𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗶𝗹𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗕𝗔𝗕 𝟭𝟲

 

Senja mulai turun di luar jendela, melukis langit Jakarta dengan semburat jingga keunguan. Di dalam kamar utama yang temaram, waktu seolah membeku dalam momen penuh emosi antara dua orang yang saling mencintai namun kini berada di tepi jurang ketakutan.

Maya menatap mata suaminya yang berkaca-kaca, melihat kerentanan yang belum pernah Irwan perlihatkan sebelumnya. Selama enam tahun pernikahan mereka, Irwan selalu menjadi sosok kuat, penyangga dalam badai kehidupan mereka. Tapi kini, di hadapannya, Irwan seperti kaca retak yang bisa pecah kapan saja—dan Maya tahu dialah yang menyebabkannya.

Tangan Maya bergetar saat mengusap pipi Irwan yang kasar oleh jenggot tipis. Hatinya mencelos melihat ketakutan murni di mata pria yang selalu percaya padanya. Bagaimana bisa mereka sampai di titik ini? Bagaimana impian sederhana untuk memiliki anak bisa membawa mereka ke situasi yang begitu rumit dan menyakitkan?

"Aku janji," bisiknya, suaranya mantap meski basah oleh tangis. "Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan pernah. Kamu suami aku. Cinta aku. Ayah dari anak kita nanti. Apa pun yang terjadi."

Irwan menatap Maya lama, mencari kebenaran di matanya. Apa yang ia lihat sepertinya meyakinkannya, karena ia tersenyum—kali ini lebih tulus.

"Kamu tau," Irwan berkata, tangannya membelai rambut Maya yang masih berantakan pasca tidur siang, "waktu kita pertama ketemu, aku langsung tau kamu bakal jadi ibu yang hebat buat anak-anak kita."

Maya tersenyum, air matanya masih mengalir. "Dan kamu bakal jadi ayah terbaik."

"Dan aku masih akan jadi ayah terbaik," Irwan menegaskan, suaranya lebih kuat. "Nggak peduli... gimana cara anak itu hadir."

Maya mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Irwan. Mereka berpelukan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.

"Kamu udah makan?" tanya Irwan akhirnya, memecah keheningan.

Maya menggeleng. "Belum. Kamu?"

"Belum juga," Irwan melirik jam tangannya. "Udah jam segini. Mau makan di luar?"

Maya mendongak, sedikit terkejut dengan ajakan itu. "Kamu yakin?"

"Iya," Irwan mengangguk, mengusap sisa air mata di pipi Maya. "Kita perlu keluar dari rumah ini sebentar. Makan enak, ngobrol... kayak dulu."

Maya tersenyum lebar, untuk pertama kalinya hari itu. "Boleh. Aku mau ganti baju dulu."

Irwan mengangguk, lalu dengan gerakan tiba-tiba menggelitik pinggang Maya, membuat wanita itu memekik kaget.

"Apaan sih!" Maya tertawa, mencoba menjauhkan tangan Irwan.

"Cuma mastiin kamu masih bisa ketawa," goda Irwan, melanjutkan serangan gelitikannya.

Maya tertawa lepas, berusaha melarikan diri dari pangkuan Irwan. "Stop! Stop! Aku nyerah!"

Irwan akhirnya berhenti, ikut tertawa melihat wajah Maya yang memerah. Untuk sesaat, mereka kembali menjadi pasangan muda yang dulu—tanpa beban, tanpa program kehamilan, tanpa Pak Karyo.

"Yuk, ganti baju," Irwan bangkit, menggenggam tangan Maya. "Aku laper nih."

Maya mengangguk, mengikuti Irwan keluar dari ruang kerja. Langkah mereka terasa lebih ringan, seolah pembicaraan tadi telah mengangkat sebagian beban yang menghimpit.


Makan malam di restoran Italia favorit mereka berlangsung menyenangkan. Maya dan Irwan berbincang tentang banyak hal—pekerjaan, teman lama, rencana liburan—hampir seperti tidak ada masalah di rumah mereka. Mereka tertawa, bercanda, dan untuk beberapa jam, berhasil melupakan situasi rumit yang sedang mereka hadapi.

"Kamu inget nggak," Irwan berkata sambil menyesap wine merahnya, "waktu kita pertama kali ke restoran ini?"

Maya tersenyum, mengangguk. "Anniversary pertama kita. Kamu nggak bisa booking tempat karena telat, tapi tetep maksa dateng."

