"Jadi... Bu Maya nggak pernah... beneran..." Karyo tidak mampu menyelesaikan pertanyaannya, suaranya pecah di tengah kalimat.
Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa mencekik. Maya menatap Karyo dengan mata basah, bibir bawahnya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu—tapi tak ada kata yang keluar. Ia terjebak antara keinginan untuk meringankan penderitaan Karyo dan kebutuhan untuk loyal pada suaminya.
Irwan menangkap tatapan Maya. Matanya yang tadi dipenuhi amarah kini berubah waspada.
"Lo nggak perlu jawab dia, Maya," kata Irwan dingin. "Dia nggak berhak dapat penjelasan apa-apa."
Karyo menatap kosong pada lantai di bawahnya. Tubuhnya masih terduduk, tangannya gemetar di pangkuan. Seluruh fondasi yang ia bangun tentang dirinya—seorang pria desa yang berhasil menaklukkan hati wanita kelas atas, yang hampir menjadikannya istri kedua—runtuh seketika. Bukan hanya runtuh, tapi terungkap bahwa fondasi itu tidak pernah ada sejak awal.
"Tolong... berikan saya waktu untuk pakai baju," suara Karyo akhirnya keluar, nyaris tak terdengar.
Irwan mendengus pelan. "Cepet. Gue tunggu lo di ruang tengah. Lima menit." Ia berbalik ke arah Maya. "Dan lo juga, Maya. Rapikan diri lo."
Dengan itu, Irwan keluar dari kamar sempit Karyo, meninggalkan atmosfer berat yang menggantung di udara.
Setelah Irwan pergi, Karyo dan Maya berada dalam keheningan yang menyakitkan. Tidak ada tatapan yang bertemu, tidak ada kata yang diucapkan. Maya perlahan bangkit, merapikan bajunya yang sudah ia kenakan dengan terburu-buru tadi. Tangannya masih gemetar, napasnya masih tak beraturan—sisa-sisa dari adrenalin dan rangsangan yang belum sepenuhnya hilang dari sistem tubuhnya.
"Maaf," bisik Maya sangat pelan, hampir tidak terdengar, sebelum bergegas keluar meninggalkan Karyo sendirian dengan kehancurannya.
Di ruang tengah, Irwan berdiri di dekat jendela, matanya menatap keluar tapi pikirannya tidak di sana. Amarahnya tadi telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin, lebih kalkulatif. Otak analitisnya mulai bekerja kembali, menata potongan-potongan kejadian hari ini dalam perspektif yang lebih sistematis.
Maya masuk lebih dulu, duduk di ujung sofa dengan postur tubuh tertutup—lutut dirapatkan, tangan memeluk diri sendiri. Ia masih belum berani menatap langsung ke arah Irwan.
Beberapa menit kemudian, Karyo muncul. Ia kini mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang—pakaian formal yang biasa ia kenakan saat bekerja di rumah, bukan kaos singlet atau celana pendek santainya. Posturnya berbeda drastis dari Karyo yang biasanya tegap dan percaya diri. Bahunya membungkuk, kepalanya tertunduk, langkahnya ragu-ragu seperti anak kecil yang tahu akan dimarahi.
"Duduk," perintah Irwan, menunjuk kursi terjauh dari sofa tempat Maya duduk.
Karyo menurut tanpa kata, duduk di pinggir kursi seperti siap lari kapanpun—gestur submisif yang tidak pernah ditunjukkannya sebelumnya.
Irwan menatap kedua orang di hadapannya dengan dingin. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, tapi kini ia lebih terkontrol, lebih terukur. Ia bukan lagi suami yang terbakar cemburu, tapi kembali menjadi eksekutif yang terbiasa menangani krisis dengan kepala dingin.
"Sekarang," Irwan memulai, suaranya tenang tapi mengandung otoritas absolut, "kita akan bicara tentang apa yang terjadi dan bagaimana kita akan menyelesaikannya."
Maya mengangkat wajahnya sedikit, matanya sembab dan wajahnya pucat. Karyo tetap menunduk, tidak berani menatap langsung. Keduanya berada dalam posisi yang jelas—kekuasaan Irwan atas situasi tidak terbantahkan.
