𝗜𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗺𝗶𝗹𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗕𝗔𝗕 𝟭𝟯

Tubuh Maya mengejang hebat, punggungnya melengkung seperti busur saat gelombang klimaks terakhir menghantamnya dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jeritan tertahannya terdengar serak—suaranya hampir habis setelah berjam-jam mendesah dan mengerang.

"Ahhh! Ya Tuhan... Pak... PAK!" Maya mencengkeram bahu Pak Karyo dengan kuku-kukunya, meninggalkan bekas merah di kulit gelap pria itu. "Aku... aku nggak kuat... terlalu... ahhh!"

Pak Karyo menggeram rendah, tubuhnya menegang di atas Maya. Otot-ototnya yang keras bergetar hebat saat ia mencapai puncaknya sendiri, jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Cairan hangatnya menyembur kuat, memenuhi rahim Maya lebih dalam dari yang pernah ia lakukan sepanjang hari.

"Bu... Maya..." Suaranya terdengar serak dan dalam. "Kali ini... pasti... hamil..."

Mereka berdua jatuh lemas, tubuh berkeringat mereka masih menyatu. Napas keduanya terengah-engah, jantung berdegup kencang, kulit lengket oleh peluh. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara—hanya deru napas yang berangsur normal dan detak jantung yang perlahan menenang.

Pak Karyo berguling ke samping, tanpa melepaskan pelukannya. Ia menarik Maya ke dalam dekapannya, satu lengan kekarnya melingkari pinggang ramping wanita itu. Jari-jarinya yang kasar membelai rambut Maya yang berantakan dengan kelembutan yang mengejutkan.

Maya masih terlalu lemas untuk bergerak. Otot-ototnya terasa seperti jeli, tulang-tulangnya seolah meleleh. Ia hanya bisa berbaring pasrah dalam pelukan Pak Karyo, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang kontras dengan dinginnya AC kamar.

"Bu Maya nggak apa-apa?" Pak Karyo berbisik, napasnya menyapu telinga Maya.

Maya mengangguk lemah. "Cuma... capek banget." Ia menelan ludah, tenggorokannya kering. "Belum pernah... kayak gini."

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Maya terkejut dengan betapa mudahnya ia menerima sentuhan intim Pak Karyo sekarang. Kemarin, bahkan tadi pagi, ia tak pernah membayangkan akan berbaring telanjang, berpelukan mesra dengan pembantunya seperti ini. Jangankan berpelukan, membayangkan bersentuhan tangan saja membuatnya bergidik. Sekarang, dalam keadaan sadar penuh tanpa pengaruh Valium, ia malah menikmati belaian jari-jari kasar pria itu di kulitnya.

Jemari Maya tanpa sadar memainkan rambut di dada bidang Pak Karyo, sementara pikirannya berkecamuk dengan kontradiksi antara status sosial mereka dan intimitas yang kini mereka bagi.

"Bapak..." Maya bergumam pelan.

"Hmm?" Pak Karyo masih membelai rambutnya.

"Nggak..." Maya menggeleng pelan. Ia hampir mengatakan betapa anehnya situasi ini, betapa tidak terbayangkan semua ini baginya kemarin, tapi ia memilih diam.

Pak Karyo tersenyum, tangannya turun ke punggung Maya, mengelus kulitnya dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Bu Maya tahu," suaranya rendah dan hangat, "program kayak gini butuh kesabaran."

Maya mendongak, menatap wajah pembantu yang telah memuaskannya berkali-kali hari ini. "Maksudnya?"

"Buat hamil," Pak Karyo mengelus perut Maya dengan lembut. "Kadang butuh waktu. Butuh... banyak percobaan."

Maya menggigit bibir bawahnya. "Ya, tapi..."

"Biasanya," Pak Karyo melanjutkan dengan nada suara seperti berbagi pengetahuan penting, "emang butuh beberapa kali, istri saya juga walau 5 anak, nggak ada yang sekali jadi."

Maya tidak menjawab, hanya merasakan tangan Pak Karyo yang terus membelai perutnya. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus menggairahkan dari sentuhan itu.

"Bu Maya suka kan?" Tangannya naik ke dada Maya, membelai dengan gerakan yang sangat ringan. "Tubuh Bu Maya kayaknya suka sama saya."

