𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟏𝟔


Tangan Pak Karyo telah bergerak naik dari betis Maya ke pahanya, jemarinya yang kasar namun terampil menekan titik-titik yang membuat napas Maya semakin terengah. Minyak kelapa murni membuat kulitnya licin dan hangat di bawah sentuhan yang semakin berani.

"Enak nggak, Mama?" bisik Pak Karyo, ibu jarinya menekan lembut bagian dalam paha Maya yang sensitif.

"Mm... enak banget, Papa," Maya menjawab dengan mata terpejam, tubuhnya semakin rileks meski ada sensasi aneh yang mulai timbul. "Tanganmu... hangat sekali."

Pak Karyo tersenyum kecil melihat respons Maya. "Wis mulai lemes. Saiki wektune mlaku luwih adoh." (Sudah mulai lemas. Sekarang waktunya melangkah lebih jauh.) Tangannya bergerak naik sedikit lagi, hampir menyentuh batas robe sutra Maya yang longgar.

"Mama," Pak Karyo berkata lembut, suaranya sedikit serak. "Pahamu tegang banget di sini." Jarinya menekan titik yang membuat Maya tersentak kecil.

"Ah!" Maya membuka mata, menatap Pak Karyo yang fokus memijat pahanya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang berbeda—tidak lagi sebagai pembantu yang hormat, tapi sebagai pria yang menginginkan wanita di hadapannya.

"Papa..." Maya berkata ragu-ragu saat merasakan jari Pak Karyo menelusuri lebih tinggi. "Itu... itu bukan bagian kaki lagi."

"Tapi masih bagian yang sakit, kan?" Pak Karyo bertanya, tangannya berhenti tepat di batas kain robe. "Papa cuma mau bantu Mama rileks. Suami boleh dong rawat istrinya yang lagi hamil?"

Kata 'suami' dan 'istri' itu terdengar begitu natural dari mulutnya, membuat jantung Maya berdebar. Dia tahu ini permainan peran, tapi cara Pak Karyo mengucapkannya terasa begitu meyakinkan.

"Mas..." Maya secara tidak sadar beralih ke panggilan lamanya saat jari Pak Karyo mulai bergerak lebih nakal.

Pak Karyo menghentikan gerakannya. "Mas?" Alisnya terangkat, senyum kecil terbentuk di bibirnya. "Kok Mas? Bukannya hari ini kita Papa dan Mama?"

Maya tersipu, menyadari kekeliruannya. "Maaf... Papa. Tapi tadi pagi kan udah..." bisiknya dengan nada ragu. "Dan ini di ruang tamu."

"Memangnya kenapa kalau di ruang tamu?" Pak Karyo bertanya, jarinya kembali mengusap lembut area yang tertutup kain tipis. "Papa sama Mama dulu juga pernah di sini. Mama lupa waktu Papa pijat punggung Mama di sofa ini? Atau waktu Mama berbaring di matras dengan minyak kelapa? Waktu jari Papa bikin Mama sampai teriak?"

Wajah Maya memerah mengingat memori-memori tersebut. Benar saja, beberapa minggu lalu, sesi pijat tradisional di ruang tamu ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intim—Maya berbaring di matras dengan hanya sarung menutup tubuhnya, dan tangan terampil Pak Karyo yang awalnya memijat punggungnya perlahan bergerak ke area yang lebih sensitif hingga membuatnya klimaks dengan intensitas mengejutkan.

"Tapi..." Maya masih mencoba berdalih meski tubuhnya sudah mulai bereaksi pada sentuhan Pak Karyo.

"Tapi apa, Mama?" Pak Karyo berbisik, jarinya semakin berani menelusuri tepian celana dalam Maya. "Rumah kita sendiri. Nggak ada yang lihat."

Maya merasakan pertahanannya runtuh perlahan. Ada sesuatu dalam panggilan "Papa" dan "Mama" yang terasa begitu intim, seolah mereka benar-benar pasangan.

