Dengan gerakan yang hampir memuja, Pak Karyo menunduk dan mendaratkan ciuman lembut di permukaan perut Maya yang membuncit, perlahan naik dan berakhir di bibirnya.
"Mmh..." Maya melenguh pelan, masih pulih dari orgasmenya yang intens. Tubuhnya gemetar lembut dari sisa sensasi yang belum sepenuhnya mereda, tangannya tanpa sadar meraih bahu telanjang Pak Karyo untuk menstabilkan dirinya.
"Belum puas ya, Bu?" bisik Pak Karyo di telinga Maya, suaranya rendah dan kasar. "Satu kali aja udah bikin basah begini..."
Maya menggelengkan kepala lemah, mencoba mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. "Cukup... ini masih pagi—aah!"
Kata-katanya terputus saat tangan Pak Karyo dengan cekatan kembali menyusup ke balik celana dalamnya yang sudah sangat basah, jari-jarinya menelusuri lipatan sensitif yang masih berdenyut.
"Cukup?" Pak Karyo mendengus pelan, merasakan tubuh Maya yang masih sangat responsif terhadap sentuhannya. "Tapi tubuh Ibu masih minta. Masih berkedut-kedut gini."
"Enak tenan. Awakmu koyok lagi ngelak." (Enak sekali. Tubuhmu seperti sedang kehausan.)
Maya menggigit bibirnya, mata masih setengah terpejam. Sinar matahari pagi mulai menembus tirai jendela, menciptakan pola cahaya keemasan yang menari di atas tubuh mereka. Cahaya itu menerangi detail yang biasanya tersembunyi dalam keremangan malam—rona merah yang menjalar di leher Maya, kilau peluh tipis di dahinya, dan tatapan Pak Karyo yang intens mengamati setiap reaksinya.
"Mas Karyo..." Maya berbisik, suaranya masih serak oleh tidur.
Kesadarannya mulai kembali sepenuhnya, dan dengan itu datang realisasi mengejutkan tentang apa yang sedang terjadi. Jari-jari Pak Karyo masih bergerak di dalam dirinya, tubuhnya masih merespons, tapi otaknya kini mulai bekerja.
"Oh Tuhan—" Maya tersentak, matanya terbuka lebar, mendadak sepenuhnya sadar. Dia mencengkeram pergelangan tangan Pak Karyo, meski tidak menariknya keluar. "Apa ini? Di kamar? Pagi-pagi begini?"
Napasnya terengah, pandangannya berputar ke seluruh kamar mencari tanda-tanda keberadaan suaminya. Jantungnya berdegup kencang, campuran rasa takut dan gairah yang masih menjalar.
"Irwan—di mana Irwan?" tanyanya panik, suaranya berbisik tajam. "Bagaimana kalau dia ngeliat kita?"
Pak Karyo tersenyum tenang, jarinya masih bergerak perlahan, membuat Maya kesulitan berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.
"Bapak sudah berangkat tadi pagi, Bu," jawab Pak Karyo, suaranya rendah dan percaya diri. "Saya lihat sendiri mobilnya keluar gerbang sekitar setengah jam lalu. Katanya ada pertemuan di Surabaya, nggak pulang sampai besok."
Maya mengerjapkan mata, mencoba mencerna informasi ini. Dia ingat Irwan memang merancang agar hari ini dia bisa berduaan dengan pak Karyo. Tapi… sepagi ini?
"Dia... berangkat tanpa pamit?" tanya Maya lagi, mencoba mengabaikan sensasi jari Pak Karyo yang masih menstimulasi titik sensitifnya.
"Mungkin nggak mau ganggu tidur Ibu," Pak Karyo menunduk, mencium lembut perut Maya yang membuncit. "Saya pikir... sebelum Ibu berangkat kerja nanti, kita bisa... manfaatin waktu sebentar. Sudah lama kita nggak berduaan…."
Maya menelan ludah. Sensasi jari Pak Karyo semakin intens, membuatnya sulit berpikir jernih.
"Tapi—" Maya menggigit bibirnya, menahan desahan. "Aku baru bangun banget mas..."
"Kenapa nggak?" potong Pak Karyo, jarinya bergerak lebih cepat, membuat napas Maya tercekat. "Bapak udah pergi. Dan bu Maya juga udah sebasah ini?"
