𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟐𝟓

Setelah Karyo mulai berani masuk kamar utama tengah malam, rutininitas sehari-hari Maya dan Karyo berubah total. Yang dulu masih ada jeda, sekarang tanpa henti. Yang dulu Maya masih sempat ragu, sekarang tubuhnya langsung bereaksi begitu mendengar suara langkah Karyo.

Pagi hari, Maya bahkan belum selesai menyikat gigi ketika Karyo sudah muncul di kamar mandi. Tidak mengetuk, tidak permisi. Langsung masuk, langsung menarik pinggang Maya dari belakang cermin.

"Pagi, Ma."

Maya berkumur cepat, napasnya sudah berat. "Pa..."

"Mama berangkat jam berapa?"

"Delapan."

Karyo melirik jam dinding. "Masih ada satu jam." Tangannya sudah menyusup ke balik kemben tidur Maya. "Cukup."

Tidak ada foreplay. Karyo angkat Maya ke atas wastafel, buka celana dalamnya, masuk langsung. Maya mendesah keras—suara yang dulu harus diredam, sekarang bebas keluar karena Irwan sudah tahu segalanya.

"Langsung basah," gumam Karyo puas. "Tubuh udah tau jadwal Papa."

Dan memang benar. Tubuh Maya sudah seperti diprogram—pagi weekend, siang ketika Irwan meeting online, malam setelah Irwan tidur. Jadwal biologis yang baru, yang terpusat pada Karyo.

Setelah klimaks di wastafel, Karyo belum selesai. Dia bawa Maya ke shower, tekan tubuhnya ke dinding keramik, lanjut dari belakang. Maya cengkeram shower handle, punggungnya melengkung, napasnya mengembun di kaca.

"Papa belum puas," bisik Karyo di telinganya. "Mama juga belum, kan?"

Maya mengangguk lemah. Memang belum. Satu kali klimaks tidak cukup lagi untuk tubuhnya yang sudah terbiasa dipuaskan berkali-kali setiap sesi.

Maya keluar kamar mandi dengan kaki gemetar, sementara Karyo turun ke lantai bawah dengan tampang santai seolah baru bangun tidur.


Semakin lama, Karyo makin berani mengklaim teritorial rumah. Tidak hanya kamar utama atau kamar mandi—tapi setiap ruangan jadi miliknya.

Di ruang kerja Irwan lantai atas, saat Irwan pergi, Karyo dorong Maya duduk di kursi eksekutif kulit hitam itu, lalu posisikan dirinya di belakang meja kerja suaminya. Tanpa basa-basi, dia angkat Maya ke atas meja, singkirkan dokumen-dokumen penting yang berserakan. Celana dalam Maya disobek kasar—bukan dibuka, tapi dirobek sampai karet pinggangnya putus. Maya cengkeram tepi meja kayu mahoni yang mahal itu, tubuhnya bergoyang hebat tiap dorongan brutal Karyo dari belakang, payudaranya yang membesar karena hamil terhentak bebas di udara.

Setiap penetrasi membuat meja kerja berderit, menggeser tumpukan proposal bisnis Irwan yang rapi jadi berantakan. Karyo sengaja mempercepat ritme, membuat suara benturan tubuh mereka bergema di ruangan formal yang biasanya hanya terisi diskusi keuangan dan meeting penting. Maya mendesah tak terkendali, suaranya memantul di dinding yang dipenuhi sertifikat dan penghargaan bisnis Irwan.

"Di sini suami Mama bikin keputusan bisnis," gumam Karyo sambil meremas payudara Maya, cubiti putingnya yang sensitif sampai Maya menjerit. "Sekarang Papa yang bikin keputusan soal Mama. Papa yang tentuin tubuh Mama mau diapain." Tangannya menarik rambut Maya, memaksa kepala Maya menengadah sambil terus menghantam dari belakang. "Kursi mahal ini sekarang jadi saksi Mama teriak-teriak minta Papa."

Maya terengah-engah, tubuhnya bergetar di bawah hantaman Karyo. "Pa... di meja kerja suami aku... ini tempatnya kerja..."

"Iya, tempat dia kerja." Karyo mempercepat gerakan, tangannya mencengkeram pinggul Maya lebih kuat. "Tapi suami Mama pernah sentuh Mama di sini?"

