𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟕

Pak Karyo memimpin Maya masuk ke kamar tamu. Tangannya mencengkeram pinggang wanita itu dengan posesif, jari-jarinya menekan kuat hingga meninggalkan jejak panas di kulit Maya. Aroma tubuh Pak Karyo campuran keringat maskulin dan sabun murah memenuhi indra penciuman Maya, membuatnya pusing oleh kontras dengan parfum mahalnya sendiri.

Ketika sudah di dalam, Pak Karyo tidak mengarah ke tempat tidur. Dia mendorong Maya dengan kasar hingga tubuh wanita itu terhentak berhenti tepat di depan cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Maya menabrak meja rias dengan pinggulnya, menimbulkan suara berdenting dari botol parfum yang bergetar.

"Pak..." Maya menggumam bingung, napasnya sedikit tercekat.

"Sst," Pak Karyo meletakkan jari telunjuknya di bibir Maya, menekannya hingga bibir bawah Maya sedikit terbuka. "Bu Maya liat cermin."

Tubuh kekar Pak Karyo menempel erat di punggung Maya, memaksanya menghadap cermin. Panas tubuh pria itu menembus kain tipis blus Maya, membuat kulitnya merinding. Maya bisa merasakan setiap otot perut dan dada Pak Karyo yang mengeras dari aktivitas fisik sehari-hari, begitu berbeda dengan tubuh Irwan yang lebih lembut.

"Liat yang bener," bisik Pak Karyo di telinga Maya, lidahnya sengaja menyentuh daun telinga Maya saat berbicara. "Liat apa yang terjadi di dapur tadi pagi."

Mata Maya melebar, menyadari maksud Pak Karyo. Jantungnya berdegup liar, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ini adalah balasannya. Balas dendam untuk tamparan yang Maya layangkan di dapur tadi pagi.

Pancen wis wayae nduduhake awakku dewe nang kaca. Ben wong wedok iki ngerti piye rupane pas dijamah lanangan sing ora nduwe pendidikan dhuwur, ning ngerti carane nggarap wedok. (Memang sudah waktunya menunjukkan dirinya di cermin. Biar perempuan ini tahu bagaimana wajahnya saat disentuh laki-laki yang tidak berpendidikan tinggi, tapi tahu cara menggarap perempuan.)

Tanpa peringatan, tangan Pak Karyo bergerak turun. Seperti tadi pagi, jari-jarinya menelusuri lekuk tubuh Maya dari belakang, turun perlahan dari pinggang ke panggul. Setiap sentuhan meninggalkan jejak gemetar di kulit Maya, bahkan dari luar pakaiannya. Tangan kanan Pak Karyo menelusup di antara kedua kaki Maya, sedangkan tangan kirinya bergerak naik, dengan berani meremas payudara Maya dari luar.

"Nnnhh..." Maya tidak bisa menahan suara kecil yang lolos dari tenggorokannya.

"Bu Maya liat cermin," perintah Pak Karyo, suaranya semakin dalam dan kasar. "Liat gimana wajah Bu Maya berubah kalo dijamah tukang kebun."

Maya menatap cermin, melihat refleksi mereka dengan jelas. Pemandangan yang begitu kontrasdia dengan blus sutra mahalnya, dan Pak Karyo dengan kemeja lusuh yang lengannya digulung. Tangan Maya yang terawat dengan kuteks sempurna mencengkeram tepi meja rias, sementara tangan kasar Pak Karyo yang penuh kapalan bergerak menguasai tubuhnya.

"Pak, ini" Maya mencoba bicara.

Tangan kasar Pak Karyo melesat cepat, mencengkeram rahang Maya dengan kekuatan yang tak terduga. Jemarinya menekan pipi wanita itu, memaksanya menoleh ke samping tanpa mengubah posisi tubuhnya yang masih menghadap cermin. Mata Maya melebar, terkejut oleh keberanian dan kekasaran sentuhan itu.

Bibir tebal Pak Karyo menghantam mulutnya tanpa peringatanbukan ciuman, tapi lebih seperti invasi yang membuat Maya kehilangan napas. Lidahnya memaksa masuk, mengeksplorasi, menguasai. Maya bisa merasakan campuran rasa tembakau murah dan kopi pagi di lidah Pak Karyo. Sesuatu yang seharusnya menjijikkan, namun entah mengapa membuat lututnya semakin lemas.

