𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟔𝟖

 


Ruang rapat lantai 20 dipenuhi asap rokok tipis meski ada larangan merokok. Irwan menyajikan slide terakhir presentasinya dengan percaya diri, mengabaikan rasa lelah setelah tiga meeting beruntun hari ini.

"Jadi, gentlemen, timeline proyek sangat ketat, tapi kita punya strategi untuk memenuhinya," tutupnya dengan senyum profesional.

Irwan menutup laptop dan mengumpulkan dokumen-dokumennya sementara klien dan rekan kerjanya perlahan meninggalkan ruangan. Ponselnya bergetar—pesan dari asisten mengingatkan meeting selanjutnya lima belas menit lagi. Dia menghela napas panjang.

"Kamu nggak capek, Wan?" tanya Budi, rekan kerjanya. "Ini meeting keempat hari ini, dan kamu yang handle semuanya. Biasanya kamu selalu delegasi."

Irwan mengangkat bahu. "Lagi butuh distraksi."

"Ada masalah di rumah?" Budi menuangkan air ke gelas.

"Nggak," jawab Irwan singkat, menyesap kopinya yang sudah dingin. Ya, seperti apa definisi 'masalah'? Istriku lebih suka berhubungan intim dengan pembantu kita, dan aku... aku terangsang oleh itu? Apakah itu masalah?

Sejak kepergian Pak Karyo ke desa, Irwan tenggelam dalam pekerjaan. Meeting-meeting yang sebelumnya ditunda kini menjadi prioritas. Proyek-proyek baru bermunculan, dan dia menyambut semua kesibukan itu—apapun untuk mengalihkan pikirannya.

Di gedung pencakar langit lain, Maya berdiri di depan jajaran direksi perusahaan. Layar proyektor menampilkan grafik pertumbuhan triwulan yang mengesankan.

"Dan dengan strategi ekspansi ini, kita bisa meningkatkan market share hingga tiga puluh persen tahun depan," Maya menjelaskan dengan penuh percaya diri. "Ada pertanyaan?"

Direktur Keuangan mengangkat tangan. "Bagaimana dengan risiko fluktuasi nilai tukar?"

Maya tersenyum tenang. Dia telah mengantisipasi pertanyaan ini. "Sudah kita cover di slide berikutnya."

Tangannya bergerak lancar mengoperasikan remote presenter, meskipun pikirannya sesekali terbang ke tempat lain. Sudah berapa hari sejak hari terakhir program? Empat? Lima? Maya menghitung dalam hati, berusaha fokus pada proyeksi angka di layar.

"Bu Maya?" Direktur Operasional memanggilnya. "Ada yang perlu ditambahkan untuk poin ini?"

Maya tersentak kembali ke realitas. "Ah, tidak. Mari kita lanjut ke bagian implementasi." Dia menarik napas dalam, memaksakan diri fokus. Sepanjang presentasi, tangannya sesekali refleks menyentuh perutnya. Terlalu dini untuk tahu. Terlalu dini.

Di akhir rapat, COO perusahaan menahan Maya sebentar. "Kamu tampak berbeda belakangan ini," katanya. "Lebih... berseri-seri? Apa rahasianya?"

Maya tersenyum tipis. "Mungkin karena akhirnya bisa liburan kemarin."

Atau mungkin karena sekarang aku… nggak banyak pikiran? Irwan sudah mulai baikan, kami sudah lebih dekat. Dia juga jadi sedikit lebih perkasa diranjang… walaupun kalau dibandingkan… pikiran liar itu muncul tanpa diminta. Maya cepat-cepat menepisnya.

Selepas rapat, Maya mengunci diri di toilet eksekutif, mengambil napas panjang. Tangannya refleks mengelus perut. Baru dua minggu sejak program berakhir—terlalu dini untuk tahu hasilnya. Tapi setidaknya kesibukan kantor membantunya mengurangi kecemasan menunggu.

Lampu-lampu gedung perkantoran mulai meredup satu per satu, menyisakan titik-titik cahaya yang berpendar di tengah kegelapan Jakarta. Jalanan masih macet, klakson bersahutan, sementara kehidupan terus berlalu tanpa peduli pada rahasia-rahasia yang tersimpan di balik jendela-jendela apartemen dan rumah mewah.

Malam itu, di ruang kerja pribadinya, Irwan menatap folder tersembunyi di laptopnya. File video yang sudah dia putar puluhan kali sejak Pak Karyo pergi. Jarinya ragu sesaat sebelum mengklik play. Pintu terkunci. Earphone terpasang.

"Kenapa aku terus melakukan ini?" bisiknya pada diri sendiri.

