"Yang..." Maya memulai, jemarinya memilin ujung syal dengan gelisah. Keringat dingin mengalir di punggungnya meski AC ruangan bekerja maksimal.
Dia melirik ke arah halaman belakang melalui jendela besar, di mana Pak Karyo sedang mencuci mobil. Otot-otot punggungnya bergerak di bawah kemeja tipis yang basah. Maya menelan ludah, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan saat menyadari Irwan memperhatikannya.
"Aku..." Maya mencoba lagi, suaranya nyaris berbisik. Bagaimana mungkin dia mengutarakan ini? Bahwa tubuhnya masih bisa merasakan sentuhan kasar Pak Karyo? Bahwa dia ingin merasakannya lagi? "Aku kepikiran soal program kita."
Irwan duduk kaku di sofa, matanya tertuju pada bekas kemerahan di leher Maya yang gagal disembunyikan syal sutra mahal. Tanda kepemilikan yang jelas, seperti Pak Karyo sengaja meninggalkannya agar semua orang tahu.
"Dokter bilang..." Maya menarik napas dalam, tangannya gemetar memegang cangkir teh. "Sekali belum tentu berhasil. Kita butuh... lebih banyak percobaan."
"Maksud kamu?" Irwan bertanya pelan, meski dari tatapannya, dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Maya menggigit bibir, matanya tidak berani menatap langsung. "Menurutku... kita perlu lanjutin di rumah." Dia mengucapkannya cepat, sebelum keberaniannya hilang. "Hotel terlalu berisiko. Orang bisa lihat, gosip bisa menyebar."
Irwan terdiam, tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Aku nggak percaya aku ngomong gini," Maya melanjutkan, suaranya bergetar. "Tapi aku bener-bener pengen punya anak, Yang. Kamu tau kan kita udah nyoba bertahun-tahun..." Matanya mulai berkaca-kaca, entah karena emosi sungguhan atau manipulasi halus.
"Kamu mau..." Irwan menelan ludah, matanya menyipit tak percaya. "...lakuin lagi? Sama Pak Karyo? Di rumah kita?"
Maya menunduk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. "Aku tau kedengerannya gila," bisiknya. "Tapi coba pikir, Yang... kalo kita lanjutin di hotel, gimana kalo ada yang liat? Temen kantor kamu? Atau klien aku?"
"Tapi di rumah kita?" Irwan mengacak rambutnya frustasi. "Tempat kita tidur setiap malam?"
"Nggak di kamar kita," Maya cepat-cepat menambahkan. "Mungkin... di kamar tamu? Yang jarang dipake itu."
Irwan bangkit, berjalan mondar-mandir di depan sofa. "Aku nggak ngerti, Maya. Bukannya kita udah sepakat cuma sekali? Satu malam? Itu yang kamu bilang ke aku."
Maya menelan ludah. "Iya, tapi..." Dia melirik ke arah halaman lagi, di mana Pak Karyo kini sedang mengelap kaca mobil. "Dokter bilang peluangnya cuma 30% untuk sekali... percobaan."
"Jadi berapa kali yang kamu mau?" Irwan berhenti, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dua kali? Tiga? Seminggu penuh?"
"Aku nggak tau," Maya menggeleng, suaranya pecah. "Mungkin selama masa suburku? Seminggu? Atau..." Dia tidak berani melanjutkan.
"Atau sampai kamu hamil?" Irwan menyelesaikan kalimatnya, suaranya datar.
Maya tidak menjawab, tapi ketiadaan jawaban itu sudah cukup bagi Irwan.
"Kamu..." Irwan menatapnya lekat-lekat. "Kamu nikmatin semalam, kan?"
Maya tersentak, matanya melebar. "A-apa maksud kamu?"
"Jangan pura-pura, Maya." Irwan menunjuk ke arah lehernya. "Itu bukan tanda orang yang cuma 'menjalankan program'. Itu tanda orang yang..." Dia tidak sanggup melanjutkan.
"Yang, aku..." Maya mencoba menyangkal, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Bagaimana dia bisa menjelaskan sensasi yang dia rasakan semalam? Bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Pak Karyo dengan cara yang tidak pernah terjadi selama enam tahun pernikahannya?
"Jawab aja, Maya," desak Irwan. "Kamu nikmatin?"
