𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟐

 


Sinar matahari yang menyusup melalui tirai suite membuat Maya mengerjap. Tubuhnya terasa pegal namun puas, setiap otot mengingatkannya akan aktivitas semalam. Pak Karyo masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan dalam. Maya mengamati pria yang telah mengubah hidupnya dalam semalam - bagaimana otot-otot keras di tubuhnya yang gelap kini tampak rileks, bagaimana wajahnya yang biasanya selalu menunduk hormat kini tampak damai dalam tidurnya.

Bayangan-bayangan semalam memenuhi benaknya. Bagaimana Pak Karyo membawanya mencapai puncak kenikmatan berkali-kali, bagaimana ia memohon dan mendesah tanpa malu di bawah kendali pria yang sehari-hari membersihkan rumahnya. Maya bahkan tidak ingat kapan mereka akhirnya tertidur - yang ia ingat hanya sensasi tubuh kekar Pak Karyo yang terus memuaskannya, suara beratnya yang membisikkan kata-kata kotor yang membuatnya semakin bergairah, dan bagaimana ia berkali-kali memohon untuk dipenuhi lagi... dan lagi.

Maya melirik jam - hampir pukul sembilan. Ponselnya dipenuhi missed calls dari Irwan.

"Udah bangun, Bu?" suara serak Pak Karyo memecah keheningan. Maya menoleh, mendapati mata gelap itu mengawasinya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.

"Iya, Pak... baru aja" Maya menarik selimut menutupi tubuhnya, mendadak sadar akan ketelanjangan mereka.

"Ngapain ditutup-tutupin?" Pak Karyo tertawa pelan, tangannya dengan santai menyusup di bawah selimut, menemukan pinggang Maya. "Semalem aja Bu Maya nggak malu-malu."

Maya merasakan jari-jari kasar itu menelusuri kulitnya dengan familiar, seperti sudah mengenal setiap lekuk tubuhnya. Aneh rasanya, bagaimana tangan yang biasa membersihkan rumahnya kini menyentuhnya dengan begitu intim.

"Gimana tidurnya?" tangan Pak Karyo bergerak naik, membelai sisi tubuh Maya dengan gerakan lambat yang membuat kulitnya meremang. Tidak ada lagi sikap formal atau hormat dalam sentuhannya—hanya kelembutan posesif seorang pria yang merasa berhak.

Maya merasakan pipinya memanas. Semalam, di tengah gairah yang memuncak, sentuhan-sentuhan ini terasa begitu menggairahkan. Tapi pagi ini, dengan pikiran yang lebih jernih, ada sesuatu yang menggelikan sekaligus memalukan. Ini Pak Karyo—pembantunya yang biasa ia perintah untuk mencuci mobil atau membersihkan taman. Pria yang bahkan tidak berani menatap matanya saat berbicara. Sekarang dia berbaring telanjang di sampingnya, menyentuhnya seolah Maya adalah miliknya.

"Baik... tapi kita harusnya udah pulang, Pak." Ia melirik jam di dinding. "Udah pagi gini."

"Nggak usah buru-buru." Pak Karyo menggeleng pelan, tangannya menyusuri rambut Maya yang berantakan. "Saya masih pengen sama Bu Maya."

Maya mengerjapkan mata, kesadarannya kini tajam tanpa pengaruh Valium yang semalam membuatnya sanggup melakukan "program" ini. Seharusnya semalam jadi satu-satunya malam—deposit sekali, selesai. Begitu perjanjian awalnya.

"Pak," Maya menarik selimut menutupi tubuhnya, suaranya lebih tegas sekarang. "Yang semalam itu cukup. Kita udah sepakat cuma sekali."

Alih-alih menjawab, Pak Karyo menarik selimut itu perlahan, matanya tidak lepas dari tubuh telanjang Maya. Tangannya yang kasar mulai menelusuri leher Maya, turun ke tulang selangkanya, lalu dengan gerakan yang mengejutkan, mencengkeram payudaranya.

