𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟑𝟐

"Jadi..." Irwan memecah keheningan yang menyesakkan, suaranya jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Apa kamu benar-benar berpikir Maya akan setuju menjadi istri keduamu?" Ada nada aneh dalam pertanyaannya—bukan lagi amarah, tapi keingintahuan dingin seorang peneliti yang mempelajai spesimen langka.

Karyo menundukkan kepalanya, tak mampu menjawab. Maya melirik cemas antara keduanya, perutnya terasa mulas, gerakan bayinya lebih aktif dari biasanya—seolah merespons ketegangan yang menyelimuti ruangan.

"Tentu dia berpikir begitu," Irwan menjawab pertanyaannya sendiri. Dia berjalan perlahan ke arah Maya, berdiri di belakang sofa, tangannya yang tenang bertumpu di sandaran. "Dia melihat semua bukti—bagaimana tubuhmu merespons dia, bagaimana kamu memanggilnya 'Mas' dan 'Papa', bagaimana kamu mendesah dan memohon saat dia menyentuhmu."

Maya menutup wajahnya dengan telapak tangan, rasa malu dan penyesalan membanjirinya.

"Bukan salahnya sepenuhnya," lanjut Irwan. "Aku yang memulai semua ini. Aku yang menciptakan kondisi sempurna baginya untuk mengembangkan harapan itu."

Irwan menatap Karyo dengan sorot mata yang sulit dibaca—campuran antara kemarahan dan... apresiasi? Seolah dia mengagumi sekaligus membenci hasil dari eksperimennya sendiri.

"Tapi saya harus memberimu kredit, Karyo," Irwan menggeser posisinya, bersandar di pinggir meja. "Kamu benar-benar pintar mengambil keuntungan dari situasi ini. Dari pembantu sederhana jadi ayah biologis anak kami, terus calon suami kedua Maya—yang berpotensi memberimu akses ke uang dan status sosial yang nggak pernah kamu impikan sebelumnya. Cukup mengesankan untuk seorang lulusan SMA."

Karyo mengangkat wajahnya, ada kilatan rasa terhina di matanya yang cepat padam, berganti dengan kesadaran akan posisinya yang rentan.

"Saya nggak bermaksud—" Karyo mulai bicara, tapi Irwan mengangkat tangannya.

"Nggak, nggak. Jangan merendah. Kamu pantas mendapat pengakuan," kata Irwan dengan nada yang hampir mengapresiasi. "Kamu melihat peluang dan mengambilnya. Seperti yang saya dengar barusan, bahkan Ratih mendukungmu. Itu prestasi tersendiri—meyakinkan istrimu untuk membiarkanmu mengejar wanita lain."

Irwan terdiam sejenak, matanya menyipit, seolah baru menyadari sesuatu yang penting.

"Bahkan ada sesuatu yang bisa saya pelajari darimu," lanjutnya. "Bagaimana kamu menggunakan tubuh Maya melawannya—memberinya kenikmatan sampai di ambang klimaks, lalu menahannya sampai dia mengakui apa yang kamu inginkan. Itu teknik manipulasi yang cukup canggih."

Maya tersentak mendengar analisis klinis Irwan. Dia menatap suaminya dengan tidak percaya, merasa seperti subjek penelitian yang sedang dibahas di ruangan penuh ilmuwan.

"Tapi sayangnya," Irwan melanjutkan, suaranya berubah lebih dingin, "kamu lupa satu hal penting: ini rumah saya, Maya istri saya, dan pada akhirnya, kamu tetaplah pembantu kami."

Wajah Karyo memucat, semua harapan yang sempat muncul sedetik lalu menguap seketika.

"Meskipun begitu," kata Irwan, mengejutkan keduanya, "saya masih melihat nilai dalam keberadaanmu di rumah ini."

Maya dan Karyo sama-sama menatap Irwan dengan kebingungan. Irwan kini bergerak ke tengah ruangan, mengambil posisi dominan di antara mereka berdua.

"Mari kita pikirkan dengan logis," Irwan memulai, suaranya tenang seperti sedang memimpin rapat strategi bisnis. "Pertama, Maya secara fisik... merespons kamu dengan cara yang nggak pernah dia lakukan dengan saya." Ada sedikit getaran dalam suaranya, tapi dia cepat mengontrolnya. "Itu fakta objektif yang kita semua tahu."

