๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐š๐› ๐Ÿ•๐Ÿ•

Irwan menatap layar ponselnya sekali lagi sebelum memasukkannya ke saku jas. Jam di dinding ruang kerjanya menunjukkan pukul 6.15 sore—seharusnya dia sudah pulang dari tadi. Tapi setelah menyaksikan Maya dan Pak Karyo siang tadi, dia tidak yakin bisa langsung pulang dan bersikap normal.

"Pak Irwan, mau saya antar pulang?" Theo, supir kantornya, muncul di ambang pintu.

"Nggak usah," Irwan menggeleng pelan. "Aku mau mampir dulu sebentar."

Kakinya melangkah berat meninggalkan gedung berlantai 30 itu. Alih-alih menuju basement parkir, Irwan berjalan ke arah bar di seberang kantornya—Elixir, tempat dia biasa melepas penat setelah meeting penting. Malam ini, dia butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekedar secangkir kopi.

Bar masih sepi, hanya beberapa eksekutif yang sepertinya juga baru selesai kerja. Irwan mengangguk pada bartender yang sudah mengenalnya.

"Scotch. Neat."

Bartender mengangguk, menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. "Hari yang berat, Pak?"

Irwan tersenyum tipis, menyesap minumannya perlahan. "Lebih tepatnya... hari yang aneh."

Ponsel di sakunya bergetar lagi. Notifikasi dari aplikasi kamera rumah—angle berbeda, tapi ruang keluarga tetap kosong. Maya mungkin di kamar, dan Pak Karyo entah di mana.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan kami?

"Satu lagi," Irwan mengetuk gelasnya yang sudah kosong.

Sementara bartender menuangkan minuman keduanya, Irwan memejamkan mata. Bayangan Maya mendesah di bawah sentuhan Pak Karyo terus berputar seperti film yang tak bisa dihentikan. Ekspresi wajahnya, tubuhnya yang bergetar, cara pinggulnya sengaja mencari sentuhan itu...

Dan anehnya, aku terangsang melihatnya.

"Masalah rumah tangga?" tanya bartender, menaruh gelas kedua di hadapannya.

"Terlalu rumit untuk diceritakan," Irwan tertawa getir, meneguk minumannya lebih cepat dari yang pertama.

Tiga minggu ini, dia sudah dua kali bertemu Dr. Andy—seorang psikolog klinis yang membantu Irwan memahami perasaan anehnya. "Cuckolding," begitu Dr. Andy menyebutnya. Keinginan melihat pasangan bersama orang lain, dan terangsang karenanya. Irwan awalnya menolak, tapi semakin hari, semakin jelas bahwa inilah yang terjadi.

"Ini lebih umum dari yang Anda kira, Pak Irwan," kata Dr. Andy waktu itu. "Yang penting adalah komunikasi jujur dengan istri Anda."

Komunikasi jujur. Irwan mendengus. Bagaimana caranya menjelaskan pada Maya bahwa dia terangsang melihat Pak Karyo menyentuhnya? Bahwa dia diam-diam memasang kamera dan menonton mereka? Maya akan menganggapnya gila—atau lebih buruk lagi, menjijikkan.

Ponselnya berdering—telepon masuk dari Maya.

"Halo, Yang," Irwan menjawab, berusaha terdengar normal.

"Kamu di mana? Udah mau pulang?" suara Maya terdengar cemas.

"Iya, lagi di jalan," bohong Irwan, menenggak sisa minumannya. "Macet nih."

"Oke... hati-hati ya," Maya terdengar ragu. "Pak Karyo udah siapkan makan malam."

Nama Pak Karyo membuat Irwan menegang. "Aku sampai setengah jam lagi."

Irwan mengakhiri panggilan, menatap gelas kosongnya dengan pandangan kosong. Kepalanya terasa ringan, efek alkohol mulai terasa. Mungkin ini yang dia butuhkan—sedikit keberanian cair untuk menghadapi malam ini.

"Satu lagi?"

"Nggak," Irwan menggeleng, mengeluarkan dompetnya. "Aku harus pulang."

Jalanan Jakarta masih tersendat seperti biasa, memberikan Irwan waktu terlalu banyak untuk berpikir. Haruskah dia bicara dengan Maya malam ini? Apa yang akan dia katakan? "Sayang, aku senang melihatmu dengan pria lain"? Terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri.

