𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟏𝟕

Di dapur, Pak Karyo sibuk mengeluarkan berbagai bahan dari kulkas dan lemari. Telur, sayuran, bumbu-bumbu, dan potongan ayam kampung yang masih segar. Dia bergerak dengan efisien, merencanakan menu yang cocok untuk ibu hamil—bergizi tapi tidak terlalu berat.

"Saiki waktune mulai luwih pinter. Kudu gawe dheweke kebiasa mikir bedo aku karo bojone tanpa dikon," (Sekarang waktunya mulai lebih pintar. Harus buat dia terbiasa mikir beda aku sama suaminya tanpa disuruh,) pikirnya sambil memotong sayuran. Maya sudah nyaman dengan sentuhan dan keintiman, tapi masih perlu dipancing untuk membandingkan. Itu harus berubah.

"Papa," suara Maya memanggilnya dari belakang.

Pak Karyo menoleh, melihat Maya yang sudah segar dengan robe sutra merah yang kini diikat lebih rapi. Rambutnya disisir kembali, tapi masih ada semburat merah di pipinya—sisa dari aktivitas tadi.

"Udah selesai?" tanya Pak Karyo sambil terus memotong wortel dengan gerakan ahli. "Sini, Mama bisa bantu potong-potong ini."

Maya mendekat, berdiri di sebelah Pak Karyo di kitchen counter yang luas. Aroma maskulin pria itu—campuran keringat, minyak kelapa, dan sesuatu yang murni pria—langsung memenuhi indera penciuman Maya.

"Aku potong apa?" tanya Maya, mengambil pisau kedua.

"Tomat sama bawang bombay," Pak Karyo menunjuk bahan yang sudah dia siapkan. "Nanti kita bikin tumis sayur ayam. Enak buat ibu hamil."

Mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman selama beberapa menit. Pak Karyo sesekali mengoreksi cara Maya memotong—tangannya menyentuh tangan Maya dari belakang, tubuhnya menempel pada punggung Maya saat menunjukkan teknik yang benar.

"Kayak gini, Mama," bisiknya, napasnya menggelitik telinga Maya saat dia membimbing gerakan pisau. "Pelan-pelan tapi konsisten."

Maya merasakan tubuhnya mulai memanas lagi dari kedekatan ini. Sentuhan kasual Pak Karyo, cara dia berdiri menempel di belakangnya, suaranya yang rendah di telinganya—semuanya menciptakan ketegangan yang familiar.

"Papa," Maya berkata pelan saat merasakan sesuatu yang keras menekan punggung bawahnya. Pak Karyo sudah tegang lagi.

"Iya?" Pak Karyo bertanya innocent, seolah tidak sadar bahwa kejantanannya sudah mengeras dan menekan tubuh Maya. Tangannya masih membimbing tangan Maya memotong tomat, tapi tubuhnya semakin menempel.

"Kamu... kamu sudah..." Maya tidak melanjutkan kalimatnya, pipinya merona.

"Sudah apa?" Pak Karyo pura-pura tidak mengerti, tapi tangannya bergerak dari tangan Maya ke pinggangnya, menariknya lebih menempel. "Mama mau bilang apa?"

Maya meletakkan pisaunya, berbalik menghadap Pak Karyo dalam jebakan di antara tubuh pria itu dan kitchen counter. Mata mereka bertemu, dan Maya bisa melihat hasrat yang mulai menyala lagi di mata Pak Karyo.

"Sudah... keras lagi," Maya berbisik, matanya melirik ke bawah sekilas.

"Iya," Pak Karyo mengakui tanpa malu, tangannya naik ke wajah Maya, membelai pipinya dengan ibu jari. "Papa selalu begini kalo dekat sama Mama. Tubuh Papa jujur sama Mama."

Maya merasakan napasnya mulai terputus-putus. "Tapi kita kan lagi masak..."

"Masak masih lama," Pak Karyo berkata, tangannya turun ke ikat pinggang robe Maya.

"Papa, tunggu," Maya meletakkan tangannya di dada Pak Karyo, menahan dengan lembut tapi tegas. "Ini kitchen counter. Tempat kita potong sayuran, siap-siap makanan."

Pak Karyo mengerutkan kening, tangannya berhenti di pinggang Maya. "Terus kenapa?"