"Papa..." Maya akhirnya menyerah, suaranya berubah menjadi desahan saat jari Pak Karyo menyusup di bawah kain robenya, menyentuh celana dalam tipis yang sudah mulai lembap.

"Udah basah," Pak Karyo berkomentar dengan nada kagum, jarinya mengusap lembut di atas kain. "Tubuh Mama selalu jujur sama Papa ya?"

Maya hanya mampu mengangguk, pipinya merona malu namun tubuhnya sudah mulai bergerak mencari sentuhan lebih. Pak Karyo melihat respons itu sebagai izin—tangannya menyingkap robe Maya lebih lebar, mempertontonkan pahanya yang mulus dan celana dalam yang tembus pandang karena kebasahan.

"Cantik banget," gumam Pak Karyo, jarinya menelusuri tepi celana dalam Maya. "Papa nggak bisa tahan liat Mama kayak gini."

"Liat nih basahnya Mama," Pak Karyo berbisik, jarinya masih bergerak perlahan di dalam Maya, mengusap titik yang membuat tubuh wanita itu bergetar. "Mama suka Papa mainin begini?"

Maya tak menjawab dengan kata-kata. Kepalanya terlempar ke belakang, bibirnya terbuka dalam desahan panjang saat Pak Karyo menekan titik sensitifnya dengan tepat. Sensasi itu menjalar dari pusat kenikmatannya ke seluruh tubuh—hangat, menggelitik, menyiksa dalam cara paling menyenangkan.

"Papa pengen denger Mama bilang," Pak Karyo mendekatkan bibirnya ke telinga Maya, napasnya hangat menggelitik. "Mama suka jari Papa di sini apa kagak?"

"Iya," Maya terengah. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara yang ingin meledak dari tenggorokannya. "Aku suka... suka banget."

Jari-jari Pak Karyo bergerak semakin cepat, semakin dalam. Ibu jarinya menemukan tonjolan kecil yang membuat pinggang Maya bergerak liar. Suara basah terdengar setiap kali jarinya keluar-masuk, memberikan stimulasi yang membuat pandangan Maya mulai berkabut.

"Ah! Ah! Di situ!" Maya mencengkeram bahu Pak Karyo, kukunya menancap meninggalkan bekas merah pada kulit pria itu. "Jangan... jangan stop..."

Pak Karyo merasakan dinding-dinding Maya mulai menjepit jarinya, tahu bahwa wanita itu mendekati puncak. Dia memperdalam penetrasinya, menekuk jarinya untuk menyentuh titik G Maya dengan tekanan tepat.

"Papa udah berasa Mama mau keluar nih," bisiknya. "Keluarin aja semua, Ma. Kagak ada yang denger kita kok."

Tubuh Maya menegang seketika, punggungnya melengkung dari sofa saat gelombang orgasme melandanya. Mulutnya terbuka dalam jeritan tanpa suara, matanya tertutup rapat sementara seluruh tubuhnya bergetar. Pak Karyo terus menggerakkan jarinya, memperpanjang kenikmatan Maya hingga wanita itu terkulai lemas di sofa, napasnya terengah berat.

"Mama cantik banget waktu udah sampe gini," Pak Karyo mengusap pipi Maya yang merona merah, jarinya yang basah meninggalkan jejak di kulit halus itu. "Cantik banget."

Maya membuka mata perlahan, tatapannya masih berkabut oleh hasrat. Dia melihat Pak Karyo yang masih berpakaian lengkap sementara dia sendiri setengah telanjang, celana dalamnya menggantung di satu pergelangan kaki.

"Mama masih inget dulu?" Pak Karyo berkata sambil mengusap lembut paha dalam Maya. "Waktu Papa pijet Mama di sini juga. Di matras di ruang tamu ini."

Maya mengangguk pelan, ingatan tentang sesi pijat yang berubah menjadi sesi intim itu masih segar di memorinya.

"Waktu itu, kita cuma sampe jari doang," Pak Karyo melanjutkan, tangannya bergerak naik, mengelus perut Maya. "Papa kagak bisa lebih dari itu, soalnya masih hamil muda. Tapi sekarang..."

