Pak Karyo duduk di tepi ranjang sempit di kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah. Pipinya masih terasa panas bekas tamparan Maya beberapa jam lalu. Dia mengusap bekas merah itu perlahan, mengingat kembali momen di dapur tadi pagi.
Pancen wis kebangeten aku iki. (Memang sudah keterlaluan aku ini.) Pak Karyo menggelengkan kepalanya pelan. Mosok ndadak ngerayu neng pawon, pas Pak Irwan isih neng omah. (Masa sampai menggoda di dapur, saat Pak Irwan masih di rumah.)
Dia tahu dia pantas mendapatkan tamparan itu. Apa yang dia lakukan jelas melanggar batas. Berani-beraninya dia menyentuh majikannya di dapur rumahnya sendiri, saat suaminya hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Tapi setiap kali Maya ada di dekatnya, Pak Karyo seolah kehilangan akal sehat.
Jari-jarinya bergerak tanpa sadar, meniru gerakan melingkar yang dia lakukan pada tubuh Maya tadi pagi. Tubuh Maya yang begitu berbeda dari istri-istrinya di desa. Halus, wangi, dan terawat. Kulit yang tak pernah terkena sinar matahari terlalu lama atau kasar oleh kerja fisik.
Aku kudu ngati-ati. (Aku harus hati-hati.) Dia menarik napas dalam-dalam. Nek kebangeten, iso-iso malah dipecat tenan aku. (Kalau keterlaluan, bisa-bisa malah dipecat beneran aku.)
Tapi meski dia tahu risikonya, bayangan Maya terus menghantui pikirannya. Wajahnya yang memerah saat jari-jari Pak Karyo menyusup di antara kakinya. Napasnya yang tercekat. Gerakan pinggulnya yangmeski Maya mungkin tak menyadarinyamendorong menyambut sentuhan Pak Karyo.
Pak Karyo tersenyum mengingat bagaimana dia menikmati rasa Maya di jari-jarinya setelah wanita itu pergi. Rasa yang sekarang dia rindukan lagi.
Jane kok iso-isone aku dadi koyo ngene? (Sebenarnya kok bisa-bisanya aku jadi seperti ini?) Pak Karyo tertawa kecil, menyadari betapa jauh dia telah melangkah melewati batas. Wong wedok sing biasane mung nyawang aku soko dhuwur, saiki malah dadi panganku. (Perempuan yang biasanya hanya memandangku dari atas, sekarang malah jadi santapanku.)
Dia menggelengkan kepalanya lagi. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Toh program ini memberi mereka kesempatan untuk melakukan apa yang diam-diam mereka inginkan. Maya menginginkannya, Pak Karyo yakin itu. Respons tubuhnya tidak berbohong.
Pak Karyo bangkit dari tempat tidurnya, keluar sebentar untuk membasuh muka di kamar mandi. Setelah kembali ke kamarnya, dia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding, dia membuat keputusan.
Wis, sing penting nikmati wae wayae. (Sudahlah, yang penting nikmati saja waktunya.) Dia menyisir rambutnya dengan jari. Nek pancen nasibku kudu dipecat, ya wis ben. Sing penting tak pangan sik tekan wareg. (Kalau memang nasibku harus dipecat, ya sudahlah. Yang penting aku santap dulu sampai kenyang.)
Dengan tekad baru, Pak Karyo meninggalkan kamarnya. Di rumah besar yang sunyi ini, dia siap untuk sesi berikutnya dengan Bu Maya.
***
"Yang," Maya memanggil lembut dari ambang pintu kamar. "Perlu dibawain apa? Handuk bersih? Atau kamu mau sarapan baru?"
Irwan sedang bersiap-siap untuk acara golfnya, gerakan-gerakannya kaku dan terburu-buru. Dia masih belum banyak bicara sejak insiden lingerie tadi pagi.
"Nggak usah," jawabnya pendek sambil mengambil kemeja polo dari lemari.
Maya menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah semakin menggerogoti hatinyaterutama setelah apa yang terjadi di dapur tadi. Dia melangkah masuk dengan hati-hati, duduk di tepi tempat tidur.
"Yang..." Maya mencoba lagi, kali ini dengan suara yang lebih lembut. "Kamu masih marah sama aku?"