"Ya... ini nggak higienis," Maya berdalih, meski tubuhnya sudah mulai bereaksi. "Kita makan di counter ini juga kadang-kadang."

"Counter ini milik kita," Pak Karyo berkata, jarinya mengusap pinggang Maya melalui sutra tipis. "Rumah kita, dapur kita, counter kita."

"Tapi tetap aja..." Maya masih mencoba menolak. "Kalau tiba-tiba ada yang datang? Kalau ada tamu?"

"Siapa yang mau datang?" Pak Karyo bertanya, tubuhnya semakin menekan Maya ke counter. "Pak Irwan kerja, tetangga pada sibuk sendiri-sendiri."

"Papa, ini beda sama di ruang tamu," Maya berkata, napasnya mulai terengah saat tangan Pak Karyo melonggarkan ikatan robenya. "Di sana kan sofa, tempat santai. Ini tempat kerja, tempat masak."

"Mama," Pak Karyo berkata dengan suara rendah, matanya menatap dalam mata Maya. "Mama ingat nggak, dulu Papa pernah bilang... di mana pun Mama sama Papa, itu jadi tempat spesial kita?"

Maya terdiam, mengingat kata-kata itu dari salah satu pertemuan intim mereka.

"Dan lagi," Pak Karyo melanjutkan, tangannya membuka robe Maya perlahan, "di ruang tamu tadi, Mama juga awalnya ragu. Tapi akhirnya?"

"Akhirnya..." Maya tidak melanjutkan, pipinya semakin merah.

"Akhirnya Mama teriak-teriak minta Papa terusin," Pak Karyo mengingatkan, senyum kecil di bibirnya. "Sampai kaki Mama gemetar."

Maya menggigit bibir, pertahanannya mulai runtuh dari kombinasi kata-kata dan sentuhan Pak Karyo. Robe sutranya sudah terbuka, memperlihatkan bra dan celana dalam yang masih basah dari aktivitas sebelumnya.

"Tapi ini beda," Maya mencoba sekali lagi. "Ini meja dapur. Tempat kita nyiapin makanan buat keluarga."

"Justru itu," Pak Karyo berbisik, tangannya meraba perut Maya yang mulai membuncit. "Di sini kita nyiapin makanan buat keluarga kita. Buat bayi kita. Kenapa nggak boleh Papa sayang Mama di sini juga?"

Logika sederhana Pak Karyo, dikombinasikan dengan cara dia menyebut "bayi kita," membuat pertahanan terakhir Maya runtuh. Tubuhnya sudah menyerah, meski pikirannya masih sedikit ragu.

"Papa..." Maya berbisik saat Pak Karyo mengangkatnya dengan mudah untuk duduk di atas counter.

"Iya, Mama?" Pak Karyo bertanya sambil membuka bra Maya dan membuangnya ke lantai. Udara dingin dapur menyentuh payudara Maya yang sudah mengeras putingnya.

"Ini... ini gila," Maya berkata, tapi tangannya sudah bergerak ke kancing celana Pak Karyo.

"Gila kenapa?" Pak Karyo bertanya, menurunkan celana dalam Maya. "Suami sayang istri di dapur rumah sendiri, gila?"

Cara dia terus menekankan kepemilikan bersama—rumah kita, dapur kita—membuat Maya semakin terhanyut dalam fantasi domestik mereka.

"Nggak sih," Maya mengaku, kakinya terbuka saat Pak Karyo memposisikan diri di antara pahanya. "Cuma... beda aja."

"Beda bagus kok," Pak Karyo berkata, membebaskan kejantanannya yang sudah tegang sempurna. "Mama suka yang beda-beda kan?"

Sebelum Maya bisa menjawab, Pak Karyo mulai mengusap klitorisnya dengan ibu jari, membuat pinggul Maya bergerak involunter.

"Ahh... Papa..." Maya mendesah, kepalanya terlempar ke belakang.

"Basah banget," Pak Karyo berkomentar, jarinya menjelajahi lipatan Maya yang licin. "Padahal baru aja tadi di ruang tamu."

"Papa yang bikin," Maya berkata di antara desahannya. "Papa selalu bikin aku basah."

Pak Karyo tersenyum puas mendengar pengakuan itu. Dia memasukkan dua jari sekaligus, membuat Maya tersentak dan mencengkeram bahunya.