"Tidak... tidak pernah..." Maya menggeleng, nafasnya putus-putus. "Cuma di kamar... selalu cuma di kamar..."

"Berarti Papa yang pertama bikin Mama teriak di ruangan ini." Karyo menghantam dalam-dalam sampai Maya melengkung. "Papa yang pertama ngentotin Mama di ruang kerja suami Mama."

Gerakan Karyo semakin brutal, membuat tumpukan dokumen berserakan jatuh ke lantai. Maya cengkeram tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih, suara benturan tubuh mereka bercampur dengan derit meja kayu mahoni.

"Ahh... Papa... Papa..." Maya tidak bisa menahan lagi, suaranya bergema di ruangan formal yang biasanya hening.

Klimaks Maya pecah dengan jeritan yang memantul di dinding penuh sertifikat bisnis Irwan. Tubuhnya kejang hebat, sementara Karyo terus bergerak sampai dia sendiri menegang dan mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Maya.

Setelah napas mereka mulai normal, Maya berdiri dengan kaki gemetar, melihat ruangan yang berantakan—dokumen berserakan, meja bekas keringat.

"Papa bener," bisik Maya sambil merapikan rambutnya. "Di sini... beda rasanya."

Di setiap ruangan, Karyo tinggalkan jejak. Bukan cuma aroma tubuhnya yang menempel di furniture, tapi kepercayaan dirinya yang makin dominan. Dia duduk di kursi kepala meja makan, nonton TV dengan remote di tangannya, bahkan buka kulkas ambil minum tanpa permisi—seperti kepala keluarga yang pulang ke rumahnya sendiri.


Perubahan paling drastis: ekspektasi Karyo pada Maya mulai seperti ekspektasi suami pada istri.

Suatu sore, Maya baru pulang kerja, badan capek, pengen langsung mandi. Tapi Karyo sudah nunggu di ruang keluarga, duduk santai di sofa dengan kaki terangkat di coffee table.

"Ma, sini dulu."

Maya letakkan tas, hampiri Karyo. "Papa kenapa?"

"Capek hari ini." Karyo buka resleting celana. "Mama bantu sebentar."

Dulu ini akan jadi permintaan, penuh dengan kode dan alasan seperti pijit, atau apapun itu. Sekarang jadi pernyataan. Maya lihat kejantanan Karyo yang sudah setengah tegang, dan tanpa pikir panjang dia berlutut di antara kaki Karyo.

"Ayo, Ma." Tangan Karyo di kepala Maya, memandu gerakan. "Pelan-pelan... iya, gitu..."

Sepuluh menit kemudian, Maya bangun dengan pipi memerah dan cairan di sudut bibir. Karyo usap pipinya lembut. "Makasih, Mama sayang. Papa seger sekarang."

Natural. Seperti istri yang nyambut suami pulang kerja.

Di dapur, saat Maya masak makan malam, Karyo datang dari belakang, remas pantat Maya sambil jilat lehernya. "Mama masak apa?"

"Ayam bakar."

"Papa mau dessert dulu." Tangan Karyo naik ke payudara, remas lewat blus. "Matiin kompor sebentar."

Maya matikan api, biarkan Karyo angkat dia ke atas kitchen counter. Mereka bercinta cepat tapi intens, dengan aroma bumbu dapur yang bercampur keringat mereka.

"Nanti masaknya dilanjut," bisik Karyo sambil keluar dari tubuh Maya. "Papa laper beneran."

Maya mengangguk, napas masih berat, celana dalam masih di lantai. Dia beresin diri, nyalain kompor lagi, lanjut masak seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi dalam hati, dia sadar sesuatu bergeser: prioritas pertama kini bukan masakan, bukan schedule, tapi kebutuhan Karyo.


Percakapan mereka pun mulai bergeser ke wilayah berbahaya.

Setelah sesi di kamar utama, mereka berbaring berdua, Maya di dada Karyo, jari-jarinya bermain di bulu dada pria itu. Suasana intim pasca-klimaks yang bikin omongan jadi lebih jujur.

"Ma..." suara Karyo lembut, nyaris seperti berbisik pada diri sendiri. "Andai aja..."