"Ahh," Maya tersentak, campuran kaget dan—meski ia enggan mengakuinya—gairah. Jari-jari kasar Pak Karyo memainkan putingnya dengan tekanan yang tepat, persis seperti semalam.

"Bu Maya semalam teriak-teriak," bisik Pak Karyo, bibirnya kini menciumi leher Maya. Satu tangannya turun ke perut rata wanita itu, menelusuri kulitnya dengan sentuhan yang membuat Maya bergidik. "Minta lagi... lagi... nggak cukup satu kali."

Maya menggeleng, tapi tubuhnya mengingat—bagaimana Pak Karyo membuatnya menjerit berkali-kali semalam, sensasi yang tidak pernah ia dapatkan dari Irwan. "Itu... itu karena..." Kata-katanya terputus saat Pak Karyo tiba-tiba mendorong dua jarinya masuk, menemukan titik yang membuat pinggul Maya refleks terangkat.

"Bu Maya masih sensitif di sini," gumam Pak Karyo, jari-jarinya bergerak dengan presisi yang membuat napas Maya tercekat. Ibu jarinya dengan terampil menekan klitoris Maya, sementara jari lainnya menekuk di dalam, menyentuh titik G-nya dengan tekanan yang tepat.

"Nggak... ahh... Pak..." Maya berusaha protes, tapi tubuhnya berkhianat. Pinggulnya bergerak mengikuti ritme jari Pak Karyo, mencari kenikmatan yang tubuhnya ingat dari semalam.

"Badan Bu Maya nggak bohong," Pak Karyo tersenyum, merasakan kelembaban yang semakin meningkat di sekelilingnya jarinya. Ia mempercepat gerakannya, membuat Maya menggigit bibir menahan desahan. "Bu Maya masih mau. Masih butuh."

Bayangan semalam berkelebat di benak Maya—bagaimana pria yang ia anggap hanya pembantu tua berkulit hitam itu membuatnya orgasme bertubi-tubi, bagaimana ia memohon untuk lebih, bagaimana ia dengan malu-malu mengirim pesan pada Irwan untuk pulang duluan karena ia tidak bisa berhenti menginginkan Pak Karyo.

"Satu malam?" Pak Karyo tertawa kecil, kini menambahkan jari ketiga, meregangkan Maya yang semakin basah. "Bu Maya masih basah gini... masih pengen lagi, kan?"

"Ahh..." Maya tidak bisa menahan desahannya. Tangannya mencengkeram lengan berotot Pak Karyo. "Tapi... aku beneran ada meeting... penting..."

"Terserah Bu Maya," Pak Karyo menggeram, menggantikan jarinya dengan sesuatu yang lebih besar. Kejantanannya menekan pintu masuk Maya yang sudah basah. "Mau mikirin meeting... atau mau ngerasain... ini..."

Maya hendak protes lagi, tapi tubuhnya berkhianat saat Pak Karyo mendorong masuk dengan satu gerakan tegas. Kejantanannya yang besar mengisi Maya sempurna, membuat matanya berkunang-kunang.

"Ahhh... Pak..." Maya Andini mencengkeram bahu berotot Pak Karyo saat ia mulai bergerak. Napasnya tercekat dengan setiap dorongan. "A-aku harus ke kantor..."

Pak Karyo memperlambat gerakannya, tidak sepenuhnya berhenti—hanya cukup untuk membuat Maya frustasi. "Kalau Bu Maya mau pergi," bisiknya, suaranya rendah di telinga Maya, "saya nggak maksa."

Maya menggigit bibir. Tubuhnya berteriak meminta lebih, tapi harga dirinya masih berusaha bertahan. Dia adalah Maya Andini—eksekutif senior yang bisa membuat pria-pria di ruang rapat gemetar hanya dengan tatapannya. Sekarang, terbaring di bawah kuasa seorang pembantu...

