𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟔𝟕

Ketegangan memenuhi ruangan saat Ratih menanyakan pertanyaan yang sudah lama mengganggu pikirannya: apakah Karyo benar-benar memiliki perasaan untuk Bu Maya? Pengakuan jujur Karyo bahwa dia memang membayangkan seperti apa rasanya memiliki istri seperti Bu Maya membuat Ratih tidak bisa menahan emosinya. Tangannya refleks memukul dada Karyo.

Karyo menangkap tangan Ratih yang masih menempel di dadanya. "Iya, Dik. Pancen mung program. Nanging aku manungsa biasa, Dik. Ono pikiran-pikiran ngono yo wajar to?" (Iya, Dik. Memang hanya program. Tapi aku manusia biasa, Dik. Ada pikiran-pikiran begitu ya wajar kan?) Dia menggenggam tangan Ratih erat.

"Elingo, wingi aku wis ngomong, nek program iki sukses lan aku iso dadi bojone Bu Maya, aku tetep ora bakal ninggal sliramu. Malah aku mikir, nek aku iso dadi bagian keluargane Bu Maya, uripmu lan Dani bakal luwih kepenak." (Ingatlah, kemarin aku sudah bilang, kalau program ini sukses dan aku bisa jadi suaminya Bu Maya, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Malah aku berpikir, kalau aku bisa jadi bagian keluarganya Bu Maya, hidupmu dan Dani akan lebih enak.)

"Sampeyan mikir ngono?" (Kamu berpikir begitu?) Ratih terdengar tidak percaya. "Ngimpi tenan awake, Mas!" (Bermimpi benar-benar kamu, Mas!) Dia mendengus, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Betapapun kejujuran Karyo menyakitkan, dia lebih memilih itu daripada kebohongan.

"Ning aku ngerti kuwi mung ngimpi, Dik," (Tapi aku tahu itu hanya mimpi, Dik,) lanjut Karyo, suaranya melembut. "Sepinter-pintere aku nang ranjang, Bu Maya tetep nganggep aku mung alat. Programne sukses, aku bakal dilalekke. Ora bakal ono kelanjutane." (Sepintar-pintarnya aku di ranjang, Bu Maya tetap menganggap aku hanya alat. Programnya sukses, aku akan dilupakan. Tidak akan ada kelanjutannya.)

Ratih terdiam, mencerna kata-kata suaminya. Di luar, suara ayam berkokok dan kesibukan pagi mulai terdengar. Dani mungkin akan bangun sebentar lagi. "Terus nek sampeyan ditawani program maneh? Opo bakal gelem?" (Terus kalau kamu ditawari program lagi? Apa akan mau?) tanyanya hati-hati, seolah tidak yakin ingin mendengar jawabannya.

Karyo mengerutkan dahi, berpikir sejenak. "Aku ora ngerti, Dik. Ning yen ana program maneh, aku janji bakal ngomong karo sliramu disik. Ora bakal ana sing tak umpetke." (Aku tidak tahu, Dik. Tapi kalau ada program lagi, aku janji akan bicara denganmu dulu. Tidak akan ada yang kusembunyikan.)

Ratih mengangguk pelan, menerima jawaban itu. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, dia memegang wajah Karyo dengan kedua tangannya, memaksa suaminya menatap langsung ke matanya. "Rungokno, Mas. Nek pancen perlu, aku ora bakal ngalangi sampeyan neruske program kae. Nek sampeyan pengin nyoba narik atine Bu Maya, aku yo ora masalah." (Dengarkan, Mas. Kalau memang perlu, aku tidak akan menghalangi kamu meneruskan program itu. Kalau kamu ingin mencoba menarik hatinya Bu Maya, aku juga tidak masalah.)

Karyo terperangah, tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari istrinya. "Dik..."

"Tapi ono siji syarat, Mas," (Tapi ada satu syarat, Mas,) potong Ratih, tatapannya tajam dan tidak terbantahkan. "Sampeyan ora oleh ninggal aku lan Dani. Pisan wae sampeyan duwe pikiran arep ninggal, langsung metu seko omah iki terus ojo balik maneh." (Kamu tidak boleh meninggalkan aku dan Dani. Sekali saja kamu punya pikiran mau meninggalkan, langsung keluar dari rumah ini terus jangan kembali lagi.)