Sunyi sejenak. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Maya menyentuh lehernya, pipinya merona. "Nggak, Yang, tapi—"
"Kamu selingkuh." Irwan mendesis, bahunya menegang. "Ini bukan cuma soal punya anak lagi, kan? Kamu nikmatin!"
"Bukan gitu!" Maya bangkit, mendekati Irwan dengan langkah tergesa. Blazer kremnya yang kusut berayun saat dia bergerak. "Yang, aku nggak selingkuh. Ini murni demi baby kita, kamu tau itu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma pengen punya anak. Kamu tau kan kita udah nyoba berapa lama..."
Irwan menjauh, tangannya terangkat. "Lalu kenapa kamu nggak pulang semalam?" Suaranya meninggi. "Kenapa harus nginep di hotel? Dan pulang-pulang..." Ia menunjuk bekas kemerahan di leher Maya. "...kayak gini?"
Maya terdiam, matanya tertuju pada lantai marmer yang mengkilap. Napasnya terdengar tidak teratur. "Karena..." Dia menelan ludah. "Karena waktunya mepet, Yang. Aku lagi masa paling subur. Dokter bilang harus dimanfaatin sebaik mungkin."
"Jangan bohong, Maya!" Irwan menggelengkan kepala. "Ada yang lebih dari itu. Aku liat kamu... beda."
Maya duduk di sofa, bahu kecilnya merosot. Setelah beberapa saat sunyi, dia membasahi bibirnya dan berbisik, "Dokter bilang..." Jari-jarinya memainkan ujung blazernya. "Dokter bilang kalo aku... enjoy, peluang hamil lebih tinggi."
Dia mendongak, menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Katanya ada hubungan antara... orgasme cewek dan kesuburan. Sesuatu soal kontraksi dan hormon yang bantu... gerak spermanya."
Irwan mengerjap, mencoba mencerna informasi ini. "Jadi kamu..."
"Yang, sejujurnya..." Maya akhirnya mengaku pelan, matanya masih menerawang ke lantai, "Sex sama Pak Karyo tuh... beda."
Irwan mematung. Wajahnya mengeras. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit.
"Beda gimana?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Maya menggeleng cepat. "Nggak penting, Yang. Yang penting adalah—"
"Beda gimana, Maya?" Irwan mengulang, kali ini lebih menuntut. Matanya menatap tajam.
"Yang, please..." Maya memohon, tangannya terkepal di pangkuan.
"Aku perlu tau." Irwan bersikeras. "Apa yang bikin kamu sampe ninggalin bekas kayak gitu di leher?" Suaranya tercekat. "Apa yang bikin kamu sampe rela nginep? Apa yang bikin kamu sampe... nikmatin?"
Maya menelan ludah, tangannya memainkan ujung syal secara gelisah. Matanya melirik ke arah jendela, ke arah halaman belakang, ke arah mana saja asal tidak bertemu pandang dengan Irwan.
"Yang, aku..." Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku ngerti ini sakit buat kamu. Tapi kalo kamu mau tau kejujuran..."
Maya mengambil napas pelan, kemudian menatap langsung mata suaminya—keberanian yang terasa dipaksakan.
"Dia jauh lebih kuat. Lebih..." Dia menggeleng, mencari kata yang tepat. "Dia punya stamina yang... luar biasa." Maya menelan ludah lagi. "Berkali-kali, Yang. Tanpa perlu istirahat lama. Tanpa obat atau apa-apa."
Irwan meringis, tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia berpaling, tapi Maya bisa melihat rahangnya mengencang.
"Maaf, Yang, tapi kamu yang tanya," Maya berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... gak bisa bohong tentang ini."
Tanpa sadar, jari Maya naik menyentuh bekas kemerahan di lehernya. Matanya tiba-tiba melebar, seolah baru menyadari sesuatu.
"Ini..." dia berkata pelan, nada suaranya campuran antara terkejut dan malu. "Aku bahkan nggak inget kapan ini terjadi, Yang." Dia menggelengkan kepala perlahan. "Dia... mencium aku di mana-mana. Sepanjang waktu."