"Enak?" tanya Pak Karyo sambil menggerakkan jarinya dengan ritme yang sudah dia hafal—ritme yang selalu membawa Maya ke puncak dengan cepat.

"Enak... enak banget..." Maya mengaku, pinggulnya bergerak mengikuti gerakan jari Pak Karyo.

"Saiki wektune," (Sekarang waktunya,) pikir Pak Karyo. Saat dia merasakan Maya mendekati klimaks—napasnya cepat, dindingnya mulai berdenyut—dia tiba-tiba berhenti.

"Papa!" Maya protes, matanya terbuka dengan bingung dan frustasi. "Kenapa berhenti?"

"Papa mau denger sesuatu dari Mama dulu," Pak Karyo berkata, jarinya masih di dalam tapi tidak bergerak.

"Apa?" Maya bertanya, pinggulnya bergerak mencari gesekan yang hilang.

"Papa mau denger Mama bilang..." Pak Karyo menatap mata Maya dalam-dalam. "Mama mau nggak Papa sentuh Mama di sini? Di kitchen counter kita?"

Maya terdiam sejenak, menyadari apa yang diminta Pak Karyo. Bukan hanya persetujuan fisik, tapi pengakuan bahwa dia mau melanggar batas di tempat ini.

"Aku..." Maya ragu-ragu.

Pak Karyo menggerakkan jarinya sedikit, memberikan stimulasi minimal yang membuat Maya mengerang frustasi. "Bilang, Mama. Mau nggak?"

"Mau," Maya akhirnya berkata, tapi Pak Karyo menggeleng.

"Kurang jelas," dia berkata, masih menahan gerakan. "Papa mau denger Mama bilang mau diapain, di mana."

Maya menatap mata Pak Karyo, melihat keseriusan di sana. Dia mengerti ini bukan hanya tentang seks, tapi tentang melewati batas mental.

"Aku mau..." Maya menarik napas dalam. "Aku mau Papa sentuh aku di sini. Di kitchen counter."

"Sentuh aja?" Pak Karyo bertanya, senyum kecil di bibirnya.

"Nggak," Maya menggeleng, sudah terlalu terangsang untuk malu. "Aku mau Papa masukin aku di sini. Di counter dapur kita."

Pak Karyo menarik keluar jarinya, membuat Maya mengerang protes. Tapi kemudian dia hanya meletakkan tangannya di paha Maya—benar-benar hanya menyentuh, tidak lebih.

"Kan Mama bilang mau disentuh," Pak Karyo berkata innocent. "Papa sentuh nih."

"Papa!" Maya frustrasi, pinggulnya bergerak mencari kontak yang lebih. "Bukan gitu maksudku."

"Oh? Terus gimana?" Pak Karyo pura-pura bingung, tangannya masih diam di paha Maya. "Mama kurang jelas."

Maya menggigit bibir, menyadari Pak Karyo sengaja menggodanya. "Aku mau Papa... Papa mainin aku."

"Mainin?" Pak Karyo mengangkat alis. "Main apa? Main masak-masakan?"

"Papa!" Maya hampir merengek sekarang. "Papa tau maksudku apa."

"Nggak tau," Pak Karyo menggeleng, tapi senyum nakalnya memberitahu sebaliknya. "Mama harus bilang jelas. Papa kan cuma ngikutin kata-kata Mama."

Maya menatap mata Pak Karyo, melihat tantangan di sana. Dia tahu harus lebih eksplisit.

"Aku mau Papa..." Maya menelan ludah. "Aku mau Papa masukin jari Papa lagi. Di... di dalem aku."

"Nah, mulai jelas," Pak Karyo berkata, menggerakkan tangannya sedikit lebih tinggi di paha Maya. "Tapi masih kurang detail. Di dalem mana?"

Maya merona hebat tapi hasratnya terlalu kuat. "Di... di vagina aku."

"Hmm," Pak Karyo pura-pura mempertimbangkan sambil jarinya menggoda di sekitar area sensitif Maya tanpa benar-benar menyentuh. "Jari aja?"

"Nggak," Maya menggeleng cepat, sudah tidak tahan. "Aku mau... aku mau penis Papa juga."

"Penis Papa ngapain?" Pak Karyo terus menggoda, jarinya sekarang mengusap ringan klitoris Maya, membuat pinggulnya tersentak.

