𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟐𝟔

 

Seminggu setelah penolakan itu, Karyo berubah drastis. Lebih kasar, lebih possessive, seolah ingin membuktikan kepemilikannya dengan cara lain.

Bekas gigitannya makin dalam, cengkeramannya ninggalin memar gelap. Saat bercinta, setiap sentuhan lebih demanding, lebih brutal.

"Siapa yang punya?" bisiknya kasar sambil mencengkeram pinggul Maya keras-keras.

"Papa..." Maya mendesah kesakitan campur nikmat.

"Tapi tetep mau pulang ke ranjang suami kan?" Gigitan di leher, dalam dan menyakitkan. "Tetep mau jadi istri dia."

Karyo seolah melampiaskan kekecewaan lewat tubuh Maya. Setiap sesi jadi lebih intens, lebih posessive. Bekas-bekas yang dia tinggalkan makin sulit disembunyikan—atau mungkin dia memang nggak mau Maya menyembunyikannya.

"Suami Mama buta ya," gumam Karyo suatu hari sambil melihat hickey gelap di leher Maya. "Atau emang nggak peduli sama istri."

Maya diam saja, tidak bisa bilang kalau sebenarnya Irwan tahu segalanya, bahkan excited melihat tanda-tanda kepemilikan Karyo di tubuhnya.

Yang membuat Maya semakin bingung: semakin kasar Karyo, semakin tubuhnya merespon. Seolah ada bagian primitif dalam dirinya yang menyukai dominasi total ini, menyukai dijadikan milik seseorang dengan cara yang begitu mentah.

Tapi pertanyaan Karyo tentang menjadi istri beneran terus bergema di kepalanya. Apa yang sebenarnya aku mau? Keamanan dengan Irwan, atau gairah dengan Papa?

"Pa," bisik Maya di dada Karyo. "Biar Papa ngerasa spesial... aku mau cerita sesuatu yang nggak pernah aku cerita ke siapa-siapa. Bahkan Irwan."

Karyo mundur sedikit, menatap mata Maya. "Cerita apa?"

"Tentang masa lalu aku. Tentang... cowok-cowok sebelum Irwan."

Maya menarik napas panjang. Ini wilayah yang tidak pernah dia bagi dengan siapa pun—bahkan suami sendiri.

"Sebelum nikah, aku pernah punya beberapa pacar," mulai Maya pelan, suaranya hampir berbisik. "Yang pertama, waktu kuliah. Namanya Ardi. Dia anak orang kaya, tampan, populer."

Karyo mendengarkan dengan seksama, tangannya mengusap punggung Maya.

"Tapi aku... aku nggak pernah mau lebih dari ciuman sama dia." Maya merasa pipi memanas. "Dia sering maksa, tapi aku selalu nolak. Aku takut, Pa. Takut sama hal-hal kayak gitu."

"Terus gimana?"

"Putus karena dia sebel aku nggak mau 'kasih'. Dia bilang aku kuno, ketinggalan jaman." Maya tertawa pahit. "Waktu itu aku sedih, tapi sekarang aku bersyukur nggak pernah kasih dia apa-apa."

Maya melanjutkan, "Yang kedua, Bimo. Aku ketemu dia pas kerja pertama. Dia baik, sabar, nggak pernah maksa apa-apa."

"Sama dia gimana?"

"Sama dia juga... nggak pernah lebih dari pelukan." Maya menunduk malu. "Bahkan cium pun jarang. Aku masih takut sama intimacy. Dia sabar sih, tapi akhirnya bosan juga."

Karyo mengangguk, jarinya bermain di rambut Maya. "Ada lagi?"

"Yang ketiga, Rendi. Hampir tunangan sama dia." Maya menatap mata Karyo. "Dia yang paling pengertian. Bilang dia bisa nunggu sampai kita nikah."

"Kenapa nggak jadi?"

