𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟏𝟑

k

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Pak Karyo membuka matanya. Bukan alarm yang membangunkannya, tapi antisipasi yang sudah bersarang di dadanya sejak semalam. Hari ini Rabu. Hari ini Pak Irwan tidak pulang.

Hari dimana Bu Maya berjanji untuk memenuhi hasratnya.

Dia bangkit dari dipan sempit di kamarnya yang sederhana, kaki telanjangnya menyentuh lantai keramik yang dingin. Pukul 05.20 pagi. Masih ada waktu sebelum Pak Irwan berangkat. Kegelapan subuh masih menyelimuti rumah, hanya sedikit cahaya temaram dari lampu taman yang menerobos melalui ventilasi kamarnya.

"Sabar, Yo. Sabar." Pak Karyo menenangkan dirinya sendiri, jantungnya sudah berdegup lebih cepat. "Ana wektu, ora kudu kesusu." (Ada waktu, tidak perlu terburu-buru.)

Pak Karyo mandi dengan cepat, menggosok tubuhnya lebih teliti dari biasanya. Lalu ia mengenakan pakaian kerjanya seperti biasa. Kerah biru yang rapi, celana khaki yang licin setelah disetrika semalam. Walaupun pakaian biasa, ini salah satu pakaian yang diberikan Bu Maya kepadanya.

Dia menyelinap keluar dari kamarnya dengan langkah yang nyaris tak bersuara—keahlian yang didapatnya selama bertahun-tahun bekerja di rumah-rumah orang kaya. Bergerak seperti bayangan, hadir namun tak mengganggu.

Rumah masih sepi. Dari ruang tengah, dia bisa mendengar suara samar aktivitas dari kamar utama di lantai atas. Pak Irwan pasti sedang bersiap berangkat.

Pak Karyo melangkah ke dapur, mulai menyiapkan sarapan dan kopi seperti rutinitas biasa. Tangannya bergerak cekatan memotong buah-buahan untuk Irwan dan Maya. Menata roti panggang dan telur dadar. Menyiapkan jus untuk Bu Maya—vitamin tambahan untuk ibu hamil, katanya, meski sebagian motivasinya adalah memastikan Bu Maya tetap kuat untuk aktivitas yang dia rencanakan hari ini.

Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Pak Karyo segera mengubah posturnya—bahu sedikit membungkuk, mata tertunduk, gerakan lebih lambat dan hati-hati. Topeng sempurna seorang pelayan yang tahu tempatnya.

"Selamat pagi, Pak," sapanya hormat saat Irwan memasuki dapur “Tumben pagi sekali?.

"Pagi, Pak Karyo," balas Irwan, meletakkan tas kerjanya di kursi. "Maya masih tidur."

Pak Karyo mengangguk, menuangkan kopi untuk Irwan. "Ibu memang perlu istirahat lebih banyak sekarang. Untuk bayi."

Irwan mengamati Pak Karyo sejenak, tatapannya menilai. Uap dari kopi hitam mengepul di antara mereka, menciptakan tirai tipis yang seolah memisahkan dua dunia. Pak Karyo bergerak dengan efisiensi yang terlatih—menuangkan kopi, menyiapkan gula dan krim, lalu mundur kembali ke posisi sempurnanya di dekat konter dapur. Setiap gerakan terukur, dihitung, seolah dilatih selama bertahun-tahun.

"Iya, untuk bayi," Irwan menyesap kopinya perlahan. Matanya tidak lepas dari sosok Pak Karyo yang kini sibuk menata piring sarapan. "Ngomong-ngomong, Pak Karyo..."

"Ya, Pak?" Pak Karyo menoleh, ekspresinya netral meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

"Saya berangkat pagi ini dan mungkin tidak pulang sampai besok," ujar Irwan sambil meletakkan cangkir kopinya. "Ada pertemuan di Surabaya yang harus saya hadiri."

Pak Karyo menyembunyikan senyumnya dengan sempurna. Dia sudah tahu ini dari Maya kemarin, tapi tetap memasang ekspresi terkejut yang terlatih.