"Masuk... masuk ke aku," Maya berbisik.

"Masuk ke mana?" Pak Karyo tidak menyerah, jarinya terus menggoda dengan sentuhan ringan yang membuat Maya semakin frustrasi.

"Ke vagina aku!" Maya akhirnya berkata lebih keras. "Aku mau Papa masukin penis Papa ke vagina aku, di sini, di counter dapur!"

"Wah, Mama vulgar banget," Pak Karyo pura-pura kaget, tapi jarinya sekarang mulai memasuki Maya lagi. "Padahal biasanya malu-malu."

"Papa yang maksa," Maya protes di antara desahannya saat jari Pak Karyo mulai bergerak.

"Papa cuma minta Mama jelas," Pak Karyo berkata, menambah jari kedua. "Kan bahaya kalo Papa salah ngerti."

"Ahh... Papa..." Maya mendesah, kepalanya terlempar ke belakang.

"Jadi Mama beneran mau?" Pak Karyo bertanya lagi, jarinya bergerak dengan ritme yang sempurna. "Mau Papa apa?"

"Mau Papa... ahh... mau Papa entot aku," Maya akhirnya menggunakan kata yang paling vulgar, sudah tidak peduli lagi. "Di sini, di counter."

"Entot?" Pak Karyo mengulang, matanya berbinar puas. "Mama yakin mau dientot di dapur?"

"Iya!" Maya hampir menjerit saat Pak Karyo menekan G-spotnya. "Aku mau Papa entot aku sampai... sampai..."

"Sampai apa?" Pak Karyo memperlambat gerakannya, membuat Maya merengek.

"Sampai aku nggak bisa jalan!" Maya berkata putus asa. "Aku cuma mau Papa! Sekarang!"

Pak Karyo menarik keluar jarinya yang basah, membuat Maya mengerang protes. Tapi kemudian dia memposisikan ujung kejantanannya di lipatan Maya yang licin.

"Papa mau masuk," bisiknya, matanya menatap mata Maya yang berkabut hasrat.

"Iya... masuk Papa..." Maya berbisik, kakinya terbuka lebih lebar di atas counter.

Pak Karyo mendorong masuk perlahan, membuat Maya melenguh panjang saat kejantanannya mengisi tubuhnya. "Ahh... Papa... gede banget..."

"Enak?" tanya Pak Karyo sambil mulai bergerak dengan ritme yang mantap.

"Enak... enak banget..." Maya mendesah, tangannya mencengkeram bahu Pak Karyo.

Mereka berhubungan dengan intensitas tinggi, Pak Karyo bergerak cepat dan dalam. Maya mendesah keras, tubuhnya bergetar mendekati puncak. Napasnya semakin cepat, dindingnya mulai berkontraksi.

"Papa... aku hampir... aku mau..." Maya berbisik terputus-putus.

Tiba-tiba Pak Karyo memperlambat gerakannya, hampir berhenti sama sekali.

"Papa!" Maya protes, pinggulnya bergerak mencari ritme yang hilang. "Kenapa pelan?"

Pak Karyo tersenyum kecil. "Oh, Mama biasa nanya gitu ya kalo yang di atas pelan? Pak Irwan juga pernah denger pertanyaan kayak gini nggak?"

Maya bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Maksud Papa apa?"

"Ya... biasanya kalo sama Pak Irwan, Mama juga protes kalo dia pelan gini nggak?" Pak Karyo bertanya sambil bergerak sangat lambat.

"Nggak... Irwan emang... emang nggak pernah cepet," Maya menjawab tanpa berpikir, terlalu terangsang untuk memfilter kata-katanya.

Begitu Maya menyebut perbandingan itu, Pak Karyo langsung mempercepat gerakannya. Maya mendesah lega, tubuhnya langsung bereaksi.

"Oh gitu," Pak Karyo berkomentar santai sambil bergerak cepat. "Berarti Mama udah biasa ya sama yang lambat-lambat."

"Iya... makanya sekarang Papa jangan pelan..." Maya meminta di antara desahannya.

Pak Karyo mempertahankan tempo cepat beberapa menit, membuat Maya mendekati puncak lagi. Tapi saat Maya hanya mendesah tanpa berkata apa-apa, dia pelan-pelan mengurangi kecepatan lagi.

