𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟕

Paginya, Irwan terbangun lebih dulu. Matanya terbuka menatap langit-langit kamar yang masih temaram. Di sampingnya, Maya masih tertidur pulas, napasnya teratur, wajahnya damai—sangat berbeda dari ekspresi penuh kegelisahan yang ditunjukkannya kemarin.

Dengan gerakan hati-hati, Irwan bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak membangunkan istrinya. Dia menarik napas dalam, pelan-pelan melangkah ke kamar mandi. Refleksi wajahnya di cermin tampak lelah—kantung mata tebal dan kulit pucat. Mungkin karena tidurnya tidak nyenyak, pikirannya terlalu sibuk dengan apa yang akan terjadi malam ini.

"Program hamil," Irwan berbisik pada bayangannya, mencoba membiasakan diri dengan istilah itu. Bukan perselingkuhan. Bukan pengkhianatan. Program hamil.

Tangannya gemetar saat menyikat gigi, bayangan Maya semalam memenuhi pikirannya. Bagaimana mata istrinya berbinar saat membicarakan aktivitasnya dengan Pak Karyo di hotel. Bagaimana istrinya menjelaskan dengan jujur—terlalu jujur malah—tentang kenikmatan yang dia rasakan. Bagaimana Maya mengakui bahwa tubuhnya bereaksi terhadap Pak Karyo dengan cara yang tidak pernah terjadi dengannya.

"Cukup," Irwan membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Ini bukan tentang ego atau harga diri. Ini tentang bayi yang selama ini mereka impikan.

Selesai mandi dan berpakaian, Irwan turun ke dapur. Rumah masih sepi. Hanya suara samar burung di luar dan deru AC yang terdengar. Dia menyeduh kopi, membuka laptop, dan mencoba fokus pada email pekerjaan. Tapi pikirannya terus melayang ke berbagai arah.

Nanti malam. Program itu akan dimulai di rumahnya sendiri. Maya dan Pak Karyo. Di bawah atap yang sama dengannya.

Irwan menelan ludah, tangannya menggenggam cangkir kopi begitu erat. Perutnya terasa mual membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi bagian lain dari dirinya—bagian yang membuatnya bingung dan malu—merasa... penasaran?

"Kenapa aku jadi begini?" bisiknya pada diri sendiri, menggelengkan kepala kuat-kuat. Mungkin ini mekanisme pertahanan diri, pikirnya. Otaknya mencoba mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mudah dihadapi.

Suara langkah lembut di tangga menarik perhatiannya. Maya turun dengan mengenakan jubah mandi, rambutnya masih berantakan, matanya masih setengah terpejam oleh kantuk.

"Pagi, Yang," Irwan tersenyum, berusaha tampak normal. "Mau roti bakar?"

Maya mengangguk, tersenyum kecil. Irwan bisa melihat bekas-bekas kemerahan di lehernya masih belum sepenuhnya hilang. Jejak-jejak Pak Karyo di tubuh istrinya. Dadanya sesak, tapi dia memaksakan diri untuk fokus pada tugas sederhana—membuat sarapan.

Selama sarapan berlangsung, Irwan dan Maya lebih banyak diam. Irwan sibuk dengan tablet-nya, pura-pura membaca laporan keuangan. Maya hanya menyentuh sedikit roti panggangnya, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Yang, kamu sakit?" tanya Irwan akhirnya, menyadari Maya hampir tidak menyentuh sarapannya.

Maya menggeleng cepat. "Nggak, cuma... kepikiran meeting hari ini."

"Oh." Irwan kembali fokus ke tabletnya. "Pulang jam berapa nih nanti?"

"Kayak biasa, mungkin sekitar jam 6," Maya menyesap kopinya perlahan. "Kamu?"

"Aku bakal pulang cepet," Irwan menjawab tanpa mengangkat wajah. "Ada... yang perlu kita siapin, kan?"

Maya menelan ludah, mengerti maksud tersirat Irwan. "Iya."

Setelah Maya berangkat ke kantor, Irwan duduk diam di ruang tengah. Rumah terasa begitu sunyi. Dari jendela, dia bisa melihat Pak Karyo sedang menyapu halaman. Pembantunya itu bekerja dengan gerakan efisien, otot-otot punggungnya bergerak di bawah kemeja tipisnya.