"Dan kita nunggu hampir dua jam buat dapet meja," Irwan tertawa. "Kamu marah banget."

"Habisnya kamu sok yakin bakal dapet meja cepet!" Maya ikut tertawa, mengingat bagaimana mereka akhirnya makan larut malam dengan perut keroncongan.

"Tapi makanannya enak kan?" Irwan mengedipkan mata, mengulang kalimat yang sama persis seperti yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu.

Maya menggelengkan kepala, tersenyum geli. "Iya, enak. Tapi lain kali tetep harus booking."

Mereka tertawa bersama, menikmati momen nostalgia itu. Obrolan terus mengalir, dari satu topik ke topik lain, menghindari satu hal yang masih menggantung di antara mereka.

Setelah dessert dan kopi, mereka memutuskan untuk pulang. Di mobil, Irwan memutar lagu-lagu lama yang sering mereka dengarkan saat pacaran dulu. Maya ikut bernyanyi pelan, kepalanya bersandar nyaman di kursi.

"Makasih buat malam ini," Maya berkata saat mereka hampir sampai di rumah. "Aku... kita butuh ini."

Irwan mengangguk, tangannya menggenggam tangan Maya sekilas sebelum kembali ke kemudi. "Sama-sama. Aku juga seneng."

Sesampainya di rumah, suasana hangat masih menyelimuti mereka. Maya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Irwan memeriksa beberapa email di ponselnya.

"Yang, aku mandi dulu ya," Maya berkata sambil mengambil piyama sutranya dari lemari.

Irwan mengangguk, masih fokus pada ponselnya. "Iya, nanti aku nyusul."

Maya tersenyum kecil sebelum menghilang ke kamar mandi. Suara shower terdengar beberapa saat kemudian.

Irwan meletakkan ponselnya, menghela napas panjang. Meski makan malam tadi menyenangkan, ia tahu mereka hanya menunda membicarakan gajah di ruangan—program kehamilan yang akan dimulai besok malam. Dengan Pak Karyo. Di rumah mereka sendiri.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Rambut hitamnya yang basah tergerai di bahunya, dan tubuhnya hanya dibalut piyama sutra tipis berwarna krem. Aroma sabun lavender yang lembut menguar dari kulitnya.

"Giliran kamu," Maya tersenyum, berjalan menuju meja rias untuk mengoleskan pelembab malam.

Irwan bangkit, berniat menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu—bekas kemerahan di leher Maya yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Bukan hanya satu, tapi beberapa, menyebar dari belakang telinga hingga ke tulang selangkanya.

Tanpa sadar, Irwan melangkah mendekat. Maya yang sedang mengoleskan krim wajah tidak menyadari perubahan ekspresi suaminya.

"Maya," panggil Irwan pelan, suaranya terdengar aneh.

Maya menoleh, masih dengan senyum di wajahnya. "Hmm?"

"Itu..." Irwan menunjuk ke arah leher Maya.

Maya mengikuti arah pandang Irwan, lalu dengan cepat tangannya menutupi bekas-bekas kemerahan itu. Wajahnya langsung berubah pucat.

"Oh, ini..." Maya tergagap, tidak siap dengan konfrontasi ini. "Aku... aku nggak sadar masih ada."

Irwan tidak berkata apa-apa, hanya menatap Maya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan marah, bukan juga jijik—lebih seperti... penasaran.

"Boleh aku liat?" tanya Irwan akhirnya, suaranya pelan.

Maya mengerjap kaget. "Li-liat?"

"Iya," Irwan mengangguk, melangkah lebih dekat. "Aku... pengen tau."

Maya menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Ini bukan reaksi yang ia duga dari Irwan. Ia mengira suaminya akan berpaling, atau paling tidak menunjukkan rasa jijik. Tapi tatapan Irwan justru menunjukkan keingintahuan yang aneh.

"Kamu... yakin?" Maya bertanya ragu.

Irwan mengangguk pelan. "Iya. Aku perlu... tau."

Dengan tangan gemetar, Maya menurunkan kerah piyamanya sedikit, memperlihatkan bekas-bekas kemerahan yang menghiasi leher dan tulang selangkanya. Bekas-bekas yang ditinggalkan Pak Karyo dengan sengaja—tanda kepemilikan yang jelas.