Maya menggigit bibir bawahnya, nggak mampu menyangkal.

"Kedua, bayi ini—secara biologis—adalah anakmu." Irwan menunjuk perut Maya. "Kita nggak bisa mengubah fakta itu."

"Ketiga," lanjutnya, "terlepas dari semua manipulasi, Maya memang mengembangkan... ketergantungan tertentu padamu. Entah itu fisik atau emosional atau keduanya."

Irwan menghela napas, tatapannya kini beralih sepenuhnya pada Karyo. "Dan yang terakhir, kamu memiliki motivasi yang kuat untuk mempertahankan hubungan dengan Maya—terutama setelah menyadari potensi keuntungan finansial untuk keluargamu."

"Pak," Karyo akhirnya bersuara, suaranya lemah tapi ada ketegasan di sana. "Saya nggak bermaksud menyakiti siapapun. Saya hanya... terbawa perasaan."

Irwan mendengus. "Perasaan yang secara kebetulan sangat menguntungkanmu secara finansial, ya?"

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Maya mengusap perutnya dengan gerakan melingkar, kebiasaan yang dilakukannya saat cemas. Bayinya kembali bergerak, menendang pelan telapak tangannya.

"Apa yang akan terjadi sekarang?" Maya akhirnya bertanya, suaranya nyaris berbisik.

Irwan menatapnya lama, lalu ke Karyo, sebelum membuat keputusannya.

"Aku punya penawaran," kata Irwan. "Sebuah solusi yang mungkin bisa memuaskan kita semua."

Dia berjalan ke arah Karyo, tatapannya tajam menilai. "Dari pengakuanmu, jelas bahwa masalah utamamu adalah keamanan finansial untuk anakmu—khususnya Dani. Benar?"

Karyo mengangguk ragu.

"Maka saya menawarkan ini," Irwan melanjutkan. "Pendidikan Dani akan saya jamin sepenuhnya—dari TK sampai universitas jika dia mampu. Bukan janji bersyarat, tapi jaminan penuh. Beasiswa khusus dari perusahaan saya. Saya akan membuat dokumen resminya."

Mata Karyo melebar, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Selain itu," Irwan melanjutkan, "pekerjaanmu di sini aman. Dengan kenaikan gaji yang layak. Dan kesempatan untuk mengirim lebih banyak uang pulang ke keluargamu."

Karyo menatap Irwan dengan campuran kebingungan dan harapan. "Kenapa... kenapa Bapak melakukan ini? Setelah apa yang saya lakukan..."

"Karena," Irwan mendekat, suaranya turun satu oktaf, "sebagai gantinya, kamu akan terus berhubungan dengan Maya."

Maya terkesiap. "Irwan!"

"Tapi," Irwan mengangkat jarinya, mengabaikan Maya, "dengan syarat-syarat yang saya tetapkan. Kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun saya menginginkannya. Nggak ada lagi inisiatif sepihak. Nggak ada lagi manipulasi emosional. Nggak ada lagi bisikan tentang menjadi istri keduamu."

Irwan mencondongkan tubuhnya, matanya menatap tajam mata Karyo. "Maya tetap istri saya. Bayi ini anak kami. Tapi jika kamu patuh pada aturan saya, saya akan memberikan apa yang kamu inginkan: keamanan finansial untuk keluargamu dan akses terbatas pada Maya."

Karyo tampak terpaku di tempatnya, mencoba memahami situasi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Dengan kata lain," Irwan memperjelas, "kamu bukan lagi pembantu yang diam-diam tidur dengan majikannya. Kamu sekarang menjual tubuhmu secara sadar."

Maya memalingkan wajah, merasakan perih dalam kata-kata Irwan yang memang ditujukan untuk melukai harga diri Karyo. Dia menangkap ironi yang menyengat—Karyo, yang tadinya merasa berkuasa karena bisa memuaskan Maya seperti yang tak bisa dilakukan Irwan, kini direduksi menjadi semacam pekerja seks yang dibayar dengan beasiswa untuk anaknya.

"Bagaimana, Karyo?" desak Irwan. "Bukankah ini lebih baik daripada pulang tanpa pekerjaan? Daripada dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pelecehan? Daripada kehilangan segalanya?"

Karyo menatap lantai lama, bahunya turun dalam kekalahan yang nyata. "Saya... saya perlu bicara dengan Ratih dulu, Pak."

