𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐀𝐁 𝟔

Fajar baru saja menyingsing ketika Maya melangkah keluar dari kamar. Blazer krem yang dulu pas kini menggantung longgar di tubuhnya yang semakin kurus, membuatnya tampak seperti anak kecil yang mencoba mengenakan pakaian ibunya. Dia melewati ruang kerja Irwan tanpa mengetuk - kebiasaan baru yang menyakitkan setelah pertengkaran hebat semalam.

Dari jendela dapur, Pak Karyo mengamati bagaimana Maya berjalan ke mobilnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam caranya bergerak pagi ini - lebih berat, seolah setiap langkah membutuhkan energi ekstra. BMW putih itu meluncur meninggalkan pekarangan, membawa serta keanggunan terakhir yang tersisa dari rumah mewah itu.

Pak Karyo menyelesaikan ritual paginya dengan pikiran berkecamuk. Dia mencuci piring-piring kotor yang semalam tidak disentuh siapapun, mengepel lantai marmer yang berkilau - rutinitas yang biasanya dia lakukan dengan pikiran kosong. Tapi pagi ini berbeda. Setiap gerakannya dipenuhi pertimbangan, setiap helaan napasnya membawa keraguan.

Jam menunjukkan pukul sembilan ketika dia akhirnya memberanikan diri mendekati ruang kerja Irwan. Suara keyboard terdengar dari dalam - ketukan frustrasi yang tidak berirama, diselingi helaan napas berat dan sesekali umpatan tertahan.

Pak Karyo berdiri di depan pintu kayu jati itu, tangannya terangkat ragu-ragu. Selama empat tahun mengabdi di rumah ini, dia telah menyaksikan pasangan ini dari dekat. Melihat bagaimana cinta mereka perlahan terkikis oleh ketidakhadiran tangis bayi. Mendengar isak Maya di malam-malam sunyi. Mengamati Irwan yang semakin sering mengurung diri.

"Permisi, Pak," dia mengetuk pelan, suaranya hampir tenggelam dalam deru AC. "Maaf ganggu..."

Hening. Hanya suara keyboard yang semakin brutal. Pak Karyo mengetuk sekali lagi, lebih keras.

"Masuk." Suara Irwan terdengar asing - serak dan pahit, seperti kopi dingin yang tersisa di cangkir-cangkir kotor di mejanya.

Ruangan itu berantakan - sangat tidak seperti Irwan yang biasanya rapi dan teratur. Berkas-berkas berserakan di lantai, beberapa bahkan tampak seperti habis diremas. Tiga cangkir kopi kosong berjejer di meja, noda hitam mengering di dasarnya. Dan di tengah kekacauan itu, Irwan duduk dengan mata sembab, kemeja yang sama seperti semalam kini kusut dan berbau keringat.

"Maaf, Pak..." Pak Karyo memulai dengan hati-hati, matanya menatap lantai - kebiasaan yang udah terpatri selama puluhan tahun kerja jadi pembantu. "Saya nggak bermaksud lancang. Tapi saya liat masalah Bapak sama Ibu..."

Irwan mengangkat wajahnya perlahan dari laptop. Matanya merah dan berkantung, rambutnya berantakan seperti habis dijambak berkali-kali. Dia menatap Pak Karyo dengan pandangan kosong, seolah baru menyadari keberadaan pria yang telah mengurus rumahnya selama empat tahun ini.

Pak Karyo menelan ludah. Apa yang akan dia katakan bisa membuatnya dipecat - atau lebih buruk lagi. Tapi melihat kehancuran di hadapannya, melihat bagaimana rumah tangga yang dulunya harmonis ini perlahan hancur... dia harus mencoba.

"Saya..." dia berdeham pelan, tangannya yang kasar menggenggam ujung kemejanya yang lusuh. "Saya punya lima anak di kampung, Pak. Semuanya sehat. Kalau Bapak izinkan..." Dia nggak nyelesaiin kalimatnya, tapi tatapan Irwan yang mendadak berubah tajam nunjukin bahwa majikannya paham betul apa yang dia tawarkan.