Irwan melangkah mendekat, matanya menelusuri setiap bekas di kulit Maya. Tangannya terangkat, jemarinya dengan lembut menyentuh salah satu bekas kemerahan di bawah telinga Maya.

"Sakit?" tanyanya pelan.

Maya menggeleng, napasnya tertahan merasakan sentuhan Irwan di kulitnya yang sensitif. "Nggak."

Jemari Irwan bergerak turun, menelusuri bekas demi bekas dengan gerakan yang nyaris seperti memuja. Maya berdiri diam, tidak yakin harus bereaksi seperti apa.

"Ada... lagi?" tanya Irwan, matanya kini menatap langsung ke mata Maya.

Maya menggigit bibir bawahnya, lalu dengan gerakan lambat membuka dua kancing teratas piyamanya. Kain sutra itu merosot sedikit, memperlihatkan lebih banyak bekas kemerahan yang menghiasi bagian atas dadanya.

Irwan menelan ludah, matanya melebar melihat jejak-jejak yang ditinggalkan Pak Karyo. Tangannya kembali bergerak, kali ini menyentuh bekas gigitan di dekat tulang selangka Maya.

Dia... gigit kamu?" tanya Irwan, suaranya sedikit bergetar.

Maya mengangguk pelan. "Iya."

"Kenapa kamu... biarin dia?" Irwan bertanya lagi, matanya tidak lepas dari bekas kemerahan itu.

Maya terdiam sejenak, jari-jarinya menyentuh bekas gigitan di lehernya dengan gerakan ragu. "Aku... aku nggak tau," jawabnya jujur. "Waktu itu terjadi, aku bahkan nggak mikir. Mungkin... mungkin itu semacam ekspresi gairah yang kita nggak pernah... tau sebelumnya."

Irwan menelan ludah, tangannya perlahan menyentuh bekas gigitan itu. "Kita nggak pernah... kayak gitu ya?"

"Nggak pernah," Maya mengakui pelan, matanya menatap lantai. "Kita selalu... lembut. Terkendali."

"Vanilla," Irwan menambahkan, suaranya terdengar aneh bahkan di telinganya sendiri. "Aku nggak pernah kepikiran buat... gigit kamu."

Maya mengangguk pelan. Mereka terdiam beberapa saat, sama-sama menyadari betapa terbatasnya eksplorasi mereka selama ini, betapa mereka selalu bermain aman dalam zona nyaman.

"Gimana... rasanya?" Irwan bertanya tiba-tiba, jarinya masih menyentuh bekas kemerahan itu. "Waktu dia gigit kamu, apa yang kamu rasain?"

Maya menarik napas dalam, mencoba mengingat. "Aku nggak inget detail pastinya," ujarnya jujur. "Semuanya kayak... blur. Tapi aku inget sensasinya. Antara sakit dan... nikmat. Campuran yang aneh tapi... bikin ketagihan."

"Dan kamu... nggak keberatan?"

"Nggak," Maya menjawab pelan. "Waktu itu, aku nggak mikir sama sekali untuk nolak. Rasanya... beda. Beda banget dari yang kita pernah lakuin. Dan entah kenapa... aku malah suka."

Irwan mengangguk perlahan, mencoba memahami. Matanya menyiratkan berbagai emosi yang berkecamuk—kaget, penasaran, mungkin juga sedikit... tertantang.

"Dia bikin kamu ngerasain sesuatu yang baru," Irwan berbisik, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"Iya," Maya mengakui, suaranya nyaris tak terdengar. "Sesuatu yang aku nggak tau aku bisa rasain."

Irwan mengangguk, seolah mencoba memahami. Jemarinya terus menelusuri kulit Maya, menemukan bekas demi bekas yang tersembunyi di balik piyama tipisnya.

"Boleh aku liat... semuanya?" tanya Irwan tiba-tiba, suaranya lebih dalam dari biasanya.

Maya tersentak kaget. "Maksudnya?"

"Aku pengen liat... semua bekas yang dia bikin," Irwan menjelaskan, matanya tidak lepas dari Maya. "Aku perlu tau."

Maya menatap suaminya lama, mencoba memahami apa yang sebenarnya Irwan inginkan. Apakah ini bentuk penyiksaan diri? Atau ada sesuatu yang lebih kompleks yang terjadi?

"Kamu yakin?" Maya bertanya lagi, memastikan.

Irwan mengangguk mantap. "Iya. Aku yakin."

