kok. Aku udah baca tips-tips di forum ibu hamil," Maya menyandarkan kepalanya ke bahu Irwan. "Katanya makan biskuit asin sebelum bangun tidur bisa membantu. Terus minum teh jahe juga."

"Aku bisa beliin sekarang," Irwan menawarkan.

"Udah ada di dapur kok. Tadi aku minta tolong Pak Karyo beliin di minimarket," Maya mencoba menyuap sedikit bubur yang dibawa Irwan, tapi baru dua suap perutnya sudah terasa penuh. "Nggak kuat lagi, Yang. Maaf ya, bubur enak padahal."

"Nggak apa-apa. Istirahat aja," Irwan menyimpan mangkuk bubur.

Malam itu mereka tidur lebih awal. Irwan membantu Maya ke kamar, menaruh wadah plastik di samping tempat tidur jaga-jaga. Di atas meja, dia siapkan beberapa biskuit asin dan sebotol air putih sesuai yang Maya baca dari forum.

"Maaf ya, kondisi aku berantakan gini," gumam Maya saat Irwan menarik selimut menutupi tubuhnya.

"Ssst, nggak usah mikir gitu," Irwan mencium kening Maya. "Yang penting kamu istirahat aja."

Maya tersenyum lemah dan memejamkan mata. Irwan berbaring di sampingnya, satu tangan protektif melingkari pinggang Maya. Dalam kegelapan kamar, Irwan masih memikirkan saran Dr. Andy. Mungkinkah rekaman itu telah mengubahnya? Mungkinkah dia harus mengakui pada Maya tentang perasaan-perasaan anehnya?

Pikirannya terhenti ketika dia mendengar napas Maya yang teratur—dia sudah tertidur. Irwan tersenyum, mengecup pelan rambut istrinya sebelum ikut memejamkan mata.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com