𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟒

Seminggu berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Maya dan Irwan masih tidur di kamar terpisah - Maya di kamar utama, sementara Irwan memilih tidur di sofa ruang kerjanya. Setiap pagi, mereka berpapasan di dapur seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat.

"Kopi, Pak," Pak Karyo meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan Irwan yang duduk melamun di meja makan. Maya baru saja berangkat ke kantor, meninggalkan aroma parfum Chanel yang masih mengambang di udara.

Irwan mengangguk lemah. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Pak Karyo yang dengan cekatan membereskan sisa sarapan Maya - roti yang hanya dimakan setengah, telur yang nyaris tidak disentuh. Istrinya semakin kurus sejak diagnosis itu.

Malam harinya, Irwan berbaring di sofa ruang kerja, mendengarkan suara isak tangis samar dari kamar sebelah. Suara yang sama yang menghantuinya setiap malam selama seminggu terakhir. Maya menangis, berusaha meredam suaranya dengan bantal, tapi dinding-dinding rumah mewah mereka seolah sengaja meneruskan setiap isakan ke telinga Irwan.

"Ya Allah..." Irwan memejamkan mata, tangannya gemetar menggenggam ponsel yang menampilkan pesan dari ibunya:

"Nak, tadi Mama ketemu Linda di pengajian. Udah masuk bulan kedelapan... kamu kapan ngasih Mama cucu?"

Pesan itu seperti pisau yang mengiris hatinya. Irwan membayangkan tatapan kasihan yang akan ia terima di acara keluarga berikutnya. Bisikan-bisikan di belakangnya.

"Kasihan ya, sudah enam tahun..."

"Mungkin ada yang salah dengan dia..."

Suara isakan Maya semakin jelas. Irwan bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu. Tangannya terangkat, hendak mengetuk, tapi tertahan. Apa yang bisa ia katakan? Bahwa ia menyesal? Bahwa ia bersedia mempertimbangkan... tidak, ia masih belum sanggup memikirkan opsi itu.

Keesokan paginya, saat Irwan turun untuk sarapan, ia mendapati Maya sudah duduk di meja makan. Tidak seperti biasanya, istrinya belum bersiap ke kantor. Masih mengenakan piyama sutra, rambut tergerai berantakan, mata sembab.

"Maya?" Irwan menarik kursi di hadapan istrinya. "Kamu... nggak ke kantor?"

Maya menggeleng pelan, jemarinya memainkan ujung piyama sutranya yang kusut. "Udah izin WFH." Suaranya serak, bekas menangis semalaman. "Yang... kita harus ngobrol."

Irwan merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Selama enam tahun pernikahan mereka, Maya tidak pernah absen atau terlambat ke kantor - bahkan saat sakit pun ia tetap memaksakan diri pergi. Melihatnya seperti ini, berantakan dan rapuh, membuat Irwan sadar betapa dalam luka yang ia torehkan pada istrinya.

"Aku udah mikirin ini berkali-kali," Maya melanjutkan, matanya menatap kosong cangkir kopi di hadapannya. "Soal... donor sperma."

Irwan menegang. Topik yang selama ini ia hindari akhirnya muncul juga. "Maya, kita udah bahas ini..."

"Nggak, Yang. Kita belum bener-bener ngomongin ini." Maya mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menatap langsung ke mata Irwan. "Tiap kali aku coba bahas, kamu selalu ngeles. Atau marah. Atau ngurung diri di ruang kerja."

"Soalnya ini gila!" Irwan membentak, membuat Pak Karyo yang sedang membereskan dapur terlonjak kaget. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin kamu?"

"Bukan gitu," Maya mencoba menjelaskan, suaranya bergetar menahan emosi. "Ini cuma prosedur medis. Kayak... kayak transfusi darah. Kita bisa cari donor yang kita kenal, yang kita percaya. Paling nggak kita tau latar belakangnya, dan anak kita nanti nggak bakal bingung soal asal-usulnya."

"Dan menurut kamu itu bakal bikin semuanya lebih baik?" Irwan tertawa getir. "Anak yang lahir dari... dari..." ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Maya menunduk, air matanya mulai jatuh ke meja. "Aku nggak mau kehilangan kesempatan jadi ibu, Yang. Umurku udah 34 tahun. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah dalam isakan.