"Keluarga dia nggak setuju. Bilang aku terlalu dingin, nggak hangat." Maya tersenyum sedih. "Mereka bilang istri yang baik itu harusnya lebih... ekspresif. Aku nggak tau maksudnya apa waktu itu."

Maya menarik napas dalam. "Semuanya putus karena aku nggak pernah mau disentuh, Pa. Bahkan cuma pegang-pegang pun aku takut."

"Jadi... sebelum suami, Mama nggak pernah...?"

Maya menggeleng malu. "Nggak pernah, Pa. Irwan yang pertama. Malam pertama nikah, aku nangis karena takut. Dia harus sabar banget ngajarin aku."

"Terus sekarang Papa...?"

"Papa yang kedua." Maya menatap mata Karyo dalam-dalam. "Dalam hidup aku, cuma dua laki-laki yang pernah sentuh tubuh aku. Suami aku, sama Papa."

"Irwan gimana di ranjang waktu pertama?"

Pertanyaan yang tidak pernah ditanya Irwan sendiri. Maya ragu menjawab, tapi mata Karyo begitu ingin tahu.

"Irwan... lembut banget. Terlalu lembut mungkin." Maya gigit bibir. "Dia selalu takut nyakitin aku. Selalu nanya 'sakit nggak?' 'nyaman nggak?' Kadang aku pengen bilang, sedikit kasar nggak apa-apa."

"Mama puas sama dia?"

"Aku nggak tau apa itu puas, Pa. Soalnya aku nggak ada pembanding." Maya merasa wajahnya panas. "Sampai ketemu Papa... baru aku tau ternyata ada yang namanya... passion."

"Sekarang gimana?"

Maya menatap mata Karyo dalam-dalam.

"Sekarang aku tau kenapa dulu aku takut disentuh cowok-cowok itu. Karena mereka bukan Papa. Tubuh aku nunggu Papa, Pa. Nunggu orang yang bener."

Karyo mencium bibir Maya lembut. "Makasih udah cerita, Ma."

"Papa yang pertama yang aku ceritain semuanya." Maya mengusap pipi Karyo. "Bahkan Irwan nggak tau kalau aku punya mantan sebanyak itu. Dia pikir dia satu-satunya cowok dalam hidup aku."

"Kenapa nggak cerita ke dia?"

"Karena aku malu, Pa. Malu kalau ternyata aku pernah ditolak berkali-kali karena terlalu dingin." Maya tersenyum sedih. "Tapi sama Papa, aku berani cerita. Papa bikin aku ngerasa... normal."

Karyo memeluk Maya erat.

"Papa bangga jadi orang kedua yang Mama percaya. Yang Mama kasih tubuh Mama."

"Papa yang bikin aku tau ternyata aku nggak dingin," bisik Maya. "Papa yang bangunin sisi perempuan dalam diri aku."

Tapi Maya bisa merasakan ada yang mengganjal di dada Karyo. Cara dia memeluknya, cara dia diam sesekali—masih ada luka dari percakapan kemarin tentang pernikahan.

"Pa..." Maya mengangkat kepala, menatap mata Karyo. "Papa masih kesel sama aku ya? Gara-gara kemarin..."

Karyo menggeleng pelan, tapi matanya tidak bohong. "Papa nggak kesel, Ma. Papa cuma... sedih aja."

"Sedih kenapa?"

"Papa mikir, Mama udah cerita semua masa lalu. Papa udah dapet bagian tubuh yang nggak pernah Papa kira bakal Papa sentuh." Suara Karyo pelan, hampir berbisik. "Tapi tetep aja... Papa cuma pembantu."

Maya merasa dadanya sesak mendengar nada sedih di suara Karyo. "Pa, jangan gitu..."

"Irwan yang dapet Mama buat selamanya. Papa cuma... dapet sisanya."

Kok malah aku yang ngerasa bersalah sekarang? pikir Maya. Padahal aku udah ngasih banyak banget ke Papa. Kenapa dia masih ngerasa kurang?