Dengan tangan gemetar, Maya perlahan melepaskan sisa kancing piyamanya. Kain sutra itu merosot dari bahunya, jatuh ke lantai dengan suara lembut. Kini ia berdiri hanya dengan celana dalam tipis berwarna senada.

Mata Irwan melebar melihat pemandangan di hadapannya. Tubuh Maya yang biasanya mulus kini dihiasi bekas-bekas kemerahan di berbagai tempat—leher, dada, perut, bahkan di bagian dalam pahanya. Beberapa bekas terlihat lebih gelap dari yang lain, menandakan intensitas yang berbeda.

"Ya Tuhan..." bisik Irwan, matanya menelusuri setiap inci tubuh istrinya. "Dia... ngelakuin ini semua?"

Maya mengangguk, pipinya memerah malu. "Iya."

Irwan melangkah mengelilingi Maya, melihat punggungnya yang juga tidak luput dari tanda-tanda kepemilikan Pak Karyo. Bekas cakaran terlihat jelas di bahu dan punggung bawahnya.

"Dia nyakar kamu?" tanya Irwan, jemarinya menyentuh bekas kemerahan di punggung Maya.

"Aku yang nyakar dia," Maya mengakui pelan. "Aku... nggak sadar waktu ngelakuin itu."

Irwan kembali ke hadapan Maya, matanya kini turun ke bagian dalam paha istrinya. Bekas-bekas kemerahan terlihat jelas di kulit putihnya yang sensitif.

"Boleh aku...?" Irwan berlutut di hadapan Maya, tangannya menyentuh paha dalam istrinya dengan lembut.

Maya mengangguk pelan, napasnya tertahan saat jemari Irwan menelusuri bekas-bekas di pahanya. Sentuhan itu lembut, penuh kehati-hatian, sangat berbeda dari sentuhan kasar Pak Karyo yang meninggalkan bekas-bekas itu.

"Dia... kasar?" tanya Irwan, suaranya nyaris berbisik.

"Nggak selalu. Kadang lembut, kadang... intens."

Jemari Irwan bergerak naik, mendekati celana dalam Maya yang tipis. Ia berhenti sejenak, mendongak menatap istrinya, meminta izin tanpa kata-kata. Maya mengangguk pelan, memberi persetujuan.

Dengan gerakan lambat, Irwan menarik turun celana dalam Maya, memperlihatkan bagian paling intim istrinya. Matanya melebar melihat kemerahan yang jelas di sana—jauh lebih merah dari biasanya, menandakan aktivitas intens yang telah terjadi.

"Masih... sakit?" tanya Irwan, suaranya terdengar khawatir.

"Sedikit," Maya mengakui. "Tapi nggak apa-apa."

Irwan mengamati dengan seksama, jemarinya dengan lembut menyentuh bagian luar kewanitaan Maya. "Keliatannya bengkak."

Maya menggigit bibir, menahan sensasi yang muncul dari sentuhan Irwan. "Iya... dia cukup… besar."

Irwan menelan ludah mendengar pengakuan itu. Tangannya masih menyentuh Maya dengan lembut, seolah memeriksa keadaannya.

"Boleh aku...?" Irwan tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Maya mengerti maksudnya.

"Boleh," bisik Maya, sedikit menggeser kakinya untuk memberi akses lebih.

Dengan sangat hati-hati, Irwan memasukkan satu jarinya ke dalam Maya. Ia bisa merasakan betapa hangatnya di dalam sana, dan juga... sesuatu yang lain.

"Ini..." Irwan menarik jarinya keluar, melihat cairan putih kental yang menempel di jemarinya. Matanya melebar saat menyadari apa yang dilihatnya. "Kamu... masih ada begitu banyak di dalam? Bukannya kan baru mandi?"

Maya mengangguk pelan, pipinya memerah dalam campuran malu dan sesuatu yang lebih kompleks. "Iya, sengaja gak aku bersihin," dia berbisik, matanya melirik jari Irwan yang masih berlapis cairan kental itu. "Dokter spesialis bilang harus dibiarkan di dalam selama mungkin."

Irwan menatap cairan di jarinya dengan napas tertahan. Kental dan banyak. "Tapi... sebanyak ini? Masa masih ada setelah kamu mandi?"

"Dokter bilang, semakin banyak semakin bagus," Maya menjelaskan dengan suara pelan. "Makanya aku cuma bersihin bagian luar aja. Kalo mandiku terlalu... menyeluruh, kemungkinan hamilnya jadi berkurang."