Tanpa menunggu jawaban, Pak Karyo menarik turun celana dalam Maya dalam satu gerakan cepat. Dia menatap tubuh bagian bawah Maya yang kini hampir sepenuhnya terekspos dengan gaun tidur yang tersingkap ke atas. Cahaya pagi memberikan pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya—tubuh Maya yang biasanya hanya dia sentuh dalam keremangan kamar kini terlihat jelas dengan segala detailnya.
"Cantik," bisiknya dengan nada yang nyaris memuja. "Bu Maya cantik banget."
Maya, yang kini sepenuhnya terbangun, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini—cara Pak Karyo memandangnya, cara cahaya matahari membuat semuanya terlihat lebih nyata, lebih intim.
"Mas..." Maya berbisik, tangannya mencoba menutupi tubuhnya.
Pak Karyo dengan lembut menahan tangan Maya. "Jangan ditutupi. Saya mau lihat. Mau lihat ibu dari anak saya."
Kali ini Maya tidak protes dengan kata-katanya. Matanya bertemu dengan mata Pak Karyo, dan apa yang dilihatnya di sana membuat jantungnya berdebar lebih kencang—ada kepemilikan, ada nafsu, tapi juga ada sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam.
Pak Karyo tersenyum, tatapannya menelusuri tubuh Maya tanpa malu-malu. "Saya lihat Bu Maya udah basah lagi," bisiknya, jarinya menunjuk ke celana dalam Maya yang memang sudah lembap. "Dari kemarin siang kayaknya Bu Maya emang pengen banget ya?"
Maya menggelengkan kepala, berusaha menyangkal meski tubuhnya berkhianat. "Nggak, aku cuma—"
"Ssshh," Pak Karyo meletakkan jarinya di bibir Maya. "Jangan bohong. Kemarin siang Bu Maya udah basah banget waktu saya cuma jilat sebentar. Terus sorenya juga, waktu saya belum selesai. Bu Maya frustrasi kan?"
Tubuh Maya bereaksi terhadap kata-kata vulgar itu—payudaranya terasa lebih sensitif, dan kelembapan di antara kakinya semakin meningkat. Ingatan tentang kemarin berkelebat di benaknya—lidah Pak Karyo yang hampir membuatnya klimaks di ruang depan, bagaimana dia ditinggalkan dalam kondisi terangsang penuh, dan bagaimana malam harinya dia mencoba mendapatkan pelepasan dari Irwan yang gagal.
"Udah berapa lama Bu Maya nggak puas?" tanya Pak Karyo lagi, tangannya kini membelai paha dalam Maya, semakin dekat ke area sensitifnya. "Kemarin malem, bojo lanang sampean bisa muasin nggak?" (Semalam, suamimu bisa memuaskanmu tidak?)
Maya tidak ingin mengakui kebenarannya, tapi saat jari Pak Karyo menyentuh lipatannya yang basah, dia mendesah pelan. "Nggak... nggak seperti kamu, Mas."
Pak Karyo tersenyum puas. "Saya tau. Kemarin malem Bu Maya pasti coba sama Pak Irwan, tapi tetep nggak puas kan? Tadi pagi Pak Irwan bilang sama saya, 'Bu Maya butuh istirahat, semalam tidurnya tidak nyenyak.' Saya langsung tau, Bu Maya pasti masih kepikiran saya."
Maya merasa malu sekaligus terangsang mendengar analisis tepat Pak Karyo. Memang benar, sepanjang malam dia gelisah, orgasme kecil yang dia dapatkan dari Irwan hanya seperti pembuka yang tidak pernah mencapai puncak yang sesungguhnya. Bahkan saat Irwan tertidur pulas, Maya masih terjaga, membayangkan jari-jari kasar dan lidah terampil Pak Karyo.
"Iya," Maya akhirnya mengaku dengan suara lirih. "Aku... aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
Pengakuan itu membuat mata Pak Karyo berkilat penuh kemenangan. Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, dia mulai memposisikan dirinya di antara kaki Maya yang kini semakin terbuka. "Saya udah janji kan kemarin? Hari ini saya bakal bikin Bu Maya teriak sepuasnya. Saya bakal nyelesain yang kemarin nggak selesai."
Maya merasakan ujung kejantanan Pak Karyo menyentuh lipatannya yang basah, bergerak naik turun perlahan, menggoda area sensitifnya. Tubuhnya bergetar penuh antisipasi, mengingat bagaimana kemarin lidah Pak Karyo hampir membawanya ke puncak sebelum terganggu suara dari luar.