Karyo bangkit duduk, memunggungi Maya. Bahunya tegang, seperti menahan sesuatu.

Aku kudu piye carane ben Maya ngerti yen aku ora mung kepengin ragane tok, pikir Karyo dalam bahasa Jawa ngoko-nya. (Aku harus gimana caranya biar Maya ngerti kalau aku nggak cuma pengen badannya doang.) Tapi yen aku maksa terus soal nikah, malah Maya kabur. Kudu ada cara liyane. (Tapi kalau aku maksa terus soal nikah, malah Maya kabur. Harus ada cara lain.)

Maya merangkul Karyo dari belakang, dadanya menempel ke punggung telanjang pria itu. "Papa mau apa biar nggak sedih lagi?"

Karyo diam sebentar. Jantungnya berdegup kencang saat ide terlintas di kepalanya. Ide yang sudah lama dia pikirkan, tapi tidak pernah berani ungkapkan.

"Ma..." suara Karyo ragu. "Papa mau minta sesuatu."

"Apa, Pa? Asal bukan soal nikah lagi..."

"Bukan soal nikah." Karyo berbalik menghadap Maya. "Tapi soal... yang lain."

Maya melihat keseriusan di mata Karyo. "Minta apa, Pa?"

Karyo menggenggam tangan Maya. "Papa cemburu sama suami Mama."

"Cemburu kenapa? Kan Papa udah dapet lebih banyak dari Irwan—"

"Papa cemburu karena dia yang pertama sentuh Mama." Mata Karyo menatap Maya dalam-dalam. "Dia yang dapet keperawanan Mama. Yang Papa nggak bakal bisa dapet, meskipun Papa sayang Mama gimana pun."

Maya mengkernyitkan dahi. Maksud Papa apa sih?

"Papa pengen... pengen punya sesuatu yang cuma Papa yang pernah dapet. Yang suami Mama nggak pernah sentuh."

Tiba-tiba Maya paham ke arah mana pembicaraan ini. Jantungnya mulai berdegup kencang. "Pa... maksud Papa..."

"Papa mau bagian yang belum pernah disentuh siapa-siapa. Bahkan suami Mama."

Maya tersentak, wajahnya memerah. "Papa maksudnya..."

Karyo mengangguk pelan. "Papa mau jadi yang pertama di situ, Ma."

Hening. Maya menatap Karyo dengan mata membelalak. Dari semua hal yang mungkin diminta Karyo, ini yang tidak pernah terlintas di pikiran Maya.

"Pa... aku... aku nggak pernah..." suara Maya terbata-bata.

"Papa tau. Makanya Papa minta." Karyo menggenggam tangan Maya lebih erat. "Biar Papa punya sesuatu yang special, yang cuma milik Papa."

Maya menggeleng refleks. "Pa, itu... itu sakit. Aku takut."

"Papa bakal hati-hati. Papa nggak mau nyakitin Mama."

Astaga, Papa serius minta ini? Maya merasa kepalanya pusing. Aku nggak pernah mikir hal kayak gini. Bahkan sama Irwan nggak pernah.

"Pa... aku butuh waktu mikir—"

"Mama," Karyo memotong, suaranya lebih serius. "Papa udah sabar selama ini. Papa nggak pernah minta yang aneh-aneh. Papa cuma minta satu hal ini."

Ada sesuatu di nada suara Karyo yang bikin Maya merasa tertekan. Seperti ada ancaman terselubung di balik kata-kata lembut itu.

"Tapi Pa—"

"Mama bilang sayang sama Papa. Mama bilang Papa yang bangunin sisi perempuan dalam diri Mama." Karyo mengusap pipi Maya. "Ini cara Mama buktiin kalau semua itu beneran."

Kok jadinya aku yang harus buktiin? Maya merasa ada yang salah dengan logika ini, tapi otaknya terlalu kacau untuk berpikir jernih.

