Karyo tersenyum puas, bangkit sejenak untuk mengambil sebotol minyak kelapa dari laci meja samping tempat tidur—persiapan yang selalu tersedia meski jarang digunakan. Dengan teliti, dia mulai mempersiapkan Ratih, memberinya waktu untuk rileks dan menyesuaikan diri. Kemudian dengan sangat perlahan, dia mulai memasuki area tersebut.
"Aduh... Mas... alon-alon..." (Aduh... Mas... pelan-pelan...) ringis Ratih, mencengkeram seprai di bawahnya. Karyo mengangguk, berhenti bergerak dan memberi istrinya waktu untuk beradaptasi.
"Wis suwe yo, Dik? Awakmu isih sesek banget." (Sudah lama ya, Dik? Tubuhmu masih sangat ketat.) bisik Karyo, perlahan melanjutkan penetrasi saat merasakan Ratih mulai rileks.
Dengan kesabaran luar biasa, Karyo akhirnya berhasil memasuki Ratih sepenuhnya. Dia mulai bergerak dengan sangat perlahan, memperhatikan setiap reaksi istrinya. Perlahan tapi pasti, ringisan Ratih berubah menjadi desahan pelan, tubuhnya mulai menerima dan menikmati sensasi yang sudah lama tidak dirasakannya.
"Piye, Dik? Isih lara?" (Bagaimana, Dik? Masih sakit?) tanya Karyo, tangannya membelai payudara Ratih untuk membantu meningkatkan kenikmatannya.
"Hmm... ora patia... mulai enak..." (Hmm... tidak terlalu... mulai enak...) jawab Ratih terbata-bata, tubuhnya mulai bergerak seirama dengan gerakan Karyo, menandakan dia mulai menikmati.
Aku ora tau bisa ngrasake bokong Bu Maya. (Aku tidak pernah bisa merasakan bokong Bu Maya) pikir Karyo dengan napas terengah. Jari-jarinya menelusuri belahan pantat Ratih sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme stabil. Keringat menetes dari dahinya ke punggung Ratih yang berkilau.
Sak suwe program kae, aku penasaran rasane bokong Bu Maya nek tak jilat. (Selama program itu, aku penasaran bagaimana rasanya bokong Bu Maya kalau kujilat.) Karyo menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam membayangkan. Dia memperlambat tempo gerakannya, menikmati imajinasi liar yang berkecamuk dalam pikirannya.
Ratih menoleh ke belakang dengan mata setengah terpejam, kulitnya yang kemerahan kontras dengan kegelapan kamar. "Mas... kok mandeg?" (Mas... kok berhenti?) tanyanya dengan suara parau. Karyo menggelengkan kepala, kembali menggerakkan pinggulnya dengan lebih kuat.
Bu Maya kae pancen wong sing durung duwe pengalaman blas. (Bu Maya itu memang orang yang belum punya pengalaman sama sekali) lanjut pikiran Karyo. Tangannya mencengkeram pantat Ratih, meremasnya kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Hentakan pinggulnya semakin dalam, membuat Ratih mengerang keras.
Jarene, ngisep kontol wae dheweke durung tau, opo maneh kontole bojone dhewe. (Katanya, mengisap penis saja dia belum pernah, apalagi penis suaminya sendiri.) Karyo menyelipkan jemarinya ke celah antara tubuh Ratih dan kasur, menemukan dan memainkan titik sensitifnya. Tubuh Ratih melengkung merespons sentuhan itu, napasnya semakin tidak beraturan.
Nek ngono, mesthi bokong Bu Maya durung tau dileboni wong lanang. Mesthi isih rapet banget. (Kalau begitu, pasti bokong Bu Maya belum pernah dimasuki laki-laki. Pasti masih sangat rapat.) Karyo mengerang membayangkannya, membungkukkan tubuh untuk menggigit lembut tengkuk Ratih. Gigitan itu membuat Ratih tersentak kecil, desahannya semakin keras.
Mesthi rasane penak tenan nek iso ngrasake lubang sing durung tau dileboni. (Pasti rasanya enak sekali kalau bisa merasakan lubang yang belum pernah dimasuki.) Keringat membasahi tubuh keduanya, menciptakan suara kecipak setiap kali tubuh mereka bertemu. Aroma khas percintaan memenuhi kamar kecil itu.