Maya menelan ludah, pipinya semakin merah. "malam kemarin... tadi pagi... siang… di kasur hotel, di kamar mandi..." Tangannya kini bergerak gelisah ke arah kerah blazernya yang menutupi sebagian tubuhnya. "Aku yakin masih ada tanda lain di... tempat lain."
Irwan terhuyung mundur seperti habis dipukul. Wajahnya memucat dengan cepat, matanya terpejam sejenak sebelum terbuka lagi—penuh rasa sakit dan amarah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu..." Irwan berbisik, suaranya bergetar hebat. "Kamu beneran ngebiarin dia... tandain kamu... di mana-mana?"
Maya menunduk, tidak sanggup menatap mata suaminya. "Aku nggak sadar, Yang. Semua terjadi begitu cepat. Begitu... intens." Dia mendongak, mata berkaca-kaca. "Kayak aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri."
"Aku..." Maya melanjutkan dengan suara pelan, "...nggak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Sensasi yang... bikin ketagihan." Dia menelan ludah, tangannya gemetar. "Aku bahkan nggak bisa ngitung berapa kali aku... klimaks. Mungkin puluhan. Tiap kali dia nyentuh tempat yang tepat, aku langsung..."
"Stop." Irwan mengangkat tangannya, wajahnya pucat pasi. Dia berbalik, tak sanggup menatap istrinya. "Aku nggak kuat dengernya."
Maya terdiam sejenak, mengamati punggung suaminya yang tegang. Dia menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah harus melanjutkan atau tidak.
"Yang..." Maya akhirnya berkata lembut. "Aku tau ini berat, tapi..." Dia menarik napas dalam. "Kalau dipikir-pikir, ini sebenernya baik untuk program kita."
Irwan berdiri, mondar-mandir dengan langkah pendek. Napasnya berat dan tidak beraturan.
"Aku benci ngomongin ini ke kamu, tapi..." Maya melanjutkan, matanya mengikuti gerakan suaminya. "Waktu kita di dokter, inget kan dokter bilang orgasme bisa ningkatin peluang kehamilan?"
Maya menunduk, suaranya berubah jadi bisikan. "Aku gak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Mungkin karena situasinya, atau karena dia, tapi..." Dia berhenti sejenak. "Tubuhku bergetar, Yang. Bahkan aku masih bisa ngerasain..."
Dia berhenti saat melihat wajah Irwan yang semakin pucat. Matanya berkaca-kaca. "Maaf, aku harusnya gak bilang segamblang ini. Tapi kamu berhak tau."
"Lalu kenapa kamu nginep?" Irwan bertanya dengan suara pelan tapi menusuk.
Maya menghela napas. "Karena... karena kita gak selesai setelah sekali." Dia mengusap pipinya yang basah. "Setelah yang pertama, aku pikir udah selesai, tapi..." Maya menggeleng, tatapannya menerawang. "Aku nggak inget berapa kali... setiap dia menyentuhku lagi, tubuhku langsung... bereaksi."
Irwan memalingkan wajah, tangannya gemetar.
"Yang," Maya meraih tangan Irwan, tapi dia menariknya mundur. "Aku tau ini berat buat kamu. Aku ngerasain bersalah, tapi di saat yang sama..." Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku juga ngerasa ini kesempatan terbaik kita buat punya anak."
Dia membuka mata, melihat ekspresi terluka Irwan, dan cepat menambahkan, "Tapi itu murni fisik, Yang. Nggak ada perasaan apa-apa. Aku tetep cinta kamu, cuma kamu."
Meski berusaha mengendalikan diri, Irwan bisa melihat kilatan kepuasan di mata Maya saat membicarakan pengalamannya — sesuatu yang jarang ia lihat setelah sekian lama bersama.
"Kamu tau..." Maya mendekati Irwan, menggenggam tangannya hati-hati. "Ini cuma sementara kok. Nggak lama, cuma sampe aku hamil." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku ngelakuin ini buat kita. Buat keluarga kecil kita."
Irwan terduduk lemas di sofa, kepalanya tertunduk dalam. Maya bisa melihat bahunya naik turun menahan emosi. Hening lama, hanya deru AC yang terdengar.
"Baiklah," akhirnya Irwan bersuara, sangat pelan. "Tapi ada syaratnya."
Maya mengangguk, kembali ke mode eksekutifnya. "Apa?"