"Pertama-tama," Irwan memulai, suaranya dingin dan terkontrol, "saya ingin kita semua jelas tentang apa yang terjadi di sini."
Keheningan menggantung di udara seperti racun. Maya masih terisak pelan di sofa, tubuhnya meringkuk membentuk benteng rapuh. Karyo duduk kaku di kursi di hadapan Irwan, matanya tertuju pada lantai, terlalu takut atau terlalu malu untuk mengangkat wajah.
"Apa yang baru saja saya lihat," Irwan melanjutkan, menekankan setiap kata dengan penuh tekanan, "adalah kamu—pembantu saya—mencoba merayu istri saya untuk meninggalkan saya. Untuk menjadi istri keduamu."
Karyo menelan ludah dengan susah payah, jari-jarinya yang kasar saling meremas, gemetar samar.
"Apakah saya salah dengar, Karyo?" Irwan berdiri tepat di hadapannya sekarang, tubuhnya membungkuk sedikit, jarak wajah mereka hanya sejengkal. "Apakah saya salah mengerti?"
"Tidak, Pak," bisik Karyo, suaranya nyaris tak terdengar.
Irwan menegakkan tubuhnya, memijat pelipis dengan gerakan lambat dan menarik napas dalam. Matanya yang tajam tak lepas dari sosok pria yang kini tampak begitu kecil di kursinya.
"Saya cuma penasaran..." Irwan mengambil jeda, seolah benar-benar ingin tahu jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkannya, "...apa saya pernah memperlakukan kamu dengan buruk, Karyo?"
Maya mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang sembab menatap kedua pria itu bergantian.
"Tidak, Pak." Karyo menggeleng lemah.
"Saya pernah memotong gajimu tanpa alasan?"
"Tidak, Pak."
"Saya pernah memaki-maki kamu? Merendahkan kamu? Memperlakukan kamu seperti sampah?"
Setiap pertanyaan dijawab dengan gelengan lemah dan bisikan "Tidak, Pak" yang semakin pelan.
"Lalu kenapa?" Suara Irwan akhirnya pecah, campuran kemarahan dan kebingungan yang tulus. "Kenapa kamu tega melakukan ini pada saya? Pada keluarga saya?"
Karyo mengangkat wajahnya sedikit, matanya merah dan basah. Dia membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.
"Mungkin kita perlu mundur sedikit," Irwan beralih, berjalan perlahan mendekati jendela, memberi Karyo sedikit ruang untuk bernapas. "Mungkin kita perlu ingat dari mana semua ini berawal."
Bayangan Irwan memanjang di lantai saat dia berdiri di depan cahaya jendela, siluetnya memotong kilau matahari sore Jakarta yang masuk ke ruangan.
"Saya masih ingat jelas, empat tahun lalu kamu datang ke rumah ini." Irwan memulai, suaranya kini lebih tenang, nyaris nostalgik. "Pengangguran. Putus asa. Siap melakukan apa saja untuk dapat pekerjaan."
Karyo memejamkan mata sejenak, kilasan memori itu juga hidup dalam benaknya—dirinya dengan kemeja lusuh terbaik yang dia miliki, berdiri gugup di pintu belakang rumah mewah ini, berharap setidaknya dapat pekerjaan sebagai tukang kebun.
"Saya memberimu pekerjaan. Dengan gaji yang jauh lebih tinggi dari standar pembantu rumah tangga di Jakarta." Irwan melanjutkan, jarinya mengetuk kaca jendela dengan ritme teratur. "Saya memberimu tempat tinggal yang layak. Kamar sendiri dengan AC, TV layar datar—berapa banyak pembantu di Jakarta yang punya fasilitas seperti itu?"
Maya bergeser sedikit di sofanya, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang membuncit.
"Saya percayakan rumah ini padamu, Karyo. Kunci-kunci, barang berharga, semuanya." Irwan berbalik, menghadap ke ruangan kembali. "Kami sudah memperlakukan kamu seperti keluarga sendiri, bukan begitu?"
Karyo semakin menunduk, setiap kata Irwan seperti beban baru di pundaknya yang sudah membungkuk.