Tapi kalau dia tidak bicara, Maya akan terus merasa bersalah. Dan apa yang terjadi siang tadi menunjukkan bahwa hubungan mereka dengan Pak Karyo sudah mencapai titik yang tak bisa diabaikan lagi.

Mungkin ini saatnya jujur. Tentang semuanya.


Uap hangat menyelubungi kamar mandi utama, mengaburkan cermin yang memantulkan sosok Maya yang berdiri di depannya. Hampir dua jam dia berendam, berusaha membersihkan tidak hanya tubuhnya, tapi juga kesalahan yang terasa mengotori jiwanya. Kimono putih membungkus tubuhnya longgar.

Maya menyeka cermin dengan telapak tangannya, menciptakan lingkaran jernih yang menampilkan wajahnya. Matanya sembab—entah karena terlalu lama berendam atau karena tangis diam yang tak bisa dia bendung sejak siang tadi.

Kenapa aku sebodoh itu?

Jemarinya bergerak menyusuri perut yang membuncit, merasakan gerakan samar dari kehidupan di dalamnya. Bayi yang selama enam tahun mereka nantikan. Bayi yang secara teknis adalah anak Pak Karyo, tapi dalam hatinya selalu akan menjadi anak Irwan.

"Maafin mama, sayang," bisiknya pada perut yang bergerak kecil, seolah merespons suaranya. "Mama hampir membuat kesalahan besar."

Bayangan tangan kasar Pak Karyo di paha dalamnya kembali menyeruak. Ibu jari yang menekan kuat hingga menyusup masuk ke lipatan sensitifnya. Sensasi basah di antara kakinya. Tubuhnya yang bergetar—dan yang paling mengganggunya, cara pinggulnya bergerak sendiri mencari sentuhan itu.

Apa yang terjadi sama aku? Kenapa tubuhku bereaksi seperti itu?

Maya menatap deretan kosmetik di meja rias. Kalau dulu, dia begitu percaya diri tentang kecantikannya, tentang tubuhnya. Sekarang, semuanya terasa rapuh. Keindahan yang ternyata tak cukup untuk menjaga kesetiaannya.

Dengan tangan gemetar, Maya mengambil lipstik berwarna marun—warna favorit Irwan. Memulas bibirnya perlahan, seolah ritual kecil ini bisa mengembalikan kontrol atas dirinya. Kemudian dia memilih dress casual berwarna biru muda, sedikit lebar untuk mengakomodasi perut hamilnya, tapi tetap cukup feminin untuk membuat Irwan tersenyum.

Malam ini, Maya bertekad untuk jujur pada Irwan. Tentang semua yang terjadi, tentang bagaimana tubuhnya memberontak, tentang kecemasannya bahwa dia mungkin—secara fisik—masih menginginkan Pak Karyo.

Dia membuka laci nakas, mengeluarkan jurnal pribadinya. Beberapa hari terakhir, Maya mencatat perubahan-perubahan yang dia rasakan. Bagaimana libidonya meningkat tajam sejak usia kehamilan menginjak trimester kedua. Bagaimana mimpi-mimpi erotisnya kembali—selalu dengan Pak Karyo sebagai pemeran utama.

Maya membaca kembali catatan terakhirnya, ditulis pagi tadi:

Aku terbangun basah lagi semalam. Mimpi yang sama. Tangan Pak Karyo di tubuhku, suaranya berbisik dalam bahasa Jawa di telingaku. Aku bilang sama Irwan itu mimpi buruk, tapi sejujurnya... itu bukan mimpi buruk. Dan aku takut. Takut kalau perasaan ini nggak hilang. Takut kalau aku menginginkan Pak Karyo lagi. Apa ini normal? Apa ini cuma karena hormon kehamilan? Atau ada yang salah sama aku?

Maya menutup jurnalnya, memasukkannya kembali ke laci. Dia perlu bicara dengan Irwan malam ini. Tidak bisa ditunda lagi. Setiap hari yang berlalu dengan kebohongan ini hanya akan membuat jurang di antara mereka semakin lebar.

Suara mobil Irwan memasuki garasi mengejutkannya. Maya melihat jam dinding—Irwan pulang lebih cepat dari biasanya. Dengan tangan sedikit gemetar, Maya menyemprotkan parfum favorit Irwan di leher dan pergelangan tangannya. Aroma vanilla dan jasmine yang selalu membuat Irwan memeluknya dari belakang dan mencium lehernya.