"Pertama, cuma pas kamu lagi subur." Irwan mengangkat wajahnya, matanya merah. "Kedua, aku harus tau kapan kalian... ketemu. Dan ketiga..." Ia menelan ludah. "Kalian nggak boleh tidur bareng abis itu. Selesai langsung balik ke kamar masing-masing."
Maya menggigit bibir, jelas tidak puas dengan syarat ketiga. "Yang... kamu nggak ngerti. Abis... gitu, tubuhku masih sensitif banget. Aku perlu waktu buat..."
"Itu dia," Irwan memotong tajam. "Aku nggak mau kamu ngabisin waktu lebih dari yang perlu sama dia. Ini buat dapetin bayi, bukan buat... seneng-seneng doang."
Maya bangkit, berjalan ke jendela. Di halaman, Pak Karyo sedang mencuci mobil, otot-ototnya yang kekar berkilau oleh air dan keringat. "Oke deh," ia akhirnya menyetujui, meski matanya tidak lepas dari pemandangan di luar. "Tapi aku juga punya syarat."
Irwan mengangkat alisnya.
"Aku mau pake kamar tamu di atas," Maya berbalik menghadap suaminya. "Yang deket kamarnya Pak Karyo. Biar... lebih gampang." Ia melihat Irwan hendak protes dan cepat menambahkan, "Masuk akal kan, Yang? Daripada bolak-balik dari kamar kita. Dan..." Ia tersenyum tipis. "Bukannya lebih baik kamu nggak denger... semuanya?"
Irwan menelan ludah, bayangan suara-suara yang akan ia dengar membuatnya mual sekaligus... penasaran. "Dan kalian bakal lakuin di sana?"
Maya memiringkan kepalanya, menatap Irwan dengan tatapan menantang. "Atau kamu lebih suka kita lakuin di kamar kita? Di ranjang yang kita tidurin tiap malem?" Ia melangkah mendekat. "Mau sprei kita basah sama keringat kita? Mau bantalmu bau Pak Karyo?"
Irwan memucat, tangannya mencengkeram lengan sofa. "Maya!"
"Atau di kamar Pak Karyo sekalian?" Maya melanjutkan pelan. Matanya menerawang ke arah kamar pembantu mereka di lantai atas. "Di kamarnya..." Ia berhenti sejenak, seolah baru menyadari sesuatu. "Bukan di kamar tamu. Bukan di hotel yang asing. Tapi di kamarnya..." Suaranya mengecil. "Kayak aku... ceweknya dia?"
Ia menatap Irwan, membiarkan kata-katanya meresap. Ada sesuatu yang intim dan personal dalam pilihan lokasi itu - jauh berbeda dari formalitas kamar tamu atau kenetralan hotel. Di kamar Pak Karyo, semuanya akan terasa lebih... nyata.
"Udah cukup!" Irwan bangkit, wajahnya merah padam. "Kamar tamu. Pake kamar tamu aja." Dia menarik napas dalam. "Tapi inget syarat aku tadi. Abis selesai, langsung balik ke kamar."
Maya tersenyum tipis, tahu ia telah memenangkan argumen ini. "Oke, Yang. Aku ngerti."
Suara percikan air dari halaman membuat mereka menoleh. Pak Karyo sedang membilas mobil, kemejanya yang basah menempel di tubuh atletisnya. Maya tanpa sadar menjilat bibirnya.
"Aku mau tidur sebentar," Maya berkata pelan, matanya masih tertuju ke halaman. Dia berjalan pelan-pelan, dan Irwan bisa melihat dia agak meringis - jelas masih merasa sakit gara-gara semalam.
Irwan mengamati istrinya melangkah naik tangga, blazer kremnya yang kusut menegaskan malam panjang yang baru ia lalui. Maya berhenti di tengah, tangannya mencengkeram pegangan tangga saat mendengar suara Pak Karyo bersenandung dari halaman.
"Yang..." Maya berbisik tanpa menoleh. "Kamu... beneran nggak keberatan ya?"
Irwan menatap kosong cangkir kopinya yang sudah dingin. Pertanyaan itu cuma basa-basi - dia tahu Maya tetep bakal lakuin, dia setuju atau nggak. "Yang penting..." dia menelan ludah, "kamu seneng."