Tapi ora mungkin ngajak Bu Maya nglakoni kuwi. Ora ono hubungane karo program kehamilan. (Tapi tidak mungkin mengajak Bu Maya melakukan itu. Tidak ada hubungannya dengan program kehamilan.) Karyo mengubah sudut penetrasinya, membuat Ratih menjerit kecil saat titik sensitifnya tersentuh. Ranjang di bawah mereka berderit semakin keras, hampir tak mampu menahan intensitas gerakan mereka.
Lagek ngisep wae wis kadang katon jijik, opo maneh kudu tak leboni bokong. Ora bakal gelem. (Baru mengisap saja sudah kadang terlihat jijik, apalagi harus kumasuki bokongnya. Tidak akan mau.) Karyo mempercepat gerakannya, frustrasinya tentang Maya berubah menjadi gairah yang semakin intens pada Ratih. Tangannya menjambak rambut Ratih lembut, menarik kepalanya sedikit ke belakang.
Bedo karo Ratih sing wis hafal kabeh sing tak senengi. (Berbeda dengan Ratih yang sudah hafal semua yang kusuka.) Karyo mencium leher Ratih yang basah oleh keringat, meninggalkan bekas kemerahan yang akan bertahan beberapa hari. Tangan kirinya menelusuri perut Ratih yang bergetar, sementara tangan kanannya masih aktif di bagian depan tubuhnya.
Merasakan Ratih semakin rileks, Karyo memperdalam penetrasinya. Desahan Ratih kini berubah menjadi erangan panjang tidak beraturan, tanda dia semakin mendekati klimaks. Pinggulnya bergerak aktif berlawanan arah dengan gerakan Karyo, mencari kenikmatan maksimal.
Ratih sing wis biasa dileboni nang bokong, tapi tetep sesek lan penak. (Ratih yang sudah biasa dimasuki di bokong, tapi tetap ketat dan enak.) Karyo merasakan gejolak hasrat yang semakin tak tertahankan. Tangannya bergerak semakin cepat di titik sensitif Ratih, bertekad membawa istrinya mencapai puncak bersamanya.
"Ohh... Mas... saiki wis penak tenan..." (Ohh... Mas... sekarang sudah enak sekali...) desah Ratih, kepalanya terlempar ke belakang. Karyo tersenyum puas, mempercepat sedikit gerakannya saat yakin Ratih sudah sepenuhnya nyaman.
Kabeh sing tak lakoni karo Maya, mek kanggo program thok. (Semua yang kulakukan dengan Maya, hanya untuk program saja) pikir Karyo sambil terus bergerak.
Ora ono sing mung kanggo seneng-seneng koyo ngene. Mulane ora biso ngalahke Ratih sing wis ngerti kabeh karepku. (Tidak ada yang hanya untuk bersenang-senang seperti ini. Makanya tidak bisa mengalahkan Ratih yang sudah tahu semua keinginanku.)
Untuk sesaat, pikiran Karyo melayang jauh saat pinggulnya terus bergerak menekan tubuh Ratih dari belakang. Keringat menetes dari dahinya, membasahi punggung Ratih yang berkilau cokelat di bawah cahaya temaram. Tiba-tiba bayangan Maya muncul di benaknya—berdiri di samping ranjang, mengamati mereka dengan senyum samar di bibirnya.
Piye rasane yen Maya ana nang kamar iki saiki? (Bagaimana rasanya jika Maya ada di kamar ini sekarang?) pikir Karyo, napasnya semakin berat. Tubuhnya bergerak semakin cepat menghujam Ratih, membuat istrinya mengerang lebih keras. Dalam khayalannya, Maya perlahan naik ke ranjang, mengenakan lingerie merah muda tipis yang pernah dipakainya di hotel.
Aku bisa nyium lambene Maya sing alus kae, ngecupi raine sing ayu, ndemek susune sing kenceng... (Aku bisa mencium bibirnya Maya yang halus itu, mengecupi wajahnya yang cantik, memegang payudaranya yang kencang...) Karyo menggeram pelan, tangannya mencengkeram pinggang Ratih lebih kuat, meninggalkan bekas kemerahan pada kulit cokelat istrinya.
Dia membayangkan Maya berbaring di samping Ratih, kulit putih halusnya kontras dengan kulit kecokelatan Ratih yang kasar karena sering terpapar matahari. Karyo menelan ludah, kejantanannya berdenyut lebih keras di dalam tubuh Ratih, membuat perempuan itu tersentak kecil merasakan perubahan.