"Papa... jangan..." Maya frustrasi.

"Gimana sih, Mama bingung," Pak Karyo berkata sambil tersenyum. "Katanya udah biasa sama yang lambat, kok sekarang protes?"

"Bukan gitu... aku suka yang cepet," Maya berkata cepat.

"Tapi kan sama Pak Irwan nggak pernah cepet? Kok bisa suka?"

"Soalnya Papa beda," Maya mengaku tanpa sadar. "Papa lebih enak."

Mendengar itu, Pak Karyo kembali mempercepat gerakan. "Beda gimana?"

"Lebih... ahh... lebih bisa bikin aku puas," Maya mendesah, menikmati ritme yang kembali cepat.

"Masa sih? Padahal kan Pak Irwan suami Mama," Pak Karyo berkomentar sambil mengubah sudut, menabrak titik yang tepat.

"Suami tapi... ahhh... tapi nggak tau caranya," Maya mengaku, sudah tidak peduli dengan kata-katanya.

Pak Karyo puas mendengar pengakuan itu, gerakannya semakin intens. Tapi setelah beberapa menit, saat percakapan terhenti, dia mulai melambat lagi.

"Kok pelan lagi Papa?" Maya bertanya frustrasi.

"Lagi mikir aja," Pak Karyo menjawab sambil bergerak pelan. "Mama bilang Pak Irwan nggak tau caranya. Emang caranya yang bener gimana?"

"Kayak Papa gini... cepet, dalam..." Maya menjawab, dan langsung merasakan tempo yang meningkat.

"Oh gitu. Terus Pak Irwan biasanya gimana?"

"Sebentar doang, terus udah selesai," Maya mengaku malu. "Aku belum apa-apa udah berhenti."

Pak Karyo mengangguk sambil bergerak lebih agresif. "Kasian ya Mama. Udah lama banget nggak dapet yang bener."

"Iya..." Maya setuju, matanya berkunang-kunang dari gerakan Pak Karyo.

"Untung sekarang ada Papa ya," Pak Karyo bisik di telinga Maya.

"Iya... untung ada Papa..." Maya mendesah.

Pak Karyo mengangkat Maya dan membaliknya, memposisikannya menungging di atas counter. "Kalo gini gimana? Pak Irwan pernah kayak gini nggak?"

"Nggak pernah," Maya menjawab saat Pak Karyo memasuki dari belakang. "Dia cuma satu posisi doang."

"Wah, berarti Mama belum pernah ngerasain yang kayak gini dong," Pak Karyo berkata sambil menghantam dalam-dalam.

"Belum... ahhhh... baru sama Papa," Maya mengakui.

"Enak nggak?"

"Enak banget! Lebih enak dari posisi biasa!"

Pak Karyo tersenyum puas. Dia terus menggunakan percakapan ringan untuk memancing Maya membandingkan, dan Maya merespons secara natural tanpa menyadari pola yang sedang dibentuk.

"Mama," Pak Karyo berkata sambil mempercepat tempo. "Kalo Papa nanya sesuatu, jawab jujur ya."

"Iya Papa..." Maya mengangguk dari posisinya.

"Kalo sekarang Mama disuruh pilih... mau yang kayak biasanya sama Pak Irwan, atau yang kayak gini sama Papa?"

"Yang kayak gini Papa!" Maya menjawab tanpa ragu.

"Yakin? Padahal kan Pak Irwan suami Mama."

"Suami tapi nggak bisa bikin aku kayak gini," Maya berkata jujur. "Aku pilih Papa."

"Kenapa?"

"Karena Papa bisa bikin aku benar-benar puas. Irwan nggak bisa."

Pak Karyo mengangguk puas, ritmenya semakin cepat. Tapi kemudian dia tersenyum kecil sambil bertanya, "Mama sampe ambil cuti segala buat hari ini. Apa Mama ngebet banget pengen seharian sama Papa?"

Maya terdiam sejenak, pertanyaan sederhana itu menohok tepat sasaran.

"Aku..." Maya ragu, merasakan kehilangan saat Pak Karyo memperlambat gerakan.

"Jujur aja, Mama," Pak Karyo berkata sambil bergerak sangat pelan. "Papa pengen tau."