Maya mengangguk pelan sebelum melanjutkan langkahnya.
Dia melirik ke arah halaman belakang melalui jendela besar, di mana Pak Karyo sedang mencuci mobil. Otot-otot punggungnya bergerak di bawah kemeja tipis yang basah. Maya menelan ludah, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan saat menyadari Irwan memperhatikannya.
"Aku..." Maya mencoba lagi, suaranya nyaris berbisik. Bagaimana mungkin dia mengutarakan ini? Bahwa tubuhnya masih bisa merasakan sentuhan kasar Pak Karyo? Bahwa dia ingin merasakannya lagi? "Aku kepikiran soal program kita."
Irwan duduk kaku di sofa, matanya tertuju pada bekas kemerahan di leher Maya yang gagal disembunyikan syal sutra mahal. Tanda kepemilikan yang jelas, seperti Pak Karyo sengaja meninggalkannya agar semua orang tahu.
"Dokter bilang..." Maya menarik napas dalam, tangannya gemetar memegang cangkir teh. "Sekali belum tentu berhasil. Kita butuh... lebih banyak percobaan."
"Maksud kamu?" Irwan bertanya pelan, meski dari tatapannya, dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Maya menggigit bibir, matanya tidak berani menatap langsung. "Menurutku... kita perlu lanjutin di rumah." Dia mengucapkannya cepat, sebelum keberaniannya hilang. "Hotel terlalu berisiko. Orang bisa lihat, gosip bisa menyebar."
Irwan terdiam, tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Aku nggak percaya aku ngomong gini," Maya melanjutkan, suaranya bergetar. "Tapi aku bener-bener pengen punya anak, Yang. Kamu tau kan kita udah nyoba bertahun-tahun..." Matanya mulai berkaca-kaca, entah karena emosi sungguhan atau manipulasi halus.
"Kamu mau..." Irwan menelan ludah, matanya menyipit tak percaya. "...lakuin lagi? Sama Pak Karyo? Di rumah kita?"
Maya menunduk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. "Aku tau kedengerannya gila," bisiknya. "Tapi coba pikir, Yang... kalo kita lanjutin di hotel, gimana kalo ada yang liat? Temen kantor kamu? Atau klien aku?"
"Tapi di rumah kita?" Irwan mengacak rambutnya frustasi. "Tempat kita tidur setiap malam?"
"Nggak di kamar kita," Maya cepat-cepat menambahkan. "Mungkin... di kamar tamu? Yang jarang dipake itu."
Irwan bangkit, berjalan mondar-mandir di depan sofa. "Aku nggak ngerti, Maya. Bukannya kita udah sepakat cuma sekali? Satu malam? Itu yang kamu bilang ke aku."
Maya menelan ludah. "Iya, tapi..." Dia melirik ke arah halaman lagi, di mana Pak Karyo kini sedang mengelap kaca mobil. "Dokter bilang peluangnya cuma 30% untuk sekali... percobaan."
"Jadi berapa kali yang kamu mau?" Irwan berhenti, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dua kali? Tiga? Seminggu penuh?"
"Aku nggak tau," Maya menggeleng, suaranya pecah. "Mungkin selama masa suburku? Seminggu? Atau..." Dia tidak berani melanjutkan.
"Atau sampai kamu hamil?" Irwan menyelesaikan kalimatnya, suaranya datar.
Maya tidak menjawab, tapi ketiadaan jawaban itu sudah cukup bagi Irwan.
"Kamu..." Irwan menatapnya lekat-lekat. "Kamu nikmatin semalam, kan?"
Maya tersentak, matanya melebar. "A-apa maksud kamu?"
"Jangan pura-pura, Maya." Irwan menunjuk ke arah lehernya. "Itu bukan tanda orang yang cuma 'menjalankan program'. Itu tanda orang yang..." Dia tidak sanggup melanjutkan.
"Yang, aku..." Maya mencoba menyangkal, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Bagaimana dia bisa menjelaskan sensasi yang dia rasakan semalam? Bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Pak Karyo dengan cara yang tidak pernah terjadi selama enam tahun pernikahannya?
"Jawab aja, Maya," desak Irwan. "Kamu nikmatin?"
