Irwan duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan angka-angka yang seharusnya dia analisis untuk presentasi besok. Kacamata bacanya diletakkan di samping mouse yang belum tersentuh selama sepuluh menit terakhir. Di luar, hujan rintik-rintik membasahi jendela, menciptakan irama monoton yang biasanya menenangkan. Tidak malam ini.
Pikirannya melayang ke lantai atas. Ke kamar tamu tepat di atas kepalanya.
Dia melirik jam dinding. Pukul 18:57. Tujuh belas menit yang lalu, Maya naik ke sana. Tidak mengatakan apa-apa selain, "Aku ke atas dulu ya," dengan suara yang terdengar tidak natural. Mengenakan daster sutra merah muda yang Irwan belikan saat ulang tahunnya yang ke-34. Irwan hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat. Kata-kata tersangkut di sana, tak mampu keluar.
Irwan mengusap wajahnya, lalu menghela napas panjang. Sesaat dia berpikir untuk menyalakan musik, atau memakai headphone. Apa saja untuk tidak mendengar. Tapi sesuatu dalam dirinya menolak.
Ini keputusanku. Aku harus kuat menghadapinya.
Ponselnya berbunyi. Notifikasi email dari atasannya. Deadline diperpanjang hingga lusa. Irwan hampir tertawa. Deadline adalah hal terakhir yang dia pikirkan sekarang.
Suara langkah berat terdengar menaiki tangga. Irwan menegakkan tubuh, napasnya tercekat. Pak Karyo. Pembantunya selama empat tahun. Pria yang mencuci mobilnya, menyiram tanamannya, membersihkan rumahnya. Pria yang akan memenuhi rahim istrinya dengan benihnya.
Langkah itu berhenti di depan kamar tamu. Ketukan pelan. Jeda. Suara pintu terbuka. Irwan bisa membayangkan Maya berdiri di sana, menyambut pria itu.
"Silakan masuk, Pak," suara Maya terdengar samar, tapi cukup jelas untuk membuat dada Irwan sesak.
Pintu tertutup.
Irwan meraih cangkir kopinya, meneguk isinya meski sudah dingin. Pahit. Seperti kenyataan yang harus dia telan. Dia berusaha fokus pada laptop, mengetik beberapa angka, tapi layar menjadi kabur di matanya.
Apa yang mereka lakukan sekarang?
Dia membayangkan Maya, duduk canggung di tepi tempat tidur. Pak Karyo berdiri di sudut, menunggu instruksi. Atau mungkin mereka berbicara. Maya menjelaskan apa yang dokter katakan, bahwa ini hanyalah prosedur klinis, bahwa tidak ada perasaan terlibat.
Lima menit berlalu. Sepuluh. Hanya keheningan dari atas. Irwan mulai rileks. Mungkin mereka memang hanya berbicara. Mungkin Pak Karyo bahkan tidak mampu melakukannya—kecanggungan situasi membuat dia tidak bisa...
Kriet.
Suara pertama. Pelan. Irwan mendengarkan, tidak yakin apakah itu sungguh terdengar.
Kriet. Kriet.
Tidak salah lagi. Suara tempat tidur. Derit pegas yang bergerak. Irwan menelan ludah. Ini terjadi. Sekarang. Tepat di atas kepalanya.
Awalnya suara itu teratur, pelan, hampir ragu-ragu. Tapi dengan cepat menjadi lebih mantap. Lebih berirama. Irwan bisa membayangkan apa yang terjadi di atas sana, dan bayangan itu membuat perutnya mulas.
"Ahh!"
Desahan Maya memecah keheningan. Desahan yang tidak pernah Irwan dengar selama enam tahun pernikahan mereka. Bukan desahan lembut yang kadang Maya keluarkan saat Irwan menyentuh titik sensitifnya. Ini desahan penuh, tidak ditahan, begitu jujur hingga membuat tengkuk Irwan meremang.
Lalu berlanjut.
"Ahh! Di situ! Terus!"
Irwan mencengkeram tepi meja. Pensilnya terjatuh, bergulir hingga ke tepi, lalu jatuh ke lantai dengan suara tik kecil.
