𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟓

Setelah keputusan berat itu dibuat, Maya berubah seperti orang kesetanan. Setiap malam, cahaya laptop menyinari wajahnya yang pucat di kamar mereka yang gelap. Jemarinya yang biasa meneken kontrak miliaran, kini tak henti-hentinya mengetik kata kunci di Google: "donor sperma", "keberhasilan inseminasi", "prosedur bayi tabung".

Irwan berbaring di sampingnya, pura-pura tidur tapi matanya tak bisa lepas dari bayangan Maya di dinding. Istrinya yang biasanya rapi sempurna di depan klien, sekarang berantakan dengan rambut diikat asal dan kacamata melorot.

"Belum tidur juga?" Irwan akhirnya bertanya, setelah jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.

Maya menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Bentar lagi. Aku ketemu forum bagus nih."

Di luar kamar mereka, suara-suara malam berbaur dengan dentingan peralatan dapur. Pak Karyo, seperti biasa, masih membereskan rumah hingga larut. Kebiasaannya sejak empat tahun bekerja di rumah ini - memastikan semuanya sempurna sebelum tidur.

Seminggu berlalu seperti itu. Maya dengan laptopnya, Irwan dengan kecemasannya, dan Pak Karyo dengan rutinitas malamnya. Hingga suatu malam, Maya menutup laptopnya dengan gerakan tegas.

"Yang," ia berbalik menghadap Irwan yang sedang membaca laporan kantor. "Aku udah nemu tiga pilihan yang paling mungkin."

Irwan menurunkan dokumennya perlahan. Entah mengapa, jantungnya berdebar lebih kencang. "Apa aja?"

"Pertama, bayi tabung. Tapi..." Maya menggigit bibir, kebiasaannya saat gugup. "Prosesnya ribet dan peluang berhasilnya... nggak tinggi-tinggi amat di umurku."

Irwan mengangguk. Mereka sudah terlalu familiar dengan prosedur itu.

"Kedua, inseminasi buatan. Lebih simpel dari bayi tabung, tapi..." Maya menarik napas dalam. "Tingkat keberhasilnya juga nggak terlalu oke."

"Terus yang ketiga?" Irwan bertanya, meski ia sudah bisa menebak dari cara Maya menghindari tatapannya.

"Cara natural." Maya mengucapkannya dengan suara nyaris berbisik.

Hening sejenak. Dari lantai bawah, terdengar suara mesin cuci yang baru selesai. Pak Karyo pasti sedang melipat cucian sekarang, rutinitas terakhirnya sebelum tidur.

"Kata dokter Ratna..." Maya melanjutkan dengan hati-hati, "di umur 34, tubuhku bakal lebih respon sama cara natural. Hormon-hormon yang keluar waktu... waktu berhubungan, bisa naikin peluang hamil jauh lebih gede."

Irwan bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Lampu taman yang temaram menyinari wajahnya yang tegang. "Kamu mau aku bayangin istriku tidur sama cowok lain?"

"Bukan gitu, Yang..." Maya menghampirinya, memeluk Irwan dari belakang. "Ini cuma... prosedur medis aja. Kayak donor darah atau donor organ."

Irwan tertawa getir. "Donor yang bikin istriku telanjang di ranjang orang lain?"

Maya melepaskan pelukannya, mundur beberapa langkah. "Kalo kamu belum siap, kita bisa..."

"Tidak," Irwan memotong. "Kita udah sepakat mau nyoba. Aku nggak mau liat kamu nangis tiap malem lagi." Ia berbalik, menatap Maya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi tolong... kasih aku waktu buat nyerna semua ini."

***



Pencarian donor dimulai minggu berikutnya. Maya memutuskan untuk mendekati sepupunya, Andi, yang sudah memiliki tiga anak. Mereka bertemu di Starbucks sebuah mall di Jakarta Selatan, jauh dari lingkungan sosial mereka yang saling mengenal.

"Jadi," Andi menyesap espresso-nya dengan gugup, "kalian mau aku... ngasih..."

"Spermamu," Maya menyelesaikan kalimatnya, mencoba kedengaran profesional seperti waktu meeting. "Secara medis, tentu aja. Semua bakal dilakukan dengan prosedur yang bener."

Andi nyaris tersedak kopinya. "Are you out of your mind?" bisiknya tajam. "Gimana kalo Tante tau? Atau Papa? Mereka bisa kena stroke!"

"Nggak bakal ada yang tau," Maya mencondongkan tubuhnya, suaranya memohon. "Please, Ndi. Kamu tau kan banget kami pengen punya anak."

"No way." Andi menggeleng tegas, membereskan tasnya. "Aku nggak mau ikutan drama kayak gini. Cari orang lain aja deh." Ia berdiri, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Dan May... please jangan cerita ke siapa-siapa soal obrolan ini ya."