"Ora bakal, Dik. Janjiku nang sliramu lan Dani ora bakal tak ingkari." (Tidak akan, Dik. Janjiku padamu dan Dani tidak akan kuingkari.) Karyo menjawab dengan sungguh-sungguh, tangannya menggenggam tangan Ratih yang masih menangkup wajahnya.

Ratih menurunkan tangannya dan tersenyum tipis. "Aku ngerti uripe awake dewe rekoso, Mas. Duwit sing mbok kirim yo cukup mung kanggo mangan sehari-hari lan sekolahe Dani. Nek program iki iso nggawe uripe awake dewe luwih kepenak, aku ora bakal ngalangi." (Aku tahu hidup kita susah, Mas. Uang yang kamu kirim ya cukup hanya untuk makan sehari-hari dan sekolahnya Dani. Kalau program ini bisa membuat hidup kita lebih enak, aku tidak akan menghalangi.)

Ada sesuatu yang berubah dalam cara Ratih menatap Karyo—sebuah pengertian dan penerimaan yang datang dari kesadaran akan realitas keras kehidupan mereka. Dalam masyarakat yang tidak adil, terkadang kesempatan datang dalam bentuk yang tidak terduga. Dan sebagai seorang istri dari keluarga sederhana, Ratih cukup bijak untuk tidak menolak kesempatan itu, selama keluarga kecil mereka tetap utuh.

Karyo memeluk Ratih erat, merasa beruntung memiliki istri yang begitu pengertian. "Ora perlu kuwatir, Dik. Program kuwi wis rampung. Saiki wektune aku fokus nang sliramu lan Dani maneh." (Tidak perlu khawatir, Dik. Program itu sudah selesai. Sekarang waktunya aku fokus padamu dan Dani lagi.)

"Tapi sampeyan isih kudu bali nang Jakarta to, Mas?" (Tapi kamu masih harus kembali ke Jakarta kan, Mas?) tanya Ratih, sedikit kekecewaan terdengar dalam suaranya.

"Iyo, Dik. Aku rak isih dadi tukang kebun lan pembantu nang omahe Bu Maya. Program kuwi pancen wis rampung, ning gaweanku tetep ana. Kudu nyiram tanduran, resik-resik omah, lan nyuci mobil saben dino." (Iya, Dik. Aku masih jadi tukang kebun dan pembantu di rumahnya Bu Maya. Program itu memang sudah selesai, tapi pekerjaanku tetap ada. Harus menyiram tanaman, bersih-bersih rumah, dan mencuci mobil setiap hari.) Karyo mengelus pipi Ratih dengan lembut.

"Saiki aku isih nduwe waktu telung dino maneh nang kene. Ojo dipikirke disik masalah sesuk-sesuke." (Sekarang aku masih punya waktu tiga hari lagi di sini. Jangan dipikirkan dulu masalah besok-besoknya.)

Ratih mendekatkan wajahnya, mencium Karyo dengan lembut. "Telung dino kudu dimanfaatke tenan, Mas." (Tiga hari harus dimanfaatkan betul, Mas.) Senyum nakal terbentuk di bibirnya. "Ning ojo banter-banter koyo wingi, aku isih lara nang kono." (Tapi jangan keras-keras seperti kemarin, aku masih sakit di situ.)

Karyo tertawa kecil, tangannya mulai bergerak nakal di bawah selimut. "Tenang ae, Dik. Aku iso alon-alon." (Tenang saja, Dik. Aku bisa pelan-pelan.)

Tepat saat suasana mulai memanas, terdengar langkah kecil berlari mendekati kamar mereka. "Bapak! Ibu!" Dani, putra bungsu mereka yang baru berusia tiga setengah tahun, menggedor pintu dengan tidak sabar. "Aku lapal! Aku lapal!" (Aku lapar! Aku lapar!)