"Mmph!" Maya mencoba protes, tangannya mendorong dada Pak Karyo dengan lemah.

Bukannya mundur, Pak Karyo justru mencengkeram rambut Maya, menariknya sedikitcukup untuk menimbulkan sensasi tajam yang membuat seluruh kulitnya merinding. Sementara mulutnya dikuasai, tangan Pak Karyo yang lain semakin agresif di bawah sana. Jari-jarinya bergerak dengan kasar, mengusap dan menekan titik sensitifnya.

Maya merasakan gelombang panas menyebar dari area intimnya, merambat ke seluruh tubuh. Tubuhnya berkhianat, memberikan bukti pengkhianatan yang tak bisa disangkal. Cairan intimnya membasahi jari-jari kasar Pak Karyo, membuat gerakan pria itu semakin licin dan dalam. Maya mencengkeram tepi meja rias, kukunya menancap di permukaan kayu saat sensasi itu semakin intens.

Pak Karyo tiba-tiba melepaskan ciumannya. Maya terengah, dadanya naik turun cepat, matanya setengah terpejam. Benang tipis saliva masih menghubungkan bibir mereka saat Pak Karyo menarik diri. Bibirnya yang bengkak terasa berdenyut, sensasi yang anehnya membuat bagian bawah tubuhnya semakin basah.

Tanpa memberi waktu bagi Maya untuk mengatur napas, Pak Karyo memaksanya melihat ke cermin lagi. Maya terpaksa menatap dirinya sendirisosok yang hampir tidak dia kenali. Rambut berantakan, mata berkabut nafsu, bibir bengkak dan basah. Pipinya merona merah, jejak air liur mengalir dari sudut bibirnya. Tangan Pak Karyo masih di lehernya, jemarinya perlahan turun, menelusuri tulang selangkanya, lalu ke payudaranya yang kini hampir terekspos karena tarikan kasarnya tadi.

"Nnnhh..." Maya tidak bisa menahan erangan pelan ketika Pak Karyo tiba-tiba menggigit lembut cuping telinganya, sambil jarinya bergerak semakin cepat di bawah sana.

Tanpa peringatan, Pak Karyo memasukkan jari ketiganya, membuat Maya tersentak dan mencengkeram tepi meja rias lebih kuat. Tubuhnya bereaksi hebat, punggungnya melengkung, kepalanya terlempar ke belakang. Sensasi penuh yang mendadak itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang hampir menyakitkan ke seluruh tubuhnya.

"AHHH!" jerit Maya, suaranya jauh dari citra eksekutif terkontrol yang selalu dia tampilkan di kantor.

Pak Karyo kembali mencium bibirnya dengan kasar, menghisap lidahnya kuat-kuat, mengulum bibir bawahnya dengan tekanan yang tepat, lalu melepaskan ciuman itu dengan suara basah yang vulgar. Maya terengah hebat, matanya berair, bibirnya semakin bengkak dan memerah.

Tangan Pak Karyo mendorong kepala Maya kembali menghadap cermin. Maya menatap pantulannya, melihat transformasinya yang sempurna. Dari eksekutif anggun menjadi wanita yang haus sentuhan, dipermainkan oleh pembantu rumahnya sendiri. Blus sutranya yang tadinya rapi kini kusut dan setengah terbuka. Bra hitamnya terlihat jelas dari celah yang terbuka, kontras dengan kulitnya yang putih dan kini memerah. Celana kerjanya masih terbuka di bagian depan, dengan tangan Pak Karyo yang menghilang di dalamnya.

Rasa malu dan gairah bercampur dalam dadanya, menciptakan koktail emosi yang memabukkan. Saat matanya bertemu dengan mata Pak Karyo di cermin, Maya melihat kilatan kemenangan di sanasesuatu yang tidak pernah dia lihat dari pria yang selama ini selalu menunduk di hadapannya.

"Bu Maya diem aja," dia berbisik, bibirnya menyusuri leher Maya dari belakang, meninggalkan jejak basah yang mengirimkan percikan listrik ke seluruh tubuh wanita itu. "Liat cermin. Liat wajah Bu Maya sendiri."

Maya terpaku menatap cermin. Bibirnya yang bengkak dari ciuman kasar barusan. Rambutnya yang mulai berantakan. Pupil matanya yang melebar, tanda gairah yang tidak bisa disembunyikan. Di belakangnya, Pak Karyo menatap dengan mata predator, senyum puas tersungging di wajahnya yang kasar.

