Pagi itu, matahari Jakarta baru saja menampakkan sinarnya ketika Maya terbangun. Sejenak dia hanya berbaring, tangannya refleks mengelus perut yang masih rata. Ada kehidupan di sana. Pikiran itu masih terasa tak nyata, seperti mimpi yang terlalu indah. Dia menoleh, mendapati Irwan masih tertidur pulas, napasnya teratur dan damai.
"Kamu bakalan jadi ayah," bisiknya pelan, menyentuh pipi Irwan dengan lembut.
Seminggu telah berlalu sejak tes kehamilan positif dan kepulangan Pak Karyo dari desa. Seminggu yang dipenuhi euforia, antisipasi, dan perubahan halus dalam dinamika rumah tangga mereka. Kehidupan perlahan kembali normal—dalam definisi baru "normal" yang masih terasa asing namun menyenangkan.
Maya beranjak dari tempat tidur, berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan Irwan. Begitu kakinya menyentuh lantai, hidungnya mencium aroma hangat menguar dari dapur—wangi jahe dan rempah lain yang tidak bisa dia identifikasi. Pak Karyo pasti sudah bangun sejak subuh.
Suara langkah Maya di koridor membuat Pak Karyo menoleh dari kesibukannya mengaduk sesuatu di panci kecil.
"Selamat pagi, Bu," sapanya formal, membungkuk sedikit seperti biasa. Namun ada kehangatan berbeda dalam matanya sejak kabar kehamilan.
"Pagi, Pak Karyo," Maya menjawab, mengintip isi panci. "Bapak masak apa pagi-pagi begini?"
"Ini jamu untuk ibu hamil, Bu," jawab Pak Karyo, menunjukkan cairan kecoklatan beraroma rempah. "Resep dari nenek saya. Bagus untuk ibu hamil dan bayinya."
Maya tersenyum, tersentuh oleh perhatian ini. "Bapak nggak perlu repot-repot."
"Tidak repot sama sekali, Bu," Pak Karyo menuangkan jamu ke cangkir keramik kecil. "Dulu saya selalu buatin ini untuk kedua istri saya waktu mereka hamil. Mereka bilang ini bantu ngurangin mual dan bikin sehat."
Maya menerima cangkir itu, kehangatan meresap ke telapak tangannya. Dia menyesap cairan itu perlahan—rasanya manis, pahit, dan pedas secara bersamaan, tapi anehnya tidak menyebalkan.
"Enak," komentarnya tulus. "Terima kasih, Pak."
Pak Karyo mengangguk dengan senyum bangga. "Saya bawa rempah-rempahnya dari desa kemarin. Kalau Bu Maya suka, saya bisa buatin setiap pagi."
Di belakang mereka, Irwan muncul dengan rambut acak-acakan dan mata masih setengah tertutup. "Pagi," gumamnya, langsung berjalan ke arah Maya dan mencium keningnya. "Kok nggak bangunin aku sih?"
"Habisnya kamu tidur kayak kerbau," Maya terkekeh. "Nih, coba. Pak Karyo bikin jamu buat aku."
Irwan mengambil cangkir dan mencicipi sedikit. Alisnya terangkat. "Wah, enak. Ini apa, Pak?"
"Jamu untuk ibu hamil, Pak. Resep turun-temurun dari nenek saya," jawab Pak Karyo.
"Bapak pernah bilang, istri Bapak minum ini juga waktu hamil?" tanya Irwan sambil mengambil kopi yang sudah disiapkan.
"Benar, Pak. Kedua istri saya selalu minum ini selama hamil. Lima anak saya lahir sehat semua," jawab Pak Karyo dengan nada bangga yang tak disembunyikan.
Maya dan Irwan bertukar pandang sekilas—ini pertama kalinya Pak Karyo membicarakan anak-anaknya dengan nada seperti itu di depan mereka. Ada sesuatu yang tersirat dalam pandangan itu, kesadaran bahwa anak yang tumbuh dalam rahim Maya sekarang juga bagian dari kebanggaan Pak Karyo, meski tak akan pernah dia akui secara terbuka.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang mulai terbentuk. Pak Karyo menyiapkan jamu setiap pagi, Irwan semakin protektif, dan Maya berusaha menyeimbangkan pekerjaannya dengan perubahan yang mulai dia rasakan dalam tubuhnya. Buku-buku kehamilan mulai memenuhi rak di samping tempat tidur, dan diskusi tentang kamar bayi menjadi semakin intens meski kehamilan Maya baru memasuki minggu keenam.