Maya merasakan pipinya memanas. Ia tak bisa menyangkal bahwa tubuhnya memang sangat menikmati apa yang Pak Karyo lakukan padanya. Tidak hanya menikmati—ia ketagihan.

"Kalau Bu Maya mau program ini berhasil..." bisik Pak Karyo sambil mencium lembut leher Maya, "kita mungkin perlu lanjutin di rumah juga."

Maya tersentak kecil, tapi tidak menjauh. "Di rumah? Tapi... kita sudah sepakat ini cuma sekali, Pak. Kontraknya jelas. Irwan... suamiku menyetujui program ini karena dia pikir cuma satu malam."

Maya menatap tangannya sendiri, rasa bersalah mulai menyusup di antara sisa-sisa kenikmatan. "Irwan pasti hancur kalau tahu ini berlanjut. Dia sudah cukup terluka dengan semalam." Suaranya bergetar, mengingat ekspresi suaminya saat ia menyuruhnya pulang duluan dari hotel.

"Ini... ini sudah melenceng dari rencana awal. Aku takut kalau kita teruskan, bukan cuma soal program hamil lagi." Maya menelan ludah, tangannya tanpa sadar berhenti mengelus dada Pak Karyo. "Aku masih istri Irwan. Apa yang kita lakukan semalam... itu pengecualian. Bukan untuk jadi kebiasaan."

Pak Karyo mengabaikan penolakan Maya. Dia berbaring miring menghadap wanita itu, kepala ditopang satu tangan, matanya menelusuri tubuh telanjang Maya yang masih berkilau oleh keringat.

"Lihat deh," bisiknya, jari-jari kasarnya dengan lembut menyusuri bekas kemerahan di leher Maya. "Tandanya masih fresh. Masih banyak yang belum kita coba."

Maya mendesah pelan, menepisnya lemah. "Udah cukup, Pak. Kita udah sepakat cuma sekali."

Pak Karyo terkekeh rendah. Alih-alih mundur, jemarinya turun ke tulang selangka Maya, lalu perlahan ke arah payudaranya yang masih sensitif.

"Badan Bu Maya bilang lain," gumamnya, ibu jarinya mengusap puting Maya yang langsung mengeras merespon sentuhannya. "Masih mau lagi."

"Aku...mmh..." Maya menepisnya lagi, tapi tangannya kehilangan tenaga saat Pak Karyo dengan terampil meremas payudaranya. "Serius, Pak. Kita nggak bisa terus-terusan gini."

Pak Karyo tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya bergerak turun, menelusuri perut rata Maya, lalu ke selangkangannya yang masih basah karena aktivitas mereka sebelumnya. Dengan gerakan terlatih, jari kasarnya menemukan klitoris Maya yang masih bengkak.

"Ah!" Maya tersentak, tubuhnya refleks melengkung. Napasnya tercekat saat Pak Karyo mulai menekan dan melingkar di titik sensitifnya.

"Tenang, Bu," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya panas menggoda kulitnya. "Saya cuma mau bikin Bu Maya nyaman. Abis main kan perlu dibelai juga."

Maya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan. "Kita...kita udah selesai main," protesnya lemah, meski pinggulnya mulai bergerak mengikuti ritme jari Pak Karyo.

"Tapi badan Bu Maya masih mau," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan menggoda. Dia mempercepat gerakan jarinya, membuat napas Maya semakin tak beraturan. "Masih lapar."

Maya memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang memenuhi tubuhnya. Pikirannya berkecamuk. Dia tahu seharusnya menghentikan ini, tapi sentuhan Pak Karyo seperti magnet yang menariknya kembali.

"Bu Maya perlu ini," bisik Pak Karyo, bibirnya kini menyusuri leher Maya. Tangannya yang bebas menarik pinggang wanita itu mendekat hingga tubuh mereka menempel. "Perlu saya. Bukan cuma di hotel. Di rumah juga."

Tubuh Maya gemetar merasakan kejantanan Pak Karyo yang kembali mengeras menekan pahanya. Jari pria itu masih bermain di bawah sana, membuatnya sulit berpikir jernih.

"Kita lanjutin di rumah ya?" Pak Karyo menggeram rendah, menambahkan jari kedua ke dalam tubuh Maya. "Bu Maya mau kan? Biar cepet hamil."

Maya terengah-engah, logikanya mulai goyah. Mungkin memang lebih praktis kalau mereka teruskan di rumah. Mungkin memang butuh lebih dari sekali untuk berhasil hamil. Mungkin...