Tangan Pak Karyo semakin agresif. Jari-jarinya dengan ahli membuka kancing celana Maya, lalu menurunkan zippernya tanpa kesulitan. Maya bisa merasakan jari kasar itu menyusup ke balik kain celana dalamnya, menelusuri celah lembabnya dari depan ke belakang, lalu kembali lagi.

"Ahh!" Maya tersentak saat jari Pak Karyo menemukan klitorisnya, memberikan tekanan yang tepat.

"Bu Maya liat sendiri kan?" bisik Pak Karyo, jarinya berputar-putar di titik sensitif Maya, sesekali turun untuk mengumpulkan lebih banyak kelembaban. "Tadi pagi juga gini. Ini wajah Bu Maya tadi pagi. Wajah yang suka dijamah babu."

Maya menggigit bibir kuat-kuat, mencoba menahan desahan yang hampir lolos. Wajahnya terbakar malu melihat dirinya sendiri terbuai sentuhan Pak Karyo. Bayangan itu begitu berbeda dengan citra profesional yang selalu dia jaga. Di kantor, semua bawahannya takut dan hormat padanya. Di sini, di depan cermin ini, dia melihat sisi lain dirinyasisi yang haus sentuhan, bahkan dari pembantu rumah tangganya sendiri.

"Pak" Maya mencoba bicara lagi, hendak menjelaskan bahwa ini berbeda dari kejadian di dapur.

Pak Karyo kembali mencium Maya dengan kasar, memotong kata-katanya dengan ciuman yang lebih agresif dari sebelumnya. Gigi Pak Karyo menggigit bibir bawah Maya, menariknya sedikit sebelum melepaskan. Tangannya terus bekerja di bawah sana, dua jari kini menyusup masuk ke dalam tubuh Maya, membuat wanita itu mengerang keras dalam ciuman mereka.

Jari-jari kasar Pak Karyo bergerak masuk-keluar dengan ritme yang semakin cepat. Kapalan di tangannya menggesek dinding sensitif Maya, menciptakan sensasi kasar yang anehnya malah semakin membangkitkan gairahnya. Sangat berbeda dengan jari-jari halus Irwan yang biasa menyentuhnya.

Setiap kali Maya hendak bicara, Pak Karyo dengan cepat membungkamnya dengan ciuman lain. Balas dendam yang sempurnaMaya telah menamparnya tadi pagi, dan kini Pak Karyo tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan atau protes. Hanya membiarkan tubuh Maya yang berbicara, yang jelas-jelas menikmati setiap sentuhannya.

Sing penting awakmu ngrasakke disik. Mengko lagi tak kon ngladeni aku. (Yang penting kamu rasakan dulu. Nanti baru kusuruh melayaniku.)

Maya semakin liar dalam genggaman Pak Karyo. Tangannya yang tadinya mencoba mendorong, kini malah mencengkeram kemeja Pak Karyo, menariknya lebih dekat. Pinggulnya bergerak seirama dengan jari-jari Pak Karyo, mencari kenikmatan yang semakin mendekat.

Pak Karyo tiba-tiba melepaskan ciumannya dan memutar tubuh Maya lagi menghadap cermin. "Bu Maya liat," desisnya, jarinya semakin cepat di dalam tubuh Maya. "Liat wajah Bu Maya pas mau klimaks. Mau klimaks gara-gara jari tukang kebun."

Maya terpaksa menyaksikan ekspresinya sendiri di cermin saat Pak Karyo menambahkan jari ketiga ke dalam tubuhnya. Sensasi penuh yang membuat napasnya tercekat. Matanya setengah terpejam, mulutnya terbuka, wajahnya merah padam. Titik keringat mulai muncul di dahinya.

"Pak, kumohon..." Maya berbisik entah memohon untuk berhenti atau justru memohon lebih.

Pak Karyo langsung menciumnya lagi, membungkam kata-katanya. Jari-jarinya bergerak semakin cepat, ibu jarinya kini menemukan klitoris Maya dan memberikan tekanan berputar yang membuat Maya nyaris gila.

Rasah kakean omong. Ngrasakno wae. (Tidak usah banyak bicara. Rasakan saja.)