Pada hari ketiga, Maya duduk di ruang rapat kantor, mencoba fokus pada presentasi marketing yang dibawakan timnya. Namun konsentrasinya buyar ketika sensasi mual mendadak menghantam perutnya. Dia menarik napas dalam-dalam, meneguk air mineral di gelasnya.
"Bu Maya? Ibu baik-baik saja?" tanya Rizki, asisten kepercayaannya, dengan suara pelan.
Maya mengangguk, meski keringat dingin mulai muncul di keningnya. "Lanjutkan saja presentasinya," bisiknya.
Lima menit kemudian, sensasi mual semakin tak tertahankan. Maya beranjak mendadak, membuat semua orang di ruangan menoleh.
"Maaf, saya harus ke toilet sebentar," katanya cepat, lalu setengah berlari meninggalkan ruangan.
Di toilet, Maya bersandar pada wastafel, mencoba mengendalikan napasnya. Jadi ini morning sickness. Ironis, pikirnya, karena terjadi di siang hari. Ponselnya bergetar—pesan dari Irwan.
"Meeting-nya gimana? Udah makan belum? ❤️"
Maya tersenyum lemah, jemarinya mengetik balasan. "Meeting masih berlangsung. Tapi aku harus kabur ke toilet. Morning sickness sepertinya sudah mulai."
Tidak sampai dua menit, ponselnya berdering—Irwan menelepon.
"Sayang! Kamu nggak apa-apa?" suara Irwan terdengar panik.
"Nggak apa-apa, lebay," Maya menjawab pelan. "Cuma mual dikit."
"Aku jemput sekarang ya? Bisa sampe sana 20 menit."
"Ih, nggak usah! Aku masih bisa kerja kali," Maya tertawa kecil. "Ini normal kok."
"Tapi—"
"Sayang, aku cuma mual bentar aja. Udah mendingan kok sekarang."
Irwan menghela napas. "Oke deh, tapi abis meeting langsung pulang ya. Nggak usah sok-sokan lembur. Aku udah bilang Pak Karyo buat nyiapin makanan spesial buat kamu."
"Iya, cerewet," Maya menyerah. "Aku pulang habis meeting."
Saat meeting berakhir satu jam kemudian, Maya merasa lebih baik meski masih lemas. Dia memutuskan untuk menuruti perintah Irwan dan pulang ke rumah. Perjalanan dari kantor terasa lebih panjang dari biasanya karena jalanan Jakarta yang macet dan tubuhnya yang terasa lelah. Ketika akhirnya mobil memasuki halaman rumah, Maya merasa seperti seorang prajurit yang pulang dari medan perang—menang tapi babak belur.
Rumah terasa sunyi—Irwan masih di kantor dan biasanya Pak Karyo bekerja di halaman belakang pada jam segini. Maya melangkah ke dapur, mendapati sepiring nasi dengan sup ayam kampung dan segelas jamu hangat di meja makan, ditutupi plastik wrap dengan rapi. Ada catatan kecil di samping piring: "Untuk Bu Maya. Dimakan selagi hangat. - Pak Karyo".
Maya tersenyum melihat perhatian itu. Dia menyantap makanannya perlahan, merasakan kehangatan sup menenangkan perutnya yang sedari tadi bergejolak. Suara gemerisik dari halaman belakang menandakan Pak Karyo sedang membersihkan dedaunan kering.
Selesai makan, Maya membawa gelasnya ke teras belakang. Pak Karyo sedang menyapu dedaunan, bertelanjang dada dalam terik siang Jakarta. Otot-otot punggungnya bergerak di bawah kulit gelap yang mengkilat oleh keringat—pemandangan yang dulu tak pernah dia perhatikan, tapi kini entah mengapa tertangkap jelas oleh matanya.
"Makasih makanannya, Pak," ucap Maya, membuat Pak Karyo menoleh cepat dan segera menyambar kaos yang digantung di pagar pembatas. "Enak sekali."
"Sama-sama, Bu," jawab Pak Karyo, cepat-cepat mengenakan kaosnya. "Maaf saya tidak dengar Bu Maya pulang. Sup ayamnya membantu mual Ibu?"
"Iya, sangat membantu," Maya tersenyum. "Bapak tahu dari mana saya lagi mual?"
