𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟓𝟗​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

Lampu temaram kamar tidur mereka menciptakan bayangan lembut di dinding saat Maya menutup pintu di belakangnya. Dia masih mengenakan gaun hitam dari makan malam mereka di Le Quartier, sementara Irwan telah melepas jasnya dan melonggarkan dasi. Aroma parfum Maya yang lembut bercampur dengan wangi wine yang masih tersisa di napas mereka. Keheningan merayap pelan, hanya ditemani suara samar pendingin udara dan detak jam dinding.

"Aku ganti baju dulu ya," kata Maya, berjalan menuju lemari pakaian. Jemarinya meraih resleting gaun di punggungnya, tapi terhenti saat tatapannya bertemu dengan Irwan melalui pantulan cermin.

Irwan duduk di tepi tempat tidur, tangannya mengusap tengkuk dengan gugup. "Yang," panggilnya pelan, "kita... masih mau bicara kan? Sesuai janji tadi?"

Maya menarik napas dalam, tangannya masih berada di punggung. Dia berbalik, menghadap Irwan langsung. "Iya, Say. Aku akan jawab pertanyaan kamu. Tapi... bisa nggak aku ganti baju dulu? Gaun ini agak nggak nyaman."

"Tentu," Irwan mengangguk, mencoba tersenyum meski ketegangan jelas terasa di udara. "Aku juga mau ganti."

Mereka berganti pakaian dalam keheningan yang canggung. Maya memilih piyama sutra biru muda, sementara Irwan mengenakan kaos putih dan celana pendek abu-abu—pakaian tidur biasa mereka. Suara gemerisik kain dan langkah kaki di karpet menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan.

Setelah selesai, Maya duduk di tepi tempat tidur, menghadap Irwan yang kini bersandar pada headboard. Jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang dalam, meski tempat tidur itu hanya berukuran king size.

"Jadi," Maya memulai, jari-jarinya memilin ujung piyamanya, "kamu mau tanya apa?"

Irwan menarik napas dalam sebelum bicara, matanya menatap langsung ke mata Maya. "Aku mau tanya... tentang perasaan kamu saat bersama Pak Karyo." Suaranya tenang meski ada getaran halus di dalamnya. "Bukan tentang apakah kamu mencintaiku atau tidak. Aku percaya kamu mencintaiku. Tapi... apa yang kamu rasakan saat bersamanya?"

Maya menggigit bibir bawahnya, tangannya kini berhenti memilin kain dan beralih meremas seprai. Ini pertanyaan yang paling kutakutkan, batinnya. Tapi aku sudah berjanji untuk jujur.

"Dia..." Maya memulai dengan ragu, lalu menelan ludah. "Pak Karyo memberikan aku..." Dia berhenti lagi, mencari kata-kata yang tepat.

"Jujur aja, Yang," desak Irwan lembut. "Aku butuh tahu."

Maya mengangkat pandangannya, menatap Irwan langsung. "Dia memberikan aku kenikmatan seksual yang... nggak pernah aku rasakan sebelumnya," ucapnya akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. "Seperti... sensasi yang benar-benar berbeda. Aku... aku nggak tahu kalau tubuhku bisa merasakan hal seperti itu."

Kedua tangan Irwan mencengkeram seprai di sampingnya, tapi wajahnya tetap tenang. Dia mengangguk pelan, mendorong Maya untuk melanjutkan.

"Aku mencapai... klimaks berkali-kali," lanjut Maya, kini matanya menatap ke lantai. "Dengan cara yang... intens. Aku nggak pernah tahu kalau aku bisa... bisa seperti itu."

Keheningan menggantung di udara selama beberapa detik. Maya mengangkat wajahnya, khawatir melihat reaksi Irwan. Tapi alih-alih marah atau terluka, Irwan terlihat... tenang, meski ada ketegangan di rahangnya.

"Aku mengerti," Irwan akhirnya berkata. "Lalu... bagaimana dengan perasaan emosionalmu? Maksudku, selain kenikmatan fisik itu... apa kamu merasakan... sesuatu yang lain? Koneksi emosional mungkin?"

Maya menggeleng cepat, bergeser sedikit lebih dekat pada Irwan. "Say, aku mencintaimu. Hanya kamu. Nggak ada yang berubah soal itu."