"Pak Karyo... tusuk terus... enak banget!"
Dunia Irwan berputar. Maya tidak pernah terdengar seperti itu bersamanya. Tidak di malam pertama mereka yang canggung. Tidak di suite hotel bintang lima saat bulan madu. Tidak di kamar mereka sendiri selama enam tahun. Tidak pernah.
Suara tempat tidur semakin cepat. Semakin keras. Diiringi suara lain—suara basah yang tak bisa Irwan salah artikan. Plak. Plak. Plak. Suara kulit bertemu kulit. Berulang. Berirama. Semakin cepat.
"Bu Maya s...kan? S... kontol saya?"
Suara Pak Karyo terdengar rendah, teredam plafon, hanya sebagian kata yang tertangkap telinga Irwan. Tapi cukup untuk memahami maksudnya. Begitu berbeda dari suara yang biasa Irwan dengar dari pria itu. "Nggih, Den. Mobil sampun kulo resiki." "Nyuwun sewu, Bu. Air panasnya sudah siap." Selalu sopan. Selalu menunduk.
Tidak seperti suara ini. Suara pria yang penuh percaya diri. Yang tahu apa yang dia lakukan. Yang tahu dia berkuasa.
"Iya... aku suka..."
Jawaban Maya terdengar lebih jelas, memantul dari dinding-dinding kamar tamu yang relatif kosong. Jawaban yang membuat Irwan merasa seperti ditampar. Tapi ada sensasi lain yang muncul bersamaan. Sensasi yang tidak seharusnya ada. Gairah.
Tidak. Ini salah.
Tapi tubuhnya tidak peduli tentang benar-salah. Kejantanannya mulai mengeras tanpa izin. Irwan menggeser kursinya, mencoba duduk dengan posisi yang lebih nyaman, merasa jijik pada dirinya sendiri.
"...majikan suka ya, di...pembantunya?"
Kata-kata Pak Karyo tidak sepenuhnya tertangkap, tapi Irwan bisa menebak konteksnya. Selama ini Pak Karyo selalu berbicara dengan sopan, hampir terlalu formal. Tapi sekarang... kata-kata seperti itu keluar dari mulut yang sama, ditujukan pada istrinya.
"Jangan... ngomong gitu..."
Penolakan Maya terdengar lemah, tidak meyakinkan, diikuti desahan panjang yang justru menegaskan bahwa dia menikmati kata-kata itu. Irwan mencengkeram pegangan kursinya. Ereksinya semakin keras, terperangkap menyakitkan di balik celananya.
Kenapa aku seperti ini? Irwan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang salah denganku?
Derit tempat tidur semakin cepat. Semakin keras. Suara plak-plak-plak semakin intens. Dan desahan Maya... Tuhan, desahan Maya seperti bukan milik wanita yang dikenalnya selama ini.
"Kont...nya... gede banget... enak..."
Irwan memejamkan mata erat-erat. Maya tidak pernah bicara seperti itu. Maya yang mengecilkan volume TV jika ada adegan seks. Maya yang selalu mematikan lampu saat bercinta. Maya yang bahkan tidak mau mengucapkan kata "Penis" dan selalu menyebutnya "itu".
Itu bukan Maya-ku.
Tapi itu memang Maya. Dan suara itu, kata-kata itu, membuat kejantanan Irwan semakin keras hingga menyakitkan.
"Aaahh! Pak Karyo!"
Jeritan Maya begitu keras hingga Irwan yakin tetangga bisa mendengarnya jika jendela terbuka. Diikuti geraman rendah Pak Karyo dan suara tempat tidur yang berderit liar. Maya klimaks. Dan dari suaranya, itu adalah klimaks yang intens.
Irwan melirik jam. Dua puluh satu menit sejak suara tempat tidur pertama terdengar. Hanya dua puluh satu menit, dan Maya sudah klimaks dengan begitu hebat.
Tidak adil membandingkan, Irwan mengingatkan dirinya. Tentu saja ini berbeda. Maya sudah menunggu-nunggu momen ini untuk program kita.