"Pak Irwan telepon tadi siang," Pak Karyo menjawab. "Beliau khawatir sekali."
Maya menggelengkan kepala, tersenyum geli. "Dasar dia tuh, tukang lebay."
"Wajar, Bu. Ini anak pertama kalian setelah menunggu lama," Pak Karyo berkomentar, lalu seperti menyadari dia bicara terlalu banyak, buru-buru menambahkan, "Maaf, Bu."
"Nggak apa-apa, Pak," Maya menyesap jamu hangatnya. "Bapak benar."
Hening sejenak, hanya suara gemerisik daun dan kicauan burung mengisi kekosongan.
"Istri Bapak juga sering mual waktu hamil?" tanya Maya tiba-tiba.
Pak Karyo tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan personal itu, tapi menjawab, "Iya, Bu. Terutama Ratih, istri kedua saya. Dia mual parah sampai tiga bulan."
"Bapak ngapain aja biasanya buat ngebantu dia?" Maya bertanya hati-hati.
Pak Karyo menaruh sapunya, tampak memikirkan jawaban. "Saya buatin jamu seperti untuk Ibu. Kadang... kalau dia ijinkan, saya pijat pelan-pelan punggungnya. Kata nenek saya, pijatan di titik tertentu bisa bantu kurangi mual."
Maya mengangguk pelan. "Pijatan seperti apa?"
"Hanya di punggung atas, Bu. Di bawah leher dan di antara bahu," Pak Karyo menunjuk area di punggungnya sendiri. "Pijatan seperti ini bisa menenangkan tubuh dan mengurangi rasa mual."
Maya merasakan punggungnya yang tegang setelah duduk lama di meeting. Mual yang tadi reda kini mulai terasa lagi. "Sepertinya... saya perlu pijatan itu sekarang, Pak. Kalau Bapak tidak keberatan?"
Pak Karyo tampak ragu sejenak, matanya melirik ke arah rumah seolah mencari keberadaan Irwan. "Tapi Pak Irwan..."
"Irwan masih di kantor," Maya menjawab pelan. "Dan saya benar-benar tidak enak badan. Hanya pijatan punggung saja, Pak, untuk mengurangi mual."
Setelah keraguan yang terlihat jelas di wajahnya, Pak Karyo akhirnya mengangguk. "Baik, Bu. Mungkin lebih baik Ibu duduk di kursi teras, supaya lebih nyaman."
Maya mengangguk dan berjalan ke teras belakang yang teduh, lalu duduk di salah satu kursi kayu dengan punggung menghadap ke arah Pak Karyo. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat—sebuah reaksi yang tidak dia duga akan muncul.
"Boleh saya mulai, Bu?" tanya Pak Karyo, berdiri canggung di belakang kursi.
"Iya, silakan, Pak," jawab Maya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Tangan besar dan kasar Pak Karyo menyentuh bahu Maya dengan sangat hati-hati, seolah menyentuh porselen yang rapuh. Maya bisa merasakan kehangatan telapak tangannya menembus kain blus yang dia kenakan. Perlahan, Pak Karyo mulai memijat titik di antara tulang belikat Maya dengan ibu jarinya.
"Ibu bisa bilang kalau terlalu keras," kata Pak Karyo, suaranya diusahakan tetap profesional meski ada getaran halus di dalamnya.
"Mmm, ini pas kok, Pak," Maya menjawab, merasakan ketegangan di punggungnya mulai meluruh. Tekanan jari-jari Pak Karyo terasa tepat—tidak terlalu lembut seperti Irwan biasanya, tapi juga tidak menyakitkan.
Pak Karyo bergerak secara metodis, ibu jarinya menekan titik-titik tertentu di sepanjang tulang belakang atas Maya, lalu bergerak ke bahu dan naik ke pangkal leher. Sensasi yang ditimbulkan anehnya sangat menenangkan. Maya merasakan mualnya berangsur menghilang, digantikan oleh rasa rileks yang menyebar ke seluruh tubuh.
"Oh, itu... enak banget," gumam Maya tanpa sadar saat Pak Karyo menekan satu titik tepat di bawah tengkuknya. "Tekan lagi di situ, Pak."
Pak Karyo menuruti, sedikit menambah tekanan pada titik tersebut. Maya mendesah lega, kepalanya jatuh sedikit ke depan, memberikan akses lebih pada tangan Pak Karyo. Rambut Maya yang digelung tinggi menyingkap tengkuknya yang putih—kontras tajam dengan tangan gelap Pak Karyo yang kini bergerak di sana.
