Maya akhirnya turun untuk makan malam. Setiap langkahnya hati-hati dan sedikit terpincang - jejak aktivitas intens yang baru saja dia lewati. Dia berjalan dengan postur aneh, berusaha menjaga agar benih Pak Karyo tetap di dalam, tidak ingin menyia-nyiakan sedikitpun.
Lingerie hitamnya yang kusut dia tutupi dengan jubah tidur sutra, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan bekas-bekas kemerahan yang menyembul di leher dan dadanya. Rambutnya yang basah oleh keringat dibiarkan tergerai, terlalu lelah bahkan untuk menyisir. Make-up yang luntur oleh keringat dan air mata kenikmatan tidak dipoles ulang, membiarkan wajahnya menampilkan rona pasca bercinta yang begitu kentara.
"Tiga jam," Irwan berkata pelan, menatap istrinya yang berjalan tertatih. Suaranya datar, tapi matanya memancarkan campuran kecewa dan cemburu yang mendalam.
Maya duduk dengan sangat hati-hati, menahan erangan saat bagian sensitifnya menyentuh kursi. Dia melihat ekspresi Irwan dan langsung merasa bersalah. "Aku... nggak nyadar waktunya jalan," ucapnya pelan.
"Tiga jam, Maya," Irwan ngulang, rahangnya mengeras. "Dan aku denger... semuanya."
Maya menunduk, rasa malu dan bersalah bercampur di dadanya. Tapi jauh di benaknya, ada rasa puas yang tidak bisa dia pungkiri. "Maaf," bisiknya.
"Aku nggak pernah denger kamu..." Irwan ngeliatin tangannya di atas meja, suaranya bergetar. "Nggak pernah denger kamu jerit-jerit gitu. Sama siapapun. Termasuk aku."
Maya menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa bohong – Irwan benar. "Yang, aku—"
"Tiga jam, Maya," Irwan menggeleng, matanya nanar. "Tiga jam aku duduk di bawah, denger kamu teriak 'Suka... aku... suka banget...' dan 'Sukaaaa! Aku suka banget!' Kamu kedengeran... kesetanan. Kayak kerasukan. Aku nggak percaya itu kamu."
Maya mengalihkan pandangan, tangannya gemetar.
"Terus aku denger dia bilang 'Emang majikan suka ya, dientot pembantunya?' Dan kamu—" Irwan menelan ludah pahit, "—kamu diem aja. Bahkan minta lebih. Maya yang aku kenal nggak akan ngebiarkan siapapun ngomong ke dia dengan nada merendahkan gitu."
"Irwan, aku—"
"Dan yang bikin aku benar-benar nggak kenal kamu lagi," Irwan memotong, suaranya nyaris berbisik, "Aku denger kamu teriak 'Tolong... Pak Karyo... entot aku lebih keras...' dan 'Mmhh... kontolnya... gede banget...' Itu bukan kata-kata kamu, Maya. Kamu nggak pernah ngomong vulgar kayak gitu. Tapi sekarang... siapa kamu sebenarnya?"
Maya menutup wajahnya dengan tangan, air mata mulai mengalir di antara jari-jarinya. "Yang, aku... aku nggak bisa jelasin. Aku sendiri nggak ngerti kenapa aku bisa kayak gitu."
"Kamu berubah total," Irwan menggeleng tak percaya. "Kayak ada Maya lain yang selama ini tersembunyi."
"Mungkin emang gitu," Maya berbisik, akhirnya berani menatap mata Irwan. "Mungkin ada bagian dari aku yang... yang selama ini nggak berani aku tunjukin."
Irwan tertawa getir. "Dan kamu nunjukin itu ke pembantu kita? Bukan ke suami kamu?"
"Bukan gitu, Yang..." Maya mengusap air matanya. "Aku nggak bisa ngejelasin... itu seperti... aku nggak punya kendali sama sekali. Aku tau itu salah, tapi..."
"Tapi kamu nikmatin," Irwan menyelesaikan kalimatnya. "Itu yang bikin sakit, Maya. Kamu nikmatin."
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Maya tidak bisa membantah. Dia memang menikmatinya, meskipun dia tahu itu salah.
Irwan menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Jadi sekarang gimana? Program hamil ini..." dia menatap Maya dengan tatapan yang sulit dibaca, "Kalian bakal ngelakuin ini setiap hari?"