Tangan Pak Karyo beralih ke kancingnya sendiri, membukanya perlahan sambil tatapannya tidak lepas dari mata Maya. Irama jantung Maya kembali meningkat melihat gerakan Pak Karyo yang penuh percaya diri. Pria itu menurunkan resleting celananya, membebaskan kejantanannya yang sudah sangat tegang.

Maya menelan ludah melihat ukuran Pak Karyo yang selalu mengejutkannya. Meski sudah beberapa kali berhubungan selama program, dan bahkan akhir-akhir ini, dia masih belum terbiasa dengan dimensi Pak Karyo yang jauh berbeda dari Irwan.

"Sekarang..." Pak Karyo memposisikan dirinya di antara kaki Maya, kejantanannya menyentuh pintu masuk yang sudah sangat basah, "Papa bisa ngasih Mama lebih dari jari doang."

"Ya," Maya berbisik, tangannya bergerak ke pinggang Pak Karyo, menariknya mendekat. Tidak ada keraguan dalam suaranya, hanya kepastian dan keinginan. "Aku mau kamu, Papa."

"Beda banget sama Mama yang tadi," Pak Karyo berbisik rendah, suaranya penuh kepastian sambil ujungnya menggesek lipatan sensitif Maya, menggoda tanpa masuk. Matanya menatap intens wajah Maya yang merona. "Waktu Papa cuma mainin pake jari, Mama masih takut-takut. Bilang takut kalo di ruang tamu sini."

Jarinya yang bebas mengusap pipi Maya, ibu jarinya menelusuri rahang wanita itu dengan kelembutan yang kontras dengan nada dominan suaranya. "Tapi sekarang Mama bilang mau Papa. Di sofa yang sama ini. Di tempat Mama biasa duduk nonton TV bareng keluarga."

Kata-kata itu, diucapkan dengan nada menggoda namun penuh kepastian, membuat tubuh Maya bergetar. Tidak ada pertanyaan dalam suara Pak Karyo—hanya pernyataan yang menunjukkan betapa dia memahami perubahan dalam diri Maya. Ada sesuatu yang memabukkan dalam cara pria itu mengingatkannya pada keraguan yang sudah sirna, membuat hasratnya semakin menggelora. Pelanggaran batas ini—bercinta dengan pembantu rumah tangga di sofa tempat keluarga biasa berkumpul—tidak lagi terasa menakutkan, melainkan menggairahkan.

"Papa mau nidurin Mama sekarang," Pak Karyo melanjutkan, posisinya bergeser sedikit hingga kejantanannya menekan lebih dalam pada pintu masuk Maya. "Di sini. Di sofa tempat Mama biasa duduk sama suami Mama."

Maya menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam sejenak merasakan tekanan yang membuatnya ingin menyerah sepenuhnya. Ketika dia membuka mata, tatapannya bertemu langsung dengan mata Pak Karyo yang penuh gairah dan dominasi.

"Ya, Papa," Maya berbisik, tangannya bergerak ke belakang kepala Pak Karyo, jari-jarinya menelusuri rambut pria itu. "Sini... Aku sudah nggak ragu lagi."

Pak Karyo tersenyum puas. Tangannya mengangkat satu kaki Maya, meletakkannya di sandaran sofa untuk akses yang lebih baik. Posisi ini membuat Maya terbuka lebar, sepenuhnya terekspos di hadapan Pak Karyo.

"Mama cantik banget," gumam Pak Karyo, matanya menelusuri tubuh Maya yang setengah telanjang. "Papa belom pernah liat cewe secantik Mama."

Pujian itu, diucapkan dengan nada yang begitu tulus, membuat hati Maya bergetar. Dia terbiasa dipuji atas prestasinya, keberhasilannya, tetapi jarang atas kecantikan fisiknya yang sederhana. Irwan pun jarang sekali mengucapkan pujian semacam itu.