Irwan tersenyum tipis. "Tentu saja. Kamu butuh izin istrimu."

Karyo mengernyit, tidak menangkap nada sindiran dalam suara Irwan.

"Ironinya," Irwan menjelaskan, "kamu bisa membahas rencana menjadikan Maya istri keduamu melalui telepon dengan Ratih. Kamu bahkan bisa mendiskusikan program kehamilan maya lewat telepon. Tapi sekarang, untuk menjual jasamu secara teratur pada kami, kamu perlu izin tatap muka?" Dia tertawa kecil, menyadari keironisan situasi tersebut.

Karyo menelan ludah dengan susah payah. "Ini... berbeda, Pak. Ini lebih..." Dia berhenti, tidak menemukan kata yang tepat.

"Lebih eksplisit?" Irwan menyarankan. "Lebih transaksional? Ya, memang begitu. Kali ini kamu tahu persis apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu dapatkan. Nggak ada lagi ilusi menjadi pahlawan atau penakluk."

Karyo menatap Maya sejenak, mencari semacam dukungan atau simpati, tapi Maya hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca—sama bingungnya, sama terlukanya.

"Boleh," kata Karyo akhirnya, suaranya pelan. "Bolehkah saya pulang ke desa dulu? Untuk bicara dengan Ratih langsung? Mungkin... tiga hari."

Irwan menimbang permintaan itu. "Boleh. Kamu bisa berangkat besok pagi. Tapi ingat," ia menambahkan dengan nada yang tak terbantahkan, "Jangan coba-coba kabur. Dengan koneksi yang saya miliki, polisi, tentara, akan mudah melacak dimanapun kamu berada, mengerti?"

Karyo mengangguk cepat, wajahnya semakin pucat. "Saya nggak akan kabur, Pak. Saya hanya perlu menjelaskan... situasinya pada Ratih."

"Bagus," Irwan mengangguk puas. "Sekarang, kamu boleh kembali ke kamarmu. Siapkan apa yang perlu untuk perjalanan besok."

Karyo berdiri perlahan, masih tampak linglung dengan perubahan drastis dalam hidupnya. Dia melirik Maya sekali lagi—tatapan yang penuh kerinduan, penyesalan, dan kebingungan—lalu membungkuk hormat pada Irwan sebelum berjalan keluar ruangan dengan langkah berat.

Setelah pintu tertutup dan langkah kaki Karyo tidak terdengar lagi, keheningan menyelimuti ruangan. Maya menatap Irwan dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran kelegaan, kebingungan, dan kecemasan.

"Apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Maya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.

Irwan melirik sekilas ke pintu tempat Karyo baru saja keluar, lalu kembali ke Maya. "Nggak di sini," katanya pelan. "Ayo ke kamar."

Maya mengikuti Irwan dengan langkah berat, satu tangan menopang perutnya yang membuncit. Di belakangnya, pintu kamar utama tertutup dengan suara pelan, menciptakan ruang privasi yang mereka butuhkan.


"Jadi?" Maya berdiri di tengah kamar, matanya menuntut jawaban.

"Aku menyelamatkan pernikahan kita," jawab Irwan, melepas dasinya dengan gerakan lelah.

Maya tertawa getir. "Dengan cara memperlakukan aku seperti... barang? Tanpa persetujuanku sama sekali?"

"Bukannya ini yang kamu mau?" Irwan balas menatap Maya, ada ketegangan di matanya. "Aku lihat matamu tadi, Maya. Aku lihat bagaimana kamu nyaris bilang 'ya' ke dia."

"AKU DI BAWAH TEKANAN!" Maya menjerit, tangannya gemetar menunjuk ke arah Irwan. "Dia manipulasi aku! Dia tahan aku di ujung tebing selama setengah jam! Dia buat aku nggak bisa berpikir!"

"Tapi apa yang kamu rasakan itu jujur," kata Irwan lebih tenang. "Reaksi tubuh kamu, cara kamu manggil dia, semuanya jujur."

Maya terdiam, matanya berkaca-kaca. "Kamu nggak ngerti apa yang hampir terjadi," bisiknya.

"Justru aku sangat mengerti," Irwan melangkah mendekat. "Dan aku sangat ketakutan, Maya."

"Terus kenapa?" Maya menatap Irwan tak percaya. "Kenapa kamu malah mau lanjutkan ini?"