Irwan tidak langsung menjawab. Dia sibuk mengancingkan kemejanya, punggungnya masih menghadap Maya.
"Aku tahu aku salah," Maya melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu."
Irwan akhirnya berbalik, wajahnya tampak lelah. "Nggak marah," katanya pelan. "Cuma... kecewa."
Maya bangkit dan mendekati suaminya. Dengan gerakan lembut, dia membantu merapikan kerah polo shirt Irwan. "Aku minta maaf," bisiknya, jari-jarinya bergerak hati-hati menyentuh dada suaminya. "Aku janji... aku bakal lebih perhatian sama perasaan kamu."
Irwan menatap mata Maya. Ada kesedihan di sana, tapi juga ada sesuatu yang lainsesuatu yang dia tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata.
"Yang..." Maya mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Irwan. Dia menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. "Jangan pergi dalam keadaan marah, ya? Please?"
Gerakan yang tidak biasa ini membuat Irwan terkejut. Maya jarang sekali bersikap manja seperti ini. Biasanya dia selalu tampil sebagai wanita mandiri dan kuat.
"Aku nggak marah," Irwan akhirnya menghela napas, tangannya bergerak canggung mengusap punggung Maya. "Hanya... butuh waktu."
Maya mendongak, melihat wajah suaminya yang masih tegang. Hatinya mencelos. Sudah berapa lama mereka tidak seperti ini? Pelukan sederhana saja sekarang terasa sangat canggung. Maya merasakan tangan Irwan di punggungnya, hangat tetapi ragu-ragu.
"Iya, aku ngerti kok," gumam Maya, tangannya naik mengusap pipi Irwan pelan. Jempolnya bergerak di garis rahang yang sudah dia hafal betul. "Maaf ya, bikin semuanya jadi rumit begini."
Sentuhan Maya membuat kerutan di wajah Irwan sedikit melunak. Maya melihat perubahan itu, sedikit celah yang membuat harapannya naik.
"I love you," bisiknya, berjinjit untuk mencium bibir Irwan lembut.
Irwan tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas ciuman itu. Bagaimanapun juga, Maya adalah istrinyawanita yang dia cintai selama ini.
"I love you too," balasnya pelan saat ciuman mereka lepas.
Maya tersenyum lebih lebar, menopang pipi Irwan dengan tangannya. "Nanti makan malam kita makan di luar yuk? Berdua aja. Udah lama kita nggak date night."
Irwan tampak sedikit terkejut dengan tawaran ini, tapi kemudian dia mengangguk kecil. "Boleh."
Maya memeluk Irwan erat, kepalanya kembali bersandar di dada suaminya. "Makasih, Yang."
Saat mereka berpelukan, Irwan teringat sesuatu. "Oh iya, besok ada arisan di rumah Om Hadi."
Maya merasakan jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, tapi mempertahankan pelukannya pada Irwan tanpa menunjukkan perubahan. Arisan keluarga besar Irwanhal yang biasanya menyenangkan kini terasa seperti beban tersendiri. Dia menggigit bibir bagian dalam, berpikir cepat.
Besok adalah satu hari sebelum masa ovulasinya yang optimal. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan dengan Pak Karyo untuk meningkatkan peluang keberhasilan "program" mereka. Belum lagi, kumpul keluarga selalu berujung pada pertanyaan-pertanyaan halus namun menusuk: "Kapan ada kabar baik?" atau "Sudah coba metode apa saja?" yang selalu membuatnya tersenyum paksa.
Maya hampir saja mengatakan tidak bisa. Alasan sudah tersusun di kepalanyadeadline pekerjaan atau janji dengan klien. Tapi bayangan wajah kecewa Irwan membuatnya berpikir ulang. Suaminya sudah cukup terluka dengan kejadian-kejadian belakangan ini. Menolak arisan keluarga hanya untuk bisa lebih banyak bersama Pak Karyo? Maya sadar itu akan semakin merusak hubungan mereka yang sudah rapuh.
"Besok ya?" tanya Maya, dengan senyum ringan dan nada antusias yang dia harap cukup meyakinkan. "Di rumah Om Hadi jam berapa?"
"Iya, jam 1 siang," Irwan mengangguk. "Mama udah nanyain kita beberapa kali."