"Andai apa, Pa?"

"Andai Mama nggak nikah sama Pak Irwan dulu." Jari Karyo mengusap punggung Maya. "Andai Papa ketemu Mama lebih dulu."

Maya angkat kepala, menatap mata Karyo. "Terus gimana?"

"Ya Papa lamar." Karyo tersenyum kecil. "Meskipun Papa cuma pembantu, cuma kerja kasar. Papa tetep mau lamar Mama."

Maya tertawa pelan, tapi bukan tertawa mengejek. Lebih ke tertawa geli. "Papa kerja kasar, gaji pas-pasan. Aku kan kerja kantoran, gajinya lumayan. Masa iya mau turun standard?"

"Papa bisa kerja lebih keras. Cari kerja tambahan. Yang penting Mama bahagia."

Ada keseriusan di mata Karyo yang bikin Maya diam. "Papa beneran mau nikah sama aku? Padahal beda kelas?"

"Mama pikir Papa peduli sama kelas?" Karyo cium puncak kepala Maya. "Papa peduli sama hati. Dan hati Papa udah ketemu rumahnya."

Maya merasakan debaran aneh di dadanya. Bukan karena gairah—tapi karena ada sesuatu yang hangat, yang dia sendiri belum berani kasih nama.

"Tapi aku udah nikah, Pa. Udah jadi istri orang."

"Iya." Suara Karyo agak sedih. "Makanya Papa cuma bisa andai-andai."

Mereka diam sebentar. Maya merasa ada sesuatu yang bergantung di udara, sesuatu yang menunggu untuk diputuskan.

"Papa..." Maya ragu. "Kalau Papa bener-bener lamar dulu, sebelum aku ketemu Irwan... Papa yakin aku mau?"

Karyo menatap mata Maya intens. "Papa yakin."

"Kenapa yakin?"

"Karena Mama di sini sekarang. Meskipun udah jadi istri orang, Mama tetep pilih Papa tiap hari." Tangan Karyo naik ke pipi Maya. "Hati Mama udah jawab sendiri."

Maya merasa napasnya tertahan. Ada kebenaran di kata-kata Karyo yang sulit dibantah. Setiap hari dia memang memilih Karyo—tubuhnya, waktunya, bahkan pikirannya.

"Tapi kenyataannya..." Maya berbisik. "Aku istri Irwan."

"Kenyataannya," Karyo balik berbisik, jempol mengusap bibir Maya. "Mama lebih sering manggil nama Papa ketimbang nama suami sendiri."

Maya tersentak. Memang benar. Bahkan saat bercinta dengan Irwan, nama yang sering keluar adalah "Papa"—yang harus dia tutupi dengan desahan atau gigitan ke bantal.


Percakapan-percakapan seperti itu makin sering. Karyo mulai menanam benih-benih pertanyaan: bagaimana kalau Maya tidak terikat? Bagaimana kalau dia bebas memilih? Bagaimana kalau status sosial tidak penting?

Dan Maya mulai memikirkan jawaban-jawaban yang dulu tidak pernah terlintas.

Suatu malam, setelah Karyo selesai di kamarnya dan Maya kembali ke ranjang utama, dia berbaring di sebelah Irwan yang sudah tidur. Tapi otaknya tidak bisa diam.

Kalau Papa beneran lamar dulu...

Kalau Papa bukan pembantu, tapi punya pekerjaan decent...

Kalau aku ketemu Papa di tempat yang wajar, bukan karena dia kerja di rumah...

Maya menggeleng, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Tapi semakin diusir, semakin keras bergema.

Apa yang sebenarnya aku cari dari pernikahan?

Stabilitas finansial yang Irwan kasih, atau kepuasan emosional yang Papa berikan?

Cinta yang sopan dan terukur, atau gairah yang membuat aku merasa hidup?

Pertanyaan-pertanyaan yang berbahaya. Pertanyaan yang bisa mengubah hidup kalau dijawab dengan jujur.


Di lantai bawah, Karyo juga tidak bisa tidur. Dia menatap layar ponsel lama, mengetik pesan panjang untuk Ratih—kali ini pakai bahasa Jawa ngoko, supaya terasa akrab.

