𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟓

Maya terbangun di kamar utama, masih mengenakan lingerie hitamnya yang kini kusut dan kaku di beberapa bagian. Dia melirik ke sisi tempat tidur yang kosongIrwan tidak pernah naik semalam seperti yang dia janjikan. Bekas-bekas kegiatan semalam masih terasa di tubuhnya; setiap gerakan kecil membuat kain tipis di tubuhnya bergesekan dengan kulitnya yang masih sensitif, mengirimkan sensasi yang membuatnya menggigit bibir.

Dengan langkah tertatih, Maya berjalan ke kamar mandi. Di depan cermin, dia menatap refleksi tubuhnya dengan campuran takjub dan malu. Lingerie hitam yang dia kenakan dari sesi dengan Pak Karyo di kamar tamu semalam kini tampak berantakan dan kotor. Dengan jari gemetar, Maya melepas tali tipis di bahunya, membiarkan kain itu meluncur turun.

"Ya Tuhan..." bisiknya, melihat kondisi tubuhnya. Bekas-bekas kemerahan tersebar dari leher hingga paha dalamnyajejak aktivitas intens dengan Pak Karyo. Maya berbalik, melihat bekas cakaran di punggungnya, bukti bahwa dia telah kehilangan kendali berkali-kali. Bagian sensitifnya masih terasa bengkak dan sedikit perih, mengingatkannya pada intensitas yang membuat dia hampir pingsan semalam.

Maya mengambil lingerie yang tergeletak di lantai, mengernyit saat melihat kondisinya. Kain tipis itu robek di beberapa bagianhasil ketidaksabaran Pak Karyo saat menariknya dengan kasar. Noda-noda putih telah mengering di beberapa tempat, bercampur dengan keringatnya sendiri, membuat tekstur kain menjadi kaku dan tidak nyaman.

Maya mengerutkan dahi. Sebagai perfeksionis, dia tidak bisa menyimpan pakaian yang rusak seperti initapi membuangnya begitu saja terasa tidak tepat dengan kondisinya yang kotor. Lingerie ini perlu dicuci dulu, pikirnya, sebelum dibuang.

Setelah mandi cepat, Maya mengenakan pakaian rumahan dan membawa lingerie itu turun. Dia sedikit berharap akan menemukan Irwan di ruang makan, tapi suaminya tidak terlihat. Pak Karyo sedang menyiapkan sarapan di dapur, bertelanjang dada dengan hanya mengenakan celana training longgar. Otot-otot punggungnya bergerak seirama gerakan tangannya mengaduk sesuatu di wajan.

"Pak," panggil Maya pelan, menggenggam lingerie hitam itu di tangannya.

Pak Karyo berbalik, matanya langsung tertuju pada lingerie di tangan Maya. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Pagi, Bu."

"Ini... soal lingerie saya," Maya menunjukkan kain hitam itu. "Robek. Jadi... mau saya buang. Tapi mungkin... perlu dicuci dulu?"

Pak Karyo mematikan kompor dan mendekat. Tanpa ragu, dia mengambil lingerie itu dari tangan Maya, mengamatinya sejenak sebelumtanpa peringatanmendekatkannya ke hidung dan menghirup dalam-dalam.

"Pak!" Maya terkesiap, pipinya memerah cepat.

"Wangi Bu Maya," gumam Pak Karyo, matanya setengah terpejam saat menghirup sekali lagi. "Campur sama... saya."

Maya membeku, tidak tahu harus bereaksi bagaimana saat melihat Pak Karyo menikmati aroma intim mereka yang tertinggal di kain itu.

"Jangan dibuang," Pak Karyo melipat lingerie itu dengan hati-hati. "Biar saya simpan."

"T-tapi... robek..."

"Justru bagus," Pak Karyo tersenyum, memasukkan lingerie itu ke saku celananya. "Pengingat malem pertama kita di rumah."