"Titik ini memang khusus untuk mengurangi mual, Bu," jelas Pak Karyo, suaranya sedikit serak. "Di desa kami, dukun beranak selalu mengajarkan para suami memijat titik ini pada istri yang sedang hamil."
"Mmm-hmm," Maya hanya bergumam, terlalu menikmati sensasi lega yang menjalar dari titik-titik yang dipijat Pak Karyo. Dia tidak ingat kapan terakhir kali merasa senyaman ini.
Pijatan berlanjut selama hampir sepuluh menit, keheningan hanya dipecahkan oleh kicauan burung dan sesekali desahan lega Maya. Awan berarak menutupi matahari, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di halaman belakang. Waktu seolah melambat dalam gelembung kenyamanan yang mereka ciptakan.
"Sudah cukup, Bu?" tanya Pak Karyo akhirnya, tangannya berhenti bergerak namun masih bertengger ringan di bahu Maya.
Maya hampir tidak ingin menjawab, tidak ingin momen ini berakhir. "Mmm, mungkin sebentar lagi, Pak. Mual saya benar-benar berkurang."
Pak Karyo mengangguk meski Maya tidak bisa melihatnya, dan melanjutkan pijatannya. Kali ini gerakannya sedikit lebih percaya diri, lebih lancar saat tangannya bergerak dari satu titik ke titik lainnya.
"Ratih sangat beruntung," kata Maya pelan tanpa berpikir. "Pijatan Bapak benar-benar..."
Kalimatnya terhenti saat suara mobil memasuki garasi terdengar dari depan rumah. Tangan Pak Karyo langsung berhenti, dengan cepat dia mengambil jarak dari Maya.
"Sepertinya Pak Irwan sudah pulang," ucap Pak Karyo, tangannya gugup merapikan kaos yang basah oleh keringat.
Maya berdiri, sedikit terkejut oleh perasaan kecewa yang tiba-tiba muncul. "Ya, terima kasih banyak, Pak. Saya merasa jauh lebih baik."
"Sama-sama, Bu," Pak Karyo membungkuk formal, lalu cepat-cepat meraih sapu yang tadi ditinggalkannya dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Maya berjalan masuk, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia bisa merasakan tatapan Pak Karyo di punggungnya, tapi tidak berani menoleh. Ada sesuatu yang berbeda dalam pijatan itu—sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan mengurangi mual.
"Lho, kamu udah pulang?" Irwan muncul di pintu belakang, masih dengan kemeja kerja dan dasi yang dilonggarkan. "Aku pikir kamu masih di kantor, jadi aku pulang buat ngecek kamu."
"Aku nggak enak badan," Maya tersenyum, berjalan mendekat dan mencium pipi suaminya. "Tapi sekarang udah mendingan kok."
"Beneran?" Irwan memegang kedua bahu Maya, menatapnya khawatir. "Kamu masih pucat."
"Aku udah makan sup ayam buatan Pak Karyo," Maya menjawab, menggenggam tangan Irwan. "Dan..."
"Dan apa?" Irwan menaikkan alis.
Maya terdiam sejenak, melirik sekilas ke arah halaman belakang di mana Pak Karyo masih menyapu dengan terlalu fokus. "Dan aku istirahat. Itu aja. Jadi jauh lebih baik."
"Syukurlah," Irwan mencium kening Maya. "Kamu harus lebih banyak istirahat, sayang. Aku udah bilang sama Rizki buat handle meeting-meeting kamu seminggu ke depan."
"Kamu ngapain ngomong sama asisten aku?" Maya mengerutkan dahi, setengah kesal setengah geli.
"Ya biar kamu nggak maksain diri," Irwan menjawab santai. "Aku tahu banget gimana kamu kalau udah di kantor."
Maya ingin protes, tapi justru menguap lebar. Kelelahan dan efek rileks dari pijatan Pak Karyo mulai terasa. "Oke deh, mungkin kamu benar. Aku mau istirahat bentar."
"Mau aku temenin?" Irwan menawarkan.
"Nggak usah, sayang. Kamu balik ke kantor aja, kan masih ada meeting penting," Maya tersenyum, mengelus pipi Irwan. "Aku cuma butuh tidur siang."