Maya melepaskan pelukannya perlahan, tersenyum meski hatinya berat. "Oke, besok kita dateng." Dia merapikan rambut Irwan yang sedikit berantakan. "Aku akan tampil cantik buat kamu."
Irwan tersenyum tipis. "Thanks, Yang."
"Kamu berangkat jam berapa?" tanya Maya, mengalihkan topik.
"Setengah jam lagi." Irwan melirik jam tangannya. "Masih harus nyiapin golf set."
"Mau aku bantu?" Maya menawarkan, masih dalam mode manja yang tidak biasa.
Irwan menggeleng, tapi senyumnya semakin lebar. "Nggak usah. Kamu istirahat aja."
Maya mengangguk, lalu tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Irwan dan mencium pipinya berulang kali. "Mmuah, mmuah, mmuah! Hati-hati ya golfingnya. Jangan lupa sunblock."
Irwan terkekeh kecil melihat tingkah Maya. Ini sangat tidak seperti Maya yang biasanya, tapi entah kenapa rasanya menyenangkan. "Iya, cerewet."
Maya tersenyum lebar, lega melihat suasana hati Irwan yang membaik. Di balik senyumnya, dia berusaha menenangkan gelombang rasa bersalah yang semakin besar di dadanya.
***
Maya menyusul Irwan yang sedang memeriksa isi tas golfnya di dekat pintu depan. Dia menyelipkan dirinya di samping suaminya dan meraih lengannya, bergelayut manja seperti yang jarang mereka lakukan belakangan ini.
"Yang," Maya memanggil lembut, menyandarkan kepalanya di bahu Irwan saat mereka berjalan perlahan ke pintu depan.
Irwan melirik ke arahnya, ekspresinya masih kaku tapi tidak sedingin tadi pagi. Maya mengeratkan pegangannya pada lengan Irwan, tubuhnya menempel pada sisi suaminya. Jemarinya bergerak lembut, mengusap lengan Irwan.
Langkah mereka melambat secara alami saat mendekati pintu. Maya bisa merasakan otot-otot tegang Irwan mulai mengendur di bawah sentuhannya.
Saat mereka sampai di pintu depan, Maya memutar tubuhnya menghadap Irwan. Tangannya naik menyentuh pipi suaminya.
"Yang," bisiknya, lalu berjinjit untuk mencium Irwan.
Ciuman itu dimulai lembut namun perlahan berubah lebih dalam. Maya melingkarkan tangannya di leher Irwan, menariknya lebih dekat. Tubuh mereka menempel erat.
Ketika ciuman mereka berakhir, wajah Irwan terlihat lebih lembut. Tatapan dingin yang sepanjang pagi menggelayuti matanya telah berkurang, digantikan oleh kehangatan yang samar.
"Hati-hati," ucap Maya pelan, tangannya masih di dada Irwan.
Irwan mengangguk, mengusap rambut Maya sekilas sebelum melangkah menuju mobilnya. Maya mengikutinya sampai ke halaman, melambai saat Irwan masuk ke dalam mobil.
Saat menurunkan tangannya, Maya menghela napas panjang. Hari ini terasa sangat panjang, dan baru setengah hari berlalu. Insiden lingerie tadi pagi, kejadian di dapur dengan Pak Karyo, dan kini dia harus memikirkan arisan keluarga besok...
Maya berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti. Pak Karyo berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat hingga Maya nyaris menabraknya.
"Pak!" Maya tersentak kaget, mundur setengah langkah.
Tapi sebelum Maya bisa berkata apa-apa lagi, Pak Karyo melangkah maju, tangannya dengan cepat meraih pinggang Maya dan bibirnya langsung menemukan bibir wanita itu. Maya terkesiap, tangannya refleks mendorong dada Pak Karyo, tapi dorongannya lemah dan tidak efektif.
Ciuman Pak Karyo kasar dan menuntut, sangat berbeda dari ciuman lembut yang dia bagi dengan Irwan beberapa menit lalu. Bibir tebal Pak Karyo menekan, lidahnya memaksa masuk ke mulut Maya tanpa permisi.
"Mm!" Maya mencoba memprotes, tapi suaranya teredam oleh ciuman Pak Karyo.