Pintu ruang kerja terbuka. Irwan muncul dengan wajah kusut, masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Lingkaran hitam tebal terlihat jelas di bawah kedua matanyatanda jelas dia tidak tidur sama sekali. Rambut dan pakaiannya berantakan, dan dari gelagatnya jelas dia menghabiskan malam di ruang kerjanya.

"Pagi," sapanya datar, suaranya serak dari malam tanpa tidur.

"Yang!" Maya terkejut melihatnya muncul dari ruang kerja. "Kamu... nggak naik semalam?"

Irwan tidak menjawab, langsung berjalan ke meja makan. Gerakannya lambat dan kaku, campuran kelelahan dan kekakuan dari tidur di kursi kerja.

"Aku nungguin kamu," Maya berkata pelan, rasa bersalah terdengar dalam suaranya. "Kamu bilang mau nyusul..."

"Ada kerjaan yang harus diselesaikan," jawab Irwan pendek, jelas berbohong. Matanya menatap Maya dengan campuran kecewa dan cemburu yang tidak disembunyikan.

Pak Karyo tersenyum tipis, menuangkan kopi untuk Irwan seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bergerak dengan percaya diri yang tidak dia tunjukkan sebelum program ini dimulai.

Irwan tiba-tiba menyadari sesuatu menyembul dari saku Pak Karyo. "Itu apa?" tanyanya tajam, menunjuk ke arah saku celana pembantu mereka.

"Ini?" Pak Karyo menyentuh saku celananya dengan santai. "Kain lap, Pak. Yang lama udah rusak."

"Kain lap warna hitam?" Irwan mendengus tidak percaya, matanya menyipit curiga. Jemarinya mencengkeram gagang cangkir semakin kuat.

Maya menggigit bibir, panik mencoba mengalihkan pembicaraan. "Yang... kamu ada rencana hari ini?"

Irwan menatapnya beberapa saat, jelas menyadari taktik pengalihan Maya, sebelum akhirnya menyesap kopinya perlahan. "Golf jam satu. Sama klien." Dia menatap Maya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Pulang... mungkin sekitar jam lima."

"Tunggu," Irwan tiba-tiba meletakkan cangkirnya dengan gerakan terlalu keras. Kopi tumpah sedikit ke tatakan. "Itu... kain hitam di saku... lingerie, kan?"

Keheningan menyelimuti ruangan. Suara detik jam terdengar seperti ketukan palu.

"Yang" Maya mencoba bicara, tapi Irwan mengangkat tangannya.

"Lingerie hitam?" Dia menatap Maya dengan pandangan menusuk, lalu beralih ke Pak Karyo yang masih berdiri dengan postur terlalu santai untuk seorang pembantu. "Sejak kapan kamu punya lingerie?"

Maya tersentak, wajahnya memucat seketika. Jemarinya mencengkeram cangkir teh dengan gugup, membuat cairan di dalamnya bergoyang berbahaya.

"Yang, itu..."

"Selama enam tahun kita menikah," Irwan melanjutkan, suaranya rendah namun tajam, "aku nggak pernah" dia memberi penekanan pada setiap kata, "pernah sekalipun liat kamu pake lingerie."

Maya menelan ludah, matanya bergerak-gerak gelisah seperti hewan yang terjebak.

"Bukan cuma nggak pernah liat," Irwan tertawa getir, "tapi setiap kali aku nyaranin, kamu selalu bilang 'nggak nyaman', 'berlebihan', 'nggak perlu'." Matanya menajam. "Bahkan buat anniversary kita yang kelima, kamu tolak mentah-mentah ideku buat beli Victoria's Secret."

Pak Karyo menggeser badannya sedikit, membuat Irwan teralihkan. "Bapak perlu tambah kopi?" tanyanya dengan nada sopan yang terdengar mengejek di telinga Irwan.

"Diem kamu," desis Irwan, tatapannya kembali ke Maya. "Jadi bener, kan? Itu lingerie?"

Maya menarik napas dalam, mendadak tertarik pada ujung kuku jarinya. "Iya," bisiknya akhirnya. "Aku... beli kemarin. Sebelum... program dimulai."