Irwan akhirnya setuju dan kembali ke kantor setelah memastikan Maya berbaring nyaman di tempat tidur mereka. Begitu pintu tertutup, Maya menatap langit-langit kamar, merasakan sisa-sisa sensasi tangan Pak Karyo di punggungnya. Dia menyentuh titik di bawah tengkuknya—tempat ibu jari Pak Karyo menekan tadi—dan merasakan sedikit desiran aneh di perutnya yang tidak ada hubungannya dengan morning sickness.
Beberapa hari berlalu dengan cepat. Morning sickness Maya semakin intens, terutama di pagi hari. Irwan semakin protektif, bahkan mulai meneliti produk-produk bayi premium dan merencanakan desain kamar anak mereka meski kehamilan Maya baru menginjak minggu keenam. Pak Karyo, di sisi lain, menjaga jarak yang tepat—selalu ada untuk menyiapkan jamu dan makanan khusus untuk Maya, tapi tidak pernah lagi menawarkan pijatan sejak sore itu.
Selasa malam, Pak Karyo duduk di kamarnya yang kecil di bagian belakang rumah. Lampu temaram menerangi wajahnya yang lelah namun berbinar saat memegang ponsel usang untuk panggilan mingguan dengan Ratih.
"Piye kabare, Dik? Sehat?" (Bagaimana kabarmu, Dik? Sehat?) tanya Pak Karyo dalam bahasa Jawa yang lembut.
"Sehat, Pak. Dani juga sehat, tapi kangen bapake," (Sehat, Pak. Dani juga sehat, tapi kangen ayahnya) jawab Ratih dari seberang. "Sampeyan piye? Kok suarane seneng?" (Bapak bagaimana? Kok suaranya senang?)
Pak Karyo tersenyum. "Alhamdulillah, Bu Maya positif meteng saiki." (Alhamdulillah, Bu Maya positif hamil sekarang.)
Hening sejenak di seberang telepon. "Oh... dadi... program e kasil?" (Oh... jadi... programnya berhasil?) tanya Ratih, suaranya berubah.
"Iyo." Pak Karyo menjawab, tidak menyadari perubahan nada Ratih. "Aku seneng tenan iso mbantu wong sing wis apik karo awake dewe." (Aku benar-benar senang bisa membantu orang yang sudah baik pada kita.)
"Terus... sampeyan piye karo Bu Maya saiki?" (Lalu... Bapak bagaimana dengan Bu Maya sekarang?) Ratih bertanya hati-hati.
Pak Karyo terdiam sejenak, tangannya memainkan ujung sarung yang dia kenakan. "Biasa wae. Aku tetep buruh, dheweke tetep majikan." (Biasa saja. Aku tetap pembantu, dia tetap majikan.)
"Tapi..." Ratih menarik napas. "Sampeyan mesti ngrasa ono sing bedo, ta? Kuwi lak anakmu sing nang wetenge." (Tapi... Bapak pasti merasa ada yang berbeda, kan? Itu kan anakmu yang di perutnya.)
Pertanyaan itu menusuk tepat di titik yang Pak Karyo hindari selama ini. "Yo mesti ono roso ngono, Dik. Tapi kuwi yo mung program." (Ya pasti ada perasaan begitu, Dik. Tapi itu ya cuma program.)
"Tenan?" (Benarkah?) Ratih mendesak. "Opo sampeyan ora duwe roso opo-opo karo Bu Maya?" (Apa Bapak tidak punya perasaan apa-apa pada Bu Maya?)
Pak Karyo mengusap wajahnya yang lelah. "Yo... ora iso ngomong ora. Dheweke meteng anakku." (Ya... tidak bisa bilang tidak. Dia hamil anakku.)
"Lan wong wedok ayu, sugih, pinter." (Dan perempuan cantik, kaya, pintar.)
"Nanging kowe bojoku, Dik," (Tapi kamu istriku, Dik) Pak Karyo berkata tegas, meski suaranya bergetar. "Aku wis janji ora bakal ninggal kowe lan Dani." (Aku sudah janji tidak akan meninggalkan kamu dan Dani.)
"Aku wedi, Pak," (Aku takut, Pak) bisik Ratih. "Aku wedi sampeyan malih tresno karo Bu Maya." (Aku takut Bapak jatuh cinta pada Bu Maya.)