Matanya secara tidak sengaja melirik jam dinding.

"Astaga," Maya terkesiap saat melihat jam dinding. "Sudah jam 11!"

Ia bergegas bangkit, meringis merasakan nyeri nikmat di seluruh tubuhnya. Dengan langkah sedikit pincang, Maya berjalan ke kamar mandi.

"Mau mandi, Bu?" Pak Karyo bertanya dari tempat tidur, matanya mengawasi tubuh telanjang Maya yang berjalan menjauh.

"Iya, Pak. Kita harus segera check out."

"Saya ikut ya." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

Maya berhenti di depan pintu kamar mandi, ragu. "Tapi..."

Sebelum Maya menyelesaikan kalimatnya, Pak Karyo sudah di belakangnya, mencium lehernya lembut sembari melingkarkan tangan di pinggang Maya yang ramping. Ia menuntun Maya masuk ke kamar mandi tanpa menunggu persetujuan.

Air dingin menyiram tubuh mereka saat Maya mulai menggosok tubuhnya dengan sabun. Busa putih menutupi kulit mulusnya, membuat Pak Karyo yang sedang membasuh tubuhnya sendiri terpaku.

"Bu," suara Pak Karyo mendadak lebih berat. Maya menoleh dan melihat kejantanan Pak Karyo yang kembali mengeras.

"Pak... jangan lagi," Maya menggeleng lemah meski tubuhnya bereaksi. "Kita sudah melakukannya berkali-kali."

"Sekali lagi," Pak Karyo memojokkan Maya ke dinding kamar mandi yang dingin. "Di shower." Tangannya meremas payudara Maya yang licin oleh sabun.

"Aku..." Maya menggigit bibir. "Aku nggak pernah... melakukannya di kamar mandi. Bahkan sama Irwan."

Pak Karyo tersenyum mendengarnya. "Berarti saya yang pertama." Tanpa menunggu, ia mengangkat satu kaki Maya dan memposisikan kejantanannya.

"Ahh!" Maya menjerit saat Pak Karyo mendorong masuk. Sensasinya berbeda—air shower yang mengalir, dinding dingin di punggungnya, dan posisi berdiri yang membuat penetrasi terasa lebih dalam.

"Enak kan, Bu?" Pak Karyo berbisik sambil terus bergerak. "Bu Maya perlu ini terus kalo mau hamil. Kita harus lanjut di rumah nanti."

Maya tersentak. "Di-di rumah?"

"Iya," Pak Karyo mempercepat gerakannya. "Bu Maya mau kan, kita terusin di rumah?"

"Tapi... ahh... ada Irwan..."

"Pak Irwan bisa kita ajak ngomong lagi," Pak Karyo berbisik di telinga Maya. Pinggulnya berhenti bergerak tiba-tiba, membuat Maya mengerang frustasi.

Tangan kasarnya mencengkeram pinggul Maya lebih erat. "Satu malam mana cukup buat bikin hamil, Bu."

Maya menggeleng lemah, air shower masih mengalir di tubuh mereka yang menyatu. "Tapi... kesepakatan kita..."

"Kesepakatan bisa diubah." Pak Karyo menarik rambut Maya lembut, memaksa wanita itu menoleh ke samping. Bibirnya mengecup leher Maya yang basah. "Bu Maya udah ngerasain sendiri kan? Bisa dipastiin Pak Irwan nggak bisa kasih kepuasan kayak gini."

Jarinya turun ke perut Maya, mengelusnya dengan gerakan melingkar. "Di sini bakal ada bayi kalo kita terusin, Bu. Bayi yang Bu Maya impikan bertahun-tahun."

Pinggulnya bergerak sekali, dalam dan keras, membuat lutut Maya lemas.

"Pak Irwan pastinya lebih pilih Bu Maya hamil daripada terus-terusan sedih." Suaranya rendah dan penuh keyakinan. "Bilang aja sama Pak Irwan kalo Bu Maya masih belum yakin. Bilang kalo Bu Maya baru yakin bisa hamil kalo programnya dilanjutin di rumah."

"Aku... ohhh..." Maya mendesah saat Pak Karyo menyentuh klitorisnya, tapi kemudian berhenti.
"Mau Bu? Jawab dulu." Pak Karyo menggoda, tangannya bergerak tapi pinggulnya diam.