"Jadi," Irwan tertawa lagi, tangannya menggenggam cangkir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, "kamu beli lingerie khusus buat... buat dia?" Dia menunjuk ke arah Pak Karyo dengan gerakan kepala yang tajam. "Buat pembantu kita?"

"Bukan gitu!" Maya mencoba menjelaskan, bangkit setengah dari kursinya. "Aku... aku pikir buat programnya... buat bikin suasana lebih..."

"Suasana?" Irwan menggebrak meja pelan. "Suasana apa? Suasana seksi? Romantis?" Dia menatap Maya dengan pandangan terluka yang dalam. "Kenapa? Kenapa buat dia kamu mau repot-repot, tapi buat aku...?"

Pak Karyo bergerak untuk mengelap tumpahan kopi, tangannya yang kasar hampir menyentuh lengan Irwan.

"Nggak usah," sentak Irwan. "Keluar dulu."

"Pak"

"Keluar!"

Pak Karyo mengangguk singkat, tapi sebelum pergi, mata mereka bertemu sejenak. Ada kilat kepuasan tersembunyi di mata pembantu itu saat dia berbalik dan melangkah ke dapur.

Setelah Pak Karyo menghilang di balik pintu dapur, Irwan kembali menatap Maya.

"Yang," Maya berbisik, akhirnya berani menatap mata suaminya. "Malem di hotel itu... aku... nggak mikir jernih. Aku terlalu gugup, sampe..." dia menelan ludah, "...sampe aku minum Valium."

"Valium?" Irwan mengernyitkan dahi. "Kamu bawa Valium ke hotel?"

Maya mengangguk lemah. "Aku selalu simpan beberapa butir buat situasi... sulit. Tapi hari itu, aku minum dua sekaligus. Aku terlalu panik."

Irwan menatapnya tak percaya. "Dan lingerie? Beli kapan? Kenapa?"

"Malem sebelumnya," Maya mengakui, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku pikir... mungkin jadi lebih mudah kalo... kalo aku pake sesuatu yang..." dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Yang seksi? Yang bikin Pak Karyo terangsang?" Irwan menyelesaikan dengan pahit. "Tapi buat aku, suami kamu selama enam tahun, kamu nggak pernah mau?"

Maya menunduk, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku minta maaf," bisiknya. "Aku... aku nggak bisa jelasin kenapa. Mungkin karena... karena sama kamu, aku selalu merasa harus jadi istri sempurna. Eksekutif sukses. Tapi sama dia..."

"Kamu bisa jadi perempuan jalang," Irwan menyelesaikan dengan kejam, membuat Maya tersentak.

"Nggak gitu!" Maya terisak pelan. "Tapi sama dia, aku nggak perlu pura-pura sempurna. Aku nggak takut dihakimi."

Irwan memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras. "Lingerie hitam itu, sekarang di sakunya, kenapa?"

Maya mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Kemaren... sobek pas... pas dia narik terlalu keras." Wajahnya memerah mengingat momen itu. "Aku mau buang, tapi kotor, jadi... aku minta dia cuci dulu sebelum dibuang."

"Dan dia malah nyimpen?" tawa Irwan terdengar hampa. "Kayak trophy."

Pintu dapur terbuka, Pak Karyo kembali dengan lap di tangan, berpura-pura membersihkan meja yang jauh dari mereka.

"Yang," Maya meraih tangan Irwan dengan lembut, tapi Irwan menariknya. "Aku janji... aku bisa... beli lingerie buat kita. Buat kamu. Apa aja yang kamu mau."

"Sekarang?" Irwan mendengus. "Setelah kamu pake buat dia duluan?"

"Aku bisa beli yang baru," Maya mencondongkan tubuhnya, suaranya penuh harap. "Yang belum pernah disentuh siapapun. Kita bisa... kita bisa coba bareng. Apapun yang kamu mau."

Irwan tak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke meja, sementara di benaknya, bayangan Maya mengenakan lingerie hitam di hadapan Pak Karyo muncul tanpa diminta. Anehnya, bayangan itu tidak hanya menyakitkan tapi juga... membuatnya merasa sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya malu.