"Ora usah wedi, Dik," (Tidak usah takut, Dik) Pak Karyo menjawab lembut. "Dalan uripe awake dewe bedo adoh. Saiki tak fokus mung kanggo awake dewe lan bayi nang wetenge Bu Maya." (Jalan hidup kita berbeda jauh. Sekarang aku fokus hanya untuk kita dan bayi di perut Bu Maya.)
Percakapan berlanjut dengan topik yang lebih ringan—tentang Dani, tentang kebun mereka yang kecil, tentang tetangga baru di desa. Namun pertanyaan Ratih tentang perasaannya pada Maya terus menggema dalam benak Pak Karyo bahkan setelah telepon ditutup.
Sementara itu, di bagian depan rumah, Irwan duduk sendirian di ruang kerjanya. Layar laptop menampilkan email dan dokumen penting, tapi matanya terpaku pada tablet kecil di samping laptop. Layar tablet menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi yang dia pasang di kamar tamu—rekaman dari "program" kehamilan mereka dengan Pak Karyo.
Dengan tangan sedikit gemetar, Irwan menggeser jarinya di layar, memajukan rekaman ke bagian yang sudah dia tonton berulang kali—Maya di bawah Pak Karyo, mendesah dan mengerang dalam kenikmatan yang tak pernah Irwan berikan padanya. Suara Maya memanggil nama "Mas Karyo" mengalir dari speaker kecil tablet yang dia kecilkan volumenya.
Irwan merasakan campuran emosi yang kini sudah familiar—sakit hati, marah, cemburu... dan gairah yang tak tertahankan. Tangannya bergerak ke bawah meja, membuka resleting celananya. Ini sudah menjadi ritual hampir setiap malam sejak Maya mengkonfirmasi kehamilannya—menyiksa diri dengan rekaman istri dan pembantunya bercinta, menemukan kenikmatan aneh dalam rasa sakit yang ditimbulkannya.
Mata Irwan terpaku pada ekspresi Maya di layar—ekspresi yang tak pernah dia lihat selama enam tahun pernikahan mereka. Napasnya mulai tidak beraturan saat tangannya bergerak semakin cepat, mengimbangi ritme gerakan Pak Karyo dalam rekaman.
"Mas Karyo... lebih keras..." suara Maya dalam rekaman terdengar seperti bisikan di ruang kerja yang sunyi.
Irwan menggigit bibirnya, menahan erangan. Bayangan Maya dan Pak Karyo, pikiran bahwa pembantu mereka telah memberikan apa yang tidak bisa dia berikan—kehamilan dan kenikmatan yang tak tertandingi—justru membawanya ke tepi kenikmatan.
Tepat beberapa saat setelah mencapai klimaks, pintu ruang kerja berderit terbuka.
"Sayang? Kamu lagi ngapain?"
Suara mengantuk Maya membekukan Irwan. Dengan gerakan panik, dia mematikan tablet dan menutup laptop, berpura-pura sibuk dengan dokumen di meja.
"Eh, um, kerja," jawabnya dengan suara serak yang berusaha dikendalikan. "Kamu kok belum tidur?"
Maya bersandar di ambang pintu, mengucek matanya. "Aku mual lagi. Aku pikir kamu bakal nyusul tidur, tapi kamu nggak muncul-muncul."
"Maaf, aku masih harus beresin kerjaan deadline besok," Irwan berbohong, mengatur napasnya yang masih terengah. "Kamu balik tidur aja dulu. Aku nyusul sebentar lagi."
Maya mengangguk lemah, tapi tidak beranjak. "Sayang..."
"Ya?" Irwan masih belum berani menatap Maya.
"Aku tadi... aku kayak dengar..." Maya terdiam, tampak ragu melanjutkan.
Jantung Irwan berdegup kencang. "Dengar apa?"
"Nggak, mungkin cuma perasaan aku aja," Maya menggeleng pelan. "Aku balik tidur ya. Jangan kemalaman."
Begitu Maya menutup pintu, Irwan menghembuskan napas lega yang tertahan. Dia menatap tablet yang layarnya kini gelap, campuran rasa malu dan bingung menghantamnya. Apa yang terjadi padaku? pikirnya. Apa yang sudah berubah dalam pernikahan kami?
Irwan membereskan diri dan mematikan semua perangkat elektroniknya. Saat berjalan menuju kamar, dia melewati kamar tamu yang kini kosong—kamar yang dulu menjadi tempat "program" kehamilan mereka. Di ujung lorong, kamar Pak Karyo masih terang, cahaya redup menembus dari bawah pintu.