"Selama masa subur," Maya jawab jujur, suaranya nyaris bisikan. Dia tahu jawaban itu akan menyakiti Irwan, tapi dia juga tidak bisa bohong. "Biar peluangnya lebih gede."
Pak Karyo masuk ke ruang makan, membawa seteko air dingin dan beberapa lembar tisu. Dia melihat mata Maya yang berkaca-kaca, dan gerakan tangannya yang gemetar. Dengan langkah tenang namun sedikit lebih cepat dari biasanya, dia mendekati meja.
"Permisi," ucapnya sopan, meletakkan tisu di samping Maya dengan gerakan halus. Saat menuangkan air ke gelas Maya, tangannya yang kasar dengan sengaja menyentuh punggung Maya sekilas—sentuhan singkat yang menenangkan, tersembunyi dari pandangan Irwan oleh posisi tubuhnya.
Maya mendongak, merasakan kehangatan dari sentuhan itu. Air matanya yang hampir jatuh tertahan sejenak. Tatapan mereka bertemu, dan walaupun wajah Pak Karyo tetap tenang seperti biasa, matanya menyampaikan pesan bisu: "Tenang, Bu. Saya di sini."
"Makasih, Pak," ucap Maya pelan, mengambil tisu dengan tangan gemetar.
Pak Karyo mengangguk sopan. "Sama-sama, Bu," jawabnya formal. Irwan menatap interaksi itu dengan dahi berkerut, membuat Pak Karyo segera mengambil langkah mundur dan berbalik menuju dapur. Suara peralatan dapur terdengar beberapa saat kemudian, menandakan dia kembali ke tempatnya yang semestinya, namun dari sudut matanya dia masih mengawasi Maya dari balik pintu dapur yang setengah terbuka.
"Kalian kayak punya rahasia," ucap Irwan pelan, memecah keheningan. "Tatapan kalian tadi... ada sesuatu di sana."
Maya menegang, tangannya menggenggam tisu lebih erat. "Maksud kamu apa?"
"Cara dia memandang kamu, cara kamu bereaksi ke dia," Irwan mengamati Maya dengan seksama. "Kamu ngelakuin banyak hal buat dia."
Maya mengernyitkan dahi. "Seperti apa?"
"Aku denger semuanya, Maya," Irwan menatap istrinya intens. "Semua. Desahan kamu, teriakan kamu..." Dia berhenti sejenak, wajahnya mengeras. "Suara... suara aneh lain."
Maya hampir tersedak air yang diminumnya. "Suara... aneh?"
"Kayak..." Irwan terlihat tidak nyaman saat mencari kata yang tepat. "Kayak kamu... ngelakuin sesuatu pake mulut."
Maya merasakan jantungnya berhenti sedetik. Irwan mendengar itu? Mendengar bagaimana dia... Dia tidak berani melanjutkan pikirannya.
"Kamu ngelakuin itu sama dia?" tanya Irwan, suaranya hampir berbisik. "Yang selalu kamu tolak kalo aku minta?"
Maya tidak bisa menjawab, terlalu malu. Tapi diamnya sudah cukup untuk Irwan.
"Ya Tuhan," Irwan tertawa getir. "Aku bahkan nggak bisa..." Dia menggeleng karena tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Yang, aku..." Maya berusaha berbicara, namun tidak menemukan kata-kata yang tepat. Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dia sendiri tidak mengerti kenapa dia mau melakukan itu dengan Pak Karyo? Sesuatu yang selama ini dia anggap menjijikkan?
"Ya Tuhan," Irwan tertawa getir, suaranya pecah di tengah kalimat. Tangannya mengacak rambut dengan frustasi, matanya menatap hampa ke arah makanan yang sudah dingin di hadapannya. "Aku bahkan nggak bisa..."
Maya menatap suaminya dengan campuran rasa bersalah dan... sesuatu yang lain. Jari-jarinya yang lentik memainkan serbet makan di pangkuannya, melipatnya menjadi segitiga kecil, lalu membukanya lagi. Siklus berulang yang mencerminkan kekacauan pikirannya.
"Kamu..." Irwan menarik napas, mencoba mengendalikan diri. Tatapannya tiba-tiba mengeras, langsung menembus mata Maya. "Kamu beneran ngelakuin itu ke dia? Pake mulut kamu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara beberapa detik. Maya bisa merasakan detak jantungnya sendiri di telinganya.