"Oh, begitu, Pak?" Pak Karyo mengangguk sopan, ekspresinya tidak menunjukkan apa-apa selain profesionalisme. "Perjalanan yang aman kalau begitu."

Dia udah tau aku akan pergi hari ini, batin Irwan, mengamati dengan cermat bagaimana Pak Karyo berusaha menyembunyikan reaksinya. Maya pasti udah ngasih tau dia.

Di balik ekspresi netralnya, pikiran Pak Karyo berpacu. Dadi bener kata Bu Maya wingi... Pak Irwan emang bakal lunga tenan. (Jadi benar kata Bu Maya kemarin... Pak Irwan memang akan pergi betulan.)

"Baik, Pak. Saya akan jaga rumah dan..." Pak Karyo berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "...melayani Bu Maya seperti biasa."

Irwan menyesap kopinya lagi, matanya menatap langsung ke mata Pak Karyo. Ada sesuatu dalam tatapan itu—sebuah pesan tersembunyi yang Pak Karyo tidak bisa sepenuhnya menangkap.

"Ya, tolong jaga istri saya dengan baik," kata Irwan akhirnya, suaranya tenang. "Dia... mungkin akan butuh banyak bantuan."

Pak Karyo berdiri dengan postur sempurna seorang pelayan—tangan di depan, mata tertunduk sopan—meski jantungnya berdegup kencang. "Pasti, Pak. Saya akan memastikan Bu Maya mendapatkan semua yang dibutuhkan."

Kae bengi Maya mesti wis lemekan karo bojone, (Semalam Maya pasti sudah bercinta dengan suaminya,) pikir Pak Karyo, otaknya bekerja cepat membayangkan situasi. Bar tak gawe terangsang, Maya mesti ngajak bojone nglamar. (Setelah kubuat terangsang, Maya pasti mengajak suaminya berhubungan.)

Sarapan berlangsung singkat. Irwan makan dengan cepat, sesekali melirik jam tangannya. Pak Karyo berdiri di sudut, siap jika diperlukan, sementara pikirannya berpacu.

"Opo Bu Maya puas karo bojone wengi mau?" (Apakah Bu Maya puas dengan suaminya semalam?) tanyanya dalam hati. "Opo bojone iso ngladenine koyok aku?" (Apakah suaminya bisa memuaskannya seperti aku?)

Sementara itu, Irwan mengunyah rotinya perlahan, pikirannya jauh melayang ke hotel yang telah dia reservasi—hanya sepuluh menit berkendara dari rumah. Dari sana, dengan laptop yang terhubung ke kamera tersembunyi di seluruh rumah, dia akan menyaksikan semuanya. Setiap sentuhan, setiap desahan, setiap momen ketika istrinya menyerahkan diri pada pria lain.

Setelah menghabiskan sarapannya, Irwan bangkit, menenteng tas kerjanya, lalu beralih ke Pak Karyo. "Jangan lupa, istri saya sedang hamil. Apapun yang terjadi... kesehatan dia dan bayi adalah prioritas."

"Tentu, Pak. Saya sangat memahami," jawab Pak Karyo dengan nada hormat.

Irwan mengangguk, lalu melangkah ke pintu depan. Pak Karyo mengikuti untuk membukakan pintu, memperhatikan bagaimana Irwan masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, lalu perlahan menghilang dari pandangan.

Dheweke ora ngerti apa sing bakal kedadean dina iki (Dia tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini), pikir Pak Karyo, matanya mengikuti mobil Irwan hingga berbelok di ujung jalan. Dheweke ora ngerti apa sing wis kedadean wingi (Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi kemarin).

Tapi Irwan tahu lebih banyak dari yang Pak Karyo kira. Di dalam mobilnya, Irwan membuka aplikasi di ponselnya—layar menampilkan pemandangan dari kamera tersembunyi di ruang tamu rumahnya. Dia bisa melihat Pak Karyo masih berdiri di ambang pintu, mengawasi kepergiannya.