Keheningan yang menyusul terasa mencekam. Deru AC yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti dengung ancaman. Irwan menatap Pak Karyo lekat-lekat, seolah baru pertama kali melihat pria itu - pria sederhana yang selama ini membersihkan rumahnya, memasak makanannya, mencuci mobilnya.

Pak Karyo memang rajin dan atletis untuk usianya yang 54 tahun. Tubuhnya yang kekar hasil bertahun-tahun bekerja fisik tampak jelas di balik seragam lusuhnya. Tapi penampilannya jauh dari kata menarik - kulitnya gelap dan kasar oleh matahari, wajahnya bertahun-tahun terpanggang cuaca Jakarta, dan pendidikannya hanya sampai SMP.

"Keluar." Suara Irwan terdengar dingin, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tapi Pak—"

"KELUAR!" Irwan menggebrak meja, membuat cangkir-cangkir kopi kosong bergetar. Laptop di hadapannya nyaris terjatuh.

Pak Karyo mundur selangkah, tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ada keteguhan dalam caranya berdiri yang tidak pernah Irwan lihat sebelumnya. "Maaf, Pak. Tapi saya nggak bisa diam aja lihat rumah tangga Bapak hancur seperti ini."

"Kamu..." Irwan bangkit dari kursinya, tubuhnya gemetar menahan amarah. "Berani-beraninya kamu... nawarin... buat ngehamilin istriku?"

"Bukan gitu, Pak," Pak Karyo tetap tenang, meski keringat mulai mengalir di pelipisnya. "Saya cuma pengen bantu. Saya lihat Bu Maya makin kurus. Saya sering denger Bu Maya nangis tiap malem. Dan Bapak..." dia melirik ruangan yang berantakan itu, "Bapak juga tersiksa."

"Kamu nggak tau apa-apa!" Irwan menyambar cangkir kopi terdekat, melemparnya ke dinding. Suara pecahan porselen memenuhi ruangan. "Kamu cuma pembantu! Berani-beraninya..."

"Ya, saya emang cuma pembantu," Pak Karyo motong, suaranya tetep rendah dan hormat tapi ada ketegasan di dalamnya. "Tapi justru karena itu saya nggak punya apa-apa buat dipertaruhkan. Nggak ada status sosial, nggak ada nama baik keluarga. Yang saya punya cuma..." dia diem sebentar, "...bukti kalo saya bisa kasih apa yang Bapak sama Bu Maya pengen."

Irwan terduduk kembali di kursinya, tenaganya seolah tersedot habis. Kata-kata ayahnya tentang Om Hendra bergema di telinganya - 'bukan lelaki sejati'. Dan kini, pembantu rumah tangganya sendiri menawarkan untuk membuktikan bahwa dia, Irwan, memang bukan lelaki sejati.

"Pergi," bisik Irwan, suaranya pecah. "Sebelum aku telepon satpam kompleks."

Pak Karyo mengangguk pelan, berbalik menuju pintu. Tapi sebelum menutup pintu, dia berhenti sejenak. "Pak," katanya tanpa noleh, "saya udah anggep Bapak sama Bu Maya kayak keluarga sendiri. Tawaran saya tetep berlaku... kalo Bapak berubah pikiran."

Pintu tertutup dengan suara pelan, meninggalkan Irwan sendirian dengan pikirannya yang kacau. Di luar, dia bisa mendengar suara Pak Karyo mulai menyapu halaman - kembali ke rutinitas hariannya seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

Irwan menatap kosong ke arah laptop, layarnya menampilkan spreadsheet yang sudah tidak dia mengerti lagi. Kata-kata Pak Karyo terus berputar di kepalanya. Lima anak. Semuanya sehat. Dan Maya... Maya yang semakin kurus, semakin putus asa...

Tangannya gemetar mengambil foto pernikahan dari laci - Maya dalam gaun Vera Wang putih yang anggun, tersenyum dengan bibir merah sempurna hasil riasan penata rias terkenal. Enam tahun lalu, di ballroom hotel bintang lima, mereka berdansa di tengah decak kagum para tamu. Maya berbisik manja tentang empat anak yang akan mereka miliki, tentang nama-nama yang sudah dia siapkan - semua terdengar mewah dan modern, seperti anak-anak ekspatriat.