"Jangan bikin aku nunggu, Papa," Maya berkata, pinggulnya bergerak kecil mencari kontak lebih. "Aku mau ngerasain kamu."

Perlahan, Pak Karyo mulai mendorong masuk. Ujungnya menerobos lipatan Maya yang basah, membuka jalan dengan tekanan lembut namun konstan. Maya menggigit bibir, sensasi penuh saat Pak Karyo masuk sedikit demi sedikit membuatnya melenguh panjang.

"Ah... Papa..." Maya berbisik, matanya terpejam merasakan Pak Karyo semakin dalam. "Kamu... kamu selalu bikin aku... penuh banget..."

"Dan Mama selalu rapet banget," Pak Karyo membalas, menahan diri untuk tidak langsung bergerak cepat. "Kayak dibuat khusus buat Papa."

Ketika akhirnya Pak Karyo masuk sepenuhnya, keduanya terdiam sejenak—menikmati sensasi menyatu yang sempurna. Maya bisa merasakan detak kejantanan Pak Karyo di dalam dirinya, sementara Pak Karyo merasakan denyut hangat Maya yang memeluknya erat.

Pak Karyo berdiri di depan Maya, tubuh mereka berjarak hanya beberapa sentimeter. Sofa empuk di belakang Maya, lampu kuning hangat melemparkan bayangan tubuh mereka di dinding. Ia menelusupkan kedua tangannya di bawah paha Maya yang tertekuk, lalu mengangkat tubuh istrinya—dengan satu gerakan kokoh, Pak Karyo mendudukkan Maya di pangkuannya, posisi cowgirl menghadapnya, kaki Maya melingkar di sekeliling pinggang laki-laki itu. Dada Maya menempel ke dada Pak Karyo, putingnya bergesekan di permukaan kaos pria yang masih separuh terbuka.

Wajah mereka rapat sekali. “Mama mau Papa mulai?” bisik Pak Karyo, napasnya panas menggelitik bibir Maya. Tangannya sekali lagi mengelus pipi Maya, lalu turun memegangi bokong Maya erat-erat.

Maya menatap balik dengan napas tak beraturan, lalu mengangguk sambil merapatkan kakinya di pinggang Pak Karyo, lututnya mengunci erat di kiri-kanan tubuh pria itu. “Mau, Pa...” bisiknya, lalu merebut bibir Pak Karyo dalam ciuman basah yang penuh napas dan suara kecil—slurp, mendesak, menuntut.

Pak Karyo merendahkan pinggang, membiarkan Maya duduk di atas batang kerasnya. Dengan tangan kuat, dia mengangkat bokong Maya, menahan ujungnya tepat di lubang Maya yang sudah licin dan basah. Perlahan, ia menurunkan Maya, membiarkan kepala batangnya menyelip, lalu mendorong masuk sedikit demi sedikit—merasakan dinding Maya membuka, menerima setiap inchi keras miliknya.

“Aaah... Pa... pelan... gede banget...” Maya mendesah, kedua tangannya berpaut di bahu pria itu, tubuhnya menegang, punggungnya sedikit melengkung ke belakang. Ia mendongak, rambut terurai ke bahu, mulutnya terbuka menahan sensasi penuh dan rasa “ditarik” di dalam dirinya.

Pak Karyo menahan Maya tetap di situ, membiarkan wanita itu menyesuaikan diri di atas kejantanannya. Ia mencium leher Maya, lidahnya bermain di bawah telinga istrinya. “Gimana rasanya, Ma?”

“Penuh...,” erang Maya, pinggulnya berputar pelan mencoba mengatasi rasa mengganjal dan panas yang mengalir di perut bawahnya. Suara basah—plak, plak, plak—terdengar di antara desahan Maya.

“Ayo, Ma, jangan diem aja. Biar Papa yang bantuin, tapi Mama jangan malu,” suara Pak Karyo berat, napasnya kasar di telinga Maya. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Maya erat-erat, membantu tubuh Maya naik-turun di batangnya. Maya mengikuti, pelan-pelan mengangkat bokong lalu menjatuhkan diri lagi, suara bokong mereka beradu, "plak, plak," gaduh dan vulgar—irama tubuh dan dengus napas bercampur satu.