"Dan kemudian..." Irwan mendekati Maya, berdiri di sampingnya, tangannya dengan lembut menyentuh bahu istrinya. "Ketika kami menghadapi masalah tersulit dalam pernikahan kami, ketika dokter bilang saya... saya tidak bisa memberikan anak untuk Maya..."
Suara Irwan pecah sedikit, dan dia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Dari semua orang, KAMU yang saya pilih untuk program kehamilan itu." Irwan menatap lurus ke mata Karyo yang kini menatapnya balik. "Kamu tahu berapa banyak pria di posisi saya yang rela memberikan izin untuk pembantu menyentuh istrinya? TIDAK ADA!"
Karyo mengangguk pelan, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti permintaan maaf.
"Saya masih ingat bagaimana pada saat itu kami sedang bertengkar hebat," Irwan melanjutkan, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Maya dan saya hampir bercerai. Tidak ada satu pun dari teman atau keluarga kami yang mau membantu program inseminasi alami itu. Mereka semua menganggap kami gila."
Maya menggigit bibir bawahnya, mengingat betapa buruknya hubungan mereka saat itu, bagaimana setiap percakapan selalu berakhir dengan teriakan dan pintu yang dibanting.
"Dan kemudian KAMU yang menawarkan diri," Irwan berbalik kembali menatap Karyo. "Kamu yang datang pada saya malam itu, bilang kamu tidak tahan melihat keluarga ini hancur. Kamu yang bilang kamu siap membantu."
Irwan kembali berjalan mengelilingi ruangan, tangannya terkepal di belakang punggungnya.
"Tapi saya..." Irwan mulai dengan suara yang masih terkendali, meski ada getaran halus di ujung kalimatnya. "Saya memang membiarkan kalian terus berhubungan setelah kehamilan terjadi."
Dia melirik Maya sekilas, ada rasa bersalah yang samar di matanya sebelum kembali menatap ke arah Karyo.
"Sebagian karena fetish saya yang aneh ini, sebagian karena saya melihat Maya lebih bahagia, lebih sehat selama kehamilannya dengan perhatian yang kamu berikan."
Irwan mulai berjalan pelan mengelilingi kursi Karyo, langkahnya terukur namun ada ketegangan yang mulai terasa.
"Saya yang bilang pada Maya untuk menggoda kamu lagi." Suaranya sedikit meninggi, tapi masih terkontrol. "Saya yang kasih izin dia bercinta dengan kamu lagi. Dan pada awalnya... pada awalnya kamu masih tahu tempatmu."
Karyo menegang, jari-jarinya meremas lutut.
"Tapi itu bertahan berapa lama, Karyo?" Nada Irwan mulai menajam. "Seminggu? Dua minggu sebelum kamu mulai merasa... berhak?"
Maya mengangkat kepalanya sedikit, merasakan perubahan atmosfer ruangan.
"Pertama-tama cuma sentuhan yang kelamaan. Bisikan yang terlalu dekat." Irwan berhenti sejenak, matanya menyipit. "Lalu kamu mulai berani sentuh Maya di dapur, di ruang keluarga, bahkan saat saya masih di rumah."
Suara Irwan mulai mengeras, seperti air yang perlahan mendidih.
"Dua kali seminggu jadi tiga kali. Tiga kali jadi setiap hari. Dan kamu... kamu mulai minta dipanggil 'Mas' kan? Bukan lagi 'Pak Karyo'?"
Wajah Karyo memerah, tapi dia tidak mengangkat kepala.
"Dari 'Mas' jadi 'Sayang.' Dari 'Sayang' jadi..." Irwan mengepalkan tangannya, suaranya bergetar dengan kemarahan yang mulai lepas kendali, "'Papa.' PAPA! Panggilan untuk suami, bukan untuk ayah biologis!"
Maya menutup wajah dengan tangannya, tidak tahan mendengar nada suaminya yang semakin mengancam.
"Dan masih saya pikir, oke, ini bagian dari permainan saya. Saya yang izinkan." Irwan kembali berjalan, langkahnya kini lebih cepat, gelisah. "Sampai malam itu."
Dia berhenti mendadak, matanya berkilat berbahaya.
"Malam ketika kamu masuk ke kamar utama SEMENTARA SAYA TIDUR DI SEBELAH MAYA!"