"Mas Karyo," bisik Maya, napasnya tertahan saat Pak Karyo menekan masuk sedikit, hanya ujungnya saja. "Kamu... kamu bener. Aku udah kepikiran kamu dari kemarin. Irwan... dia... dia nggak bisa bikin aku..."
"Nggak bisa bikin Bu Maya keluar sekeras waktu sama saya?" Pak Karyo melanjutkan kalimat Maya, tatapannya intens mengunci mata Maya, memaksanya mengakui kebenaran itu.
Maya mengangguk lemah. "Iya... Aku orgasme tapi... tapi rasanya berbeda. Seperti... seperti riak kecil dibanding ombak besar waktu sama kamu."
Pengakuan itu membuat senyum Pak Karyo semakin lebar. Dia menunduk, mencium perut Maya yang membuncit. "Itu karena bayinya tau, Bu. Dia tau siapa bapaknya yang beneran. Tubuh Ibu juga tau."
Dengan gerakan perlahan namun mantap, Pak Karyo memposisikan dirinya di antara kaki Maya yang kini terbuka. Tidak ada permintaan izin, tidak ada pertanyaan—hanya kehadiran dominan yang mengklaim apa yang dianggapnya sudah menjadi haknya.
Maya merasakan tubuhnya bergetar saat Pak Karyo menurunkan resleting celananya. Dia bisa melihat dengan jelas bentuk ereksinya yang mendesak kain celananya. Sinar matahari pagi membuat semuanya terlihat lebih vulgar, lebih nyata—tidak ada lagi perlindungan kegelapan malam yang biasanya menutupi tindakan mereka.
"Mas Karyo, tunggu..." Maya mencoba untuk terakhir kalinya, meski tubuhnya sudah menyerah sepenuhnya.
Pak Karyo mengabaikan permintaan itu. Dengan satu tangan, dia mengeluarkan kejantanannya yang sudah keras sempurna. Dengan tangan lainnya, dia menyentuh wajah Maya, memaksa mata mereka bertemu.
"Lihat saya, Bu," perintahnya lembut tapi tegas. "Lihat saya waktu masuk ke dalemnya Ibu."
Maya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya terkunci pada mata Pak Karyo—mata gelap yang menjanjikan kenikmatan sekaligus menuntut penyerahan. Dia merasakan ujung kejantanan Pak Karyo menyentuh lipatannya yang basah, bergerak naik turun, menggoda, mempersiapkan.
"Ahh..." desah Maya saat Pak Karyo mulai menekan masuk perlahan.
Cahaya pagi yang jatuh di atas mereka menciptakan pemandangan yang belum pernah Maya saksikan sebelumnya—bagaimana tubuh mereka menyatu, kontras kulit gelap Pak Karyo dengan kulitnya yang lebih terang, ekspresi wajah Pak Karyo yang biasanya tersembunyi dalam kegelapan, kini terlihat jelas dengan segala intensitasnya.
"Bu Maya..." Pak Karyo berbisik saat sudah sepenuhnya di dalam. Dia berhenti bergerak sejenak, menikmati sensasi hangat yang melingkupinya. "Bu Maya rasanya enak banget..."
Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya kini mencengkeram bahu Pak Karyo, kakinya refleks melingkari pinggang pria itu, menariknya lebih dalam.
Pak Karyo mulai bergerak, awalnya lambat dan terkendali. Matanya tak pernah melepaskan tatapan dari wajah Maya, mengamati setiap perubahan ekspresi, setiap kerutan kenikmatan yang muncul di antara alisnya, setiap gigitan bibir saat dia menahan desahan.
"Jangan ditahan," bisik Pak Karyo, pinggulnya bergerak lebih cepat. "Nggak ada siapa-siapa di rumah. Teriak aja kalo enak."
Dorongan itu terasa seperti perintah sekaligus izin. Maya melepaskan suaranya, desahannya kini lebih bebas, lebih jujur.
"Aahh! Mas! Mas Karyooo!" Maya menjerit saat Pak Karyo mempercepat ritmenya, tangannya yang kuat mencengkeram pinggang Maya, mengontrol setiap gerakan mereka.
Pak Karyo merasakan kepuasan yang melampaui fisik. Melihat Bu Maya—wanita berkelas, berpendidikan tinggi, istri bosnya—kini menggelinjang di bawah sentuhannya, meneriakkan namanya tanpa malu-malu, terbangun sepenuhnya dan memilih untuk menyerahkan diri padanya... ini adalah kemenangan.