Setiap dorongan membuat Maya makin lepas, makin berani mengerang—“Uh... uh... Pa... keras banget... dalem banget...”

Pak Karyo mendorong Maya rebah ke belakang sofa—sekarang Maya duduk di pangkuannya, punggung menempel ke sandaran kursi, kedua pahanya terbuka lebar ke arah samping, tubuhnya seutuhnya terbuka di bawah lampu ruang tamu.

Pak Karyo mencengkeram pinggul Maya, mengatur irama dorongan naik-turun, kadang pelan, kadang menghantam keras, membuat Maya tak mampu menutup mulutnya. Ia menunduk, mencium satu payudara Maya yang lepas dari belahan robe, menggigit puting keras itu sambil tetap mendorong ke dalam.

“Pa... ohh... terus... terus... di situ...” Maya menjerit, kepalanya terlempar ke belakang, tangan kanannya meremas rambut Pak Karyo agar pria itu tak melepas putingnya.

Posisi berubah. Dengan satu gerakan kasar tapi penuh kontrol, Pak Karyo membalik tubuh Maya, membaringkannya di sofa dengan perut menghadap ke bawah, pantat terangkat, kakinya menjejak karpet, posisi doggy-style. Bokong Maya direnggangkan, Pak Karyo menunduk mencium tulang punggung bawah Maya sambil satu tangan mengusap klitoris Maya dengan putaran lambat.

“Hm... Mama kelihatan seksi banget dari belakang,” gumam Pak Karyo, sebelum menyorong masuk dari belakang, dorongan pertama langsung menghantam dalam. “Dengar itu?” Suara basah serta decakan tubuh mereka saling beradu menggema di ruangan.

“Ah! Pa! Pa, peluk aku... tolong! Dalam banget,” Maya mengerang, tangannya menggenggam bantal sofa, kakinya bergetar di tepian. “Pa, tolong... jangan berhenti, please, aku udah mau...”

Pak Karyo meraih rambut Maya, menariknya perlahan hingga leher Maya melengkung ke belakang, membisik di telinganya, “Mau keluar, Ma? Minta dulu sama Papa. Minta yang jelas.”

Pak Karyo kembali membenamkan dirinya dalam, gerakannya kini lebih pelan, dalam, menyeret keluar sisa orgasme Maya.

Pak Karyo menahan gerakan, tubuhnya masih bertaut erat pada Maya. Tangannya menahan kedua pergelangan tangan Maya di atas kepala, mengunci tubuh Maya di bawahnya, matanya tajam menatap bagian wajah Maya yang sudah lelah namun masih haus sentuhan.

“Mama, masih sanggup nurutin Papa, nggak?” bisiknya, suaranya berat sekaligus menuntut, seolah menantang Maya untuk tetap ada dan aktif bersama hasrat yang masih menyala di antara mereka.

Maya mengangguk kecil, bibirnya terengah, matanya berkabut tapi tetap membalas tantangan itu. “Aku masih, Pa… apa lagi yang kamu mau?”

Pak Karyo menurunkan kepalanya, mencium bibir Maya singkat, lalu berbisik keras, “Papa mau Mama yang minta sendiri. Bilang, Ma. Bilang sama Papa, apa yang kamu butuh dari tubuh Papa.”

Maya sempat merintih, tubuhnya bergerak gelisah di bawah kendali Pak Karyo. Ia tahu, permainan ini bukan cuma soal kenikmatan, tapi tentang penyerahan dan, di saat bersamaan, mengakui desakan keinginannya sendiri di depan lelaki itu.

“Aku… aku mau kamu gerak lagi, Pa. Aku mau ngerasain semuanya, keras… dalem… jangan pelan-pelan,” ucap Maya, kali ini jelas dan tanpa malu, matanya menatap langsung ke mata Pak Karyo, nadanya goyah tapi penuh permohonan yang dia tahu diharapkan Pak Karyo.