Suaranya meledak, gema memenuhi ruangan. Maya tersentak, tubuhnya gemetar.
"Setengah meter dari saya, Karyo! SETENGAH METER! Kamu paksa Maya diam sambil kamu masukkan kontol kamu ke dalam tubuh istri saya, di ranjang pernikahan saya, sementara saya berbaring di sebelahnya!"
Karyo mengangkat kepalanya, matanya lebar dengan ketakutan melihat kemarahan yang meledak dari majikannya.
"Kamu pikir saya tidak sadar? Kamu pikir saya tidak dengar bisikan mesum kamu? 'Ini ranjang kita sekarang.' 'Suami kamu tidur nyenyak, nggak bakal tau.' ITU yang kamu bisikkan!"
Irwan menunjuk wajah Karyo dengan jari gemetar karena amarah.
Maya mulai terisak keras, bahunya bergetar tidak terkendali.
"Tapi yang paling..." Irwan berhenti, dadanya naik turun dengan cepat, matanya merah. "Yang paling tidak bisa saya terima..."
Dia mencondongkan tubuhnya ke Karyo, wajah mereka hanya sejengkal.
"Kamu tidak puas dengan itu, kan?" Suaranya rendah, berbisik tapi penuh racun. "Kamu pikir karena sudah merasakan tubuh istriku, kamu berhak memilikinya seutuhnya?"
Karyo menggeleng lemah, tapi Irwan sudah terlanjur meledak total.
"Kamu mencoba MEREBUT istri saya!" Suara Irwan memekakkan telinga. "Kamu MANIPULASI Maya buat ninggalin saya! Kamu bilang dia 'lebih cocok' sama kamu—SEORANG PEMBANTU yang udah punya istri di desa! Minta ISTRI SAYA untuk cerai DAN JADI ISTRI KEDUA KAMU!!"
Suaranya pecah di akhir, campuran kemarahan dan rasa sakit yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Maya tersentak mendengar nada Irwan. Tak pernah sebelumnya dia mendengar suaminya berteriak seperti itu.
"Dan yang paling tidak bisa saya terima," Irwan menahan napasnya sejenak, matanya berkilat penuh amarah, "kamu menggunakan ANAK KAMI—ya, ANAK KAMI, bukan hanya anakmu—sebagai alat untuk memanipulasi Maya!"
Ruangan jatuh dalam keheningan total. Bahkan bunyi AC yang berdengung konstan seolah teredam oleh ketegangan yang memenuhi ruangan.
"Jadi sekarang," Irwan kembali menegakkan tubuhnya, suaranya kembali terkontrol meski masih penuh amarah, "saya ingin tahu kenapa. Kenapa, Karyo? Apa yang membuat kamu berprilaku seperti ini?"
Ruangan tenggelam dalam keheningan yang berat. Maya melirik ke arah Karyo, kemudian ke arah Irwan. Wajah Irwan masih merah menahan amarah, tapi matanya kini menunjukkan sesuatu yang lain—keingintahuan yang genuine, keinginan untuk benar-benar memahami motivasi Karyo.
Karyo menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bicara. Tubuhnya masih gemetar, tapi perlahan ia mengangkat wajahnya.
"Pak Irwan," ia memulai dengan suara pecah, "saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana."
"Mulai dari awal," desak Irwan, masih berdiri dengan postur mengintimidasi di depan Karyo. "Saya ingin tahu bagaimana semua ini dimulai. Bagaimana kamu dari seorang pembantu yang tahu posisinya, berubah menjadi pria yang berani menggoda istri majikannya."
Karyo menelan ludah, matanya bergantian menatap lantai dan sepatu Irwan. "Awalnya... setelah program kehamilan berhasil, saya sangat senang, Pak. Tapi juga... bingung. Posisi saya jadi aneh. Saya jadi ayah biologis dari anak majikan saya sendiri."
Maya secara refleks menyentuh perutnya yang membuncit, merasakan gerakan kecil dari bayi di dalamnya.
"Saya berusaha untuk tidak memikirkan Bu Maya," Karyo melanjutkan. "Meskipun beliau adalah wanita tercantik yang pernah... yang pernah saya tiduri. Tapi saya tahu posisi saya."