Semoga malam ini dia masih mau memelukku setelah mendengar pengakuanku.

Maya menarik napas dalam-dalam, menatap cermin sekali lagi. "Kamu pasti bisa," bisiknya pada dirinya sendiri.


"Aku pulang," suara Irwan terdengar dari arah pintu depan, sedikit lebih keras dari biasanya.

Maya yang baru turun dari tangga langsung menyambutnya dengan senyum tipis, berusaha menyembunyikan kecemasannya. "Hai, Yang. Kok cepet?"

Irwan melepas sepatu, gerakan tangannya sedikit tidak terkoordinasi. "Meeting terakhir dibatalin," jawabnya singkat. "Rasanya pengen cepet-cepet pulang aja."

Maya mengamati suaminya dengan seksama. Ada yang berbeda. Dasi yang terpasang miring, mata yang sedikit berkabut, dan—

"Kamu minum?" tanya Maya langsung, mencium aroma scotch samar dari napas Irwan.

"Cuma sedikit," Irwan mengakui, mengendurkan dasi dengan satu tarikan kasar. "Dua gelas doang. Lagi pengen aja."

Aneh. Irwan hampir nggak pernah minum kecuali ada acara khusus.

"Ada masalah di kantor?" Maya bertanya lagi, mengambil tas kerja Irwan dan meletakkannya di meja samping.

"Nggak ada. Cuma..." Irwan berhenti sejenak, matanya bertemu dengan Maya. "Rasanya butuh sesuatu yang bikin rileks."

Ada sesuatu dalam tatapan Irwan—semacam intensitas yang membuat Maya gugup. Seolah dia tahu, atau setidaknya menduga, apa yang terjadi siang tadi.

"Bu, Pak," suara Pak Karyo menginterupsi momen canggung mereka. "Saya sudah siapkan teh dan makan malam."

Maya merasakan wajahnya memanas saat sosok Pak Karyo muncul dari arah dapur. Pria setengah baya itu membawa nampan berisi dua cangkir teh herbal, uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Matanya dengan sengaja menghindari tatapan Maya, fokus pada lantai atau pada Irwan.

Dia juga malu. Dia juga sadar apa yang hampir terjadi tadi siang.

"Terima kasih, Pak," Irwan menerima cangkir teh dengan anggukan singkat, mengamati interaksi canggung antara Maya dan Pak Karyo. "Makan malamnya?"

"Sudah siap di meja makan, Pak," Pak Karyo menjawab, masih menghindari kontak mata dengan Maya. "Sup buntut sama sayur asem. Sama ada tempe goreng kesukaan Ibu."

Jancuk. Ora iso ndelok matane Bu Maya. Opo maneh ngrasakno tangane ndemek kulite maneh. (Sialan. Tidak bisa melihat matanya Bu Maya. Apalagi merasakan tanganku menyentuh kulitnya lagi.)

"Pak Karyo," suara Irwan mendadak tegas, membuat baik Maya maupun Pak Karyo sedikit terlonjak, "hari ini sampai sini saja. Kalau ada yang kami butuhkan, kami akan panggil."

Pak Karyo mengangguk cepat. "Baik, Pak. Saya permisi."

Setelah Pak Karyo menghilang ke arah kamarnya di bagian belakang rumah, Maya dan Irwan duduk di sofa ruang keluarga—sofa yang sama dengan kejadian siang tadi. Maya dengan sengaja memilih duduk di ujung yang berbeda.

"Kok nggak langsung makan?" tanya Maya, memecah keheningan.

"Nanti aja," Irwan menyesap tehnya. "Belum terlalu laper."

Ini aneh. Irwan selalu lapar begitu pulang kerja.

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Hanya suara detik jam dinding dan sesekali denting sendok Irwan yang mengaduk teh terdengar. Maya memainkan ujung dress-nya, matanya bergerak-gerak gelisah—dari foto pernikahan mereka di dinding, ke jendela yang memantulkan bayangan samar mereka, ke mana saja asal bukan ke mata Irwan.

"Kayaknya ada yang mau kamu omongin," Irwan akhirnya bicara, meletakkan cangkirnya. Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak mencapai matanya.