Tapi hati kecilnya tahu itu bohong. Dengan Irwan, butuh waktu setidaknya empat puluh menit, dengan banyak foreplay, banyak stimulasi tambahan, dan Maya tidak pernah klimaks seperti itu. Tidak pernah terdengar seperti itu.
"Banyak banget... masih keluar terus..."
Suara Maya terdengar lemah, hampir seperti meracau. Irwan menelan ludah. Pak Karyo baru saja ejakulasi di dalam istrinya. Mengisi Maya dengan benih yang, jika berhasil, akan tumbuh menjadi bayi yang selama ini mereka dambakan.
Bayi yang tidak bisa Irwan berikan.
Pikirannya kembali ke hari itu, tiga bulan lalu, saat dokter memberitahu hasil tesnya. Azoospermia. Tidak ada sperma sama sekali dalam air maninya. Maya menangis di sampingnya, menggenggam tangannya, berkata bahwa tidak apa-apa. Tapi Irwan tahu betapa Maya mendambakan seorang anak. Betapa mereka berdua menginginkannya.
Dan sekarang, di atas sana, Pak Karyo sudah memberikan apa yang tidak bisa Irwan berikan.
Keheningan sesaat. Irwan mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Kejantanannya masih keras, menjadi pengingat akan betapa menjijikkannya dia. Terangsang mendengar istrinya disetubuhi pria lain.
Apa sudah selesai? Irwan bertanya-tanya. Apa sekarang mereka akan berpakaian dan turun?
Lima menit berlalu. Tidak ada suara langkah turun. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka selesai.
Lalu terdengar suara baru. Suara... aneh. Samar. Seperti... Irwan tidak yakin. Basah. Seperti sesuatu yang bergerak di dalam cairan. Lalu suara lain - sesuatu seperti tarikan napas? Hembusan? Irwan mengerutkan dahi, mencoba mendengarkan lebih jelas.
Apa itu? Apa yang mereka lakukan?
Suara-suara itu berlanjut. Irwan mencoba menafsirkannya. Mungkin mereka sedang membersihkan diri? Mungkin Maya sedang ke kamar mandi yang ada di kamar tamu? Tapi suara-suara itu tidak cocok dengan teorinya.
Terdengar suara tersedak kecil. Lalu... sesuatu seperti... pukulan kecil? Tepukan? Irwan tidak bisa memastikan. Tapi sesuatu mulai terbentuk di benaknya.
Tidak mungkin...
Irwan menolak kemungkinan itu. Maya tidak mungkin melakukan itu. Dia tidak pernah mau melakukannya untuk Irwan, kenapa dia akan melakukannya untuk Pak Karyo?
Suara-suara itu berlanjut. Semakin basah. Semakin aneh.
"Mmm... bagus..."
Suara Pak Karyo terdengar samar. Irwan mengerutkan dahi. Apa yang "bagus"? Jantungnya berdetak kencang. Tidak, tidak mungkin itu.
Irwan berdiri, berjalan ke jendela. Hujan masih turun di luar. Dia mengamati tetesan air yang mengalir di kaca, mencoba mengalihkan pikirannya dari kemungkinan itu.
Lalu tempat tidur mulai berderit lagi. Ronde kedua dimulai. Irwan menghela napas lega. Apapun yang terjadi di antara ronde pertama dan kedua, setidaknya sekarang sudah berlalu.
"Tolong... Pak Karyo... entot aku lebih keras..."
Irwan membeku di tempatnya berdiri. Sinar dari lampu jalanan menerangi wajahnya yang pucat melalui jendela. Maya tidak pernah berbicara seperti itu. Maya yang selalu menjaga image, Maya yang selalu anggun, Maya yang tidak pernah menggunakan kata-kata vulgar, kini memohon dengan kata-kata seperti itu. Pada pria lain. Pada pembantu mereka.
Itu bukan Maya-ku, pikir Irwan dengan pahit. Tapi tentu saja itu Maya. Istrinya. Wanita yang menemaninya selama enam tahun, yang selama ini dia pikir dia kenal dengan baik.
Tempat tidur berderit semakin keras, semakin cepat. Suara-suara Maya semakin liar. Kedengarannya Pak Karyo memberikan tepat apa yang Maya minta. Suara tepukan kulit bertemu kulit semakin intens, semakin basah.