"Saiki awakmu dadi duwekku tenan." (Sekarang kamu benar-benar jadi milikku.) pikir Pak Karyo, matanya menelusuri wajah cantik yang kini memerah oleh gairah di bawahnya. "Ora peduli statuse, ora peduli duwite. Awakmu wis tak tandani." (Tidak peduli statusnya, tidak peduli uangnya. Tubuhmu sudah aku tandai.)
Sinar matahari semakin terang menerobos tirai, menyoroti tetes keringat di dada Pak Karyo yang berkilauan seperti embun, menyinari wajah Maya yang kini penuh ekspresi kenikmatan tanpa topeng kesopanan. Cahaya itu seperti menyaksikan, menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan bukan lagi rahasia malam—ini adalah kenyataan terang benderang.
"M-mas... aku mau..."
Maya terengah, pinggulnya bergerak semakin liar, mencari klimaks yang terasa begitu dekat. Seluruh tubuhnya tegang dengan antisipasi.
"Belum," bisik Pak Karyo dengan suara rendah dan dominan. Dia memperlambat gerakannya secara tiba-tiba, nyaris berhenti, membuat Maya mengerang frustasi. "Saya belum kasih izin."
"Kumohon..." Maya berbisik parau, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak tahan lagi."
Pak Karyo tersenyum penuh kemenangan. Dia menarik tubuhnya hampir keluar, lalu mendorong masuk dengan satu hentakan keras. "Sekarang."
"AAAHHH!" Maya menjerit saat gelombang orgasme pertamanya datang, tubuhnya mengejang hebat di bawah Pak Karyo. Sensasi itu begitu intens hingga pandangannya memutih untuk beberapa saat.
Pak Karyo tidak berhenti. Alih-alih memperlambat, dia justru meningkatkan ritmenya, membawa Maya terus menerus dalam sensasi puncak yang berkepanjangan. Tangannya yang kasar memegang pinggul Maya, menahannya tetap di tempat sementara dia mendorong semakin dalam.
"Mas... ah! Terlalu—ngghhh!" Maya mencengkeram bahu Pak Karyo, kukunya menancap di kulit pria itu. Tubuhnya masih belum pulih dari orgasme pertama ketika sensasi baru mulai membangun. "Aku nggak kuat..."
"Bisa," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya panas. "Tubuh Bu Maya bisa. Buktinya, lihat." Dia mengubah sudut penetrasinya sedikit, menekan titik sensitif di dalam dinding Maya dengan presisi sempurna.
Orgasme kedua datang lebih cepat dan lebih kuat dari yang pertama. Maya menggigit bahu Pak Karyo untuk menahan teriakannya, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Cairan hangat membasahi penyatuan mereka, membuat suara-suara basah yang semakin erotis.
"Sshhlick... shlick..." Suara becek terdengar setiap kali Pak Karyo mendorong masuk dan keluar, bukti nyata betapa basahnya Maya.
"Berapa kali Bu Maya keluar sama Pak Irwan dalam satu malam?" Pak Karyo tiba-tiba bertanya, nadanya kasual meski ritmenya masih intens. Dia mengubah posisi mereka, mengangkat satu kaki Maya ke bahunya.
"Nnghh... a-apa?" Maya terengah, matanya setengah terpejam, pikirannya berkabut oleh kenikmatan.
"Berapa kali?" Pak Karyo mengulang, tangannya kini menyentuh klitoris Maya, memainkannya dengan gerakan memutar yang terampil. "Satu? Dua? Atau nggak pernah lebih dari sekali?"
Maya tidak bisa—tidak mau—menjawab. Tapi tubuhnya mengkhianatinya. Kepalanya menggeleng lemah, bibirnya terbuka dalam desahan tanpa suara.
"Saya udah bikin Bu Maya keluar dua kali," Pak Karyo berbisik bangga, mempercepat gerakan jarinya. "Dan saya masih belum selesai."
Dia menarik diri keluar, membuat Maya mengerang kecewa. Tapi Pak Karyo segera membalikkan tubuh Maya hingga tengkurap, mengangkat pinggulnya, dan memasukinya dari belakang dengan satu gerakan mulus.