Maya menelan ludah, kemudian melanjutkan dengan suara yang semakin rendah. "Dokternya bilang... sperma terbaik adalah yang bisa bertahan lama di dalam. Mereka yang kuat akan terus berenang mencari sel telur, bahkan sampe lima hari."

Jemari Maya perlahan meraba perutnya sendiri. "Dan semakin sering... semakin banyak yang masuk, semakin tinggi kemungkinannya." Matanya menatap Irwan dengan pandangan memohon pemahaman. "Bayangin aja Yang, jutaan sperma itu sekarang lagi berenang di dalam aku... beberapa udah nunggu di tuba falopi... siap membuahi begitu ovulasi terjadi."

Irwan menelan ludah, matanya tak lepas dari jarinya yang berkilau oleh cairan Pak Karyo. Dadanya naik turun lebih cepat, campuran emosi yang tak bisa ia definisikan bergejolak dalam dirinya.

"Itulah kenapa semalam..." Maya melanjutkan, suaranya semakin pelan, "...aku nyuruh kamu pulang duluan. Aku perlu... waktu banyak sama dia. Seharian. Berkali-kali." Tangannya kini mengusap lehernya yang masih penuh bekas kemerahan. "Untuk memaksimalkan jumlah sperma di rahimku."

Irwan menutup matanya sejenak, bayangan Maya dan Pak Karyo di hotel semalaman membuat darahnya berdesir aneh. "Jadi karena itu kamu nginep?" suaranya terdengar serak.

"Iya," Maya mengangguk, matanya tak berani menatap Irwan. "Kita gak cuma sekali. Tapi berkali-kali. Sepanjang malam. Pagi juga." Dia menarik napas pelan. "Dan itulah kenapa... kita perlu lanjutin di rumah."

Rahang Irwan mengeras, tapi anehnya, bukan kemarahan yang mendominasi. Ada rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan, terlihat dari matanya yang tak lepas dari cairan di jarinya.

"Maksudnya?" Irwan bertanya, suaranya lebih dalam dari biasanya.

"Sekarang rahimku masih... agak penuh," Maya menjelaskan, pipinya semakin merah. "Tapi besok dan seterusnya, aku perlu diisi lagi. Berulang kali. Tiap hari selama masa suburku." Tangannya kini mengelus perutnya dengan gerakan memutar yang hampir hipnotis. "Untuk memastikan peluang maksimal."

Tanpa sadar, tangan Maya menggenggam pergelangan tangan Irwan, menahannya agar jarinya tetap di sana. "Tiap tetes berharga, Yang. Makanya... kita harus... berkali-kali. Bukan cuma sekali atau dua kali."

Irwan menatap cairan di jarinya dengan tatapan yang semakin intens. Entah kenapa, pemandangan benih pria lain di tubuh istrinya memicu sensasi yang tak pernah ia duga. Perutnya terasa panas, jantungnya berdegup lebih cepat. Napasnya mulai tidak teratur.

"Dan kamu..." Irwan berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, "...suka?"

Maya menggigit bibirnya, mengangguk pelan dengan mata setengah terpejam. "Tubuhku... merespons dia dengan cara yang... aneh," akunya. "Mungkin karena instingku tau dia bisa... memberikan apa yang kita inginkan."

Irwan terdiam, mencerna semua informasi ini. Perlahan, sesuatu terlintas di benaknya—mereka baru saja pulang dari makan malam, berjam-jam setelah Maya kembali dari hotel. Selama mereka duduk di restoran, bercanda, bercerita, makan hidangan favorit... selama itu pula...

"Jadi selama kita makan malam tadi..." Irwan berbisik, jarinya masih berkilau oleh cairan Pak Karyo, "...ini di dalam kamu?"

"Iya," Maya mengakui, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia... ngisi aku banyak banget. Sampai... sampai berasa penuh. Berkali-kali. Terakhir pagi tadi sebelum mandi juga."

Irwan menelan ludah, matanya masih terpaku pada jarinya. Untuk mengisi rahim sebanyak ini... berapa kali Pak Karyo harus mengeluarkan benihnya? Lima kali? Sepuluh? Lebih? Bayangan pembantunya menindih istrinya, mengisinya berulang kali hingga benar-benar penuh, membuatnya merasa aneh.