Maya merasakan gelombang kenikmatan semakin mendekat. Setiap sel tubuhnya seolah dialiri listrik. Jantungnya berdegup kencang, napasnya pendek dan cepat. Jari-jari Pak Karyo bergerak dengan ahli, menemukan titik G-nya dan menekannya dengan tepat. Maya tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnyabahkan tidak dengan Irwan. Ada sesuatu tentang tangan kasar dan jari yang terlatih bekerja keras ini yang membuat sensasinya berbeda.

"Pak... aku... aku..." Maya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Gelombang kenikmatan akhirnya menerjangnya, membuat seluruh tubuhnya menegang seperti busur yang ditarik. Dia mengerang keras, suara yang tidak pernah dia keluarkan di kamar tidurnya dengan Irwan. Pinggulnya bergerak liar, mencari setiap senti kenikmatan yang bisa didapat dari jari-jari Pak Karyo.

Orgasmenya begitu kuat hingga kakinya gemetar, nyaris tidak mampu menopang tubuhnya. Kalau bukan karena tangan Pak Karyo yang menahan pinggangnya, Maya yakin dia akan jatuh terduduk. Gelombang demi gelombang kenikmatan menyapu tubuhnya, membuat pandangannya kabur sesaat.

Pak Karyo akhirnya melepaskan ciumannya, membiarkan Maya mengambil napas saat tubuhnya masih bergetar dari sisa-sisa klimaks. Jari-jarinya tetap di tempat, merasakan denyutan tubuh Maya yang perlahan mereda. Maya terengah-engah, dadanya naik turun cepat, keringat membasahi dahinya.

"Hhh... hhh..." Maya mencoba mengatur napasnya yang berantakan.

Ketika Maya akhirnya membuka mata, kabut nafsu masih menyelimuti pandangannya. Dia mendapati Pak Karyo menatapnya dengan ekspresi puas yang arogan. Sebuah senyum kemenangan tersungging di wajahnya yang kasar.

"M-maaf," bisik Maya tiba-tiba, kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang bengkak.

Pak Karyo menaikkan alisnya, senyumnya semakin lebar. "Maaf buat apa, Bu?"

Maya menelan ludah, tenggorokannya terasa kering setelah mengerang begitu keras. "Buat... buat nampar Bapak tadi pagi."

Pak Karyo menyeringai, menunjukkan giginya yang kuning karena terlalu banyak rokok. "Oh, itu." Dia mengeluarkan jarinya dari tubuh Maya dengan gerakan lambat yang sengaja, membuat wanita itu bergidik saat sensasi kosong menggantikan penuhnya jari-jari Pak Karyo. "Kalo Bu Maya nerima dari awal, Bu Maya juga bisa klimaks tadi pagi. Klimaks di dapur. Di depan kulkas."

Wajah Maya semakin memerah, bayangan dirinya klimaks di dapur sementara Irwan berada di ruang kerja membuatnya malu sekaligus... anehnya, sedikit terangsang. "Tapi itu beda!" protesnya, suaranya lebih tegas meski tubuhnya masih lemas. "Tadi pagi kan di dapur... Irwan masih di rumah!"

"Tapi Bu Maya nikmatin, kan?" tanya Pak Karyo, matanya menatap tajam ke mata Maya. Jari-jarinya yang basah oleh cairan Maya dia angkat ke wajahnya sendiri, menghirup aroma intim Maya dengan nikmat sebelum menjilat jarinya sendiri dengan gerakan lambat yang vulgar.

Maya terkesiap melihat gerakan intim itu, pipinya terbakar malu. Jantungnya berdegup liar melihat Pak Karyo begitu menikmati rasanya di jari. Perutnya terasa mulas - campuran gairah dan rasa bersalah yang tidak bisa dia jelaskan.

"I-iya, tapi..." Maya tergagap, tangannya mencengkeram tepi meja lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Itu beda banget! Di dapur tadi... tanpa jadwal... tanpa kesepakatan... itu bukan program!"

Dia menelan ludah, mencoba mengendalikan napasnya yang memburu. Suaranya merendah, campuran marah dan takut.

"Itu selingkuh namanya, Pak. Murni selingkuh!" Maya menatap Pak Karyo langsung di matanya, tapi tubuhnya berkhianat dengan gelombang panas yang masih menjalar. "Tapi sekarang... di kamar tamu ini... sesuai jadwal yang kita sepakati, ini program, bukan selingkuh. Ini... ini yang kita... yang kita rencanakan sama Irwan."