"Iya." Suaranya nyaris tak terdengar. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat Irwan terlihat seperti baru saja ditampar.
Irwan mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya bertumpu pada meja makan mahal yang dulu mereka beli bersama di Bali. "Gimana bisa?" Dia menggelengkan kepala tidak percaya. "Enam tahun, Maya. Selama enam tahun pernikahan kita, setiap kali aku minta—setiap kali—kamu selalu bilang itu menjijikkan, jorok, nggak higienis." Suaranya semakin meninggi. "Tapi sama pembantu kita? Sama orang yang nyapu lantai kita?"
Maya meneguk air dari gelasnya, mencoba meredakan tenggorokannya yang kering. "Awalnya aku juga nolak keras," dia mulai menjelaskan, matanya tertuju pada taplak meja. "Waktu di hotel, efek obat bikin aku lebih... penurut. Tapi kali ini, di rumah, aku sadar sepenuhnya."
Dia menarik napas. "Pertama aku benar-benar nolak. Aku bilang itu jorok banget. Tapi dia..." Maya menggigit bibir bawahnya, "dia bilang itu bisa bikin dia lebih bergairah lagi, jadi bisa nglakuin ronde tambahan. Lebih banyak kesempatan hamilin aku."
Matanya bertemu dengan Irwan sejenak, mencari pemahaman. "Dia kemudian dorong kepalaku ke bawah, nggak kasar, tapi... tegas. Tangannya di rambutku, ngarahin aku. Aku... nggak punya pilihan kecuali nyoba."
Suara langkah kaki dari dapur membuat Maya terdiam. Pak Karyo muncul dengan membawa nampan berisi hidangan utama—beef wellington yang sempurna dengan saus red wine. Ironi pahit dari makan malam romantis yang seharusnya mereka nikmati berdua.
Pak Karyo bergerak dengan efisiensi yang sama seperti biasanya. Sikapnya tetap profesional, punggungnya sedikit membungkuk saat meletakkan piring-piring di hadapan mereka. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam caranya berjalan—percaya diri yang sedikit lebih tinggi, langkah yang sedikit lebih tegas.
"Selamat menikmati, Pak, Bu," ucapnya sopan.
Saat menuangkan air untuk Maya, posisinya sedikit berubah. Tubuhnya condong ke arah Maya, bibirnya hampir menyentuh telinga wanita itu. Napasnya yang hangat menggelitik kulit Maya saat dia berbisik.
"Mulut Bu Maya enak banget," bisiknya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Maya. "Makasih udah bikin saya jadi pria pertama yang Bu Maya puasin pake mulut. Istri saya aja nggak seliat Bu Maya waktu belajar."
Darah Maya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya kaku seperti patung, sensasi panas menjalar dari leher ke seluruh wajahnya. Napasnya tertahan, jantungnya berdebar kencang, takut Irwan bisa mendengar. Di saat bersamaan, ada sensasi aneh di perutnya—campuran malu dan... gairah yang tidak seharusnya ada.
Irwan memperhatikan perubahan sikap istrinya dengan tajam. Matanya menyipit saat melihat bagaimana bibir Pak Karyo terlalu dekat dengan telinga Maya, bagaimana wajah Maya tiba-tiba memerah. "Terima kasih, Pak Karyo," ucapnya dingin, jelas memberikan isyarat untuk meninggalkan mereka.
Pak Karyo mengangguk hormat sebelum mundur ke dapur. Namun sebelum berbalik pergi, matanya bertemu dengan Maya sekilas—tatapan penuh arti yang tidak luput dari perhatian Irwan.
"Dia ngomong apa ke kamu?" Irwan bertanya tajam begitu Pak Karyo hilang dari pandangan.
Maya mengambil garpu, pura-pura tertarik dengan makanannya. "Nggak ada," jawabnya terlalu cepat. "Cuma tanya... apa makanannya udah sesuai selera."
"Maya..." suara Irwan rendah dan berbahaya. Matanya tidak lepas dari wajah Maya yang masih merona.
Maya meletakkan garpunya kembali, makanannya tak tersentuh. Dia menghela napas panjang, lalu menatap ke arah dapur, memastikan Pak Karyo tidak bisa mendengar.