“Dik… aku saiki wes nyedek karo Bu Maya. Wis tak coba kabeh pola sing takomongke. Saben bengi aku main nang omah, saiki wis ora wedi-wedi maneh. Aku seng nyetel jadwal, aku seng ngatur kabeh. Irwan ki ket mau sibuk wae, ora curiga blas.”(‘Dik… sekarang aku sudah makin dekat sama Bu Maya. Semua pola yang dulu aku ceritakan sudah aku jalani. Sekarang setiap malam aku main di rumahnya, sudah nggak takut-takut lagi. Aku yang ngatur jadwal, aku yang atur semua. Irwan itu kerjanya cuma sibuk, nggak curiga sama sekali.’)

“Bu Maya wes manut kabeh, wes dadi ketagihan. Awake dhewe tambah gampang, lha wong kuncine wis tak pegang. Tapi aku tetep ati-ati Dik, ora neko-neko nang ngarep Pak Irwan. Omahane ki isih omahe wong, dudu omahku dewe.”(‘Bu Maya sudah nurut semua, sudah jadi ketagihan. Aku tambah gampang ngaturnya, soalnya kuncinya udah aku pegang. Tapi aku tetap hati-hati Dik, nggak macam-macam di depan Pak Irwan. Rumah itu masih rumah orang, bukan rumahku sendiri.’)

Ratih membalas cepat:“Mas, ojo sembrono. Aku yo ngerti pengenmu, pengen Bu Maya, pengen urip luwih penak. Tapi ndang eling, Irwan kuwi wong sugih lan iso galak. Ojo nganti sampe ketaon, bahaya kabeh.”(‘Mas, jangan sembrono. Aku juga ngerti keinginanmu, keinginan buat Bu Maya, pengen hidup lebih nyaman. Tapi ingat, Irwan itu orang kaya dan bisa galak. Jangan sampai ketahuan, bisa bahaya semuanya.’)

Karyo mengetik lagi, wajahnya serius:“Dik, aku wes mikir dalane. Iki kabeh ora mung selingkuh, ora mung golek seneng-seneng. Tujuan utamaku, nek Bu Maya wes bener-bener manut, wes budeg karo aku, tak lamar tenanan. Tak suruh pisah karo Pak Irwan, nek cerai wis sah, aku nduwe garwo anyar, trus Bu Maya bisa mbelani aku nek arep masalah karo Irwan. Nek wis cerai, Irwan ra iso ngapa-ngapain maneh, soale Bu Maya level sosial lan duite podo, malah sakwise nggonku kabeh urusan beres.”(‘Dik, aku sudah pikirkan jalan keluarnya. Ini semua bukan cuma selingkuh, bukan cuma cari senang-senang. Tujuanku, kalau Bu Maya sudah sepenuhnya nurut, sudah nempel sama aku, aku akan benar-benar melamar dia. Aku suruh dia cerai dengan Pak Irwan, kalau sudah cerai resmi, aku punya istri baru, dan Bu Maya sendiri nanti yang bakal bela aku kalau terjadi masalah sama Irwan. Kalau sudah cerai, Irwan nggak bisa apa-apa lagi, soalnya Bu Maya sama-sama tinggi statusnya dan sama-sama kaya, malah setelah itu semua urusan jadi gampang buat kita.’)

Ratih lama tidak membalas. Setelah beberapa menit, akhirnya muncul notifikasi:“Mas, aku ora nglarang. Aku ngerti tujuane. Tapi kowe ojo sampe nggo masalah gedhe nang kene. Aku wes setuju karo rencanamu, asale kabeh isih aman. Yen ribut, aku tak mundur, Mas. Anak luwih penting.”(‘Mas, aku nggak melarang. Aku tahu tujuannya. Tapi jangan sampai buat masalah besar di sini. Aku sudah setuju rencanamu, asal semua tetap aman. Kalau sampai ribut besar, aku mundur, Mas. Anak lebih penting.’)

“Siap, Dik. Aku ora bakal sembrono. Yen ana apa-apa, tak kabari. Aku saiki fokus gawe Maya manut, ora nganti Irwan ngerti. Kabeh tetep rahasia. Insya Allah, dadi rejeki bareng.”(‘Siap, Dik. Aku nggak bakal sembrono. Kalau ada apa-apa, aku kabari. Sekarang aku fokus biar Maya nurut, jangan sampai Irwan tahu. Semuanya tetap rahasia. Semoga jadi rejeki bareng.’)