Irwan kembali ke mejanya, duduk dengan tangan gemetar. Meski dadanya sesak oleh rasa sakit, kejantanannya tetap mengeras, menolak untuk turun. Tangannya bergerak tanpa sadar ke selangkangannya, memberikan sedikit tekanan. Sensasi yang membuatnya merasa kotor dan jijik, tapi tidak bisa ditolak.
Maya mencapai klimaks lagi. Suaranya melengking tinggi, lebih keras dari yang pertama, diikuti teriakan nama Pak Karyo. Lalu terdengar suara klimaks lagi, tak lama setelah yang pertama. Lalu lagi. Irwan menghitung—tiga kali dalam ronde kedua ini. Tiga kali!
Dia sendiri hampir tidak pernah bisa membuat Maya klimaks lebih dari sekali dalam satu malam. Bahkan sekali pun butuh perjuangan panjang. Tapi dengan Pak Karyo, Maya mencapainya berkali-kali, seolah sangat mudah.
Apa selama ini aku tidak cukup? pikir Irwan pahit. Apa selama ini Maya berpura-pura puas?
Ronde kedua selesai dengan geraman rendah Pak Karyo yang terdengar hingga ke bawah—pria itu klimaks lagi. Dua ronde. Irwan hampir tidak percaya. Dia sendiri jarang mampu lebih dari satu kali, bahkan di malam-malam terbaik mereka.
Keheningan kembali meliputi rumah. Irwan melirik jam—hampir sejam sudah berlalu sejak Pak Karyo memasuki kamar tamu. Keringat dingin membasahi dahi Irwan. Perutnya terasa mulas, antara gairah yang tidak wajar dan sakit hati yang mencengkeram.
Mungkin sekarang mereka sudah selesai, Irwan berharap. Mungkin sebentar lagi mereka akan turun.
Tapi tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada pintu terbuka. Lima menit. Sepuluh menit. Mereka masih di atas sana, melakukan entah apa.
Suara-suara aneh kembali terdengar. Kali ini berbeda. Lebih... basah? Lebih ritmis? Irwan mengerutkan dahi, mencoba mendengarkan lebih jelas. Suara tersedak, lebih jelas dari sebelumnya.
Apa itu? Irwan masih mencoba menolak pikiran yang mulai terbentuk. Tidak mungkin Maya...
"...lebih dalam lagi..."
Suara Pak Karyo samar-samar terdengar. Irwan tidak bisa menangkap kalimat lengkapnya, tapi dua kata itu terdengar cukup jelas. Dalam lagi? Dalam apa?
Suara tersedak terdengar lagi. Lebih keras. Lalu suara batuk tertahan.
"Uhuk! Uhuk!"
Itu suara Maya. Suara batuk tersedak. Irwan masih mencoba menolak kesimpulan yang semakin jelas.
Lalu kalimat yang menghancurkan semua keraguan.
"Lebih dalem, Bu... telan sampe tenggorokan."
Suara Pak Karyo terdengar jelas. Tidak ada kata-kata yang bisa disalahartikan. Tidak ada cara lain untuk menginterpretasikannya.
Maya—istrinya—sedang memberikan oral pada Pak Karyo. Deep throat. Sesuatu yang tidak pernah, tidak sekali pun, dia lakukan untuk Irwan.
Dunia Irwan seketika runtuh.
Irwan terhuyung berdiri, nyaris menjatuhkan kursinya. Dia berjalan terhuyung ke wastafel kecil di sudut ruang kerja, menumpahkan isi perutnya. Asam dan pahit. Seperti kenyataan yang baru saja menghantamnya.
Dia membasuh mulutnya, menatap bayangannya yang pucat di cermin kecil di atas wastafel. Matanya merah, berkaca-kaca. Siapa pria menyedihkan ini?
"Uhuk! Uhuk! Nggak... nggak bisa..."
Suara Maya terdengar lagi. Jelas dia sedang berjuang. Berjuang untuk melakukan sesuatu yang selalu dia tolak melakukannya untuk suaminya.
