Fajar belum sepenuhnya muncul saat Maya membuka mata. Cahaya temaram lampu tidur cukup baginya untuk melihat sosok Irwan yang masih terlelap di sampingnya. Napasnya teratur, wajahnya damai, begitu berbeda dengan kerutan cemas yang sering muncul akhir-akhir ini. Maya menggeser tubuhnya sedikit, mendekat tanpa membangunkan. Seperti inilah seharusnya, pikirnya sambil mengamati rahang tegas suaminya. Tenang, normal... seperti pasangan biasa.
Jemari Maya perlahan menyentuh pipi Irwan, mengusapnya lembut. Mereka telah melewati badai yang nyaris menenggelamkan pernikahan mereka. Program kehamilan itu memang sudah berakhir, tapi jejak-jejak emosi yang ditinggalkannya masih terasa. Maya tersenyum tipis. Setidaknya beberapa hari belakangan, mereka berhasil menemukan keintiman yang baru, bahkan lebih dalam dari yang pernah mereka rasakan selama enam tahun pernikahan. Mungkin ini caranya, Maya bergumam dalam hati. Mungkin kita harus nyaris kehilangan segalanya untuk menghargai apa yang kita miliki.
Dengan gerakan pelan, Maya menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya saat dia melangkah menuju kamar mandi. Dia menutup pintu dengan hati-hati, lalu membuka laci rahasia di bawah wastafel. Test pack terakhir masih tersimpan di sana. Jantungnya berdebar saat membuka kemasan plastiknya. Ini sudah hari kelima sejak masa suburnya berakhir—masih terlalu awal untuk hasil yang akurat, tapi Maya tak bisa menahan diri.
"Oke," bisiknya pada diri sendiri, membuka tutup alat tes itu. "Jangan berharap terlalu banyak."
Tiga menit kemudian, Maya menatap jendela kecil pada alat tes di tangannya. Satu garis. Masih negatif. Desahan panjang keluar dari bibirnya—bukan kekecewaan yang menghancurkan seperti dulu, tapi lebih seperti penerimaan. Wajar saja. Masih terlalu awal. Dia mengambil napas panjang, membuangnya perlahan, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Bayangan di cermin menunjukkan seorang wanita yang lebih tegar dari bulan-bulan sebelumnya. Setidaknya sekarang ada harapan. Bukan harapan kosong seperti dulu.
Maya menyimpan kembali bungkus test pack itu dan membuang alat tesnya dalam tisu, membungkusnya rapat-rapat sebelum dibuang ke tempat sampah. Dia tidak ingin Irwan melihatnya dan merasa tertekan. Kita masih punya waktu, pikirnya sambil menyalakan shower. Masih banyak kesempatan.
Air hangat mengalir di tubuhnya, membawa pergi sisa-sisa kegelisahan. Maya mulai merencanakan harinya—meeting pukul sembilan, makan siang dengan tim pemasaran, lalu panggilan konferensi dengan klien dari Singapura. Rutinitas yang biasa, tapi entah bagaimana terasa berbeda pagi ini. Lebih... mungkin. Lebih bisa dijalani. Seolah beban tak terlihat yang selama ini memberatkan bahunya telah sedikit terangkat.
Setelah mematikan shower, Maya bisa mendengar suara gerakan dari kamar. Irwan sudah bangun. Dia menggosok rambut basahnya dengan handuk, lalu membuka pintu kamar mandi.
"Pagi, Yang," sapa Irwan, matanya masih setengah terpejam tapi bibirnya tersenyum hangat. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengacak rambutnya sendiri.
"Pagi," balas Maya, mendekat untuk mengecup ringan kening suaminya. "Tidur nyenyak?"
"Hmmm," Irwan mengangguk, tangannya meraih pinggang Maya, menariknya mendekat. "Kamu bangun pagi banget. Ada meeting?"
Maya menggeleng. "Nggak, cuma... kebangun aja. Meeting masih jam sembilan kok."
Irwan menatap Maya sejenak, sorot matanya menunjukkan bahwa dia tahu ada yang tidak dikatakan. Maya mengalihkan pandangan, takut Irwan bisa membaca pikirannya tentang test pack tadi.
"Udah siap-siap aja, biar nggak terburu-buru," Maya akhirnya berkata, melepaskan diri dari pelukan Irwan untuk mengambil handuk baru dari lemari. "Kamu mau mandi dulu atau sarapan?"
"Sarapan dulu aja kali ya," Irwan bangkit, menguap sekali. "Bikin kopi ya?"