Pesan-pesan itu hanya permukaan. Karyo tidak pernah menyebut detail paling berbahaya dalam obrolan dengan Ratih—tentang bagaimana Maya bisa begitu menyerahkan diri, atau bagaimana dia punya ruang semaunya di rumah besar itu. Namun dia selalu pastikan Ratih tahu: ini bukan sekadar urusan nafsu, tapi soal masa depan keluarga. Maya bukan hanya target kenikmatan, tapi peluang untuk membawa istri dan anak naik kelas. Ratih sendiri sadar: membuka jalan buat suaminya berarti menanggung resiko besar.

Setelah obrolan malam itu, Karyo menatap foto Maya dan Irwan yang terpajang di ruang tamu. Di foto itu, Maya terlihat kaku dan berpakaian formal, sangat berbeda dengan Maya yang kini ia peluk tiap malam—yang tubuhnya basah dan gemetar sambil memanggil namanya dengan napas tercekat, yang menuruti semua permintaannya seolah tak ada suami di rumah.

Sing asli sing endi? pikir Karyo. Sing nang foto, opo sing saben malam tak dudo? Aku wis ngerti jawabane. Sing tenan, sing saiki tak gendong saben malam.(Yang asli yang mana? Yang di foto, atau yang setiap malam aku peluk? Aku sudah tahu jawabannya. Yang nyata itu yang kubawa tidur tiap malam.)


Semenjak saat itu, Karyo mulai ninggalin tanda fisik.

Dulu dia hati-hati tidak meninggalkan jejak—tidak gigit terlalu keras, tidak cakar terlalu dalam. Tapi sekarang, seolah ada dorongan primitif untuk menandai wilayahnya, Karyo mulai lebih possessive.

Setelah sesi di kamar mandi pagi itu, Maya melihat bekas gigitan di bahu kirinya—tidak terlalu parah, tapi cukup jelas untuk dirasakan setiap kali dia bergerak.

"Pa, ini bekasnya keliatan," Maya tunjukkan bekas itu lewat cermin, pura-pura khawatir.

"Bagus." Karyo dari belakang tersenyum puas, tangannya mengusap bekas gigitan itu. "Jadi Mama inget siapa yang punya."

"Tapi kalau Irwan lihat—"

"Mama pinter kok nyembunyiin." Karyo mencium tengkuk Maya. "Lagian, suami Mama sibuk terus, mana sempat perhatiin detail."

Maya mengangguk, padahal dalam hati dia tahu Irwan pasti sudah lihat lewat rekaman kamera. Tapi dia harus tetap berakting khawatir di depan Karyo.

Hari-hari berikutnya, bekas-bekas itu makin banyak dan berani. Hickey di leher, cakaran halus di punggung, bekas gigitan di paha dalam. Yang paling berani: bekas cengkeraman di pergelangan tangan Maya yang tidak bisa ditutupi.

"Aduh Pa, yang ini susah disembunyiin," keluh Maya sambil menatap bekas kebiruan di pergelangan.

"Ya udah, bilang aja jatuh atau kejedot pintu," Karyo menjawab santai. "Suami Mama mana tau bedanya."

Maya mengangguk sambil dalam hati mengingat betapa Irwan sebenarnya memperhatikan setiap detail—bahkan merekam semuanya.

"Dia makin possessive," lapor Maya sambil menunjukkan hickey terbaru. "Bilangnya marking territory."

"Apa perasaanmu?" tanya Irwan.

Maya ragu sejenak. "Anehnya... aku suka.."

Maya menunduk, jari-jarinya menyusuri pelan bekas hickey di leher. Suara Irwan tetap tenang, tapi sorot matanya tajam menunggu jawaban asli.