"Mas... kok... tambah... gedhe..." (Mas... kok... tambah... besar...) desah Ratih terbata-bata, kebingungan dengan perubahan mendadak pada suaminya. Karyo tidak menjawab, matanya setengah terpejam menikmati fantasinya.
Karyo memperlambat gerakannya, membiarkan sensasi di tubuhnya bertahan lebih lama. Tangannya kini bergerak ke dada Ratih, meremas payudaranya yang lebih besar dari Maya. Ratih melengkuh nikmat, tidak menyadari bahwa pikiran suaminya kini terbagi.
Aku pengin ngerasake loro-lorone mau bareng... (Aku ingin merasakan keduanya sekaligus...) pikir Karyo, bibirnya menggigit pelan tengkuk Ratih. Dalam fantasinya, dia menarik diri dari tubuh Ratih, hanya untuk memasuki Maya yang sudah siap menunggunya.
Gantian... saiki Maya... mengko Ratih maneh... (Bergantian... sekarang Maya... nanti Ratih lagi...) Karyo menutup mata sepenuhnya, benar-benar terhanyut dalam khayalannya. Tubuhnya bergerak semakin cepat, hujaman pinggulnya semakin dalam ke tubuh Ratih, namun dalam pikirannya, dia sedang bergantian memasuki kedua wanita itu.
Maya rintih lembut, bedo karo Ratih sing desahane banter. (Maya merintih lembut, berbeda dengan Ratih yang desahannya keras) lanjut khayalan Karyo. Keringat semakin deras mengucur dari seluruh tubuhnya, membasahi seprai di bawah mereka. Loro-lorone padha-padha nikmat. Siji langsing putih alus, sijine lemu isi coklat kasar. Loro-lorone iso tak rasake sak puasku. (Keduanya sama-sama nikmat. Satu langsing putih halus, satunya gemuk berisi cokelat kasar. Keduanya bisa kurasakan sepuasku.)
Ratih menoleh ke belakang, heran melihat suaminya yang tampak seperti melamun di tengah aktivitas mereka. "Mas... kok beda?" (Mas... kok berbeda?) tanyanya bingung. Karyo tersentak, tersadar sejenak dari fantasinya. Dia tersenyum tipis, mengubah posisi tubuhnya untuk memberikan sudut penetrasi yang berbeda. Ratih langsung mengerang lebih keras, melupakan kebingungannya barusan.
Karyo kembali melayang dalam fantasinya. Kali ini, imajinasinya beralih pada kehidupan sehari-hari dengan kedua wanita tersebut. Tangannya bergerak ke perut Ratih, mengelusnya dengan lembut, membayangkan anak-anak yang mungkin akan mereka miliki.
Saiba senenge yen duwe bojo loro koyo Maya lan Ratih. (Betapa senangnya kalau punya dua istri seperti Maya dan Ratih) khayalnya, napasnya semakin berat seiring gerakan tubuhnya yang semakin intens. Wong wedok ayu loro nang tanganku. Maya sing ayu lan pinter, karo Ratih sing nurut lan pengalaman. (Dua perempuan cantik di tanganku. Maya yang cantik dan pintar, dan Ratih yang penurut dan berpengalaman.)
Karyo menggeram pelan, kepalanya terlempar ke belakang merasakan sensasi yang semakin tak tertahankan. Ratih semakin pasrah di bawahnya, tubuhnya bergetar menerima setiap hujaman.
Aku mulih teko kerjo, diladeni Maya sing ayu, terus bengi-bengi diladeni Ratih sing jago nang ranjang. (Aku pulang dari kerja, dilayani Maya yang cantik, lalu malam-malam dilayani Ratih yang jago di ranjang) lanjut khayalan Karyo. Maya iso nyukupi kabeh kebutuhan duwit. Ratih iso masak lan ngurus omah. Urip cukup, ora kurang opo-opo. (Maya bisa mencukupi semua kebutuhan uang. Ratih bisa masak dan mengurus rumah. Hidup cukup, tidak kurang apa-apa.)
Tubuh Karyo bergerak semakin liar, membuat ranjang kayu di bawah mereka berderit semakin keras. Ratih mencengkeram seprai dengan erat, kewalahan menerima intensitas gerakan suaminya yang tiba-tiba meningkat drastis.