"Nikmati waktumu dengan istriku, Pak Karyo," Irwan berbisik pada dirinya sendiri, jarinya mengusap layar ponsel dengan gerakan lambat. "Aku akan melihat semuanya."

Dia membelokkan mobilnya, bukan ke arah kantor, melainkan menuju hotel yang telah dia reservasi sejak seminggu lalu. Hotel yang cukup dekat untuk kembali dalam waktu singkat jika diperlukan, namun cukup jauh untuk memberi Maya dan Pak Karyo ilusi privasi yang mereka butuhkan.

Pak Karyo berdiri di ambang pintu, memastikan mobil Irwan benar-benar hilang dari jarak pandang. Jantungnya berdebar kencang. Sensasi yang aneh merayapi tubuhnya—campuran antisipasi, nafsu, dan sedikit kekhawatiran.

Dia menutup pintu perlahan, bersandar sejenak ke dinding. Matanya terpejam saat menghirup udara pagi yang masih sejuk.

"Wis mangkat tenan. Saiki wektune." (Sudah benar-benar berangkat. Sekarang waktunya.)

Dengan langkah mantap, Pak Karyo menaiki tangga menuju kamar utama. Tiap langkahnya terasa berbeda—bukan lagi langkah seorang pembantu yang berhati-hati, tapi langkah seorang pria yang penuh percaya diri. Punggungnya tegak, bahunya rileks, rahangnya mengeras dengan determinasi.

Di depan pintu kamar utama, Pak Karyo berhenti sejenak. Tidak ada keraguan dalam dirinya, tanpa mengetuk, dengan gerakan halus, dia memutar kenop pintu, lalu melangkah masuk tanpa suara.

Kamar itu remang-remang, tirai jendela masih tertutup meski cahaya pagi mulai menerobos dari celahnya. Aroma Maya—campuran parfum mahal dan kelembutan alami tubuhnya—langsung menyapa hidung Pak Karyo, membuatnya menahan napas sejenak.

Di atas tempat tidur king size, Maya masih tertidur pulas. Tubuhnya yang hanya dibalut gaun tidur satin berwarna cream—yang sama dengan yang dia kenakan semalam saat bersama Irwan—tampak kusut dan sedikit tersingkap. Seprai putih di bawahnya berantakan, dengan beberapa bercak kering keputihan—jejak aktivitas semalam yang membuat rahang Pak Karyo mengeras.

Posisi tidurnya membuat gaun itu tersingkap hingga atas pahanya, mengekspos kulit halusnya dengan sedikit noda kering di bagian dalam pahanya. Tenggorokan Pak Karyo mengering melihatnya, campuran kemarahan dan hasrat berperang dalam dadanya.

"Kuwi kudune wijiku," (Itu seharusnya benihku,) pikir Pak Karyo geram. Rambut hitam Maya terurai berantakan di atas bantal, beberapa helai menutupi sebagian wajahnya yang damai tapi masih menyisakan rona kepuasan dari semalam.

"Ayu tenan..." (Cantik sekali...) pikir Pak Karyo, matanya mengamati setiap detail pemandangan di hadapannya. "Semalam bojone sing ngrasakke, saiki giliranku." (Semalam suaminya yang merasakan, sekarang giliranku.)

Matanya menyipit melihat sisa-sisa cairan yang telah mengering di pinggiran gaun tidur Maya. Irwan jelas telah memanfaatkan gairah yang Pak Karyo bangkitkan kemarin. Dia membayangkan bagaimana Maya, yang sudah terangsang karena ulahnya, menyerahkan tubuhnya pada Irwan semalam. Pikiran itu membuatnya semakin berhasrat untuk mengklaim kembali apa yang dia anggap sebagai miliknya.

Dengan gerakan perlahan namun mantap, Pak Karyo membuka kancing bajunya satu per satu. Otot-otot dada dan perutnya yang terbentuk oleh bertahun-tahun kerja fisik terekspos ke udara sejuk pagi. Dia tidak melepas celana panjangnya—setidaknya belum. Ada kesenangan tersendiri dalam memperlambat proses ini, menikmati antisipasi.