"Iya," Maya akhirnya mengaku, napasnya terputus-putus. "Aku... aku pengen seharian sama Papa."

"Kenapa?"

"Karena... karena kalo cuma sebentar, aku nggak puas," Maya berbisik jujur.

Mendengar pengakuan itu, Pak Karyo langsung menghantam dalam-dalam, membuat Maya menjerit. "PAPA!"

Pak Karyo mengubah sudut, tangannya meraba untuk menemukan titik yang tepat sementara kejantanannya bergerak keluar masuk. "Mama enak ya Papa entot Mama kayak gini?"

Maya hanya mendesah, wajahnya memerah mendengar kata kasar yang keluar natural dari mulut Pak Karyo.

Keringat menetes dari dahi Pak Karyo ke punggung Maya yang melengkung, setiap tetes mengalir di antara tulang belakangnya. Tangannya yang bebas meremas payudara Maya yang membesar karena kehamilan, puting susunya yang gelap dan sensitif.

"Papa suka liat Mama malu-malu gini," bisiknya sambil memperlambat gerakan, membuat Maya frustasi. "Tapi Papa pengen denger Mama bilang... Mama suka kan Papa entot Mama?"

"Pa-pa..." Maya tergagap malu, jari-jarinya mencengkeram ujung counter.

"Ayo bilang, Mama. Jangan malu sama Papa," Pak Karyo menggoda, gerakannya hampir berhenti. "Mama suka nggak Papa entot Mama?"

"I-ya..." Maya berbisik pelan, hampir tidak terdengar.

"Keras dikit, Mama. Papa nggak kedengeran."

"I-YA... A-KU SU-KA PA-PA EN-TOT A-KU!" Maya berteriak, suaranya bergetar hebat karena malu dan gairah bercampur.

Pak Karyo merasakan dinding vagina Maya mulai berdenyut mengencang di sekelilingnya, cairan Maya semakin banyak membasahi kejantanannya. Perut bundar Maya bergerak halus setiap kali tubuhnya terdorong ke depan.

"Nah gitu dong. Bilang lagi, memek siapa yang Papa mainin sekarang?"

"ME-MEK A-KU!" Maya menjerit malu.

"Memek siapa punya?"

"ME-MEK... ME-MEK A-KU PU-NYA PA-PA!"

"Bentar lagi kan, Mama? Papa bisa rasain Mama mau crooot," bisiknya sambil menarik rambut Maya ke belakang dengan lembut, memaksa kepalanya terangkat. "Tapi Papa mau denger satu lagi..."

Maya menahan napas, tubuhnya bergetar menunggu.

"Sekarang Papa mau denger Mama teriak... siapa yang bikin perut Mama gede? Siapa bapak asli anak ini?"

"PA-PAAA KARYOOO! CU-MA PA-PA-PAAA! PA-PA YANG BI-KIN A-KU HAM-MIL! A-NAK INI PU-NYA PAPAAA!" Maya menjerit putus asa saat orgasme menghantam seperti gelombang besar, tubuh hamilnya mengejang hebat sampai kakinya hampir tidak bisa menopang, perut buncitnya bergetar sementara seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali di atas counter dapur mereka, cairan orgasmenya mengalir membasahi paha mereka berdua.

Pak Karyo merasakan kontraksi Maya yang memicunya untuk klimaks. Dia mengeluarkan benihnya dalam-dalam sambil mendesah puas, tubuhnya bergetar.

Setelah terengah-engah, Pak Karyo dengan lembut membalik Maya menghadapnya, memeluknya erat. "Mama cape nggak?" bisiknya sambil mengusap rambut Maya yang basah keringat.

"Nggak papa," Maya berbisik lemah, kepalanya bersandar di dada Pak Karyo.

"Papa sayang Mama," bisik Pak Karyo sambil mencium kening Maya dengan lembut. "Papa pengen jaga Mama dan si kecil."

Maya merasakan kehangatan aneh di dadanya mendengar kata-kata itu. "Papa..."

"Iya?"

"Aku juga sayang Papa," Maya mengaku tanpa sadar, masih dalam efek afterglow.

Pak Karyo tersenyum puas, tangannya mengusap punggung Maya dengan penuh kelembutan. Setelah beberapa menit, dia berkata, "Yuk, kita lanjut masak. Papa mau bikin sayur asem buat Mama."


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com