𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟒

Irwan menatap kosong ke layar laptop di hadapannya. Tabel Excel untuk presentasi besok mulai mengabur di matanya setelah berjam-jam dia duduk diam di kursi ruang kerjanya. Bukan karena lelah. Bukan karena bosan. Tapi karena pikirannya terus kembali ke lantai atas—ke kamar tamu di mana, beberapa jam lalu, Maya dan Pak Karyo...

Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, jari-jarinya memutih. Tiga jam. Tiga jam penuh dia duduk di sini, mendengarkan suara-suara itu. Desahan Maya. Jeritan nikmatnya. Kata-kata yang tidak pernah dia bayangkan akan keluar dari mulut istrinya.

"Ahh! Di situ! Terus!""Pak Karyo... tusuk terus... enak banget!""Tolong... Pak Karyo... entot aku lebih keras..."

Irwan mengusap wajahnya kasar. Dia sudah mencoba segalanya—memasang headphone, membesarkan volume musik, bahkan membanting pintu ruang kerjanya—tapi jeritan-jeritan Maya masih terngiang jelas di kepalanya. Perutnya mulas oleh campuran emosi—marah, sakit hati, terhina, tidak berdaya. Tapi ada satu perasaan lain yang lebih menakutkan dari semua itu.

Gairah.

Setiap kali bayangan Maya mendesah di bawah tubuh kekar Pak Karyo muncul di benaknya, setiap kali dia membayangkan pembantu mereka menyentuh tubuh istrinya, setiap kali dia ingat kata-kata vulgar yang meluncur dari bibir Maya yang selama ini selalu anggun dan terjaga... Irwan merasakan kejantanannya mengeras. Tanpa izin. Tanpa kontrol. Membuatnya muak pada dirinya sendiri.

Dia terangsang.

"Apa yang salah denganku?" dia mengumpat pelan, menendang kaki meja hingga gelas kopinya hampir tumpah.

Dia marah setengah mati. Cemburu hingga dadanya sesak. Terluka sampai rasanya ingin berteriak. Tapi di tengah semua rasa sakit itu, dia juga... terangsang? Yang benar saja! Istri tercintanya sedang disetubuhi pria lain, dan dia malah dapat hard-on? Dasar bajingan. Seharusnya dia menghajar Pak Karyo, bukannya duduk di sini dengan pikiran-pikiran menjijikkan ini.

Tapi faktanya, bayangan Maya yang berlutut di hadapan Pak Karyo, mulutnya mengulum kejantanan pria lain—sesuatu yang selalu dia tolak lakukan untuk Irwan—justru membuat darahnya berdesir panas. Bayangan tangan kasar Pak Karyo meremas payudara Maya, menjambak rambutnya, memaksanya memanggil nama Pak Karyo berulang-ulang... membuatnya semakin keras.

Irwan bangkit, tak tahan lagi duduk diam.

Dia mendorong kursinya hingga membentur dinding, lalu mulai mondar-mandir dalam ruangan sempit itu. Enam tahun pernikahan, dan tidak sekali pun—TIDAK SEKALI PUN—Maya mendesah seperti itu untuknya. Tidak pernah Maya memohon padanya dengan kata-kata vulgar. Tidak pernah Maya menjerit keenakan sampai suaranya serak. Tidak pernah Maya memanggilnya "Yang" dengan suara memelas penuh hasrat seperti dia memanggil "Pak Karyo" tadi.

"Sial," desisnya, memukul tembok hingga buku-buku jarinya nyeri. Rasa sakit itu justru membuatnya lebih fokus.

Dia perlu jawaban. Perlu penjelasan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia merasa seperti ini? Apakah normal? Atau ada yang salah dengan dirinya?

Irwan kembali ke mejanya, kali ini menutup file Excel dan membuka browser. Jari-jarinya gemetar saat mengetik: "Terangsang mendengar istri berhubungan seks dengan pria lain".

Hasil pencarian membanjiri layarnya. Beberapa judul artikel membuatnya menarik napas tajam.