Layar laptop menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi. Maya berbaring di ranjang kamar tamu, mengenakan daster bunga-bunga sederhana pemberian Pak Karyo. Bukan lingerie mahal yang selama ini Irwan belikan, tapi justru daster kampungan itulah yang membuat Maya terlihat begitu bergairah.

"Mas Karyo... Mas..." suara Maya dari rekaman membuat perut Irwan mulas, tapi tangannya tetap bergerak ke bawah selimut.

Video berlanjut. Pak Karyo berbisik sesuatu dalam bahasa Jawa yang tidak Irwan pahami. Maya mengangguk patuh, sesuatu yang tidak pernah Irwan lihat dalam enam tahun pernikahan mereka. Suara desahan Maya semakin keras, ekspresinya semakin tak terkendali. "Saya... saya mau anak Pak Karyo!"

Irwan menutup mata sejenak, rasa malu dan gairah bercampur menjadi sensasi aneh yang tak bisa dia jelaskan. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri, tapi tangannya terus bergerak.

Dr. Andy telah menjelaskan bahwa perasaannya tidak aneh—bahwa beberapa pria justru terangsang melihat pasangannya dengan pria lain. Cuckolding, istilahnya. Tapi pemahaman itu tak mengurangi rasa bersalahnya.

Di layar, Maya merintih dalam dominasi Pak Karyo. Irwan merasa jijik pada dirinya sendiri, tapi tak bisa berhenti menonton. Suara-suara itu, ekspresi Maya yang tak pernah dia lihat selama enam tahun pernikahan mereka, sensasi menyakitkan namun anehnya memikat ketika melihat istrinya begitu terpuaskan oleh pria lain—semua menciptakan cocktail emosi yang membuatnya kecanduan.

Tangannya bergerak di bawah selimut kecil yang sengaja dia bawa dari kamar. Rasa malu dan eksitasi bercampur dalam dirinya. Dia tahu ini salah, tapi sensasi yang dia rasakan terlalu kuat untuk dilawan—perpaduan cemburu, sakit hati, dan anehnya, gairah yang memuncak. Rasa penghinaan terhadap harga dirinya sebagai pria justru menjadi pemicu kenikmatan yang tak pernah dia alami sebelumnya.

"Ini akan mengacaukan pernikahanku," pikirnya setiap kali, tapi keesokan malam, atau malam berikutnya lagi, dia kembali ke sana—ke rekaman yang menyiksa sekaligus memuaskan itu.

Setelah selesai, Irwan selalu mengalami momen keheningan yang sama. Dia membersihkan diri dengan tisu, lalu duduk diam menatap layar yang kini menampilkan Maya tertidur dalam pelukan Pak Karyo. Di rekaman itu, Pak Karyo mengelus rambut Maya dengan kelembutan yang mengejutkan, seolah dia bukan sekedar pembantu yang melayani majikannya, tapi seorang pria yang benar-benar peduli.

"Apakah dia jatuh cinta pada Pak Karyo? Atau Karyo jatuh cinta kepada Maya?" pikiran itu selalu menghantui Irwan. Dia sekarang menyadari bahwa dia ingin melihat Maya terus digauli Pak Karyo, tapi rasa takut kehilangan Maya selalu muncul setelah sensasi klimaks mereda, membuatnya mematikan video dan duduk dalam kegelapan, mencoba mendamaikan dirinya dengan apa yang telah terjadi pada pernikahan mereka.

Detik jam dinding berdetak pelan, mengukur waktu yang rasanya berjalan berbeda bagi mereka yang menunggu. Jakarta mulai bangun, diawali dengan gerimis tipis yang membasahi kaca jendela, lalu disusul suara klakson dan deru mesin kendaraan yang tak pernah benar-benar absen.

Pagi berikutnya, Maya duduk di meja kerjanya, laptop terbuka menampilkan laporan keuangan. Tapi tab browser lain menunjukkan artikel tentang kesehatan reproduksi dan tanda-tanda kehamilan dini. Mencari informasi sebanyak mungkin telah menjadi obsesinya, mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan hasil program mereka.

"Bu Maya, ada telepon dari tim marketing," asistennya mengingatkan.

"Ya, sambungkan." Maya menutup tab browser tentang kehamilan dan kembali ke mode eksekutif profesional—topeng yang belakangan ini semakin mudah dia kenakan untuk menyembunyikan kegalauan pribadinya.

Hari demi hari berlalu, Maya dan Irwan masih terjebak dalam limbo penantian ini. Setiap pagi, Maya selalu menggunakan testpack, berharap ada tanda-tanda perubahan. Setiap malam, Irwan menghabiskan waktu di ruang kerjanya, bergulat dengan rekaman dan perasaannya sendiri. Mereka berdua sama-sama menunggu—nunggu kepastian yang akan menentukan arah pernikahan mereka selanjutnya.