"Pa, ini bukan soal bukti sayang atau nggak—"

"Lalu soal apa?" Mata Karyo tajam. "Mama mau terus-terusan jadi istri orang lain, terus Papa cuma dapet sisanya?"

Wah, Papa mulai emosional lagi. Maya takut kalau suasana berubah jadi pertengkaran seperti kemarin.

"Bukan gitu, Pa..."

"Kalau bukan gitu, buktiin."

Maya merasa terjebak. Di satu sisi, dia memang sayang sama Karyo dan tidak mau dia sedih. Di sisi lain, permintaan ini benar-benar di luar batas yang pernah dia bayangin.

Tapi Papa bilang dia bakal hati-hati... Dan memang bener sih, ini satu-satunya hal yang bisa Papa dapet yang Irwan nggak pernah sentuh...

"Ma," suara Karyo lebih lembut, menyadari Maya mulai ragu. "Papa janji bakal pelan-pelan. Papa nggak mau Mama kesakitan."

Maya menatap mata Karyo yang penuh harap. Ada rasa bersalah di dadanya—dia sudah mengambil begitu banyak dari pria ini, memberikan tubuhnya, waktunya, bahkan cerita masa lalu yang tidak pernah dia bagi dengan siapa pun. Kalau Papa minta satu hal ini...

"Papa... beneran nggak bakal sakit?"

"Papa janji."

Maya menarik napas dalam. Oke Maya, ini cuma satu kali. Buat bikin Papa happy. Biar dia nggak sedih lagi.

"Oke, Pa..." suara Maya hampir tidak terdengar.

Karyo tersenyum, tapi ada kilat kemenangan di matanya yang membuat Maya sedikit tidak nyaman.


Sepuluh menit kemudian, Maya sudah berbaring tengkurap di ranjang, jantung berdebar keras. Karyo sudah menyiapkan segalanya—handuk, pelumas, bahkan minyak pijat.

"Mama rileks aja," bisik Karyo sambil mengusap punggung Maya. "Papa mulai dari pijat dulu."

Tangan Karyo memang dimulai dari bahu, perlahan turun ke punggung bawah. Maya mencoba rileks, tapi tubuhnya tegang karena cemas.

"Papa udah pernah... gini... sama orang lain?" tanya Maya pelan.

"Pernah. Sama istri Papa dulu." Jawaban yang membuat Maya sedikit lega. Setidaknya Papa tau caranya.

Tangan Karyo turun lebih rendah, mengusap bokong Maya dengan lembut. "Mama cantik banget, Ma. Apalagi lagi hamil gini."

Maya tersenyum tipis, meski masih nervous. "Papa bohong."

"Papa nggak bohong. Papa suka banget lihat Mama hamil anak Papa."

Anak Papa. Kalimat yang selalu bikin Maya merasa aneh—campuran hangat dan bersalah.

Karyo mulai mengusap area yang lebih sensitif, sangat pelan dan hati-hati. Maya menegang refleks.

"Santai, Ma. Papa belum masuk apa-apa."

Tapi tetap saja Maya tidak bisa rileks sepenuhnya. Ini wilayah yang benar-benar asing bagi tubuhnya.

"Pa... ini normal nggak sih? Maksudnya, pasangan suami-istri biasa ngelakuin ini?"

"Ada yang suka, ada yang nggak. Tapi banyak yang suka kok, Ma."

Oke, jadi ini memang normal. Maya mencoba meyakinkan diri sendiri.

Karyo mulai menggunakan pelumas, jari-jarinya sangat pelan dan sabar. Maya menggenggam sprei erat-erat, napasnya tidak teratur.

"Gimana, Ma? Sakit?"

"Nggak sakit sih... tapi aneh."

"Aneh gimana?"

"Aneh... kayak nggak biasa aja." Maya kesulitan menjelaskan sensasinya.