"Cuckold Syndrome: Ketika Pria Terangsang Melihat Pasangannya dengan Pria Lain""Fetish Cuckolding: Apa yang Perlu Anda Ketahui""Psikologi di Balik Fantasi Cuckolding"

Cuckold? Istilah itu terdengar asing di telinganya. Dengan ragu, Irwan mengklik artikel pertama.

"Cuckold adalah istilah untuk pria yang terangsang saat melihat atau mengetahui pasangannya berhubungan seksual dengan pria lain..."

Irwan membaca kalimat pembuka itu berulang-ulang. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ada nama untuk apa yang dia rasakan? Ada orang lain yang mengalami hal yang sama? Dia membaca lebih jauh, menyerap setiap kata seolah artikel itu berisi rahasia kehidupan.

"...fenomena ini cukup umum, meski jarang dibicarakan secara terbuka..."

Umum? Yang benar saja! Bagaimana mungkin ada pria normal yang suka melihat istrinya tidur dengan pria lain? Tapi inilah yang sedang dia alami sekarang—terangsang membayangkan Maya dengan Pak Karyo.

Irwan terus mencari, membaca, menyerap semua informasi yang bisa dia temukan. Dia membuka forum-forum online, membaca pengalaman pria lain, mencari validasi bahwa dia tidak sendirian. Bahwa dia tidak gila.

Jam demi jam berlalu tanpa disadarinya. Dari satu artikel ke artikel lain, dari satu forum ke forum lain. Matanya mulai pedih karena terlalu lama menatap layar, tapi dia tidak bisa berhenti.

Irwan tidak pernah tahu dunia seperti ini ada. Dia anak baik-baik. Kuliah di universitas top, kerja di perusahaan multinasional, menikah dengan wanita dari keluarga baik-baik, beli rumah di perumahan elite. Seks baginya selalu... ya begitu-begitu aja. Missionery position. Kadang woman on top kalau Maya sedang mood. Lampu dimatikan. Tidak ada dirty talk. Tidak ada eksperimen.

Tapi di sini, di layar laptopnya, ada dunia baru. Dunia di mana ada pria yang sengaja mengatur agar istrinya tidur dengan pria lain. Dunia di mana ada pasangan yang melakukan threesome, swinger, open marriage. Dunia di mana fetish dan kink dibicarakan seperti orang biasa membicarakan cuaca.

"Apa ini aku?" Irwan berbisik pada dirinya sendiri, menatap definisi cuckolding di layarnya. "Apa aku... seorang cuckold?"

Kata itu terasa aneh dan kasar di telinganya. "Cuckold." Kedengarannya seperti hinaan. Penghinaan terhadap kejantanannya sebagai pria. Tapi kalau dia jujur pada dirinya sendiri, bukankah itu yang sedang terjadi sekarang? Dia secara sadar membiarkan—bahkan mengatur—agar istrinya tidur dengan pria lain. Dan yang lebih gila lagi, dia... menikmatinya?

Irwan menyandarkan tubuhnya ke kursi, pikirannya berputar.

Bayangan Maya berlutut di hadapan Pak Karyo kembali muncul di benaknya. Maya—istrinya, wanita yang dia cintai, yang selalu menolak setiap kali dia minta blow job—berlutut di hadapan pembantu mereka sendiri. Dia masih ingat betul setiap kali dia mencoba membujuk Maya.

"Yang, coba dong..." Irwan pernah membisikkan permintaan itu saat anniversary mereka yang ketiga.

"Ih, Yang! Jorok tau!" Maya langsung menolak mentah-mentah. "Aku nggak akan pernah mau! Itu menjijikkan!"

Irwan menerima saja. Seperti yang selalu dia lakukan. Menelan kekecewaan. Berkompromi. Menempatkan kenyamanan Maya di atas hasratnya sendiri.

Tapi tadi malam... tadi malam dia MENDENGAR JELAS Maya tersedak, terbatuk, berjuang mencoba memasukkan penis Pak Karyo ke tenggorokannya. Bahkan Irwan bisa mendengar Pak Karyo memberi instruksi, "Lebih dalem, Bu... telan sampe tenggorokan." Dan Maya menurutinya. Maya yang selalu bilang oral sex itu menjijikkan, berusaha sepenuh hati melakukannya untuk Pak Karyo.