"Aahh!" Maya tersentak, sensasi baru dari posisi ini membuat matanya terbelalak. Penetrasi terasa lebih dalam, lebih intens.
"Pak Irwan pernah ambil Bu Maya kayak gini?" tanya Pak Karyo, suaranya serak oleh nafsu. "Dari belakang, seperti insting alami?"
Maya menggeleng di antara napasnya yang terputus-putus. "N-nggak... dia nggak pernah—AAAHHH!"
Orgasme ketiga datang begitu saja, mengejutkan bahkan Maya sendiri. Tubuhnya tersentak ke depan, wajahnya terbenam di bantal, jeritannya teredam tapi tetap terdengar jelas.
"Bu Maya tau kenapa bisa keluar terus?" Pak Karyo membungkuk, berbisik tepat di telinga Maya sementara tubuhnya masih bergerak dalam ritme yang konstan. "Karena tubuh Bu Maya tau siapa yang cocok buat dia. Tubuh Bu Maya tau siapa yang bisa bikin dia puas."
Tangannya meraih dan meremas payudara Maya yang menggantung, memilin putingnya dengan sentuhan yang tepat antara lembut dan kasar.
"Pak Irwan bisa bikin Bu Maya basah kayak gini?" Dia memasukkan tangannya ke bawah, merasakan kelembapan di penyatuan mereka. "Bisa bikin sprei sampai becek gini?"
Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Tubuhnya bergetar lagi, merasakan gelombang keempat yang mulai membangun. "M-mas... aku mau lagi..."
Pak Karyo menegakkan tubuhnya, memegang pinggang Maya dengan kedua tangan, dan mulai bergerak lebih cepat, lebih keras. Suara kulit bertemu kulit terdengar semakin kencang—"plak, plak, plak"—bercampur dengan desahan Maya dan geraman rendah Pak Karyo.
"Pak Irwan pernah masuk sedalam ini?" Pak Karyo mendorong lebih dalam untuk menekankan kata-katanya, membuat Maya tersentak ke depan.
"Nggak..." Maya akhirnya mengaku, suaranya nyaris tak terdengar. "Nggak pernah... nggak sampai sini... aaahhh!"
Pengakuan itu membuat Pak Karyo semakin liar. Dia menarik Maya ke posisi duduk di pangkuannya, masih tersambung, memungkinkan penetrasi lebih dalam sementara tangannya bebas menjelajahi tubuh Maya dari depan.
"Saya tau," bisiknya puas. "Tubuh Bu Maya butuh yang lebih besar, lebih kuat. Pak Irwan nggak bisa kasih itu, iya kan?"
Maya mengangguk tanpa sadar, kepalanya terkulai ke belakang bersandar di bahu Pak Karyo. "Iya... nggak bisa..."
"Bayi ini tau," Pak Karyo menekankan kata-katanya dengan menyentuh perut Maya yang membuncit. "Dia tau siapa bapaknya yang asli. Yang bisa bikin ibunya teriak-teriak sampai tetangga denger."
Maya merasakan gelombang orgasme kelima mulai membangun, lebih kuat dari sebelumnya. Setiap kata Pak Karyo membuatnya semakin dekat ke tepi jurang.
"Pak Irwan pernah ngisi Bu Maya sampai penuh?" Pak Karyo bertanya lagi, tangannya kini bermain di klitoris Maya. "Pernah keluar di dalam sampai netes-netes ke paha?"
"Nggak... dia selalu sedikit..." Maya menjawab jujur, kehilangan semua hambatan. "Nggak pernah sebanyak... sebanyak kamu..."
Pak Karyo tersenyum puas. "M-mas... aku mau..." Maya terengah, tubuhnya mulai mengejang lagi, menandakan klimaks besar yang akan datang.
"Sama-sama," balas Pak Karyo, ritmenya semakin cepat, tak terkendali. "Kita bareng ya... bareng... Bu Maya puasnya cuma sama saya, iya kan? Cuma saya yang bisa bikin Bu Maya kayak gini."
Maya mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca oleh intensitas sensasi yang dia rasakan. Tubuhnya melengkung seperti busur, dadanya bergesekan dengan lengan kekar Pak Karyo yang memeluknya dari belakang, napasnya pendek dan cepat.
"Aaahh! Iya! Cuma Mas! Cuma Mas Karyo yang bisa! Aaahhh!" Maya berteriak tanpa terkendali saat gelombang orgasme finalnya datang, lebih dahsyat dari yang sebelumnya, tubuhnya bergetar hebat, otot-ototnya mengencang menjepit Pak Karyo di dalamnya.