"Aku tahu, Yang," Irwan tersenyum tipis. "Aku nggak meragukan cintamu. Bukan itu yang aku tanyakan."

Maya memiringkan kepalanya, bingung. "Lalu?"

"Aku nggak bertanya tentang cinta," Irwan memperjelas. "Aku bertanya tentang perasaan lain. Misalnya... apakah kamu... suka didominasi?" Suaranya sedikit bergetar saat mengucapkan kata terakhir. "Apakah kamu suka cara dia... mengendalikanmu?"

Pertanyaan itu menghantam Maya seperti gelombang air dingin. Dia tidak menyangka Irwan akan bertanya begitu langsung. Bagaimana aku harus menjawab ini? pikirnya. Aku sudah berjanji jujur, tapi ini bisa menyakitinya lebih dalam.

"Itu..." Maya memulai dengan hati-hati, "itu sesuatu yang baru dan... refreshing, kurasa." Dia mencoba menyusun kata-katanya dengan hati-hati. "Aku nggak akan bilang aku suka atau nggak suka. Itu pengalaman yang... berbeda."

Irwan mengangguk pelan, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya. "Jadi kamu nggak yakin apakah kamu menyukainya atau tidak?"

Maya menggeleng lagi. "Bukan begitu. Aku..." Dia menarik napas dalam. "Itu memang... menarik. Tapi aku juga suka caramu yang lembut, Say. Selalu mengutamakan kenyamananku, selalu memikirkan perasaanku. Itu sesuatu yang sangat aku hargai."

Irwan tampak sedikit lega mendengar jawaban itu, bahunya turun sedikit. "Kamu nggak perlu mengatakan itu untuk membuatku merasa lebih baik, Yang."

"Aku nggak melakukannya untuk itu," Maya menegaskan, kini bergeser lebih dekat lagi hingga lutut mereka bersentuhan. "Itu memang yang aku rasakan."

Tangan Maya perlahan terulur, menyentuh pipi Irwan dengan lembut. Jari-jarinya menelusuri garis rahang suaminya, merasakan tekstur kasar dari janggut tipis yang mulai tumbuh. Hatinya mencelos melihat kilau kesedihan di mata Irwan, tapi juga ada pengertian di sana.

"Kamu satu-satunya yang aku cintai," Maya berbisik, perlahan mendekatkan wajahnya. "Dan aku selalu menyukai cara kita bercinta. Selalu."

Untuk membuktikan perkataannya, Maya menutup jarak di antara mereka, mengecup bibir Irwan dengan lembut. Awalnya hanya sentuhan ringan, tapi perlahan berubah lebih dalam saat Irwan membalas ciumannya.

Tangan Maya merambat ke dada Irwan, merasakan detak jantungnya yang cepat di bawah telapak tangannya. Dengan gerakan perlahan namun pasti, jari-jarinya mulai mengangkat kaus Irwan, menyusuri kulit hangat di baliknya.

"Yang..." Irwan berbisik di antara ciuman mereka, suaranya sedikit tercekat.

Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum lembut, tangannya terus bergerak melepaskan kaus Irwan, menariknya melewati kepala suaminya. Dadanya yang telanjang kini bersentuhan dengan piyama sutra Maya, menciptakan gesekan lembut yang mengundang desahan halus dari keduanya.

Saat Maya mendorong Irwan berbaring di tempat tidur, tangannya menelusuri lekuk tubuh suaminya dengan penuh kasih. Ciuman mereka semakin dalam, semakin menuntut. Jantung Maya berdebar kencang, merasakan hasrat yang familiar namun tetap memikat. Ini berbeda dari apa yang dia rasakan bersama Pak Karyo—tidak seintens, tidak seliar, tapi mengandung kelembutan dan koneksi emosional yang jauh lebih dalam.

Maya melepaskan ciuman mereka sejenak, mengambil napas sambil memandang wajah Irwan. Matanya berbinar dalam keremangan, wajahnya memerah dengan gairah yang terbangun. Ini suamiku, pikir Maya, pria yang aku cintai dengan seluruh hatiku.

"Say..." Maya berbisik, jemarinya perlahan membuka kancing piyamanya satu per satu. "Aku ingin kita... malam ini..."