Karyo terus dengan sabar, menambah satu jari setelah Maya terbiasa dengan yang pertama. Prosesnya lambat dan hati-hati—tidak seperti cara kasarnya yang biasa.

Papa bener-bener hati-hati, pikir Maya. Nggak kayak biasanya yang langsung agresif.

Setelah beberapa menit persiapan dengan jari, Karyo berhenti sebentar. "Mama mau lanjut? Atau cukup sampe sini?"

Maya tahu ini kesempatan terakhir untuk mundur. Tapi melihat usaha Karyo yang begitu sabar, melihat harapan di matanya...

"Lanjut aja, Pa. Tapi pelan-pelan."

Wis dadi, Maya wes setuju. Saiki aku sing pertama nang wilayah iki. (Udah jadi, Maya udah setuju. Sekarang aku yang pertama di wilayah ini.) pikir Karyo dengan kepuasan. Irwan rak bakal bisa ngaku-ngaku yen dheweke sing pertama nang kabeh bagian awak Maya. (Irwan nggak bakal bisa ngaku-ngaku kalau dia yang pertama di semua bagian tubuh Maya.)

Karyo mengambil posisi di belakang Maya, menggunakan banyak pelumas. Ujung kejantanannya menyentuh, dan Maya langsung menegang.

"Napas, Ma. Jangan ditahan."

Maya mencoba mengikuti instruksi, tapi tetap saja tubuhnya kaku karena cemas.

Karyo mulai menekan masuk sangat pelan. Maya menjerit kecil—bukan karena sakit, tapi karena sensasi yang benar-benar asing.

"Sakit, Ma?"

"Nggak... cuma aneh banget."

Karyo terus perlahan, memberi Maya waktu menyesuaikan diri. Tidak seperti saat pertama kali mereka bercinta yang brutal dan cepat—kali ini dia benar-benar sabar.

Papa beneran gentle, pikir Maya. Lebih gentle dari Irwan waktu malam pertama.

Tapi tetap saja ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa diabaikan. Maya mengigit bantal, berharap sensasinya akan membaik.

"Papa mau gerak sekarang. Pelan aja."

Gerakan pertama Karyo membuat Maya merasa seperti akan robek. Dia menjerit ke bantal.

"Sakit banget, Pa!"

Karyo berhenti langsung. "Papa berhenti dulu. Tunggu sampe Mama enak."

Mereka diam sebentar, Karyo membiarkan Maya menyesuaikan diri. Tangannya mengusap punggung Maya dengan lembut.

"Mama mau berhenti?"

Maya menggeleng meski air mata mulai keluar. "Nggak... cuma butuh waktu aja."

Kenapa aku maksa diri? bagian dari Maya bertanya. Tapi bagian lain menjawab: karena Papa udah sabar banget. Karena Papa mau sesuatu yang special dari aku.

Setelah beberapa menit, Maya mengangguk kecil. "Oke Pa... pelan-pelan."

Karyo mencoba lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih kecil dan hati-hati. Maya masih meringis, tapi rasa sakitnya mulai berkurang.

Wis mulai longgar, pikir Karyo. (Udah mulai longgar.) Maya wis mulai terbiasa. Saiki aku kudu sabar terus ben dheweke ora kapok. (Maya udah mulai terbiasa. Sekarang aku harus sabar terus biar dia nggak kapok.)

"Gimana sekarang, Ma?"

"Masih aneh... tapi nggak sakit kayak tadi."

Karyo terus dengan gerakan pelan dan hati-hati. Perlahan, ekspresi kesakitan di wajah Maya mulai berganti dengan sesuatu yang lain—bukan kenikmatan, tapi tidak lagi penderitaan murni.

"Papa... ini normal kan ya? Maksudnya, wajar kalau awalnya sakit?"

"Wajar, Ma. Semua orang gitu di awal. Nanti lama-lama enak."