Sensasi itu memicu klimaks Pak Karyo. Dengan erangan rendah dan dalam, dia membenamkan dirinya sepenuhnya, memegang tubuh Maya erat saat seluruh tubuhnya menegang. "Maya... Bu Maya... terima... terima semua..." geramnya saat melepaskan benihnya jauh di dalam Maya, menambah apa yang sudah dia tanamkan sebelumnya.
"Aaahhh... hangat... banyak sekali..." Maya mendesah, merasakan kehangatan memenuhi rahimnya. Cairan Pak Karyo begitu banyak hingga sebagian mulai merembes keluar, mengalir perlahan di paha dalamnya yang bergetar.
"Tambah subur," bisik Pak Karyo dalam bahasa Jawa dengan suara rendah penuh kepuasan. "Wetenge tambah isi anakku." (Perutnya semakin berisi anakku.)
Maya yang pertama kali membuka mata, menatap wajah Pak Karyo dari jarak dekat. Dia belum pernah melihat pria itu sejelas ini dalam konteks intim mereka. Garis-garis halus di sekitar matanya, bekas luka tipis di dahinya, rahangnya yang kuat, dan mata gelap yang kini menatapnya dengan intensitas yang membuat jantungnya kembali berdebar.
"Mas Karyo..." bisik Maya, tangannya dengan lembut menyentuh pipi kasar Pak Karyo. "Kamu... nggak pernah masuk tanpa izin seperti ini sebelumnya."
Pak Karyo tersenyum, bukan senyum sopan seorang pembantu, tapi senyum percaya diri seorang pria yang tahu dia diinginkan. "Kan dari kemarin ibu sudah memberikan izin, ketika Pak Irwan pergi... Hari ini saatnya. Nggak perlu buru-buru, nggak perlu sembunyi-sembunyi."
Dia menunduk, mengecup dahi Maya dengan lembut. "Hari ini, Bu Maya sepenuhnya milik saya."
Ada sesuatu dalam nada suara Pak Karyo, dalam tatapannya, dalam caranya mengucapkan kata-kata itu, yang membuat Maya merasakan gelenyar aneh di dadanya—campuran kegembiraan, antisipasi, dan sedikit... ketakutan?
Maya menelan ludah, matanya tidak lepas dari mata Pak Karyo. "Tapi... tapi aku masih istri Irwan."
Pak Karyo tidak berkedip, tidak menjauh. Dia masih di atas Maya, masih di dalamnya. "Saya tau, Bu," jawabnya tenang. "Tapi hari ini, untuk hari ini saja, anggap saya suami Ibu. Anggap ini rumah kita. Anggap bayi ini—" dia menyentuh perut Maya dengan kelembutan mengejutkan, "—anak kita yang Ibu kandung dengan bangga."
Kata-kata itu seharusnya mengejutkan Maya, seharusnya membuatnya marah. Tapi alih-alih protes, dia menemukan dirinya mengangguk pelan. Untuk hari ini saja, mungkin dia bisa berpura-pura. Mungkin dia bisa membiarkan dirinya tenggelam dalam fantasi ini—fantasi di mana dia dan Pak Karyo adalah pasangan normal, sepasang suami istri yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka.
"Oke," bisik Maya akhirnya, tangannya melingkari leher Pak Karyo. "Untuk hari ini."
Pak Karyo tersenyum lebar—senyum kemenangan, senyum kepuasan. Dia berguling ke samping, masih memeluk Maya, memposisikan tubuh mereka sehingga Maya berbaring di dadanya yang bidang.
Wis dadi duwekku. Rencanaku mlaku apik. (Sudah menjadi milikku. Rencanaku berjalan baik.) pikirnya, jemarinya dengan lembut membelai rambut Maya.
Sinar matahari kini sepenuhnya menerangi kamar, menyoroti dua tubuh yang saling melekat di atas tempat tidur. Di luar, dunia mulai bangun. Tetangga-tetangga memulai aktivitas pagi mereka, mobil-mobil mulai memadati jalan menuju kantor. Tapi di kamar itu, waktu seperti berhenti. Hanya ada Maya dan Pak Karyo, terperangkap dalam gelembung yang mereka ciptakan sendiri.
Dan hari masih panjang di depan mereka. Sangat, sangat panjang.