Irwan teringat malam itu, lima tahun lalu, saat dia meminta Maya melakukannya untuk pertama kali. Wajah Maya langsung berubah jijik. "Itu jorok, Yang," katanya tegas. "Aku gak bisa. Jangan pernah minta itu lagi."
Irwan tidak pernah melupakan tatapan jijik di mata Maya saat itu. Tatapan yang membuatnya merasa kotor karena menginginkannya. Merasa kurang sebagai seorang pria.
Lalu teringat setahun kemudian, saat ulang tahun pernikahan mereka. Liburan romantis di villa tepi pantai. Irwan, sedikit mabuk dari anggur, mencoba lagi. "Maya, bisa nggak kamu... um... kamu tahu..." Dan Maya langsung tahu apa yang dia minta. Wajahnya berubah dingin. "Maaf ya, aku emang gak nyaman sama itu. Ada banyak cara lain kita bisa nikmatin waktu bersama."
Hari itu berubah jadi pertengkaran besar. Maya menuduh Irwan hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Irwan merasa tidak dihargai sebagai suami. Mereka tidur memunggungi satu sama lain malam itu.
Lalu tahun lalu, Irwan melihat video edukasi tentang keintiman dalam pernikahan. Dia mencoba lagi, menggunakan pendekatan yang lebih terbuka. Maya bahkan tidak menolak dengan kata-kata. Hanya menggeleng dan mengalihkan pembicaraan. Seolah permintaan itu terlalu memalukan untuk diakui.
Setelah itu, Irwan menyerah. Menerima bahwa Maya memang tidak nyaman dengan aktivitas itu. Menerima bahwa sebagai suami, dia harus menghormati batasan Maya.
Dan sekarang, dia mendengar Maya melakukannya untuk pria lain. Bukan hanya melakukannya, tapi berusaha keras untuk melakukannya dengan baik. Dia mendengar Maya tersedak, batuk, tapi terus mencoba.
"Coba lagi, Bu," terdengar suara Pak Karyo. "Rileks tenggorokannya."
Lalu suara-suara tersedak itu berlanjut. Maya mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
"Bagus... Bu Maya pinter..."
Irwan merasakan sakit fisik di dadanya. Seperti seseorang mencabik-cabik jantungnya dengan pisau tumpul. Ereksinya yang tadi mengganggu kini hilang sepenuhnya, digantikan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kenapa Maya mau melakukannya untuk Pak Karyo? Apa yang dimiliki pembantu mereka yang tidak Irwan miliki? Apa karena Pak Karyo lebih dominan? Lebih maskulin? Apa karena tangan kasarnya yang terbiasa kerja fisik? Apa karena tubuhnya yang lebih kekar dari Irwan yang ramping?
Atau... apa karena Pak Karyo bisa memberinya anak?
Pikiran itu memukul Irwan seperti palu. Apa Maya begitu putus asa ingin hamil sampai rela melakukan apapun yang diminta Pak Karyo? Apakah itu alasannya?
Tapi suara-suara Maya tidak terdengar seperti wanita yang putus asa. Itu suara wanita yang menikmati. Yang bergairah. Yang mau melakukan lebih.
"Mmph... mm..." Suara tertahan Maya terdengar berbeda sekarang, lebih rileks. Bukan lagi suara tersedak penuh perjuangan. Tapi suara... kenikmatan?
Irwan meremas ujung meja hingga buku-buku jarinya memutih. Bagaimana mungkin Maya menikmati sesuatu yang selama ini dia anggap menjijikkan? Bagaimana mungkin istrinya berubah begitu drastis dalam satu malam?
Suara-suara tersedak itu akhirnya berhenti. Digantikan derit tempat tidur yang familiar. Ronde ketiga dimulai. Irwan hampir tidak percaya. Tiga ronde dalam satu malam? Bagaimana mungkin?
"Lebih keras, Pak! Jangan berhenti!"
Teriakan Maya bergema, diikuti suara kepala tempat tidur yang menghantam dinding. DUK. DUK. DUK. Ritme konstan, keras, agresif. Irwan membayangkan kekuatan Pak Karyo—pria yang sehari-hari mengangkat pot tanaman berat, memindahkan perabotan, melakukan semua pekerjaan fisik yang tidak pernah Irwan lakukan.