Maya menelan ludah. "Kenapa kamu mikir gitu?"

"Udah enam tahun, Maya," Irwan mengangkat bahu. "Aku kenal kamu. Kalau kamu ngeliatin lantai terus sambil mainin baju, pasti ada yang lagi kamu pikirin."

Maya tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa bahkan di telinganya sendiri. Kemampuan Irwan membaca gerak-geriknya selalu membuat dia takjub—dan kali ini, takut.

"Iya, ada yang pengen aku omongin," akhirnya Maya mengaku. "Tapi... mungkin nggak di sini."

"Di kamar?" tanya Irwan, nadanya lebih lembut.

Maya mengangguk, merasakan jantungnya berdebar semakin kencang.

Irwan bangkit dari sofa, mengulurkan tangannya pada Maya. "Yuk."

Maya menatap tangan itu ragu sebelum akhirnya menyambutnya. Tangan Irwan terasa hangat dan sedikit lembab—tanda dia juga gugup, meski wajahnya terlihat tenang.

Mereka berjalan dalam diam menuju kamar tidur, tangan tetap bertaut. Langkah-langkah Maya terasa berat, seolah mengantarnya menuju kursi eksekusi, bukan kamar tidurnya sendiri.

Apa dia akan benci padaku setelah ini? Apa dia akan minta cerai?

Irwan menutup pintu kamar perlahan dibelakang mereka. Maya langsung duduk di tepi ranjang, tangannya mencengkeram seprai biru muda dengan gugup. Irwan tidak langsung ikut duduk—dia berjalan ke jendela, membukanya sedikit, membiarkan angin malam menerobos masuk. Kemudian dia mengambil posisi di kursi dekat meja rias, menghadap Maya dengan jarak yang sengaja dibuat—seakan memberi ruang bagi apa yang akan mereka bicarakan.

"Jadi," Irwan memulai, suaranya masih lembut tapi ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan, "apa yang mau kamu omongin, Yang?"

Maya menarik napas dalam, menyiapkan kata-kata yang sudah dia susun selama berjam-jam tadi. Tapi begitu mencoba bicara, seluruh kalimat rapi itu seolah menguap dari benaknya.

"Aku—" suaranya tercekat. "Ini tentang Pak Karyo."

Irwan mengangguk pelan, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk topik sensitif ini.

"Aku rasa kita harus berhenti," Maya melanjutkan, suaranya bergetar. "Maksudku, pijatannya. Sesi pijat sama Pak Karyo. Aku nggak bisa... nggak bisa lanjutin lagi."

"Kenapa?" tanya Irwan singkat. "Bukannya pijatannya membantu banget buat punggung kamu? Sama kram-kram kaki?"

Maya menggigit bibir bawahnya. "Iya, tapi... ada masalah."

"Masalah apa?"

"Aku..." Maya memejamkan mata, mencari keberanian. "Tubuhku bereaksi, Yang. Waktu dia mijat, aku... aku jadi terangsang."

Maya mengatakannya dengan suara hampir berbisik, tapi dalam keheningan kamar, kata-kata itu terdengar seperti guntur. Dia tidak berani membuka mata, tidak ingin melihat ekspresi Irwan—kemarahan, atau lebih buruk lagi, kekecewaan.

Namun keheningan yang menyusul memaksanya membuka mata. Irwan masih duduk di sana, wajahnya hampir tanpa ekspresi selain kerutan samar di dahinya.

"Kamu... nggak marah?" tanya Maya heran.

"Kenapa aku harus marah?" Irwan balik bertanya, mengejutkan Maya.

"Karena—karena aku baru aja ngaku kalau aku terangsang sama pria lain?" Maya menatapnya tidak percaya. "Karena aku hampir aja... hampir aja..."

"Berbuat lebih?" Irwan melanjutkan, suaranya tenang. "Seperti tadi siang?"

Jantung Maya seolah berhenti berdetak. "Kamu... kamu tau?"

Irwan mengalihkan pandangan sejenak, menarik napas dalam sebelum menatap Maya lagi. "Ya. Aku tau."

"Tapi, gimana—" Maya tergagap, pikirannya berkecamuk mencari penjelasan. "Kamu kan di kantor..."

"Aku pasang kamera," Irwan mengaku, akhirnya terlihat sedikit gelisah. "Di AC. Aku... aku bisa lihat kalian dari ponselku."