Irwan mengangguk, tangannya kini ikut membantu membuka kancing piyama Maya. Matanya tak lepas dari tatapan istrinya, mencari ketulusan di baliknya. Yang dia temukan membuat hatinya ringan—cinta, hasrat, dan janji akan keintiman yang hanya mereka bagi berdua.

Saat piyama Maya terbuka, memperlihatkan kulit putihnya yang lembut, Irwan menarik napas tajam. Dia selalu terpesona oleh kecantikan istrinya, selalu merasa beruntung bisa mencintai dan dicintai Maya. Tangannya dengan lembut menyusuri bahu Maya, meloloskan piyamanya hingga meluncur turun dari tubuhnya.

"Kamu cantik sekali," bisik Irwan, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Maya seperti melihatnya untuk pertama kali.

Maya tersenyum, menunduk untuk mencium Irwan lagi, kali ini lebih dalam dan lebih menuntut. Tangannya bergerak ke selatan, menelusuri perut Irwan hingga mencapai karet celana pendeknya. Dengan satu gerakan lembut, dia menariknya turun.


Malam semakin larut di desa kecil itu. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar masuk melalui jendela yang terbuka. Bulan setengah bersembunyi di balik awan, menciptakan bayangan gelap dan terang yang menari di halaman rumah sederhana Pak Karyo. Dia terduduk di bangku kayu di teras depan, matanya menerawang ke kegelapan, sementara pikirannya berkecamuk dengan berbagai pilihan dan konsekuensi. Suara jangkrik dan kodok bersahutan dari sawah tak jauh dari rumahnya, menciptakan melodi malam yang familier namun terasa asing setelah enam bulan di Jakarta.

Aku kudu piye saiki? Ratih isih nesu. Dani wis turu. Opo aku kudu mulih wae nang Jakarta? (Aku harus bagaimana sekarang? Ratih masih marah. Dani sudah tidur. Apa aku harus pulang saja ke Jakarta?) Karyo menghela napas panjang, jemarinya yang kasar mengusap wajahnya yang lelah. Bahkan di kegelapan, garis-garis usia dan kerja keras terlihat jelas mengukir wajahnya. Sudah dua jam berlalu sejak Budi pamit pulang, dan hampir empat jam sejak Ratih mengusirnya dari kamar mereka.

Tenggorokannya terasa kering. Semalam, meski tidur di sofa hanya berjarak beberapa meter dari kamar, Karyo tak berani menyentuh Ratih. Bukan hanya karena amarah istrinya itu—tapi karena rasa bersalah yang menggerogotinya dari dalam. Setiap kali menutup mata, bayangan Maya muncul—tubuhnya yang putih mulus, desahannya yang tertahan, caranya memanggil "Mas Karyo" dengan suara memohon. Rasa bersalah itu menciptakan tembok tak kasat mata yang membuatnya tak bisa mendekati istri sendiri.

Suara langkah kaki lembut dari belakang membuat Karyo menoleh. Ratih berdiri di ambang pintu, mengenakan daster putih sederhana dengan rambut tergerai. Cahaya bulan yang mengintip dari balik awan menyinari sebagian wajahnya, menonjolkan tulang pipinya yang tinggi dan bibir penuhnya yang kini terkatup rapat. Meski dalam keremangan, Karyo bisa melihat mata istrinya sembab dan wajahnya pucat. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari ekspresinya—amarah yang tadi siang begitu meluap kini tampak lebih tenang, digantikan oleh kekhawatiran dan perhitungan praktikal yang tak bisa disembunyikan.

"Ora turu, Mas?" (Tidak tidur, Mas?) Ratih bertanya pelan, masih berdiri di ambang pintu, seolah ragu untuk melangkah lebih dekat.

Karyo menggeleng, "Durung ngantuk." (Belum mengantuk.)

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Jangkrik dan serangga malam lainnya menciptakan simfoni yang mengisi kekosongan di antara mereka. Ratih perlahan melangkah keluar, duduk di ujung bangku yang sama, menjaga jarak aman dari suaminya. Keduanya menatap lurus ke depan, tidak saling memandang.

"Mas arep bali nang Jakarta kapan?" (Mas mau pulang ke Jakarta kapan?) Ratih akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar pahit namun terkendali.

Karyo menoleh, terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Aku durung ngerti, Dik. Aku..." (Aku belum tahu, Dik. Aku...)