Sunyi sejenak. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Maya menyentuh lehernya, pipinya merona. "Nggak, Yang, tapi—"
"Kamu selingkuh." Irwan mendesis, bahunya menegang. "Ini bukan cuma soal punya anak lagi, kan? Kamu nikmatin!"
"Bukan gitu!" Maya bangkit, mendekati Irwan dengan langkah tergesa. Blazer kremnya yang kusut berayun saat dia bergerak. "Yang, aku nggak selingkuh. Ini murni demi baby kita, kamu tau itu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma pengen punya anak. Kamu tau kan kita udah nyoba berapa lama..."
Irwan menjauh, tangannya terangkat. "Lalu kenapa kamu nggak pulang semalam?" Suaranya meninggi. "Kenapa harus nginep di hotel? Dan pulang-pulang..." Ia menunjuk bekas kemerahan di leher Maya. "...kayak gini?"
Maya terdiam, matanya tertuju pada lantai marmer yang mengkilap. Napasnya terdengar tidak teratur. "Karena..." Dia menelan ludah. "Karena waktunya mepet, Yang. Aku lagi masa paling subur. Dokter bilang harus dimanfaatin sebaik mungkin."
"Jangan bohong, Maya!" Irwan menggelengkan kepala. "Ada yang lebih dari itu. Aku liat kamu... beda."
Maya duduk di sofa, bahu kecilnya merosot. Setelah beberapa saat sunyi, dia membasahi bibirnya dan berbisik, "Dokter bilang..." Jari-jarinya memainkan ujung blazernya. "Dokter bilang kalo aku... enjoy, peluang hamil lebih tinggi."
Dia mendongak, menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Katanya ada hubungan antara... orgasme cewek dan kesuburan. Sesuatu soal kontraksi dan hormon yang bantu... gerak spermanya."
Irwan mengerjap, mencoba mencerna informasi ini. "Jadi kamu..."
"Yang, sejujurnya..." Maya akhirnya mengaku pelan, matanya masih menerawang ke lantai, "Sex sama Pak Karyo tuh... beda."
Irwan mematung. Wajahnya mengeras. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit.
"Beda gimana?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Maya menggeleng cepat. "Nggak penting, Yang. Yang penting adalah—"
"Beda gimana, Maya?" Irwan mengulang, kali ini lebih menuntut. Matanya menatap tajam.
"Yang, please..." Maya memohon, tangannya terkepal di pangkuan.
"Aku perlu tau." Irwan bersikeras. "Apa yang bikin kamu sampe ninggalin bekas kayak gitu di leher?" Suaranya tercekat. "Apa yang bikin kamu sampe rela nginep? Apa yang bikin kamu sampe... nikmatin?"
Maya menelan ludah, tangannya memainkan ujung syal secara gelisah. Matanya melirik ke arah jendela, ke arah halaman belakang, ke arah mana saja asal tidak bertemu pandang dengan Irwan.
"Yang, aku..." Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku ngerti ini sakit buat kamu. Tapi kalo kamu mau tau kejujuran..."
Maya mengambil napas pelan, kemudian menatap langsung mata suaminya—keberanian yang terasa dipaksakan.
"Dia jauh lebih kuat. Lebih..." Dia menggeleng, mencari kata yang tepat. "Dia punya stamina yang... luar biasa." Maya menelan ludah lagi. "Berkali-kali, Yang. Tanpa perlu istirahat lama. Tanpa obat atau apa-apa."
Irwan meringis, tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia berpaling, tapi Maya bisa melihat rahangnya mengencang.
"Maaf, Yang, tapi kamu yang tanya," Maya berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... gak bisa bohong tentang ini."
Tanpa sadar, jari Maya naik menyentuh bekas kemerahan di lehernya. Matanya tiba-tiba melebar, seolah baru menyadari sesuatu.
"Ini..." dia berkata pelan, nada suaranya campuran antara terkejut dan malu. "Aku bahkan nggak inget kapan ini terjadi, Yang." Dia menggelengkan kepala perlahan. "Dia... mencium aku di mana-mana. Sepanjang waktu."
Maya menelan ludah, pipinya semakin merah. "malam kemarin... tadi pagi... siang… di kasur hotel, di kamar mandi..." Tangannya kini bergerak gelisah ke arah kerah blazernya yang menutupi sebagian tubuhnya. "Aku yakin masih ada tanda lain di... tempat lain."