"Aku marah," akhirnya Irwan berkata, suaranya lebih rendah. "Tapi..."

"Tapi?" Maya mencondongkan tubuhnya lebih dekat, matanya penuh harap.

"Kita... bicara nanti," Irwan menghela napas, berusaha mengabaikan sensasi aneh di perutnya. Bayangan Maya berlutut di hadapan Pak Karyo, mengenakan lingerie hitam tipis, menawarkan tubuhnya... sensasi itu seperti campuran mual dan... gairah?

Irwan menggeleng keras, mencoba mengusir pikiran itu. "Sekarang aku mau mandi dulu."

Maya mengangguk cepat, lega dengan arah pembicaraan yang setidaknya tidak berakhir dengan pertengkaran besar. "Oke, Yang. Nanti kita... bicarain lagi ya?" Dia mencoba tersenyum.

Irwan bangkit dari kursinya, mengangguk singkat. "Tunggu," dia berkata tegas, menghadapi Pak Karyo langsung. "Lingerie itu. Serahkan ke saya sekarang."

"Pak?" Pak Karyo terlihat terkejut dengan konfrontasi tiba-tiba ini.

"Lingerie di saku kamu. Serahkan. Sekarang." Irwan mengulurkan tangannya, matanya tajam menatap pembantu mereka.

Pak Karyo ragu sejenak, tapi kemudian mengeluarkan lingerie hitam kusut dari sakunya dan menyerahkannya pada Irwan.

"Ini bukan lap," Irwan berkata pelan, memasukkan lingerie itu ke saku celananya sendiri. "Dan bukan sesuatu yang kamu bisa simpan sembarangan."

Maya menunduk malu, tidak berani menatap suaminya.

"Nggih, Pak. Maaf, Pak." Pak Karyo membungkuk sopan, tapi sudut bibirnya masih terangkat sedikit.

"Dan soal golf," Irwan melanjutkan, kembali ke topik awal. "Aku pergi jam satu, pulang jam lima." Dia menatap Maya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Berarti kalian punya... empat jam."

Maya menelan ludah, pipinya memerah. "Cukup kok, Yang." Dia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Kemarin juga... nggak sampai dua jam."

"Tiga jam," Irwan mengoreksi, matanya mengeras. "Aku denger semuanya."

Maya menunduk, tidak berani menatap suaminya. "Maaf."

Irwan berbalik. "Aku mau mandi." Langkahnya tergesa menuju kamar mereka, meninggalkan Maya dengan sarapan yang baru setengah dimakan.

"Yang, tunggu," Maya beranjak menyusul, tapi Irwan sudah menjauh. Dia berhenti, menghela napas panjang.

Pak Karyo mendekat, tangannya masih memegang lap. "Bu Maya nggak apa-apa?"

"Hhh... aku nggak tau," Maya kembali duduk, memijat pelipisnya. "Pak Irwan kayaknya makin... nggak nyaman."

"Tapi tadi Pak Irwan sendiri yang bilang untuk... lanjutin program pas beliau pergi, kan?" Pak Karyo menggaruk kepalanya, ekspresinya tampak bingung tapi ada kilatan licik di matanya. "Empat jam... waktu yang cukup lama, Bu."

Maya melirik Pak Karyo, menangkap maksud di balik kata-katanya. "Iya, tapi... kita harus lebih hati-hati, Pak." Dia menurunkan suaranya. "Jangan bikin Irwan makin terluka."

"Terluka gimana, Bu?" Pak Karyo bertanya dengan nada polos, tapi tangannya bergerak mengusap pundak Maya pelan. "Kan ini semua buat program hamilnya. Buat kebaikan Pak Irwan juga."

Maya menggigit bibir. "Pak Karyo... soal lingerie itu... kenapa harus disimpan segala?"

Pak Karyo menghela napas, kecewa. "Sayang aja, Bu. Barang bagus gitu. Apalagi..." dia tersenyum tipis, "... ada wangi Bu Maya yang masih nempel."