Dani ora bakal kurang opo-opo. Sekolahe ditanggung Bu Maya. Masa depane terjamin. (Dani tidak akan kurang apa-apa. Sekolahnya ditanggung Bu Maya. Masa depannya terjamin) pikir Karyo, membayangkan anaknya tumbuh dalam kemewahan yang dibawa oleh Maya. Aku bisa ndue anak akeh maneh. Ratih iso mbobot maneh, Maya yo iso tak gawe mbobot. Loro-lorone iso meteng bareng-bareng. (Aku bisa punya anak banyak lagi. Ratih bisa hamil lagi, Maya juga bisa kubuat hamil. Keduanya bisa hamil bersama-sama.)
Pikiran tentang membuat kedua wanita itu hamil bersamaan membuat Karyo semakin terangsang. Tangannya mencengkeram rambut Ratih, menariknya lembut ke belakang hingga kepala Ratih mendongak. Dia menggigit pelan tengkuk istrinya, membuat Ratih menjerit kecil.
"Mas... ahh... apa... sing... mbokpikir?" (Mas... ahh... apa... yang... kamu pikirkan?) tanya Ratih di sela-sela desahannya, merasakan perubahan drastis pada gairah suaminya.
Karyo tidak menjawab, pikirannya masih mengembara. Daripada aku mung dadi donor kanggo Bu Maya, kenopo ora dadi bojone wae? Aku iso muasake kekarone, iso gawe meteng kekarone. (Daripada aku hanya jadi donor untuk Bu Maya, kenapa tidak jadi suaminya saja? Aku bisa memuaskan keduanya, bisa membuat hamil keduanya) pikirnya, membayangkan kedua wanita dengan perut membuncit, berisi anak-anaknya.
Namun, di tengah fantasi liarnya, sebersit kesadaran menghantam Karyo. Gerakannya melambat sejenak, senyum getir terbentuk di bibirnya. Dia menggelengkan kepala, napasnya masih terengah.
Ngimpi tenan aku iki. (Bermimpi sungguhan aku ini) pikirnya pedih, kembali mempercepat gerakannya. Aku mung buruh kasar, ora mungkin Maya gelem dadi bojoku. Dheweke mung butuh wijiku kanggo program, ora luwih. (Aku hanya buruh kasar, tidak mungkin Maya mau jadi istriku. Dia hanya butuh benihku untuk program, tidak lebih.)
Karyo tertawa kecil dan getir, menyadari kegilaan fantasinya. Maya, seorang eksekutif cantik dengan pendidikan tinggi dan kekayaan berlimpah, tidak mungkin mau hidup bersama buruh kasar seperti dirinya. Hal ini hanya akan terjadi di dalam mimpi.
NanNanging ora salah to nek mung ngimpi? (Tapi tidak salah kan kalau hanya bermimpi?) Karyo kembali mempercepat gerakannya, membuat Ratih mengerang semakin keras. Dalam pikirannya, kedua wanita itu masih ada—Maya di depannya, Ratih di belakangnya, keduanya menyerah sepenuhnya pada dominasinya.
Setelah beberapa menit dalam posisi anal, Karyo memutuskan untuk beralih. "Ayo balik nang ngarep maneh, Dik. Ben luwih penak kanggo sliramu." (Ayo kembali ke depan lagi, Dik. Biar lebih enak untukmu) ucapnya perhatian. Tanpa menunggu jawaban, Karyo membantu Ratih membalikkan tubuhnya dan kembali memasuki kewanitaannya yang sudah sangat basah.
"Ohhh... Mas... kok sik keras banget..." (Ohhh... Mas... kok masih keras sekali...) desah Ratih, kaget dengan stamina suaminya yang luar biasa. Karyo tersenyum bangga, pinggulnya bergerak dalam tempo yang semakin cepat.
"Wis enem sasi ora ngrasakke bojoku, Dik. Sak'sake durung marem." (Sudah enam bulan tidak merasakan istriku, Dik. Sepuasnya belum puas) jawab Karyo, tangannya meremas payudara Ratih yang bergoyang mengikuti gerakan tubuh mereka.
Gerakan Karyo semakin liar dan tidak terkendali. Napasnya semakin berat, tangannya mencengkeram pinggang Ratih dengan kuat. "Dik... aku... arep metu... ohhh..." (Dik... aku... mau keluar... ohhh...) erangnya, tubuhnya mulai gemetar mendekati klimaks.