Suaranya semakin pelan di akhir kalimat, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Pak Karyo mendengus, jelas tidak puas dengan jawaban Maya. Jarinya yang lain masih dia jilati, seolah menikmati hidangan lezat. "Jadi kalo di dapur salah, di kamar benar? Program atau bukan program, tubuh Bu Maya sama aja. Bu Maya tetep basah. Tetep klimaks di jari saya."

Pancen angel ngertekno wong wedok iki. Dheweke wis kepenak, tapi isih mbelani bojon sing ora iso maremi. (Memang sulit memahami perempuan ini. Dia sudah merasa enak, tapi masih membela suaminya yang tidak bisa memuaskannya.)

Pak Karyo menatap Maya dengan tatapan dingin. Darahnya mendidih mendengar Maya masih bersikeras membedakan antara sentuhan di dapur dan di kamar tamu, seolah-olah tangannya berubah fungsi tergantung di mana mereka berada. Tanpa peringatan, Pak Karyo memasukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam tubuh Maya yang masih sangat sensitif pasca orgasme.

"AHHHH!" Maya menjerit kaget, tubuhnya tersentak keras. Sensasi penuh dan mendadak itu membuat matanya terbelalak.

"Kalo memang Bu Maya udah minta maaf," gumam Pak Karyo, jari-jarinya bergerak brutal di dalam tubuh Maya, "tunjukin dengan jujur. Ngaku aja kalo Bu Maya emang suka, dimana aja, kapan aja."

Dia menekan jarinya lebih dalam, membuat Maya menggelinjang. "Kalo nggak mau ngaku," bisiknya dengan nada mengancam, "saya bisa lebih kasar dari ini."

Sambil terus menggerakkan jarinya, tangan Pak Karyo yang bebas mulai merobek pakaian Maya dengan kasar. Tidak ada kelembutan atau kehati-hatianhanya kebutuhan mendesak untuk membuktikan bahwa Maya menginginkannya. Dia menarik kerah blus Maya hingga kancingnya terbang ke lantai satu per satu, suara 'ping' kecil terdengar saat kancing-kancing itu membentur ubin.

"Pak! Baju saya--" Maya protes, tapi suaranya tercekat saat jari keempat Pak Karyo mencoba menyusup masuk, meregangkan tubuhnya hingga batas.

"Masih mau bohong?" tantang Pak Karyo, menekan lebih keras. "Dapur atau kamar tamu, sama aja. Tubuh Bu Maya sama aja. Tetep suka."

Tangan Pak Karyo bergerak liar, merobek blus Maya hingga hanya menyisakan potongan kain yang menggantung di siku wanita itu. Bra hitam berenda Maya terekspos sepenuhnya, kontras dengan kulit putihnya yang mulai memerah karena gairah. Pak Karyo tidak repot-repot membuka pengait bradia menariknya ke bawah dengan paksa, mengekspos payudara Maya yang langsung menegang terkena udara dingin.

"Argh! Pak Karyo!" Maya berteriak, campuran protes dan kenikmatan saat Pak Karyo mencubit puting kirinya dengan keras sambil terus memompakan jarinya di bawah sana.

"Bisa lebih kasar lagi," ancam Pak Karyo, suaranya rendah berbahaya. "Atau Bu Maya jujur aja, mau saya jamah kapan aja, dimana aja."

Celana Maya berikutnya. Dengan satu tangan, Pak Karyo menariknya turun dengan gerakan kasar. Kain celana dalam Maya robek di beberapa tempat karena tarikan paksa itu. Maya nyaris kehilangan keseimbangan saat Pak Karyo memaksanya mengangkat kaki untuk melepas celana sepenuhnya, sementara jarinya tetap bergerak di dalam tubuhnya.

"Lihat diri Bu Maya sekarang," Pak Karyo berbisik kasar, mendorong Maya menghadap cermin lagi.

Maya terkesiap melihat refleksinya. Rambutnya berantakan, jatuh menutupi sebagian wajahnya yang memerah. Bibirnya bengkak dan merah dari ciuman kasar. Blusnya robek dan menggantung tidak karuan. Bra hitamnya ditarik turun, memamerkan payudaranya yang bergerak naik turun seiring napasnya yang tidak teratur. Celana dalamnya robek di satu sisi, setengah turun, memperlihatkan area intimnya yang basah dengan jari-jari Pak Karyo menghilang di dalamnya.