Maya menatap Pak Karyo dengan tatapan tajam. "Kita nggak bisa melakukan ini, Pak. Nggak di depan Irwan." Suaranya tegas namun pelan,.

Pak Karyo melangkah sedikit mendekat. Tangannya yang bebas dari aktivitas memasak bergerak lambat, memberi Maya kesempatan untuk mundur.

"Jadi kalo dibelakang gimana?, Bu," gumamnya sambil mempersempit jarak. Tangan kasarnya dengan berani bergerak ke belakang pinggang Maya, lalu turun perlahan dan meremas lembut bagian bawahnya.

"Pak Karyo!" desis Maya marah. Wajahnya mengeras, rahangnya mengejang. "Sudah saya bilangkita nggak bisa! Program belum dimulai hari ini. Dan Irwan masih di rumah!"

Kemarahan di matanya nyata. Ketegasan dalam suaranya tak terbantahkan. Tapi tubuhnyatubuhnya memberikan sinyal yang sepenuhnya bertentangan. Maya tidak mundur dari sentuhan itu. Jarinya mencengkeram tepi meja di belakangnya, tapi pinggulnya tetap di tempat. Napasnya berubah lebih dalam, lebih berat, saat jari-jari kasar itu menemukan pola melingkar yang semakin intim.

"Maaf, Bu," Pak Karyo menunduk sedikit, nadanya berubah lebih formal meski tangannya melakukan hal yang sangat tidak formal di belakang tubuh Maya. Jari-jarinya terus bergerak, merasakan kehangatan menyebar dari tubuh majikannya meski dipisahkan kain.

Maya menelan ludah, jari-jarinya mencengkeram tepi meja lebih erat saat tangan Pak Karyo bergerak lebih rendah, menelusuri lekuk pantatnya dengan sentuhan yang semakin berani. Napasnya mulai tidak beraturan, tapi dia tidak berkata apa-apa. Tidak juga menjauh.

Jari-jari kasar Pak Karyo menemukan celah di antara pahanya dari belakang, perlahan menyusup di antara kedua kaki Maya yangtanpa sadarsedikit terbuka. Maya menggigit bibir bawahnya, menahan suara saat jari-jari itu menekan bagian sensitifnya dari luar celana, mengirim gelombang sensasi yang membuat lututnya lemas.

Keheningan dapur hanya dipecahkan oleh napas Maya yang semakin berat dan suara samar dari ruang kerja Irwan di kejauhan. Pak Karyo semakin berani. Tangannya yang terampil menemukan cara menyusup ke balik celana Maya dari belakang, jarinya mengikuti lekuk tubuh wanita itu hingga menemukan kelembaban di antara kakinya.

Maya memejamkan mata erat, kepalanya terkulai sedikit ke belakang. Tubuhnya bergetar halus saat jari Pak Karyo menemukan titik sensitifnya, menekan dan mengusapnya dengan gerakan melingkar yang membuat seluruh tubuhnya memanas. Dengan gerakan lambat namun mantap, satu jari menyusup masuk, membuat maya nyaris kehilangan keseimbangan.

Sensasi kasar jari Pak Karyo begitu berbedabegitu terlarangmembuat Maya tanpa sadar mendorong pinggulnya ke belakang, menekan jari itu lebih dalam. Jari kedua menyusul, bergerak masuk keluar dengan ritme yang membuat napas Maya semakin cepat. Punggungnya menegang, tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan terlarang di tempat terbuka rumahnya sendiri.

Tiba-tiba, suara kursi bergeser terdengar dari ruang kerja Irwan. Maya tersentak.

Kesadarannya kembali seperti disiram air dingin. Jantungnya berhenti berdetak sejenak, lalu berpacu liar. Dengan gerakan kasar, dia mendorong tangan Pak Karyo keluar dari celananya dan melompat mundur. Kakinya gemetar begitu hebat hingga dia nyaris tersandung kursi di belakangnya. Kelembaban di antara pahanya terasa lengket dan memalukan.