Sekarang, Maya bahkan tidak sanggup melewati bagian perlengkapan bayi di mall tanpa bergegas pergi, matanya berkaca-kaca. Kamar bayi yang dia desain dengan interior designer ternama kini hanya menjadi museum kesedihan - boneka-boneka mahal berdebu, box bayi import masih terbungkus rapi.

Suara gesekan sapu Pak Karyo di halaman memecah lamunannya. Irwan berjalan ke jendela, mengamati pembantunya yang sedang bekerja di bawah terik matahari. Keringat membuat kaos lusuhnya menempel di tubuh - memperlihatkan otot-otot kasar yang terbentuk dari kerja keras, bukan dari gym mahal seperti miliknya. Kulit Pak Karyo yang hitam legam penuh kerutan tampak mengkilap oleh peluh, kontras tajam dengan kulit putih terawat para eksekutif di lingkungan sosial mereka.

"Permisi, Pak." Suara serak Pak Karyo bikin Irwan kaget. Dia berbalik, ngeliat pembantunya berdiri di ambang pintu dengan ember dan kain pel. "Mau bersihin ruangan..."

Irwan mengangguk kaku, mundur ke sudut ruangan. Dari dekat, perbedaan mereka semakin mencolok. Pak Karyo dengan kemeja lusuh yang dikancing asal-asalan, celana katun belel yang sudah pudar warnanya, dan sandal jepit murahan - berdiri di ruang kerja mewah dengan furniture import dan lukisan-lukisan mahal.

Tapi pria sederhana inilah yang memiliki apa yang tidak dia miliki. Lima anak - bukti nyata kejantanan yang tidak bisa dibeli dengan semua uang dan status sosialnya. Irwan menatap tangan Pak Karyo yang sedang mengepel - tangan yang kasar dan hitam dengan kuku-kuku tebal yang tidak terawat, urat-urat menonjol seperti akar pohon tua. Tangan yang sama yang mungkin akan...

Pikiran itu membuat perutnya bergolak. Maya yang anggun, yang biasa berdansa di pesta-pesta elit, yang kulitnya seputih porselen dan selembut sutra... harus menyerahkan diri pada pria seperti ini? Maya yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, yang bisa membahas politik global dan pasar saham... berpasangan dengan pria yang bahkan tidak bisa membedakan fork dan spoon?

Suara mobil di halaman mengalihkan perhatiannya. Maya turun dengan langkah gontai, blazer krem Burberry-nya yang mahal kini tampak kedodoran di tubuhnya yang kurus. Dia berjalan melewati Pak Karyo yang membungkuk hormat - pemandangan yang sudah ribuan kali Irwan lihat. Tapi kali ini berbeda.

Mata Pak Karyo, yang biasanya selalu tertunduk hormat, kini mengikuti setiap langkah Maya dengan tatapan yang membuat Irwan merinding. Ada kelaparan di sana, hasrat primitif yang tidak tersembunyi. Seperti predator yang mengawasi mangsanya, menunggu saat yang tepat untuk...

Irwan menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan-bayangan yang mulai memenuhi kepalanya. Tapi suara Pak Karyo yang mengepel lantai - gerakan yang kuat dan metodis - terus mengingatkannya akan kenyataan pahit: pria kasar dengan tangan hitam penuh kapalan inilah yang mungkin bisa memberikan apa yang Maya inginkan.
"NGGAK!" Maya mendorong Irwan menjauh. "Kamu nggak ngerti perasaan aku! Kamu nggak pernah bisa ngerti!" Ia menyambar tasnya dan berjalan cepat ke arah tangga, meninggalkan Irwan yang terpaku.

Dari pintu belakang yang sedikit terbuka, Pak Karyo mengamati dalam diam, kantong sampah masih di tangannya. Ada sesuatu dalam tatapannya – sebuah keputusan yang mulai terbentuk.

Malam itu, Maya tidur dengan air mata mengering di pipinya, sementara Irwan terjaga di ruang kerjanya. Di kamar belakang yang sederhana, Pak Karyo menatap foto lima anaknya yang tersenyum lebar, jemarinya yang kasar menelusuri wajah-wajah bahagia itu dengan gerakan penuh pertimbangan.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com