Irwan memejamkan mata, teringat kata-kata ayahnya tentang Om Hendra. 'Bukan lelaki sejati'. Kata-kata itu menghantuinya setiap malam, bercampur dengan suara isak tangis Maya dari kamar sebelah.

"Kita bisa adopsi aja," Irwan mencoba bernegosiasi, meski ia tahu Maya belum siap dengan opsi itu.

"Aku pengen ngerasain hamil, Yang," Maya berbisik. "Pengen ngerasain bayiku gerak di perutku. Pengen... pengen ngasih keturunan buat keluarga kita."

Dari sudut matanya, Irwan melihat Pak Karyo yang dengan canggung melanjutkan pekerjaannya, berusaha tidak mendengarkan percakapan pribadi majikannya. Namun situasi ini terlalu intim untuk diabaikan - asisten rumah tangga mereka itu pasti sudah mendengar setiap pertengkaran, setiap isak tangis yang terjadi selama berminggu-minggu terakhir.

"Aku perlu waktu," Irwan akhirnya berkata, bangkit dari kursinya. Ia tidak sanggup lagi melihat air mata Maya, tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ia telah gagal sebagai suami.

"Sampe kapan?" Maya bertanya lirih. "Sampe aku keburu tua buat punya anak?"

Irwan tidak menjawab. Ia mengambil tas kerjanya dan berjalan ke pintu, meninggalkan Maya yang masih terisak di meja makan. Di belakangnya, ia bisa mendengar Pak Karyo dengan lembut menawarkan tisu pada Maya.

Sepanjang hari di kantor, Irwan tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali ia mencoba fokus pada pekerjaannya, bayangan Maya yang berantakan di meja makan menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana rasanya melihat istrinya mengandung anak lelaki lain - melihat perutnya membesar, mendengarnya berbicara tentang tendangan bayi yang bukan darah dagingnya.

Proposal-proposal menumpuk di mejanya, tapi pikirannya terus kembali ke percakapan pagi tadi. Ia membuka ponselnya, ngetik pesan untuk Maya, lalu hapus lagi. Berkali-kali.

Saat matahari mulai tenggelam, Irwan akhirnya mengirim satu pesan singkat: "Aku pulang telat. Ada yang perlu kupikirin."

Irwan menyetir tanpa tujuan di jalanan Jakarta malam itu. Lampu-lampu kota yang biasanya menenangkan kini terasa mengejek. Setiap kali ia melihat pasangan di trotoar, bayangan Maya dengan donor yang mereka bicarakan memenuhi benaknya.

Mobilnya berhenti di sebuah kafe yang masih buka. Ia butuh kopi - atau mungkin sesuatu yang lebih keras. Tapi tidak, ia harus tetap berpikir jernih malam ini.

"Americano, double shot," pesannya pada barista yang tampak bosan.

Duduk di sudut kafe, Irwan mengeluarkan ponselnya. Foto pernikahan mereka enam tahun lalu masih menjadi wallpaper - Maya tersenyum bahagia dalam gaun putihnya, dan ia... ia masih percaya bisa memberikan segalanya untuk wanita itu.

"Mas?" suara pelayan mengejutkannya. "Kopinya."

Irwan menyesap minuman pahit itu perlahan. Seperti kenyataan yang harus ia telan - bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang Maya inginkan. Bahwa wanita yang ia cintai mungkin harus... tidak, ia bahkan tidak sanggup membayangkannya.

Ponselnya bergetar. Maya.

"Yang," suara Maya terdengar serak. "Kamu dimana?"

"Masih perlu waktu," Irwan menjawab pendek.

"Please pulang. Kita ngomong baik-baik."

Irwan memejamkan mata. "Aku nggak bisa, Maya. Nggak sekarang."

"Sampe kapan?" suara Maya bergetar. "Sampe aku keburu tua? Sampe semua pintu ketutup?"

"Maya..."

"Aku tau ini berat," Maya melanjutkan. "Tapi coba liat dari sisiku. Aku udah 34 tahun, Yang. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah.