Irwan tidak lebih beruntung. Ia mencoba peruntungannya dengan Dimas, teman kuliahnya yang masih lajang. Mereka bertemu di Senayan National Golf Club, tempat yang cukup eksklusif untuk menjamin privasi.

"Sorry, Wan," Dimas mengayunkan stick golf-nya dengan gugup, bolanya meleset jauh. "This is... too much banget. Maksud gue, kita emang temen deket, tapi..."

"Kita bikin perjanjian resmi," Irwan menjelaskan, tangannya gemetar memegang stick. "Semuanya legal dan rahasia."

"Dan bayangin setiap liat anakmu nanti, itu sebenernya..." Dimas menggeleng kuat-kuat. "I can't, Wan. This is fucked up banget."

Dimas meninggalkan lapangan golf bahkan sebelum menyelesaikan hole ketiga. Sejak itu, ia menghilang dari grup WhatsApp alumni, dan status Last Seen-nya di chat personal dengan Irwan selalu "Last seen a long time ago".

Penolakan demi penolakan berdatangan. Undangan makan malam yang biasanya disambut antusias, kini selalu berakhir dengan "Ada meeting dadakan" atau "Anak lagi sakit". Group chat yang biasanya ramai dengan candaan dan gosip, mendadak sepi setiap Maya atau Irwan mengirim pesan.

"Liat deh cara mereka ngeliatin aku di supermarket tadi," Maya terisak suatu malam. "Bini Dimas pura-pura nggak liat, padahal jelas-jelas kita papasan di bagian sayur."

Irwan melampiaskan frustrasinya dengan lembur. Kantornya yang biasanya sepi setelah jam lima, kini menjadi tempat pelariannya hingga tengah malam. Proposal-proposal menumpuk di mejanya - bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena ia takut pulang dan menghadapi kenyataan.

Suatu malam, Maya pulang dengan wajah kusut. Blazer Burberry-nya tampak kusut, maskara luntur di sudut matanya. Satu lagi makan siang yang dibatalkan sepihak oleh teman-temannya - kali ini Sandra, sahabatnya sejak kuliah.

"Ini semua gara-gara kamu!" Maya membanting tas Hermes-nya ke lantai. Pak Karyo yang sedang mengepel di dekat situ terlonjak kaget, tapi tetap diam melanjutkan pekerjaannya. "Kalo aja kamu normal..."

"Kalo kamu normal, kita nggak perlu bikin malu diri sendiri kayak gini!"

Kata-kata itu menggema di dapur yang luas. Pak Karyo, yang sedang mengelap konter dapur, menghentikan gerakannya sejenak. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia sudah terbiasa dengan pertengkaran majikannya. Biasanya hanya bisikan-bisikan tajam atau pintu yang dibanting. Tapi malam ini berbeda.

"Lu pikir gue mau kayak gini?" Irwan membalas, suaranya bergetar. "Lu pikir gue sengaja bikin kita jadi bahan omongan?"

Maya tertawa getir. Air mata mengalir di pipinya yang masih berbekas foundation mahal. "Setidaknya lo nggak perlu ngadepin tatapan mereka tiap hari. Tatapan kasihan, tatapan jijik..." Ia mengambil gelas dari rak, tangannya gemetar saat menuang air. "Lo bisa sembunyi di balik meeting sama lembur-lembur lo itu."

"Dan lo pikir gue bahagia?" Irwan menghempaskan diri di kursi makan. "Lo pikir gue nggak ngerasa... nggak ngerasa..." Suaranya tercekat.

Pak Karyo melirik dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Irwan - pria yang selalu tampil tegar dan profesional itu - menangis. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, bahunya berguncang menahan isakan.

"Permisi, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, merasa tidak nyaman menyaksikan momen intim ini. "Saya... mungkin saya ke belakang dulu."

"Nggak usah, Pak Karyo," Maya menggeleng lemah. "Selesain aja kerjaan Bapak. Toh semua orang juga udah tau betapa menyedihkannya rumah tangga kita."

Pak Karyo menunduk, melanjutkan pekerjaannya membersihkan dapur. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Maya yang kini terduduk lemas di meja makan, dan Irwan yang masih terisak tanpa suara. Sebagai pria berusia 54 tahun dengan lima anak yang sehat, hatinya terenyuh melihat penderitaan pasangan muda ini.

Tangannya yang kasar menggenggam lap dengan lebih erat. Ia ingat bagaimana dulu istrinya melahirkan anak-anak mereka dengan mudah. Lima kali hamil, lima kali melahirkan dengan lancar. Bahkan di usianya yang sudah kepala lima, ia masih sering mendapat godaan dari tetangga-tetangga di kampung tentang 'kehebatannya'.

Maya terisak lagi, kali ini lebih keras. "Aku nggak kuat lagi, Yang... Aku nggak kuat liat Sandra gendong bayinya tadi. Dia bahkan nikah dua tahun setelah kita..."