Sementara itu, di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, Pak Karyo membagi waktunya antara membantu istrinya di sawah dan bermain dengan Dani, putra bungsunya. Malam-malam sunyi, dia kerap memandangi ponselnya, menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengirim pesan pada Maya untuk menanyakan kabar. Ratih, istrinya, sering memergoki Karyo melamun.

"Mikir apa to Mas?" tanya Ratih suatu malam, tangannya lembut menyentuh punggung suaminya.

"Ah, ora mikir opo-opo, Dik," (Ah, tidak memikirkan apa-apa, Dik) jawab Karyo, cepat menyimpan ponselnya. "Mung kesel seko sawah mau." (Hanya lelah dari sawah tadi.)

Tapi malam itu, saat Ratih tertidur, Karyo diam-diam membuka folder tersembunyi di ponselnya—foto Maya yang dia ambil diam-diam saat majikannya itu tertidur setelah sesi terakhir mereka. Dalam foto itu, Maya mengenakan daster pemberian Karyo, rambut berantakan dan wajah damai. Apa program kita berhasil, Dik Maya? pikirnya sebelum menghapus foto tersebut dengan berat hati.

Di rumah, malam berikutnya, Irwan dan Maya berbaring bersebelahan di tempat tidur. Keterbukaan baru hadir di antara mereka—hasil konsultasi Irwan dengan Dr. Andy.

"Kamu mau aku cerita lagi?" tanya Maya pelan.

Irwan mengangguk. Jantungnya berdebar. Dia terluka, tapi di saat yang sama, cerita-cerita Maya tentang Pak Karyo membangkitkan gairah yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Dan malam itu, untuk kesekian kalinya sejak kepergian Pak Karyo, hubungan intim mereka kembali membaik.

Maya membisikkan detail-detail vulgar tentang Pak Karyo di telinga Irwan saat mereka berciuman. "Ukurannya bikin aku nggak bisa jalan bener besoknya," bisiknya dengan napas terengah.

Irwan merasakan darahnya berdesir, campuran sakit hati dan gairah yang tak tertahankan. "Terus... terus gimana?" tanyanya dengan suara serak.

"Dia nggak pernah nanya boleh atau nggak," Maya melanjutkan sambil menggerakkan pinggulnya. "Dia cuma... ambil aja yang dia mau."

Tangan Irwan mencengkeram pinggang istrinya lebih kuat. "Kamu... kamu suka?"

Maya mengangguk pelan, matanya setengah tertutup. "Suka banget... maaf, Yang."

Pengakuan itu malah membuat Irwan semakin bergairah. Dia mendorong Maya ke kasur, mengambil posisi di atasnya dengan cara yang tidak biasa—lebih kasar, lebih menuntut, seolah berusaha menyamai sosok Pak Karyo dalam bayangan mereka berdua.

"Kamu bisa panggil namanya kalo mau," bisik Irwan di telinga Maya, suaranya bergetar antara cemburu dan hasrat aneh yang baru ditemukannya.

Maya awalnya ragu, tapi saat sensasi memuncak, nama itu lolos dari bibirnya. "Mas Karyo..." bisiknya pelan, lalu semakin keras seiring intensitas mereka meningkat.

Keterbukaan yang terkadang menyakitkan ini ternyata juga membebaskan, membawa mereka pada koneksi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Hari terakhir cuti Karyo tiba dengan terlalu cepat. Malam itu, setelah Dani tertidur, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di ranjang, seolah ingin membekukan setiap momen dalam ingatan. Karyo memperlakukan Ratih dengan kelembutan yang tidak biasa, membisikkan janji-janji dan kata-kata manis di telinganya, membuatnya terisak pelan dalam kebahagiaan yang bercampur kesedihan.

"Sampeyan kudu janji njogo awake, Mas," (Kamu harus janji menjaga diri, Mas) bisik Ratih setelah kegiatan mereka selesai, kepalanya bersandar nyaman di dada Karyo. "Ojo lali mangan sing teratur. Sampeyan nek nang Jakarta sering telat mangan terus wetenge loro." (Jangan lupa makan yang teratur. Kamu kalau di Jakarta sering telat makan terus perutnya sakit.)

"Siap, Ndoro Wedok," (Siap, Nyonya) gurau Karyo, mengecup puncak kepala Ratih. "Dik, aku wis ngentas dhuwit sing tak kirim wingi. Ana tambahan soko Bu Maya. Gunakno kanggo kebutuhan omah lan sekolahe Dani. Nek kurang, omongo wae. Aku iso jaluk jatah lembur nang kono." (Dik, aku sudah menabung uang yang kukirim kemarin. Ada tambahan dari Bu Maya. Gunakan untuk kebutuhan rumah dan sekolahnya Dani. Kalau kurang, bilang saja. Aku bisa minta jatah lembur di sana.)