"Apa dia selalu seperti itu?" Irwan mengusap wajahnya kasar. "Apa Maya yang tidur denganku selama 6 tahun ini cuma pura-pura? Apakah sebenarnya dia wanita liar yang cuma nahan diri selama ini?"

Pikiran itu seperti pisau yang menghujam dadanya. Tapi anehnya, rasa sakit itu juga... membuatnya bergairah? Membayangkan Maya—istrinya yang selalu terjaga, selalu terkendali—berubah jadi wanita liar dan penurut di tangan Pak Karyo... Irwan merasakan ereksinya semakin mengeras.

Irwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran itu. Dia melihat jam di sudut layar: 3:45 pagi. Dia sudah menghabiskan berjam-jam membaca, mencari, menelusuri.

"Apa ini membuatku kurang... pria?" tanyanya pada keheningan ruangan. "Apa aku masih pantas disebut suami?"

Hening. Bahkan rumah mewah yang dia beli dengan susah payah ini tak mampu menjawab. Irwan menutup laptop dengan kasar, frustrasi. Matanya perih, badannya lelah, tapi otaknya masih berputar kencang, dan yang lebih memalukan—kejantanannya masih setengah tegang, seolah mengejek harga dirinya sebagai pria.

"Kampret!" umpatnya pelan.

Dia teringat kata-kata Maya tentang kejujuran. Mungkin inilah saatnya jujur, pertama-tama pada dirinya sendiri. Mungkin dia memang memiliki kecenderungan ini, fetish yang tidak dia sadari selama ini.

Tapi apa ini benar? Apa diagnosisnya tepat? Ini semua terlalu baru, terlalu membingungkan, terlalu bertentangan dengan segala yang dia tahu tentang dirinya selama ini.

"Aku butuh bantuan," putusnya akhirnya. "Bantuan profesional."

Mencari di ponselnya, Irwan menemukan beberapa nama psikolog spesialis seksual di Jakarta. Dengan tangan gemetar, dia mengirim email untuk membuat janji.

"Pak Andy Susanto, Ph.D.Spesialis Terapi Pasangan & Psikologi Seksual

Halo Pak Andy,Saya Irwan Prasetyo, 36 tahun. Saya ingin membuat janji konsultasi untuk hari ini jika memungkinkan. Saya mengalami masalah personal yang membutuhkan bantuan profesional segera.Terima kasih atas perhatiannya.Irwan"

Setelah email terkirim, Irwan menyadari jam berapa sekarang. Hampir jam 5 pagi, dan dia belum tidur sama sekali.

Dia merebahkan diri di sofa ruang kerjanya, tapi matanya tetap terbuka. Setiap kali hampir terlelap, suara desahan Maya kembali terngiang di telinganya. "Ahh! Pak Karyo! Enak banget!" Irwan bangkit dengan wajah kusut. Tidur jelas bukan pilihan untuk saat ini. Dia perlu udara segar.

Dengan langkah gontai, Irwan keluar dari ruang kerjanya menuju pintu depan, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Maya. Saat melewati tangga menuju lantai atas, dia berhenti sejenak, mendongak ke arah kamar utama. Maya sedang tidur di sana. Maya-nya. Istrinya. Wanita yang beberapa jam lalu mendesah tak karuan karena sentuhan pria lain. Irwan merasa jantungnya diremas.

Udara pagi Jakarta menyambut wajahnya—masih sejuk sebelum polusi kendaraan memenuhi udara. Komplek perumahan elite tempat mereka tinggal masih sepi. Hanya ada satpam kompleks yang mengangguk sopan padanya, mungkin mengira dia akan jogging pagi seperti beberapa tetangga yang rajin.