Pengakuan ini membuat Maya terdiam, terlalu syok untuk bereaksi. Pikirannya berputar cepat—Irwan memasang kamera, Irwan melihat semuanya, Irwan tahu tapi tetap tenang, Irwan minum sebelum pulang...

"Kenapa?" akhirnya hanya itu yang bisa Maya tanyakan. "Kenapa kamu pasang kamera?"

Irwan mengusap wajahnya, gestur yang Maya kenal betul sebagai tanda dia sedang berjuang dengan kata-kata.

"Ini rumit," Irwan memulai. "Tapi... kurasa memang ini saatnya kita bicara jujur."

Maya mengangguk pelan, masih terlalu terkejut untuk bicara.

"Aku pasang kamera karena..." Irwan mengalihkan pandangan, tangannya menggenggam cangkir teh begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menarik napas dalam. Sekali. Dua kali.

"Karena apa, Yang?" Maya mendekat, menyentuh lututnya.

Irwan menatap Maya sekilas, lalu kembali menatap lantai. "Karena aku terangsang, Maya."

Hening.

"Terangsang?" ulang Maya, suaranya nyaris tak terdengar.

"Hari pertama aku dengar kalian di kamar tamu..." Irwan menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Tangannya gemetar saat meletakkan cangkir di meja. "Aku nggak cuma marah atau cemburu. Aku... aku terangsang. Gila banget, kan?"

Maya mundur sedikit, matanya melebar.

"Aku nggak mengerti kenapa," lanjut Irwan dengan suara serak. "Tapi setiap denger kamu sama dia... suara-suara itu..." Dia menjambak rambutnya sendiri, frustrasi. "Aku jadi gila, Maya."

"Tapi..." Maya meraba-raba sofa, mencari pegangan. "Kamu bilang kamu dengar kami sekali, pas pertama kali. Kamu marah besar waktu itu."

"Aku bohong." Irwan mengusap wajahnya kasar. "Aku nggak cuma dengar sekali. Habis dengar pertama kali, besoknya... aku pasang perekam suara di kamar."

"Kamu apa?"

"Tiap hari..." Irwan mengakui dengan suara bergetar. "Aku ngerekam kalian. Tiap malem, setelah kamu tidur, aku dengerin rekaman itu... sambil... sambil..."

Maya tersentak berdiri, tangannya menutup mulut. Matanya berkaca-kaca.

"Terus lama-lama..." Irwan menatap tembok dengan pandangan kosong. "Aku butuh lebih. Suara aja nggak cukup."

"Jadi kamu..."

"Aku pergi ke toko khusus di Glodok." Irwan tertawa getir. "Bayangkan, seorang eksekutif bank internasional, pakai jas Armani, beli kamera pengintai."

Maya jatuh terduduk di sofa, tubuhnya lemas.

"Aku rekam dari luar kamar tamu." Irwan melirik Maya, mencari reaksinya. Lewat celah di ventilasi. Beberapa minggu terakhir, aku pasang lebih banyak lagi. Di seluruh rumah."

Air mata mulai turun di pipi Maya. "Kenapa kamu nggak bilang Dr. Andy soal... soal kelakuan kamu ini?"

Irwan mengerjap. "Aku bilang. Itu sebabnya aku konsultasi ke dia."

"Aku kira kamu ke psikolog buat bantuin kamu ngatasin... cemburu." Maya menatapnya tak percaya. "Kamu bilang..."

"Aku bilang kalau aku cemburu berat." Irwan mengangguk pelan. "Tapi nggak cuma itu. Dr. Andy yang membantu aku memahami... kondisiku. Apa yang terjadi sama aku."

"Kondisi apa?"

"Cuckolding." Irwan mengucapkannya seperti kata asing. "Terangsang melihat pasangan dengan orang lain. Dr. Andy bilang... ini lebih umum dari yang orang kira."

Maya menggelengkan kepala tak percaya. Seprai yang kusut, bisikan Pak Karyo di telinganya, tubuhnya yang melengkung mencari sentuhan... semuanya direkam, ditonton, dinikmati.

"Berapa lama..." Maya berbisik dengan suara serak. "Berapa lama kamu lakuin ini?"

"Sejak awal." Irwan menatapnya lurus. "Dan aku nggak bisa berhenti, Maya. Aku udah coba."


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com