"Oke. Aku sebentar lagi nyusul."
Irwan beranjak menuju dapur, meninggalkan Maya yang kini sibuk memilih pakaian dari lemarinya. Dia memutuskan mengenakan blus putih dengan rok pensil navy yang selalu membuatnya merasa percaya diri. Hari ini dia butuh itu. Sesuatu yang normal, yang memberinya rasa kendali.
Saat mengeringkan rambutnya, pikiran Maya kembali melayang pada test pack yang negatif. Kalau minggu depan masih negatif, berarti kita memang butuh program lagi. Bayangan Pak Karyo melintas sekilas di benaknya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Maya cepat-cepat menggeleng, mengusir pikiran itu. Tidak, kita pasti berhasil. Harus berhasil.
Aroma kopi yang menguar dari dapur menariknya kembali ke realitas. Maya merapikan rambutnya sekali lagi, menyemprotkan parfum favoritnya, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Di dapur, Irwan tampak lebih segar, menuangkan kopi ke dua cangkir.
"Nih, kopi buat nyonya besar," candanya, menyodorkan secangkir ke arah Maya.
Maya tertawa kecil, menerima cangkir itu. "Makasih, tuan besar."
Mereka duduk berhadapan di meja makan, menyesap kopi dalam keheningan yang nyaman. Tidak seperti dulu, keheningan yang canggung dan menyesakkan. Irwan membuka laptopnya, memeriksa email pagi sementara Maya mengoleskan selai ke roti panggangnya. Rutinitas normal yang entah kenapa terasa lebih berharga sekarang.
"Rencananya pulang jam berapa?" tanya Maya sambil menggigit rotinya.
"Nggak tahu," Irwan mengangkat bahu. "Ada meeting sama klien baru. Mungkin agak telat. Kamu?"
"Kalau nggak ada yang mendadak, harusnya jam enam udah bisa pulang," jawab Maya. "Mau makan malam di luar? Udah lama nggak ke Bottega."
Irwan mendongak dari laptopnya, tersenyum lebar. "Boleh. Aku jemput kamu di kantor kalau gitu."
Maya mengangguk, merasa hangat oleh normalitas momen ini. Setelah semua yang terjadi, mereka masih bisa duduk seperti ini, membicarakan rencana makan malam seperti pasangan normal. Mungkin kita memang akan baik-baik saja, pikirnya.
Tidak lama kemudian, Irwan beranjak untuk mandi dan bersiap-siap. Maya membereskan meja, mencuci cangkir-cangkir mereka, dan memeriksa tasnya untuk memastikan semua yang dia butuhkan sudah tersedia. Ketika Irwan keluar dari kamar, sudah rapi dengan kemeja biru dan celana kain abu-abu, Maya tersenyum melihatnya.
"Ganteng," komentarnya singkat, membuat pipi Irwan sedikit memerah.
"Nggak seperti Pak—" Irwan berhenti di tengah kalimat, matanya melebar karena sadar apa yang hampir dia ucapkan.
Maya membeku. Nama itu—nama yang selama beberapa hari terakhir mereka hindari untuk sebut. Seseorang dengan wajah kasar dan tubuh berotot yang memiliki kekuatan jantan yang tak tertandingi. Tapi alih-alih kecanggungan, tawa kecil justru lolos dari bibir Maya.
"Ya ampun, Yang," Maya menggeleng, pipinya memerah mengingat bagaimana tubuhnya bereaksi begitu hebat terhadap kejantanan Pak Karyo yang primitif. "Kamu tuh ya..."
Irwan ikut tertawa, ketegangannya mencair. "Maaf, kelepasan. Aku tau dia memang tidak ganteng sama sekali, tapi sepertinya kamu... bereaksi berbeda sama dia."
Maya menghampiri suaminya, merapikan kerah kemejanya yang sedikit terlipat, berusaha mengusir bayangan tubuh kekar Pak Karyo yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. "Kamu ganteng. Dia... dia cuma... punya sesuatu yang berbeda."
"Berbeda gimana?" tanya Irwan, matanya menatap dalam. "Kamu bisa cerita sama aku, Yang."
Maya menelan ludah, tangannya masih di kerah Irwan tapi tatapannya menjauh. "Aku nggak tau harus jelasin gimana... dia kasar, nggak terpelajar, wajahnya jauh dari tampan, tapi..." dia berhenti sejenak, "...ada sesuatu tentang cara dia... mendominasi. Aku nggak pernah merasa seperti itu sebelumnya."
