๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐€๐ ๐Ÿ‘

 Malam itu, begitu sampai di rumah, Irwan langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Maya bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam. Dia berdiri di depan pintu kayu itu, tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi tertahan di udara. Apa yang bisa dia katakan? Bahwa semua akan baik-baik saja? Mereka berdua tahu itu bohong.

"Pak Karyo," Maya memanggil pelan saat melihat asisten rumah tangga mereka lewat. "Tolong siapin makan malam buat Mas Irwan ya. Taruh aja di depan pintu."

"Nggih, Bu." Pak Karyo mengangguk, matanya melirik sekilas ke pintu ruang kerja yang tertutup. Maya bisa menangkap kekhawatiran di wajahnya.

Tiga hari berlalu. Nampan-nampan makanan di depan pintu nyaris tidak tersentuh. Maya hanya bisa mendengar suara keyboard dan sesekali geraman frustrasi dari dalam. Irwan masih mengerjakan pekerjaannya - mungkin lebih dari biasanya - tapi menolak keluar atau berbicara dengan siapapun.

Di hari kedua, Maya mencoba menelepon mertuanya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan situasi ini pada wanita yang selalu membanggakan kesuburan keluarga mereka? Yang selalu bercerita bagaimana ia melahirkan empat anak dengan mudah?

"Bu Maya nggak makan?" Pak Karyo bertanya dengan nada khawatir saat membereskan piring sarapan yang lagi-lagi cuma disentuh setengah.

Maya menggeleng lemah. "Nanti aja, Pak. Aku... aku mau keluar bentar."

Dia mengambil kunci mobil dan tas tangannya, memastikan make-up-nya cukup tebal untuk menyembunyikan mata sembabnya. Ada satu tempat yang selalu dia kunjungi saat hatinya gundah - klinik konsultasi Dr. Sarah di kawasan Menteng, seorang psikolog spesialis pernikahan yang sudah menanganinya sejak program bayi tabung pertama.

Ruang konsultasi Dr. Sarah selalu terasa menenangkan. Aroma lavender dari diffuser, dinding dengan foto-foto keluarga bahagia, dan kehadiran wanita profesional yang selalu bisa membuat masalah seberat apapun terasa lebih ringan.

"Udah tiga kali program ya, Maya?" Dr. Sarah menuang air ke gelas. "Dan sekarang dokter bilang nggak bisa dilanjutin?"

Maya mengangguk, menyesap air mineralnya perlahan.

"Kelainan genetik, Dok. Kualitas spermanya..." dia terdiam, menggigit bibir. "Irwan... dia ngurung diri sejak tiga hari lalu."

"Hmm." Dr. Sarah mengangguk maklum. "Berat emang buat seorang suami. Apalagi di kultur kita, anak itu..." dia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "...kayak bukti kejantanan."

"Aku nggak tau harus gimana lagi, Dok." Maya menunduk, memandangi pantulan wajahnya yang lelah di permukaan air. "Adopsi... aku belum siap. Rasanya... rasanya beda."

"Ada opsi lain sebenernya," Dr. Sarah berkata pelan. "Secara medis, ini udah cukup umum di beberapa negara." Dia membuka sebuah brosur. "Donor sperma."

Maya mengangkat wajahnya, terkejut.

"Tapi... bukannya itu..."

"Ini prosedur medis yang legal dan aman," Dr. Sarah menjelaskan. "Banyak pasangan dengan kondisi kayak kalian yang berhasil punya anak lewat cara ini. Yang penting itu nyari donor yang tepat, dengan latar belakang kesehatan yang jelas, dan pastinya..." dia menatap Maya dengan pengertian, "...dengan persetujuan suami."

"Irwan nggak bakal setuju," Maya menggeleng cepat. "Dia... dia tradisional banget soal hal-hal kayak gini."

"Tapi setidaknya ini opsi yang bisa dipertimbangin," Dr. Sarah menyodorkan brosur itu. "Daripada kalian terus kejebak dalam rasa bersalah. Ada banyak cara buat bangun keluarga, Maya."

Maya termenung. Donor sperma. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tapi sekarang...

"Pikirin baik-baik ya," Dr. Sarah tersenyum profesional. "Omongin sama Irwan kalau dia udah lebih tenang. Dan inget," dia menambahkan, "kadang solusi terbaik datang dari tempat yang nggak kita duga sebelumnya."