"Gila kamu!" desisnya, suara rendah tapi penuh amarah. Wajahnya merah padam, rambut berantakan, mata liar melirik ke arah ruang kerja Irwan. "Berani-beraninya kamu pegang-pegang aku kayak gitu!"

Maya merapikan celananya dengan tangan gemetar, jari-jarinya tersangkut di kancing. Panik membuat gerakannya canggung. Setiap sentuhan di area sensitifnya mengirimkan gelombang sisa kenikmatan yang membuat perutnya mulas oleh rasa bersalah.

"Bu, tadi" Pak Karyo mencoba bicara, tapi Maya mengangkat tangannya.

"Diem!" Maya mendelik tajam, matanya berkilat berbahaya. "Kamu pikir siapa dirimu? Pembantu nggak tau diri!"

Suara pintu berderak. Irwan mungkin akan muncul kapan saja. Tanpa pikir panjang, Maya menampar Pak Karyo dengan keras. Suara tamparannya memecah keheningan dapur. Maya langsung membeku, mendengarkan dengan cemas, tapi tak ada tanda-tanda Irwan mendekat.

"Bu," Pak Karyo menunduk, pipinya merah bekas tamparan. "Maaf, Bu. Saya kelepasan. Tolong jangan bilang Pak Irwan." Suaranya terdengar menyesal, tapi matanyamata itu masih memandang Maya dengan tatapan yang membuat lutut wanita itu lemah.

"Kamu..." Maya menelan ludah, mendapati tenggorokannya kering. "Kamu pikir kita ini apa? Program belum... belum mulai!" Dadanya naik turun cepat, napasnya pendek. Di antara amarah dan panik, tubuhnya masih bereaksi terhadap memori sentuhan Pak Karyo barusan.

"Maaf, Bu," Pak Karyo mengulang, kini dengan suara yang semakin rendah dan intim. "Tapi Bu Maya nggak nolak waktu saya sentuh tadi. Malah... pinggul Bu Maya gerak ke belakang sendiri."

Maya terkesiap. Wajahnya memerah karena malu dan marah. Memang benar dia tidak langsung menolak, bahkan tanpa sadar memberi respons positif pada sentuhan Pak Karyo. Tapi itu bukan berarti dia mengizinkan!

"Tapi saya sudah bilang 'tidak'!" Maya mendesis marah, meski dalam hati dia tahu tubuhnya sempat mengkhianati pikirannya. "Saya sudah jelas bilang kita nggak bisa!"

"Nggak usah ngeles!" Maya mendesis, meski rona di pipinya berkata lain. "Jangan... jangan sekali-kali coba-coba lagi. Atau kamu saya pecat!"

Maya berbalik, kakinya sedikit goyah. Dia bergegas meninggalkan dapur, langkahnya tergesa dan tidak beraturan. Jari kakinya tersandung karpet kecil di ambang pintu, tapi dia menyeimbangkan diri dan terus berjalan. Tubuhnya masih bergetar oleh gairah yang tidak terpuaskan, pikirannya dipenuhi rasa takut dan panik.

Bagaimana dia bisa membiarkan ini terjadi? Di dapur? Saat Irwan ada di rumah?

Dan yang lebih mengerikanmengapa tubuhnya masih menginginkan lebih?

Setelah Maya menghilang, Pak Karyo berdiri diam di tengah dapur. Pipinya masih terasa panas bekas tamparan, tapi bibir tebalnya menyunggingkan senyum puas. Dia mengangkat jari-jarinya yang baru saja berada di dalam tubuh Maya, mengamatinya sejenak. Cairan bening mengkilap di bawah sinar lampu dapur.

Dengan gerakan lambat yang penuh kenikmatan, Pak Karyo memasukkan jari-jari itu ke dalam mulutnya satu per satu. Lidahnya menjilat bersih setiap jari, matanya terpejam menikmati rasa asin manis yang khas.

"Hmm, wangi," gumamnya pelan.

 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com