Irwan mengamati pria itu dengan perasaan campur aduk. Kemarahan, kecemburuan, ketakutan, dan... penasaran. Bagaimana pria sederhana itu bisa membuat Maya bereaksi dengan cara yang tidak pernah dia capai? Bagaimana tangan-tangan kasarnya bisa membuat Maya mengerang penuh kenikmatan? Bagaimana benihnya jauh lebih kuat dari benihnya sendiri?

Pikirannya beralih pada percakapan mereka semalam. Bagaimana Maya menjelaskan bahwa cairan Pak Karyo masih ada di dalamnya, bahkan setelah mandi. Bagaimana Maya mengatakan bahwa dia bisa merasakan keberadaan cairan itu sepanjang hari, termasuk saat mereka makan malam bersama.

"Ya Tuhan," Irwan memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu. Tapi setiap kali dia menutup mata, yang muncul justru adegan-adegan yang lebih jelas—Maya mendesah di bawah Pak Karyo, tubuhnya menggeliat penuh kenikmatan. Napasnya tidak teratur, jari-jarinya mencengkeram seprai.

"CUKUP!" Irwan bangkit mendadak, berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Dia perlu mengalihkan pikirannya. Perlu melakukan sesuatu.

Irwan meraih ponselnya, menelepon kantornya.

"Halo, Rina? Aku nggak masuk hari ini. Tolong reschedule semua meeting... Ya, aku nggak enak badan... Makasih."

Kebohongan kecil. Tapi dia memang tidak dalam kondisi yang tepat untuk bekerja. Ada hal lain yang harus dia urus hari ini.

Irwan berjalan ke kamar tamu, menatap ruangan yang akan menjadi tempat program itu berlangsung. Kamar itu terlihat biasa saja—tempat tidur queen size, lemari kayu, meja rias kecil, dan jendela dengan tirai tebal. Tidak ada yang istimewa. Tapi nanti malam, kamar ini akan menjadi saksi bisu dari... apa? Pengorbanan? Pengkhianatan? Atau langkah baru menuju kebahagiaan keluarga mereka?

Tangannya menyentuh seprai putih di tempat tidur. Seprai bersih yang besok pagi mungkin akan penuh bercak-bercak aktivitas malam sebelumnya. Irwan menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ini semua demi anak mereka. Demi bayi yang selama ini mereka impikan.

Setelah beberapa saat merenung, Irwan memutuskan untuk keluar rumah. Dia perlu udara segar, perlu menjernihkan pikirannya. Tanpa tujuan pasti, dia mengemudikan mobilnya ke arah mal.

Di mal, Irwan hanya berjalan-jalan tanpa tujuan, melewati toko-toko mahal dengan display mencolok. Matanya tertuju pada toko perhiasan, di mana sepasang cincin pernikahan dipajang dengan anggun. Cincin yang mirip dengan cincin yang dia dan Maya kenakan. Simbol komitmen mereka. Simbol janji saling setia.

Janji yang kini harus mereka langgar demi impian yang lebih besar.

Irwan tersenyum getir. Enam tahun lalu, dia bersumpah untuk menjaga Maya, untuk mencintainya dalam suka dan duka. Tapi dia tidak pernah membayangkan akan menghadapi situasi seperti ini. Bagaimana mungkin dia bisa mendefinisikan apa yang terjadi? Apakah ini termasuk "duka" yang harus mereka hadapi bersama?

Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke toko bayi. Berbagai perlengkapan bayi terpajang dengan warna-warna cerah—baju mungil, sepatu boot kecil, selimut lembut, dan mainan-mainan lucu. Irwan berhenti, menatap display itu lama. Inilah impian mereka. Inilah alasan di balik semua ini.

"Bapak lagi cari apa?" seorang pramuniaga wanita bertanya ramah.

Irwan tersentak dari lamunannya. "Oh, nggak. Cuma liat-liat."

"Istri Bapak lagi hamil?" tanya pramuniaga itu lagi.

"Belum," Irwan menjawab pelan. "Tapi... mudah-mudahan sebentar lagi."

"Amin," pramuniaga itu tersenyum. "Kalau Bapak butuh apa-apa, bisa panggil saya ya."

Irwan mengangguk, tersenyum tipis. Begitu pramuniaga pergi, senyumnya memudar. Belum, katanya tadi. Belum hamil. Tapi malam ini, mereka akan melakukan segala cara untuk membuat kata "belum" itu berubah menjadi "ya".

Irwan keluar dari mal dengan perasaan lebih mantap. Dia akan melalui ini. Demi impian yang lebih besar. Demi bayi yang akan memanggilnya "Ayah".

Tapi sebelum semua itu terjadi, ada satu hal yang perlu dia lakukan.