Ratih terkikik melihat ekspresi kecewa di wajah Karyo. "Isone mung bengi-bengi, Mas, nek Dani wis turu." (Bisanya hanya malam-malam, Mas, kalau Dani sudah tidur) bisiknya sambil meraih daster yang tergantung di dekat ranjang.

"Sik, sik, Le. Ibu lan Bapak lagi siap-siap," (Sebentar, sebentar, Nak. Ibu dan Bapak sedang siap-siap) teriak Karyo sambil bergegas memakai celana pendek dan kaos yang tercecer di lantai.

Waktu berlalu begitu cepat bagi Karyo, setiap detik bersama keluarganya terasa begitu berharga hingga membuat hatinya nyeri. Pagi pertama di rumah, dia terbangun dengan Dani sudah melompat-lompat di atas tempat tidur mereka.

"Bapak! Bapak! Tangi! Ana kelinci nang omahe Pak Ranto!" (Bapak! Bapak! Bangun! Ada kelinci di rumahnya Pak Ranto!) Dani berteriak penuh semangat, matanya berbinar cerah.

Ratih tersenyum dari ambang pintu, membawa secangkir kopi panas. "Wis jam pitu, Mas. Mbok nek tangi." (Sudah jam tujuh, Mas. Ayo bangun.)

Sarapan sederhana—singkong rebus dan tempe goreng—terasa bagai perjamuan raja. Duduk di meja kayu sederhana, Karyo mendengarkan ocehan putranya sambil sesekali bertukar pandang dengan Ratih. Sungguh berbeda dari sarapan sendiriannya di Jakarta.

"Mas, gentenge bocor maneh. Nek udan gedhe, banyu ngocor tekan kamare Dani." (Mas, gentengnya bocor lagi. Kalau hujan besar, air mengalir sampai kamarnya Dani.) Ratih menunjuk ke arah langit-langit yang menghitam.

Siang itu, Karyo menghabiskan waktu memperbaiki atap rumah. Keringat membanjiri tubuhnya yang hanya bertelanjang dada. Dari ketinggian, dia bisa melihat seluruh pemandangan desa kecilnya—sawah hijau membentang, anak-anak bermain di tanah lapang, dan Ratih yang menjemur pakaian sambil mengawasi Dani.

Malam pertama setelah Dani tertidur pulas, Karyo mengunci pintu kamar mereka. Ratih duduk di tepi ranjang bambu yang berderit, mengenakan daster tipis yang sudah pudar warnanya.

"Kangen banget, Dik." (Kangen sekali, Dik.) Karyo berbisik, menarik Ratih ke dalam pelukannya.

"Aku yo kangen, Mas." (Aku juga kangen, Mas.) Ratih mengalungkan lengannya di leher Karyo.

Ciuman mereka dalam dan penuh kerinduan. Enam bulan berpisah membuat setiap sentuhan terasa seperti api yang membakar. Karyo mendorong Ratih berbaring, tangannya dengan cepat membuka kancing daster usang istrinya. Bibirnya turun ke leher, ke dada, membuat Ratih menggigit bibirnya menahan desahan.

"Mas... alon-alon... Dani iso krungu..." (Mas... pelan-pelan... Dani bisa dengar...) Ratih berbisik di antara napasnya yang memburu.

Karyo mengangguk, tapi tangannya tak melambat. Dia menyingkap daster Ratih hingga pinggang, menarik celana dalamnya turun dengan gerakan tidak sabar. Ketika akhirnya menyatukan tubuh mereka, Ratih harus menggigit bantal untuk meredam jeritannya.

"Posisi ngene iki sing tak kangen, Dik." (Posisi seperti ini yang kurindukan, Dik.) Karyo berbisik serak, pinggulnya bergerak semakin cepat. Tatapannya terpaku pada lekuk pinggang istrinya yang kini basah oleh keringat.

Keduanya saling berkejaran menuju puncak kenikmatan. Napas mereka memburu dalam irama yang semakin tidak beraturan. Karyo merasakan tubuh Ratih mulai menegang di bawahnya. Dengan gerakan lembut namun pasti, dia membalikkan tubuh istrinya, membuat mereka berhadapan.