Irwan mengangguk pelan, rahangnya mengeras tapi tangannya tetap lembut di pinggang Maya. "Lebih... kuat dari aku?"
"Bukan gitu," Maya menggeleng cepat, lalu menghela napas. "Iya. Dalam hal... itu. Dia lebih... jantan. Tapi itu cuma fisik, Yang. Cuma tubuh."
Jemari Irwan menegang di pinggang Maya, tapi alih-alih marah, dia justru menarik istrinya lebih dekat. "Kamu... suka?"
Mata Maya melebar, tidak menyangka reaksi suaminya. "Aku... ya. Tapi bukan berarti—"
"Nggak apa-apa," potong Irwan, suaranya sedikit parau. "Kita udah jalanin program ini sejauh ini. Nggak ada gunanya bohong satu sama lain. Aku... aku cuma mau kamu bahagia."
Maya menatap Irwan, terharu dan bingung secara bersamaan. "Aku bahagia sama kamu. Yang lain itu cuma... fisik. Cuma sensasi."
Irwan memeluk Maya erat, menghirup dalam-dalam aroma parfumnya. "Aku nggak sabar untuk dessert nanti malam," bisiknya dengan suara rendah yang sedikit berbeda dari biasanya.
Maya menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap Irwan dengan alis terangkat. "Dessert di Bottega maksudnya? Mau pesan tiramisu?"
"Hmm, mungkin..." Irwan menarik Maya kembali ke pelukannya, bibirnya nyaris menyentuh telinga istrinya. "Tapi daripada makanan Italia aku lebih tertarik pada sentuhan Jawa" godanya dengan nada berat yang mengingatkan Maya pada suara Pak Karyo.
Sensasi aneh mengalir di tulang belakang Maya. Dia memukul pelan dada suaminya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas. "Yang... kamu ini..."
"Kenapa?" Tangan Irwan bergerak turun ke pinggang Maya, menahannya tetap dekat. "Bukankah kamu suka sentuhan Jawa, hmm?" bisiknya, jelas meniru gaya bicara Pak Karyo.
Maya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Dia tidak menyangka Irwan akan menggunakan pengakuan jujurnya tentang Pak Karyo dengan cara seperti ini. Tapi anehnya, alih-alih merasa tidak nyaman, tubuhnya justru merespons positif. "Kamu... mau roleplay lagi?" tanyanya pelan.
"Kalau kamu mau," jawab Irwan, kembali ke suaranya yang normal. "Kita bisa mencoba cara baru untuk... menikmati hubungan kita."
Maya mengangguk pelan, tersenyum malu namun penuh antisipasi. Kemampuan mereka untuk mengubah pengalaman yang seharusnya merusak menjadi sesuatu yang mendekatkan—meski dengan cara yang tak terduga—memberinya harapan bahwa mereka benar-benar bisa melewati semua ini.
"Ayo berangkat," ajak Maya, mengecek jam tangannya. "Nanti kamu telat."
Mereka berjalan beriringan menuju pintu depan. Sebelum keluar, Irwan menggenggam tangan Maya sejenak.
"Hey," katanya lembut. "Kita baik-baik aja kan, Yang?"
Maya menatap mata suaminya, tersenyum tulus. "Iya. Kita baik-baik aja."
Matahari Jakarta mulai naik ketika mereka melangkah keluar rumah menuju mobil masing-masing. Maya melirik Irwan yang membukakan pintu mobilnya dengan gestur gentleman yang selalu dia lakukan sejak mereka pacaran dulu. Kita akan baik-baik saja, Maya meyakinkan dirinya sendiri. Program itu mungkin berhasil, mungkin tidak. Tapi kita... kita pasti bertahan.
Sementara Maya dan Irwan memulai pagi mereka di gedung-gedung pencakar langit Jakarta dengan denting lift dan aroma kopi mahal, ratusan kilometer jauhnya di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh berbeda.
Cahaya fajar menyusup perlahan melalui celah jendela kayu yang tidak tertutup sempurna, membentuk garis-garis keemasan di atas lantai kamar sempit yang masih temaram. Karyo membuka mata, merasakan kehangatan tubuh Ratih yang masih terlelap dalam pelukannya. Semalam adalah malam yang panjang dan bergairah, refleksi dari kerinduan enam bulan yang terpendam. Dengan lembut, Karyo membelai rambut hitam istrinya yang terurai di atas bantal. Meski sudah lima tahun bersama, wajah tidur Ratih masih mampu menciptakan sensasi hangat di dadanya.