***

Pukul satu siang, Irwan sudah kembali di rumah. Maya sedang di kantor, dan Pak Karyo sedang mencuci mobil di halaman belakang. Irwan mengamati pria itu dari jendela ruang kerjanya. Pria yang akan menyentuh istrinya malam ini. Pria yang mungkin akan menjadi ayah biologis dari anaknya.

Irwan menarik napas dalam. Sudah waktunya untuk bicara.

"Pak Karyo," panggil Irwan saat melangkah ke halaman belakang.

Pak Karyo berhenti mencuci, berbalik dengan sikap formal dan sopan yang biasa. "Iya, Pak?"

"Bisa kita ngobrol sebentar?" Irwan menunjuk ke arah kursi taman .

Pak Karyo tampak sedikit kaget, tapi segera mengangguk. "Nggih, Pak."

Mereka duduk berhadapan di kursi taman. Irwan menatap langit, mencoba menyusun kata-kata dalam kepalanya.

"Pak Karyo," Irwan memulai, suaranya mantap meski jantungnya berdebar kencang. "Soal program yang udah kita sepakati kemarin... Saya mau bahas kelanjutannya di rumah."

Pak Karyo menunduk sopan. "Nggih, Pak. Bu Maya memang sudah ngasih tau kalau programnya mau dilanjutin."

"Bagus. Saya cuma mau mastiin kita semua paham aturan mainnya," Irwan melanjutkan, tatapannya tegas. "Meskipun kontrak udah ditandatangani, ada beberapa hal yang perlu aku tegasin buat sesi di rumah ini."

"Tentu, Pak," Pak Karyo menjawab dengan hormat. "Saya siap dengerin aturan tambahan dari Pak Irwan."

"Maya udah jelasin ke Pak Karyo soal rencana lanjutin di rumah?" tanya Irwan, mencoba mengontrol suaranya agar tetap netral.

"Belum detail, Pak," Pak Karyo menjawab jujur. "Bu Maya cuma bilang kita perlu lanjutin program ini di rumah biar peluangnya lebih gede."

Irwan menghela napas. Jadi Maya belum kasih detail ke Pak Karyo. Berarti dia yang harus jelasin kondisi-kondisi yang perlu dipatuhi.

"Gini, Pak Karyo," Irwan melanjutkan, suaranya tenang dengan otoritas yang biasa dia pake di ruang rapat kantor. "Program ini memang bakal dilanjutin di rumah. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya tegasin."

Pak Karyo mengangguk, masih dalam posisi mendengarkan dengan penuh hormat.

"Pertama," Irwan menatap langsung ke mata Pak Karyo, "ini murni program kehamilan. Bukan buat... seneng-seneng." Dia menelan ludah, merasa aneh ngomong gini. "Saya tau apa yang terjadi di hotel beberapa hari lalu. Maya cerita semuanya ke saya."

Irwan menarik napas dalam, berusaha nyembunyiin getaran dalam suaranya. "Saya tau kalian nggak cuma sekali. Tapi berkali-kali, sepanjang malam. Saya tau istri saya... nikmatin setiap momennya dengan cara yang nggak pernah dia alami sebelumnya." Tangannya terkepal di sisi tubuh. "Saya bisa liat dari matanya waktu dia cerita, dari bekas-bekas di tubuhnya, dari keputusannya buat nginep semalaman."

Tatapan Irwan mengeras, suaranya lebih rendah. "Yang mau saya tekenin adalah... di rumah ini, kita fokus ke tujuan utama. Program ini bukan soal cari kesenangan atau kepuasan. Ini soal kehamilan. Soal anak yang kami dambakan." Dia menelan ludah. "Semua yang terjadi di hotel... kelewat jauh dari yang seharusnya."

Pak Karyo terlihat sedikit kaget, tapi tetap mengangguk. "Saya ngerti, Den."

"Kedua," lanjut Irwan, "saya perhatiin bekas-bekas di tubuh Maya." Dia menarik napas dalam. "Bukan cuma... cupangan biasa. Tapi gigitan, cakaran. Dan..." Irwan menelan ludah, "bagian pribadinya juga merah, untungnya nggak terlalu bengkak."

Pak Karyo menunduk sedikit. "Maaf, Den."

"Saya minta Pak Karyo untuk lebih... lembut," kata Irwan, suaranya sedikit bergetar. "Perlakukan Maya seperti Pak Karyo memperlakukan istri Pak Karyo di desa. Dengan penuh... perhatian dan kelembutan."