Dalam perjalanan pulang, pikiran Maya berkecamuk. Donor sperma. Kehamilan yang nyata. Bayi yang bisa dia kandung sendiri. Tapi... bagaimana cara menyampaikan ini pada Irwan? Pada suaminya yang bahkan mendengar kata "donor" saja sudah membuat wajahnya mengeras?

Mobil Maya memasuki halaman rumah. Dari jendela lantai dua, dia bisa melihat lampu ruang kerja Irwan masih menyala. Tiga hari, dan suaminya masih mengurung diri di sana. Maya menghela napas panjang, menggenggam kemudi erat. Mungkin memang sudah waktunya untuk membicarakan opsi yang tidak biasa ini.

Maya memarkir mobilnya di garasi, tapi tidak langsung turun. Dia menatap pantulan dirinya di spion - wajah lelah seorang wanita yang sudah kehabisan pilihan. Dari sudut matanya, dia melihat Pak Karyo sedang menyiram tanaman di taman depan, sosoknya yang tegap bergerak dengan efisien seperti biasa.

"Pak Karyo," Maya memanggil setelah keluar dari mobil. "Mas Irwan udah makan siang?"

"Belum, Bu. Nampan sarapan masih utuh di depan pintu." Suara Pak Karyo terdengar khawatir.

Maya mengangguk pelan, ide mulai terbentuk di benaknya.

"Tolong siapin sup asparagus ya, Pak. Yang biasa Mas Irwan suka."

Aroma sup yang menguar dari dapur membuat perut Maya bergemuruh, mengingatkannya bahwa dia sendiri belum makan sejak pagi. Dia menunggu dengan sabar sementara Pak Karyo menyiapkan nampan, memastikan semuanya sempurna - sup masih mengepul, roti panggang tersusun rapi, dan segelas jus jeruk segar.

Dengan hati-hati Maya membawa nampan itu ke lantai dua. Di depan pintu ruang kerja Irwan, dia menarik napas dalam-dalam.

"Yang?" Maya mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. "Aku bawain sup asparagus. Yang kamu suka."

Hening sejenak. Maya hampir menyerah ketika mendengar langkah kaki pelan mendekati pintu. Suara kunci diputar.

Irwan berdiri di ambang pintu, tampak berantakan dengan kemeja yang sama sejak tiga hari lalu. Matanya merah dan berkantung, janggutnya mulai tumbuh tak beraturan. Maya belum pernah melihat suaminya sekacau ini.

"Boleh aku masuk?" tanya Maya lembut. Jantungnya berdebar melihat kondisi suaminya.

Irwan mundur tanpa kata-kata, membiarkan Maya masuk ke ruang kerjanya yang biasanya rapi tapi kini dipenuhi cangkir kopi kosong dan kertas-kertas berserakan. Laptop-nya menyala, menampilkan spreadsheet yang Maya yakin sudah dikerjakannya selama tiga hari terakhir - cara Irwan melarikan diri dari kenyataan.

"Kamu harus makan," Maya meletakkan nampan di meja, menyingkirkan beberapa dokumen dengan hati-hati. Aroma sup menguar di ruangan pengap itu.

"Aku nggak lapar." Suara Irwan serak, seperti belum digunakan selama berhari-hari.

"Please?" Maya mengambil sendok, mengaduk sup perlahan. "Demi aku?" Matanya memohon.

Irwan akhirnya duduk, membiarkan Maya menyodorkan sendok sup ke mulutnya. Seperti anak kecil yang patuh, ia membuka mulut. Maya bisa melihat air mata menggenang di sudut mata suaminya.

"Maaf..." bisik Irwan setelah beberapa suap. "Aku... aku gagal jadi suami."

"Jangan ngomong gitu," Maya menggenggam tangan Irwan. "Ini bukan salah siapa-siapa."

"Tapi bener kan?" Irwan tertawa getir. "Aku nggak bisa kasih kamu anak. Kayak yang Papa bilang soal Om Hendra - bukan cowok beneran."

"Yang..." Maya meletakkan sendoknya. Ini saat yang tepat. "Sebenernya... ada cara lain."

Irwan mengangkat wajahnya, menatap Maya dengan mata sembab.

"Tadi aku ke tempat Dokter Sarah," Maya melanjutkan hati-hati. "Dia bilang... ada beberapa opsi yang bisa kita pertimbangin."

"Adopsi?" Irwan menggeleng. Tangannya gemetar memegang sendok. "Kamu sendiri yang bilang belum siap."