"Kamu bisa bayangin hidup tanpa dia sekarang?" Irwan melempar pertanyaan yang sama seperti yang Karyo tanyakan padanya tadi. "Kamu bisa bayangin kehilangan Karyo sepenuhnya? Itu kan yang dia tanyakan ke kamu tadi."

Maya terdiam, tangannya meremas ujung bajunya. Perlahan, dia berbisik, "Aku bisa coba... kembali seperti dulu. Kita berdua."

"Kamu yakin?" Irwan menatapnya lekat, kekhawatiran tergambar jelas di matanya. "Tubuh kamu sudah terbiasa dengan dia, Maya. Aku lihat bagaimana kamu... bereaksi padanya. Pikiran kamu mungkin bilang satu hal, tapi tubuh kamu—" Dia berhenti, mencari kata yang tepat. "Tubuh kamu akan merindukan dia."

Maya mengusap air mata yang mulai menetes dengan punggung tangan. "Tapi dengan harga apa, Irwan? Apa yang tersisa dari harga diri kita? Pernikahan kita yang jadi... semacam deal bisnis? 'Kamu boleh tidur dengan pembantu kita asal masih jadi istri aku'? Itu yang kamu mau?"

"Itulah yang perlu kita perbaiki!" Irwan meraih tangan Maya, menggenggamnya erat, matanya memohon pengertian. "Kontrolnya! Selama ini kita biarkan semuanya mengalir tanpa arah. Kita perlu aturan yang lebih jelas, batasan yang lebih tegas."

"Itu lagi! Itu lagi yang kamu pikirkan!" Maya menarik tangannya kasar, matanya menyala-nyala. "Kontrol! Selalu tentang kontrol! Kamu pikir masalah kita bisa diselesaikan dengan Excel sheet dan jadwal baru?"

"Bukan, maksud aku..." Irwan mengusap wajahnya frustrasi, mencoba menemukan kata-kata yang bisa Maya pahami. Dia mengambil napas dalam. "Aku lihat bagaimana kamu berubah selama berminggu-minggu ini, Maya. Aku lihat... cahaya di mata kamu yang sudah lama hilang. Aku dengar tawa kamu yang sudah lama nggak aku dengar."

Maya terdiam, matanya masih waspada.

"Aku lihat apa yang dia lakukan sama kamu," lanjut Irwan, suaranya bergetar. "Bukan cuma secara fisik... tapi emosional. Dia buat kamu merasa... hidup."

"Irwan..." Maya berbisik, tidak yakin harus merespons bagaimana.

"Dan aku benci mengakuinya, tapi aku nggak bisa memberikan itu," Irwan melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku coba. Tuhan tahu aku sudah coba. Tapi tubuh kamu nggak pernah... merespons aku seperti merespons dia."

"Itu bukan salah kamu," Maya berkata lembut, rasa bersalah mulai menyusup. "Kita nggak tahu kenapa—"

"Tapi itu kenyataannya!" Irwan memotong, suaranya sedikit meninggi sebelum dia menarik napas untuk menenangkan diri. "Maaf. Aku cuma... aku mau kamu punya dua-duanya, tanpa bahayanya... Kebahagiaan yang dia berikan, dan kehidupan yang kita bangun bersama. Karena aku terlalu sayang untuk lihat kamu tersiksa memilih antara kami berdua."

"Tapi kamu bahkan nggak mendengarkan aku!" Maya mendorong dada Irwan pelan, frustrasi. "Kamu nggak ngerti! Ini bukan cuma soal seks atau kepuasan fisik! Ini tentang—" Dia berhenti, takut mengucapkan kata-katanya.

"Tentang perasaan kamu ke dia," Irwan melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu. Aku selalu tahu."

"Dan kamu diam aja?" Maya menatapnya tak percaya. "Kamu biarkan aja aku jatuh makin dalam tanpa peringatan?"

"Setiap kali aku bilang ke kamu perasaan aku mulai nyata, kamu cuma mengabaikannya, seolah ini masih tentang tubuh saja!"

"Bukan mengabaikan," Irwan menggeleng tegas, matanya menatap langsung ke mata Maya. "Aku dengar setiap kata-kata kamu. Aku dengar setiap kekhawatiran kamu. Dan justru itulah yang buat aku takut setengah mati, Maya."