"Mas arep ninggal aku karo Dani terus maneh ta?" (Mas mau meninggalkan aku sama Dani lagi ya?) Ratih memotong, suaranya mulai bergetar. "Opo Mas arep ajak aku pindah nang kana? Dadi pembantu bareng karo Mas?" (Apa Mas mau ajak aku pindah ke sana? Jadi pembantu bareng sama Mas?)

"Ora ngono, Dik..." (Tidak begitu, Dik...)

"Terus piye? Sampeyan wis nduwe 'majikan' anyar sing luwih ayu, luwih dewasa, luwih sugih?" (Terus bagaimana? Kamu sudah punya 'majikan' baru yang lebih cantik, lebih dewasa, lebih kaya?) Ratih menatap suaminya langsung, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sampeyan ngilangke aku karo anakmu, terus urip karo wong wedok kuwi?" (Kamu menghilangkan aku sama anakmu, terus hidup sama perempuan itu?)

Karyo menggeleng kuat, "Ora bakal, Dik! Aku dudu lanang sing ninggal tanggung jawabe. Aku ora bakal ninggal kowe lan Dani. Ora mergo sopo wae." (Tidak akan, Dik! Aku bukan laki-laki yang meninggalkan tanggung jawabnya. Aku tidak akan meninggalkan kamu dan Dani. Tidak karena siapa pun.)

Ratih tertawa getir, air matanya kini jatuh perlahan, mengkilap seperti mutiara di bawah cahaya bulan yang redup. "Aku ngerti aku isih enom, Mas. Isih koyok bocah. Aku malah luwih enom timbang Mas Budi. Aku bodho, ora bisa ngomong boso Inggris koyok majikanmu kae." (Aku tahu aku masih muda, Mas. Masih seperti anak kecil. Aku bahkan lebih muda daripada Mas Budi. Aku bodoh, tidak bisa bicara bahasa Inggris seperti majikanmu itu.)

"Wong wedok kuwi wis tuwo, Dik. Umure wis telung puluh papat!" (Perempuan itu sudah tua, Dik. Umurnya sudah tiga puluh empat!) Karyo bergeser, mendekat ke arah Ratih. "Kowe ayu, isih enom, isih seger. Akeh wong lanang sing meri karo aku duwe bojo koyok kowe." (Kamu cantik, masih muda, masih segar. Banyak laki-laki yang iri sama aku punya istri seperti kamu.)

"Terus kenopo sampeyan gelem nglakoni kuwi karo dheweke?" (Terus kenapa kamu mau melakukan itu sama dia?) Ratih bertanya, suaranya rendah dan terluka.

Karyo menghela napas, tangannya kini berani menyentuh bahu Ratih. "Kuwi mung bisnis, Dik. Aku ngewangi majikanku ben ndang nduwe anak. Wong sugih koyo dheweke ora bakal mandeng wong koyok aku. Dheweke wis nduwe bojo sing pinter lan sugih." (Itu cuma bisnis, Dik. Aku membantu majikanku biar cepat punya anak. Orang kaya seperti dia tidak akan memandang orang seperti aku. Dia sudah punya suami yang pintar dan kaya.)

"Terus opo untunge kanggo awake dhewe?" (Terus apa untungnya buat kita?) tanya Ratih, masih skeptis.

"Dhuwit, Dik. Dhuwit kanggo masa depane Dani. Kanggo kowe. Kanggo awake dhewe kabeh." (Uang, Dik. Uang untuk masa depannya Dani. Untuk kamu. Untuk kita semua.) Karyo menerangkan dengan sungguh-sungguh. "Wong-wong kuwi ora bisa nduwe anak dhewe, bojone mandhul. Aku ngewangi ben bojone bisa meteng. Iku kabeh." (Orang-orang itu tidak bisa punya anak sendiri, suaminya mandul. Aku membantu agar istrinya bisa hamil. Itu saja.)

Ratih menunduk, jemarinya memilin ujung dasternya. Kain tipis itu melekat di tubuhnya yang masih kencang meski telah melahirkan. "Tapi sampeyan ngomong karo aku yen sampeyan seneng... karo awakke." (Tapi kamu bilang sama aku kalau kamu senang... sama badannya.)