"Aku..." Maya menggeliat saat Pak Karyo sengaja bergerak sangat lambat, membuatnya merasakan setiap inci kejantanannya yang besar. "Aku nggak bisa kayak gini terus..."

"Maunya kayak gimana, Bu?" Pak Karyo tersenyum, tangannya menelusuri sisi tubuh Maya dengan kelembutan yang kontras dengan gerakannya yang kini semakin dalam. "Bu Maya tinggal ngomong aja..."

Tangannya yang kasar menemukan payudara Maya, meremasnya dengan tekanan yang sempurna sementara pinggulnya bergerak dalam ritme yang menyiksa—cukup untuk membuatnya terangsang, tapi tidak cukup untuk memuaskannya.

"Cepetan dikit..." Maya akhirnya berbisik, malu dengan pengakuannya sendiri.

"Apa, Bu? Saya nggak denger," Pak Karyo menggodanya, sengaja memperlambat gerakannya lagi. "Bu Maya mau apa?"

Maya menutup matanya rapat-rapat, pipinya merah padam. Ini memalukan—wanita profesional sepertinya memohon kepada pembantunya. Tapi tubuhnya sudah tidak peduli lagi dengan status atau harga diri.

"Cepetan, Pak," Maya mengulangi, kali ini lebih keras, pinggulnya bergerak mencari kenikmatan yang tertahan. "Please..."

Pak Karyo tersenyum puas, tangannya mencengkeram pinggang Maya lebih erat. "Nanti meetingnya gimana, Bu?" tanyanya, masih belum mengubah temponya yang lambat.

"Bodo amat meetingnya," Maya mengerang, kuku-kukunya menancap di lengan berotot Pak Karyo. Kenikmatan yang tertahan membuatnya lupa siapa dirinya. "Aku cuma mau... ini..."

Seolah menunggu kata-kata itu, Pak Karyo langsung mengubah ritmenya. Gerakannya kini jauh lebih cepat, lebih keras, lebih dalam—membuat tempat tidur berderit protes dan Maya menahan jeritan.

"Ini yang Bu Maya mau?" Pak Karyo menggeram di telinga Maya, napasnya berat dan panas. "Ini yang bikin Bu Maya suruh suaminya pulang semalem?"

Maya tidak sanggup lagi memikirkan rasa malu. Setiap dorongan Pak Karyo mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuatnya melupakan segalanya—status sosialnya, pertemuannya, bahkan Irwan.

"Iya... iya..." Maya mendesah, melingkarkan kakinya di pinggang Pak Karyo untuk mendapatkan penetrasi yang lebih dalam. "Enak banget..." Tangannya mencengkeram bahu Pak Karyo semakin erat, napasnya semakin pendek-pendek.

Pak Karyo masih bergerak stabil, napasnya berat di leher Maya. "Bu Maya pinter ya, nahan terus-terusan," godanya, tangannya menyusup di antara tubuh mereka. "Padahal udah basah banget..."

Maya merasakan sensasi panas mulai menyebar dari pusatnya. Pandangannya mulai mengabur, tapi di sela-sela kenikmatan itu, ia mendengar ponselnya bergetar di meja samping—pengingat meeting pertamanya pukul 9.30.

"Pak... ah... ponselku..." Maya mencoba bicara di sela desahannya, matanya melirik ke arah ponsel yang masih bergetar.

"Angkat aja, Bu," Pak Karyo justru mempercepat gerakannya, membuat Maya semakin sulit berfokus. "Tapi saya nggak bakal berhenti..."

Maya melirik ponselnya yang terus bergetar—pengingat meeting pertamanya pukul 9.30. Tapi sensasi Pak Karyo yang mengisi dan menumbuknya tanpa henti membuat semua itu terasa tidak penting. Ia ingin ini—tidak, ia butuh ini. Butuh Pak Karyo menguasai tubuhnya sepanjang pagi.