Irwan menggenggam ponselnya lebih erat. Di seberang kafe, ia melihat seorang ayah menggendong anaknya yang tertidur. Pemandangan yang dulu membuatnya tersenyum, kini mengiris hatinya.

"Aku pulang sekarang," katanya akhirnya.

Di rumah, Maya menunggu di ruang tamu. Matanya sembab, tapi ada ketegaran dalam cara ia duduk tegak di sofa. Irwan duduk di hadapannya, jarak yang biasanya terasa intim kini seperti jurang menganga.

"Aku udah mikirin semuanya," Maya memulai. "Soal donor... kita bisa cari yang pas. Seseorang yang kita kenal, yang kita percaya. Dan prosesnya bisa dilakuin dengan... profesional."

"Profesional?" Irwan tertawa getir. "Gimana bisa profesional kalo kita minta orang lain buat..." ia tidak sanggup melanjutkan.

"Ini bukan soal... itu," Maya mencoba menjelaskan. "Ini soal bangun keluarga kita. Kasih kesempatan ke aku - ke kita - buat punya anak."

"Terus gimana sama perasaanku?" suara Irwan meninggi. "Kamu pikir aku bisa tidur nyenyak bayangin istriku..." ia berhenti, menarik napas dalam. "Maya, aku sayang kamu. Tapi ini... ini terlalu berat."

Maya bangkit, berpindah untuk duduk di samping Irwan. "Aku juga sayang kamu," bisiknya. "Nggak bakal ada yang berubah. Kamu tetep suamiku, ayah dari anak-anak kita nanti."

"Ayah?" Irwan mendengus. "Ayah dari anak yang bahkan bukan darah dagingku?"

"Jadi ayah bukan cuma soal DNA," Maya menggenggam tangan Irwan. "Tapi soal siapa yang ngebesarin, ngajarin, nyayangin anak itu. Dan aku tau kamu bakal jadi ayah yang luar biasa."

Irwan menatap tangan mereka yang bertaut. Tangan yang selama enam tahun selalu menjadi tempatnya bergantung, yang selalu ia genggam di setiap kesulitan.

"Gimana kalo nanti..." Irwan menelan ludah. "Gimana kalo nanti aku nggak bisa sayang sama anak itu kayak anakku sendiri?"

Maya menggeleng. "Aku kenal kamu, Yang. Kamu punya hati yang besar. Dan anak ini... dia bakal jadi bagian dari kita berdua. Hasil dari cinta dan pengorbanan kita."

"Pengorbanan," Irwan mengulang kata itu dengan pahit. "Emang nggak ada cara lain?"

"Kita udah coba semuanya," Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan. "Tiga kali program bayi tabung, puluhan dokter, macem-macem pengobatan... ini satu-satunya jalan yang tersisa."

Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Di luar, suara jangkrik memecah keheningan malam. Irwan merasakan kehangatan tubuh Maya di sampingnya, kehangatan yang selama enam tahun menjadi rumahnya.

"Kalo..." Irwan akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik. "Kalo kita lakuin ini... aku punya syarat."

Maya mengangkat wajahnya, matanya berbinar dengan harapan.

"Donor harus orang yang bener-bener kita kenal. Yang karakternya udah terbukti. Dan..." ia mengeratkan genggamannya pada tangan Maya. "Aku harus ikut dalam semua keputusan. Nggak boleh ada yang disembunyiin dari aku."

Maya mengangguk cepat. "Tentu, Yang. Apapun yang bikin kamu nyaman."

"Dan satu lagi," Irwan menatap Maya lekat-lekat. "Janji sama aku... janji kalo ini nggak bakal ngubah perasaan kamu ke aku."

Air mata Maya mengalir saat ia memeluk Irwan erat. "Nggak bakal, Yang. Kamu satu-satunya suamiku, satu-satunya yang aku sayang."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak diagnosis terakhir, mereka tidur berpelukan. Maya terlelap dengan senyum di bibirnya, sementara Irwan masih terjaga, memandangi langit-langit kamar. Ia tahu keputusannya malam ini akan mengubah hidup mereka selamanya. Ia hanya bisa berharap, cintanya pada Maya cukup kuat untuk melewati semua ini.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com