"Kuwi mung nafsu lanang, Dik. Ning atiku mung ono sliramu." (Itu cuma nafsu laki-laki, Dik. Tapi di hatiku cuma ada kamu.) Karyo mengangkat dagu Ratih perlahan, membuat mata mereka bertemu. "Aku nduweni barang sing wong-wong kuwi ora nduweni—aku isih subur, isih bisa gawe anak. Kuwi karuniaku, karuniane awake dhewe. Lan aku mung mbagi sithik kanggo wong-wong sing butuh." (Aku punya sesuatu yang orang-orang itu tidak punya—aku masih subur, masih bisa bikin anak. Itu karuniaku, karunia kita. Dan aku cuma berbagi sedikit untuk orang-orang yang butuh.)

Angin malam bertiup lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Ratih. Karyo dengan lembut menyibakkannya, mengagumi bagaimana cahaya bulan yang samar membuat wajah muda istrinya tampak bercahaya. Kulitnya yang coklat madu terlihat halus, bibirnya yang penuh sedikit terbuka. Dia merasakan kerinduan yang mendalam pada kedekatan mereka, pada sentuhan kulit halus Ratih.

"Wis sewengi iki kowe ora gelem tak cedhaki, Dik," (Sudah semalam ini kamu tidak mau kudekati, Dik) kata Karyo, tangannya perlahan membelai lengan Ratih yang terbuka. "Aku wedi. Wedi nek kowe nesu. Wedi nek kowe nolak." (Aku takut. Takut kalau kamu marah. Takut kalau kamu menolak.)

Ratih masih diam, tapi mata besarnya tak lepas dari wajah Karyo. "Wingi bengi aku nangis terus, Mas." (Kemarin malam aku menangis terus, Mas.)

"Aku ngerti, Dik. Aku krungu soko njero." (Aku tahu, Dik. Aku dengar dari dalam.) Karyo mengakui, jari-jarinya kini berani naik, menyentuh leher Ratih dengan lembut. "Aku pengen ngrangkul, pengen ngleremke, ning aku ora wani." (Aku ingin memeluk, ingin menenangkan, tapi aku tidak berani.)

"Opo kowe kangen karo aku, Dik? Karo awakku?" (Apa kamu kangen sama aku, Dik? Sama tubuhku?) Karyo bertanya lembut, tangannya perlahan turun ke leher Ratih, lalu bergerak ke bahunya. Kulit Ratih terasa hangat di bawah telapak tangannya yang kasar.

Ratih menelan ludah, dadanya naik turun lebih cepat. "Mas..." bisiknya pelan.

"Wis nem sasi aku ora nyekel awakmu, Dik." (Sudah enam bulan aku tidak menyentuh tubuhmu, Dik.) Suara Karyo semakin dalam, tangannya bergerak turun ke punggung Ratih, merasakan halus kulitnya melalui kain tipis daster. "Saben bengi nang Jakarta aku ngimpi kowe. Awakmu. Ambumu. Swaramu nek lagi menggeh-menggeh." (Setiap malam di Jakarta aku memimpikan kamu. Tubuhmu. Aromamu. Suaramu saat sedang mendesah.)

"Tenan po ora, Mas?" (Beneran atau tidak, Mas?) Ratih bertanya, suaranya bergetar antara ragu dan berharap.

"Tenan, Dik. Tenan tenan." (Beneran, Dik. Beneran beneran.) Karyo berbisik, kini berani mendekatkan bibirnya ke telinga Ratih. "Opo kowe ora kangen karo aku? Karo tanganku? Karo lambenku?" (Apa kamu tidak kangen sama aku? Sama tanganku? Sama bibirku?)

Ratih tidak menjawab, tapi Karyo bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Dia memanfaatkan kesempatan itu, bibirnya perlahan menyentuh daun telinga Ratih, lalu turun ke lehernya, memberikan ciuman-ciuman ringan yang membuat Ratih tersentak kecil.

"Aku pengen ngrasakke awakmu maneh, Dik." (Aku ingin merasakan tubuhmu lagi, Dik.) Karyo berbisik di antara ciumannya. "Pengen ngrasakke wetengmu sing alus, payudaramu sing kenyal, pupumu sing kenceng." (Ingin merasakan perutmu yang halus, payudaramu yang kenyal, pahamu yang kencang.)