Ratih mengangguk dalam pelukannya. "Matur nuwun, Mas. Ojo mikir nemen-nemen babagan dhuwit. Awakmu sing penting. Aku iso golek tambahan penghasilan nang kene, isih ana kain sing kudu dijahit." (Terima kasih, Mas. Jangan terlalu memikirkan soal uang. Dirimu yang penting. Aku bisa cari tambahan penghasilan di sini, masih ada kain yang harus dijahit.)

Mereka berbincang pelan hingga larut malam, tentang rencana masa depan, tentang Dani yang akan masuk TK tahun depan, tentang rumah kecil mereka yang butuh perbaikan di sana-sini, dan tentang janji untuk mempertimbangkan memiliki anak lagi tahun depan. Karyo mengelus rambut Ratih hingga wanita itu tertidur dalam pelukannya, wajahnya damai dengan senyum samar di bibirnya.

Pagi harinya, suasana perpisahan terasa berat. Dani menangis dan menolak melepaskan pelukan dari kaki ayahnya, tidak mengerti mengapa Bapak harus pergi lagi. Karyo berjongkok, menghapus air mata putranya dengan ibu jarinya yang kasar.

"Le, Bapak kudu kerjo nang kutha ben iso tuku jajan kanggo sliramu," (Nak, Bapak harus kerja di kota biar bisa beli jajan untuk kamu) jelasnya dengan suara lembut. "Mengko nek Bapak bali, tak gawakke robot sing wingi dilihat nang toko kae, yo?" (Nanti kalau Bapak pulang, kubawakan robot yang kemarin dilihat di toko itu, ya?)

Dani terisak lebih pelan, matanya berbinar mendengar janji ayahnya. "Tenan, Pak? Robot sing iso mlaku dhewe kae?" (Benar, Pak? Robot yang bisa jalan sendiri itu?)

"Iyo, Le. Janji Bapak." (Iya, Nak. Janji Bapak.) Karyo mengacak-acak rambut Dani dengan sayang.

Setelah pelukan terakhir dengan Dani, Karyo menghadap Ratih yang berdiri di ambang pintu, berusaha terlihat tegar meski matanya berkaca-kaca. Karyo memeluknya erat, mengecup keningnya lama.

"Aku bakal bali secepatne, Dik," (Aku akan pulang secepatnya, Dik) bisiknya. "Aku tresno tenan karo sliramu." (Aku benar-benar cinta padamu.)

Ratih mengangguk dalam pelukan suaminya, tidak mempercayai suaranya untuk berbicara. Setelah pelukan terakhir yang terasa terlalu singkat, Karyo menaiki ojek yang sudah menunggu untuk mengantarnya ke stasius bus. Dani melambai dengan semangat, sementara Ratih berdiri diam, tangannya terangkat lemah, air mata akhirnya jatuh saat sosok Karyo menghilang di tikungan jalan.


Tepat seminggu setelah kepergian Karyo, dua minggu semenjak hari terakhir program, pagi itu Maya terbangun dengan perasaan aneh di perutnya. Dia merasa mual, tapi berbeda dari mual biasa.

Dengan tangan gemetar, dia membuka laci kamar mandi dan mengeluarkan test pack yang selalu digunakannya tiap hari. Irwan masih tertidur pulas di kamar, tidak menyadari kegelisahan yang dirasakan istrinya.

Maya melakukan tes sesuai petunjuk, lalu menunggu dengan jantung berdebar kencang. Dua menit yang terasa seperti selamanya. Ketika dua garis biru mulai terbentuk dengan jelas, tubuhnya seolah dialiri listrik.

"IRWAAAN!" Maya berteriak dari kamar mandi, suaranya campuran antara histeris dan kegembiraan. "IRWAAAN! SAYAAANG CEPETAN SINI!"

Irwan terlonjak dari tidurnya, kebingungan dan panik mendengar teriakan istrinya. Dengan hanya mengenakan celana pendek, dia berlari ke kamar mandi, ketakutan bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Maya.

"KENAPA? ADA APA?" Irwan membuka pintu kamar mandi dengan keras, napasnya terengah-engah.

Maya berdiri di sana, wajahnya basah oleh air mata, tapi senyumnya memancarkan kebahagiaan yang belum pernah Irwan lihat sebelumnya. Tangannya terangkat, menunjukkan test pack dengan dua garis biru yang jelas terlihat.

"Positif," ucap Maya, suaranya bergetar oleh emosi. "Kita berhasil, Yang. Aku hamil."

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com