"Pak... jangan gini..." Maya menggeliat, mencoba mencari kenikmatan.

"Jawab dulu." Pak Karyo mencium leher Maya tanpa bergerak di bawah sana.

Maya mendesah putus asa. "I-iya... kita lanjut di rumah... tapi..."

Tanpa menunggu Maya menyelesaikan kalimatnya, Pak Karyo kembali bergerak, kali ini lebih kuat. Maya menjerit, kakinya gemetar saat kenikmatan kembali menguasainya. Tubuhnya berguncang di bawah guyuran shower, matanya terpejam menikmati sensasi baru yang membuatnya ketagihan.

"Ahh... ahh..." Maya mendesah, sudah tidak peduli lagi dengan Irwan atau siapapun. Yang ia inginkan hanya kepuasan dan janji bayi yang selama ini ia dambakan.

Siang sudah menjelang ketika mereka akhirnya keluar dari kamar mandi. Maya meringis memakai pakaiannya - tubuhnya terasa pegal dan sensitif, bekas-bekas kemerahan menghiasi leher dan dadanya.

"Saya pulang duluan, Bu," Pak Karyo berkata sambil mengancingkan kemejanya. "Nanti Bu Maya nyusul satu jam kemudian."

Maya mengangguk, masih belum percaya bagaimana pembantunya kini memberinya perintah dengan nada yang begitu dominan. Tapi tubuhnya bereaksi pada nada itu, membuatnya ingin menuruti apapun yang Pak Karyo katakan.

Sinar matahari sore menyusup melalui jendela-jendela tinggi mansion mewah itu ketika Maya akhirnya pulang. Irwan, yang sudah menunggu sejak pagi dengan mata sembab dan tangan gemetar, mengamati bagaimana istrinya melangkah masuk melalui pintu utama. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Maya bergerak - langkahnya lebih ringan namun lebih mantap, seolah ia telah menemukan kepercayaan diri yang selama ini tersembunyi.

Rambut Maya masih lembab, jelas baru selesai mandi di hotel. Wangi sabun mahal bercampur dengan aroma yang asing - sesuatu yang primitif dan maskulin, sangat berbeda dari parfum Chanel yang biasa ia kenakan ke kantor. Make-up nya minimal, tapi ada rona alami di pipinya dan cahaya di matanya yang membuat ia tampak jauh lebih hidup dari sebelumnya.

"Maaf aku baru pulang," Maya berkata sambil meletakkan tas Hermès-nya di meja ruang tamu. Suaranya terdengar berbeda - lebih dalam, sedikit serak, seperti orang yang habis teriak semalaman. Tidak ada jejak penyesalan dalam nada bicaranya. Bahkan ada sedikit senyum yang tertahan di sudut bibirnya.

Irwan duduk kaku di sofa, tangannya mencengkeram sandaran dengan gugup. Ia telah menghabiskan malam tanpa tidur, membayangkan apa yang terjadi di suite hotel itu. Setiap detik yang berlalu seperti siksaan, terutama setelah Maya mengirim pesan singkat yang menyuruhnya pulang duluan.

"Kenapa baru pulang sekarang?" Irwan akhirnya bertanya, suaranya nyaris berbisik. Dia menelan ludah, matanya tidak berani menatap Maya langsung. "Kalian... ngapain aja sampe selama itu?"

Sebagian dari dirinya tidak ingin mendengar jawabannya, tapi bagian lain - bagian yang membuatnya merasa mual namun penasaran - harus tahu.

Maya duduk di sofa seberang, gerakannya anggun namun ada sedikit ringisan saat ia menyentuh bantalan. Matanya berbinar dengan cahaya yang belum pernah Irwan lihat sebelumnya - campuran antara kepuasan, kebanggaan, dan sesuatu yang lebih dalam... sesuatu yang membuat Irwan merasa semakin kecil.

"Yang..." Maya memulai, tangannya memainkan ujung syalnya dengan gestur yang tidak biasa - lebih feminin, lebih menggoda. "Aku nggak tau harus mulai dari mana."

Irwan menelan ludah, matanya tertuju pada bekas kemerahan yang menyembul dari balik syal sutra itu. Tanda-tanda yang jelas ditinggalkan dengan sengaja, seolah Pak Karyo ingin memastikan semua orang tahu apa yang telah terjadi.

BERSAMBUNG ...

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com