Maya mengangguk, mencoba meyakinkan diri sendiri. Tapi dalam hati, dia bertanya-tanya apakah dia benar-benar mau melakukan ini, atau hanya karena tidak mau mengecewakan Karyo.

Setelah beberapa menit, Karyo mulai sedikit mempercepat gerakan. Maya menggenggam sprei lebih erat.

"Pa... jangan cepet-cepet."

"Iya, Ma. Papa pelan aja."

Tapi Maya bisa merasakan Karyo mulai kehilangan kesabaran. Napasnya mulai berat, gerakannya meski masih hati-hati tapi ada dorongan untuk lebih cepat.

Susah banget sabar, pikir Karyo. Rasane pengin cepet-cepet rampung. Tapi yen tak paksa Maya malah ora gelem maneh. (Rasanya pengin cepat-cepat selesai. Tapi kalau aku paksa Maya malah nggak mau lagi.)

"Ma, Papa udah nggak sabar nih."

"Sabar dikit lagi, Pa..."

Tapi Karyo mulai kehilangan kontrol. Gerakannya mulai tidak sekonsisten tadi—kadang pelan, kadang sedikit lebih cepat, membuat Maya tidak bisa menyesuaikan diri.

"Ah... Pa... Papa jangan ganti-ganti kecepatannya..."

"Papa coba sabar, Ma. Tapi susah..."

Maya merasakan frustrasi Karyo, dan itu membuat dia merasa bersalah. Papa udah sabar banget dari tadi. Masa aku nggak bisa bikin dia happy?

"Papa... kalau Papa mau lebih cepat... ya udah."

"Beneran, Ma?"

Maya mengangguk, meski dalam hati masih takut. "Iya. Asal jangan terlalu kasar."

Karyo menggenggam pinggul Maya lebih kuat, mulai bergerak dengan ritme yang lebih konsisten. Maya menggigit bantal, menahan suara-suara yang ingin keluar—bukan karena nikmat, tapi karena campuran tidak nyaman dan ingin cepat selesai.

"Mama... Papa hampir..."

"Iya Pa... Papa keluarin aja..."

Beberapa gerakan terakhir Karyo lebih intens, membuat Maya menjerit ke bantal. Akhirnya Karyo menegang dan mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Maya.

Mereka berdua terengah-engah. Karyo menarik diri perlahan, sementara Maya langsung meringkuk, memeluk bantal erat-erat.

"Sakit, Ma?" tanya Karyo sambil mengusap punggung Maya yang berkeringat.

"Sedikit... tapi udah selesai kan?"

"Udah. Makasih ya, Ma. Papa seneng banget."

Maya hanya mengangguk lemah. Ada rasa lega karena semuanya sudah berakhir, tapi juga perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan penyesalan, tapi seperti ada sesuatu yang berubah.

Sekarang Papa udah punya sesuatu yang nggak pernah Irwan sentuh, pikir Maya. Semoga ini bikin Papa happy dan nggak sedih lagi.

Karyo berbaring di sebelah Maya, merangkul tubuhnya yang masih bergetar kecil.

"Papa sayang Mama. Makasih udah mau kasih Papa sesuatu yang special."

"Iya, Pa..."

Dalam diam, Karyo tersenyum puas. Saiki wis kumplit. Aku wis nduwe kabeh-kabehe Maya. (Sekarang udah komplit. Aku udah punya semua-semuanya Maya.) Irwan mung iso ngimpi-ngimpi nduwe pengalaman kayak ngene. (Irwan cuma bisa mimpi-mimpi punya pengalaman kayak gini.)

Sementara Maya masih mencoba memahami perasaannya sendiri. Ada kepuasan karena bisa membuat Karyo senang, tapi juga ada sesuatu yang terasa... hilang? Seperti batas terakhir yang sudah dilewati.

Mudah-mudahan ini worth it, pikir Maya sambil memeluk bantal lebih erat. Mudah-mudahan Papa benar-benar happy sekarang.