Pak Karyo melangkah perlahan ke sisi tempat tidur. Matanya tak lepas dari tubuh Maya yang masih lelap. Dia duduk dengan hati-hati di tepi kasur, merasakan empuknya permukaan yang jauh berbeda dari dipan sederhana di kamarnya.

Dengan kelembutan yang kontras dengan tangannya yang kasar, Pak Karyo menyentuh paha Maya yang terekspos. Jemarinya bergerak perlahan, merasakan kelembutan kulit yang selalu membuatnya takjub. Bagaimana bisa kulit seseorang terasa sebegini halusnya? Begitu berbeda dengan kulit Ratih yang kasar oleh kerja keras di desa.

Sentuhan itu bergerak naik perlahan, semakin tinggi, mengikuti lekuk paha Maya hingga mencapai batas gaun tidurnya. Pak Karyo menahan diri untuk tidak langsung menarik gaun itu lebih tinggi. Ada kepuasan tersendiri dalam mengamati reaksi tubuh Maya, bahkan dalam tidurnya.

Dan reaksi itu mulai terlihat. Napas Maya yang tadinya teratur mulai sedikit berubah. Dadanya naik turun dengan ritme yang sedikit lebih cepat. Bibirnya yang setengah terbuka mengeluarkan desahan kecil yang hampir tak terdengar. Tubuhnya bergerak sedikit, secara tidak sadar menyambut sentuhan Pak Karyo.

Pak Karyo tersenyum puas. Tangannya kini lebih berani, menyingkap gaun tidur Maya lebih tinggi, mengekspos celana dalamnya yang berwarna merah muda senada.

Matanya menangkap sesuatu—bercak putih kekuningan yang telah mengering di pinggiran celana dalam Maya dan di bagian dalam pahanya. Sisa-sisa aktivitas semalam dengan Irwan.

Rahang Pak Karyo mengeras, giginya bergemerutuk pelan. Dia mengusap salah satu bercak itu dengan ibu jarinya, merasakan teksturnya yang sedikit kasar. Sensasi panas menjalar di dadanya—campuran kemarahan dan kepemilikan yang primitif.

"Kuwi wijine sing salah," (Itu benih yang salah,) pikirnya getir. "Sing bener wijiku. Sing bener anakku." (Yang benar benihku. Yang benar anakku.)

Alih-alih menjijikkan, pemandangan itu justru semakin membakar hasratnya. Ada dorongan kuat untuk menghapus jejak Irwan, untuk menandai Maya sebagai miliknya, untuk menunjukkan siapa yang lebih dominan.

"Ora apa-apa," (Tidak apa-apa,) bisiknya pada diri sendiri, jemarinya kini dengan sengaja menelusuri area yang ternoda, seolah ingin menegaskan bahwa dia tidak terpengaruh. "Saiki giliranku." (Sekarang giliranku.)

Mata Pak Karyo mengamati lebih seksama. Bercak-bercak itu tidak hanya di celana dalam dan paha dalam Maya, tapi juga sedikit di bagian bawah gaun tidurnya. Dia bisa membayangkan bagaimana Maya, yang sudah terangsang oleh sentuhannya kemarin, menyerahkan tubuhnya pada Irwan semalam—mungkin berteriak lebih keras, mungkin meminta lebih banyak, karena rangsangan yang telah dia bangun.

"Bojo lanangmu ra iso muasno awakmu," (Suamimu tidak bisa memuaskanmu,) bisik Pak Karyo, jemarinya kini menelusuri tepi celana dalam Maya, bermain dengan elastisnya. "Nek iso, awakmu ora bakal basah ngene mung tak demek sithik." (Kalau bisa, tubuhmu tidak akan basah begini hanya kusentuh sedikit.)

Jemarinya perlahan menyusup ke balik kain tipis itu, menemukan lembapan yang sudah terbentuk di lipatan Maya. Dengan gerakan memutar yang terlatih, dia mengusap klitoris Maya dengan ibu jarinya sementara jari tengahnya menerobos masuk.