"Bukan," Maya menelan ludah. "Donor... donor sperma." Suaranya hampir tak terdengar saat mengucapkan kata terakhir.

Ruangan itu mendadak sunyi. Maya bisa mendengar detak jam dinding dan suara samar Pak Karyo menyapu halaman di bawah.

"Nggak." Irwan berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan kasar. "Aku nggak mau denger soal itu."

"Tapi Yang, kalo donornya orang yang kita kenal..."

"NGGAK!" Irwan menggebrak meja, membuat sup tumpah ke dokumen-dokumen. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin istriku?"

"Bukan gitu," Maya mencoba tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Ini... ini kayak transfusi darah. Cuma prosedur medis."

"Prosedur medis?" Irwan

menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Kamu denger nggak apa yang dokter bilang? Tingkat keberhasilannya cuma lima belas persen! Lima belas persen, Maya! Setelah semua yang udah kita lalui, semua uang yang kita keluarin..."

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, tangannya mengepal. "Belum lagi prosedurnya itu... begitu kaku, begitu artifisial. Ruangan steril, alat-alat dingin, dokter dan perawat yang masuk-keluar seperti pabrik. Apa itu cara manusia membuat keturunan?"

Maya menatap Irwan dengan sedih. Ia mengerti keberatan suaminya. Tiga kali program bayi tabung yang gagal memang sudah menguras mereka, bukan hanya secara finansial tapi juga emosional.

"Iya, aku tau tingkat keberhasilannya rendah," Maya mengusap lengannya sendiri, merasa dingin tiba-tiba. "Tapi apa pilihan kita, Yang? Kita sudah di jalan buntu."

Irwan menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. "Dan uangnya... Ya Allah, kita hampir menghabiskan seluruh tabungan. Apa kita sanggup bayar satu program lagi yang kemungkinan berhasilnya kecil?"

"Dan bayangkan," Irwan melanjutkan, suaranya merendah menjadi bisikan getir, "kita harus minta donor itu masturbasi di lab lagi dan lagi. Berapa kali? Tiga kali? Lima kali? Sepuluh kali sampai berhasil?" Ia mengusap wajahnya kasar. "Apa nggak memalukan, Maya? Tiap kali gagal, kita harus minta dia datang lagi, masuk ruangan itu lagi, keluarkan... keluarkan benihnya lagi. Ya Allah, aku bahkan nggak sanggup membayangkan harus minta tolong seperti itu berkali-kali!"

Maya menggigit bibirnya. Inilah saatnya. "Sebenarnya..." ia memulai dengan hati-hati, "Dokter Sarah menyebutkan ada cara lain yang tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Dan biayanya... jauh lebih rendah."

Mata Irwan melebar, terlihat tertarik. "Cara apa? Kenapa dokter Ratna nggak pernah menyebutkan ini?"

"Karena..." Maya menelan ludah, mencari keberanian, "cara ini nggak sepopuler bayi tabung di kalangan dokter. Lebih sedikit prosedur medis, lebih sedikit intervensi. Dokter Sarah bilang tubuh lebih responsif dengan... pendekatan alami."

"Ada cara yang lebih... natural," Maya berbisik, mengingat penjelasan Dokter Sarah. "Yang nggak harus di rumah sakit."

"Lebih parah lagi!" Irwan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Dadanya naik turun. "Kamu mau tidur sama cowok lain? Atas nama apa? Medis? Keturunan?"

"Yang..." Maya mencoba meraih tangannya.

"Keluar." Irwan menunjuk pintu. "Aku butuh waktu sendiri." Matanya berkilat marah.

"Tapi..." Suara Maya tercekat.

"KELUAR!" Teriakannya memenuhi ruangan.

Maya bangkit perlahan, kakinya gemetar. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak.

"Aku bakal selalu sayang kamu, Yang. Tapi aku juga pengen jadi ibu. Dan kalo ini satu-satunya cara..."

Irwan tidak menjawab. Maya menutup pintu di belakangnya, tepat saat mendengar suara benda dibanting ke dinding. Dia bersandar ke pintu, membiarkan air matanya jatuh.

Di ujung tangga, Pak Karyo berdiri dengan sapu di tangan, wajahnya menunduk sopan tapi Maya tahu ia mendengar semuanya. Pertengkaran hebat mereka yang pertama setelah enam tahun pernikahan.

๐‘ฉ๐‘ฌ๐‘น๐‘บ๐‘จ๐‘ด๐‘ฉ๐‘ผ๐‘ต๐‘ฎ

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com