“Aku suka, tapi… bukan karena tandanya sendiri,” bisik Maya. “Tiap lihat bekas gigitannya, tiap ngerasain perihnya waktu kena baju… Yang keinget tuh bukan ‘aku kepunyaan Karyo’, tapi ingatan waktu dia ninggalin tanda itu. Detik-detik pas sesi-sesi brutal itu, suara aku hilang, tubuh aku nggak bisa diem… Rasanya dibawa balik ke sana. Nggak bisa nggak keinget. Jadi bukan tandanya yang bikin aku suka, tapi semua orgasme yang selalu nyisa di kepala sama tubuh aku setiap lihat itu.”

Irwan mengangguk kecil, bibirnya menahan senyum. “Jadi, suka… karena itu semacam pengingat? Bukan karena mau ditandain?”

Maya menghela napas. “Iya. Aneh, ya? Liat luka-luka kecil di badan, aku malah horny lagi. Kayak trigger. Kadang cuma cermin aja, langsung kebayang suara dia, desahan aku, semua yang nggak pernah aku rasain sama kamu.”

Irwan menyentuh tangan Maya, ekspresi campur antara cemburu dan menikmati pengakuan itu. “Dan kamu pura-pura panik tiap dia tanya soal bekasnya?”

Maya tersenyum tipis, menahan tawa. “Iya. Aku bilang, ‘nanti ketahuan Irwan’… padahal aslinya kamu tahu semua, kamu suka juga. Aku udah paham aturan mainnya kok. Nggak boleh kasih tau dia kalau kamu suka, nggak boleh keliatan ikhlas pamer tanda-tanda itu. Jadi aku tetep akting panik, pura-pura nutupin, supaya dia mikir dia yang pegang kendali.”

Irwan mengangguk, suaranya pelan. “Jadi semua permainan ini—kamu nutupin, aku pura-pura nggak peduli, dia makin agresif… Justru bikin semuanya makin menyala?”

Maya menatap Irwan, napas berat. “Iya. Dan aku suka. Suka pura-pura takut, suka kamu pura-pura bodo amat, suka… kamu pengen dengar semua detailnya setelah itu.”

Irwan menatap Maya dalam, lalu membisik, “Jangan langsung hilangin bekas-bekas itu, Ma. Aku pengen liat dulu, denger ceritanya, ngebayangin dari matamu.”

Maya mengangguk, senyum nakal di bibirnya. Ada kepuasan aneh menyimpan rahasia dari Karyo—ketika yang dia pikir kontrol ada di tangannya, padahal mereka bertiga sedang akting dengan naskah rahasia ciptaan mereka sendiri.


Puncak possessiveness Karyo datang setelah percakapan yang membuat hatinya sakit.

Sore itu, setelah sesi intens di ruang keluarga, mereka berbaring di karpet. Karyo menatap perut Maya yang mulai membulat, tangannya mengusap lembut.

"Ma..." suaranya ragu. "Papa mau tanya sesuatu."

"Apa, Pa?"

"Mama... mau jadi istri Papa beneran?"

Maya tersentak. Pertanyaan yang dia takutkan akhirnya keluar. "Pa, maksudnya gimana?"

"Nikah sama Papa. Cerai sama Pak Irwan, nikah sama Papa."

Hening. Maya menatap Karyo, jantung berdebar. Dia tahu Irwan menonton lewat kamera, tapi tetap harus menjawab seolah ini keputusan sendiri.

"Papa bercanda?"

"Papa serius." Karyo meraih tangan Maya. "Papa sayang Mama. Papa mau Mama jadi istri Papa yang asli."

Maya menggeleng perlahan. "Pa... aku nggak bisa."

"Kenapa?"

"Karena aku istri Irwan. Aku nggak bisa ninggalin dia."

Wajah Karyo berubah. "Jadi buat Mama, Papa cuma mainan?"

"Bukan gitu, Pa—"

"Papa cuma pemuas nafsu? Enak-enaknya sama Papa, tapi tetep pulang ke suami?"

Maya tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang dalam—konflik antara kenyamanan hidup dengan Irwan dan gairah dengan Karyo.

"Papa cuma pembantu ya, nggak pantas jadi suami," suara Karyo dingin.

"Pa, jangan gitu..."

Karyo berdiri, memakai celananya dengan gerakan kasar. "Papa mikir Mama beda. Ternyata sama aja—mau enaknya doang."

Setelah Karyo pergi, Maya duduk sendirian, bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa pertanyaan Papa bikin aku segini bingungnya?


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com