Pak Karyo terkekeh rendah, napasnya panas di pipi Maya. “Bagus, Mama… gitu dong, minta ke Papa. Biar Papa tahu kalo Mama emang mau dipuasin, bukan cuma nerima doang.”

Tangan Pak Karyo bergerak ke pinggang Maya,

cengkeramannya makin kuat seolah memberi aba-aba tubuh Maya untuk benar-benar pasrah. Dia membenahi posisi tubuh Maya, bokong Maya ditarik lebih rapat ke pinggulnya, lalu ia mulai menggoyangkan pinggul maju-mundur, gerakan dalam dan mantap, tiap hentakannya menimbulkan suara daging bertubrukan yang jelas: "plak! plak! plak!" keras dan liar, memenuhi ruang tamu yang sunyi.

Setiap dorongan Pak Karyo seperti makin menuntut lebih banyak dari Maya. Ia sengaja menarik keluar hampir seluruh batangnya sampai hanya ujungnya tersisa di dalam, lalu menghantam masuk lagi, keras, dalam, membuat Maya menjerit—"Ah! Ah! Papa! Keras banget... jangan berhenti... please, jangan lepas!" Tubuh Maya terdorong ke depan, dadanya menempel ke ujung sofa, jari-jarinya mencengkeram kain upholstery, mencoba bertahan dari gelombang rangsangan. Setiap kali Pak Karyo menahan pinggul Maya, ia membalas dengan menggoyangkan bokong ke belakang, berusaha menjemput setiap hentakan pria itu.

Pak Karyo menunduk, bibirnya menggigit punggung Maya, meninggalkan bekas merah di kulit putih itu. "Mama suka diginiin sama Papa ya?" gumamnya berat, napasnya kasar di punggung Maya. Tangan kirinya mengusap punggung Maya dari bawah ke atas, lalu turun ke depan, jari-jari tebalnya meremas payudara Maya yang tertekan di atas sofa. Ia memelintir puting Maya dari balik robe yang sudah lepas dari bahu, menambah sensasi yang menggetarkan seluruh tubuh wanita itu.

"Pa... ah... ngaco banget...," Maya merintih, parasnya kusut nikmat, keringat bercucuran di pelipis. Bokongnya bergoyang ritme Pak Karyo, suara napas mereka membaur dengan suara tubuh beradu.

Mendadak, Pak Karyo mengubah posisi. Dengan satu tangan kuat dia menarik Maya ke atas, membiarkan tubuh Maya setengah rebah ke sofa, kedua kakinya diangkat dan diletakkan di pundak Pak Karyo. Posisi deep-missionary, pinggul Maya terangkat dan seluruh tubuhnya terekspos di bawah terangnya lampu. "Liat sini, Ma..." bisik Pak Karyo, wajah mereka kini berhadapan. Ia menatap langsung ke mata Maya, kejantanannya menusuk masuk dari atas dengan sudut baru, lebih dalam, menusuk titik yang membuat Maya mengerang semakin keras.

"Papa! Ya Allah, dalem banget… jangan berhenti, Pa, please!" Maya bergetar hebat, tangannya meremas lengan Pak Karyo yang menahan lututnya di atas.

Pak Karyo mulai menghantam lebih liar, bokongnya beradu dengan paha Maya, suara "PLAK! PLAK! PLAK!" menyatu dengan lenguhan Maya yang semakin panjang, tubuh wanita itu berguncang tiap kali tubuh mereka bertubrukan. Keringat Pak Karyo menetes ke perut Maya, membuat kulit mereka makin lengket, licin, panas.

Di tengah irama liar itu, Pak Karyo menunduk, menjilati puting Maya yang terangkat, menggigitnya lembut sambil tetap menembus Maya dengan kecepatan brutal. "Mama suka diperlakukan kayak gini? Suka, kan, Mama jadi milik Papa sepenuhnya?" bisiknya sengaja dibuat kasar, menuntut pengakuan lebih dalam.