Irwan bangkit, hendak memeluk istrinya, tapi Maya menghindar. "Jangan pegang-pegang," bisiknya tajam. "Aku nggak mau... aku nggak bisa..."

Pak Karyo meletakkan lapnya perlahan. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya - sesuatu yang membuatnya memberanikan diri melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan selama empat tahun bekerja di rumah ini.

"Maaf, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, menghentikan aktivitasnya mengelap konter dapur. Matanya melirik canggung pada kedua majikannya yang masih bersitegang.

Maya menoleh tajam. "Apa?" Suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan, mata merahnya masih basah oleh air mata.

Pak Karyo tersentak kecil. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia jarang melihat nyonyanya semarah ini. Tangannya yang kasar meremas lap di genggamannya, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi keberaniannya menciut melihat tatapan Maya.

"Sa-saya..." ia memulai ragu, "Saya cuma mau bilang kalau—"

"Bilang apa?" Maya memotong tidak sabar. "Kalau sudah waktunya Bapak istirahat? Ya, silakan. Kami butuh privasi."

Pak Karyo menunduk, mengurungkan niatnya. "Nggih, Bu. Permisi." Ia mundur perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Irwan yang masih terdiam.

Sepeninggal Pak Karyo, suasana dapur kembali mencekam. Denting samar sendok kopi Irwan yang terus diaduk tanpa tujuan memecah keheningan.

"Ini nggak adil, Wan," Maya berbisik, tangannya menggenggam ujung blazernya hingga kusut. "Berapa banyak lagi penolakan yang harus kita terima? Sepupu kamu, teman-teman kita... semua menjauh begitu kita minta bantuan."

Irwan meletakkan sendoknya dengan suara denting pelan. "Aku udah hubungi semua orang yang bisa dipercaya, Maya. Tapi ini permintaan yang... sulit."

"Sulit?" Maya tertawa getir. "Kita cuma minta sperma mereka, bukan ginjal!" Suaranya meninggi, getaran emosi terdengar jelas. "Dimas bahkan nggak mau ketemu kita lagi sejak kita bilang soal donor."

Irwan menghela napas berat. "Gimana pun, ini masalah sensitif. Orang-orang takut ada komplikasi nanti, takut kalau—"

"Kalau apa? Kalau aku tiba-tiba jatuh cinta sama donor?" Maya mencibir sarkastis. "Kamu pikir aku semurahan itu?"

"Maya, bukan gitu..." Irwan bangkit dari kursinya, kursi kayu itu berderit keras di lantai marmer. "Tapi kita harus realistis. Siapa yang mau ambil risiko jadi donor untuk kita tanpa ada ikatan apapun setelahnya?"

Di sudut dapur, tanpa mereka sadari, Pak Karyo berdiri diam, tangannya menggenggam kantong sampah yang seharusnya ia buang ke luar. Matanya menatap kedua majikannya dengan sorot yang sulit dibaca.

"Aku lelah, Wan," suara Maya melunak, bahunya turun dalam kekalahan. "Aku lelah terus berharap, terus mencari... tapi hasil tetap sama."

Irwan mendekati istrinya, tangannya ragu hendak menyentuh bahu Maya yang bergetar menahan isak. "Kita akan temukan jalan keluar. Mungkin... mungkin memang sudah waktunya kita pertimbangkan adopsi?"

"Nggak!" Maya menjauh, matanya menatap nyalang. "Aku pengen ngerasain hamil, Wan. Ngerasain bayi bergerak di perut aku sendiri. Ngerasain semua yang Linda rasain, yang semua sepupu kamu rasain!" Suaranya pecah oleh isak tangis.

"Maya..." Irwan menatap nanar, tangannya jatuh ke sisi tubuhnya.

Dari tempatnya berdiri, Pak Karyo bergerak pelan. Sepatu lusuhnya berderit kecil di lantai mengkilap, menarik perhatian Maya.

"Pak Karyo masih di sini?" Maya mengusap air matanya kasar, memasang wajah tegas yang biasa ia tunjukkan di kantor. "Saya bilang Bapak boleh pulang."

"Maaf, Bu..." Pak Karyo mengeratkan genggamannya pada kantong sampah, ada keraguan di matanya. "Saya cuma... saya mau..." Ia tidak melanjutkan kata-katanya, terintimidasi oleh tatapan Maya.

"Apa?" desak Maya tidak sabar. "Kalau nggak penting, tolong biarkan kami sendiri."

Pak Karyo mengangguk cepat, lalu berbalik menuju pintu belakang. Langkahnya sedikit terburu-buru, punggungnya yang biasa tegap kini sedikit membungkuk.

Sepeninggal Pak Karyo untuk kedua kalinya, Maya menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak tahan lagi, Wan. Aku nggak bisa terus hidup dalam penolakan begini."

"Maya, dengarkan aku—"


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com