Irwan berjalan lambat menyusuri jalan kompleks, kedua tangan di saku celana. Sekujur tubuhnya terasa kaku setelah berjam-jam duduk di kursi. Bayangan-bayangan terus berseliweran di kepalanya. Maya mendesah. Maya menjerit. Maya merintih. Semuanya untuk Pak Karyo.

Pak Karyo. Pembantu mereka. Pria yang setiap hari mencuci mobil Irwan, menyiram tanaman Irwan, membersihkan rumah Irwan, kini tidur dengan istri Irwan. Dan memuaskannya dengan cara yang tak pernah bisa Irwan lakukan.

Irwan teringat saat Pak Karyo pertama kali bekerja di rumah mereka, empat tahun lalu. Pria sederhana dari desa yang selalu menunduk sopan saat berbicara dengannya. Yang selalu memanggil "Den Irwan" dan "Bu Maya" dengan penuh hormat. Yang selalu mengerjakan tugasnya dengan baik tanpa banyak bicara.

Siapa yang menyangka pria itu kini mengeluarkan sisi liar Maya yang tak pernah Irwan lihat selama enam tahun pernikahan? Siapa yang menyangka tangan kasarnya bisa membuat Maya menjerit penuh kenikmatan? Siapa yang menyangka namanya akan dipanggil Maya dengan nada memohon yang tak pernah dia dengar sebelumnya?

Apa yang akan Maya pikirkan jika tahu perasaannya yang sebenarnya? Akankah dia jijik? Terkejut? Atau mungkin... lega? Mungkinkah ini akan membuat "program" mereka lebih mudah dijalani? Atau justru menambah komplikasi pada pernikahan mereka yang sudah rapuh?

Dan bagaimana dengan Pak Karyo? Bagaimana kalau dia mulai merasa berkuasa? Bagaimana kalau dia mulai menuntut lebih? Bagaimana kalau Maya mulai lebih memilih ditemani Pak Karyo daripada suaminya sendiri? Kalau Irwan jujur, Pak Karyo memang lebih jantan secara fisik—tubuh kekar hasil kerja keras, kulit gelap terbakar matahari, tangan kasar yang terampil dalam banyak hal. Tidak seperti Irwan yang hanya bisa duduk di depan laptop seharian.

Bahkan saat berkelahi pun, Irwan tidak yakin bisa menang dari Pak Karyo. Dan di ranjang? Jelas sudah siapa pemenangnya.

Irwan menghela napas panjang, dadanya sesak oleh pikiran-pikiran yang berkecamuk. Di ujung jalan, matahari mulai mengintip di antara gedung-gedung tinggi. Hari baru telah dimulai, tapi Irwan tidak merasa siap menghadapinya.

Ponselnya bergetar di saku. Dengan gerakan lambat, dia mengeluarkannya dan melihat email balasan.

"Dear Pak Irwan,

Saya memiliki slot kosong hari ini pukul 13:00. Apakah waktu tersebut sesuai untuk Anda? Jika ya, silakan konfirmasi dan saya akan mengirimkan alamat kantor saya.

Salam,Andy Susanto, Ph.D."

Irwan membaca pesan itu dua kali. Jam 1 siang. Gelombang kelegaan membanjiri tubuhnya—setidaknya dia akan mendapatkan bantuan profesional hari ini. Tidak perlu menunggu berminggu-minggu untuk konsultasi. Mungkin besok pagi dia akan sudah mulai memahami apa yang terjadi pada dirinya.

Tapi kemudian, pikiran lain menyeruak: bagaimana jika Maya tahu? Bagaimana jika Pak Karyo tahu? Bahwa dia terangsang mendengar mereka, bahwa dia mencari tahu tentang "cuckold" semalaman? Maya akan kaget, mungkin jijik. Atau lebih buruk—mungkin dia akan melihat Irwan secara berbeda. Sebagai pria yang kurang jantan. Sebagai suami yang tidak normal.

Dan Pak Karyo? Irwan bahkan tidak bisa membayangkan. Pembantu itu sudah mengambil peran dominan di ranjang—apa yang akan terjadi jika dia tahu bahwa majikannya justru menikmati posisi submisifnya? Bagaimana dengan dinamika kekuasaan di rumah mereka? Posisinya sebagai kepala rumah tangga mungkin tidak akan pernah sama lagi.