"Lalu kenapa kamu terus mendorong aku ke arah dia?" Maya bertanya, suaranya pecah. "Kenapa kamu nggak... menghentikan semua ini?"

"Karena aku lihat kamu bahagia," jawab Irwan sederhana. "Bahagia dengan cara yang nggak pernah aku lihat selama enam tahun kita bersama."

"Tapi itu bukan berarti—"

"Dan karena aku tahu," Irwan melanjutkan, suaranya melemah, "kalau aku paksa kamu pilih sekarang, aku mungkin nggak akan jadi pilihan kamu."

Maya terdiam, tidak bisa menyangkal. Air matanya jatuh semakin deras.

"Aku nggak masalah kamu punya perasaan ke dia, bergantung ke dia, bahkan memperlakukan dia seperti suami," Irwan melanjutkan, matanya tidak lepas dari Maya. "Kalau itu yang buat kamu bahagia, aku bisa terima. Aku cuma nggak sanggup kehilangan kamu sebagai istri aku..."

"KAMU GILA?" Maya melangkah mundur seperti baru saja ditampar, matanya membelalak tak percaya. "Kamu rela... merendahkan diri kamu seperti itu? Melepaskan harga diri kamu sebagai laki-laki? Membiarkan aku—" Suaranya tersedak, "—menginginkan laki-laki lain? Demi apa, Irwan? Demi pernikahan yang tinggal nama?"

"Demi kamu," jawab Irwan sederhana. "Demi kamu yang sekarang mengandung anak yang selalu kita impikan. Demi kamu yang sudah bertahan dengan aku selama enam tahun. Demi kamu... yang aku cintai lebih dari harga diri aku sendiri."

Kata-kata itu menghantam Maya seperti ombak. Dia menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir tanpa henti.

"Apa kamu nggak lihat betapa nggak normalnya ini?" Maya berbisik, suaranya bergetar. "Betapa sakitnya buat kita berdua? Kamu—yang rela merendahkan diri demi melihat aku dengan orang lain. Aku—yang tubuh menginginkan satu orang tapi hati masih milik suami. Ini... ini gila, Irwan."

Irwan menatap lantai lama, keheningan menyelimuti kamar mereka. Jemarinya bergerak gelisah, seolah mencari jawaban di sela-sela keramik. Ketika dia mengangkat wajahnya, ada senyum sedih di bibirnya.

"Mungkin..." Irwan mengangguk pelan, menerima kenyataan pahit itu. "Mungkin aku memang gila."

"Bukan itu maksud aku," Maya meluruskan, menyentuh lengan Irwan ragu. "Tapi situasi ini... eksperimen ini... sudah jadi monster yang kita nggak kenali lagi."

Irwan menelan ludah. "Dr. Andy juga pernah bilang begitu. Dia bilang aku jalan di tepi jurang dengan mata tertutup."

Maya menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tangannya otomatis mengusap perut yang semakin membesar. "Kamu masih ketemu Dr. Andy?"

"Nggak," jawab Irwan, matanya menghindari tatapan Maya. "Sudah berbulan-bulan."

"Berbulan-bulan?" Maya mengulang, terkejut. "Tapi kamu bilang dia mendukung... semua ini?"

Irwan tertawa getir. "Aku bohong."

"Kenapa kamu berhenti terapi?"

"Karena..." Irwan berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Dia nyuruh aku hentikan rencana menggoda Karyo secara rahasia. Dia bilang aku harus jujur sama semua orang—terutama sama diri sendiri—tentang apa yang sebenarnya aku cari dari semua ini."

"Dan kamu nggak setuju?"

"Lebih tepatnya, aku takut," Irwan mengakui, suaranya melemah. "Takut kalau semua kebenaran terungkap, kamu akan berpaling sepenuhnya. Jadi aku pikir... kalau aku yang kontrol situasinya, aku bisa buat batasan. Jaga supaya kamu tetap jadi istri aku, setidaknya secara legal dan sosial."

"Jadi kamu berhenti nemui orang yang bisa memperingatkan," Maya menyimpulkan, matanya menyipit. "Orang yang mungkin bisa cegah semua kekacauan ini."

Irwan menunduk, menerima tuduhan itu. "Ya. Aku pikir aku punya semua ini di bawah kendali. Aku bahkan bikin spreadsheet, Maya. Spreadsheet! Seolah-olah perasaan manusia bisa diprediksi pakai formula Excel."