"Nggih, Pak," Pak Karyo mengangguk. "Saya akan perlakukan Bu Maya seperti istri saya sendiri."

"Ketiga," Irwan menegakkan punggungnya, merasa seperti sedang menegosiasikan kontrak penting, "di luar sesi yang sudah disepakati, hubungan kita tetap majikan dan pembantu. Pak Karyo tetap harus memperlakukan kami seperti biasa. Tidak ada... keistimewaan."

"Saya mengerti, Pak," Pak Karyo mengangguk patuh. "Saya akan selalu ingat posisi saya di rumah ini."

"Keempat," Irwan melanjutkan, suaranya semakin tegas, "program ini hanya dilakukan saat Maya sedang masa subur. Bukan setiap hari atau setiap Pak Karyo atau Maya... ingin."

Irwan berhenti sejenak. Rasanya aneh membicarakan hal seperti ini dengan pembantu rumahnya. Tapi dia harus tegas, harus jelas.

"Kelima, saya harus tau kapan... pertemuan terjadi. Maya akan memberitahu saya, dan saya akan ada di rumah."

Irwan menarik napas dalam. "Dan terakhir, yang paling penting... Pak Karyo dan Maya tidak boleh tidur bersama setelah... selesai. Langsung kembali ke kamar masing-masing."

Pak Karyo mengangguk lagi. "Nggih, Pak. Saya mengerti. Semua akan saya lakukan sesuai perintah Pak Irwan."

Irwan mengamati wajah Pak Karyo, mencari tanda-tanda keraguan atau ketidaksetujuan. Tapi pembantunya itu tetap menunjukkan sikap patuh dan formal seperti biasa.

"Saya juga ingin Pak Karyo tau..." Irwan berkata lebih pelan, "meskipun program ini... tidak biasa, saya tetap menghargai bantuan Pak Karyo. Tanpa Pak Karyo, kami mungkin tidak akan pernah punya anak."

Terasa aneh mengucapkan terima kasih pada orang yang akan tidur dengan istrinya. Tapi di tengah kegilaan situasi ini, Irwan merasa perlu mengakui peran Pak Karyo.

"Saya yang seharusnya berterima kasih, Pak," Pak Karyo menjawab dengan suara rendah. "Bapak dan Bu Maya sudah sangat baik pada saya selama ini. Bisa membantu Bapak adalah kehormatan bagi saya."

Irwan tersenyum tipis, meski hatinya masih terasa berat. Ada ketulusan dalam kata-kata Pak Karyo yang membuatnya sedikit lega. Mungkin pria ini memang benar-benar melihat situasi ini sebagai cara membantu majikannya, bukan hanya kesempatan untuk memuaskan hasrat.

"Pak Irwan tidak perlu khawatir," Pak Karyo menambahkan setelah jeda yang cukup panjang. "Saya tau tempat saya. Saya tidak akan melampaui batas yang sudah ditentukan."

Irwan mengangguk, merasa sedikit lega. "Terima kasih, Pak. Program ini... tidak mudah bagi siapapun dari kita."

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Suara burung berkicau dan gemerisik daun terdengar lembut di latar belakang. Irwan tenggelam dalam pikirannya. Pak Karyo duduk diam menunggu, tahu bahwa mungkin masih ada hal lain yang ingin dibicarakan majikannya.

"Kalau boleh saya bertanya, Pak," Pak Karyo akhirnya bersuara, memecah keheningan, "program ini akan berlangsung... berapa lama?"

Irwan mengerjap, pertanyaan itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Berapa lama? Sampai Maya hamil? Bagaimana jika butuh waktu berbulan-bulan?

"Sampai Maya hamil," jawab Irwan akhirnya, suaranya terdengar lebih serak dari yang dia inginkan. "Semoga tidak terlalu lama."

Pak Karyo mengangguk lagi. "Nggih, Pak. Semoga Gusti Allah segera memberi keturunan."

Mendengar nama Tuhan disebut dalam konteks ini membuat Irwan merasa aneh. Seolah mereka sedang melakukan sesuatu yang sakral, bukan sesuatu yang di mata banyak orang akan dianggap dosa.

"Maya..." Irwan berkata perlahan, "dia juga nggak gampang menerima situasi ini. Tolong Pak Karyo juga ngertiin."

"Tentu, Pak," Pak Karyo menjawab. "Saya mengerti beban Bu Maya sangat berat."