"Metuo nang jero wae, Mas. Aku kepingin ngrasakke wijine Mas." (Keluarlah di dalam saja, Mas. Aku ingin merasakan benih Mas) pinta Ratih dengan nada menggoda, pinggulnya bergerak semakin cepat menyambut setiap hujaman Karyo.
Namun di saat-saat terakhir, Karyo justru menarik diri dengan cepat. "Ora, Dik. Bahaya. Sliramu iso mbobot." (Tidak, Dik. Bahaya. Kamu bisa hamil) ucapnya terengah-engah, berusaha mengendalikan diri.
Sebelum Ratih sempat protes, Karyo sudah memposisikan kejantanannya di depan mulut Ratih. "Nganggo cangkemmu wae, Dik. Ben ora ana resiko." (Pakai mulutmu saja, Dik. Biar tidak ada risiko) pintanya dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Ratih menurut meski ada kilatan kekecewaan di matanya. Tanpa banyak bicara, dia membuka mulutnya dan menerima kejantanan Karyo. Dengan gerakan terampil yang sudah sangat dikenalnya, dia menggunakan lidah dan bibirnya untuk membawa Karyo ke puncak kenikmatan.
"Ahhhhhh... Dik..." Karyo mengerang keras, tangannya mencengkeram rambut Ratih saat klimaksnya datang begitu dasyat. Cairan hangatnya menyembur deras ke dalam mulut Ratih yang tidak bergeming, menerima semua tanpa kesulitan.
Ratih menelan setiap tetes dengan patuh, matanya tidak lepas dari wajah Karyo yang terpejam dalam ekstasi. Setelah gelombang terakhir klimaks Karyo mereda, dia dengan teliti membersihkan setiap sudut kejantanan suaminya dengan lidahnya, tidak peduli bahwa beberapa saat lalu benda yang sama berada di bagian belakang tubuhnya.
"Gusti... Dik... pancen jempolan tenan sliramu." (Ya Tuhan... Dik... memang hebat sekali kamu) puji Karyo, masih terengah-engah dari klimaksnya yang luar biasa.
Ratih tersenyum tipis, naik untuk berbaring di samping suaminya. Ada jeda sejenak sebelum dia bertanya dengan suara pelan, "Mas, opo Bu Maya yo nelen koyo aku?" (Mas, apa Bu Maya juga menelan seperti aku?)
Karyo terkejut mendengar pertanyaan itu. "Ora, Dik. Bu Maya ora tau nelen." (Tidak, Dik. Bu Maya tidak pernah menelan) jawabnya jujur.
Ratih mengernyitkan dahi. "Lha terus, wijine Mas metu nang ngendi?" (Lha terus, benih Mas keluar di mana?) tanyanya penasaran.
"Kabeh mlebu nang wetenge Bu Maya, Dik. Kuwi kesepakatan program. Ben dheweke biso mbobot." (Semua masuk ke perut Bu Maya, Dik. Itu kesepakatan program. Agar dia bisa hamil.)
Wajah Ratih langsung berubah. Dia bangkit dan menatap Karyo dengan mata berkaca-kaca. "Dadi kabeh wijine Mas mlebu nang wetenge Bu Maya? Ning karo aku Mas ora gelem?" (Jadi semua benih Mas masuk ke perut Bu Maya? Tapi dengan aku Mas tidak mau?) suaranya terdengar terluka.
"Dik, kuwi bedo..." (Dik, itu beda...) Karyo berusaha menjelaskan, tapi Ratih memotongnya.
"Opo bedane, Mas? Aku bojone Mas sing sah! Aku sing suwรฉ urip susah seneng karo Mas!" (Apa bedanya, Mas? Aku istri Mas yang sah! Aku yang lama hidup susah senang dengan Mas!) Ratih mulai terisak. "Kok Mas gelem ngekeki anak nang wong sugih kae, ning ora gelem ngekeki anak maneh nang aku?" (Kok Mas mau memberikan anak ke orang kaya itu, tapi tidak mau memberikan anak lagi ke aku?)