Irwan terhuyung mundur seperti habis dipukul. Wajahnya memucat dengan cepat, matanya terpejam sejenak sebelum terbuka lagi—penuh rasa sakit dan amarah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu..." Irwan berbisik, suaranya bergetar hebat. "Kamu beneran ngebiarin dia... tandain kamu... di mana-mana?"
Maya menunduk, tidak sanggup menatap mata suaminya. "Aku nggak sadar, Yang. Semua terjadi begitu cepat. Begitu... intens." Dia mendongak, mata berkaca-kaca. "Kayak aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri."
"Aku..." Maya melanjutkan dengan suara pelan, "...nggak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Sensasi yang... bikin ketagihan." Dia menelan ludah, tangannya gemetar. "Aku bahkan nggak bisa ngitung berapa kali aku... klimaks. Mungkin puluhan. Tiap kali dia nyentuh tempat yang tepat, aku langsung..."
"Stop." Irwan mengangkat tangannya, wajahnya pucat pasi. Dia berbalik, tak sanggup menatap istrinya. "Aku nggak kuat dengernya."
Maya terdiam sejenak, mengamati punggung suaminya yang tegang. Dia menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah harus melanjutkan atau tidak.
"Yang..." Maya akhirnya berkata lembut. "Aku tau ini berat, tapi..." Dia menarik napas dalam. "Kalau dipikir-pikir, ini sebenernya baik untuk program kita."
Irwan berdiri, mondar-mandir dengan langkah pendek. Napasnya berat dan tidak beraturan.
"Aku benci ngomongin ini ke kamu, tapi..." Maya melanjutkan, matanya mengikuti gerakan suaminya. "Waktu kita di dokter, inget kan dokter bilang orgasme bisa ningkatin peluang kehamilan?"
Maya menunduk, suaranya berubah jadi bisikan. "Aku gak pernah ngerasain kayak gitu sebelumnya. Mungkin karena situasinya, atau karena dia, tapi..." Dia berhenti sejenak. "Tubuhku bergetar, Yang. Bahkan aku masih bisa ngerasain..."
Dia berhenti saat melihat wajah Irwan yang semakin pucat. Matanya berkaca-kaca. "Maaf, aku harusnya gak bilang segamblang ini. Tapi kamu berhak tau."
"Lalu kenapa kamu nginep?" Irwan bertanya dengan suara pelan tapi menusuk.
Maya menghela napas. "Karena... karena kita gak selesai setelah sekali." Dia mengusap pipinya yang basah. "Setelah yang pertama, aku pikir udah selesai, tapi..." Maya menggeleng, tatapannya menerawang. "Aku nggak inget berapa kali... setiap dia menyentuhku lagi, tubuhku langsung... bereaksi."
Irwan memalingkan wajah, tangannya gemetar.
"Yang," Maya meraih tangan Irwan, tapi dia menariknya mundur. "Aku tau ini berat buat kamu. Aku ngerasain bersalah, tapi di saat yang sama..." Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku juga ngerasa ini kesempatan terbaik kita buat punya anak."
Dia membuka mata, melihat ekspresi terluka Irwan, dan cepat menambahkan, "Tapi itu murni fisik, Yang. Nggak ada perasaan apa-apa. Aku tetep cinta kamu, cuma kamu."
Meski berusaha mengendalikan diri, Irwan bisa melihat kilatan kepuasan di mata Maya saat membicarakan pengalamannya — sesuatu yang jarang ia lihat setelah sekian lama bersama.
"Kamu tau..." Maya mendekati Irwan, menggenggam tangannya hati-hati. "Ini cuma sementara kok. Nggak lama, cuma sampe aku hamil." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku ngelakuin ini buat kita. Buat keluarga kecil kita."
Irwan terduduk lemas di sofa, kepalanya tertunduk dalam. Maya bisa melihat bahunya naik turun menahan emosi. Hening lama, hanya deru AC yang terdengar.
"Baiklah," akhirnya Irwan bersuara, sangat pelan. "Tapi ada syaratnya."
Maya mengangguk, kembali ke mode eksekutifnya. "Apa?"