"Apa kamu bisa..." Irwan mencari kata yang tepat, "...ngerasain ini ada di dalem kamu? Selama seharian ini?"

Maya menggigit bibir, kemudian mengangguk lemah. "Kadang-kadang. Waktu gerak cepet... waktu kita duduk di restoran... aku bisa ngerasa... dia mengalir sedikit." Suaranya semakin mengecil. "Aku takut bocor sebenernya…"

"Dan besok..." Irwan berbisik, "...bakal kayak gini lagi?"

"Ya," Maya menjawab lembut. "Dia bakalan ngisi aku lagi selama masa suburku. Selama yang dibutuhkan."

Irwan mengamati Maya dengan tatapan yang berubah—campuran kerentanan, ketakutan, dan entah bagaimana, ketertarikan yang tak bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri.

"Kamu... nggak papa?" tanya Maya hati-hati, masih tidak mengerti reaksi Irwan.

Irwan terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius. "Nggak," jawabnya akhirnya. "Aku ngerti…. ini semua demi kita. Demi anak yang kita impikan."

Maya menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah maju, memeluk suaminya erat-erat. "Yang..." bisiknya, suaranya tercekat. "Aku sayaaang banget… cintaaa banget… sama kamu."

Irwan meremas tangannya pelan. "Aku juga Yang. Aku cinta kamu."

Mereka berpelukan lama, Maya yang telanjang dan Irwan yang masih berpakaian lengkap. Sebuah momen intim yang aneh namun penuh makna.

"Kamu pake baju dulu," Irwan akhirnya berkata, melepaskan pelukannya. "Nanti masuk angin."

Maya tersenyum kecil, mengambil piyamanya dari lantai dan memakainya kembali. Irwan mengamatinya dalam diam, matanya menelusuri setiap gerakan Maya.

"Kamu nggak mandi?" tanya Maya setelah selesai berpakaian.

"Nanti," jawab Irwan, duduk di tepi tempat tidur. "Aku masih... perlu waktu."

Maya mengangguk paham. Ia naik ke tempat tidur, berbaring di sisinya yang biasa. "Kamu nggak apa-apa?"

Irwan tersenyum tipis, mengangguk. "Iya. Cuma... banyak yang harus diproses."

"Mau cerita?" Maya menawarkan, menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.

"Nanti aja. Kamu tidur duluan. Pasti capek."

Maya ingin membantah, tapi rasa lelah memang sudah menguasainya. Aktivitasnya dengan Pak Karyo, ditambah emosi yang naik turun sepanjang hari, menguras energinya.

"Oke," Maya mengangguk, menarik selimut hingga dagunya. "Jangan tidur terlalu malem ya."

"Iya," Irwan tersenyum, mencondongkan tubuh untuk mengecup dahi Maya. "Good night, my love."

"Good night, my darling" balas Maya, matanya mulai terpejam.

Irwan tetap duduk di tepi tempat tidur, mengamati istrinya yang perlahan terlelap. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai emosi dan pertanyaan. Ia tidak mengerti reaksinya sendiri terhadap bekas-bekas yang ditinggalkan Pak Karyo di tubuh Maya. Seharusnya ia marah, jijik, dan cemburu. Ya, dia merasakan itu semua, tapi ada persaan lain yang ia tidak mengerti...

Mungkin ini cara otaknya mengatasi situasi—mengubah rasa sakit menjadi keingintahuan. Atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum siap ia akui bahkan pada dirinya sendiri.

Irwan bangkit perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan Maya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap langit malam Jakarta yang dipenuhi cahaya kota. Besok malam, program itu akan dimulai di rumah mereka. Pak Karyo akan kembali menyentuh Maya, meninggalkan bekas-bekas baru di tubuhnya, mengisinya dengan benihnya.

Dan Irwan akan berada di sana, di rumah yang sama, mendengar suara-suara mereka, membayangkan apa yang terjadi di kamar tamu.

Irwan menghela napas panjang, menyandarkan dahinya ke kaca jendela yang dingin. Ia tidak tahu berapa lama program ini akan berlangsung, atau bagaimana akhirnya nanti. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia mencintai Maya, dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya—bahkan jika itu berarti membagi istrinya dengan pria lain.

Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Irwan akhirnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam masih panjang, dan besok akan menjadi hari yang lebih berat lagi.

BERSAMBUNG ...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com