Karyo memeluk Ratih erat, berusaha menenangkannya. "Dik, sliramu salah paham. Aku ora ngekeki anak nang Bu Maya. Aku mung mbantu Den Irwan sing ora iso gawe anak. Wijiku mung dadi sarana, nanging anake tetep anake Den Irwan, dudu anakku." (Dik, kamu salah paham. Aku tidak memberikan anak ke Bu Maya. Aku hanya membantu Den Irwan yang tidak bisa membuat anak. Benihku hanya jadi sarana, tapi anaknya tetap anaknya Den Irwan, bukan anakku.)
"Ning tetep wae, Mas. Secara biologis kuwi darah dagingmu. Sliramu ora pengen gawe anak maneh karo aku? Opo kurang apik aku dadi bojone Mas?" (Tapi tetap saja, Mas. Secara biologis itu darah dagingmu. Kamu tidak ingin membuat anak lagi denganku? Apa kurang baik aku jadi istri Mas?) tanya Ratih dengan suara bergetar.
Karyo menghela napas panjang, merasa bersalah melihat kesedihan istrinya. "Ora ngono, Dik. Aku sayang banget karo sliramu. Aku yo pengen duwe anak maneh. Ning saiki durung wektune. Uripe awake dewe wis rekoso, kebutuhan Dani saya akeh. Nek tambah anak maneh, aku kuwatir ora kuat nyukupi kabeh." (Tidak begitu, Dik. Aku sayang sekali denganmu. Aku juga ingin punya anak lagi. Tapi sekarang belum waktunya. Hidup kita sudah susah, kebutuhan Dani semakin banyak. Kalau tambah anak lagi, aku khawatir tidak kuat mencukupi semua.)
"Tapi Bu Maya sugih, dadi ora masalah yo nek Mas ngekeki anak nang dheweke?" (Tapi Bu Maya kaya, jadi tidak masalah ya kalau Mas memberikan anak ke dia?) sindir Ratih.
Karyo mengusap air mata di pipi Ratih dengan lembut. "Dik, iku mung kerjo. Ora ono roso opo-opo. Aku entuk bayaran gedhe kanggo kuwi, lan dhuwite bakal tak gunakke kanggo sliramu lan Dani." (Dik, itu hanya kerja. Tidak ada rasa apa-apa. Aku dapat bayaran besar untuk itu, dan uangnya akan kugunakan untukmu dan Dani.)
"Aku pengen duwe anak maneh, Mas." (Aku ingin punya anak lagi, Mas) Ratih berbisik, menyandarkan kepalanya di dada Karyo. "Aku wedi nek Mas luwih sayang karo anake Bu Maya mbรฉsuk, amargo dheweke luwih sugih lan luwih ayu." (Aku takut kalau Mas lebih sayang ke anaknya Bu Maya nantinya, karena dia lebih kaya dan lebih cantik.)
Karyo mengangkat dagu Ratih, membuat mata mereka bertemu. "Ora bakal, Dik. Aku ora bakal ketemu maneh karo anake Bu Maya. Kuwi mung program. Aku ora nduwe hak opo-opo nang kono. Nang atiku, mung sliramu lan Dani sing paling tak tresnani." (Tidak akan, Dik. Aku tidak akan bertemu lagi dengan anaknya Bu Maya. Itu hanya program. Aku tidak punya hak apa-apa di sana. Di hatiku, hanya kamu dan Dani yang paling kucintai.)
"Janji, Mas?" (Janji, Mas?) tanya Ratih, matanya masih berkaca-kaca.
"Janji, Dik. Lan nek sliramu pancen kepengin duwe anak maneh, taun ngarep awake dewe coba, yo? Pas Dani wis sekolah." (Janji, Dik. Dan kalau kamu memang ingin punya anak lagi, tahun depan kita coba, ya? Saat Dani sudah sekolah.)
Ratih mengangguk pelan, bibirnya akhirnya tersenyum meski masih ada jejak air mata di pipinya. "Aku pegang janjine Mas." (Aku pegang janjinya Mas.)
Karyo mencium kening Ratih dengan penuh kasih sayang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka. Karyo mengelus rambut Ratih dengan lembut hingga napas istrinya mulai teratur, menandakan dia telah tertidur lelap setelah aktivitas intens mereka.
Dalam kegelapan kamar, Karyo menatap langit-langit, pikirannya melayang kembali ke Jakarta, ke rumah mewah tempat Maya tinggal. Opo Maya wis mbobot saiki? (Apa Maya sudah hamil sekarang?) pikirnya sebelum perlahan ikut terlelap dengan Ratih yang masih memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskannya kembali ke kota besar.