"Yang tadi kamu tanya," ucapnya, mengalihkan pembicaraan dengan mulus, "tentang gimana aku bisa mau." Jari-jarinya memainkan cincin kawinnya. "Pertama kali rasanya benar-benar aneh. Teksturnya, baunya... beda banget dari yang kubayangkan."
Irwan ingin menghentikannya, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa jijiknya. Maya melanjutkan, kini suaranya lebih pelan, lebih intim—seolah berbagi rahasia.
"Aku tersedak berkali-kali. Dia minta aku... masukin lebih dalem, sampe tenggorokan. Tapi tiap kali nyoba, aku muntah." Maya tidak menyadari tangannya mengepal. "Dia bilang butuh latihan, istri dia di desa juga awalnya gitu. Nggak langsung bisa."
Irwan meringis, bayangan istrinya berlutut di hadapan pembantu mereka, berusaha menelan kejantanannya, terlalu nyata di benaknya. "Cukup," ucapnya, tapi Maya seolah tidak mendengar.
"Dia sabar ngajarin, meski jelas dia pengen lebih. Tangannya terus pegang kepalaku, nggak maksa, tapi ngarahin." Maya menatap kosong ke depan, seolah kembali ke momen itu. "Tiap kali aku narik napas, dia bilang 'bagus, Bu... dikit lagi'. Kayak... aku muridnya."
"Maya, kumohon," Irwan mencoba menghentikannya, tapi Maya terus bicara. Ada sesuatu yang hampir katartik dari pengakuan ini.
"Waktu dia mulai—" Maya berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, "—mulai bergerak di mulutku, aku panik. Tapi tangannya di rambutku, ngusap-ngusap, bikin aku tenang."
Irwan menatap Maya dengan ekspresi tak terbaca. "Jadi sekarang kamu..." dia menelan ludah dengan susah payah, "suka ngelakuin itu?"
"Nggak," Maya menggeleng tegas, tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya. "Aku nggak suka oral-nya sendiri. Rasanya tetep nggak nyaman, aku masih sering tersedak, dan..." dia menggeleng lagi, "bukan itu yang aku suka."
Dia menarik napas, matanya bertemu dengan Irwan. Ada kejujuran mentah dalam pandangannya. "Yang aku suka... apa yang terjadi setelahnya." Suaranya sedikit bergetar. "Kontolnya jadi keras banget setelah aku ngelakuin itu. Terus dia... dia ngentot aku kayak orang kesetanan. Sampe aku nggak bisa napas, nggak bisa mikir." Maya menelan ludah. "Itu yang bikin aku mau lakuin lagi. Bukan oral-nya, tapi... apa yang aku dapetin setelahnya."
Irwan menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. Wanita di hadapannya masih Maya—masih memiliki wajah yang sama, suara yang sama—tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti milik orang asing. Wanita yang selama ini dia kenal sebagai istri yang anggun dan terkontrol kini berbicara tentang seks dengan cara yang tak pernah dia bayangkan.
"Maya!" Irwan akhirnya bersuara, tangannya menggebrak meja pelan. Piring-piring bergemerincing, air dalam gelas bergoyang. Wajahnya merah padam, campuran marah, cemburu, dan... gairah yang tidak dia pahami. "Aku nggak kenal kamu lagi! Kamu ngomongin... ngomongin pembantu kita kayak..." dia kehilangan kata-kata.
"Kayak apa, Yang?" Maya menatap Irwan langsung, ada keberanian baru di matanya yang biasanya patuh. "Kayak dia bikin aku puas? Kayak dia bisa bikin aku orgasme berkali-kali?" Dia mencondongkan tubuhnya, suaranya berubah lembut. "Aku lagi jujur sama kamu. Kamu lebih suka aku bohong?"
Tangan Maya bergerak menyeberangi meja, menyentuh jemari Irwan dengan lembut. "Aku bisa aja bilang aku tersiksa banget, terpaksa, dan nggak nikmatin sedikit pun. Aku bisa aja bilang aku cuma mikirin program hamilnya, nggak ada perasaan lain." Matanya menatap dalam-dalam ke mata Irwan. "Tapi kenyataannya nggak gitu. Dan bukankah kejujuran yang kita butuhkan sekarang? Bukan kebohongan untuk melindungi egomu?"