"Pengin delok rupamu pas crot, Dik." (Ingin lihat wajahmu saat klimaks, Dik.) ucapnya dengan suara rendah yang bergetar oleh gairah.

Ratih mengalungkan kakinya di pinggang Karyo, menariknya lebih dalam. Mereka bergerak bersama dalam harmoni untuk beberapa saat hingga Ratih mendorong dada Karyo, memintanya berbaring. Karyo menurut, berbaring telentang dengan napas terengah. Ratih merangkak di atasnya, perlahan menurunkan tubuhnya. Erangan tertahan lolos dari bibir keduanya saat tubuh mereka kembali menyatu.

Cahaya bulan menyusup dari celah jendela, menyinari tubuh telanjang keduanya dengan cahaya keperakan. Ratih bergerak perlahan di atas pangkuan suaminya, matanya setengah terpejam menikmati sensasi yang merayapi tulang belakangnya.

"Mas... aja ngomong..." (Mas... jangan bicara...) Ratih berbisik terbata, bibirnya setengah terbuka, tubuhnya bergetar menahan nikmat.

Karyo mengangguk, tangannya meremas lembut payudara Ratih, kemudian turun menelusuri perut ratanya hingga bertemu di titik persatuan tubuh mereka. Jemarinya bergerak melingkar di sana, membuat Ratih menggigit bibirnya sendiri untuk menahan desahan.

Gerakan Ratih semakin cepat dan tidak beraturan. Karyo menahan pinggangnya, membantu iramanya. Namun sebelum mereka mencapai puncak, Ratih memperlambat gerakannya, menarik napas dalam-dalam, mengendalikan gairah yang hampir meledak. Dia turun dari pangkuan Karyo, berbalik membelakanginya, dan berlutut di atas ranjang. Tangannya mencengkeram ujung bantal, wajahnya terbenam di permukaan kasur untuk meredam suaranya.

Karyo berlutut di belakangnya, membelai punggung istrinya sebelum kembali memasukinya dengan satu gerakan pasti. Ratih mengerang tertahan ke dalam bantal. Karyo mencengkeram pinggangnya, bergerak dalam ritme yang semakin cepat dan dalam.

"Dik... penak tenan..." (Dik... nikmat sekali...) desahnya dengan napas memburu.

Ranjang bambu berderit protes, tapi mereka sudah terlalu larut dalam gairah untuk peduli. Ratih mencengkeram seprai kuat-kuat saat gelombang kenikmatan melandanya, tubuhnya gemetar hebat. Karyo menyusul tak lama kemudian, menggeram rendah di telinga istrinya.


Hari kedua, Karyo mengajak Dani bermain di sungai kecil belakang rumah mereka. Dengan pancing bambu sederhana, mereka duduk di tepi sungai, menunggu ikan menggigit umpan.

"Bapak, kapan iwake metu?" (Bapak, kapan ikannya keluar?) tanya Dani tak sabar.

"Kudu sabar, Le. Mancing kuwi butuh kesabaran." (Harus sabar, Nak. Mancing itu butuh kesabaran.) Karyo mengacak rambut putranya dengan sayang.

Saat ikan kecil akhirnya terpancing, Dani bersorak gembira. "Bapak! Delok! Aku entuk iwak!" (Bapak! Lihat! Aku dapat ikan!)

Tawa riang putranya itu terekam dalam memori Karyo—sesuatu yang akan dia simpan selama bekerja di Jakarta nanti.

Malam kedua, setelah Dani terlelap karena kelelahan bermain seharian, Karyo dan Ratih kembali memadu kasih. Kali ini, Karyo mendudukkan Ratih di pangkuannya, membuatnya menghadap cermin kecil retak di sudut kamar.

"Deloken, Dik. Awakmu ayu tenan." (Lihatlah, Dik. Kamu cantik sekali.) Karyo berbisik, tangannya meremas lembut payudara Ratih dari belakang.