Irwan mendengus pelan, tapi tidak menginterupsi.
"Lalu... pada sesi pijat itu," Karyo melanjutkan, kali ini menatap ke arah lantai, "saya melihat reaksi Bu Maya. Saya merasa ada... ada sinyal bahwa beliau... tertarik pada saya."
Irwan melirik tajam ke arah Maya, yang semakin menundukkan kepalanya, menghindari tatapan suaminya.
"Saya bingung, Pak. Saya tidak bisa selingkuh dari istri saya. Jadi saya cerita ke Ratih tentang ini." Karyo menelan ludah lagi. "Dia bilang saya delusional. 'Wong wedok ayu koyo ngono kok tertarik karo awakmu? Gede rumongso!' Istri saya bilang saya cuma kepedean."
Maya melirik sekilas mendengar bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya ia pahami, tapi cukup jelas maksudnya.
"Saya... saya merasa tertantang untuk membuktikan pada istri saya bahwa saya tidak berkhayal," lanjut Karyo. "Jadi saya mulai... balas merespon sinyal Bu Maya. Dan ternyata responnya semakin positif."
Karyo mengangkat wajahnya sedikit, matanya bertemu dengan Irwan. "Saya tidak tahu itu semua bagian dari rencana Bapak."
Irwan tidak menunjukkan reaksi, hanya terus menatap Karyo dengan tatapan dingin.
"Lama-kelamaan, itu jadi... kebiasaan. Saya mulai merasa... berharga." Suara Karyo bergetar saat mengatakannya. "Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, seorang wanita dari kelas atas menginginkan saya. Bukan hanya tubuh saya, tapi... saya sebagai laki-laki."
Karyo menelan ludah, matanya kembali menatap lantai. "Saya cerita lagi ke istri saya. Kali ini dengan bukti-bukti yang lebih jelas. Dan dia... dia mulai percaya. Tapi dia memperingatkan saya bahwa ini berbahaya. Bisa menghancurkan keluarga kami."
Irwan mendengarkan dengan seksama, wajahnya tetap tanpa ekspresi meski matanya menunjukkan keingintahuan yang mendalam.
"Tapi saya tidak bisa berhenti, Pak. Setiap kali Bu Maya merespon sentuhan saya, setiap kali dia memanggil saya 'Mas'..."
Karyo berhenti sejenak, sadar sepenuhnya akan keanehan situasi ini. "Saya mengerti yang Bapak katakan. Bisa... bisa terus berhubungan dengan Bu Maya sementara saya tetap bekerja di sini... itu sendiri sudah keistimewaan yang hampir tidak mungkin didapat pembantu manapun. Saya harusnya berterima kasih, dan saya memang sangat berterima kasih, Pak. Sungguh. Saya pikir ini hal terbaik yang bisa terjadi pada saya."
Karyo menelan ludah, matanya menatap lantai. "Dan di awal memang begitu. Saya merasa ini seperti... mimpi yang jadi kenyataan. Dibayar dengan baik, diperlakukan baik, dan... bisa merasakan Bu Maya. Saya tidak pernah meminta lebih."
Maya menutup matanya erat, menahan air mata yang hendak jatuh. Ia mengingat bagaimana ia dengan mudahnya memanggil Karyo 'Mas' di tengah gairah, tanpa sadar memberikan validasi yang Karyo butuhkan.
"Tapi kemudian suatu hari saya kepikiran sesuatu." Karyo kini berbicara lebih lancar, seolah membuka bendungan yang selama ini menahan pikiran-pikirannya. "Saya melihat usia saya. Dengan Dani yang masih kecil, saya akan berusia 70 tahun lebih saat dia lulus SMA. Bagaimana saya bisa menjamin masa depannya?"
Irwan mengernyitkan dahi, tidak menyangka arah pembicaraan ini.
"Saya bilang ke istri saya... bagaimana kalau Bu Maya jadi istri kedua saya?" Karyo menatap lantai, tidak berani melihat reaksi Irwan. "Dengan status dan hartanya, Bu Maya bisa menjamin masa depan Dani. Istri saya awalnya marah besar, tapi kemudian... dia mulai mempertimbangkannya."