Irwan melirik Pak Karyo, mencoba membaca apa yang sebenarnya dipikirkan pria itu. Apakah dia benar-benar menganggap ini sebagai tugas? Atau ada kesenangan tersendiri baginya? Mungkin campuran keduanya?

"Anak itu anugrah, Pak," Pak Karyo tiba-tiba berkata, matanya menerawang ke arah pohon-pohon di kejauhan. "Saya beruntung punya lima. Dari dua istri berbeda."

Irwan mengangguk, mengingat kembali bahwa Pak Karyo adalah seorang duda yang menikah lagi dengan wanita yang lebih muda. Dan dari dua pernikahan itu, dia dikaruniai lima anak. Lima. Sementara dirinya, dengan semua kekayaan dan pendidikan tingginya, tidak mampu memberikan satu pun.

"Istri pertama saya meninggal waktu melahirkan anak keempat," Pak Karyo melanjutkan, nada suaranya berubah sedikit sendu.

Irwan terdiam, menyadari bahwa ini kali pertama Pak Karyo berbicara panjang lebar tentang kehidupan pribadinya. Selama empat tahun bekerja di rumahnya, Pak Karyo selalu terkesan seperti sosok yang ada tapi tak terlihat—efisien, patuh, dan hampir tak terdengar.

"Maaf, Pak," Pak Karyo tiba-tiba menunduk, sadar bahwa dia mungkin terlalu banyak bicara. "Saya nggak bermaksud—"

"Nggak apa-apa, Pak," Irwan memotong dengan suara lembut. "Saya senang mendengar tentang keluarga Pak Karyo."

Matahari bergeser sedikit, bayangan pohon mangga di halaman bergerak menutupi sebagian teras. Hari sudah mulai beranjak sore.


***​


"Aku pulang," Maya memanggil pelan saat masuk ke rumah. Sunyi. Sepertinya tidak ada yang mendengar. Dia meletakkan tasnya di meja konsol dekat pintu, matanya mencari tanda-tanda keberadaan Irwan atau Pak Karyo.

"Yang?" Maya memanggil lagi, berjalan ke arah ruang keluarga. Kosong. Dapur juga kosong. Kemana mereka?

Maya naik ke lantai atas, berhenti sejenak di depan kamar tamu yang sudah dia siapkan. Pintunya tertutup. Jantungnya berdetak lebih cepat saat melewati kamar itu, melangkah menuju kamar utama.

"Irwan?" Maya membuka pintu kamar mereka. Kosong juga.

Suara dari halaman belakang menarik perhatiannya. Maya berjalan ke jendela kamar, melihat ke bawah. Irwan dan Pak Karyo sedang berbicara di teras belakang. Mereka terlihat serius. Maya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa tubuh mereka jelas - ini bukan obrolan biasa.

Maya merasakan perutnya mulas. Apa yang sedang mereka rencanakan? Apa Irwan memberikan syarat baru? Apa Pak Karyo meminta sesuatu?

Dia memperhatikan dua pria itu beberapa menit, sampai akhirnya Irwan menepuk bahu Pak Karyo dan berjalan masuk ke rumah. Pak Karyo tetap di situ, menatap dengan ekspresi yang tidak bisa Maya baca.

Maya cepat-cepat masuk ke kamar mandi, pura-pura sedang cuci muka saat Irwan masuk ke kamar.

"Yang? Kamu udah pulang?" Irwan manggil dari kamar.

Maya keluar dari kamar mandi, tersenyum kecil ke suaminya. "Iya, baru aja. Meeting dicancel."

"Oh." Irwan duduk di tepi tempat tidur. "Aku juga pulang cepet."

"Aku liat kamu ngobrol sama Pak Karyo," Maya berbicara hati-hati. "Kalian... ngomongin apa?"

Irwan menatap Maya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Soal nanti malem."

"Apa yang kamu bilang ke dia?" Maya bertanya, berusaha tidak terdengar panik.

"Cuma mastiin dia ngerti ini program untuk hamil," Irwan menjawab datar. "Bukan untuk... kesenangan."

Maya mengangguk pelan. "Oke."

"Aku juga bilang..." Irwan menarik napas dalam, jemarinya sedikit gemetar. "Aku nggak bakal ganggu. Aku bakal di ruang kerja selama... proses berlangsung."

Maya merasakan tenggorokannya kering. Kata-kata itu menggantung di antara mereka—proses. Sebuah kata steril untuk menggambarkan apa yang akan terjadi malam ini. Matanya melirik sekilas ke arah kamar tamu yang tertutup.