Tangan-tangan kasar Pak Karyo mulai menjelajah, satu tangan meremas pinggangnya sementara yang lain bergerak naik, dengan berani meremas payudaranya langsung dari luar kaos yang Maya kenakan.
Ketika ciuman mereka terlepas untuk mengambil napas, Maya terengah-engah. "P-Pak, nggak"
Tapi Pak Karyo tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya bergerak turun, menciumi leher Maya dengan intensitas yang membuat lutut wanita itu lemas.
"Pak, jangan," Maya mengerang pelan, tapi tubuhnya memberikan sinyal yang berlawanan. Kepalanya condong ke belakang, memberikan Pak Karyo akses lebih ke lehernya. "Kita... kita nggak bisa... di sini..."
"Sekarang waktunya program, kan?" Pak Karyo berbisik di antara ciumannya, tangannya semakin berani meremas payudara Maya. "Pak Irwan udah pergi. Kita punya empat jam."
"T-tapi..." Maya mencoba berpikir jernih meski semakin sulit dengan setiap sentuhan Pak Karyo. "Kesepakatan kita... hanya di kamar tamu..."
Tanpa peringatan, Pak Karyo tiba-tiba membungkuk dan meraih tubuh Maya, mengangkatnya dalam gendongan pengantin yang membuat Maya terkesiap kaget.
"Pak!"
"Ya udah," Pak Karyo tersenyum, matanya gelap oleh nafsu. "Kita ke kamar tamu sekarang."
Maya melingkarkan tangannya di leher Pak Karyo secara otomatis, takut jatuh. Posisi ini membuat wajah mereka sangat dekat. Maya bisa merasakan napas hangat Pak Karyo menerpa pipinya.
"Pak Karyo, turunin"
Lagi-lagi Maya tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Pak Karyo menciumnya lagi, kali ini lebih dalam dan menuntut, sambil mulai berjalan membawa Maya menuju kamar tamu.
Setiap beberapa langkah, Pak Karyo berhenti untuk mencium Maya lagi. Di lorong menuju ruang tengah. Di ambang pintu ruang keluarga. Di dekat tangga. Setiap ciuman semakin dalam, semakin menuntut, membuat protes Maya semakin lemah dan tidak meyakinkan.
"Pak," Maya terengah ketika mereka sampai di depan pintu kamar tamu yang tertutup. "Kita... seharusnya..."
"Shh," Pak Karyo menyeringai, menurunkan Maya hingga kakinya menyentuh lantai, tapi tangannya tetap melingkari pinggang wanita itu. "Bu Maya sendiri yang bilangini untuk program."
Dengan satu tangan, Pak Karyo membuka pintu kamar tamu, mata mereka saling terkunci dalam tatapan.
Bekas tamparan Maya masih terlihat samar di pipi kiri Pak Karyokemerahan yang kontras dengan kulit gelapnya. Maya menelan ludah. Tadi pagi, di dapur rumahnya sendiri, jari-jari kasar itu menelusup ke tempat yang seharusnya tak terjamah, membuatnya menggigit bibir untuk menahan desah. Dia menampar Pak Karyo sekeras yang dia bisa. Menamparnya karena berani menyentuh. Menamparnya karena membuat tubuhnya berkhianat.
Sekarang, hanya beberapa jam kemudian, dia berdiri di ambang pintu kamar tamu. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya pendek dan berat.
Maya menatap pintu yang terbuka, lalu kembali ke wajah Pak Karyo. Ada sesuatu yang berbeda di mata pria itukilatan yang tidak ada sebelumnya. Keberanian baru. Entah karena program ini, atau karena kejadian di dapur, tampaknya kepatuhan palsu seorang pembantu telah menguap dari tatapannya.
Pria yang tadi pagi dia tamparyang jari-jarinya dia patahkan kalau bisakini akan menyentuh seluruh tubuhnya. Tidak diam-diam di dapur, tapi dengan sengaja, di atas ranjang. Tidak sembunyi-sembunyi, tapi dengan izin penuh.
Pak Karyo membuka pintu lebih lebar, gesture sederhana yang berbicara lebih keras dari kata-kata: silakan masuk, nyonya. Mari kita lakukan dengan benar apa yang tadi pagi hanya bisa saya curi-curi sebentar.