Bagaimana aku bisa dibandingkan dengan itu?
Irwan kembali ke kursinya, terduduk lemas. Semua energi seolah tersedot keluar dari tubuhnya. Dia hanya bisa duduk di sana, mendengarkan istrinya menjerit keenakan di bawah tubuh pria lain.
"Bu Maya masih rapet banget," terdengar suara Pak Karyo. "Padahal udah berapa kali saya entot..."
Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris-iris harga diri Irwan yang tersisa. Komentarnya—seolah membandingkan, seolah mengevaluasi tubuh Maya. Dan Maya tidak keberatan. Malah semakin mendesah keras, seolah kata-kata itu membuatnya semakin terangsang.
"Hamilin aku, Pak! Isi aku sampai penuh! Sampai tumpah!"
Irwan menutup telinganya dengan kedua tangan, tapi suara-suara itu tetap menembus. Teriakan Maya. Geraman Pak Karyo. Derit tempat tidur yang semakin liar. Suara kulit bertemu kulit yang semakin intens. Semuanya bercampur menjadi simfoni yang menyiksa.
"AAAAHHH!"
Teriakan Pak Karyo menggelegar, diikuti jeritan panjang Maya. Klimaks mereka begitu keras hingga Irwan bisa merasakan getarannya di kursi tempatnya duduk.
"Ya ampun! Aku ngerasain... semuanya!"
Suara Maya dipenuhi kegembiraan, seperti seorang anak yang baru menerima hadiah yang lama didambakan.
"Panas! Aku bisa rasain... semuanya!"
Irwan terduduk kaku di kursinya. Dua setengah jam lebih telah berlalu sejak Pak Karyo masuk ke kamar tamu. Dua setengah jam yang mengubah hidup Irwan selamanya. Yang menghancurkan gambaran yang dia miliki tentang pernikahannya, tentang Maya, tentang dirinya sendiri.
Mungkin ini memang akhirnya, pikir Irwan pahit. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua.
Suara-suara dari atas telah berhenti. Hanya keheningan sekarang.
Apa sudah selesai? Apa mereka akan turun sekarang?
Irwan menunggu. Lima menit. Sepuluh. Lima belas. Tidak ada suara langkah menuruni tangga. Tidak ada pintu terbuka. Keheningan total.
Apa yang mereka lakukan sekarang? Irwan bertanya-tanya. Apa mereka tertidur bersama?
Kesepakatan mereka jelas—Pak Karyo seharusnya hanya melakukan tugasnya lalu kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah. Maya seharusnya kembali ke kamar mereka. Tidak ada yang bilang tentang menghabiskan malam bersama.
Tapi mereka masih di atas sana. Bersama. Mungkin berpelukan. Mungkin berbicara pelan. Mungkin tertawa tentang betapa menyedihkannya Irwan.
Irwan berdiri, mematikan laptop yang sejak tadi diabaikan. Dokumen-dokumen yang tadi begitu penting kini terasa tidak berarti sama sekali. Dia menatap sekeliling ruang kerja yang rapi, dengan foto-foto pernikahan yang terpajang di dinding. Maya tersenyum bahagia di setiap foto. Irwan tersenyum di sampingnya. Mereka terlihat sempurna.
Tapi apa itu hanya ilusi?
𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟖
Categories
- 𝟏𝟎𝟎𝟏 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐔𝐒𝐓𝐀𝐙𝐀𝐇
- 𝐀𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐁𝐞𝐫𝐡𝐢𝐣𝐚𝐛 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐀𝐤𝐮 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐜𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚
- 𝐀𝐤𝐮 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐛𝐚- 𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐥𝐞𝐬𝐛𝐢𝐚𝐧
- 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤
- 𝐁𝐨𝐝𝐲 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐝𝐮𝐡𝐚𝐲
- 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢
- CERPEN
- 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚
- 𝑪𝒐𝒓𝒓𝒖𝒑𝒕𝒊𝒐𝒏
- 𝐃𝐞𝐦𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧
- 𝐃𝐨𝐬𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡
- 𝐆𝐚𝐢𝐫𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐆𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐚𝐛𝐮𝐤
- 𝐈𝐛𝐮 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐓𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡
- 𝐈𝐁𝐔𝐊𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐋𝐀𝐋𝐔 𝐁𝐀𝐈𝐊
- 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐓𝐊𝐖
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐠𝐢𝐡𝐚𝐧
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐏𝐚𝐬𝐫𝐚𝐡 𝐃𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐢𝐣𝐚𝐭
- Kasih Terlarang Keluarga
- 𝐊𝐀𝐓𝐑𝐈𝐍
- 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚
- 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠
- 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐤𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐰𝐚𝐭
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮
- 𝐊𝐎𝐏𝐈 𝐒𝐔𝐒𝐔
- 𝐋𝐚𝐛𝐢𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐢𝐭𝐚𝐫𝐤𝐮
- 𝐋𝐚𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢
- 𝐋𝐞𝐧𝐢 𝐓𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐳𝐚𝐡 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐋𝐈𝐃𝐘𝐀
- 𝐋𝐢𝐤𝐚 𝐋𝐢𝐤𝐮 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧
- 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐑𝐢𝐬𝐚
- Mama... aku minta Maaf
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐍𝐠𝐚𝐣𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐌𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐈𝐋𝐀
- 𝐌𝐨𝐦𝐞𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐈𝐧𝐭𝐫𝐢𝐤
- 𝐍𝐚𝐟𝐬𝐮 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢 𝐂𝐢𝐭𝐫𝐚
- 𝐍𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦
- 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐄𝐊𝐒𝐈𝐁 𝐓𝐚𝐧𝐭𝐞 𝐋𝐢𝐭𝐡𝐚
- 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐝𝐫𝐢𝐚𝐧
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐛𝐢 𝐊𝐀𝐑𝐈𝐍𝐀 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤𝐤𝐮
- 𝐑𝐀𝐇𝐀𝐒𝐈𝐀 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐈𝐒𝐓𝐑𝐈
- 𝐑𝐚𝐡𝐢𝐦 𝐇𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐣𝐢𝐤𝐚𝐧
- RANJANG YANG TERNODA
- 𝐑𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐈𝐛𝐮 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐑𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐆𝐮𝐧𝐮𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐦𝐮𝐤𝐮𝐬
- 𝐒𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐒𝐢𝐬𝐤𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮
- 𝐒𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- The Jack Story
- The Ukhti's Story
- 𝐓𝐇𝐑𝐄𝐄𝐒𝐎𝐌𝐄 𝐃𝐑𝐀𝐌𝐀 𝐃𝐀𝐍 𝐃𝐈𝐋𝐄𝐌𝐀
- 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐀𝐫𝐢𝐧𝐚 & 𝐆𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐨𝐭𝐨𝐫
Blog Archive
- Januari 2026 (31)
- Desember 2025 (29)
- November 2025 (4)
- Oktober 2025 (2)
- September 2025 (31)
- Agustus 2025 (19)
- Juli 2025 (26)
- Juni 2025 (27)
- Mei 2025 (27)
- April 2025 (28)
- Maret 2025 (41)
- Februari 2025 (31)
- Januari 2025 (52)
- Desember 2024 (39)
- November 2024 (80)
- Oktober 2024 (44)
- September 2024 (60)
- Agustus 2024 (96)
- Juli 2024 (92)
- Juni 2024 (98)
- Mei 2024 (101)
- April 2024 (68)
- Maret 2024 (56)
- Februari 2024 (52)
- Januari 2024 (62)
- Desember 2023 (77)
- November 2023 (53)
- Oktober 2023 (38)
- September 2023 (28)
- Agustus 2023 (28)
- Juli 2023 (41)
- Juni 2023 (24)
- Mei 2023 (40)
- April 2023 (13)
- Maret 2023 (1)
- Januari 2023 (2)
- Desember 2022 (20)
- November 2022 (24)
- Oktober 2022 (33)
- September 2022 (15)
- Agustus 2022 (25)
- Juli 2022 (31)
- Juni 2022 (38)
- Mei 2022 (8)
Cari Blog Ini
Diberdayakan oleh Blogger.