Pemandangan yang tak pernah dia bayangkanseorang Maya Andini, eksekutif senior yang ditakuti karyawannya, kini berdiri setengah telanjang dengan pakaian robek, dimainkan oleh pembantu rumah tangganya sendiri.

"Ini..." Maya berbisik, kata-katanya terputus oleh gerakan jari Pak Karyo yang semakin cepat. "Ah... Pak... terlalu... ahhhh..."

Saiki bedo, ya? Wong wedok aneh. Yen dijamah nang pawon ora gelem, nang kamar malah kepenak. (Sekarang berbeda, ya? Perempuan aneh. Kalau disentuh di dapur tidak mau, di kamar malah enak.)

Gerakan jari Pak Karyo semakin gila, memutar, melengkung, mencari titik-titik yang membuat Maya menjerit. Maya tidak bisa lagi membedakan antara nyeri dan nikmatsemuanya bercampur menjadi satu sensasi intens yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.

"Pak... aku... aku nggak kuat..." Maya mencengkeram bahu Pak Karyo, kukunya menancap melalui kemeja tipis pria itu. "Aku mau... mau..."

Pak Karyo menambah kecepatan, menyadari Maya hampir mencapai puncaknya lagi. Tubuh Maya menegang seperti kawat, punggungnya melengkung ke belakang, lehernya terekspos sepenuhnya. Pemandangan yang begitu erotiswanita kaya yang selalu memerintahnya, kini tak berdaya oleh sentuhan tangannya.

"AHHHHH!" Maya menjerit lebih keras dari sebelumnya saat gelombang orgasme kedua menghantamnya. Kali ini lebih brutal, lebih intens. Tubuhnya gemetar hebat, hampir kejang. Cairan hangat membasahi jari-jari Pak Karyo dan mengalir turun ke pahanya. Matanya berputar ke belakang sesaat, kepalanya terlempar ke belakang.

"Nnnnggghh... ahhhhhh..." Maya mengerang panjang, suara yang tak pernah dia keluarkan bahkan dalam saat-saat intim dengan suaminya sendiri.

Orgasmenya kali ini berlangsung lebih lama, tubuhnya bergelombang seperti lautan yang diterpa badai. Sensasi yang membuat kakinya benar-benar lemas. Kalau Pak Karyo tidak menopang tubuhnya, Maya yakin dia akan ambruk ke lantai.

Saat tubuh Maya masih bergetar hebat dari sisa klimaksnya, Pak Karyo mendudukkannya di tepi tempat tidur. Maya terkulai lemah, napasnya masih berantakan, matanya sayu dan berkabut. Pakaiannya robek di mana-mana, payudaranya terekspos sepenuhnya, puting merahnya masih mengeras. Celana dalamnya sobek di satu sisi, memperlihatkan area intimnya yang basah dan berkedut.

"Bu Maya bilang minta maaf, kan?" tanya Pak Karyo, suaranya dalam dan menuntut. Tangannya masih di rahang Maya, memaksanya menatap cermin. "Kalo bener-bener minta maaf, harusnya ngaku sekalian."

"Ngaku apa?" Maya terengah, tubuhnya masih bergetar dari sisa orgasme keduanya.

"Ngaku kalo Bu Maya suka disentuh saya," Pak Karyo menekan tubuhnya lebih dekat. "Di mana aja, kapan aja. Bukan cuma di kamar tamu. Bukan cuma pas 'program'."

Maya menarik napas dalam, keningnya berkerut meski tubuhnya masih terkulai lemas. Bahkan di tengah kabut kenikmatan pasca orgasme, dia tetap keras kepala.

"Saya minta maaf udah nampar Bapak," ujar Maya, suaranya serak tapi tegas. "Itu reaksi berlebihan dari saya. Tapi untuk yang lain..." dia menggeleng pelan, "Di luar program, itu pelecehan namanya, Pak."

Pak Karyo terdiam sesaat. Tangannya sedikit mengendur dari tubuh Maya. Ada kilatan aneh di matanyasedikit terkejut dengan keteguhan Maya yang masih bertahan bahkan setelah orgasme hebat yang baru saja dia alami.

"Heh," Pak Karyo mendengus, sesuatu seperti rasa hormat tersembunyi dalam ekspresinya. "Tetep keras kepala. Bu Maya emang beda dari perempuan lain."

Maya hanya menatapnya, napasnya masih terengah.

 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com