Dua jam kemudian, Maya masih berbaring terlentang di ranjang, menatap langit-langit. Karyo sudah turun ke bawah, bilangnya mau bikin minum hangat untuk Maya.

Maya meraih ponselnya, melihat ada beberapa notifikasi dari Irwan. Jantungnya berdegup—dia lupa kalau ada kamera di kamar. Irwan pasti sudah lihat semuanya.

Pesan pertama dari Irwan: "Ma, aku lagi meeting. Nanti pas pulang kita obrolan ya."

Maya menarik napas lega. Setidaknya Irwan tidak langsung marah atau panik.

Pesan kedua: "Btw, jangan mandi dulu. Aku mau liat langsung nanti."

Maya mengkernyitkan dahi. Mau liat apa?

Pesan ketiga yang membuat Maya tercekat: "Baby, what you just did... that was so fucking hot."

Maya menatap layar ponsel dengan mata membelalak. Irwan... excited?

Pesan keempat: "I can't concentrate in this meeting. Keep thinking about you and him. Fuck, Maya... I never thought seeing you like that would turn me on this much."

Maya merasa dunia berputar. Dia mengira Irwan akan marah, cemburu, atau setidaknya terkejut. Tapi responsnya justru... gairah?

Astaga, suami aku ini gimana sih? Maya tidak tahu harus senang atau bingung. Dia seneng liat aku kayak gini?

Ponsel bergetar lagi: "Don't clean up, Ma. I want to see the mess you both made. That new gaping hole. I want to hear every detail when I get home."

Maya meletakkan ponsel dengan tangan gemetar. Ada campur aduk perasaan di dadanya—lega karena Irwan tidak marah, tapi juga bingung dengan reaksi suaminya yang sepertinya makin... terpacu?

Mungkin ini memang yang dia mau dari awal, pikir Maya. Mungkin ini bagian dari 'phase' yang dia bilang kemarin.

Suara langkah Karyo naik tangga membuat Maya cepat-cepat simpan ponsel.

"Ma, Papa bawain teh jahe. Kata orang tua dulu, abis... gitu... minum teh jahe biar nggak masuk angin."

Maya tersenyum tipis menerima cangkir hangat itu. "Makasih, Pa."

Karyo duduk di tepi ranjang, matanya masih ada kilat kepuasan. "Mama gimana? Udah enakan?"

"Udah. Masih aneh sedikit sih, tapi udah nggak sakit."

"Papa seneng banget, Ma. Mama udah kasih Papa sesuatu yang... yang special banget buat Papa."

Maya mengangguk sambil menyesap teh. "Papa udah nggak sedih kan sekarang?"

"Udah nggak. Papa happy." Karyo mencium puncak kepala Maya. "Sekarang Papa punya sesuatu yang cuma Papa yang tau. Yang suami Mama nggak pernah sentuh."

Ada nada bangga di suara Karyo yang membuat Maya sedikit tidak nyaman. Seperti dia baru saja memenangkan kompetisi.

Tapi mungkin memang gitu rasanya, pikir Maya. Papa selama ini ngerasa kalah sama Irwan. Sekarang dia punya sesuatu yang 'menang'.

"Papa..." Maya ragu. "Papa nggak bakal cerita ke siapa-siapa kan? Soal ini?"

"Nggak lah, Ma. Ini rahasia kita aja."

Maya mengangguk lega. Setidaknya dia tidak perlu khawatir tentang itu.

Tapi yang tidak Maya sadari, di luar kamar, kamera tersembunyi masih merekam segala sesuatu—termasuk percakapan mereka saat ini. Dan di kantornya, Irwan masih menonton dengan napas berat, jarinya gemetar memegang mouse komputer.

Phase Three berhasil total, pikir Irwan dengan campuran bangga dan terangsang. Maya udah sepenuhnya tunduk.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com