Dengan tangan gemetar Maya meraih ponselnya, nyaris menjatuhkannya saat Pak Karyo menghujam tepat di titik nikmatnya. Ia menekan nomor sekretarisnya, berusaha mengatur napas.

Dengan tangan gemetar Maya meraih ponselnya, nyaris menjatuhkannya saat Pak Karyo menghujam tepat di titik nikmatnya. Ia menekan nomor sekretarisnya, berusaha mengatur napas.

"Sa-Sarah..." Maya menggigit bibir menahan desahan. "Hari ini aku... ahh... nggak masuk..."

"Bu Maya? Suara Ibu aneh..."

"Cancel... semua meeting..." Maya nyaris tidak bisa fokus saat Pak Karyo semakin mempercepat gerakannya. "Pokoknya... ohhh... aku nggak bisa... masuk..."

Maya membanting ponselnya ke kasur, tidak peduli lagi dengan reaksi sekretarisnya. Yang ia pedulikan hanya bagaimana Pak Karyo terus menggenjotnya, membuat tubuhnya melayang dalam kenikmatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Pak... aku mau keluar..." Maya melingkarkan kakinya di pinggang Pak Karyo, menariknya semakin dalam. "Kontolnya... bikin aku gila..."

"Keluar, Bu," Pak Karyo menggeram, gerakannya semakin brutal. "Keluarin semua di kontol saya."

Maya menjerit, orgasmenya menghantam seperti tsunami. Tubuhnya mengejang hebat, vaginanya mencengkeram erat kejantanan Pak Karyo yang masih menghujamnya tanpa ampun. Tapi alih-alih menyusul, Pak Karyo malah memperlambat gerakannya, membiarkan Maya menikmati gelombang kenikmatannya.

"Pak... ahh..." Maya terengah, masih gemetar pascaorgasme.

"Udah enak, Bu? Bapak belum keluar lho," Pak Karyo menyeringai, kemudian membalik tubuh Maya tanpa mencabut kejantanannya. Posisi mereka berubah dengan Maya di atas, duduk di pangkuannya.

"Coba Bu Maya yang gerak sekarang," perintahnya sambil meremas bokong Maya.

Maya mulai bergerak naik turun dengan lambat. Sensasi yang berbeda membuatnya kembali terbakar gairah.

"Enak kan, Bu?" Pak Karyo mendorong pinggulnya ke atas, membuat Maya tersentak nikmat.

Maya tidak menjawab, tapi desahannya yang semakin keras sudah cukup menjadi jawaban. Tubuhnya bergerak semakin cepat, payudaranya bergoyang naik turun.

"Bu Maya suka kan, diisi sama Bapak?" Pak Karyo berbisik, jarinya memainkan klitoris Maya.

"Ahh... ya..." Maya mendesah tanpa sadar. Matanya terpejam, tubuhnya bergerak semakin cepat.

"Kita perlu terusin ini... biar Bu Maya bisa hamil," Pak Karyo berkata pelan, tangannya di perut Maya.

"Tapi... ohhh... nggak mungkin..." Maya menggeleng meski tubuhnya terus bergerak. "Kita nggak bisa... ini cuma... sekali aja..."

"Kenapa nggak mungkin? Bu Maya mau hamil kan?" Pinggulnya mendorong ke atas lagi, membuat Maya menjerit. "Bu Maya udah lama nunggu punya anak."

"Tapi bukan... begini caranya..." Maya berbisik, suaranya bergetar antara nafsu dan keraguan. "Aku nggak bisa... selingkuh terus..."

"Bukan selingkuh," Pak Karyo menggerakkan tangannya ke payudara Maya, meremasnya dengan tekanan yang tepat. "Ini demi anak... demi keluarga... Bu Maya pantas punya anak."

Maya hanya bisa mendesah, pikirannya berkabut oleh nafsu. Bayangan perutnya yang membuncit dengan bayi yang selama ini dia dambakan membuatnya semakin bergairah.