"Kamu... nggak perlu pulang cepet kalo nggak nyaman," Maya berkata lembut. "Aku ngerti kok."

"Nggak," Irwan menggelengkan kepala, rahangnya mengeras. "Ini rumah kita. Aku harus ada di sini."

Maya duduk di samping Irwan, mengambil tangannya. Kulit suaminya terasa dingin dalam genggamannya. Dadanya sesak oleh rasa bersalah yang bercampur dengan antisipasi yang tak bisa ia sangkal.

"Makasih," bisiknya.

Irwan mengangguk, membalas genggaman Maya. Matanya menatap lurus ke depan, tidak benar-benar melihat. "Ini semua demi anak kita."

Kata-kata itu menusuk Maya seperti jarum. Anak kita. Bayangan tentang bayi yang selama ini mereka impikan muncul lagi di benaknya. Perutnya terasa hangat membayangkan kehidupan yang mungkin sedang tumbuh di sana setelah pertemuan mereka di hotel. Iya, ini semua demi bayi mereka. Bukan demi sensasi yang Pak Karyo berikan padanya. Bukan demi desahan dan orgasme yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

"Iya," Maya berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. "Demi anak kita."


***​


Jam 7 malam, Maya sudah duduk gelisah di depan meja riasnya, menatap bayangan dirinya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, perpaduan antara kecemasan dan... antisipasi. Perlahan, dia membuka laci khusus, mengeluarkan lingerie hitam yang dia pakai di hotel malam itu. Ada sedikit noda putih kering di bagian dalamnya—bukti betapa dahsyatnya malam mereka. Maya merinding, jarinya membelai noda itu dengan sentuhan yang nyaris reverent.

"Ini menjijikkan," bisiknya pada diri sendiri, tapi tangannya tidak berhenti membelai noda itu. Benih Pak Karyo. Benih yang dia harapkan akan mengisi rahimnya lagi malam ini. Dulu Maya pasti langsung melempar pakaian seperti ini ke mesin cuci, bahkan mungkin langsung membuangnya. Tapi sekarang, di tengah keputusasaannya untuk hamil, pikirannya mulai dipenuhi ide-ide aneh. Bagaimana jika noda ini—jejak fisik dari pertemuan mereka sebelumnya—bisa meningkatkan peluangnya? Bagaimana jika ini semacam jimat keberuntungan? Benih yang akan membuat perutnya membuncit dengan bayi yang selama ini dia impikan.

"Oke, fokus," bisiknya ke diri sendiri, mengesampingkan kegelisahannya tentang kehigienisan. Dia melepas jubah mandinya. Kulitnya meremang saat udara dingin AC menyentuh tubuh telanjangnya. Maya ragu sejenak, tapi kemudian logikanya kalah oleh dorongan irasional. Dengan hati-hati, dia memakai lingerie itu, bergidik saat kain yang belum dicuci menyentuh kulitnya yang bersih. Ini bukan dirinya, tapi demi anak... lalu menyemprotkan Chanel No. 5 di titik-titik nadinya, berharap parfum mahal itu menutupi pikiran tentang apa yang sedang dia lakukan.

Tapi malam ini berbeda dari hotel. Di hotel, dia bisa pura-pura mereka cuma dua orang asing yang tidak akan bertemu lagi. Di sini, di rumahnya sendiri, dengan Irwan di lantai bawah... semuanya terasa jauh lebih nyata. Jauh lebih... salah. Perutnya bergolak dengan campuran rasa bersalah dan gairah yang membingungkan.

Maya mengambil ponselnya, melihat jam. 7:45. Sebentar lagi. Jantungnya berdetak makin cepat, darahnya berdesir di telinganya. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ini semua demi program hamil. Demi bayi mereka.

Setelah yakin penampilannya sudah sempurna, Maya berjalan ke kamar tamu. Langkahnya sedikit gemetar, menimbulkan suara lembut di karpet tebal. Kamar yang jarang dipakai itu sekarang sudah disulap jadi tempat program mereka. Seprai bersih, bantal-bantal empuk, lampu temaram, dan wangi aromaterapi yang menenangkan.

Maya duduk di tepi tempat tidur, menatap jam dinding. 7:55. Lima menit lagi. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di tulang rusuknya, detak-detak yang nyaris menyakitkan. Tangannya basah oleh keringat dingin. Nafasnya pendek-pendek. Ini semua demi... anak.

Tepat jam 8, suara ketukan pelan terdengar di pintu.

"Masuk," Maya berbicara dengan suara yang dia usahakan tidak bergetar.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com