Maya menggelengkan kepala, tidak percaya. "Dan lihat kita sekarang. Kamu sadar apa yang hampir terjadi karena 'kendali' kamu itu? Aku hampir—" Dia berhenti, tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu. "Aku hampir memilih dia, Irwan. Di saat-saat otak aku benar-benar kosong, tubuh yang bicara. Dan tubuh aku memilih dia."

"Ya, aku salah," Irwan mengakui, suaranya pecah. "Aku sangat salah. Aku pikir aku cukup pintar untuk mengendalikan semua ini. Tapi kenyataannya, aku hanya seorang laki-laki yang ketakutan kehilangan istrinya. Dan ketakutan itu membuatku melakukan hal-hal yang... yang tidak pernah kubayangkan akan kulakukan."

"Bagaimana kita bisa sampai di titik ini?" Maya bertanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Enam bulan lalu, kita pasangan normal yang cuma mau punya anak. Sekarang... aku hamil anak orang lain, suami aku terangsang lihat aku sama pria itu, dan pembantu kita mau aku jadi istri keduanya." Dia tertawa getir. "Kalau aku cerita ini ke psikiater, mereka langsung kirim aku ke rumah sakit jiwa."

Irwan mengusap wajahnya frustasi. "Aku selalu berpikir aku ini laki-laki rasional. Tapi ketakutan bisa kehilangan kamu ternyata lebih kuat dari rasionalitas aku. Obsesi untuk mempertahankan pernikahan kita dengan cara apapun... akhirnya malah nyaris menghancurkan semuanya. Kita berdua. Hubungan kita. Semuanya."

Keheningan kembali menyelimuti kamar. Maya memandang keluar jendela, ke langit malam Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap. Bayinya menendang pelan, mengingatkan bahwa apapun yang terjadi, ada nyawa baru yang akan hadir dalam kehidupan mereka beberapa bulan lagi.

"Jadi..." Maya akhirnya memecah keheningan. "Apa yang kita lakukan sekarang? Apa kita bisa kembali seperti dulu? Atau kita terlalu jauh melangkah?"

"Aku nggak tahu," jawab Irwan jujur. "Tapi aku tahu satu hal: aku masih sangat cinta sama kamu, Maya. Dan aku mau... aku mau perbaiki ini. Entah bagaimana."

Maya terdiam lama, memproses semua yang terjadi—pengkhianatan Irwan yang memanipulasi situasi, kelemahan diri terhadap Karyo, dan realitas bahwa mereka akan segera jadi orang tua. Akhirnya, dia menghela napas panjang.

"Baiklah," katanya, suaranya terdengar lelah tapi ada ketegasan di sana. "Kalau kita mau lanjutkan ini—apa pun 'ini' nantinya—aku punya syarat. Pertama, kamu harus kembali terapi sama Dr. Andy. Rutin. Nggak boleh bolos satu sesi pun."

Irwan mengangguk cepat. "Tentu. Aku akan hubungi dia besok."

"Dan aku juga mau ikut," lanjut Maya, matanya menatap langsung ke mata Irwan. "Kita perlu bantuan profesional untuk bereskan semua kekacauan ini. Aku nggak mau lagi ada kebohongan atau manipulasi, Irwan. Aku perlu KEJUJURAN total dari sekarang."

"Kejujuran," Irwan mengulang kata itu, seolah mencoba merasakannya di lidah. "Ya. Kejujuran."

"Dan soal... arrangement sama Karyo?" Maya bertanya ragu, tidak yakin bagaimana menyebut situasi kompleks mereka.

Irwan menelan ludah dengan susah payah. "Itu... itu terserah kamu."

"Bukan," Maya menggeleng tegas. "Itu harus keputusan kita berdua. Aku nggak mau lagi ada area abu-abu di antara kita, Irwan. Aku nggak mau lagi ada asumsi atau ekspektasi tersembunyi. Semuanya harus di atas meja."

Irwan mengangguk pelan, untuk pertama kalinya malam itu senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum bahagia, tapi senyum pengakuan—pengakuan bahwa jalan ke depan akan sulit, tapi setidaknya mereka akan tempuh bersama.

"Iya, sayang," katanya, tangannya meraih tangan Maya dengan hati-hati. "Kita lakukan dengan benar kali ini. Benar-benar benar."


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com