Keheningan menyelimuti ruang makan. Dari dapur, terdengar suara samar peralatan makan dibersihkan—pengingat bahwa Pak Karyo masih ada di rumah, masih dekat. Irwan menatap tangannya yang kini digenggam Maya, lalu menatap wajah istrinya yang tidak lagi menyembunyikan apapun.
"Ini..." Irwan menarik napasnya dalam-dalam, dadanya naik turun dengan berat. Tangannya bergerak menarik diri dari sentuhan Maya. Matanya memancarkan luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata. "Ini jauh lebih sulit dari yang aku kira."
"Aku tau," Maya membalas, menggenggam tangannya erat. "Kita bisa berhenti kalo kamu mau."
Irwan melihat tangan mereka yang bertaut. "Dan kamu bakal kecewa," ucapnya pelan. "Kamu bakal terus ngebayangin gimana rasanya... sama dia."
Maya tidak langsung menyangkal, dan itu cukup untuk jawaban Irwan.
"Lanjutin aja," Irwan akhirnya berkata, meski matanya menunjukkan luka. "Tapi aku nggak tau berapa lama aku bisa tahan denger... suara-suara itu."
"Aku bakal lebih tenang," Maya berjanji, meski dalam hati tahu itu mustahil. Bagaimana mau tenang kalau Pak Karyo tahu persis cara membuatnya berteriak?
"Kamu cuma boleh lakuin ini selama masa subur," Irwan menambahkan, suaranya lebih tegas. "Nggak lebih dari itu. Dan kamu pulang ke kamar kita abis selesai."
Maya mengangguk cepat, bersyukur Irwan masih mau memberi kesempatan. "Iya, Yang. Aku janji."
Maya meletakkan sendoknya perlahan. Tangannya gemetar sedikit. Dia menarik napas dalam, lalu bangkit dari kursinya dengan hati-hati, sedikit meringis saat bagian sensitif tubuhnya menyentuh kursi. "Yang, aku... ke kamar dulu ya," bisiknya. "Aku butuh istirahat..."
"Maya—" Irwan berdiri setengah, tidak mau membiarkan percakapan berakhir begitu saja.
"Aku beneran capek, Yang," Maya tersenyum lemah. "Kita ngobrol lagi besok, ya? Aku..." dia memegang kepalanya. "Aku pusing."
"Kamu... nggak akan ngapa-apain lagi malem ini kan?" tanya Irwan pelan, matanya mencari keyakinan.
Maya menggeleng cepat. "Nggak, Yang. Aku cuma mau tidur." Dia mendekati Irwan, mencium pipinya lembut. "Kamu mau tidur bareng aku?"
Irwan tidak langsung menjawab. "Nanti," ucapnya akhirnya. "Aku masih ada kerjaan."
Maya mengangguk, memahami Irwan butuh waktu sendiri. "Aku tunggu," ucapnya lembut, meski tahu Irwan mungkin tidak akan naik sampai dia tertidur.
Maya berbalik menuju tangga. Dia merasakan mata Irwan mengikuti langkahnya yang tertatih. Bekas-bekas kemerahan menyembul dari balik jubah tidurnya, meski dia berusaha menarik jubahnya lebih rapat. Saat lewat dapur, dia tidak sengaja bertemu pandang dengan Pak Karyo yang sedang mengelap piring. Tatapan pria itu penuh arti, lidahnya sekilas menjilat bibir atas saat mata mereka bertemu. Maya buru-buru mengalihkan pandangan, dadanya berdesir aneh – campuran malu dan... antisipasi.
Di dapur, suara air mengalir dan denting piring terdengar berirama. Pak Karyo membersihkan peralatan makan dengan gerakan efisien yang biasa. Punggungnya yang biasanya sedikit membungkuk kini tegap. Tangannya yang kasar mengelap piring dengan gerakan melingkar yang mantap.
Irwan menggenggam cangkir kopinya yang dingin. Jemarinya memutih di pegangan porselen. Tatapannya bertemu sekilas dengan Pak Karyo saat pria itu kembali meletakkan piring. Tidak ada kata yang keluar. Pak Karyo membungkuk singkat—gestur hormat yang sama seperti sebelumnya, namun matanya tidak lagi tertunduk.
Tik. Tok. Jam dinding berdetak di keheningan yang mencekik