Maya nyaris tidak bisa berkata-kata lagi, hanya jerit dan desahan yang keluar dari bibirnya, tubuhnya bergetar, punggungnya melengkung menahan ledakan yang makin dekat. "Pa... aku mau keluar... keluar bareng Papa... please, jangan berhenti, ahhh!"

Pak Karyo menahan lutut Maya semakin tinggi, menekuk tubuh Maya hampir dua, dorongan terakhir dibuat makin keras dan dalam sampai tubuh Maya melenting dari sofa. "Mama, keluar sama Papa, ya? Jangan tahan, tumpahkan semua buat Papa!"

Maya menjerit panjang, puncaknya datang dalam gelombang yang tak tertahankan. Vaginanya menjepit batang Pak Karyo keras-keras, cairan hangat mengalir keluar, membasahi paha dan perut mereka. Pak Karyo meraung pelan, menahan tubuh Maya tetap menempel erat, lalu ia meledak di dalam, semburan panas terasa memenuhinya, menggetarkan tubuh mereka berdua.

Mereka terdiam sejenak, napas masih terengah berat. Maya berbaring lemas di sofa, tubuhnya masih berkedut dari getaran sisa orgasme yang intens. Pak Karyo masih di atasnya, kejantanannya masih di dalam Maya meski sudah mulai mengendur.

Mereka terdiam sejenak, napas masih terengah berat. Maya berbaring lemas di sofa, tubuhnya masih berkedut dari getaran sisa orgasme yang intens. Pak Karyo masih di atasnya, kejantanannya masih di dalam Maya meski sudah mulai mengendur.

"Papa," Maya berkata pelan, tangannya menyentuh pipi Pak Karyo. "Itu... itu luar biasa."

Pak Karyo tersenyum, mengecup telapak tangan Maya yang menyentuh pipinya. "Mama juga luar biasa. Selalu."

Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa menit, menikmati kepuasan pasca-klimaks dan kedekatan fisik. Tapi kemudian perut Maya berbunyi keras, mengingatkan mereka bahwa sudah hampir jam makan siang.

"Lapar ya?" Pak Karyo tertawa kecil, perlahan menarik diri dari tubuh Maya. "Udah hampir jam 12."

Maya mengangguk malu, merasakan campuran cairan mereka mengalir keluar dari tubuhnya. "Agak lapar sih. Tadi pagi makan nasi gorengnya enak banget."

"Gimana kalo Papa buatin makan siang?" Pak Karyo menawarkan sambil memakai celana kerjanya. "Tapi Mama harus bantuin. Kayak suami-istri beneran yang masak bareng."

Maya tersenyum mendengar usulan itu. Ada sesuatu yang menarik tentang ide masak bersama—aktivitas domestik sederhana yang terasa begitu... normal. Seperti pasangan sungguhan.

"Boleh," Maya mengangguk, perlahan bangkit dari sofa meski kakinya masih terasa lemas. "Tapi aku harus bersih-bersih dulu."

Pak Karyo membantu Maya berdiri, tangannya kuat menyangga lengan istrinya—eh, Maya. Meski dalam pikirannya, setelah apa yang baru saja terjadi, dia semakin sulit memisahkan antara fantasi dan kenyataan.

"Aku tunggu di dapur ya, Mama," katanya, mengecup dahi Maya dengan kelembutan yang membuat jantung wanita itu berdebar. "Siap-siap bahan dulu."

Maya mengangguk, berjalan ke kamar mandi tamu dengan langkah agak terhuyung. Saat dia membersihkan diri, pikirannya berkelana pada apa yang baru saja terjadi. Di sofa ruang tamu. Di tempat yang biasanya dia gunakan untuk menonton TV bersama Irwan.

Kenapa aku nggak merasa bersalah? pikir Maya sambil menatap pantulannya di cermin. Harusnya aku merasa bersalah kan?

Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya—kepuasan, kehangatan, dan rasa aman yang aneh. Seperti ada bagian dari dirinya yang sudah lama hilang, kini kembali ditemukan.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com