Tidak. Maya tidak boleh tahu—setidaknya belum. Irwan merasakan sisi defensifnya bangkit. Ini terlalu awal, terlalu mentah. Dia perlu bicara dengan psikolog dulu, memahami dirinya sendiri, memastikan apa yang sebenarnya dia rasakan. Baru setelah itu, mungkin, dia bisa memutuskan bagaimana membicarakannya dengan Maya.

Tapi untuk itu, dia perlu alasan untuk pergi siang ini. Suatu alasan yang tidak akan membuat Maya curiga. Sesuatu yang wajar. Irwan menggaruk kepalanya, berpikir keras.

Meeting kantor? Tidak, Maya tahu jadwalnya. Klien dadakan? Bisa, tapi Maya mungkin akan menanyakan detail nanti. Dokter? Terlalu mencurigakan, Maya pasti khawatir. Belanja? Tidak mungkin, Irwan jarang sekali berbelanja sendiri.

Golf.

Kata itu muncul di benaknya. Ya, golf! Irwan memang sering golf dengan klien, dan Maya tidak pernah mempertanyakannya. Lagipula, ini juga akan memberi Maya waktu empat jam dengan Pak Karyo—dari jam 1 sampai sekitar jam 5. Cukup untuk satu sesi "program" mereka, kan? Untuk beberapa alasan yang tidak dia pahami, memikirkan Maya dan Pak Karyo akan melakukannya lagi saat dia pergi membuat jantungnya berdebar lebih kencang.

Dengan jari yang sedikit lebih mantap, Irwan mengetik balasan mengonfirmasi waktu tersebut. Setelah selesai, dia menarik napas dalam-dalam dan membalikkan badan, melangkah kembali ke rumah.

Selama perjalanan kembali ke rumah, Irwan memikirkan apa yang akan dia katakan pada psikolog nanti. Bagaimana menjelaskan bahwa dia SENGAJA mengatur agar istrinya tidur dengan pria lain? Bahwa bukannya marah, dia malah... terangsang? Irwan hampir tertawa miris membayangkan reaksi dokter itu nanti. Tapi dia butuh bantuan profesional. Dia tidak bisa terus begini—terperangkap antara rasa sakit dan gairah yang muncul bersamaan.

Dan dia benar-benar perlu bicara dengan seseorang yang tidak akan menghakiminya. Maya tidak mungkin. Teman-temannya apalagi. Irwan tidak bisa membayangkan reaksi mereka kalau tahu Irwan Prasetyo—eksekutif sukses dengan rumah mewah dan istri cantik—ternyata diam-diam membiarkan pembantunya mengentot istrinya, dan malah menikmatinya!

Meski sulit, Irwan mencoba melihat sisi positifnya. Mungkin ini kesempatan untuk memahami dirinya lebih dalam. Mungkin ini awal dari sesuatu yang dia butuhkan—kejujuran dengan dirinya sendiri.

Langkahnya semakin mantap saat rumah mereka mulai terlihat. Bagaimanapun sakitnya kenyataan yang harus dia hadapi, setidaknya dia tahu dia tidak sendirian. Ada orang lain seperti dia. Ada nama untuk apa yang dia rasakan. Dan hari ini, dia akan mulai mencari jawaban.

Saat membuka pintu rumahnya, Irwan mendengar suara dari dapur. Maya sudah bangun, mungkin sedang menyiapkan sarapan. Atau mungkin Pak Karyo? Irwan menarik napas panjang, mempersiapkan diri bertemu mereka setelah malam panjang yang dia habiskan mendengarkan mereka bercinta. Irwan tahu hidup mereka tak akan pernah sama lagi setelah ini. Tapi entah mengapa, dalam kegelapan dan kebingungannya, ada secercah harapan—bahwa mungkin, hanya mungkin, ini justru awal dari sesuatu yang lebih baik untuk mereka semua.

 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com