Ratih menahan napas saat tangan Karyo bergerak naik, menyentuh sisi tubuhnya dengan sentuhan yang familiar namun terasa baru setelah berbulan-bulan. Tubuhnya menegang, berjuang antara kemarahan yang masih tersisa dan kerinduan fisik yang tak bisa disangkal.

"Tanganmu wis reget, Mas," (Tanganmu sudah kotor, Mas) bisik Ratih, suaranya bergetar antara kemarahan dan gairah. "Wis nyekel wong wedok liyo." (Sudah menyentuh perempuan lain.)

Karyo menghentikan ciumannya sejenak, menatap mata Ratih dalam-dalam. "Iku mung tugas, Dik. Ning awakku, jiwaku, atiku, tetep kanggo sliramu." (Itu cuma tugas, Dik. Tapi tubuhku, jiwaku, hatiku, tetap untukmu.)

"Piye carane aku percaya maneh?" (Bagaimana caranya aku percaya lagi?) Ratih bertanya, air matanya kembali menggenang. "Piye nek ngerti kowe wis nyenengke wong wedok liyo? Opo maneh sing ngluwihi aku?" (Bagaimana kalau tahu kamu sudah menyenangkan perempuan lain? Apalagi yang melebihi aku?)

Karyo menggerakkan tangannya ke wajah Ratih, menghapus air mata yang mulai jatuh. "Ora ono sing iso ngluwihi sliramu, Dik." (Tidak ada yang bisa melebihi kamu, Dik.) Dia bergeser lebih dekat. "Aku iso buktekke saiki." (Aku bisa buktikan sekarang.)

"Piye?" (Bagaimana?) Ratih menantang, tatapannya mengiris dalam.

"Aku pengen ngrasakke awakmu maneh, Dik," (Aku ingin merasakan tubuhmu lagi, Dik) Karyo mengulurkan tangan, menyentuh bibir Ratih dengan ibu jarinya. "Pengen ngrasakke lambemu sing legi." (Ingin merasakan bibirmu yang manis.)

Bintang-bintang berkilauan di langit, menjadi saksi bisu pertemuan dua tubuh yang telah lama terpisah. Bulan sesekali mengintip dari balik awan, menyinari teras sempit itu dengan cahaya perak yang temaram.

"Dik..." Karyo berbisik, bibirnya kini hanya berjarak beberapa senti dari bibir Ratih. "Apa kowe kangen karo manukku?" (Apa kamu kangen sama burungku?)

Ratih menggigit bibirnya, terkejut dengan pertanyaan vulgar itu, tapi tubuhnya berkhianat—matanya turun sekilas ke arah selangkangan Karyo. "Mas!" protesnya pelan, tapi tidak menjauh.

"Aku weroh nek kowe kangen," (Aku tahu kalau kamu kangen) Karyo berbisik, tangannya perlahan bergerak ke paha Ratih, menyibak daster tipisnya. "Opo kowe kangen karo manukku sing gedhe? Sing iso gawe kowe menggeh-menggeh tekan esuk?" (Apa kamu kangen sama burungku yang besar? Yang bisa bikin kamu mendesah sampai pagi?)

"Mas ora isin ngomong ngono?" (Mas tidak malu bicara begitu?) Ratih bertanya, tapi tubuhnya mulai merespons—kakinya sedikit terbuka, memberikan akses lebih untuk tangan Karyo.

"Ora isin karo bojoku dhewe," (Tidak malu sama istriku sendiri) Karyo menjawab, tangannya kini bergerak lebih berani, menyusuri paha dalam Ratih yang hangat. "Awakmu wis akeh sing berubah, Dik?" (Tubuhmu sudah banyak yang berubah, Dik?)

Ratih menggeleng pelan, "Ora akeh..." (Tidak banyak...)

"Akeh sing ngomong nek wong wedok entuk dadi lemu sawise lahiran, ning kowe malah tambah ayu, Dik," (Banyak yang bilang kalau perempuan boleh jadi gemuk setelah melahirkan, tapi kamu malah tambah cantik, Dik) puji Karyo, tangannya semakin naik, jari-jarinya menyusuri bagian paling sensitif Ratih melalui kain dalamnya yang tipis.

"Ahh..." Ratih mendesah pelan, tubuhnya bereaksi secara alami terhadap sentuhan suaminya. "Mas... ojo nang kene..." (Mas... jangan di sini...)