"Aku... aku..." Maya mulai kehilangan ritme, tubuhnya gemetar menandakan orgasme kedua yang mendekat.

"Bapak juga mau keluar, Bu... Bapak keluar dalem ya..." Pak Karyo menggeram, merasakan dirinya semakin dekat.

"Iya... dalam... dalem aja..." Maya menjerit, lupa siapa dirinya. "Bikin aku hamil... ahhhh!!"

Mereka mencapai puncak bersama - Maya mengejang hebat sementara Pak Karyo menekan Maya ke bawah, membenamkan kejantanannya sedalam mungkin sambil meledakkan benihnya di dalam rahim wanita itu.

Maya bisa merasakan semburan demi semburan cairan hangat Pak Karyo memenuhi rahimnya, membuatnya orgasme berkepanjangan. Tubuhnya terus bergetar, menikmati setiap detik kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Mereka berbaring terengah, keringat membasahi tubuh mereka. Maya bisa merasakan campuran cairan mereka mengalir di pahanya, tapi ia tidak peduli.

"Bu Maya bisa hamil dengan cara ini," Pak Karyo berbisik di telinganya, jarinya mengelus perut Maya. "Kita perlu lanjut kalo Bu Maya mau punya anak."

Maya terdiam, tidak menyangkal. Bagian dari dirinya ingin menolak mentah-mentah, tapi bagian lain tahu bahwa tubuhnya sudah menyerah pada sentuhan pria ini.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Belum siap menjawab. Tapi bayangan tentang hamil, tentang akhirnya memiliki anak yang selama ini dia impikan, terus berputar di benaknya. Untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati momen ini, merasakan perasaan dipenuhi dan dipuaskan.

Sinar matahari bergeser perlahan di lantai suite hotel mewah. Maya terus mendesah di bawah sentuhan Pak Karyo yang tak kenal lelah. Tubuhnya yang sudah sensitif bereaksi pada setiap belaian jemari kasar pria itu. Panas tubuh mereka mengalahkan dinginnya AC kamar.

Jam demi jam berlalu tanpa disadari. Setiap kali Maya berpikir tubuhnya sudah mencapai batas, Pak Karyo menemukan cara baru untuk membangkitkan hasratnya. Posisi berganti, tempat berganti – dari ranjang ke sofa, dari sofa ke meja rias. Tiap permukaan ruangan menyimpan jejak gairah mereka yang tak terbendung.

"Pak... aku nggak bisa lagi..." Maya berbisik lemah saat Pak Karyo membalikkan tubuhnya, memposisikannya menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Tapi bibirnya berkata tidak sementara tubuhnya berkata iya, pinggulnya bergerak dengan sendirinya mencari kehangatan yang sudah familiar.

Maya kehilangan jejak waktu, tenggelam dalam sensasi yang menguasai tubuhnya. Perutnya mengencang lagi, gelombang kenikmatan kesekian kalinya menghantam. Erangan lemah lolos dari bibirnya yang memerah karena ciuman tak henti. Pak Karyo, yang tampak tak terpengaruh lelah, terus membisikkan kata-kata kasar yang entah mengapa semakin membuat Maya terangsang. Dunia luar seolah lenyap - hanya ada mereka dan hasrat yang tak kunjung padam.

Peluh membanjiri kulit mereka. Bercak-bercak kemerahan menghiasi tubuh Maya dari leher hingga paha dalamnya, jejak bibir dan tangan Pak Karyo yang posesif. Suara-suara mereka memenuhi ruangan – desahan Maya yang semakin serak, geraman rendah Pak Karyo yang mendominasi. Tidak ada lagi batasan status atau kelas sosial, hanya ada pria dan wanita yang saling memenuhi kebutuhan primitif.

Mereka terus saling memuaskan sepanjang pagi, tubuh mereka seolah tak pernah lelah. Peluh membanjiri seprai hotel saat Pak Karyo membawa Maya mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.

BERSAMBUNG ...

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com