"Mas... isin aku..." (Mas... malu aku...) Ratih menunduk, pipinya merona merah.

"Ora usah isin. Mung ana aku sing delok." (Tidak perlu malu. Hanya ada aku yang lihat.) Karyo mencium bahu telanjang Ratih, tangannya turun ke perut, lalu lebih bawah lagi.

Dalam posisi ini, Ratih bisa melihat refleksi mereka—tubuhnya yang telanjang dalam pelukan suaminya, ekspresi wajahnya sendiri saat Karyo memasukinya dari belakang. Pemandangan yang membuatnya mendesah lebih keras, hingga harus menggigit lengannya sendiri saat klimaks melandanya.

"Dik... aku arep..." (Dik... aku mau...) Karyo menggeram, mencengkeram pinggang Ratih saat mencapai pelepasannya.


Hari ketiga, hujan turun sejak pagi. Karyo terpaksa menunda rencananya mengajak Dani memancing lagi. Sebagai gantinya, mereka bermain petak umpet di dalam rumah, membuat benteng dari kardus bekas, dan mendengarkan cerita-cerita Karyo tentang kota besar.

"Bapak, nang Jakarta ana kelinci ora?" (Bapak, di Jakarta ada kelinci tidak?) tanya Dani polos.

"Ana, Le. Ning butuh duit akeh kanggo tuku kelinci nang kota." (Ada, Nak. Tapi butuh uang banyak untuk beli kelinci di kota.) Karyo tersenyum, membayangkan harga hewan peliharaan di toko-toko hewan Jakarta.

Malam terakhir, setelah Dani tertidur dengan mainan robot pemberian tetangga dalam pelukannya, Karyo dan Ratih berbaring berpelukan di ranjang sempit mereka. Hujan masih turun di luar, menciptakan irama tenang di atap seng yang baru diperbaiki.

"Sesuk sampeyan kudu bali nang Jakarta, Mas?" (Besok kamu harus kembali ke Jakarta, Mas?) tanya Ratih, jarinya menelusuri bekas luka lama di dada Karyo.

"Telung bengi ora cukup, Mas." (Tiga malam tidak cukup, Mas.) Ratih berbisik, tangannya turun ke bawah selimut, menyentuh kejantanan Karyo yang langsung bereaksi.

Malam itu, mereka bercinta lebih lama dan lebih dalam dari dua malam sebelumnya. Karyo membalikkan tubuh Ratih, menarik pinggangnya ke atas, dan memasuki istrinya dari belakang—posisi yang membuat Ratih harus menggigit bantal dengan kuat untuk menahan teriakannya.

"Mas... Mas Karyo... ahhh..." Ratih berbisik terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat setiap kali Karyo mendorong dalam-dalam.

"Dik... Ratihku... ayu tenan..." (Dik... Ratihku... cantik sekali...) Karyo berbisik di telinga istrinya, tangannya mencengkeram pinggangnya kuat-kuat.

Ketika keduanya mencapai klimaks bersama, Ratih menangis pelan. Bukan karena sakit, tapi karena besok mereka harus berpisah lagi. Karyo memeluknya dari belakang, mengecup air matanya, berbisik janji-janji manis di telinganya.

"Ojo nangis, Dik. Aku bakal bali secepatne." (Jangan menangis, Dik. Aku akan pulang secepatnya.)

"Sampeyan janji, Mas?" (Kamu janji, Mas?)

"Aku janji. Saiki turu, yo? Ojo mikir sing ora-ora." (Aku janji. Sekarang tidur, ya? Jangan berpikir yang tidak-tidak.)

Dalam keremangan kamar sempit mereka, diiringi suara hujan dan dengkuran halus Dani dari kamar sebelah, keduanya terlelap dalam pelukan. Namun pikiran Karyo sesekali masih melayang ke Jakarta, ke rumah mewah dengan taman terawat, ke wanita yang telah merasakan sentuhannya dan mungkin kini sedang menanti hasilnya. Kesetiaan yang dulu tak pernah dia pertanyakan kini menjadi beban di sudut hatinya.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com