"Pertama, cuma pas kamu lagi subur." Irwan mengangkat wajahnya, matanya merah. "Kedua, aku harus tau kapan kalian... ketemu. Dan ketiga..." Ia menelan ludah. "Kalian nggak boleh tidur bareng abis itu. Selesai langsung balik ke kamar masing-masing."
Maya menggigit bibir, jelas tidak puas dengan syarat ketiga. "Yang... kamu nggak ngerti. Abis... gitu, tubuhku masih sensitif banget. Aku perlu waktu buat..."
"Itu dia," Irwan memotong tajam. "Aku nggak mau kamu ngabisin waktu lebih dari yang perlu sama dia. Ini buat dapetin bayi, bukan buat... seneng-seneng doang."
Maya bangkit, berjalan ke jendela. Di halaman, Pak Karyo sedang mencuci mobil, otot-ototnya yang kekar berkilau oleh air dan keringat. "Oke deh," ia akhirnya menyetujui, meski matanya tidak lepas dari pemandangan di luar. "Tapi aku juga punya syarat."
Irwan mengangkat alisnya.
"Aku mau pake kamar tamu di atas," Maya berbalik menghadap suaminya. "Yang deket kamarnya Pak Karyo. Biar... lebih gampang." Ia melihat Irwan hendak protes dan cepat menambahkan, "Masuk akal kan, Yang? Daripada bolak-balik dari kamar kita. Dan..." Ia tersenyum tipis. "Bukannya lebih baik kamu nggak denger... semuanya?"
Irwan menelan ludah, bayangan suara-suara yang akan ia dengar membuatnya mual sekaligus... penasaran. "Dan kalian bakal lakuin di sana?"
Maya memiringkan kepalanya, menatap Irwan dengan tatapan menantang. "Atau kamu lebih suka kita lakuin di kamar kita? Di ranjang yang kita tidurin tiap malem?" Ia melangkah mendekat. "Mau sprei kita basah sama keringat kita? Mau bantalmu bau Pak Karyo?"
Irwan memucat, tangannya mencengkeram lengan sofa. "Maya!"
"Atau di kamar Pak Karyo sekalian?" Maya melanjutkan pelan. Matanya menerawang ke arah kamar pembantu mereka di lantai atas. "Di kamarnya..." Ia berhenti sejenak, seolah baru menyadari sesuatu. "Bukan di kamar tamu. Bukan di hotel yang asing. Tapi di kamarnya..." Suaranya mengecil. "Kayak aku... ceweknya dia?"
Ia menatap Irwan, membiarkan kata-katanya meresap. Ada sesuatu yang intim dan personal dalam pilihan lokasi itu - jauh berbeda dari formalitas kamar tamu atau kenetralan hotel. Di kamar Pak Karyo, semuanya akan terasa lebih... nyata.
"Udah cukup!" Irwan bangkit, wajahnya merah padam. "Kamar tamu. Pake kamar tamu aja." Dia menarik napas dalam. "Tapi inget syarat aku tadi. Abis selesai, langsung balik ke kamar."
Maya tersenyum tipis, tahu ia telah memenangkan argumen ini. "Oke, Yang. Aku ngerti."
Suara percikan air dari halaman membuat mereka menoleh. Pak Karyo sedang membilas mobil, kemejanya yang basah menempel di tubuh atletisnya. Maya tanpa sadar menjilat bibirnya.
"Aku mau tidur sebentar," Maya berkata pelan, matanya masih tertuju ke halaman. Dia berjalan pelan-pelan, dan Irwan bisa melihat dia agak meringis - jelas masih merasa sakit gara-gara semalam.
Irwan mengamati istrinya melangkah naik tangga, blazer kremnya yang kusut menegaskan malam panjang yang baru ia lalui. Maya berhenti di tengah, tangannya mencengkeram pegangan tangga saat mendengar suara Pak Karyo bersenandung dari halaman.
"Yang..." Maya berbisik tanpa menoleh. "Kamu... beneran nggak keberatan ya?"
Irwan menatap kosong cangkir kopinya yang sudah dingin. Pertanyaan itu cuma basa-basi - dia tahu Maya tetep bakal lakuin, dia setuju atau nggak. "Yang penting..." dia menelan ludah, "kamu seneng."
Maya mengangguk pelan sebelum melanjutkan langkahnya.