"Wis tangi to, Mas?" (Sudah bangun ya, Mas?) Ratih bergumam, matanya masih terpejam meski bibirnya telah membentuk senyuman kecil. Meski lelah setelah aktivitas semalam, tidurnya tetap ringan—kebiasaan seorang ibu dengan anak kecil yang selalu waspada.
Karyo mengecup kening Ratih perlahan. "Iya, Dik. Srengéngéné wis metu." (Iya, Dik. Mataharinya sudah keluar.) Tangannya bergerak lembut menyusuri lekuk pinggang Ratih, menikmati sensasi kulit ke kulit yang selama enam bulan hanya bisa dia impikan. "Awakmu kepenak turune?" (Kamu nyenyak tidurnya?)
Ratih membuka mata, menatap langsung ke mata suaminya. "Kepenak, Mas. Ning awakku isih lara kabeh." (Nyenyak, Mas. Tapi badanku masih sakit semua.) Dia tertawa kecil, pipinya bersemu merah mengingat intensitas kegiatan mereka semalam. Sinar matahari pagi yang semakin terang menyoroti bekas-bekas kemerahan di leher dan bahunya, jejak gairah Karyo yang tidak terkendali.
"Sepurane, Dik. Aku pancen kangen banget karo sliramu." (Maafkan, Dik. Aku memang kangen sekali sama kamu.) Karyo tersenyum, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya—sebuah keraguan, atau mungkin perasaan bersalah yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan. Enam bulan di Jakarta telah mengubahnya, dan mereka berdua tahu itu.
Ratih memperhatikan perubahan ekspresi suaminya. Dengan gerakan lembut, dia menyentuh pipi Karyo yang kasar oleh janggut tipis yang belum dicukur. "Mas, aku pengin takon siji bab." (Mas, aku ingin tanya satu hal.) Suaranya tenang namun tegas, menunjukkan bahwa apa yang akan dia tanyakan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari.
Karyo mengangguk, sudah menduga pertanyaan ini akan datang. "Takono opo wae, Dik. Aku bakal jujur." (Tanyakan apa saja, Dik. Aku akan jujur.) Dia menegakkan tubuhnya, bersandar pada dinding kayu di belakang ranjang mereka. Ratih ikut bangun, menarik selimut tipis untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
"Opo Mas bener-bener nduwe roso karo Bu Maya kae?" (Apa Mas benar-benar punya rasa sama Bu Maya itu?) Ratih akhirnya bertanya, matanya tidak lepas dari wajah Karyo, mencari tanda-tanda kebohongan sekecil apapun.
Karyo menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke jendela tempat burung-burung kecil mulai berkicau menyambut pagi. "Dik, nek aku ngomong ora nduwe roso blas, kuwi goroh." (Dik, kalau aku bilang tidak punya rasa sama sekali, itu bohong.) Dia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Aku sing mbayangke piye rasane nek duwe bojo kaya Bu Maya, Dik. Sugih, ayu, omah gedhe, mobil apik... lan nek bengi iso nyandak awake sak penake. Ning kuwi kabeh mung ngimpi, Dik. Aku ngerti tenan aku mung buruh kasar." (Aku memang membayangkan bagaimana rasanya kalau punya istri seperti Bu Maya, Dik. Kaya, cantik, rumah besar, mobil bagus... dan kalau malam bisa menyentuh tubuhnya sesukanya. Tapi itu semua hanya mimpi, Dik. Aku sadar betul aku hanya buruh kasar.)
Ekspresi Ratih mengeras, tapi dia tidak menyela. Karyo melanjutkan, "Ning kuwi kabeh mung ngimpi, Dik. Aku ngerti tenan yen Bu Maya tresno banget karo Pak Irwan. Senajan aku iso gawe dheweke crot lan jerit-jerit kepenak ping akeh, kuwi ora ateges dheweke bakal milih aku tinimbang bojone." (Tapi itu semua hanya mimpi, Dik. Aku tahu betul kalau Bu Maya sangat cinta sama Pak Irwan. Meskipun aku bisa membuatnya orgasme dan menjerit-jerit nikmat berkali-kali, itu tidak berarti dia akan memilih aku daripada suaminya.)
"Dadi sampeyan pancen nyoba narik atine Bu Maya?" (Jadi kamu memang mencoba menarik hatinya Bu Maya?) Ratih bertanya dengan nada sedikit meninggi, tangannya refleks memukul dada Karyo, meski tidak terlalu keras. "Tak pikir kuwi mung program, Mas. Ora ono roso-rosoan!" (Kupikir itu hanya program, Mas. Tidak ada perasaan-perasaan!)