"Aku wis ora kuwat, Dik," (Aku sudah tidak kuat, Dik) Karyo mengaku, tangannya semakin berani. "Iki lho, manukku wis tangi, kangen karo awakmu." (Ini lho, burungku sudah bangun, kangen sama tubuhmu.)

Untuk membuktikan kata-katanya, Karyo mengambil tangan Ratih, mengarahkannya ke selangkangannya yang sudah keras dan menonjol di balik celana kainnya. Ratih tersentak, tapi tidak menarik tangannya.

"Iki isih manukku sing biyen to, Dik? Sing gedhe? Sing dowo? Sing tau gawe kowe njerit-njerit nang kasur?" (Ini masih burungku yang dulu kan, Dik? Yang besar? Yang panjang? Yang pernah bikin kamu menjerit-jerit di kasur?) Karyo semakin vulgar, bibirnya kini menelusuri leher Ratih.

"Mas... iki nang njero wae..." (Mas... ini di dalam saja...) Ratih akhirnya menyerah, tubuhnya tak bisa lagi menolak pesona suaminya.

Karyo tersenyum penuh kemenangan, "Aku pengen ngrasakke jembulmu sing alus kae, Dik. Wis suwe ora tak elus-elus." (Aku ingin merasakan bulu kemaluanmu yang halus itu, Dik. Sudah lama tidak kuelus-elus.)

"Mas!" Ratih mencubit lengan Karyo, tapi rona merah di pipinya terlihat jelas bahkan dalam keremangan. "Ojo ngomong saru ngono..." (Jangan bicara vulgar begitu...)

"Lha terus piye? Aku kudu ngomong opo? Wadhahmu sing sempit? Toket-toketmu sing montok? Bokong sing kenceng?" (Lha terus bagaimana? Aku harus bicara apa? Lubangmu yang sempit? Payudaramu yang montok? Pantat yang kencang?) Karyo menggoda, sambil tangannya kini berani masuk ke dalam daster Ratih, meraba kulit telanjangnya.

Ratih menyerah, tubuhnya kini sepenuhnya ada dalam kendali Karyo. "Wis ta, Mas... ayo nang njero wae," (Sudahlah, Mas... ayo ke dalam saja) ia memohon, khawatir ada tetangga yang mungkin masih terjaga.

Karyo mengangkat tubuh Ratih dengan mudah, lengan-lengannya yang kuat hasil bertahun-tahun bekerja fisik melingkari tubuh mungil istrinya. Ratih mengalungkan tangannya di leher Karyo, wajahnya tersembunyi di ceruk leher suaminya, malu sekaligus bergairah.

"Dik, iki aku nang ngomah. Kowe bojoku. Iki wong lanangmu sing asli," (Dik, ini aku di rumah. Kamu istriku. Ini laki-lakimu yang asli) bisik Karyo sembari membawa Ratih masuk ke dalam rumah, menuju kamar mereka. "Bengi iki aku arep mbuktekne nek aku tetep bojone Ratih, bapake Dani." (Malam ini aku akan membuktikan kalau aku tetap suaminya Ratih, bapaknya Dani.)

Ratih hanya mengangguk dalam pelukannya. Tubuhnya sudah rindu, hatinya masih terluka, tapi malam ini ia memutuskan untuk menerima kembali suaminya—setidaknya tubuhnya. Urusan hati, bisa dipikirkan besok pagi. Yang ia butuhkan sekarang adalah sentuhan Karyo, pembuktian bahwa ia masih menjadi wanita yang diinginkan, masih menjadi istri yang dicintai.

Karyo mendorong pintu kamar dengan kakinya, membawanya ke tempat yang familier namun terasa asing setelah enam bulan. Tempat tidur sederhana itu masih dihiasi seprai yang sama, masih wangi deterjen yang sama, masih menawarkan kehangatan yang sama. Dengan lembut ia menurunkan Ratih, matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya yang kini terlihat pasrah dan penuh harap.

"Dik, aku janji, aku ora bakal ninggalke kowe lan Dani. Aku janji," (Dik, aku janji, aku tidak akan meninggalkan kamu dan Dani. Aku janji) ucap Karyo sungguh-sungguh, sebelum bibirnya menutup bibir Ratih dalam ciuman yang dalam dan menuntut.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com