"Mmh..." Maya melenguh dalam tidurnya, kakinya refleks terbuka lebih lebar memberi akses. Tubuhnya bereaksi bahkan sebelum kesadarannya kembali.

Pak Karyo merasakan gelombang nafsu saat melihat ekspresi Maya yang berubah dalam tidurnya. Perut Maya yang membuncit dengan kehamilannya terlihat jelas di bawah gaun tidurnya yang tersingkap, membangkitkan perasaan primitif dalam dirinya.

"Anakku. Ning wetenge wong ayu." (Anakku. Di perut wanita cantik.) pikirnya, jarinya bergerak semakin dalam, mencari titik sensitif yang dia sudah hafal lokasinya.

"Sssh... ahh..." Maya mendesah lagi, kelopak matanya bergetar tapi belum terbuka. Pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari ritme dengan jari Pak Karyo yang kini bergerak keluar-masuk dengan kecepatan yang semakin meningkat.

"Mppphhh..." Desahan Maya semakin intens. Pak Karyo menambahkan jari ketiganya, merasakan dinding kewanitaan Maya yang panas dan basah menjepit jari-jarinya. Suara becek terdengar setiap kali jarinya bergerak—"shlick... shlick..."—bunyi yang semakin membakar gairahnya.

Kelopak mata Maya akhirnya terbuka perlahan, pandangannya masih kabur dan tidak fokus. Sensasi di antara kakinya terasa nyata namun seperti mimpi. Tubuhnya menggeliat, punggungnya melengkung saat jari Pak Karyo menemukan titik yang tepat di dalam dirinya.

"Ahhh! Ap—" Maya tersentak, kesadarannya mulai kembali saat menyadari Pak Karyo duduk di sisi tempat tidurnya, tangannya aktif di bawah gaun tidurnya.

"Pagi, Bu," bisik Pak Karyo dengan suara serak, tidak menghentikan gerakan jarinya yang kini menggesek spot G-Maya dengan tekanan yang tepat. "Bapak sudah berangkat tadi. Saya pikir... saya bisa kasih Bu Maya sedikit... 'sarapan' sebelum kerja."

Maya mengerjapkan mata, otaknya masih berkabut oleh sisa tidur dan kenikmatan yang terasa semakin intens. "M-mas... ngghhh... ini masih... ahhh... pagi..."

"Justru itu, Bu," Pak Karyo menambah kecepatan jarinya, ibu jarinya kini menggesek klitoris Maya dengan gerakan memutar. "Sebelum Ibu berangkat kerja... saya mau Ibu... ingat saya seharian."

Maya menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar hebat. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih untuk protes, dan tubuhnya sudah terlalu jauh terangsang untuk menolak. Tangannya refleks memegang lengan kekar Pak Karyo, bukan mendorong menjauh tapi menarik lebih dekat.

"A-Apa ini p-pak..." Maya mencoba protes lemah, namun pinggulnya bergerak berlawanan, menyambut penetrasi jari Pak Karyo.

"Nikmatin aja, Bu," Pak Karyo tersenyum, jarinya bergerak semakin cepat dan dalam.

Gerakan Pak Karyo semakin intens, menekuk jarinya dalam gerakan "kemarilah" yang tepat menekan titik G Maya, membuat tubuh wanita itu tersentak seperti tersengat listrik.

"Ah! AH! AAAHHH!" Maya tidak bisa lagi menahan suaranya, kepalanya terlempar ke belakang, tangannya mencengkeram lengan Pak Karyo hingga kukunya menancap. Tubuhnya mengejang, dinding vaginanya berdenyut kuat menggenggam jari-jari Pak Karyo, cairannya merembes hingga membasahi seprai di bawahnya.

Dalam kondisi setengah sadar, Maya melihat Pak Karyo tersenyum puas, jari-jarinya yang mengkilap basah ditarik keluar perlahan, lalu dengan tatapan yang tak lepas dari mata Maya, dia menjilati cairannya dari jari-jari tersebut.

"Manis kayak biasanya, Bu," gumamnya dengan suara rendah, matanya gelap oleh hasrat. "Saya jadi pengen lebih..."


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com