"Ratih setuju?" Irwan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, terkejut dengan pengakuan ini.
"Tidak langsung setuju, Pak. Tapi setelah saya jelaskan posisi kita, kebutuhan keluarga kita..." Karyo menelan ludah. "Ratih bilang selama saya tidak meninggalkan dia dan Dani, selama saya masih mencintai mereka, dan selama Bu Maya bisa membantu masa depan Dani... dia tidak keberatan."
Maya menatap Karyo dengan mata membelalak, tidak menyangka bahwa pembicaraan serius tentang dirinya menjadi istri kedua telah terjadi antara Karyo dan Ratih.
"Jadi..." Irwan menarik napas dalam, "semua ini bukan hanya tentang nafsu. Ini tentang... rencana masa depan keluargamu."
"Ya, Pak." Karyo mengangguk pelan. "Saya tahu ini salah. Saya tahu ini tidak pantas. Tapi melihat bagaimana Bu Maya merespon saya, bagaimana dia tampak bahagia bersama saya... saya pikir mungkin ini bisa berhasil."
Karyo mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Irwan. "Saya tidak pernah bermaksud melukai Bapak. Saya hanya... terbawa perasaan. Dan kemudian, terbawa oleh pikiran bahwa ini bisa menjadi jalan keluar untuk masa depan Dani."
Irwan terdiam, memproses semua pengakuan Karyo. Maya juga diam, terlalu shock untuk berbicara. Bayi di dalam perutnya bergerak lagi, seolah merasakan ketegangan di sekitarnya.
"Dan tadi... saat saya memaksa Bu Maya membuat keputusan..." Karyo melanjutkan, suaranya penuh penyesalan, "saya sudah terlalu jauh. Saya kehilangan kontrol. Saya... saya mohon maaf, Pak."
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan yang berat. Irwan berjalan perlahan ke arah jendela, menatap keluar untuk beberapa saat, punggungnya pada Karyo dan Maya. Amarahnya masih ada, tapi kini bercampur dengan pemahaman baru akan kompleksitas situasi ini.
Maya mengangkat wajahnya perlahan, melirik ke arah Irwan kemudian ke Karyo. Ia bisa melihat bagaimana kedua pria dalam hidupnya ini—masing-masing dengan cara yang berbeda—telah memanipulasinya. Irwan dengan eksperimennya, Karyo dengan ambisinya. Namun entah bagaimana, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka.
Irwan berbalik perlahan, wajahnya kini lebih tenang. Kemarahan awalnya telah berganti dengan kalkulasi dingin seorang eksekutif yang sedang menganalisis krisis.
"Baiklah," Irwan akhirnya berkata, suaranya gemetar menahan amarah yang masih jelas terpancar dari matanya yang menyala. "Sekarang saya paham motivasimu. Dan setidaknya—" dia mendengus keras, "—setidaknya itu lebih masuk akal daripada sekedar nafsu sesaat."
Karyo menatap Irwan dengan campuran kebingungan dan harapan tipis. Ia telah mengakui segalanya, menyerahkan diri sepenuhnya pada belas kasihan majikannya.
"Tapi TETAP SAJA," Irwan melanjutkan, suaranya meninggi dengan tekanan yang tak bisa disembunyikan, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. "Apa yang kamu lakukan sudah MELEWATI BATAS!" Dia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri. "Kamu memanfaatkan kerentanan Maya—kerentanan yang sebagian saya ciptakan, saya akui itu—untuk KEUNTUNGAN PRIBADIMU."
Karyo mengangguk pelan, menerima semua tuduhan tanpa perlawanan. "Saya tahu, Pak. Saya siap menerima konsekuensinya. Saya hanya mohon... jangan libatkan keluarga saya. Mereka tidak tahu apa-apa."
Maya menatap Karyo dengan campuran emosi yang kompleks. Bagian dari dirinya masih merasakan tarikan aneh terhadap pria ini—hasil dari berbulan-bulan manipulasi psikologis dari kedua belah pihak. Bagian lain merasa marah karena telah dimanipulasi. Dan bagian ketiga merasa kasihan melihat kehancuran total Karyo di hadapannya sementara Irwan berdiri dengan napas memburu, berusaha keras tidak meledak sepenuhnya.
